
Semenjak pergi dari rumah, Andin tidak lagi menginjakkan kakinya ke rumah Mantan suaminya. Bahkan saat sidang perceraiannya yang terakhir yaitu beberapa hari yang lalu, Andin sama sekali tidak pernah hadir. Namun keputusan sidang sudah bulat, bahwa mereka sudah sah bercerai baik di mata hukum maupun agama.
Andin seperti hilang di telan bumi, bahkan orang tua Andin pun tidak mengetahui dimana anaknya berada. Ada rasa cemas yang tersirat di wajah mantan suaminya saat ini, ya Andes saat ini sangat mencemaskan Andin. Bahkan Andes sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu dimana mantan istrinya berada. Meski pun saat ini mereka sudah tidak bersama lagi, namun ini demi kedua buah hatinya yang masih memerlukan sosok seorang ibu, meski pun tidak hidup dengan satu rumah yang sama.
Andes membuka kamar putranya, disana ia dapat melihat anaknya yang sedang tertidur. Andes sangat yakin putranya saat ini sedih kehilangan ibunya, meski pun Raka sama sekali tidak pernah memberitahukan tentang perasaannya, namun Andes yakin anaknya saat ini sangat merindukan sosok ibunya.
Andes berjalan memasuki kamar putranya sambil menatap putranya yang sudah tertidur pulas dengan sebuah buku gambar di tangannya. Andes menarik buku tersebut dengan sangat pelan agar Raka tidak terbangun.
Di halaman pertama, Raka menggambar dirinya yang sedang di antar ke sekolah oleh Mama dan Papanya.
Andes membuka lembar berikutnya, disana ada coretan tulisan mengenai kerinduan Raka yang di tulis di buku tersebut.
⬜ Mama kapan pulang, Raka rindu.
⬜ Terkadang Raka meminta kepada Tuhan, untuk segera mengutus Mama saat Raka tertidur.
⬜ Kapankah Raka bisa di peluk Mama saat akan tidur.
⬜ Mama, I love you meskipun Mama tidak pernah ada untuk Raka.
Andes begitu pilu membaca tulisan anaknya, Andes sangat mengerti akan kerinduan anaknya terhadap sosok ibunya karena Andes sendiri pernah mengalami hidup tanpa kedua orang tua. Namun malangnya, anaknya juga mengalami hal yang sama seperti yang di rasakan olehnya. Hanya bedanya Raka masih memiliki Papa.
Seandainya Andin merupakan sosok ibu yang baik tentu Raka dan juga putrinya yang masih kecil sangat bahagia masih bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya. Namun apa yang mesti di kata, ingin bertahan tapi ada saja yang meruntuhkan.
"Maafkan Papa belum bisa menjadi Papa yang baik untukmu. Papa sudah berusaha untuk mempertahankan Mamamu. Namun saat ini kesalahan Mama sudah sangat fatal nak, Papa harap kamu tidak membenci Papa karena sudah membuat anak - anak Papa kehilangan Mama. Papa tidak akan pernah melarangmu Nak, untuk bertemu Mama," ucap Andes menitikkan air mata di depan anaknya sambil membelai rambut putranya.
__ADS_1
Andes melangkahkan kakinya keluar dan menutup pintu kamar anaknya dengan membawa kesedihan yang mendalam terhadap apa yang dialami putranya. Raka yang sedari tadi terbangun mendengar semua yang di ucapkan oleh Papanya, meskipun Raka masih kecil namun ia sangat paham dan mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Papanya.
"Mama jahat, Raka benci Mama," ucap Raka menangis dan segera membenamkan wajahnya di bantal agar tidak ketahuan oleh Papanya karena ia tidak ingin Papanya bersedih melihatnya.
Di tempat lain
Bella sedang di perjalanan pulang bersama dengan Brian, ada rasa ketakutan di raut wajah Bella saat ini namun ia mencoba untuk tenang agar Brian tidak mengetahuinya.
"Bel ....," panggil Brian saat melihat Bella sedang melamun. "Hei, kamu ok kan?" tanya Brian dengan melentikkan jarinya di depan wajah Bella agar Bella tersadar dari lamunannya.
"I .... ya, tidak apa - apa kok," jawab Bella gugup.
Brian menatap wajah Bella yang saat ini ada di sampingnya, ia memiringkan tubuhnya menghadap Bella. Bella yang melihat Brian seperti ingin menciumnya hanya bisa memejamkan matanya.
"Ya sudah aku turun dulu, kamu hati - hati ya!" ucap Bella yang ingin membuka pintu mobil namun langsung di tarik oleh Brian.
"Tunggu dulu,"
Brian memiringkan kepalanya di hadapan Bella dan langsung melahap bibir Bella yang begitu sangat menggoda di matanya. Bella membalas kecupan yang di berikan oleh Brian, sehingga membuat Brian lebih leluasa mengabsen serta membelit lidah Bella hingga beberapa menit.
Brian mengusap bibir Bella bekas ciumannya tadi. "Rasanya aku ingin secepatnya menikahimu Bel, bibirmu membuatku candu apalagi yang lainnya," ucap Brian sedikit nyeleneh.
Bella tertegun mendengarkan ucapan Brian, sebenarnya ia juga sangat menginginkan Brian menjadi pendampingnya namun saat ini, apakah ia bisa mengharapkan hal tersebut.
"Aku masuk dulu ya, sudah malam," ucap Bella menghindar, agar Brian tidak memintanya untuk menjawab ucapan Brian.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu hati - hati kalau ada apa - apa kasih tahu aku," ucap Brian mengusap kepala Bella.
"Kamu yang harusnya hati - hati, aku sudah sampai depan rumah dengan selamat, terimakasih untuk hari ini, aku sangat bahagia," jawab Bella dan langsung keluar dari mobil Brian.
Brian menjalankan mobilnya saat melihat Bella sudah masuk kedalam rumahnya.
"Darimana saja kamu," tanya Papa Bella dengan nada tinggi.
"A .... ku," ucap Bella terbata.
"Apa pantas anak perempuan pergi dengan calon tunangannya, pulangnya di antar pria lain," bentak papa Bella.
Papa Bella melangkahkan kakinya mendekati anaknya dan langsung melayangkan satu tamparan di wajah putih Bella hingga wajah Bella merah karena bekas tamparan.
"Papa," teriak Mama Bella histeris dan menangis memeluk putrinya.
"Bella tidak apa - apa Ma, mungkin ini memang salah Bella," ucap Bella melepaskan pelukan Mamanya dan langsung berlari menuju kamarnya.
"Kamu jahat Pa, Mama tidak menyangka Papa tega melayangkan pukulan kepada anak kita. Selama ini Mama diam dan menuruti semua keinginan Papa. Bahkan Papa tidak pernah memperhatikan psikis anak kita. Papa tidak ingat, Bella masuk Rumah sakit beberapa waktu yang lalu itu semua karena Papa yang selalu memaksanya, dan aku mohon jangan buat anakku gila hanya karena melihat keegoisanmu," ucap Mama dan langsung pergi dari hadapan suaminya.
Papa Bella termenung memikirkan ucapan istrinya, ia mengusap wajahnya dan terduduk. Ada raut penyesalan di wajahnya saat membayangkan anaknya sakit beberapa minggu yang lalu, bahkan itu semua karena sikapnya yang terlalu keras dan sangat egois. Namun ia juga tidak tahu harus bagaimana, ia ingin melihat anaknya bahagia dengan anak temannya namun tidak dengan anaknya sendiri.
...........
Jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1