Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 34


__ADS_3

Sepulangnya Bella, Andes dan Andin datang menjenguk adiknya karena sudah beberapa hari ini, Andes begitu sibuk dengan pekerjaannya di tambah ia juga mencari titik terang mengenai penyebab kecelakaan adiknya beberapa minggu yang lalu.


Andes masuk keruangan dimana Brian di rawat, Andes begitu sangat bersyukur karena adik satu - satunya yang ia punya dan begitu ia sayangi sudah sedikit pulih meskipun Brian mengalami koma beberapa hari di Rumah sakit dan membuat sang kakak begitu sangat khawatir.


Saat ini keadaan Brian sudah berangsur sedikit demi sedikit stabil, meskipun Brian sedikit mengalami cidera di bagian kakinya sehingga ia belum bisa kembali untuk berjalan.


Andin hanya diam menatap suaminya yang begitu perhatian dengan adiknya, Andin sebenarnya enggan untuk menjenguk adik iparnya ke Rumah sakit. Kalau saja tidak di paksa suaminya Andes, ia tidak akan repot - repot datang ke Rumah sakit.


"Sayang, aku keluar sebentar ya, mau cari cemilan," ucap Andin mencari alasan kepada suaminya agar ia bisa secepatnya keluar dari ruangan tersebut.


Andes menatap Istrinya, sebelum ia menyetujuinya. Andes tahu, istrinya tidak menganggap adiknya seperti adiknya sendiri. Bahkan Andes tahu, istrinya begitu membencinya.


"Ya sudah, jangan lama - lama," ucap Andes datar.


"Iya sayang, cuma sebentar," ujar Andin lalu mencium pipi suaminya sebelum ia berjalan keluar dari ruangan inap tersebut.


Setelah kepergian Istrinya, ia kembali menatap adiknya. Andes menatap adiknya dengan tatapan iba, karena sedari kecil adiknya tidak pernah merasakan kebahagian sama sekali.


Andes masih mengingat hidupnya yang serba kekurangan, ia yang sempat putus sekolah karena kedua orang tuanya meninggalkannya dan mau tidak mau Andes lah yang menjadi tulang punggung keluarga demi mencari makan untuk adiknya yang waktu itu masih kecil.


Andes pun baru mengetahui fakta dari istrinya yang selama ini yang terlihat baik, bahkan kejadiannya sudah terjadi semenjak Andes menikah dengan Andin, semenjak itu lah Brian hidup mandiri dan membiayai kuliahnya sendiri. Padahal selama ini, Andes selalu menitipkan kepada istrinya uang belanja untuk adiknya Brian. Namun siapa sangka istrinya, sama sekali tidak memberikannya uang yang ia kasih kepada adiknya.


Ditambah dengan fakta yang sangat susah Andes percayai, bahwa Istrinya yang ia sayangi tega mencelakai adiknya Brian bahkan sampai adiknya mengalami koma beberapa minggu di Rumah sakit.


Andes pun tidak tahu, apa motif dari istrinya hingga sampai tega mencelakai adiknya. Namun Andes mencoba menahan diri untuk masih berbaik hati dengan Istrinya dan tidak melaporkan ke pihak kepolisian, itu di karena kan anaknya yang masih kecil dan ia tidak mau anaknya sampai kehilangan sosok seorang ibu.

__ADS_1


"Abang kenapa?" tanya Brian pada Andes, karena Brian merasa bingung dengan kakaknya yang terlihat sedih bahkan pipinya sedikit basah, namun Andes menyembunyikan semuanya demi adiknya.


"Kamu sudah makan belum Bi," tanya Andes mengalihkan pembicaraannya.


"Udah barusan Bang" jawab Brian yang masih menatap kakaknya.


"Syukurlah," ucap Andes datar dan tidak berani menatap mata adeknya yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bang!" panggil Brian yang masih bingung dengan permintaan kakaknya kemaren kepadanya, sehingga ia berusaha untuk berakting sebisa mungkin dengan orang yang terdekatnya terutama saat bersama Bella tadi.


"Ingat ya Bi, apa yang Abang bilang kemaren. Hanya untuk sementara waktu," ucap Andes yang mengerti dengan apa yang ditanyakan adiknya.


"Tapi .... Bang!" ucap Brian yang tidak mengerti dengan permintaan kakaknya, karena Andes sendiri tidak memberitahunya sama sekali.


"Kamu hanya perlu menuruti apa yang Abang katakan dan tidak perlu bertanya balik, karena nanti kamu akan tahu sendiri maksud Abang melakukan ini semua," tekan Andes sehingga membuat Brian tidak berani bertanya lagi, bahkan mereka berdua seakan hanyut dengan keheningan.


Tidak lama setelah itu makanan yang di pesan Andin datang, Andin hanya membiarkan makanan tersebut terletak diatas meja, karena ia saat ini sedang sibuk berbalas pesan chat dengan seorang teman lelakinya yang baru ia kenal semenjak awal Brian masuk Rumah sakit.


Andin begitu sibuk dengan dunianya, sampai ia melupakan pesan suaminya agar secepatnya kembali ke ruangan Brian. Bahkan saat ini, Andin begitu tega bermesra - mesraan di belakang Andes.


Ya, setelah dari kantin dan memesan makanan, Andin di jemput Radit ke Rumah sakit dan disinilah mereka sekarang, saling melepas kangen dan melakukan sesuatu yang di luar batas sewajarnya. Andin bahkan seakan lupa akan statusnya sebagai seorang istri dan seorang ibu bagi anak - anaknya.


"Terimakasih sayang, aku sangat bahagia bisa merasakan semuanya," ucap Radit tersenyum senang, kala ia selesai dengan aktifitas yang menguras tenaga. Bahkan keduanya sudah basah dengan cucuran keringat akibat aktifitas panasnya.


"Sama - sama sayang, permainanmu sungguh membuatku kewalahan bahkan kamu lebih hebat di bandingkan dengan suamiku," ucap Andin yang saat ini masih mendekap Radit dan seakan tidak ingin melepaskannya.

__ADS_1


"Oh ya bagaimana suami kamu sayang, apa ia sudah mengetahui kelakuan bejat kamu selama ini," tanya Radit yang masih memainkan rambut Andin dengan jarinya.


"Hahaha .... kamu tenang sayang, suami bodohku tidak akan mengetahuinya," ucap Andin tertawa bahagia. " Bahkan ia juga membiarkan adiknya mengalami kecelakaan, tanpa mencari tahu akibat kecelakaan adiknya," ucap Andin lagi yang semakin mengeratkan pelukannya dengan Radit sehingga membuat Radit menelan salivanya dengan susah.


"Sayang!" ucap Radit dengan tatapan penuh gairah sehingga membuat Andin tertawa senang karena telah berhasil kembali membangkitkan hasrat Radit.


****


"Oh iya Bang!, kemana kak Andin Bang? Kok sedari tadi kak Andin pergi, belum juga kembali kesini?" tanya Brian kepada Andes karena memang sedari tadi ia tidak melihat kakak iparnya.


Andes pun baru mengingat istrinya yang sedari tadi belum juga kembali setelah beberapa jam meminta izin kepadanya. Bahkan Andes juga melupakan kehadiran istrinya yang datang bersamanya, karena saking sibuknya berbagi cerita dengan adiknya yang sudah sangat lama sekali tidak mereka lakukan.


Andes pun mengambil ponsel yang ada di saku celananya untuk segera menghubungi istrinya, namun belum sempat ia menelphone sang istri, sebuah notif pesan masuk dari nomor Andin.


✉ Andin


Sayang, aku sudah pulang duluan. Karena baby sitter anak kita tadi mengabari, kalau anak kita rewel di rumah. Makanya aku segera pulang, tanpa menunggu kamu dulu, sayang. Kamu tidak apa - apa kan sayang?.


✉ Andes


Ya sudah, tidak apa - apa sayang. Nanti kabari, kalau terjadi apa - apa. Mungkin aku akan telat pulang, karena harus menemani Brian dulu di Rumah sakit.


Andes pun memasukkan kembali ponselnya setelah mengabari istrinya. Andes sedikit lebih tenang sekarang, karena istrinya sudah kembali pulang menemani anaknya di rumah.


............

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya.


__ADS_2