
"Bel ada yang ingin Papa bicarakan dengan suamimu!" ujar Ilham menatap anaknya.
"Oh iya Pa," ujar Bella yang mengerti maksud Papanya. "Yank, Bella tunggu disana ya!" ujarnya lagi kepada suaminya dan di balas anggukan kepala oleh Brian.
Papa dan Mama Bella menatap ke arah minantunya. "Brian ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepadamu, karena berhubung kamu sudah menjadi suami anak saya!" tekan Ilham.
"Iya Pa," sahutnya.
Ilham menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kami berdua atas nama orang tua Bella sangat mengharapkan kebahagian dari putri kami. Jadi, saya sangat berharap kamu bisa menjaga anak saya dan menemaninya seumur hidupnya," ujar Papa Bella dengan nada memohon.
"Akan tetapi," sambung Papa Bella menatap ke arah menantunya yang masih diam tanpa menjawab ucapannya.
"Jikalau suatu hari nanti, kamu tidak mencintai anak saya lagi dan telah bosan hidup dengannya. Tolong kamu beritahu saya, agar saya bisa membawanya kembali pulang," sambung Papa Bella.
Brian terdiam memikirkan ucapan dari Papa mertuanya.
"Iya saya sangat mengharapkan kebahagian Bella. Makanya itu, saya mempercayakan kamu untuk membahagiakan anak kami," ujar Mama Bella menambahkan.
"Baiklah Ma, Pa. Saya akan membahagiakan Bella dengan segenap jiwa saya dan sebisa mungkin tidak akan menyakitinya," ujar Brian dengan memantapkan hatinya agar ia tidak menyakiti orang yang sangat ia cintai selama ini.
"Terimakasih, kami ikut tenang melepaskan putri kami. Jikalau, kamu bisa menjamin hidup anak kami," ujar Papa Bella yang sudah mulai mempercayai menantunya.
"Brian ...," panggil Mama Bella. "Ada satu hal yang perlu kamu ketahui, suatu kebahagian itu bukan di nilai dari harta yang di dapat. Melainkan, kebahagian itu berasal dari hati kita yang menjalaninya," sambung Mama Bella menambahkan.
Brian pun mengerti akan kecemasan mertuanya dan ia hanya bisa tersenyum dengan arahan yang di berikan oleh mertuanya dan sebisa mungkin ia akan membahagiakan Bella.
"Baiklah, kami berdua permisi dulu," ujar Mama Bella dan dengan segera mereka pergi meninggalkan Brian sendiri di kafe tersebut.
"Mama!" ujar Bella terkejut, karena orang tuanya sudah berada di dekatnya.
"Mama dan Papa pulang dulu ya. Kamu jaga diri baik - baik dan kamu harus ingat pesan Mama kemaren," ujar Mama Bella mengingatkan anaknya. "Sekarang kamu temui suamimu," sambungnya lagi dengan mencium pipi Bella.
__ADS_1
"Jadilah istri yang baik ya nak!" ujar Papanya dengan memeluk Bella.
"Iya Pa, pasti Bella akan mengingatnya!" ujar Bella dengan meneteskan air matanya.
***
Brian membawa istrinya tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Karena rumah itu lah yang ia punya saat ini.
"Semoga kamu betah tinggal disini ya sayang!" ujar Brian dengan memeluk tubuh istrinya.
Bella tersenyum dengan perlakuan suaminya yang begitu hangat terhadapnya. "Aku bahagia bisa memilikimu seutuhnya," ujar Bella membalikkan tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya ke pundak suaminya.
"Aku juga begitu dan sangat mencintaimu Bel," ujar Brian lalu dengan segera meraih tubuh istrinya agar berada di dekapannya.
Brian merenggangkan pelukannya dari tubuh istrinya. "Oh ya sebentar, aku mau menghubungi bang Andes dulu," ujar Brian dengan segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
Andes saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya yang sempat tertunda, karena beberapa hari belakangan ini dia sibuk menyiapkan persiapan pernikahan adiknya Brian.
"Iya, ada apa?" tanya Andes yang saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Namun, sebisa mungkin ia tinggalkan demi berbicara dengan adiknya.
"Bang! Boleh tidak, aku bekerja di tempat abang," ujar Brian yang merasa takut jikalau Andes menolak lamaran kerjanya apalagi Andes sangat berharap adiknya dengan segera menamatkan kuliahnya yang masih terbengkalai.
Andes terdiam dengan ucapan adiknya. Namun, ia juga tidak mungkin tidak menerima adiknya untuk bekerja di tempat yang ia kelola saat ini.
"Kamu beneran ingin bekerja dengan abang?" tanya Andes memastikan.
"Iya bang! Kalau abang bersedia menerimanya," ujar Brian yang sebenarnya sangat sungkan meminta pekerjaan dengan kakaknya. Namun, ini semua ia lakukan demi kebahagiaan istrinya agar ia bisa membiayai semua keperluan rumah tangganya.
"Baiklah, temui abang besok. Namun, kamu harus janji sama abang agar tetap melanjutkan kuliahmu," jawab Andes dengan memberikan persyaratan kepada adiknya.
"Baiklah, terimakasih bang," ujar Brian yang sangat bahagia.
__ADS_1
***
7 hari kemudian
"Sayang, kamu harus usahain agar cepat pulang nanti ya!" ujar Bella saat ia sedang menikmati sarapan bersama dengan suaminya.
Brian menatap wajah cantik istrinya. "Tumben sekali kamu bersikap manja begitu?" ujar Brian bingung melihat sikap istrinya hari ini.
"Yakin, kamu tidak menginginkannya?" canda Bella sehingga membuat Brian semakin bingung di buatnya.
Brian menghentikan suapannya dan menatap wajah istrinya dengan sangat intens. "Maksudnya apa sayang," ujar Brian yang masih sangat penasaran.
"Dasar suami tidak peka," ujar Bella dengan sedikit ngambek sehingga membuat Brian semakin serba salah.
Brian mengusap wajahnya, ia bingung menghadapi sikap istrinya kali ini. Padahal ia benar - benar tidak mengerti dengan arah ucapan istrinya. Namun, melihat sikap Bella yang seperti itu membuatnya sedikit berfikir mengenai Bella menyuruhnya untuk segera pulang. "Baiklah, aku akan segera pulang kalau pekerjaan telah selesai tepat waktu," ujar Brian yang masih belum mengatahui jikalau istrinya sudah selesai tamu bulanannya.
"Ish, kamu!" ujar Bella yang merasa suaminya cuek dan tidak menginginkan dirinya untuk menjadi istri seutuhnya.
Brian berdiri dari tempat duduknya dan mendekati istrinya. "Ayolah sayang, suami akan berangkat bekerja harusnya di lepas dengan sebuah senyuman," ujar Brian dengan membujuk istrinya.
Bella berusaha untuk tersenyum, karena ia mengingat semua yang di sarankan oleh Mamanya. "Ini udah senyum, jangan di suruh untuk senyum lagi. Nanti bisa rontok gigi aku, kalau di paksakan terus," ujar Bella sehingga membuat Brian seketika tertawa melihat sikap istrinya.
Brian yang telah selesai dengan sarapannya, akan segera berangkat bekerja. "Aku berangkat bekerja dulu ya!" ujar Brian tersenyum. Namun, sebelum berangkat Bella mencium telapak tangan suaminya dan begitu pun Brian mencium kening istrinya.
"Kamu segeralah pulang!" ujar Bella yang masih meminta suaminya agar segera cepat pulang ke rumah nantinya.
"Baiklah," ujar Brian. "Kamu hati - hati di rumah, saat aku tidak ada nanti," pesan Brian dengan sangat berat hati meninggalkan istrinya di rumah. Entahlah, saat ini Brian sangat berat untuk pergi berangkat bekerja. Namun, ia harus bersikap profesional dan tidak ingin mengecewakan kakaknya.
"Iya," jawab Bella lalu dengan segera membisikkan sesuatu ke telinga suaminya sehingga membuat Brian tersenyum akan maksud perkataan istrinya tadi.
"Baiklah, aku akan secepatnya kembali dan aku harap kamu mempersiapkan segalanya untuk nanti malam," ujar Brian dengan tersenyum bahagia.
__ADS_1
..........