Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 55


__ADS_3

"Om lu kenapa," ucap Sisil dengan menepuk punggung Brian sehingga membuat Brian terkejut


"Gu .... e .... ti .... dak apa - apa kok," ucap Brian terbata - bata namun matanya tetap fokus ke arah orang yang ada di hadapannya. Ada rasa rindu yang tersemat di hati Brian, namun apakah orang yang ada di hadapannya ini juga memiliki perasaan yang sama dengannya atau malahan tidak mengenalinya sama sekali.


"Om kenalin dulu sama Mama dan Papa Sisil," ucap gadis itu.


Brian yang tidak tahan lagi dengan rasa sesak yang tiba - tiba menyeruak di hatinya segera berhambur memeluk Papanya yang ada di hadapannya. Brian tidak peduli jikalau Papanya malahan tidak mengenalinya dan menolak dirinya, yang penting ia bisa memeluk Papanya untuk melepaskan kerinduan yang selama ini ia tahan.


Bram yang di peluk oleh seseorang yang belum ia kenal pun merasa terkejut, namun ada rasa nyaman di hati Bram saat memeluk pemuda yang ada di hadapannya ini sehingga membuat Bram teringat akan anak lelaki yang pernah ia tinggalkan dulu yang hampir sebaya dengan pemuda yang ada di hadapannya saat ini.


Cukup lama Brian memeluk Papa yang sangat ia rindukan, namun Bram sama sekali tidak membalas pelukannya sedangkan di sisi lain Rilla sang istri terkejut dengan sikap Brian yang tiba - tiba memeluk suaminya. Namun Rilla sama sekali tidak melarangnya, karena mungkin memang pemuda itu mengenali suaminya.


"Hei kamu siapa nak,"tanya Mama Sisil dengan lembut sehingga Brian pun tersadar lalu melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Maafkan saya telah berani memeluk suaminya tan," ucap Brian dengan menundukkan kepalanya. "Karena saya adalah seorang anak yang sangat merindukan kasih sayang dari Papanya yang sudah pergi bertahun - tahun dari kehidupan kami," lanjutnya lagi dengan menatap Bram.


Degh


Bram yang mendengarkan tutur kata dari pemuda yang di hadapannya terpana menatap Brian. Mata, hidung serta wajah Brian memanglah hampir mirip dengannya namun Bram tidak ingin mengakuinya di hadapan istrinya karena Bram tidak ingin masa lalunya malah menghancurkan keluarga bahagianya. Rilla adalah wanita yang sangat baik dan berhati lembut, Bram tidak ingin karena kesalahannya yang meninggalkan anak - anaknya dulu malah membuat sang istri kecewa akan sikapnya.


Rilla mendekati Brian dan mengusap bahunya, karena ia ikut sakit mendengarkan tutur kata Brian. "Kamu yang sabar ya nak, semoga kamu nantinya bisa bertemu dengan Papamu secepatnya," ucap Rilla sedikit meneteskan air matanya.


Bram menatap istrinya, ada rasa takut jikalau istrinya sampai mengetahuinya, rasa takut jikalau istrinya tidak memaafkannya karena selama ini ia tidak pernah jujur dengan istrinya mengenai dua orang anak yang pernah ia tinggalkan di masa lalunya.


"Iya .... Saya dengan keluarga memang selama ini tinggal di luar kota dan baru beberapa hari ini menetap disini," jawab Bram memangku punggung sahabatnya. "Selamat ya atas pertunangan anaknya," lanjut Bram lagi.


"Terimakasih sudah mau menghadiri acara pertunangan anak saya," ucap Papa Bella melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Oh iya kenalkan ini istri dan anak saya," ucap Bram memperkenalkan Rilla dan juga Sisil.


Rilla dan juga Sisil memperkenalkan dirinya kepada Papa Bella lalu beralih menatap Brian yang sama sekali tidak di perkenalkan oleh Bram sahabatnya. Sebenarnya siapa pemuda yang pernah dekat dengan anaknya ini, sehingga membuat Papa Bella menatap ke arah Bram sekedar ingin tahu dan kembali menatap Brian yang hanya menunduk tanpa berani menatap Papa Bella. Namun sekilas ia melihat wajah Brian yang memang sangatlah mirip dengan Bram, akan tetapi kenapa Bram tidak memperkenalkan anaknya yang saat ini ada di sampingnya.


Bram pun tersadar akan arti tatapan sahabatnya, lalu memperkenalkan Brian sebagai teman anak gadisnya dan Bram juga menekankan kalau anaknya hanya satu orang yaitu Sisil Persilia Bramantyo sehingga ada sedikit sesak di hati Brian yang sama sekali tidak di akui oleh Papanya sendiri.


"Saya pamit dulu om, tante," ucap Brian berlalu menjauh, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan semua orang. Brian mengusap air matanya, karena merasa cukup sakit yang ia rasakan karena Papanya sama sekali tidak mengakuinya sebagai anaknya.


Brian duduk di bangku taman yang ada di dekat hotel tempat diadakannya acara pertunangan Bella, ia ingin menangis sejadi - jadinya disana tapi ia juga tidak ingin terlihat lemah di mata orang - orang.


"Pa, Ma dan om, Sisil kesana dulu," ucap Sisil yang ikut menyusul Brian yang sudah menjauh.


Sisil mencari dimana - mana namun Brian sama sekali tidak bisa dia temui sehingga membuat Sisil mengurungkan niatnya dan kembali berkumpul dengan keluarganya sedangkan di tempat yang berbeda, Brian di datangi oleh salah seorang wanita yang pernah ia cintai dan juga pernah meninggalkannya sehingga membuat Brian terkejut akan kedatangan wanita tersebut.

__ADS_1


...........


Jangan lupa like dan komennya serta kritik sarannya, Insya Allah nanti sore up lagi jadi mohon dukungannya agar lebih semangat untuk menulis.


__ADS_2