Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 71


__ADS_3

"Tunggu Pa!" panggil Rilla. Namun, Bram dengan segera menghindar dan berlari keluar dari gedung.


Rilla tetap berlari mengejar suaminya karena ia sangat yakin, kalau yang ia lihat itu adalah memang Bram suaminya.


"Pa! Kenapa kamu tidak mau menemui anakmu?" ujar Rilla menarik tangan suaminya. "Pa! Dia butuh kamu saat ini," sambungnya lagi.


Bram memutar tubuhnya menghadap istrinya. "Papa malu Ma," ujar Bram jujur. "Papa sudah banyak melakukan kesalahan dengan anak - anak Papa," sambungnya lagi dengan penuh penyesalan.


Rilla menatap wajah suaminya. "Papa adalah lelaki yang terbaik yang Mama pilih untuk anak - anak kita. "Jadi, Mama mohon agar Papa mau memperbaiki kesalahan Papa yang dulu," sambung Rilla.


Bram berjalan beberapa langkah. "Sepertinya, Papa belum bisa menemui mereka Ma!" ujar Bram tanpa berani menatap wajah istrinya.


"Mama paham dengan perasaanmu Pa," ujar Rilla memegang tangan suaminya. "Bahkan Mama awalnya juga shock saat mengetahui kebenaran ini,"


Bram menatap wajah istrinya, lalu dengan segera memeluknya. "Papa orang yang paling beruntung, telah mendapatkan istri sebaik kamu," ujar Bram dengan meneteskan air mata kebahagian.


"Ish! Mama dan Papa memang tidak tahu tempat buat bermesraan," ujar Sisil kesal saat menatap kedua orang tuanya dari jauh. "Apa tidak kasian sama anaknya yang jomblo ini," sambungnya lagi lalu berjalan menyusul kedua orang tuanya.


"Ma, Pa! Memang ini ada acara apa sih?" ujar Sisil yang saat ini berada di belakang orang tuanya.


Bram dan Rilla melepaskan pelukannya dan menatap anaknya yang saat ini berada di depannya. "Kamu nakal ya!" ujar Rilla dengan menyentil telinga Sisil.


"Habisnya kalian bermesraan tidak tahu tempat," ujar Sisil memanyunkan mulutnya. "Jiwa jomblo Sisil meronta melihat kemesraan kalian," ucap Sisil pelan. Namun, mampu di dengar oleh ke dua orang tuanya.


"Anak kecil tidak boleh pacaran! Kamu mesti jaga diri baik - baik!" ujar Rilla memberikan arahan kepada anaknya.


"Iya Mama. Tapi, aku juga pengen seperti Mama dan Papa bisa bermesraan gitu. Pasti asik deh!" ujar Sisil asal.


Bram menatap tajam ke arah anak perempuannya hingga membuat Sisil seketika tertunduk. "Maaf Pa! Sisil hanya bercanda," ujar Sisil yang tahu akan kesalahannya.


"Ya sudah, yuk kita pulang!" ujar Bram membawa anak dan istrinya.


Malam pun semakin larut , semua tamu undangan pun satu persatu telah meninggalkan aula tempat di adakannya pernikahan. Begitu juga dengan Bella dan Brian yang saat ini mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur pengantin, yang di penuhi dengan bunga mawar di atasnya.

__ADS_1


"Aku capek sayang, mau tidur dulu," ujar Bella yang masih betah mendaratkan tubuhnya di atas kasur.


Brian menatap istrinya lalu mengusap kepalanya. "Aku mau mandi dulu, kamu istirahatlah terlebih dahulu," ujar Brian melangkahkan kakinya meninggalkan Bella.


Brian baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan mengambil satu celana pendek dan baju di dalam lemari pakaian tempat ia menginap saat ini.


"Bella ..., bangun!" ujar Brian yang berusaha membangunkan tubuh istrinya. Namun, Bella sama sekali tidak membuka matanya.


"Hufft sial," ujar Brian kesal menatap istrinya yang seperti ratu tidur.


Brian sedikit kesal dengan ulah Bella yang selalu tidur tanpa melaksanakan kewajibannya sebagai istri terlebih dahulu.


Brian membuka pintu balkon untuk sekedar menenangkan pikirannya saat ini dan berdiri di dekat pagar pembatas balkon.


Brian mengambil satu batang rokok, lalu di masukkan ke dalam mulutnya. "Hanya rokoklah yang selalu setia menemani, di saat seperti ini," ujar Brian dengan tertawa kecil sambil menghembuskan asap rokok ke atas. "Dunia juga seakan sangat kejam terhadapku," sambungnya lagi saat mengingat penolakan Papanya.


Brian dari atas balkon menatap ke arah jalan yang di penuhi kendaraan yang lalu lalang. "Kalau aku loncat dari gedung hotel ini, pasti mati seketika," ujar Brian sedikit frustasi membayangkan kehidupannya.


"Hai Pa," ujar Brian meregangkan tangannya ke depan. "Hai Ma," sambungnya lagi.


Brian mengusap air matanya, lalu menatap ke arah langit yang di penuhi dengan bintang serta bulan yang menerangi. "Mama dan Papaku seolah seperti bulan dan bintang yang tidak bisa ku gapai," ujar Brian yang terlihat lemah bila itu menyangkut kedua orang tuanya.


Bella mengerjabkan matanya, lalu merenggangkan kedua tangannya ke atas. "Brian kemana?" batin Bella saat menatap kasur di sebelahnya yang masih kosong.


Bella melihat pintu arah balkon yang terbuka. "Mungkin dia lagi di sana," ujar Bella bernapas lega.


Bella berjalan mendekati pintu balkon dan melihat suaminya yang saat ini berada disana. "Hai sayang! Maafkan aku! Tadi aku beneran capek dan ngantuk banget," ujar Bella dan langsung memeluk suaminya yang saat ini sedang membelakanginya.


Brian lalu mengusap air matanya, agar tidak ketahuan oleh Bella. "Gimana tidurnya sayang?" tanya Brian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah istrinya, lalu dengan segera mencium puncak kepala Bella.


"Maafin aku ya!" ujar Bella dengan perasaan bersalah.


Brian menatap wajah istrinya yang tertunduk, lalu dengan segera Brian menundukkan wajahnya agar ia bisa mengecup bibir manis istrinya yang sudah sah menjadi miliknya.

__ADS_1


Bella yang merasa di serang tiba - tiba oleh suaminya merasa terkejut dan membulatkan kedua matanya.


"Aku belum mandi sayang!" ujar Bella menjauhkan tubuhnya.


Brian yang merasa di tolak oleh istrinya dengan segera menghentikan aksinya. "Aku keluar dulu," ujar Brian melangkahkan kakinya meninggalkan Bella yang mematung menatap kepergian suaminya.


Brak


Pintu tertutup dengan sangat kencang, hingga membuat Bella terkejut dan sedikit meneteskan air matanya.


"Maafkan aku Brian! Sungguh tidak ada maksud ku untuk menolak mu untuk menyentuh tubuh ku," ujar Bella menatap sedih kepergian Brian yang menahan emosi karena ulahnya.


Bella mengusap air matanya dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. "Aku harus cari Brian setelah ini!" ujar Bella dengan segera mengguyur tubuhnya dengan air.


Bella telah selesai mandi dan dengan segera memakai pakaiannya. Setelah selesai, ia berlari keluar untuk mencari keberadaan suaminya. "Aku harus mencari dia dimana?" ujar Bella yang saat ini sudah berada di luar hotel.


Bella menatap ke semua arah yang sudah terlihat sepi karena hari sudah larut malam. "Ya Tuhan, kemana dia!" ujar Bella yang saat ini melangkahkan kakinya memutari taman, untuk mencari keberadaan suaminya. Namun, Brian sama sekali tidak terlihat olehnya.


Sudah satu jam Bella memutari taman untuk mencari keberadaan suaminya. Namun, tetap saja ia tidak menemukan Brian. Bella berjalan dengan langkah gontai menuju kamar pengantinnya. Bella menghela nafas kasar karena baru sehari menikah saja ia sudah cekcok dengan suaminya.


"Bella dari mana saja kamu?" tanya Papanya saat melihat Bella yang akan memasuki kamarnya.


"Mati aku!" batin Bella saat menatap wajah Papanya yang penuh curiga menatap ke arahnya.


"Anu ..., Pa," ujar Bella terbata - tebata.


"Kamu sudah dewasa Bel, seharusnya Papa tidak perlu mengajari kamu lagi tentang hal ini," ujar Papanya dengan menatap anak gadisnya.


Bella terperangah mendengar ucapan Papanya dan Bella merasa Papanya mengetahui permasalahannya dengan Brian saat ini.


.........


Jangan lupa di like beserta komentarnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2