
"Bagaimana?" tanya Bella dengan memutar tubuhnya di hadapan Brian. "Bagus nggak yank?" sambung Bella lagi, namun Brian sama sekali tidak menanggapi ucapan calon istrinya karena ia begitu fokus menatap Bella yang sangat cantik dengan memakai gaun pengantin tersebut.
Bella menatap Brian yang saat ini menatapnya tanpa berkedip. "Hei .....!" ujar Bella cemberut dengan memukul bahu Brian agar Brian langsung tersadar dari lamunannya. "Ish kamu ngeselin, di tanya sama sekali tidak ada jawaban," sambung Bella lagi dengan melipatkan kedua tangan di dadanya.
"Astaghfirullah, beneran tadi enggak dengar sayang!" rayu Brian agar Bella dapat memaafkannya. "Kamu jangan marah!" sambungnya lagi.
"Hm, aku sama sekali tidak menarik ya! sampai kamu tidak tertarik gitu sama aku, bahkan kamu sama sekali tidak memujiku," ujar Bella pura - pura, padahal Bella tahu kalau Brian tadi menatapnya tanpa berkedip. Namun ia mencoba untuk berpura - pura agar Brian segera memujinya dan membujuknya saat ia cemberut.
"Sayang, malu sama mbak ini kalau kamu sampai ngambek disini. Ingat! sebentar lagi kita akan menikah, jangan ada kata pertengkaran di antara kita," ujar Brian dengan lembut seraya tersenyum menatap Bella.
Bella menatap senyum calon suaminya membuat hatinya meleleh dan mampu mengubah wajah juteknya dengan sebuah senyuman.
"Kamu sangat cantik kalau tersenyum begini," puji Brian hingga membuat Bella begitu bahagia saat Brian memujinya.
"Kalian romantis sekali ya, jadi iri saya!" ujar pegawai tersebut yang melihat keromantisan yang di tunjukkan Brian dan Bella dihadapannya.
"Mbak bisa aja," ujar Bella merasa terharu.
Bella melangkahkan kakinya mendekati sebuah cermin besar, disana ia menatap pantulan dirinya di sebuah cermin dengan balutan baju penganten yang melekat di tubuhnya. "Jadi fixs yang ini ya yank, kita ambil!" ujar Bella meminta pendapat calon suaminya perihal baju penganten yang ia pilih.
"Iya, kamu cantik pakai baju apa aja," puji Brian dengan memeluk pinggang Bella dari belakang.
"Ish ...., malu ah," ujar Bella dengan segera melepaskan tangan Brian dari pinggangnya.
"Sebentar lagi kita akan menikah, jadi tidak apa - apa kita bermesraan seperti ini. Iyakan mbak?" ujar Brian menyindir karyawan yang masih betah berdiri di dekat mereka.
"Mbak saya ambil baju yang ini aja," ujar Bella dengan melangkahkan kakinya menuju ruang ganti, untuk mengganti bajunya kembali.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Brian saat mereka baru saja keluar dari butik.
__ADS_1
"Aku lapar, makan dulu yuk," ujar Bella manja dengan memegang perutnya yang sedikit kelaparan.
"Lapar ya anak Papa," canda Brian dengan ikut memegang perut Bella.
"Ish ...., apaan sih, aku marah nih yank!" ujar Bella dengan memanyunkan mulutnya hingga membuat Brian tertawa lepas saat melihat mulut Bella seperti mulut bebek.
"Ya sudah kita makan dulu, pasti kamu lapar bangetkan?" ujar Brian dengan menggiring Bella menuju cafe terdekat dari tempat mereka berada.
Brian dan Bella memesan makanan dengan melihat menu yang tersedia, dan mereka menunggu pesanan dengan bercanda serta memperlihatkan kemesraan di antara mereka berdua.
"Brengsek!" ujar seseorang dengan memukul dinding cafe. "Kamu bisa sebahagia itu dengan dia tanpa merasa sedih seperti yang aku rasakan," sambungnya dengan meremas jari tangannya dan segera pergi dari cafe tersebut dengan sangat emosi.
"Itu bukannya Arya?" bathin Bella menatap Arya yang baru saja keluar dari cafe hingga membuat Bella merasa tidak enak atas sikapnya yang sudah bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Brian dengan memegang tangan Bella dan Brian menatap ke arah pandang mata Bella namun ia sama sekali tidak menemukan siapa pun.
"Tidak apa - apa, mungkin perasaan aku aja,"
Bella tertegun dengan ucapan Brian barusan, ia tidak menyangka Brian yang umurnya beda beberapa tahun di bawahnya bisa sedewasa ini dalam bersikap.
"Terimakasih sayang, sudah memilih aku untuk pendamping hidupmu," ujar Bella dengan menitikkan air mata haru.
"Jangan menangis, kita makan dulu ya!" ujar Brian mengusap air mata yang menetes di pipi Bella lalu segera menyuapkan makanan ke mulut Bella.
"Terimakasih," ujar Bella.
****
"Kamu jangan banyak gerak ya, jaga diri kamu dan bayi kita!" ujar Arka mengingatkan Siska, karena saat ini Siska harus extra hati - hati dan tidak boleh kecapek an karena kandungannya yang masih lemah.
__ADS_1
Arka memapah tubuh Siska yang baru saja pulang dari rumah sakit, ia membawa Siska menuju kamarnya dan merebahkannya di sisi sebelah ranjang.
"Aku capek tidur terus, aku mau duduk Ar," sahut Siska dan Arka dengan segera mendudukkan Siska.
"Kamu harus banyak istirahat ya!" ujar Arka dengan memegang pipi Siska dengan penuh kasih sayang. "Besok akan ada bibi yang akan membantu kamu di rumah, karena aku akan sedikit sibuk untuk menyelesaikan skripsiku yang sempat terkendala," sambung Arka lagi.
"Iya, terimakasih sayang," ujar Siska yang sangat terharu dengan kasih sayang yang di berikan oleh Arka kepadanya.
Tok tok tok
Arka dan Siska mendengarkan suara ketukan yang berasal dari luar, hingga membuat mereka saling tatap karena sebelumnya tidak pernah ada yang mendatangi rumah mereka.
"Coba kamu lihat dulu, siapa yang datang ke rumah kita,"
Arka melangkahkan kakinya keluar untuk melihat tamu yang datang ke rumahnya. "Kamu," tunjuk Arka yang merasa sangat terkejut dengan kehadiran seorang perempuan yang datang ke rumahnya.
"Ar, siapa yang datang!" teriak Siska yang merasa sedikit penasaran dengan tamu yang saat ini datang ke rumahnya.
"Bukan siapa - siapa yank, kamu istirahat aja," sahut Arka yang merasa sedikit pusing dengan kehadiran seorang perempuan yang selama ini di hindari.
Arka begitu gusar dan mengusap wajahnya secara kasar. "Aku mohon!" ujar Arka dengan mengatupkan kedua tangannya agar perempuan tersebut tidak lagi menggangu hidupnya karena kebahagiaannya saat ini adalah bersama anak dan istrinya nantinya.
Perempuan tersebut tertawa dengan senang melihat kepanikan di wajah Arka, ia tidak menyangka dengan kedatangannya saja sudah membuat seorang Arka sepanik itu, apalagi kalau seandainya ia masuk kekeluarga ini untuk menjadi orang ketiga di hubungan Arka dan Siska.
Arka menarik tangannya dan membawanya keluar dari rumah. "Kamu mau apa?" tanya Arka menatap perempuan tersebut dengan penuh kebencian. Namun perempuan tersebut membalas ucapan Arka dengan sebuah senyuman lalu mengecup wajah Arka.
"Bagaimana?" tanya perempuan tersebut hingga membuat Arka naik pitam dan sangat begitu emosi dengan kelakuannya.
..........
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen serta kritikannya mengenai novel author dan mohon maaf kalau seandainya ada penulisan kata yang tidak sesuai. Karena saat ini author dalam proses belajar dalam kepenulisan sebuah novel.