
Bella tersenyum saat melihat Brian mengerjabkan matanya. Bella memang belum menyadari akan perubahan sikap Brian saat ini, karena Siska sandiri juga tidak memberi tahu sama sekali mengenai amnesia yang di derita Brian. Bella pikir Brian bersikap acuh kepadanya karena Brian baru bangun tidur. Sehingga belum sepenuhnya tersadar dari mimpi tidurnya.
Brian masih menatap wajah wanita cantik yang ada di depannya saat ini, ia merasa nyaman kala dekat dengan wanita tersebut. Namun Brian sama sekali tidak mengenali wanita itu, bahkan tangan yang di pegang oleh Bella sendiri pun sama sekali tidak Brian lepas.
Brian menatap Bella yang tersenyum hangat kepadanya, senyuman itu seolah seperti ia mengingatnya namun siapa orangnya pun Brian tidak tahu.
Memori otak Brian pun seakan berputar, untuk mengingat - mengingat kejadian demi kejadian yang telah ia lalui. Karena tidak mungkin, ia merasa nyaman dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini kalau memang ia tidak mengenalinya.
Namun Brian benar - benar tidak dapat mengenali wanita yang ada di hadapannya saat ini, bahkan Brian sudah berusaha untuk mengingatnya. Akan tetapi malah mengakibatkan kepalanya sakit, Brian mengeluh kesakitan di bagian kepalanya sehingga ia menjerit kesakitan dan memegang bagian kepalanya yang terasa sangat sakit dan seakan ingin pecah.
"Bri, kamu kenapa Bri," tanya Bella saat melihat Brian memegang kepalanya dan menjerit kesakitan.
Bella sangat panik saat melihat keadaan Brian yang seperti itu, apalagi melihat Brian yang selalu memegang kepalanya seperti orang yang sangat kesakitan.
Bella memencat tombol darurat yang ada di dekat dinding yang berada tidak jauh dari brankar Brian, Bella sangat mencemaskan keadaan Brian saat ini. Bahkan Bella tidak mau melepaskan pegangan tangannya dari Brian, ia sangat berharap agar dokter segera datang agar Brian segera mungkin diperiksa.
Tidak lama setelah itu datanglah dokter bersama dengan seorang perawat. Siska yang melihat kedatangan dokter pun merasa sedikit bingung, apalagi melihat dokter yang masuk keruangan Brian dengan sangat terburu - buru. Namun Siska tidak berani bertanya kepada dokter dan perawat tersebut.
Tidak lama setelah itu, Bella keluar dari ruangan Brian saat dokter menyarankan Bella untuk keluar terlebih dahulu, agar dokter lebih leluasa memeriksanya.
Siska menatap Bella yang baru saja keluar dari ruang rawat Brian, Siska hanya diam melihat Bella yang keluar dengan keadaan yang sangat kacau. Siska langsung memeluk Bella, yang saat ini tepat dihadapannya.
Bella menangis di pelukkan Siska saat ini, ia tidak mengerti kenapa Brian kesakitan karena kedatangannya. Bella berpikir apakah Brian kesakitan seperti itu, karena kecelakaan Brian akibat Bella yang menyuruh Brian menemuinya di kafe waktu itu. Sehingga Brian menjadi membencinya.
"Sudah Bel, kamu sudah janji kepadaku untuk tidak menangis dan memikirkan keadaan Brian. Ingat Bel, kamu tidak boleh banyak pikiran," ucap Siska agar Bella lebih sedikit tenang.
"Sis, Brian benci sama aku. Dia tidak menginginkan aku lagi, Sis," ucap Bella sambil menangis di pelukkan Siska.
__ADS_1
Siska bingung menjawab ucapan Bella, ia tidak mengerti kenapa Bella berpikir seperti itu. Siska melepaskan pelukannya dan menatap Bella yang menangis, ia dapat merasakan kesedihan yang di rasakan Bella saat ini. Siska menghapus air mata yang ada di pipi Bella dengan sapu tangan yang diambilnya di saku celananya.
Siska menuntun Bella untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya, Siska mencoba untuk menenangkan Bella terlebih dahulu sebelum ia memberitahu hal yang sebenarnya yang terjadi.
"Kamu tenang dulu ya Bel, kamu tidak boleh berpikir seperti itu mengenai Brian," ucap Siska berusaha untuk menenangkan Bella.
Bella sedikit lebih tenang, ia berusaha untuk bersikap positif dan tidak terlalu terbebani. Tidak lama setelah itu, dokter keluar dari ruang rawat Brian. Bella langsung berdiri dan berjalan mendekati dokter Didi.
"Dokter, gimana keadaan Brian, dok?" tanya Bella saat melihat dokter Didi yang baru saja keluar setelah memeriksa Brian.
Dokter Didi menatap Bella yang ada dihadapannya, sebelum ia menjelaskan secara detail mengenai penyakit yang di derita pasiennya, ia harus memastikan terlebih dahulu apa hubungan pasiennya dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini. Karena ia tidak pernah melihat wanita tersebut sebelumnya.
Bella mengerti akan tatapan dari dokter tersebut. Bella pun memberitahukan bahwa ia dan Brian adalah teman dekatnya dan sudah saling mengenal satu sama lain.
"Temui saya di ruangan saya!" ucap dokter Didi kepada Bella agar ia bisa menjelaskan kepada Bella.
Bella dan Siska di persilahkan duduk terlebih dahulu sebelum dokter tersebut memberitahukannya. Siska memegang tangan Bella untuk menenangkan Bella yang begitu sangat mencemaskan Brian.
"Sebenarnya Brian sakit apa dok?"tanya Bella kepada dokter Didi, karena memang ia sama sekali tidak mengetahui sedikitpun.
Dokter Didi terlihat menghela nafasnya sebelum memberitahukannya terlebih dahulu, Bella hanya diam dan menatap dokter Didi yang berada di hadapannya saat ini.
Dokter Didi pun menjelaskan secara detail mengenai amnesia yang di derita Brian saat ini, Bella begitu sangat terkejut dengan apa yang dikatakan dokter Didi kepadanya. Bella benar - benar tidak menyangka, Brian akan mengalami amnesia akibat dari kecelakaan tersebut.
"Dok, saya mohon tolong sembuhkan Brian," ucap Bella memohon. "Atau apa yang bisa kami lakukan dok, agar ingatan Brian bisa kembali lagi?" ucap Bella lagi.
"Brian hanya mengalami amnesia yang bersifat sementara," ucap dokter Didi. " Jadi untuk menyembuhkan pasien bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu, seperti telepon, dan agenda elektronik, akan membantu penderita amnesia mengingat aktivitas sehari-hari," ucap Dokter Didi menjelaskan.
__ADS_1
Bella terdiam mencerna apa yang diberitahukan dokter tersebut kepadanya, ia sedikit lebih tenang setelah mendengarkan pengarahan dari dokter Didi.
Dokter Didi menatap Bella yang saat ini ada dihadapannya, untuk mengetahui apakah Bella paham atau tidak dengan apa yang ia ucapkan tadi.
"Selain itu bantuan dari orang terdekat sangat membantu menyembuhkan amnesia yang dialami pasien saat ini, jadi di perlukan kesabaran yang extra agar pasien secepatnya pulih dan jangan terlalu memaksanya untuk mengingat hal - hal yang sulit di ingatnya," lanjut dokter Didi menjelaskan.
Bella dan Siska keluar dari ruangan dokter Didi dengan sedikit lebih tenang, Bella sangat yakin Brian bisa secepatnya sembuh dan mengingatnya lagi.
Bella meminta izin kepada Siska untuk menjenguk Brian sebentar kedalam ruangan Brian, sebelum ia pulang ke rumah.
"Ya sudah, aku tunggu disini," ujar Siska dan langsung duduk di kursi yang berada dekat dari ruangan tersebut.
Bella melangkahkan kakinya memasuki ruangan Brian, ia menatap Brian yang sudah kembali tertidur setelah di berikan suntik penghilang rasa sakit.
Bella sedih melihat keadaan Brian seperti ini, andai ia lebih mempercayai Brian waktu itu mungkin semua tidak akan terjadi. Bella sangat menyesali semua kesalahan yang telah ia lakukan, andaikan ia tidak menyarankan Brian untuk menemuinya ke kafe waktu itu. Mungkin Brian tidak akan terbaring lemah seperti ini dan mungkin ia akan bahagia bisa bercanda bersama dengan Brian saat ini.
"Kamu cepat sembuh ya Bri, aku sangat mencintaimu," ucap Bella meneteskan air matanya.
Sebelum Bella pulang, Bella memberanikan diri untuk mencium kening Brian dan membisikkan ke telinga Brian kalau ia sangat mencintai Brian sampai kapanpun dan akan menunggunya untuk mengingat kembali memori kenangan yang pernah ia lalui.
Brian mendengarkan semua yang di ucapkan Bella kepadanya, karena sewaktu Bella masuk tadi, Brian hanya berpura - pura tidur agar ia bisa mengetahui siapa wanita yang datang menjenguknya.
Brian membuka matanya saat melihat Bella sudah keluar dari ruangannya, ia tersenyum saat mengingat Bella mencium keningnya dan apalagi saat Bella mengucapkan kalau ia sangat mencintai Brian.
............
Jangan lupa like dan komennya ya🙏
__ADS_1