Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 22


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Brian di rawat di Rumah sakit. Brian masih saja belum sadarkan diri, semenjak kecelakaan yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Ia masih saja betah tertidur di brankar Rumah sakit dengan beberapa alat di tubuhnya, karena dengan bantuan alat - alat tersebut lah Brian masih bisa bertahan saat ini.


Bella pun tak henti - hentinya menangis memikirkan keadaan Brian yang semakin hari semakin memburuk. Bahkan Bella tidak tega sedikit pun, meninggalkan Brian sedetik pun. Namun keadaan itu pula, ia tidak mungkin 24 jam berada di samping Brian.


Bella hampir tiap hari datang menjenguk Brian. Meskipun keadaan Brian masih saja koma dan belum menunjukkan perkembangan sama sekali, akan tetapi Bella yakin suatu saat Brian akan kembali sembuh seperti semula.


Bella juga sering mengajak Brian berbicara meskipun Brian tidak menjawab sekalipun, namun Bella yakin bahwa Brian mendengarkan segala ucapannya.


Saat ini Bella datang menjenguk Brian di Rumah sakit, Bella sangat terpuruk melihat keadaan Brian yang masih lemah tak berdaya dengan selang inpus serta alat - alat lain yang melekat di tubuhnya. Bella selalu mendoakan agar Brian segera pulih dari komanya, namun apalah daya tuhan lah yang menentukan segalanya.


"Assalamualaikum Brian," ucap Bella membisikkan ke telinga Brian saat pertama ia datang menemui Brian agar Brian tahu akan kedatangannya saat ini.


Bella pun duduk di kursi dekat Brian berada, Bella menatap Brian yang semakin hari semakin kurus. Bella menggenggam tangan Brian, berharap tangan itu bisa menjadi tumpuan yang bisa menyemangati hatinya yang lemah saat ini.


"Bri, tolong dengerin aku. Aku mohon bangun lah Bri, aku mohon bantu aku buat keluar dari masalah ini," ucap Bella mulai berbicara dengan Brian yang mana ia sangat berharap Brian bisa membantunya keluar dari masalahnya yang mengganggu hatinya saat ini.


"Bri! tidak lama lagi, aku akan bertunangan dengan anak teman Papa ku Bri," ucap Bella lagi dengan sangat pilu, memikirkan nasib percintaannya yang tidak memihak padanya.


"Aku harus bagaimana Brian?" tanya Bella seolah apa yang ia tanyakan bisa di jawab Brian.


"Aku mohon bawa aku Bri, bawa aku pergi kemana pun yang kamu mau Bri, daripada aku harus menerima perjodohan ini,"

__ADS_1


" Bri waktu aku seminggu lagi, aku sangat berharap padamu Bri. Aku sangat berharap kamu bisa membantuku," ucap Bella mencium tangan Brian.


****


Saat ini Bella sudah berada di rumahnya, setelah pulang dari Rumah sakit tadi, Bella segera membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya. Lalu ia berjalan menuju balkon yang ada di kamarnya untuk menenangkan hati dan pikirannya yang saat ini sedikit kacau.


Bella menatap indahnya suasana sore di balkon kamarnya, dengan alunan pohon yang ada di halaman depan rumahnya yang melambai - lambai yang tampak indah di mata. Serta hembusan angin itu seolah ingin berbisik mesra dan menyejukkan terasa di badan. Ingin rasanya kesedihan ini segera cepat berlalu. Bukan tidak mensyukuri cobaan yang datang melanda. Namun hati ini yang tidak bisa tahan menanggung cobaan yang begitu berat yang di hadapi saat ini. Ingin rasanya menangis, tapi air mata sudah tidak bisa menampung segala kesedihan yang melanda.


Bukan hanya sekedar memikirkan kesehatan Brian yang membuat Bella terpuruk, namun ini juga menyangkut perjodohannya dengan anak teman papanya yang menjadi permasalahan yang Bella hadapi saat ini.


Ingin rasanya menyerah menghadapi takdir yang tidak juga kunjung memihak kepadanya. Di satu sisi Bella yang masih mencintai Brian dan berharap Brian kembali sehat seperti semula. Akan tetapi di satu sisi lain, ada Papanya yang tidak bisa di bantah apa yang sudah menjadi keputusannya.


Meskipun Papa selalu menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya kepada keluarganya, maka itu lah yang jadi penyebab utama Bella tidak bisa menyakiti hati orang tuanya, ia tidak mau membantah apa pun ucapan Papanya kepadanya. Akan tetapi ini juga menyangkut hati yang tidak bisa berpaling pada siapapun. Sehingga Bella berada di posisi yang sangat sulit saat ini.


Setelah lelah melamun dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di dalam hatinya, Bella melangkahkan kakinya memasuki kamarnya kembali dan merebahkan badannya yang terasa letih, bukan hanya letih dengan aktifitas saja akan tetapi letih memikirkan suatu hal yang sulit untuk di hadapinya.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu kamarnya, sehingga membuat Bella terbangun dan segera membukakan pintu kamarnya.


"Mama," ucap Bella yang sedikit terkejut akan kedatangan mamanya yang datang ke kamarnya saat ini.

__ADS_1


Mama pun melangkahkan kakinya memasuki kamar putrinya saat ini, Mama mengamati sekeliling kamar Bella yang tampak rapi meskipun anaknya akhir - akhir ini jarang di rumah dan sedikit sibuk di luaran sana.


Mama mendaratkan pantatnya di kasur yang ada di kamar Bella, namun mata Mama sempat menangkap foto yang ada di atas nakas yang berada dekat tempat tidur Bella.


Mama menatap Foto Bella bersama teman lelakinya, sehingga Mama sangat yakin kalau foto tersebut foto Bella bersama kekasihnya. Karena selama ini Mama tidak pernah melihat Bella memajang fotonya bersama lelaki sebelumnya dan baru kali ini lah Mama melihatnya di kamar Bella.


"Ma," ucap Bella seolah ia tahu apa yang di lihat Mamanya saat ini.


Mama pun memperhatikan wajah Bella saat ini, sebagai Ibu ia sangat tahu betul apa yang di rasakan anaknya beberapa hari ini. Meskipun Bella sama sekali tidak pernah menceritakan permasalahan yang ia hadapi saat ini.


"Bel, Mama paham apa yang kamu rasakan saat ini nak!" ucap Mama seolah ia paham apa yang di tanyakan anaknya saat ini.


"Kalau kamu butuh teman cerita, Mama siap menjadi pendengar ceritamu Nak," ucap Mama lagi yang sedih melihat anaknya yang sedikit lesu.


Bella menatap wajah Mamanya yang berada di sampingnya saat ini, Bella merasa bersyukur ternyata Mamanya mengerti akan perasaan yang ia rasakan saat ini.


"Ma, Bella sayang Mama," ucap Bella merengek sambil memeluk mamanya. "Namun Bella merasa putus asa dengan keadaan yang semakin rumit yang Bella hadapi saat ini Ma," ucap Bella lagi.


"Kamu harus banyak berdoa Nak, jangan sampai kamu terpuruk seperti ini. Mama tidak ingin melihat anak Mama lemah seperti ini," jawab Mama sambil membelai rambut Bella untuk menenangkan hati anaknya.


"Bella harus bagaimana Ma? Bella nggak bisa menerimanya Ma,"

__ADS_1


.............


Jangan lupa like dan komennya


__ADS_2