Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 76


__ADS_3

Sepuluh tahun kemudian


"Sakit banget, ya Allah!" ujar Bella dengan memegang perutnya yang sudah membesar.


Bella melihat bagian pangkal kakinya, yang saat itu sedang merembes darah. "Ya tuhan, bagaimana ini!" ujar Bella dengan sangat panik dan berusaha untuk berdiri agar bisa nenghubungi suaminya. Namun, bukannya berdiri Bella malah tiba - tiba pingsan seketika.


Brian seketika ada firasat tidak enak dalam dirinya, sehingga membuatnya merasa tidak fokus saat bekerja.


"Perasaan apa ini?" batin Brian yang saat ini, sangat mencemaskan istrinya yang sedang hamil tujuh bulan.


"Sepertinya, aku harus pastiin kalau Bella saat ini baik - baik saja," ujar Brian dengan segera mengambil ponselnya agar bisa menghubungi istrinya di rumah.


Brian mencoba menghubungi istrinya berulang kali. Namun, Bella sama sekali tidak mengangkat telephone darinya.


"Ya Allah, kamu dimana sih yank?" ujar Brian yang masih berusaha menghubungi istrinya. Namun, tetap tidak di angkat oleh Bella.


"Aku tidak bisa berdiam seperti ini, kasihan istriku di rumah!" ujar Brian dengan segera melangkahkan kakinya menemui kakaknya Andes untuk meminta izin agar bisa pulang cepat.


Tok tok tok


"Masuk!" sahut Andes.


Brian menatap kakaknya yang saat ini sedang fokus bekerja. "Bang, boleh tidak? Kalau, aku pulang sebentar ke rumah," ujar Brian merasa sungkan terhadap kakaknya.


Andes menghentikan pekerjaannya dan menatap wajah adiknya yang seperti sangat mencemaskan sesuatu. "Ada apa?" tanya Andes menanyakan alasan Brian meminta izin kepadanya.


"Perasaanku saat ini tidak enak bang! Aku sangat mencemaskan Bella di rumah sendirian di saat hamil besar seperti ini!" ujar Brian sedikit cemas dan merasa takut jikalau alasan yang ia berikan tidak di setujui oleh kakaknya.


"Brian!" panggil Andes. "Kalau saat darurat seperti ini, kamu tidak perlu meminta izin kepada abang. Sekarang, cepat kamu pulang! Kasihan Bella di rumah sendirian," ujar Andes.


"Terimakasih bang!" ujar Brian dan dengan segera keluar dari ruangan kakaknya.


"Ya tuhan, mudah - mudahan Bella baik - baik saja," ujar Brian saat sedang mengendarai mobilnya menuju rumahnya.

__ADS_1


Brian saat ini telah sampai kekediamannya dan secepat kilat ia membuka pintu mobilnya. Brian berlari menuju ke dalam rumahnya, disana ia melihat rumah yang terasa sepi dan tidak menemukan Bella.


"Bella, kamu dimana sayang!" teriak Brian yang sangat mencemaskan keadaan istrinya.


"Tidak biasanya Bella seperti ini," sambung Brian lagi yang merasa kebingungan mencari keberadaan istrinya.


Brian dengan segera menuju kamarnya, disana ia juga tidak menemukan keberadaan istrinya.


"Bella!" panggil Brian lagi dengan membuka pintu balkon kamarnya. Namun, tetap tidak menemukan Bella disana.


Brian menatap pintu kamar mandi yang terkunci, lalu berusaha membukanya. "Di kunci!" ujar Brian dengan tetap berusaha membukanya. "Bella buka pintunya!" ujar Brian. Namun, tidak ada sahutan dari dalam.


Brian mengambil kunci cadangan kamar mandinya dan dengan segera membukanya. "Bella!" teriak Brian melihat istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Ya Allah, bagaimana ini?" ujar Brian menangis melihat keadaan istrinya.


Brian dengan segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya menuju mobilnya. "Aku mohon bertahanlah sayang!"


"Tenang ya Pak, silahkan bapak bawa ke ruangan UGD terlebih dahulu," ujar salah satu suster menyambut kedatangan Brian yang sangat histeris.


Tidak lama setelah itu, dokter kandungan yang akan memeriksa keadaan Bella datang dan dengan segera memeriksa keadaan Bella yang sudah tidak sadarkan diri.


"Sepertinya, dia harus segera di operasi. Tolong persiapkan ruang operasinya sekarang juga!" ujar dokter kandungan tersebut kepada salah satu suster yang membantunya.


"Baiklah dok," ujar suster itu keluar dengan tergesa - gesa.


Brian melihat suster tersebut keluar dengan sangat tergesa - gesa. "Sus, bagaimana keadaan istri saya!" ujar Brian. Namun, suster itu tidak kunjung menjawabnya karena saat ini keadaannya sangat darurat.


Brian yang sangat mencemaskan keadaan istrinya dengan segera masuk ke dalam. Disana ia melihat istrinya masih tak kunjung sadarkan diri. "Dok! Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Brian yang sangat ingin tahu keadaan istrinya.


"Pak! tolong temui saya secepatnya di ruangan saya. Karena ada hal penting yang perlu saya bicarakan!" ujar dokter tersebut dan dengan segera meninggalkan Brian.


Brian dengan segera mengikuti langkah kaki dokter tersebut menuju ruangannya.

__ADS_1


"Dok, tolong selamatkan istri saya!" ujar Brian yang merasa tidak kuat menatap istrinya dalam keadaan seperti itu.


"Pak, tolong di tanda tangani surat persetujuan ini," ujar dokter tersebut memberikan beberapa lembar kertas untuk segera di tanda tangani oleh Brian. "Karena, kita harus secepatnya melakukan penanganan terhadap bu Bella," sambung dokter tersebut.


"Baiklah dok, tolong lakukan yang terbaik buat anak dan istri saya dok!" ujar Brian yang merasa iba melihat istrinya yang terbaring lemah tak berdaya. Apalagi, ini adalah kehamilan pertama bagi Bella.


Ya, Brian dan Bella sudah menikah selama sepuluh tahun. Namun, dalam sepuluh tahun tersebut dia belum juga kunjung hamil.


Bukan hanya ujian itu saja yang di lalui oleh Bella dan Brian. Rumah tangga Bella dan Brian, hampir saja hancur karena hadirnya orang ketiga di kehidupannya. Namun, itu semua dapat di lalui oleh mereka berdua. Baik Nadya maupun Arya, tidak mampu menggoyahkan rasa cinta mereka yang terlalu besar.


Nadya yang terlalu terobsesi ingin mendapatkan cintanya Brian, mengaku menyerah. Begitu juga sebaliknya dengan Arya, ia dengan sangat ikhlas melepaskan Bella, agar bisa bahagia hidup dengan Brian tanpa harus mengusik kehidupan rumah tangganya lagi.


"Semoga kamu bahagia Bell, meski pun hatiku menangis melepaskanmu dengan orang lain!" ujar Arya menatap Bella yang sedang bermesraan dengan suaminya.


"Sepertinya, mereka sangat sulit di pisahkan Ar!" ujar Nadya yang paham dengan tatapan mata Arya.


Arya menatap ke arah wajah Nadya. "Ternyata gadis tomboi yang di hadapan gue sangat cantik dan menarik!" batin Arya tersenyum. "Mungkin dengan cara ini, gue bisa melupakan Bella!" sambungnya lagi yang memiliki niat untuk mencoba membuka hatinya untuk Nadya.


"Nad, dari pada kita memperebutkan orang yang sama sekali tidak melihat kita. Apa salahnya kita mencoba untuk membuka hati kita untuk bersama," ujar Arya dengan sedikit malu - malu mengungkapkannya.


Nadya menatap sekilas wajah Arya, lalu kembali menatap wajah lelaki tampan di hadapannya. "Baiklah, mungkin ini lebih baik dari pada kita menjadi penghancur rumah tangga orang," ujar Nadya yang sudah memantapkan hatinya untuk berfikir ke arah yang lebih positif.


Tamat


..........


Jangan lupa like beserta komennya dan trims sudah mendukung karya author yang berjudul "Jangan Bilang Aku Selingkuh".


Alhamdulilah trims atas dukungan member grup chat Dhefindra yang sudah memberikan like, komen beserta giftnya kepada author dan trims juga buat readers di luar dari grup chat yang sudah memberikan komen serta kritikannya. Sehingga membuat Author bisa menulis lebih baik lagi.


Bagi yang berkenan, silahkan mampir juga ke novel "Terjebak Cinta Si Bocah,". Barangkali ada yang berminat untuk membacanya. Trims all, salam kenal dan semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT. Aamin aamin ya rabbal alamin.


__ADS_1


__ADS_2