
Evelina Dushenka sedang menikmati libur akhir pekan di sebuah danau tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia merebahkan diri di atas perahu sampan menatap keindahan langit biru nan cerah. Angin sepoi-sepoi membelai lembut kedua kelopak mata hingga ia mulai terlelap.
Tap tap tap!!
Tap tap tap!!
Bunyi langkah kaki berlarian kencang membuat telinga Eve terpasang lebar-lebar. Eve menatap lekat bayangan seseorang berkelebatan di tengah-tengah hutan berkabut. Rasa ingin tahu luar biasa membuatnya berlari mengikuti kemana bayangan pergi.
Pekikan kesakitan kembali terngiang ditelinga kali ini semakin terdengar jelas. Ia berlari ke arah suara tersebut, hingga terlihat kembali sosok bayangan seseorang berteriak nyaring saat sesuatu yang lain sedang melompat dari semak-semak belukar. Eve membelalakkan mata ketika melihat sosok lain melompat dan membuat sosok yang dikejar Eve jatuh terduduk di hadapan sosok lain tersebut.
Sosok lain itu menghujamkan sesuatu dengan kedua tangannya pada sosok yang dikejar Eve. Berulang kali dihujamkan, hingga tak terdengar lagi teriakan, bahkan rintihan sekalipun. Eve terdiam menahan rasa takut bertubi-tubi menatap kejadian mengerikan.
Belum sempat otaknya memerintahkan untuk berlari, sosok pembunuh itu menoleh ke arahnya!! Sial!! Ia sadar telah diperhatikan seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Eve berlari dan berlari tapi sesuatu yang berkilat membentang di sepanjang pepohonan yang akan ia lewati. Ia ingin sekali menghentikan lari, dalam sekejap mata tapi terlambat!! Leher Eve telah teriris oleh kawat tajam yang membentang di antara pepohonan.
Brugh!!
Meski kepala Eve telah terpisahkan dengan tubuhnya, ia masih sanggup melihat sosok misterius menyeringai keji padanya.
"AaaaaAAAaaaa!!" teriak Eve keras-keras sambil bangkit dari tidurnya. Dengan nafas menderu kencang ia meraba-raba leher. Lalu ia bercermin pada air danau. Syukurlah...kepalanya masih utuh. Ia menepuk-nepuk dada untuk menetralisir detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.
"Kau baik-baik saja?!" teriak seseorang dari balik pohon tempat Eve menambatkan tali perahu milik keluarganya.
"Ah, ya. Aku...bermimpi buruk tadi. Maaf mengagetkanmu" jawab Eve dengan raut wajah memucat.
"Mom memanggil kita pulang. Ada kiriman surat dari kota katanya itu ditujukan untukmu!!" kata-kata Pria itu sukses membuat rasa penasaran Eve memuncak dan memutuskan untuk mendayung menuju ke tepian danau. Pria itupun membantu menarik perahu Eve ke tepian, menyambut tangan kanan Eve sebagai penopang.
Eve berjalan setengah berlari menuju ke dalam rumah sederhana milik keluarganya.
Krieeeek....
Suara pintu rumah berderit nyaring membuat seisi rumah mengetahui kedatangan Eve.
"Apa kau ingin pindah Stasiun TV? Kenapa R-Nav TV memberimu surat resmi?" tanya sang ibu, menyerahkan surat resmi kepada putrinya.
"Aku masih terikat kontrak Ornext TV. Aku tidak mengetahui hal ini sama sekali. Kalian tahukan, memutuskan kontrak, sama dengan bencana bagiku" kata Eve cemas. Eve berhati-hati sekali membuka surat resmi dari R-Nav TV. Berulang kali ia membaca surat itu dengan raut wajah tak percaya.
Drrrrrrt....
Drrrrrrrt....
Eve kaget mendapati ponselnya bergetar di saku belakang celana jeans. Ornext TV? Apa ini ada hubungan dengan R-Nav TV?
"Hello Mr. Maksim, " jawab Eve takut-takut.
"Apa surat resmi dari R-Nav TV sudah sampai ditanganmu?"
"Ah, ya, baru saja surat itu sampai"
"R-Nav TV merekrut banyak Reporter terbaik di seluruh dunia. Kurasa kau pantas untuk mendapatkan kesempatan itu. Jadi aku merekomendasikanmu dari Stasiun TV kita. Apa kau siap bergabung ?"
"Tapi...ini semacam kegiatan sosial. Waktunya juga tidak ditentukan. Mr. Maksim...keluarga saya membutuhkan pemasukan agar dapur rumah kami tetap mengepul" jawab Eve keberatan.
"Untuk itu kau tidak perlu kahwatir. Tiap bulan kau akan tetap menerima gaji. Jadi kumohon bergabunglah dengan R-Nav TV. Kau tahukan, R-Nav TV adalah Stasiun Televisi terbesar di dunia?"
"Jika kau menjadi salah satu Reporter yang menemukan jejak Putri Sponsor dari R-Nav TV , kau dan Stasiun Televisi kita akan dikenal dunia juga. Kami menggantungkan harapan pada kalian berdua"
"Berdua? Jadi selain saya, ada satu Reporter lagi yang akan bergabung?"
"Bukan. Dia akan menjadi Kameramen yang akan selalu mendampingimu, mewakili Ornext TV. Aku sangat mempercayakan ini ditangan kalian berdua. Aku akan mengirimkan konfirmasi pada R-Nav TV dan selamat bertugas" kata Mr. Maksim memutus sambungan seluler.
Tut
Tut
Tut
Gadis itu langsung jatuh terduduk di atas sofa berbeludru coklat dengan motif polkadot hitam pekat.
"Apa yang menelpon atasanmu?" tanya sang Ibu was-was. Eve menggeleng.
"Mr. Maksim pemilik Stasiun TV tempatku bekerja Mom..."
__ADS_1
"Kenapa kau lesu sekali ? Apa kau bermasalah karena surat resmi dari Stasiun TV lainnya?" tanya Valdo hati-hati. Eve malah menggeleng kembali sambil menghela nafas panjang.
"Kalian pasti sudah mendengar berita besar dari Channel R-Nav TV bukan? Semua ini, ada kaitannya dengan hal itu" jawab Eve frustasi.
"Tentang salah satu anggota keluarga Sponsor terbesar R-Nav TV yang Putrinya mendadak hilang?!" pekik sang Ibu membelalakkan mata.
"Kau harus menolak. Jangan mengambil resiko sebesar itu Evelina, Mom memperingatkanmu" kata Ibu Eve dengan suara meninggi.
"Tidak ada pilihan lain Mom, mereka menekanku untuk mengikuti aksi kemanusiaan ini. Aku tidak akan membiarkan karirku hancur hanya karena menolak. Mr. Maksim telah mengkonfirmasi panggilan dari R-Nav TV"
"Jika Reporter yang mereka pilih untuk mewakili mereka mengundurkan diri, itu akan membuat nama baik Ornext TV buruk dimata dunia. Mom, aksi kemanusiaan ini meliputi seluruh dunia. Yang kami cari bukan hanya Putri sang Sponsor, tapi juga seluruh orang yang menyertai sang Putri" jawab Eve serius. Tak ada suara apapun kali ini hanya keheningan...semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Libur akhir pekan dimanfaatkan Dimitri Afanas sebaik mungkin. Ia datang membawa banyak hadiah yang ia jinjing dan sebagian lainnya di himpit dengan ketiaknya. Ia melangkah menuju panti jompo tempat Neneknya Darla tinggal.
Bukan karena Dimitri ingin melepas tanggung jawab terhadap sang Nenek, bukan juga karena ia ingin membuang sang Nenek. Ini hanya karena keluarga yang dimiliki Dimitri hanyalah Neneknya. Ketika ia diharuskan selalu berada di luar rumah 24 jam, maka...panti jompo adalah satu-satunya cara agar Neneknya dapat terurus sebaik mungkin.
Hari ini, libur akhir pekan pertama yang ia lewatkan tanpa harus tetap bekerja.
"Dimitri, kaukah itu?" panggil sang Nenek sambil membenarkan letak kaca mata. Dimitri tersenyum bahagia melihat sang Nenek terlihat segar bugar di usia senja.
Ia mempercepat langkah kaki, meletakkan kado-kado di atas meja, lalu memeluk penuh kerinduan pada sang Ibu pengganti itu. Sejak masih balita, sang Neneklah yang merawat dan membesarkannya hingga saat ini.
Kedua orang tua Dimitri dahulu masih sangat muda hingga Dimitri terlahir ke dunia dan ditinggalkan begitu saja di depan rumah sang Nenek hanya bermodalkan sepucuk surat dan selembar kain tipis pembungkus bayi.
"Kau benar-benar nakal...jadi aku diberi kado sebanyak itu, agar aku tidak marah padamu?" goda sang Nenek terkekeh bahagia karena akhirnya iapun dapat melepaskan rindu.
Kring....
Kring....
Kring....
Dimitri menuntun sang Nenek duduk di atas kursi tamu lalu memintanya membuka semua kado itu sementara Dimitri menjawab panggilan dari Ornext TV. Ia pikir ini hari terbaik baginya maupun sang Nenek, tapi...panggilan di akhir pekan?
"Hello..."
"Dimitri, apa kau sudah menerima surat dari R-Nav TV?"
"Perekrutan Reporter terbaik di dunia. Ini berkaitan dengan itu. Aku memintamu dan seorang Reporter untuk mewakili Ornext TV, bergabung dengan R-Nav TV. Aku harap kau tidak akan menolak aksi kemanusiaan ini"
"Saya masih memiliki tanggungan Nenek saya"
"Dia akan menjadi tanggung jawab kami selama kau, bergabung di sana nantinya. Aku tidak menerima penolakan. Mengerti?!" kata Mr.Maksim memutuskan pembicaraan sepihak.
"Jadi, apa waktumu habis untuk mengunjungiku?" tanya sang Nenek menatap intens sang Cucu.
"Ayolah...ini akhir pekan. Pasti akan kuberikan seluruh waktuku untuk Nenekku yang tersayang ini" kata Dimitri sambil duduk di samping sang Nenek. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari dasar hati Eve maupun Dimi.
Kasus sebesar ini kenapa tidak diajukan pada pihak kepolisian? Ya, memang awalnya itu kasus yang ditangani pihak kepolisian dengan hasil nihil. Tapi menyerahkan kasus pada Reporter itu bukankah hal yang ganjil?
Lalu...bagaimana cara mereka menemukan petunjuk bila kepolisian saja sulit untuk memecahkan misteri kasus tersebut?
Keringat dingin bercucuran di seluruh tubuh Eve. Ia berlari menyusuri hutan asing menghindari sosok misterius yang mengejarnya hingga ia merasakan tubuhnya takkan lagi mampu untuk berlari cepat. Sesuatu berkilauan menyilaukan mata.
Eve tertegun sesaat...ada apa ini? Bukankah tadi dia berada di sebuah hutan? Lalu kenapa sekarang dia berdiri tepat di tengah jalan raya? Cahaya itu semakin dekat....semakin terang. Pendengaran Eve mulai berfungsi dengan baik.
Tin.....!!
Tin......!!
Tiiiiiiiiin....
"Kyaaaaaaaaa!!" teriakan Eve berkumandang di seluruh penjuru jalan raya lengang tersebut, berbaur menjadi satu dengan suara nyaring klakson mobil.
Braaaaaaak!!
Tubuh Eve terhempas seketika, lalu terbang keudara....dan jatuh bergelimpangan di atas aspal entah berapa puluh kali. Kedipan pertama, seseorang keluar dari mobil yang menabraknya lalu berlari ke arahnya sambil berteriak histeris.
Kedipan kedua, ia melihat...wajah Kakaknya Valdo? Benarkah? Benarkah apa yang ia lihat barusan? Ia berusaha keras untuk membuka mata kembali tapi semuanya menjadi sangat gelap.
Bip!!
Bip!!
__ADS_1
Suara panggilan telpon di pagi buta? Ah, ya ampun...entah kenapa rasanya badan Eve seperti habis tertimpa benda sangat berat dan keras.
Aaaargh...
Erang Eve ketika ia berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Ada apa ini? Kenapa...tulang tengkuknya sangat susah untuk diangkat? Rasanya nyeri sekali!! Perlahan Eve memiringkan tubuh ke arah ponsel di atas meja kecil samping tempat tidur. Uhhh sakit sekali seluruh bagian tulang belulang Eve linu termasuk kedua tangan.
Ia memaksakan diri untuk meraba permukaan meja hingga dapat meraih ponsel yang dari tadi terus berdering.
"Eve...aku baru saja menerima panggilan dari R-Nav TV. Ada penjemputan dadakan. Pastikan kau telah siap dalam waktu kurang dari satu jam. Cepatlah bersiap. SEKARANG!!" perintah dari Mr. Maksim membuat Eve merasa kacau.
Menurut surat resmi, keberangkatan mereka dua hari lagi tapi...kenapa tiba-tiba ada aksi penjemputan dadakan sepagi buta ini?
"Mr. Maksim, apa Anda bercanda?!" pekikan Eve, hanya disambut dengan sambungan telpon diputuskan secara sepihak. Aksi kemanusiaan macam apa ini? Hello..., mereka tidak meliput korban bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi bencana susulan.
Atas dasar apa mereka melakukan penjemputan secara paksa? Eve bukan kriminal lalu untuk apa semua ini dilakukan pihak R-Nav TV? Eve dan Reporter lainnya tidak akan meliput dalam satu hari saja bukan? Entah berapa bulan mereka, harus habiskan di tempat itu. Siapapun di muka bumi ini tentu saja paham betul untuk mengepak barang, butuh waktu lebih dari satu jam terlebih lagi, mereka harus mandi.
Eve berlari secepat mungkin, keluar dari kamar setelah membawa beberapa perlengkapan mandi lalu masuk ke dalam kamar mandi keluarga. Tak lama kemudian, ia berlari bergedebugan membangunkan seisi rumah.
"Kenapa kau membuat suara seberisik ini Eve!!" teriak Valdo kesal di antara pandangan penuh tanda tanya seluruh penghuni rumah ini.
"Waktuku tidak banyak, apa kalian bisa membantuku mengemasi barang-barangku?!" pekik Eve mencari-cari baju mana yang pantas untuk ia kenakan.
"Berkemas? Memang kau mau kemana?" tanya sang ibu panik.
"Pihak R-Nav TV baru saja menghubungiku agar aku berkemas sekarang" kata Eve akhirnya menemukan kostum yang tepat untuknya kali ini. Belum selesai sang Ibu membantu mengemasi barang-barang Eve..., terdengar suara helikopter mendarat di depan halaman rumah mereka.
Eve menyambar ponsel lalu mengambil sebuah laptop dan berlarian ke halaman rumah diikuti oleh seluruh keluarga. Eve melongo tanpa kata melihat benar-benar ada helikopter berlogo R-Nav TV bertengger di halaman rumahnya.
"Kita tidak punya banyak waktu!! Ayo, masuklah sekarang!!" teriak sang Pilot sambil menatap tajam ke arah Reporter berkostum baju tidur terbuat dari kain satin. Tidak ada jalan lain lagi...toh, ada banyak Presenter berita yang bernasib sama dengannya.
Dikecupnya pipi sang Ibu, lalu melangkah mantap menuju ke dalam helikopter. Seluruh keluarga Eve melambaikan tangan dari bawah, sementara Eve hanya menyunggingkan senyuman kecil pada mereka.
"Keluarga besar?" tanya seorang Pria dengan kaus oblong berwarna putih tulang, penampilannya jauh lebih mengenaskan dari pada Eve.
"Ah, ya, maaf mereka memang agak berisik" Eve terkekeh pelan.
"Setidaknya kau punya banyak keluarga. Dimitri Afanas" kata Pria itu menawarkan diri berjabat tangan.
"Evelina Dushenka. Panggil saja Eve. Jadi, apa kau tahu, kenapa kita di jemput secepat ini? Di dalam surat resmi tidak disebutkan adanya penjemputan hari ini"
"Oh ya? Um, sebenarnya...bahkan aku tidak sempat menyentuh surat itu sama sekali kemarin. Hari ini tiba-tiba ada helikopter mendarat di halaman taman panti jompo, lalu Pilot itu meneriakkan namaku sangat lantang hingga membangunkan seluruh penghuni panti jompo" jawab Dimi gusar.
"Kau tidak merasa aneh? Maksudku..., kenapa R-Nav TV tidak melibatkan kepolisian sama sekali? Akan lebih baik jika kita semua mencari dengan bantuan mereka bukan? Siapa tahu kasus ini dapat segera dipecahkan" bisik Eve di telinga Dimitri. Pria itu mengernyit lalu menggelengkan kepala perlahan.
"Pihak kepolisian sudah angkat tangan dengan kasus ini. Untuk apa R-Nav TV melibatkan mereka sekali lagi? Itu yang akan dipikirkan semua orang bukan? Firasatku mengatakan, mereka memang ingin kasus ini tidak bersinggungan dengan aparat kepolisian. Pasti ada alasannya tapi apa? Bukankah keamanan kita jauh lebih penting, dari ketidak percayaan pihak R-Nav TV sendiri terhadap aparat?"
"Sesampainya di sana kita harus menyelidiki kenapa mereka tidak melibatkan aparat. Setuju?" kata Eve menawarkan sebuah perjanjian rahasia pada Dimitri. Pria itu hanya mengangguk lalu melirik ke arah sang Pilot.
"Boleh kami tahu, apa kami akan langsung dibawa ketempat sang Putri menghilang?" tanya Dimitri datar. Pilot itu melirik ke arah Dimitri melalui media kaca lalu kembali berkonsentrasi dalam mengemudi.
"Setahuku, kalian semua akan di kumpulkan ke suatu tempat terlebih dahulu untuk melakukan sebuah tes mental. Dari situ jumlah kalian akan mulai berkurang" jawab sang Pilot sama datar.
"Ck...tes psikologi? Apa mereka meragukan kelayakan kita sebagai Reporter dan Kameramen? Jelas di Negri kita tidak akan ada orang berkelainan mental yang sanggup menembus dunia Jurnalis bukan?!" marah Dimitri merasa diragukan kredibilitasnya. Eve menatap Dimitri dengan wajah makin memucat saja.
"Bukan itu. Mereka...sedang ingin mengetahui sekuat apa mental kita sebagai calon relawan. Mungkin ada sesuatu yang tak terduga di tempat tujuan kita, hingga tes ini harus dilakukan"
"Ayolah..., mereka tidak akan memikirkan apa yang sedang kau pikirkan tadi. Mereka hanya ingin mencari kandidat terbaik untuk dapat mereka kirim ke sana" jawab Eve mulai merasakan kegelisahan luar biasa. Jelas saja ini menjadi pertanyaan besar dalam diri Eve.
Selama ini dia, tidak pernah bermimpi buruk tapi kali ini, mimpi itu kian gencar. Adakah hubungan mimpi Eve dengan perjalanan Eve, yang entah akan berawal baik ataupun berakhir buruk. Perjalanan panjang memakan waktu 3 jam, hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan pertama. Setidaknya, itulah yang dikatakan sang Pilot pada mereka berdua.
"Stasiun Televisi R-Nav?" kata mereka berdua tak habis pikir. Ya ampun..., mereka pikir akan di bawa ke sebuah tempat mirip barak pengungsian. Ternyata...mereka berkunjung di R-Nav TV entah ini sebuah kehormatan atau bencana mengingat kenyataan pahit yang harus mereka kerjakan setelah ini. Eve dan Dimi menatap ke seluruh halaman R-Nav TV super luas, di penuhi oleh belasan Helikopter.
Seorang Wanita menunggu para Reporter dan Kameramen utusan Stasiun Televisi masing-masing untuk berkumpul.
"Selamat datang, sebuah kehormatan bagi kami, Anda sekalian bersedia bergabung dalam petualangan kemanusiaan ini. Tapi dengan berat hati, kami harus memutuskan untuk siapa saja, yang lolos ketahap selanjutnya"
"Mengingat rute perjalanan yang ekstrim, maka silahkan berpartisipasi ketahap tes mental. Mari ikuti saya" kata Wanita itu ramah sambil menggiring para Reporter dari berbagai belahan dunia menuju ruang tes.
Orang-orang berdatangan silih berganti, tapi keanehan tertangkap dimata Eve dan Dimi. Mereka berdua menyadari bahwa, orang-orang datang mengantri silih berganti anehnya, kenapa semua orang yang masuk ke ruang tes, tidak pernah ke luar dari sana? Ah, mungkin ada pintu lain yang dapat digunakan untuk mereka keluar. Batin keduanya berpikiran positif.
"Miss Evelina Dushenka, dan Mr. Dimitri Afanas silahkan masuk" panggil Wanita tadi sambil tersenyum ramah.
Deg!!
Apa yang akan terjadi pada mereka di dalam sana? Oh...,semoga semua aman terkendali.
__ADS_1