
Zack membawa Eve masuk ke dalam ruangan Teater Scarla sedari tadi Gadis itu berusaha memberontak dari cengkeraman sang Iblis. Eve menatap nanar pada Zack, membuat Iblis tersebut mengerti bahwa Eve masih belum kembali.
“Kau pasti tahu siapa yang memerintahkan seluruh manekin sialan itu menyerangku tadi.
Jadi jangan buang waktuku...Margareth!!” bentak Zack sambil menjambak rambut Eve kasar.
“Bagaimana jika ku katakan tidak tahu. Memang kau akan mempercayaiku begitu saja?” belum sempat Margareth menyelesaikan kalimatnya, Zack sudah mencekik leher Eve sekuat tenaga. Margareth meronta sambil mengayunkan kedua kaki diudara tapi Zack belum puas juga menyiksanya. Ekspresi bingung dan ketakutan muncul di raut wajah Eve selanjutnya. Mata Gadis itu mulai mengalirkan air mata.
Apa aku akan mati ditangan Zilky? Kenapa? Kenapa selama ini dia berusaha melindungiku jika kematianku yang dia inginkan?
“Kau kembali?!” pekik Zack mengendurkan cengkeraman tangannya di leher Eve. Gadis itu terjatuh ke lantai kayu, sambil terbatuk-batuk.
“Sebegitu inginnya kah kau melenyapkanku dari muka bumi? Sampai kau berani memerintahkan para manekin untuk menembakiku?!” tanya Zack menggeram mencoba untuk menahan amarah.
“Aku memang ingin sekali kau pergi dari hidupku. Tapi sayangnya kau tidak pernah...mengabulkannya. satu hal lagi Zack, aku lebih suka menusukmu dari depan, ketimbang dari belakang” kekeh Eve tanpa sadar. Entah kenapa, mendadak Eve tidak sadar, dan berubah menjadi Margareth bahkan begitu kembali menjadi Eve, ia tidak dapat mengontrol otaknya sekalipun. Hasilnya? Bahkan ia tak bisa bicara dengan kesadaran penuh.
“Tampaknya kau melupakan masa lalu kita lebih parah dari yang ku pikir. Bagaimana bila ku bantu menyegarkan ingatanmu, tentang seperti apa perlakuanku padamu, saat kau mulai mengkhianatiku?!” teriak Zack menerbangkan tubuh Eve ke udara, membiarkan Gadis itu dalam pengaruh oleh asap yang muncul dari kedua tangannya. Dan tibalah saatnya Eve mengingat segalanya tentang Iblis bernama Zack.
Tap
tap
tap
suara langkah kaki seseorang membuat Aprille terjaga mengawasi pintu dengan seksama. Rasa takut, was-was menyelimuti hidupnya.
Krieeeeeeeeek
Suara pintu terbuka membuat Aprille gemetaran ketakutan. Dan, ketika pintu itu ditutup dengan sangat kencang, jantungnya berdebar tak beraturan.
"April, kau baik-baik saja?" terdengar suara Wanita itu bertanya dan duduk disampingnya. Aprille hanya mengangguk bersimbah keringat dingin.
"Jadi, apa kau tahu, kenapa kau disini sayang?" tanya sang Wanita cantik kembali membuat Aprille tertegun sejenak memikirkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu?
"Aku tidak tahu, tolong lepaskan aku..." rintihnya memohon.
"Kau ingin tinggal bersama siapa diluar sana jika kulepaskan?" tanya Wanita itu mengangkat satu alisnya. Perlahan Aprille mengingat-ingat siapa saja keluarganya.
"Olvi, Tifany, Hannah" katanya lirih.
"Tapi mereka sekarang telah tiada nak, kau tahu, kenapa?" tanya Wanita itu sambil membuka berkas yang sedari tadi ia dekap kuat.
"Tidak, mereka baik-baik saja. Dan kalian semua yang membawaku kemari!" teriak Aprille frustasi.
"Kau yakin tidak ingat sedikitpun?" tanya Wanita tersebut sekali lagi mencoba mengorek informasi.
Krincing.....
Suara borgol besi yang bergemerincing sekaligus suara tawa menggema di ruangan. Wanita itu terperanjat melihat ekspresi bengis dan kejam terpahat jelas di wajah Gadis kecil dihadapannya. Tawa ini...bukan tawa Aprille. Ini tawa seorang Pria dewasa!! Ba-bagaimana bisa dengan mudah Gadis kecil ini mengubah suaranya?
BraAAAaagh!!
Wanita itu terguncang melihat apa yang sedang dilakukan Aprille sekarang. Sang Gadis kecil sibuk membenturkan kepalanya dikaca. Tepat didepan mata si Wanita. Ia menubruk kaca penghalang antara dia dan sang Wanita dengan kepalanya!! Darah segar mengucur dikepalanya.
"S-siapa kau sekarang? Prille? Apa kau disana nak?" tanya Wanita itu mencoba memastikan.
"Aku?! Hahahaha" tanya Aprille terbahak-bahak puas melihat ekspresi tegang dari Wanita dibalik kaca itu.
"Zack, Zilky...apa pun itu sayang..." katanya menggoda.
"Jadi kau Zack? Dimana Prille?" tanya Wanita cantik, memberanikan diri demi profesinya.
"Prille? Dia sedang meringkuk ketakutan disudut ruangan" kata Zack, menggunakan tubuh mungil Aprille dengan mimik sok sedih.
"Kau tahu siapa Olvi? Tiffany? Hannah?"
"Orang-orang menyebalkan itu? Ah ya..., semalam kami bersenang-senang...sayang..." kata Zack riang.
"Kau apakan mereka Zack?"
"Hanya bersenang-senang. Rasa mereka lezat sekali ah, yummy..." kata Zack menjilati bibirnya.
"Zack, apa aku bisa bicara dengan Prille sekarang?" Wanita cantik, berusaha meminta secara baik-baik.
"Biarkan saja. Aku masih ingin bicara denganmu cantik"
"Tapi aku punya banyak pertanyaan padanya"
__ADS_1
"Tanyakan saja padaku. Gadis itu tak berguna sama sekali" kata Zack menatap intens si Wanita.
"Zack, jadi kau yang membantai seluruh keluarga Prille?"
"Dia tak punya siapa pun kecuali aku. Dia benar-benar kesepian. Maka aku menemaninya selalu"
"Memang Prille dan keluarganya tak akur? Kenapa kau bilang Prille kesepian?"
"Prille? Kau pikir menyenangkan tinggal bersama orang yang selalu sibuk bekerja?!" suara itu menggelegar penuh kemarahan.
"Zilky pernah merasakan...sebaiknya Prille terus bersama Zilky. Zilky tak pernah meninggalkan Prille..." siul Zack membuat Wanita itu merinding.
"Kau tak perlu membunuh kalau itu alasannya. Kau hanya perlu bersama Prille kan?" Wanita tersebut dengan lantang menantang Zack.
"Buahahahaha!! Sangat perlu cantik, mereka selalu ingin memisahkan kami"
"Apa yang mereka lakukan? Untuk...memisahkan kalian?"
"Mereka membawanya pergi ke paranormal, ke psikiater, seperti kau," kata Pria itu lirih.
Deg!!
Jadi Zack mengamuk karena keluarga Aprille membawanya ke psikiater? Tidak!! Dia tidak boleh mundur hanya karena gertakan Salah satu kepribadian Prille. Ini adalah tugasnya membuat Prille menerima dirinya sendiri sehingga kepribadian Prille yang kejam lainnya hilang.
"Mereka sepertimu selalu ikut campur urusan orang lain!!" teriak Zack emosi. Suara gemerincing borgol itu menambah suasana tegang seolah dengan mudah ia dapat bebas.
"Perawat, periksa luka Aprille segera" perintah Wanita cantik setelah melihat pipi Aprille penuh darah. Para perawat memasuki ruangan Aprille dengan takut-takut.
Mereka memberi obat pada lukanya dan melingkarkan perban di sekitar kepala Aprille. Setelah selesai, mereka berbalik arah ingin secepatnya keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba dengan mudah, borgolnya dihancurkan oleh Zack!! Para penjaga pintu yang tadinya siap untuk membukakan pintu, mendadak mengurungkan niatnya.
Para perawat yang terjebak bersama Aprille berteriak ketakutan sambil menggedor-gedor pintu.
"Apa yang kalian lakukan?! Bebaskan mereka!! Nyawa mereka dalam bahaya!!" teriak Wanita itu pada penjaga pintu.
"Maaf, membuka pintu sama dengan membebaskan orang gila itu" kata penjaga tidak menghiraukan tuntutan Wanita ini. Para perawat berpencar menjauhkan diri dari Aprille. Zack akhirnya mendapat mangsa berikutnya. Perawat Laki-laki itu dipatahkan tangan dan lehernya. Peristiwa ini membuat suasana makin mencekam. Ada dua lagi perawat yang berhasil bertahan.
"Apa kau menikmati pertunjukkanku?" tanya Zack ke sang Wanita, setelah berhasil mendapatkan satu lagi korban dan membenturkan kepala perawat itu berulang kali hingga darah bercucuran di kepala perawat malang tersebut. Hingga tewas seketika. Wanita yang disuguhi tontonan sadis di depan matanya sendiri akhirnya limbung dan merasa ingin muntah seketika.
"Zack, mereka tak bersalah, kenapa kau membunuh mereka juga?" protes si Wanita cantik.
“Aprille, aku tahu kau mendengarku nak, lawan sisi jahatmu agar kau dapat hidup dengan layak. Lakukanlah" kata Wanita itu penuh percaya diri. Si Gadis kecil meninju kaca hingga tangannya berdarah. Ia semakin beringas!
"Aku mau pulang, aku mau pulang" tiba-tiba suara sang Gadis kecil berubah lagi menjadi suara bocah Laki-laki. Wanita cantik menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya tugasnya tak akan semudah itu diselesaikan.
"Hay, siapa kau nak?" tanya Wanita itu ramah.
"Daniel...apa Zack yang melakukan ini semua?" tanya bocah itu ketakutan melihat 3 korban meninggal tak jauh dari tempatnya berada.
"Kau mengenal Zack?"
"Ya, dia sangat jahat"
"Apa kau mengenal Aprille?"
"Siapa itu? Aku tak pernah mendengar nama itu" kata Daniel kebingungan.
"Kau tak mengenal Prille? Tapi Zack sangat mengenalnya"
"Dia jahat, sangat jahat. Aku membenci Zack" kata Daniel bersungut-sungut.
"Daniel, kata Zack, Prille duduk disudut ruangan. Apa kau melihatnya?" tanya Wanita itu menguji apa anak itu konsisten dengan kebohongannya? Daniel menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Tidak. Aku tidak melihatnya disekitarku. Tapi aku melihat..." kata Daniel dengan nafas tak beraturan. Ia sangat ketakutan?
"Kau lihat apa Daniel?"
"Zack" kata Daniel menunjuk ke belakang Wanita itu.
"Zack? Dia juga ada di dalam tubuh Prille sama sepertimu"
"Tidak!! Zack ruh jahat. sebentar lagi dia akan menjadi Iblis jika memakan korban lagi" kata Daniel makin ketakutan melihat sesuatu di belakang si Wanita.
Daniel menjerit ketakutan, melihat Zack mengalungkan rantai panjang keleher Wanita tersebut dan menariknya ke belakang. Dari mata Daniel, ia hanya dapat menyaksikan bayangan Wanita itu ditarik ke belakang terseret sangat jauh dari tempatnya ia berdiri.
Salah satu polisi yang dirasuki oleh Zack menyeringai penuh kepuasan setelah Wanita yang dicekiknya menghembuskan nafas terakhir. Ia menatap tajam kearah Aprille yang gemetaran ketakutan. Tak ada polisi lain yang berani melawan hingga dengan mudah ia menjangkau tempat pengurungan Aprille, membuka pintu besi itu, mengulurkan tangan kearah sang Gadis kecil.
Aprille merasa sangat muak dengan penjara yang mengurung dirinya tapi, ia lebih takut berbaur dengan Zack. Rasa ragu tapi tak kuasa melawan makhluk kelam dihadapan mata membuat Aprille antara mau dan tidak mau meraih uluran tangan Zack. Makhluk kelam abadi tersebut, menuntun sang Gadis kecil itu keluar dari kurungannya, bahkan keluar dari kantor polisi.
__ADS_1
Zack dalam tubuh seorang polisi, memerintah Gadis kecil ini masuk kedalam mobil patroli. Dalam kesunyian, disela deruman mesin mobil patroli, Aprille menatap lekat pada Zack.
"Mau kau bawa kemana aku Zack?"
"Kejutaaaaan" jawab Zack tersenyum misterius.
"Ku mohon hentikan. Jangan kau pisahkan aku lagi dengan orang-orang yang menyayangiku. Kumohon..." rengek Aprille tapi justru rengekan si Gadis kecil membuat Zack terkekeh.
"Menyayangimu? Mereka meninggalkanmu dirumah sendirian setiap saat" kata Zack lalu mencekik Aprille sambil tetap mengemudikan mobil patroli.
"Aku menyelamatkanmu!! Kau dikurung, dan aku menyelamatkanmu!! Hanya Zilky yang menyayangimuuuu" katanya dengan intonasi berat. Gadis itu tercekat tangannya berusaha melepaskan cekikan Zack tapi makhluk kelam tersebut terlalu kuat bagi Aprille. Entah kenapa, makhluk itu melepaskan cekikannya di leher Aprille.
"Kau tidak mau membunuhku?" tanya Aprille lemas.
"Kau tiketku untuk menambah kekuatanku sayang, kau tidak untuk kubunuh tapi untuk kupelihara" sekali lagi Zack terkekeh.
Mobil patroli polisi berdecit di halaman depan panti asuhan Maggy Wezt. Sang kepala panti baru berusia setengah abad itu menatap lekat mobil patroli di balik gorden jendela ruang kerjanya. Ada apa polisi datang ke panti asuhannya? Ia pun melangkah keluar ruang kerja menuju pintu ruang tamu.
"Saya perlu bicara dengan Anda Madam" kata polisi berplakat nama Xavier. Mata Wanita setengah abad itu melirik kearah Gadis kecil yang dibawa sang polisi.
"Tetaplah duduk dan jangan kemana-mana. Kau tahu akibatnya jika melawan bukan?" ancam Zack pada Aprille. Sang Gadis mungil hanya mengangguk lalu menatap sekeliling pernak pernik hiasan dinding ruang tamu panti asuhan Maggie Wezt.
Mata bulat sang Gadis kecil tersebut diam-diam mengawasi sosok Zack yang menghilang di balik pintu bersama Wanita setengah abad itu. Ia menghembuskan nafas lega ya, paling tidak...untuk saat ini dirinya terbebas dari Zack. Entah apa yang dikatakan oleh Zack pada Wanita ini, hingga ia memperbolehkan Aprille tinggal disana.
Tanpa disangka Zack mendekat lalu memeluk Gadis kecil itu seraya berbisik lirih.
"Tugas barumu, akan dimulai. Milikilah keluarga, dan akan kuambil jiwa mereka satu persatu"
"Ti tidak. Jangan kumohon"
"Kau pikir siapa yang tahan dengan Gadis kecil pengidap kepribadian ganda sepertimu huh? Cepat atau lambat, kau akan mereka buang terlebih lagi, aku juga bersamamu. Pasti mereka akan mengira aku salah satu kepribadian gandamu. Dari pada kau dibuang dan terlantar, bukankah lebih baik kau lenyapkan mereka?" tanya Zack bengis menatap Aprille sambil meremas bahu mungil si Gadis kecil.
"Jadilah anak baik disini. Ah, Madam Retesya, kutitipkan dia bersamamu" kata Zack disambut anggukan penuh penghormatan. Zack pergi dengan mobil patroli dan menghilang dibalik tikungan jalan. Entah kenapa, Aprille merasa sangat mengenal lingkungan Panti Asuhan ini.
"Hari ini, kau adalah salah satu anak asuhku. Anggap saja, ini rumahmu sayang" kata madam Retesya dengan senyuman hangat.
"Ayo, bergabunglah dengan yang lainnya" katanya seraya menggandeng tangan mungil Aprille. Saat Gadis kecil itu mulai membaur, suara bel pintu panti berdering. Madam Retesya berjalan membuka pintu dan menemukan sepasang Suami Istri berdiri gugup dihadapannya.
"Silakan masuk" sambut Madam Retesya menggiring keduanya ke sofa.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu? Nyonya dan Tuan...."
"Brodie" sambung sang Suami. Istrinya hanya mengangguk sambil meremas kedua tangannya lalu berpikir sejenak ingin mengatakan sesuatu hal.
"Kami...ingin mengadopsi anak" kata sang Istri.
"Mari kita lihat dulu, siapa anak yang kalian inginkan" sambut Madam Retesya bahagia. Ia mengantar keruang bermain anak-anak. Nyonya Brodie menatap setiap sosok anak di dalam sana sambil tersenyum penuh arti. Matanya tertuju pada seorang Gadis kecil yang manis hatinya telah tertuju pada Aprille.
"Sayang, apa kau lihat Gadis yang main perang-perangan itu?" tanya sang Istri lalu Suaminya menatap Gadis kecil berlesung pipit.
"Dia menakjubkan bukan? Apakah...kita bisa mengadopsinya?"
"Apa pun asal kau bahagia sayang" jawab sang Suami merangkul Istrinya.
"Maaf. Kalian bisa memilih anak lainnya saja" kata Madam Retesya panik.
"Kenapa? Tapi kami menginginkan anak itu" protes Mrs. Brodie.
"Anak itu punya kelainan mental. Semacam...kepribadian ganda. Dia berasal dari keluarga yang tidak jelas latar belakangnya" Madam Retesya mencoba memberi pemahaman.
"Hanya itu?" tanya Mrs. Brodie membuat Madam Retesya tak mengerti.
"Kau justru membuatku semakin menginginkan anak itu Madam. Aku Psikolog. Aku akan berusaha menyembuhkan anak malang itu. Kurasa dengan bersama kami, hidupnya akan membaik. Akan kujamin dia. Kumohon..." kata Mrs. Brodie penuh harapan. Rasa iba mengalahkan segalanya pada akhirnya, Madam Retesya mengabulkan permohonan itu.
"Baiklah. Mari kita selesaikan prosedurnya" balas Madam Retesya melunak.
Takdir cepat sekali berjalan baru saja Aprille kehilangan keluarga angkat pertamanya. Dan kini, ia menemukan keluarga angkat keempat. Gadis kecil itu hanya duduk diam di jok mobil belakang menatap kedua orang tua angkatnya satu persatu.
"Aprille, mulai sekarang kita akan tinggal bersama. Anggap kami orang tua kandungmu. Apa pun yang kau butuhkan, kau inginkan, katakan saja" kata Mrs. Brodie antusias mendapatkan anak angkat.
"Apa aku punya saudara? Mm maksudku, Kakak atau Adik angkat?" tanya Aprille pelan.
"Apa kau kesepian? Maaf sayang, kami hanya memilikimu. Atau kau ingin kami mengadopsi satu anak lagi untuk menemanimu?" tanya Mr. Brodie melirik anak angkatnya dari kaca.
"Tidak" jawaban singkat Aprille membuat Mr dan Mrs Brodie saling menatap. Tak disangka, kehidupan Aprille kali ini sangatlah berbeda. Ia merasa sangat disayang oleh kedua orang tuanya.
Sekolah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, kini dapat ia jalani. Teman baru, mainan yang indah dan bagus, apa lagi yang kurang? Hingga ia pun mulai disadarkan oleh kedatangan bayangan hitam nan kelam di malam hari, di dalam kamarnya yang nyaman. Ya, Zack telah datang mencari keberadaan Aprille.
__ADS_1