Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 9


__ADS_3

"Pertama. Kalian harus mengenakan ini. Rompi anti peluru. Ini tergolong dalam soft body armor . Sengaja di desain terbuat dari serat aramid. Di dalamnya, terdapat 1 lapisan kevlar tebalnya kurang dari 1 mm, terdapat 32 lapisan, beratnya 10 kg"


"Tenang saja, Aramid kuat, tough, memiliki sifat peredam yang bagus, tahan asam dan basa, tahan panas hingga 370°c" Armian mulai memperkenalkan salah satu hasil karyanya.


"Dan, di luar rompi tersebut, kalian harus mengenakan ini. Baju tahan api, Nomex. Bahan dari fiber, tidak meleleh, menetes, atau tidak menyebabkan polusi udara. Beratnya...sekitar 2kg" tambah Armian dengan bangga memberikan pada Kenatt, Ferghus, si cantik Adel, juga kedua timnya, tak lupa menyisakan untuk dirinya sendiri.


"Kau tidak memberi kami senjata khusus?" celetuk Ferghus keheranan.


"Akan kupersiapkan jangan khawatir. Lagi pula kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam sana nanti" sambung Kenatt sangat yakin.


Jumat 26 Maret 2017 Ferghus, Adel, Kenatt, Riche, Anastasya dan Armian bergegas dalam perjalanan menuju Elzaedar ABD 156 dengan balutan kostum berwarna hitam untuk bagian kedua kaki dan kedua tangan, lalu warna hijau lumut bertebaran di bagian badan sampai ke leher. Lagi-lagi Adel merasa perlu untuk mengulang kembali apa petunjuk kecil yang diberikan oleh Rudolf Ponix. Gadis itu mengambil kertas itu dari dalam tas jinjingnya.


Ckiiiiit


Mobil itu merem dan berhenti mendadak. Ah, rupanya mereka telah tiba di halaman rumah penuh kaca tersebut. Di depan mereka, sudah menunggu Rulby yang sangat antusias melihat kedatangan mereka semua.


"Kenalkan, ini tambahan tim kami, mereka bergerak dalam divisi pemburu hantu. Tenang saja, mereka sangat profesional di bidangnya. Benarkan Tuan...Kenatt..." kata Adel terpaksa berbohong, karena mereka tidak ingin Rulby sampai tahu kebenaran mengerikan dibalik rumah yang telah di beli sang Ayah.


"Tentu..." balas Kenatt dengan senyum di paksakan.


"Ini Anastasya, dia adalah cenayang" kata Adel memperkenalkan Anastasya yang langsung mengulurkan tangan pada Adel.


"Ini Riche...dia pembawa alat pendeteksi keberadaan hantu. Terakhir, dia adalah Armian, sang pemburu hantu" tambah Adel.


"Lalu apa tugas dari Tuan Kenatt?" tanya Rulby yang langsung membuat semuanya menjadi diam mematung.


"Dia...dewan direksi yang mengawasi tim kami di lapangan" kata Ferghus berusaha membantu Adel sekenanya.


"Oh, baiklah, selamat datang dirumahku, semoga kalian benar-benar dapat menyelamatkan rumah ini dan mengusir para hantu itu" kata Rulby sambil menggiring mereka masuk ke halaman rumah. Adel membuka perlahan sobekan peta sambil mencoba mencerna makna dalam tiap kalimatnya.


"Kesempatan, berada dalam dasar yang dingin, tenang dan damai. Tak mudah dijangkau, tak akan terpikirkan oleh siapa pun..." berulang kali diulang Adel dengan suara yang pelan, penuh ketenangan.


Bluph!!


Keterkejutan Adel juga dirasakan oleh semua orang yang menyaksikan robekan kertas peta tersebut terbakar tanpa sisa sedikitpun!!


"Apa-apaan ini?" gumam Kenatt tak percaya sementara yang lainnya hanya diam seribu bahasa.


"Apa kita bisa tenang dan damai di dalam air?" kata Adel menatap kolam renang milik Rulby.


"Seharusnya begitu," jawab Ferghus setelah bahunya di tepuk lembut Adel. Gadis itu langsung berlari ke arah kolam lalu menceburkan diri ke dalamnya. Adel mencari sebuah petunjuk di bagian dasar kolam, bahkan hingga ke dinding kolam. Matanya tertuju pada salah satu lantai kolam yang berwarna putih sendiri, sementara yang lainnya berwarna biru muda.


Adel langsung naik ke permukaan.


"Apa kalian punya benda tajam, untuk mendongkel sesuatu?" tanya Adel setelah mengambil nafas dalam-dalam.


Tanpa berkata apa pun, Riche mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya lalu memberikan pada Gadis itu. Adel menghela nafas panjang, lalu menahan nafas kembali, dan menyelam. Dengan pisau lipat itu, Adel berhasil mendongkel ubin bagian lantai kolam tanpa harus bersusah payah. Adel menatap sekantong kecil plastik, di dalamnya terdapat gulungan kecil berwarna warni.


Gadis tersebut segera berenang ke permukaan kolam renang, begitu menyadari, air kolam renang itu tiba-tiba terkuras hingga membuat Adel tersedot kepusaran air kolam!!


"Tolong!!" teriak Adel begitu tak kuasa melawan arus hingga Armian menyodorkan alat penjaring dedaunan berukuran panjang ke arah Adel. Akhirnya Adel terselamatkan, setelah Armian dan Ferghus bekerja sama menarik Gadis itu kearah mereka.


"Apa kau gila?! Kenapa kau lakukan itu ketika kau ada di dalam sana?!" marah Ferghus sangat khawatir sementara Rulby menyodorkan sehelai handuk untuk mengeringkan tubuh Gadis tersebut.


"Itu terjadi, setelah aku mengambil ini dari dalam sana" balas Adel menunjukkan sekantong kecil plastik berisikan sesuatu yang menarik perhatian semua orang disana. Ferghus mengambil kantong itu, lalu mengambil isinya.


Direnggangkannya benda berwarna warni tersebut, hingga Kenatt akhirnya bereaksi terhadap apa yang tengah ia lihat kini.


"Ini...Escape Map. jangan-jangan inilah peta aslinya broo!!" pekik Kenatt membuat Ferghus membulatkan kedua matanya.


"Kenapa mereka menggunakan peta seperti ini?" gumam Ferghus melihat sebuah peta tak biasa.


"Tentu saja. Kalau kau tahu sejarah rumah ini berdiri, maka semuanya jadi masuk akal. Marthen Mathias...sudah memprediksi, pemerintah diam-diam menyelidiki proyeknya sehingga ia memanfaatkan Escape Map" balas Kenatt berbisik pada Ferghus, sambil mengambil alih Escape Map.


Yup, inilah Escape Map merupakan sebuah peta, yang dicetak pada sutra, agar mudah disembunyikan, tanpa menimbulkan suara berisik, saat seseorang membuka ataupun menutupnya. Dicetak dengan pewarna tahan air sehingga warna tidak akan pudar meskipun si pemilik peta terjun ke air.

__ADS_1


"Kau menemukan kunci misterinya Mom, oh, Dada makin cinta..." kata Ferghus menoleh pada Adel sok manis yang hanya di balas dengan mimik jijik dari Adel.


"Kau siap melanjutkan misi Nona?" tanya Kenatt mencari sorotan mata aku baik-baik saja di wajah Adel, tak lupa menyodorkan tangan. Adel mengangguk penuh keyakinan lalu menggapai tangan Kenatt untuk kembali bangkit.


Mereka melangkah seolah sekumpulan orang-orang berani mati. Tapi sebenarnya, ketakutan, kekhawatiran, penyesalan...akan datang menghampiri mereka, suatu saat nanti. Ferghus, Adel dan Rulby berjalan memberi arahan kemana semua orang harus pergi.


Krieeeeeeek....


Syuuuuuuuutttttt....


Suara pintu kamar lama Rulby terbuka, disambut dengan desiran angin super dingin dari dalam kamar tersebut. Kebanyakan dari kawanan itu, bergidik entah karena bulu kuduk meremang atau karena hawa dingin yang menyelimuti mereka secara mendadak.


"Disinilah ruang rahasianya" kata Ferghus berhenti di depan lemari kaca besar, yang knop pintunya berbentuk naga sedang menganga lebar. Semua mata tertuju pada lemari klasik tersebut. Masing-masing mengambil bagian, di hadapan lemari tersebut hingga pantulan bayangan mereka semua dapat terlihat jelas.


Tunggu!!


Bukankah...mereka hanya...bertujuh?! Ta tapi...di dalam cermin itu...


Ah, pasti ini hanyalah halusinasi akibat rasa takut yang mereka rasakan di dalam sini. Jadi, masing-masing dari mereka mulai berhitung. Rulby, Adel dua orang di depan. Ferghus, Kenatt, Riche tiga orang di tengah. Lalu...Armian dan Anastasya dua orang di belakang. Tapi siapa satu orang lagi, yang berada tepat diantara Kenatt, Armian dan Anastasya?!


"Oh, apa yang kulihat itu?!" pekik Rulby menyadari pantulan bayangan mereka yang tidak semestinya.


"Ferghus...kau tahu, siapa itu?!" tanya Adel memicingkan mata melihat seseorang berada di antara Kenatt, Armian dan Anastasya sedang menyeringai menatapnya tajam.


Kyaaaaa!! Teriakan Anastasya meliputi seisi kamar. Spontan seluruh manusia di dalam kamar itu, setelah melihat Armian tercekik sekaligus diterbangkan ke udara melalui pantulan cermin langsung menoleh kearah Armian.


Ferghus panik seketika saat melihat Armian menggelepar-gelepar diudara seolah sedang mencekik lehernya sendiri tapi ketika ia melihat ke arah cermin, ada dua tangan sedang mencekik Armian, sementara Pria itu sedang berjuang mati-matian untuk melepaskan diri!!


Brugh!!


Ketika Anastasya melangkah ingin menggapai untuk menyelamatkan rekannya Armian, Gadis itu malah terjerembap ke lantai kamar akibat kedua kakinya terasa sangat berat. Pekikan panik di buat Rulby yang melihat dua tangan berkuku panjang sedang mencengkeram erat kaki Anastasya!!


"Rulby, Rulby lakukan sesuatu. Rulby, Rulby lakukan sesuatu" suara seorang Gadis menggema di kamar Rulby. Gadis yang merasa dipanggil namanya, tergerak kedua tangannya untuk membuka pintu lemari, hingga pantulan cermin tidak menerpa semua orang disana.


Brugh!!


Suara bergedebukan di atas lantai sekaligus suara Armian terbatuk-batuk, menandakan bahwa Pria itu dapat terselamatkan.


"Tuan Armian...kau...baik-baik saja?" tanya Rulby saat menatap lingkar leher Armian, yang mulai terlihat keunguan. Armian mengangguk sambil menghela nafas sebanyak-banyaknya untuk mengisi pasokan oksigen dalam paru-parunya yang kian menipis.


"Hah hah hah **-Tuan Kenatt...Anda melibatkan kami kedalam masalah apa sebenarnya?!" protes Armian tersadar nyawanya hampir melayang tadi, jika Rulby tidak menyelamatkannya tepat waktu.


"Kriminal semi gaib...ah, bagaimana cara mengucapkannya ya?" jawab Kenatt sambil mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi tanpa dosa.


"Sial!! Anda bilang apa barusan?! Aaaargh" pekik Riche emosi sambil meninju udara.


"Tuan Kenatt...sebaiknya kita menunggu seseorang untuk datang mendampingi kita. Bolehkah kita memanggil satu personil lagi?" tanya Riche berusaha setenang mungkin.


"Kau akan memanggil siapa?" Kenatt bertanya sambil mengernyitkan kening.


"Guru besar Hisashi" balas Riche penuh permohonan.


"Guru besar? Apa kemampuannya?" tanya Kenatt memicingkan matanya pada Riche.


"Dia guru spiritual saya, saat saya masih seorang indigo"


"Apa? Masih? Apa ada istilah mantan indigo?" tanya Adel heran.


"Ketika kita dapat melihat atau berkomunikasi dengan makhluk astral, artinya kita telah dihinggapi sesamanya. Karena hanya makhluk astrallah yang dapat melihat sesamanya"


"Dan kita, tidak bisa memasuki surga, bila memiliki kemampuan tersebut, karena telah dianggap bersekutu dengan jin. Bahkan jika ingin mati pun akan kesulitan. Maka dulu, saya memutuskan untuk melepas kemampuan itu dengan bantuan guru besar Hisashi".


"Kau tahu, kita tidak punya banyak waktu menunggu besok. Jadi pastikan dia datang sekarang juga. Waktunya 2jam dari sekarang" perintah Kenatt sok berkuasa. Riche mengangguk lalu menelepon Guru Besar Hisashi.


Ketujuh orang tersebut menunggu kedatangan sang Guru Besar Hisashi di ruang tamu Rulby. Gadis tersebut sedari tadi berkutat di dapur bersama dua Gadis lainnya sekedar membuat minum, dan menyiapkan camilan untuk semua. Ketika ketiganya telah sampai ruang tamu, Riche langsung menyambut sang Guru Besar Hisashi dan asistennya.

__ADS_1


Riche membungkuk memberi hormat, mempersilahkan kedua orang itu masuk ke ruang tamu. Sebelum Guru Besar Hisashi melangkahkan kaki menapakkan kaki kanannya ke lantai ruang tamu itu, ia langsung menahan kakinya dan kembali ke posisi semula.


"Rumah siapa ini? Kenapa aura rumah ini terlalu pekat?" gumam sang Guru Besar dengan mimik mencekam.


"Ini rumah Rulby. Dia meminta kami mengusir hal buruk di dalam rumah ini Guru..." jawab Riche sangat fasih berbahasa jepang.


Pria setengah baya itu mengangguk, menggumamkan sebuah doa ataupun mantra entahlah, tapi angin semilir hanya mendera tubuh sang Guru Besar seorang, saat ia melafalkannya. Maka hal serupa pun dilakukan sang asisten baru keduanya bersedia masuk kedalam tapi kini, mereka melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu.


Saat Sang Guru Besar duduk di atas sofa, Kenatt mencoba memulai pembicaraan awal mula semua orang tiba dirumah ini hingga mereka merasa membutuhkan bantuannya.


"Kalian tidak mengatakannya padaku dari awal!!" pekik Rulby panik mengetahui sejarah kelam berdirinya Elzaedar ABD 156.


"Maaf. Tapi kami rasa itu hanya akan membuatmu lebih stres dari sebelumnya. Jadi, kami putuskan akan mengatakannya setelah semua selesai. Tapi ternyata kami salah. Justru sekaranglah saatnya" jawab Kenatt mencoba menenangkan Rulby.


"Lee Than Ming...ck...." gumam sang Guru Besar berdecak kesal.


"Apa kalian sadar? Kalian...berurusan dengan pendiri sindikat Hampho, sekaligus sekte sesat?! Lee Than Ming...bersekutu dengan Iblis. Pantas saja polisi kesulitan dalam meringkusnya" kata Guru Besar menggelengkan kepala tanda apa pun yang orang-orang di hadapannya itu lakukan, adalah hal yang sangat salah. Mereka seperti menantang maut!!


Degh!!


Serasa jantung mereka mulai berhenti berdetak secara tiba-tiba ketika Riche mengartikan kalimat yang di lontarkan sang Guru Besar.


Mendadak sang Guru Besar terdiam, menatap kearah lututnya. Beliau menatap tajam kearah sana, sangatlah lama berbagai ekspresi telah ia tunjukkan. Sebelum Adel sempat bertanya, sang asisten sudah memberi kode supaya semua diam. Dalam pandangan Sang Guru Besar Hisashi, tiba-tiba ada sosok arwah Wanita yang duduk bersimpuh sambil bertengger di atas lututnya.


Kenapa kau datang padaku? Apa yang kau inginkan? Tanya Hisashi sambil mengerutkan keningnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Arwah itu mengangkat kepalanya, menatap tajam kearah Hisashi. Tatapan mata arwah tersebut, mampu menyerap ruh Hisashi kedalam masa lalunya saat masih hidup. Hantu tersebut bernama Erlyn Corner dia, Ayah dan Bibinya telah dijadikan tumbal untuk memperkebal kekuatan sang Marthen Mathias alias Lee Than Ming.


Jika kau tak dapat melepaskanku dari jeratan rumah ini, maka selamatkanlah adik dan Momku.


Tunjukkan padaku siapa adikmu Hisashi mengikuti kemana arah sang arwah menunjuk. Hisashi menatap tajam ke arah Rulby lalu mengangguk-angguk mengerti sementara, yang di pelototi sang Guru Besar hanya membalas tatapan sang Guru Besar dengan wajah kian memucat.


Kau harus membantuku, jika kau, ingin aku menyelamatkan saudarimu.


Kau ingin aku berbuat apa?


Ikutlah kami, kemanapun kami berada. Dan beri tahu kami, apa tujuan kami berbahaya atau tidak arwah itu hanya menganggukkan kepala lalu tersenyum sambil menatap ke arah Rulby.


Berbicaralah sebentar dengannya melaluiku. Pasti kau akan lega nanti. Kata Hisashi memberi izin pada Erlyn untuk meminjam raganya sebentar. Arwah itu mengangguk girang lalu masuk ke dalam raga Hisashi.


"Rulby...aku merindukanmu" kata Hisashi dengan suara Perempuan yang Rulby lama rindukan.


"Kau, siapa?"


"Kau melupakanku? Aku Erlyn...Kakakmu" kata Hisashi mendengus kesal.


"Erlyn? Kau bohong!! Kalau kau benar Kakakku, kau tidak akan pernah mencekikku dalam pelukanmu, hingga aku sesak nafas!!" marah Rulby merasa dirinya ditipu.


"Itu bukan aku. Itu adalah Iblis yang menyamar menjadi ruhku. Kau tak mempercayai saudarimu sendiri?" balas Hisashi berkecak pinggang.


"Apa, yang biasa kau lakukan ketika akan pergi tidur?" tanya Rulby mengangkat kedua alisnya.


"Aku akan menyelinap ke kamarmu, untuk sekedar makan camilan sebelum tidur. Karena jika aku makan di kamarku, Mom pasti langsung tahu...dan memarahiku habis-habisan dan bilang..."


"Kau akan membengkak di pagi hari!!" pekik mereka bersamaan.


"Jadi kau tidak di surga?"


"Aku terperangkap disini. Akan sulit pergi ke tempat indah itu"


"Apa kau juga bersama Dad dan bibi?” tanya Rulby berharap.


"Pasti mereka di sekitar rumah ini Rulby. Tapi aku tidak pernah tahu, mereka terdampar di sisi rumah bagian mana?"


"Kenapa kau tidak mencari mereka?"


"Ada wilayah tertentu, yang tidak bisa di datangi oleh sembarang ruh. Dan di jaga oleh ruh-ruh jahat" desis Hisashi frustasi. Pria bernama Hisashi itu langsung menjejakkan kaki kirinya di lantai lalu menutup kedua mata sejenak dan membukanya kembali.

__ADS_1


"Maaf...kesempatan kalian terbatas" kata Hisashi menatap penuh simpati pada Rulby. Sementara sang Gadis mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan Riche sang penerjemah. Rulby hanya mengangguk, memberi ucapan terima kasih.


__ADS_2