Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 2


__ADS_3

 


Eve dan Dimi mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang digunakan sebagai tempat tes Psikologi. Saat pertama kali membuka pintu, mereka disambut petugas, lalu meminta mereka untuk memindai mata dengan menggunakan sebuah alat berbentuk persegi berwarna hitam.


Eve dan Dimi hanya perlu menatap layar monitor di hadapan mereka, memastikan salah satu mata mereka terlihat di layar itu hingga bunyi klik mengabadikannya.


"Mari ikuti saya," kata petugas itu sangat ramah. Ia membawa Eve, Dimi hingga menjumpai dua bilik yang bersebelahan.


"Silahkan memasuki bilik yang sudah tersedia, dan ikuti semua petunjuk yang akan kami berikan sebentar lagi" kata petugas mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.


Dimi melirik ke arah Eve ragu sementara Gadis itu hanya membalas lirikan Dimi dengan sebuah anggukan kecil. Dimi melangkah ke bilik kiri, sementara bilik kanan di isi Eve.  Bilik kecil hanya diisi sebuah tempat duduk yang juga dapat digunakan untuk tiduran.


Ada sebuah kaca mata besar  berwarna kecoklatan tepat di bagian alas duduknya. Lalu ada layar datar di depan tempat duduk tersebut. Eve dan Dimi terlihat mengambil kaca mata, lalu duduk di atas tempat duduk itu.


ZzzZzZzt


   Bzzzzzt. Bzzzzt


Mereka terlonjak kaget begitu layar datar membuat suara secara tiba-tiba.


"Hello, perkenalkan...saya Dokter Allan, di sini saya akan memberikan petunjuk tata cara dari tes psikologi kali ini. Pertama, buatlah tubuh anda serileks mungkin, rebahkan tubuh kalian di tempat duduk yang sudah kami sediakan. Gunakan kaca mata yang telah kami letakkan tepat di atas tempat duduk Anda," kata seorang Dokter yang muncul dari layar datar tersebut. Eve menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan.


Direbahkannya tubuh letih itu sesuai petunjuk, tak lupa di kenakannya kaca mata.


"Letakkan kedua tangan dan kaki Anda tepat pada cetakan tangan dan kaki yang menempel pada tempat duduk Anda. Pastikan tanpa alas kaki" kata Dokter penuh penegasan. Eve hanya terkekeh mendengar kata tanpa alas kaki.


Karena perintah sang Dokter mengingatkan dirinya bahwa ia datang tanpa alas kaki. Benar-benar cetakan berbentuk tangan dan kaki itu sangat pas di tangan dan kaki mereka. Eve menegang ketika menyadari kedua tangan dan kakinya mendadak terkunci oleh borgol yang keluar secara mendadak.


Cekiiiiiit!!


Agh!!


Mereka merasakan tusukan jarum suntik di bawah telapak tangan dan kaki. Satu, dua, tiga menit telah berlalu...mata mereka terpejam seketika.


Eve membuka kedua matanya perlahan. Ia duduk di atas padang rumput pendengarannya menangkap sesuatu yang tengah asik mencabik-cabik. Eve berdiri dan mendekati suara itu di balik rimbunan alang-alang. Matanya melotot begitu melihat seseorang sedang menguliti manusia!! Kegiatan orang itu terhenti ia mulai mengendus-ngendus sesuatu.


Matanya tertuju pada sosok yang sedang memperhatikan kegiatannya dalam raut wajah kian memucat siapa lagi kalau bukan Evelina Dushenka.


Khi khi khi....


Grrrrrrrrrrr....


Sluruph.....suara sosok itu menjilati tangannya yang penuh darah sambil menatap seolah Eve adalah buruan berikutnya. Sosok Pria bermata hijau dengan rambut coklat terurai panjang  sebahu itu bergerak dalam posisi menyerupai kalajengking, menatap lapar....kearah Eve. Pria itu melompat dengan kedua tangannya melompati mayat manusia yang telah dikulitinya.


Sontak Eve berteriak histeris lalu berlari sekencang mungkin. Sial!! Ada persimpangan!! Ke mana ia harus melangkah? Harus lari ke mana dirinya? Sejenak ia menghentikan derap kakinya, mengatur nafas. Depan adalah hutan, kanan adalah lembah dan kiri adalah kawah seolah ia telah sangat mengenal tempat itu. Eve memilih ke arah hutan!!


Bip bip!!


Eve menatap pergelangan tangan kirinya. Otaknya memindai sebuah masalah...ah, sejak kapan ia menggunakan jam tangan? Jam tangan itu berbunyi, menampilkan sebuah tulisan kapital.


√ LEVEL STANDAR √


Grrrrrrr


Mendengar suara geraman dari arah belakang, Eve mempercepat derap langkah kakinya. Rerimbunan pepohonan dalam hutan lebat, menyebabkan si Pria gila itu melambat baiklah, sangat menguntungkan bagi Eve. Gadis bermanik mata hijau tersebut segera bersembunyi di antara pepohonan. Mata Eve mencari-cari jalan alternatif untuk melarikan diri ketika nanti, ia telah ditemukan dari tempat persembunyiannya.


Sesuatu berkilau, berkilat-kilat membuat perhatiannya tersita ke arah di mana kilatan itu berada. Kapak? Ia memutuskan untuk merangkak perlahan menuju kapak lalu berusaha untuk mencabut kapak yang tertancap di tanah.


Ugh!! Uuuuugh!!


Pekik Eve berjuang mengambil kapak tapi ia malah terpelanting ke belakang dan jatuh terduduk. Ia kembali merangkak...


"Thank's" kata Eve lega akhirnya ada seseorang yang berbaik hati mencabutkan kapak itu dan disodorkan padanya. Dengan senang hati Eve menerima kapak.


Khi khi khi....


Deg!!


Jantung Eve berdetak kencang ketika mendengar suara kekehan di depannya. Kedua tangan Eve yang menggenggam kapak bergetar hebat...ia memaksakan tubuhnya yang kaku karena tegang berdiri tegak. Matanya!! Gadis itu perlahan...mengarahkan kedua matanya ke arah sang empunya suara.


Khi khi khi Sluruuuuup....


Kekehan disela lidah yang menjilati bibirnya membuat ketegangan Eve semakin meningkat drastis. Apa-apaan ini? Seorang predator sedang berbaik hati memberi kesempatan mangsanya untuk membela diri?! Ini tidak masuk di akal...tapi makhluk idiot itu melakukannya.


Eve tergagap ketika makhluk itu mengambil kapak lain dan di arahkan pada Eve!! Eve langsung melindungi diri dengan kapak yang ia genggam erat.


Trang!!


   Thaaaaang!!


Eve tak mau nyawanya berakhir di tempat asing ini. Selain ia bertahan, di sepaknya kuat-kuat betis Pria sakit itu hingga ia jatuh terlentang. Bagian terbaiknya adalah, kapak yang di gunakan Pria tersebut untuk membantai Eve terbang terlepas dari jemari tangannya yang kuat nan kokoh itu, lalu menancap tepat ke arah paha sang predator. Tanpa ba bi bu lagi, Eve mengayunkan kapak itu ke arah dada Pria tersebut berulang kali dengan teriak penuh kemarahan.


Zrrrrrrt!!


Heks!!


Pekikan Eve merasakan dirinya tengah tersengat oleh listrik. Evepun roboh jatuh ke atas tanah di samping sang Pria keji. Mata Eve menatap Pria itu hingga penglihatannya mulai mengabur perlahan.


Eve menggeliat perlahan lalu membuka matanya. Otaknya memindai dimana kini ia berada. Ah, rumah...ya...ini dirumahnya. Tepat di kamarnya...begitulah yang dipercayai otak Eve. Ia duduk dengan bermalas malasan lalu melangkah keluar kamar. Hey, di mana seluruh keluarganya? 


Lagi lagi telinga Eve mendengar suara berisik tak jauh dari tempatnya berdiri. Ah, arah dapur!! Ya, seolah dia tahu semua detail tiap sisi rumah Eve. Ia melangkah setengah berlari.


 


Bruuuugh!!


Kesialan terjadi lagi...lantainya basah, tergenang oleh air yang tak henti-hentinya mengalir dari arah kamar mandi. Eve meringis berusaha bangkit dari atas lantai kayu. Dengan tertatih, Eve melangkah menyusuri lorong mengarah pada sebuah kamar mandi.


Tap


  Tap


    Tap


Krieeeeeeet.....


Mata Eve terbelalak ketika melihat mayat!! Otaknya mengatakan itu mayat Kakaknya Monitha!! Satu-satunya yang masih utuh adalah bagian kepalanya. Wajah, mata, hidung, bibir, sederet gigi putih bersih, kulit kepala dan rambut panjang basah menjuntai keluar dari bathup.


Nampak normal...tapi...Eve menatap ngeri saat melihat bagian tubuh dari leher hingga ujung kaki hanya tinggal kerangka tulang manusia. Hey, kemana kulit, dan dagingnya? Siapa yang tega membunuh Kakaknya Monitha?!

__ADS_1


Bip...


   Bip...


Jam tangan Eve berbunyi nyaring.


√ LEVEL MENENGAH √


Bunyi berisik itu lagi sangat mengganggu Eve. Dilangkahkan kakinya menuju dapur. Langkahnya terhenti seketika!! Di balik pintu ia mengintai apa yang dilakukan sang Ayah, ia sedang merebus daging?! Jangan-jangan...sementara sang Ibu sedang memotong-motong daging merah hingga terpotong-potong kecil.


Hmph!! Hmph!!


Seseorang di dalam karung berusaha meminta tolong pada Eve ketika ia melihatnya sedang mengintai dapur. Eve menyadari keberadaan sosok  dalam karung. Otaknya berputar di mana letak...benda berat ataupun benda tajam di sekitar rumahnya?


Ayolah...ini rumahnya bukan? Pasti ia tahu betul letak semua barang yang berada di dalam rumah. Ah!! Dongkrak!! Ya, dia bisa menggunakan benda itu sebagai senjata untuk menyelamatkan sang Adik yang terikat di dalam karung goni. Eve segera berlari ke ruang tamu membuka perlahan agar tak membuat suara sedikitpun.


Ia berjalan tergesa-gesa mengambil dongkrak di garasi. Tanpa ragu, Eve memasuki dapur.


"Honey..., apa yang kau lakukan? Letakkan dongkraknya?!" teriakan sang Ayah menggelegar kencang.


"Kalian yang seharusnya aku tanyai!! Kenapa kalian mengikat Stella?!" teriak Eve marah.


"Honey...jangan!!" teriak sang Ibu pada Ayahnya yang mulai mengarahkan senapan ke arah karung goni. Eve melemparkan sepatunya ke arah senapan, hingga senapan itu menembak dinding, membuat cekungan ke dalam di sana. Eve buru-buru membuka karung, melepaskan ikatan di tubuh Adiknya Stella.


Ia melindungi Stella, menutupi Gadis kecil itu dengan tubuhnya sendiri.


"NooooooOooo!!" teriak sang Ibu. Eve terkapar di lantai, Stella yang dilindunginya memukul tempurung Eve secara tiba-tiba dari arah belakangnya dengan dongkrak.


"Hahahahahaha!!" tawa puas menggema di seantero ruangan dapur. Stella akan melemparkan ke arah Ayah dan Ibunya. Dengan sisa tenaga, Eve menjegal kaki Stella hingga Gadis kecil itu terjatuh. Eve menjatuhkan rak piring terbuat dari kayu hingga menimpa tubuh Stella membuat Gadis itu tak berkutik lagi darah merembes deras dari kepala Stella.


ZzzZztttt


Kembali Eve merasakan sengatan listrik!! Tubuhnya terjatuh di atas lantai diselimuti rembesan darah Stella. Ia menatap wajah Adiknya Stella sejenak...sebelum matanya kembali menggelap seketika.


Seorang Wanita sedang mengamati monitor layar datar ada seringai penuh harapan di wajahnya.


"Dokter!!" panggilnya kepada Dokter Allan yang sibuk mengamati layar monitor di sudut ruangan lainnya.


"Bilik nomor 106, 105, 101,102, 99 dan 100 mereka dapat bertahan" kata Wanita itu menunjuk ke arah monitor. Dokter Allan kembali di sibukkan dengan banyaknya panggilan yang menyatakan hal serupa. Dokter Allan tersenyum penuh misteri.


"Lanjutkan ke tingkat atas. Kita lihat, apa mereka dapat melaluinya juga atau tidak" kata Dokter Allan pada semua orang itu.


"Dokter...bagaimana dengan yang gagal?" tanya salah satu Wanita berambut sebatas telinga, menatapnya dengan wajah yang pucat. Sang Dokter hanya tersenyum lalu membisikkan sesuatu pada Wanita itu.


Eve merasakan tubuhnya digoyang goyangkan seseorang. Namanya disebut oleh seorang anak kecil.


"Mommy!! Mommy!!" sangat jelas ditelinga Eve seorang anak sedang berusaha membangunkannya.


"Hmmm?" jawab Eve menolehkan kepala ke arah suara anak itu sambil berjuang membuka mata yang masih terasa sangat berat. Sebuah senyum penuh damai, sebuah tatapan penuh keceriaan. Otak Eve mengenali anak itu.


Anak Perempuan, berambut lurus, kecokelatan dengan bulu mata lentik. Anak yang mengenakan rok terusan berwarna pink muda dan bandana senada, sedang menggoyang-goyangkan telapak tangan Eve manja. Ya, dia Putri Eve.


"Gretta...kenapa kau membangunkan Mommy seperti itu?!" protes seorang Pria tampan merasa kesal melihat Putrinya membangunkan Eve.


"Kau sudah mendingan?" tanya Pria yang mulai dikenali Eve. Dia adalah Sammy Suaminya. Tunggu. Memang dia kenapa? Kenapa Sammy menanyakan hal yang membingungkannya? Otaknya mulai memindai...ah, dia sedang mengandung 1 bulan rupanya.


"Mommy!! Aku ingin naik Roller Coaster!! Mommy!! Mommy!!" kata Gretta berjingkat-jingkat girang sambil menatap mata Eve penuh harapan.


"No!! Mommy sedang membawa Adik bayi di dalam perutnya oke, kau akan membahayakan Mommy dan Adik bayimu" larang Sammy menggoyang-goyangkan jari telunjuknya dihadapan Gretta.


"Mommy selalu tidak bisa bermain bersamaku Dady...kenapa Adik bayi menyusahkannya?" katanya cemberut.


"Gretta...peluk Mommy baby..." kata Eve menggapai tangan mungil Gretta, membawa bocah itu ke pangkuannya.


"Adikmu tidak menyusahkan Mommy, dia Adik yang manis sepertimu" jawab Eve mengecup kening Gretta.


"Tapi dia membuat Mommy jauh dariku" kini Gretta mulai merajuk mengusap kedua matanya dengan punggung tangan mungil.


"Bagaimana jika kita...bermain biang lala saja" tawar Eve.


"Gretta mau Roller Coaster..." rengek Gretta sekeras mungkin.


"Biang lala dan dua buah permen Loli pop?" tawar sang Ayah mencoba membujuk si kecil menggenggam tangan mungil Gretta. Si kecil Gretta melepaskan diri dari genggaman sang Ayah lalu berlari di tengah kerumunan orang-orang yang sibuk berlalu-lalang.


"Gretta!!" teriak Eve dan Sammy bersamaan.


"Herra...dengar. Kau tenang saja di sini oke, aku akan mencari Putri kita" kata Sammy berlari menjauh tapi ia menghentikan derap langkah kakinya sejenak lalu berbalik kearah Eve dengan sebuah senyuman menawan.


"I love you honey...duduklah di sana sampai kami kembali" katanya lalu pergi.


Deg!!


Seakan enggan untuk ditinggalkan sendiri. Eve berdiri hendak mengikuti kemana langkah kaki Sammy tapi perutnya membuat langkah kaki Eve tertahan.


Arrrgh!!


Eve mengerang kesakitan sambil meremas perutnya.


Bip!! Bip!!


Disela rasa sakit yang diderita Eve, matanya mengarah pada jam tangan di pergelangan tangannya.


√ LEVEL ATAS √


"Level atas?" Eve mengerutkan kening tak mengerti. Otaknya kembali memindai masalah...Putrinya?! Gretta!! Apa ini ada hubungannya dengan Gretta?! Tidak...ia harus menemukan Gretta sekarang. Eve berlari sambil berteriak-teriak memanggil nama Putrinya. Eve berjalan ke arah wahana Roller Coaster entah kenapa otaknya memerintahkan ia pergi ke sana.


"KyaaaaAAAAaaaaa!!" teriakan panik dari semua orang terdengar. Roller Coaster Itu rellnya patah di bagian tengah menjatuhi sebuah gubuk loket. Eve diam tertegun menatap Roller Coaster yang melaju cepat ke arah rell yang patah!! Matanya menangkap dua sosok yang dicintainya. Suaminya, dan Putrinya.


"NoooOoOoo!!" teriak Eve ketika teriakan panik orang-orang yang terperangkap di dalam sana mengumandang lalu Roller Coaster meluncur bebas di udara dan....


Brugh !!


Jeritan kini kembali mengumandang ketika beberapa orang di bagian paling depan terjun bebas membentur di atas aspal!!


Ngiiiiiiiiiik!!


Krieeeeek krieeeeek!!


Eve menahan nafas ketika bagian tempat Gretta dan Sammy hampir saja terjun ke bawah tapi mereka selamat karena benda besi yang memerangkap mereka itu bergoyang ke depan lalu ke belakang, tapi mereka beruntung karena benda itu tertahan sejenak.

__ADS_1


"Jangan...kumohon...Sam...Gretta..." kata Eve lirih.


Aaaargh!!


Brugh!!


Eve terjerembap ke atas aspal merasakan nyeri teramat sangat di perutnya. Matanya menatap ke atas, ke arah Roller Coaster Suami dan Putrinya yang lima menit lagi akan tumbang. Air mata Eve menitik deras terus menerus memanggil nama Putri dan Suaminya. Sepatu kets berwarna putih berada di depan mata Eve kali ini.


"Kau siapa?" Eve memandang tajam kearah orang di hadapannya. Aneh, tidak ada seorang pun yang bergerak. Seolah waktu, telah terhenti.


"Sang Maut..." katanya dengan suara sangat berat.


"....."


"Kau ingin membuat kesepakatan?"


"......"


"Kesepakatan dimana kau dapat mempertahankan kehidupan Putri dan Suamimu"


"Apa imbalan untuk itu?"


"Cerdas...imbalannya tentu sepadan. Mereka hidup, tapi kau harus lenyap..." kata Pria itu sambil melemparkan sebuah pisau dapur ke arah Eve. Gadis itu mengerang lalu menyeret tubuhnya yang mulai lemah menggapai pisau.


"Bunuh dirimu"


"Apa kau pikir aku bodoh?! Aku ingin melihat mereka benar-benar selamat terlebih dahulu" geram Eve menatap tajam ke arah sang Pria yang mengaku sebagai maut. Pria itu menyeringai keji lalu berjongkok di depan Eve, mendekatkan bibirnya ke arah telinga Eve.


"Akan kuperlihatkan dirimu sebuah keajaiban. Putri dan Suamimu pasti kembali. Saat kau membuka mata nanti, pastikan kau memilih. Membiarkan mereka kembali di ambang kematian karena mati ditanganmu, atau mati karena jatuh dari atas sana. Kau....harus....memilih...." bisiknya. Lalu mengacungkan jemarinya di telinga Eve yang sebelah lalu menjentikkan jemarinya.


Semua menjadi gelap...dan sunyi.


"Mommy!! Mommy!!" teriakan Gretta mempercepat pemulihan kesadaran Eve. Terulang kembali...dan ketika sang Putri mulai merajuk, ia langsung mengiyakan permintaan sang Putri.


"Kau ingat kau hamil honey?" protes Sammy tak habis pikir. Eve hanya tersenyum kecil lalu mengusap pipi Sammy.


"Putri kita. Ini demi Gretta, Samm..." kata Eve lembut. Eve beralih memandang Putrinya Gretta.


"Baby..., Mommy ingin kau, dan Dady membelikan Mommy permen Loli pop"


"Bisakah kita membelinya setelah naik Roller Coaster?"


"Apa kau ingin Mommy dan Adik bayimu sedih?" rayu Eve. Gretta hanya menggeleng lalu menggandeng tangan Ayahnya ingin cepat-cepat membelikan Loli pop untuk Ibunya.


"Mommy akan beli tiketnya..." kata Eve memperlihatkan lembaran dollar pada Gretta. Si Gadis kecil melompat kegirangan lalu menarik Ayahnya menjauh dari tempat Eve berdiri. Entah dapat keberanian dari mana Gadis itu melangkahkan kaki menuju loket. Mengantre panjang berharap semoga Gretta dan Sammy tidak datang tepat waktu.


Eve berdoa dalam hati dan seseorang menepuk pundaknya.


"Pilihan mana yang kau inginkan?" sang maut mengagetkan Eve.


"Biarkan aku yang menggantikan posisi mereka"


"Kau sedang hamil...teganya kau membunuh calon anakmu sendiri. Apa kau sudah memikirkannya baik-baik?" kembali sang maut terkekeh melihat sorot mata penuh kemarahan.


"Nyonya... berapa yang Anda butuhkan?" tanya sang penjaga loket.


"Satu" balas Eve lalu menyodorkan selembar uang dan mengambil tiket. Eve berjalan mengantre menunggu giliran.


"Mommy!!" teriak Gretta melambaikan dua permen Loli pop ke arah Eve. Saat giliran mereka, Eve berpura-pura kehilangan dua tiket lainnya.


"Sorry baby...kalian mengantre saja lagi ya, hanya tinggal satu tiket ditangan. Maaf...pasti tiket itu jatuh di jalan tadi" kata Eve membuat gurat kecewa Gretta terlihat jelas.


"Ayo, kita mengantre. Jangan cemberut...kita akan dapat giliran setelah Mommy oke," bujuk Sammy mengerling pada Eve. Panggilan bagi para penumpang menandakan akhir dari kebersamaan mereka.


Eve naik dengan jantung berdegup kencang. Eve melambaikan tangan pada Gretta dan Sammy. Roller Coaster berjalan lambat pada awalnya...beberapa menit kemudian, Roller Coaster berjalan sangat cepat meliak liuk, hingga serasa seluruh tubuh Eve di ombang- ambingkan. ia menahan mual akibat rute perjalanan panjang itu.


Brugh!!


Inilah saatnya...rel itu patah dan jatuh ke aspal...Eve mampu mendengar. Ketika Roller Coaster kembali ke posisi semula, Eve dan seluruh calon korban menjerit panik ada rel yang hilang!!


Brugh!! Brussssssshhhh....


Sreeekkkk....


Korban yang ada di bagian paling depan telah terbang meluncur menemui ajal. Kini Evelah yang terperangkap ke dalam ketidak pastian!! Benda besi yang memerangkapnya doyong ke depan lalu ke belakang. Sementara mereka dapat bernafas lega...


"Herra!!" teriakan seorang Pria yang sangat ia kenali. Ia dapat melihat titik kecil yang diyakini adalah sosok Sammy.


Zruuuuuuz.....


Wiiiiiiing.....


Eva terbang meluncur ke bawah. Seluruh tubuhnya terhempas ke tanah!!


Bip Bip ...


Bip Bip...


Ctaaaak


Ctaaaaak


Bunyi alat pemicu jantung itu terdengar jelas di telinga Eve. Ia merasakan tubuhnya terpental-pental begitu saja. Perlahan Eve membuka matanya menatap Dokter dan Suster yang mengerumuninya.


"Selamat datang kembali Miss Evelina Dushenka, dan selamat bergabung. Anda menjadi salah satu kandidat resmi dari petualangan kemanusiaan R-Nav TV" sambutan hangat dari Dokter Allan di sebuah layar monitor datar di hadapannya. Tangan dan kaki Eve kini terbebas sementara deru nafasnya masih terdengar jelas.


Sambutan di layar datar itu pun diakhiri dengan saluran statis.


"Miss Eve, mari bergabung dengan kandidat terpilih lainnya" sambut Wanita yang tadi membawanya masuk ke bilik tes psikologi. Kali ini ia membawa Eve menuju karpet merah, lalu masuk ke ruangan yang justru lebih mirip dengan gedung bioskop.


Wanita yang mengantarnya, mengisyaratkan agar Eve menuju ke tempat duduk yang sesuai dengan warna jam tangannya.


"Jadi kau juga lolos?" kata Dimitri dengan senyuman lebar. Eve hanya mengurai senyuman letih dan duduk di samping Dimitri.


"Tes yang mendebarkan. Apa kau tahu, kali ini kita akan diapakan Dimi?" tanya Eve memicingkan mata lalu di balas dengan kedua bahu Dimi yang di angkat keatas.


Blaaaam!!


Semua peserta terkejut mendengar suara keras itu apa lagi tiba-tiba lampu penerang mereka langsung mati.

__ADS_1


__ADS_2