Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 15


__ADS_3

Ketika semua telah naik ke atas Golem, Ferghus menatap penuh tanya ke arah sang Guru Besar Hisashi.


"Golem diciptakan para penyihir bukan Iblis. Kenapa ada benda semacam itu disini?"


"Sejak dahulu, kami meyakini bahwa para penyihir, adalah para pengikut Iblis. Apa kau tidak menyadari, keduanya sama-sama menyukai tipu muslihat?"


"Mereka bekerja sama?!" pekik Ferghus mengacak-acak rambutnya.


"Budak hanya akan mengikuti perintah majikannya bukan? Begitu pula para penyihir. Mereka mendapatkan separuh kekuatan Iblis dan menyebarkan kerusakan di bumi".


"Ayo kita lanjutkan perjalanan akan lebih cepat sampai ke tujuan menggunakan kendaraan raksasa ini" seru Riche penuh semangat.


"Tidak...benda ini justru membuat kita tak leluasa dalam bergerak. Kalian tahukan? Ada banyak jebakan disini?" sahut Adel sambil mengamati petunjuk dari gambar bagan peta. Semua pandangan kini tertuju pada Adel.


"Firasatku tidak enak tentang gambar selanjutnya dalam bagan ini" tambah Adel mengingat kejadian Armian dan Riche yang hampir menjadi daging tusuk. Tanda tanya besar membuat Ferghus akhirnya mengambil alih peta dan mencoba memahami arti dari gambar tersebut.


"Getaran dan gelombang apa mungkin itu petunjuknya?" tanya Ferghus menatap tak yakin kearah Hisashi.


"Tak sepenuhnya salah. Karena itu berarti pemusnahan" kata Anastasya dengan wajah pucat pasi.


"Tahu dari mana kalau simbol ini berarti pemusnahan?" tanya Armian mengernyit heran pasalnya, ia tidak pernah melihat seorang Anastasya mempelajari kitab kuno mana pun.


"Kakakku...seorang arkeolog. Dia membiarkanku memperhatikan apa pun yang ia kerjakan di tempatnya bekerja selama aku tidak mengganggu ketika aku berumur 16 tahun. Dan...saat dirumah, aku akan menanyakan bermacam-macam hal, yang tidak bisa aku pahami" kata Anastasya tanpa ragu.


"Lengkungan di kanan, yang kau pikir adalah ombak, dan...patahan-patahan yang kau pikir adalah getaran gempa, itu menunjukkan semesta yang tak stabil karena keduanya berada dalam satu lingkaran. Tapi matamu kurang fokus"


"Kau lihat titik kecil ini? itu simbol Matahari dan...aku yakin di luar lingkaran ini, 4 garis berpanah dimaksudkan sebagai...arah mata angin. Perhatikan letak Mataharinya. Kenapa, Matahari berada di sebelah Barat? Padahal Matahari terbit dari timur" kata Anastasya sambil menunjuk ke arah titik yang diyakininya sebagai matahari.


"Maksudmu...kiamat?" tanya Armian sambil mengumbar tawa dipaksakan.


"mungkin maksudnya ini...Matahari yang tenggelam" bantah Kenatt berusaha menenangkan semua.


"Aku tidak mengerti. Apa maksud dari kiamat disini. Yang kecil, atau besar?" tambah Anastasya.


"Peringatan ditujukan untuk semua orang yang memasuki ruangan ini. Aku yakin, itu artinya mereka akan memusnahkan siapa pun yang memasuki tempat ini" kata Adel akhirnya mengerti maksud dari gambar tersebut.


"Pemusnahan macam apa maksudnya? Apa peta itu bisa memberi petunjuk yang mudah, sekali saja?!" marah Armian mulai kesal pada teka-teki tiada akhir.


"Entahlah...tidak ada petunjuk lain disini" jawab Anastasya putus asa.


Hey, bukankah...guratan simbol itu terdapat pada tubuh patung seekor katak? Apa maksud dari pemilihan karakter hewan disini? Apakah itu bisa menjadi petunjuk, atau hanya kebetulan mereka membuat patung sembarang, dan yang mereka bayangkan katak pas untuk menorehkan simbol pemusnahan tersebut?


"Anastasya. Apa arti dari simbol katak?" tanya Ferghus memotong pembicaraan.


"Setahuku katak adalah simbol dari kemakmuran. Juga bisa diartikan awal kehidupan sekaligus kebangkitan" kata Anastasya mencoba memahami pertanyaan dari seorang Ferghus. Gadis itu baru menyadari bentuk dari media simbol pemusnahan adalah sebuah patung katak!!


"Kita pikirkan nanti saja yang penting kita lanjutkan perjalanan ini. Ketika salah satu dari kita menemukan patung sama seperti di dalam bagan peta, pastikan kalian beritahu semua orang. Karena semua orang tidak akan boleh mendekati wilayah itu titik" kata Ferghus tegas.


Perlahan mereka semua terbang lalu turun menapaki lantai. Ferghus tinggal menjentikkan jemari maka, Golem ciptaannya pun lenyap tak berbekas. Mereka semua bergegas berjalan lurus mengikuti lorong nan panjang siapa pun tidak akan tahu, seperti apa ujung dari lorong kali ini.


"Hey, apa kau dengar suara apa itu?" bisik Anastasya berusaha mengidentifikasi suara apa yang kali ini ia dengar.


"Semacam air terjun?" jawab Adel.


"Apa? Itu mustahil" kata Anastasya yang kembali mendengarkan suara air yang kian lama, kian terdengar jelas. Semua orang langsung menoleh ke belakang dan membelalakkan mata.


"Oh tidak... Lari!! Go go go!!" pekik Ferghus langsung berlari bersamaan dengan yang lainnya. Ada gelombang air super dahsyat sedang menuju ke sisi lorong tempat mereka semua berpijak!! Sepatu mereka berdebam debum sesekali berdecit mencoba melarikan diri semampu mereka.


Cipak cepraaattt!!


Cipak ceprattt!!


Mereka tersentak kaget!! Airnya sudah sampai setinggi mata kaki mereka dan.....


Baaaaaaang

__ADS_1


Breeeeeeeeaasshhhhhh


Suara gelombang air itu mengenai lorong luas tersebut bahkan sempat membuat Kenatt dan Hisashi terhantam gelombang air sekaligus terdesak ke dinding lorong. Mereka hanyut....terbawa arus gelombang air nan dahsyat hingga mereka sadar, mereka langsung terjun ke bawah air terjun yang mengalir sangat deras!! Tahukah kau, masalah tidak berakhir disitu.


Tidak...belum berakhir...mereka terjatuh langsung kedalam sebuah cerukan berbentuk seperti sebuah mangkuk. Mereka pasrah dengan apa yang akan menimpa mereka meski dalam hati, diam-diam berharap mereka masih di berikan kesempatan untuk hidup.


Kyaaaaaaaaa!!


Byuuuuuuurrrrr!!


Teriakan panik, sekaligus ketegangan luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ujung rambut!! Bahkan ketika mereka terjun bebas masuk kedalam cerukan berbentuk mangkuk tersebut, kejutan selanjutnya telah menyambut mereka. Arus cerukan berbentuk mangkuk dari jauh terlihat sangatlah tenang tapi ketika mereka terjun langsung ke dalam, ada arus besar di dasarnya membuat mereka semua tersedot ke dalamnya.


Bayangkan ketika kita mengguyur WC hanya dengan satu tekanan. Maka seluruh kotoran akan terkena imbas arus air tersebut bukan? Hingga menghilang dari pandangan mata kita. Begitu juga yang mereka alami...menghilang tak berbekas dari dalam cerukan berbentuk mangkuk bulat.


Mereka lemas, lemah tak berdaya...beberapa menit kemudian, mereka tersadar. Tangan serta kaki mereka bergerak-gerak panik begitu mereka tiba ke permukaan, mereka berusaha menghela nafas sepanjang mungkin.


"Apa-apaan lagi ini?? Apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?" tanya Kenatt gemetaran karena suhu dingin airnya mampu membekukan siapa pun yang di dalamnya, dalam waktu lama.


"Ferghus...coba lihat ke sekeliling. Bukankah tempat ini sangat tidak asing untuk kita?" tanya Adel berusaha meyakinkan diri. Ferghus langsung memandang ke seluruh penjuru danau wajahnya yang pucat kini semakin terlihat pucat seketika.


"Danau berkabut. Itu artinya..." gumam Ferghus membuat semua orang kecuali Adel penasaran pada misteri yang tersembunyi di dalam danau ini.


"Jangan menggelitiki kakiku Armian!!" pekik Anastasya membuat Pria bernama Armian mengerutkan kening.


"Aku tidak melakukan apa pun" kata Armian mengangkat kedua tangan. Anastasya merasakan ada tangan yang kini menggenggam mata kaki kanannya.


"Ttt Tuan Kenatt...apa Anda melakukannya? Ta tangan Anda sangat menyakiti mata kaki saya" tanya Anastasya pada Kenatt yang ada tepat di belakang Gadis itu.


"Aku harus membenamkan wajahku dulu ke dalam sana kan, untuk melihat dimana kakimu berada?" elak Kenatt yang juga mengangkat kedua tangan.


Wupps!!


Blup


Blup


Blup


"Siaga!! Mayat hidup!!" teriak Adel lalu menyelam mencari Anastasya di ikuti Ferghus. Mereka masuk ke dasar danau tapi tidak mendapati Anastasya. Rimbunan tanaman liar di dalam danau membuat mereka tak cukup awas hingga mengendurkan kewaspadaan.


Maka, dari tanaman rimbun tersebut, terulurlah sebuah tangan pucat menggeret baju Adel hingga gadis itu tertarik semakin ke dasar!! Ia cakar tangan pucat itu hingga berdarah tapi malah muncul tangan pucat lain lalu mengguncangkan kedua bahu Adel hingga kedua mata Adel bertemu dengan mata sang penyerang.


Mata Adel melotot lalu menangkupkan tangan di dada sebagai tanda permohonan maaf karena telah melukai Anastasya yang seharusnya di tolong. Adel menarik tangan gadis itu tapi sesuatu menahannya di dasar sana.


Anastasya memberi kode, bahwa ia telah tersangkut sesuatu. Mata Adel berusaha fokus sangatlah fokus hingga ia dapat mengenali apa yang telah menahan Anastasya. Sebuah kerang?! Ya, kerang raksasa berwarna putih pasir menjepit rambut panjang Anastasya hingga Adel melihat, kerang itu...seakan menyedot rambut Anastasya perlahan-lahan. Adel langsung merogoh saku celana lalu meregangkan kipasnya lalu menebas rambut panjang sepantat milik Anastasya.


Gadis itu terlihat lega ketika Adel berhasil menarik tangannya ke permukaan. Kemunculan Ferghus tiba-tiba disamping Adel sebelum sempat keluar ke permukaan air, membuat Adel menelan air danau hijau itu.


Hah hah hah


Ketiganya meraup nafas panjang ketika telah muncul ke permukaan. Armian, Rulby, Amarru, dan Hisashi menatap mereka heran.


"Apa yang terjadi?" tanya Rulby panik saat mendapati mereka telah lama berada di dasar danau.


"Kita ha-rus segera ke keluar dari danau ini. Di dalamnya sangat berbahaya" jawab Adel terbata menggigil kedinginan.


"Kalian melihat Riche?" tanya Ferghus sadar ada yang belum menampakkan batang hidungnya.


"Riche? Tapi baru saja dia di sampingku tadi. Kemana dia?" Kenatt menengok ke depan dan ke belakang mencari sosok Riche.


"Aku dan Kenatt akan mencari Riche!! Sisanya langsung berenang menjauhi danau" perintah Ferghus langsung menyelam bersama Kenatt.


Adel hanya diam tertegun mendengar ucapan terakhir Ferghus sebelum kembali menyelam. Sesuatu mengganjal relung hatinya.


Kenapa kau diam saja Adel? Apa yang kau pikirkan? Batin Hisashi saat Adel lebih memilih diam di permukaan danau tanpa berusaha berenang ketepian. Raut wajah bingung Hisashi langsung di tangkap oleh Armian.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Kau dengar bukan, perintah Ferghus? Kita harus segera ke daratan" kata Armian membuyarkan lamunan Adel.


"Seandainya ada keajaiban, air danau ini bersuhu hangat" gumam Adel. Tiba-tiba terdengar suara Wanita jepang sedang mengartikan ucapan Adel. Maka seluruh mata menuju kearah Hisashi yang diam-diam mengeluarkan Smart Phone bermerek Akamophone dari dalam jubah kuningnya.


"Apa yang kau inginkan jika aku mampu mengubah suhunya?" tanya Hisashi yang langsung di artikan oleh Smart Phone nya.


"Aku teringat dengan sebuah petunjuk. Petunjuk itu mengatakan bahwa...kesempatan, berada dalam dasar yang dingin, tenang, dan damai. Tak mudah di jangkau, tak akan terpikirkan oleh siapa pun" jawab Adel membuat semua yang mendengar terdiam sejenak.


"Kau pikir kita bisa selamat dari danau ini jika menyelami dasar danau ini?" pekik Anastasya tak habis pikir. Hallo..., baru saja ia selamat dari jeratan kerang putih raksasa!! Akan ada apa lagi di dalam sana, jika mereka terus menelusuri dasar danau aneh ini?!


"Kurasa itu bukan ide buruk Anastasya. Bukankah dia juga yang menemukan peta luar biasa? Peta itulah yang mengarahkan kita kemarikan? Jadi biarkan dia menemukan pecahan puzzle itu di dasar sana" sambutan Armian mengagetkan Anastasya.


Terdengar Hisashi mengucapkan mantra lalu keajaiban memang muncul!! Suhu air super dingin itu kini terasa hangat hingga membuat semua orang merasa nyaman berada di dalam danau tersebut. Tanpa aba-aba, setelah Adel melihat Hisashi selesai menggumamkan mantra, Gadis itu langsung berenang ke dalam danau di ikuti semua orang.


Pandangan mereka sangatlah terbatas hingga Hisashi menyalakan lampu senter di ponselnya. Adel menunjuk ke arah bongkahan batu yang besar di dasar danau yang sangat jauh dari jangkauan mereka. Disana, terlihat...Riche!! Ya, setelah di perhatikan dengan cermat, terlihat Riche, Kenatt dan Ferghus terkepung oleh para mayat hidup yang mengapung dalam keadaan berdiri tegak, melingkari mereka semua hingga akan sulit untuk meloloskan diri.


Gadis itu tak peduli meskipun kini, muncul mayat-mayat hidup lainnya sedang menghadang mereka sekaligus mengepung mereka juga!! Adel hanya tersenyum sinis melihat mata para mayat hidup yang sangat bernafsu untuk segera mengakhiri hidup mereka semua. Adel kembali membuka kipas andalan, mengibaskan kipas yang akan sangat sulit bila dilakukan di dalam air!!


Tapi meski medan yang sulit, tekad kuat untuk membuat semua kawanannya tetap hidup sampai akhir nampaknya telah mendominasi jiwa petarungnya!! Ketika sebuah tangan hendak menerkam leher Adel, sebuah tekanan air yang super dahsyat membuat lima mayat hidup yang mengepungnya itu langsung terlontar begitu jauh dari peredaran Adel.


Tanpa menunggu lama, Adel dengan gesit berenang menyambangi daerah bebatuan tempat Riche dan kawan-kawan terkepung. Ia membuat pola lingkaran kecil di dalam air menggunakan kipas miliknya lalu mengangkat kipas itu tinggi-tinggi. Aksi Adel ternyata membuat tujuh mayat hidup yang mengitari Riche dan kawan-kawan memekik terkejut merasakan tubuh mereka dibuat berputar cepat mengelilingi calon mangsa mereka tanpa henti.


Tak hanya itu, Adel mengangkat tubuh Riche dan kawan-kawan keatas hingga berhasil lolos dari arus putaran lingkaran para mayat hidup!! Mendapati mereka lolos, Riche dan kawan-kawan segera berenang kearah kawanan mereka yang lain.


Hmmm, Adel masih ingin bersenang-senang rupanya!! Ia tak sedikitpun berpikir untuk menghentikan para mayat hidup yang terus berputar tapi ia punya ide cemerlang, yang tidak akan mungkin terpikirkan oleh Wanita waras mana pun di berbagai belahan dunia mana pun. Ia tersenyum sangat puas ketika membuka lebar-lebar telapak tangan kirinya lalu di sejajarkan dengan wajahnya.


Ia pun membuat pola melingkar yang sama dengan kipas yang ia genggam di tangan kanannya setelah itu, dengan cepat ia mengepalkan telapak tangan kiri sekuat mungkin. Ya, tujuh mayat yang terus berputar tersebut tiba-tiba saling menubruk satu sama lain, dalam keadaan terus berputar melingkar!! Hingga sebuah debuman dahsyat tercipta yang menghancur leburkan ketujuh jazad mayat hidup.


Melihat kejadian mengejutkan itu terjadi di depan mata, Ferghus berinisiatif menggandeng Adel menuju permukaan danau tapi Gadis itu berontak melepaskan diri. Saat Ferghus akan kembali mengajak Adel ke permukaan danau, Armian menahan Pria itu dengan sigap. Ferghus menatap penuh tanda tanya ke arah Armian yang hanya meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya.


Mata Adel berbinar mendapati Armian mau bekerja sama Gadis itu tak mau membuang waktu lagi ia pun berenang menelusuri bebatuan dalam danau yang semakin lama semakin tinggi...dan menjulang tinggi... Adel melirik kearah kelompoknya begitu mendapati ada sebuah lubang menganga lebar di bagian tengah bebatuan yang menjulang tinggi hingga hampir menyentuh permukaan air danau.


Tanpa pikir panjang, entah apa yang ada dalam benak Gadis super nekat itu, ia langsung masuk kedalam lubang batu tersebut. Semua orang melotot terkejut melihat kelakuan Adel yang tiba-tiba itu.


Yah, terpaksa mereka melakukan hal sama dengan apa yang dilakukan Adel. Lubang gelap....lebih pekat dari kegelapan air di luar sana. Mereka berenang diiringi cahaya senter dari ponsel Hisashi.


Prrrrttttth


Prrrrrrrth


Petttt


Ah, sial!! Lampu senter ponsel Hisashi tiba-tiba mati!! Mereka hanya bisa mengumpat dalam hati. Tak ada pilihan lain mereka harus terus meraba tiap bagian permukaan batu agar tidak celaka karena tak sanggup melihat apa pun di depan.


Mendadak ada cahaya kecil berkilauan di depan mereka. Adel tetap melaju menyusuri tempat itu tak lupa tetap menggenggam senjatanya erat-erat.


Deg


Deg


Deg


Semakin lama...cahaya itu semakin berpendar terang. Akhirnya mereka tiba di ujung lorong batuan dan terkejut melihat kenyataan di depan mata.


"Ba-bagaimana bisa?" pekik Ferghus keheranan. Semenjak mereka memasuki danau hingga lorong bebatuan yang lebih mirip kawah sebuah gunung tak lagi aktif, mereka yakin...air danau selalu menyelimuti tiap jengkal tubuh mereka.


Tapi...lihatlah mereka!! Hanya diam terbengong-bengong melihat daratan di ujung lorong kawah gunung mati?! Mereka tak diliputi lagi air, meski memang ada sedikit air danau setinggi mata kaki mereka.


"Jadi dimana kita sekarang?" gumam Armian dan Riche bersamaan. Semua orang memilih diam tak menjawab tapi melangkah menuju ke daratan yang kering. Hamparan tumbuhan segar terlihat sangat rimbun...bahkan hasil alamnya sangat melimpah!!


"Wow!! Menakjubkan. Jika ini nyata, maka seluruh penduduk kota akan sangat makmur" pekik Riche terpukau hingga ia mencoba meraih buah apel tak jauh dari jangkauan.


"Stoooop!!" cegah Adel panik dengan tatapan jangan pegang, atau ku tebas kau dengan senjataku!! Seluruh perhatian kini tertuju pada Adel menatap heran. Dengan tatapan wajarkan, jika ia makan satu buah apel saja? Ayolah...kau pasti juga kelaparan sekarang.


"Kau ingat simbol katak berreliefkan simbol pemusnahan?" tanya Adel pada Anastasya.

__ADS_1


__ADS_2