Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Untuk Terakhir Kalinya


__ADS_3

“Wow!! Ini keren seperti berada di dalam tubuh manusia yang lentur” kekeh Haruko merasa sangat nyaman.


“Waktu kalian 24 jam. Lebih dari itu, kalian akan kembali pada tubuh kalian masing-masing. Ayo jangan buang-buang waktu lagi” kata Zack sangat bersemangat.


Mereka pergi ke gedung R-Nav TV dengan mengendarai sebuah mobil. Sesampainya di R-Nav TV, mobil itu sengaja menurunkan mereka di depan perumahan warga. Dengan begitu, orang-orang yang bekerja di R-Nav TV tidak akan menyadari pergerakan mereka.


“Hey, tapi karyawan R-Nav TV tidak salah. Apa mereka layak, kita ledakkan juga?” bisik Haruko sedih.


“Zack akan mengurus mereka. Sebentar lagi jam makan siang. Zack akan membuat acara makan bersama secara gratis di restoran terdekat sehingga pasti mereka tidak akan melewatkan kesempatan itu. Nah, saat itulah kita mulai beraksi” bisik Eve menenangkan Haruko. Benar saja beberapa menit kemudian terlihat seluruh staf karyawan R-Nav TV berbondong-bondong menuju sebuah restoran aneka makanan laut.


“Apa yang terjadi ini?” pertanyaan segera muncul dari bibir El ketika melihat seluruh kendaraan, bahkan pejalan kaki diam mematung.


“Kita harus segera cepat menyusup. Dengan tubuh manekin kalian bisa, melesat sangat cepat. Ayo ikuti aku!!” seru Zack berlari mendahului para manekin lilin. Berkat keahlian seluruh tim Kenatt, mereka semua mampu menyusup sampai ke dalam.


“Dimana para Android itu berada?” tanya Haruko berbisik lirih.


“Pasti ada di dalam gedung ini. Aku tadi mendengar Dokter Allan dan dua Android menyerupai Eve dan Dimi membicarakan rencana penghancuran, sekaligus penyebaran penyakit"


"Untung kita di dalam manekin ini jika tidak, kita harus menghancurkan mereka tanpa menyentuh para Android itu. Terbayanglah, jika sampai kita mengalami sedikit saja luka karena mereka, dan luka itu bercampur dengan cairan yang ada pada mereka, entah apa yang akan terjadi pada kita nanti” sambung Anastasya sambil bergidik.


“Sssstttt, para Gadis setel mulut kalian dalam mode senyap. Kita bisa langsung ketahuan kalau begini caranya” keluh Eldert Diederick membuat Anastasya bersungut-sungut.


Ruang bawah tanah. Cari jalan menuju ruang bawah tanah. Suara Hisashi terdengar memberi petunjuk meskipun beliau berada jauh dari mereka. Semua manekin lilin bergerak serempak mengikuti komando Ferghus dan Kenatt selaku orang yang pernah di ajak berkeliling oleh Edghar.


Sesampainya di bawah sana, Kenatt dan Ferghus meminta yang lainnya diam menunggu komando selanjutnya. Sementara mereka berdua, Kenatt dan Ferghus, memeriksa ruangan yang saat pertama kali mereka datangi, adalah ruangan karantina sekaligus ruang jenazah.


Krieeeeek....


Suara pintu perlahan mereka buka dan di dalam kosong. Pasti mereka menyembunyikan atau malah melenyapkan mayat-mayat itu. Ferghus memberi kode agar semua manekin mengikutinya dan Kenatt.


“Keluarkan senjatanya sekarang” kata Armian meminta pada Eve. Gadis itu segera membuka lembaran gambar rancangan Armian dan memberi kode agar Armian menyentuh gambar tersebut.


Maka, ketika tersentuh, senjata itu pun tertarik melompat dari gambar, menempel tepat di tangan Armian. Semua orang, di dalam manekin lilin mulai terkagum-kagum oleh kemampuan Eve. Ketika seluruh manekin telah dipersenjatai, mereka berjalan mencari ruang lab Dokter Allan.


Mereka terpaksa bersembunyi ketika muncul seorang asisten Dokter Allan, yang terlihat keluar dari toilet.


“Dia bisa jadi petunjuk jalan” bisik Dimitri pada Kenatt. Secara diam-diam, bersama-sama mengikuti si asisten. Sang asisten tiba-tiba berhenti melangkah dan menoleh ke belakang.


“Kenapa tempat ini jadi menyeramkan semenjak ada banyak orang mati di tempat ini?” gumam asisten itu mempercepat langkah kakinya.


Ia tidak tahu bahwa diatas langit-langit gedung, tepatnya di atas kepalanya, bergelantungan para manekin lilin hidup. Mereka melata seakan berpikir dirinya seekor cecak. Mereka terpaksa berhenti ketika sang asisten masuk ke dalam sebuah ruangan. Para manekin melompat turun, mengawasi pergerakan orang-orang yang bekerja sama dengan sang Dokter.


“Apa kita akan menyusup? Mencari tahu apa para Android itu ada di dalamnya atau tidak?” Riche menoleh mencari jawaban sang komandan.


“Ada yang lebih seru dari itu. Lagi pula tidak ada yang akan menyadari kita ini manekin kan?” jawab Kenatt sekaligus bertanya pada Zack.


“Kalian terlihat seperti manusia normal di mata mereka. Jangan ragu” respons Zack sambil mengangkat kedua alisnya.


“Mari kita berpencar, lalu berkumpul di depan ruangan yang dulu digunakan sebagai tempat karantina. Pastikan semua tim membuat kekacauan sebesar mungkin hingga seluruh Android keluar dari lubang tikus sekalipun” tandas Kenatt menunjukkan seringai liciknya.


Mereka berpencar, mencari titik kemungkinan besar para Android bersembunyi. Kelompok pertama, Haruko, Ferghus dan Anastasya berlari melesat kearah laboratorium tak terpakai. Kelompok kedua, Eldert, Adeline, dan Charlie berlari ke laboratorium dimana Dokter Allan bereksperimen sesungguhnya dengan teknologi kecerdasan buatan.


Kelompok ketiga, Dante, Eve dan Dimitri mereka berlari kearah gudang terdekat, dengan ruang penyimpanan arsip data penelitian. Kelompok terakhir, Kenatt, Riche dan Armian mereka memilih untuk tetap berada di depan laboratorium mikrobiologi. Hitungan mundur dimulai.


Kenatt mengaktifkan waktu mundur pada setiap jam yang dipakai para ketua tim.


5


4


3


2


1


BOoooOOoM!!


Ledakan besar terjadi ketika mereka beraksi. Benar saja para Android bermunculan sebagai protokol perlindungan keamanan laboratorium. Mereka berlari, mengejar para manekin lilin. Sesuai dengan arahan sang komandan, seluruh tim harus berkumpul di satu titik. Di depan pintu bekas ruangan karantina.

__ADS_1


DsiiiIIiiiing!!


Dor!! dor!!


Seluruh Android menembaki musuh mereka secara membabi buta. Para manekin menyadari, jika mereka terus menghindar, mereka justru akan terpencar!! Maka para manekin memutuskan untuk menggunakan pedang tumpul.


Jika mereka menembaki Android atau menebasnya, kemungkinan besar akan membahayakan manusia yang ada di sekitar mereka dalam jarak 5 radius karena pasti, setelah para manusia yang bekerja sebagai asisten Dokter Allan terluka dan terinfeksi, akan berbaur dengan pasien di rumah sakit terdekat dan, jika tanpa sengaja luka manusia yang terinfeksi mengenai anggota tubuh pasien lain yang tidak terinfeksi, penyebaran bakteri mematikan itu tak akan dapat terkendali.


Jadi mereka berpikir menggunakan pedang tumpul, adalah hal paling tepat untuk mengulur waktu.


“Cukup berani. Semakin dipotong ekor kalian, semakin besar keberanian kalian” puji Dokter Allan pada para manekin lilin buatan Eve.


Dokter Allan dan seluruh robot Android ciptaannya tidak akan bisa keluar dari ruang bawah tanah selamanya. Bisik kata hati Eve sambil tersenyum sinis.


“Zack....” desis Eve disambut hangat oleh sang Iblis, yang tanpa ragu terus mengelilingi Android dan Tuannya di satu titik berulang kali. Tak mereka sadari, sebenarnya Zack sedang menggali lubang berupa tanah keropos, tepat di bawah kaki para Android dan Tuannya sehingga, sekali saja ada guncangan besar, lantai yang mereka pijaki langsung terperosok amblas mengubur mereka masuk ke dalam tanah.


“Hal bodoh macam apa yang kau lakukan Zack? Apa Edghar benar-benar membuat otakmu geser?” kekeh Dokter Allan mengejek.


“Hisashi....” desis Eve disambut dengan desiran angin, yang awalnya kecil kemudian membesar sehingga mau tidak mau, para Android dan Tuannya lebih merapat satu sama lain. Eve tidak mau membuang waktu dia bekerja sama dengan Zack, menciptakan gempa bumi dalam skala besar hanya sampai 15 menit saja. Maka seluruh Android dan Tuan mereka yang Iblis setengah manusia tersebut, benar-benar terkubur bersama para manekin ciptaan Eve selamanya di dasar tanah terbawah, tempat bangunan R-Nav TV hancur lebur.


Di rumah Hisashi, para manusia bangun dengan nafas tersengal-sengal. Amarru berputar memberikan masing-masing orang sebotol air mineral.


“Kalian berhasil. Akhirnya penerus Hampho benar-benar raib” kata Hisashi sangat lega.


“Dimana Zack?” Eve segera mencari keberadaan Zack.


“Sejak tadi aku tidak melihatnya pulang kemari” sahut Hisashi mulai cemas.


“Mungkin dalam perjalanan kemari tiba-tiba muncul kepingan ingatan Zack, bukankah itu Kabar baik jika dia mulai mengingat suatu tempat, yang pernah ia kunjungi sebelum kematiannya?” tambah Hisashi mencoba berpikir positif.


Tok


Tok


Tok


“Zack?” kata Hisashi tertahan menatap Zack yang terlihat kacau balau. Zack hanya tertunduk diam, memasuki rumah Hisashi menuju sofa tapi Eve menghalangi jalan Zack.


“Kau bisa melakukan hal seperti biasanya Zack, untuk apa kau mengetuk pintu?” tanya Eve keheranan.


“Kekuatanku sebagai Iblis menghilang. Bahkan aku tidak sanggup dalam sekejap mata langsung pulang ke rumah ini. Aku harus menumpang kendaraan umum untuk bisa sampai kemari. Aku lelah boleh aku duduk?” jawab Zack lesu.


“Apa ini karena dia terlalu banyak mengeluarkan tenaga Hisashi?” tanya Eve sangat serius.


“Dia bilang lelah tadi?” Balas Hisashi sambil mencoba menerawang apa yang terjadi pada Zack.


“Dia sepenuhnya kembali menjadi ruh mati bukan Iblis. Apa kau, sudah bertemu dengan orang di masa lalumu?” tanya Hisashi menyelidiki.


“Sebelum aku pulang, aku melihat sebuah rumah sakit. Itu rumah sakit yang sama seperti bayangan masa laluku” jawab Zack cemberut.


“Tapi tidak ada Gadis kecil dalam masa laluku disana” gumam Zack frustasi. Tak berapa lama kemudian, Haruko, Dante, dan Eldert pulang ke Negaranya masing-masing. Zack menatap datar kepulangan ketiga orang itu.


“Kau ingin pulang, tapi tidak tahu harus pulang kemana? Ayo, kita cari tahu masa lalumu” tawar Eve sambil mengulurkan tangan pada Zack. Kini Zack menjadi hantu tak dapat disentuh sehingga Eve sedikit sedih mengetahui keadaan Zack saat ini. Hisashi berdehem meminta perhatian keduanya.


“Aku coba membantu. Zack menghadaplah ke arahku” perintah Hisashi.


“Pejamkan matamu. Cobalah mengingat masa lalumu dengan baik, rasakan kehadiran orang itu jauh lebih jelas, dan nyata...” perintah Hisashi.


Kenapa Zack kembali ke rumah sakit? dan di rumah sakit itulah, Zack kembali mengingat masa lalunya.


“Datanglah di malam salju turun!! Meski aku, tiap hari kesulitan menemui Kakak, kalau Kakak datang di malam salju turun, semua akan ter maafkan!!” teriak seorang Gadis kecil, yang duduk diatas kursi roda sambil melambaikan tangan kepada seorang anak Laki-laki remaja.


Laki-laki remaja tersebut hanya tersenyum dan mengangguk lalu merespons sang Gadis kecil dengan membalas melambaikan tangan. Dan di malam salju turun, Zack bergegas naik kereta umum untuk menemui sang Gadis kecil. Zack dengan bahagia menyewa sebuah sepeda menuju rumah sakit. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang menjadikannya target tembakan.


Dor!!


Dor!!


Dua tembakan beruntun tertuju pada Zack. Dua peluru bersarang di kepala dan jantungnya. Ia meregang nyawa...tapi seseorang berjuang berlari, melawan sekelompok Pria dewasa asing, demi menghampirinya saat itu.

__ADS_1


“Kakak!!”


Ckiiiiiiit......


BraaAAaaaK!!


“Mar...Margareth...” dalam keadaan sekarat, Zack melihat Adiknya yang sedang mengidap sakit parah, ditabrak sebuah mobil. Zack langsung membuka mata sambil beruraian air mata. Zack meminta bantuan Kenatt untuk membuat sebuah sketsa wajah.


Wajah anak Laki-laki yang menabrak Adiknya Margareth. Di kesadarannya yang terakhir sebelum benar-benar mati, Zack melihat pelaku penabrakan tersebut keluar dari mobilnya dan berteriak histeris. Kenatt menggambar wajah sang pelaku sesuai dengan arahan Zack setelah selesai, Eve membelalakkan kedua matanya.


“Valdo?” semua pandangan tertuju pada Eve.


“Kau mengenalnya?”


“Ya, ini Kakakku Valdo” jawab Eve seyakin mungkin.


“Bawa aku padanya” kata Zack, penuh permohonan. Eve ditemani Dimitri akhirnya pulang menemui keluarganya.


“Eve!!” pekik sang Ibu senang melihat Anak yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar, kembali pulang ke rumah.


“Kak Valdo. Apa..., pernah terlibat sebuah kecelakaan? Kakak...,pernah menabrak seseorang?” pertanyaan Eve membuat Ibu dan Valdo menegang.


“Kau mengingat sesuatu Eve?” tanya Valdo pasrah.


“Tepatnya..., seseorang mengingatmu menabrak Adiknya” jawab Eve sangat serius. Valdo dan Tamara saling memandang.


“Orang yang aku tabrak tidak memiliki keluarga selain Kakaknya. Kau bertemu Kakaknya?”


“Ya”


“Mustahil. Kakak kandungmu ditembak mati saat kau mengalami kecelakaan. Bagaimana bisa kau. Bertemu dengannya?!” tiba-tiba Valdo berteriak lantang. Eve membelalakkan mata tak terasa air matanya menitik.


“Za...Zack Kakak kandungku? Jadi..., aku Margareth? Kenapa kalian tidak mengatakannya dari awal?”


“Karena kamu punya trauma yang besar Eve. Kami berusaha menutupi sekaligus menghapus masa lalumu.” Jawab Tamara sendu. Tamara mendekati Eve dan memeluknya erat.


“Zack Kakakmu ditembak mati dan kau tidak sengaja Valdo tabrak. Kami pikir kau masih memiliki keluarga karena itu kau dibawa ke rumah sakit dengan orang yang mengaku sebagai Walimu. Suatu hari kami tahu kau sama sekali tak memiliki seorang pun Wali"


"Tiba-tiba ada kejadian pembunuhan berantai dengan korban satu keluarga melibatkanmu. Karena itu kau masuk ke panti asuhan dan di panti itu, namamu diubah menjadi Terre. Aku berencana mengadopsimu saat itu tapi keluarga lain sudah mengadopsi dirimu saat itu namamu berubah lagi menjadi Aprille"


"Kejutan berikutnya kembali ada kasus pembunuhan berantai akhirnya kau, masuk ke panti asuhan yang sama lagi. Dan di panti itu sepertinya kau mendapatkan keluarga yang baik. Namamu bukan hanya Aprille kau menyandang nama mereka. Aprille Brodie. Sampai disini kau ingat?"


"Aku mulai mencemaskanmu ketika kau kehilangan kembali keluargamu apa lagi kali ini keluarga yang membuatmu menjadi anak paling bahagia di dunia ini. Begitu Aprille Brodie kehilangan orang tuanya, aku langsung mengadopsinya setelah menemukanmu terlantar di jalanan"


Sejak itu, kami memanggilmu Evelina Dushenka. kau tahu? Kami pikir karena traumamu itu, kau mulai berhalusinasi tentang Kakakmu yang jahat. tapi ternyata...., kami baru menyadari memang benar ada Iblis bernama mirip dengan Kakakmu Zack.” jawab Tamara sambil menangis tersedu-sedu.


“Maaf kami tidak mengatakan kebenaran tentangmu. Tapi menurut kami saat itu, lebih baik kau kehilangan ingatanmu di masa lalu dari pada kau harus terus merasakan trauma seumur hidupmu.” Tambah Valdo sambil berlutut pada Eve.


“Kakak...” Eve tak sanggup melanjutkan kata-kata ia hanya sanggup memeluk keluarga angkatnya itu. Eve tersenyum ketika merasakan Zack ikut memeluknya juga dari belakang.


Dimitri, Eve dan Zack duduk diam di bibir danau. Tak ada kata, tak ada suara. Hingga salah satu dari mereka mencoba memulai pembicaraan.


“Apa kau bahagia selama hidup bersama Tamara dan Valdo?” suara Zack terdengar lembut. Eve menoleh pada Zack yang ternyata adalah Kakak kandungnya. Ia tersenyum lalu mengangguk perlahan.


“Aku sangat....sangat disayang oleh mereka sejak kecil. Seperti kau, menyayangi Margareth” senyuman bahagia itu kini menjadi tangisan bahagia.


“Sekarang aku bisa tenang meninggalkanmu” kata Zack sambil mengusap lembut rambut Eve meski Gadis itu, tak merasakan apa pun.


“Apa kita akan bertemu kembali?” tanya Eve pasrah.


“Doakan saja kita bisa berkumpul kembali” sahut Zack yang semakin lama, semakin memudar. Zack pun menghilang dengan senyuman damai yang bersinar terang. Eve tak kuasa menahan tangis Dimi berusaha menenangkannya dengan sebuah pelukan.


Dua tahun kemudian, Hisashi datang menemui Eve dan Dimi bersama seseorang. Orang itu tersenyum pada Eve, lembut seolah sudah lama tidak bertemu.


“Namanya Sammy. Dia koma selama tiga tahun dan terbangun sebagai Zack Kakakmu. Anggap saja ini kesempatan kedua untuk kalian” tegas Hisashi ikut berbahagia.


TAMAT


 

__ADS_1


__ADS_2