Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Perburuan


__ADS_3

Angga dan Putri berjalan menyusuri jalanan penuh pasir. Angin semilir berhembus semakin jauh mereka melangkah, anginnya semakin berhembus kencang. Mata Angga dan Putri mulai kemasukan debu terpaksa, mereka menghentikan langkah sejenak untuk melindungi mata.


"Put, kau melihat sesuatu di depan?!" seru Angga melindungi seluruh wajahnya dengan kedua tangan.


"Debunya mengganggu pandanganku!! Sebaiknya kita pergi ke tempat lain" kata Putri membujuk Angga. Angin tiba-tiba berhenti berhembus perlahan pandangan mereka mampu melihat dengan jelas ada yang menggelantung di atas pohon kelapa tak jauh dari mereka.


"Itu...kelapa sungguhan? Atau mainan?" gumam Angga melirik ke arah Putri.


"Tapi aku baru pertama kali melihat kelapa sebesar itu Ga, itu pun di sini"


"Kita selidiki?" tawar Angga menyeringai sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Lakukan semaumu" kata Putri yang juga merasa penasaran. Angga melompat naik pohon kelapa dengan gesit layaknya tupai yang melompat naik ke atas pohon. Begitu ia dapat menggapai kelapa berukuran besar, diputuskannya untuk melempar kelapa ke bawah. Putri berlari mendekati kelapa itu, sementara Angga langsung melompat meluncur begitu saja ke bawah.


"Bagaimana jika isinya berbahaya? Kau tahukan, semua hal disini tak dapat dipercaya. Ingat?" Putri mengingatkan. Angga hanya diam menatap tajam ke arah kelapa.


"Aku rindu Indonesia" katanya tak memalingkan pandangan sedikitpun dari benda bernama kelapa.


"Kau rindu Indonesia karena harus membuka kelapa? Kau yakin?" tanya Putri dengan tatapan polos yang menggelitik perut siapa pun yang melihat.


"Kita butuh sesuatu untuk membukanya bukan?" kata Angga memutar kedua bola matanya.


"Tidak ada apa pun yang bisa kita gunakan untuk membelah kelapanya" kata Putri menghela nafas panjang. Angga segera mengambil kelapa itu lalu membenturkannya di tumpukan bebatuan putih.


Benturan pertama, benturan kedua hingga kedua puluh, akhirnya membuahkan hasil!! Kelapanya mulai pecah dengan retakan kecil. Angga kembali membenturkan kelapa, agar retakannya lebih besar lagi. Pada pukulan ke dua puluh empat, retakannya mulai membesar hingga Angga berhasil menyelipkan keempat jemarinya ke dalamnya dan menarik keluar hingga bulatan besar menganga dapat terlihat dengan jelas.


Mereka melongok isi dari kelapa raksasa itu. Colt 1911 senjata api berisi 7 buah peluru dan setiap satu butirnya, bisa dimuntahkan dengan kecepatan 1.225 kaki per detik. Tidak hanya itu!! Ada satu lagi, Glock 20 yang memuat 15 peluru 10 mm yang masing-masing peluru mampu dilontarkan hingga kecepatan 1.600 kaki per detik. Angga mengambil Colt 1911, sementara Glock 20 di serahkan pada Putri.


BoOoOoM !!


Suara nyaring berdebum sangat keras seperti serangan...granat!! Angga dan Putri menutup telinga erat-erat seluruh permukaan pasir bergetar hebat dibuatnya. Setelah getaran mulai berkurang, Angga buru-buru berlari di ikuti Putri, kearah pusat suara debuman tersebut. Terlihat Kim menggelepar di pasir dengan rona wajah ketakutan.


Seluruh tubuh Kim gemetaran hebat di sela-sela tangisannya. Angga dan Putri segera menghampiri Kim.


"Apa kau baik-baik saja? Dimana Harry?" tanya Putri ikut panik. Kim mencoba bicara, tapi ia tak mampu...Kim hanya mampu menunjukkan arah ledakkan saja dan sebuah tubuh terbaring tak bernyawa di tempat yang sama. Bunyi orang-orang berlarian menuju tempat ledakan kini terdengar sangat jelas.


"Kim, tenangkan dirimu, minumlah dulu" kata Eve menyodorkan sebotol air mineral kepada Kimmy Pier. Wanita tersebut segera menyambar botol air mineral tapi setiap tetesannya justru terbuang sia-sia karena kedua tangannya sibuk bergetar hingga airnya tumpah kemana-mana. Kimmy justru terbatuk karena mulai tersedak. Putri mengambil alih botol air mineral lalu membantu Kimmy minum.


"Jadi, apa yang terjadi pada rekanmu Harry, Kim?" tanya Dante setelah dirasa Kim mulai tenang.


"Apa...ka-kalian punya sen-ja-ta juga?" tanya Kim mulai was-was. Semua mata saling memandang satu sama lain.


"Kurasa ya, pasti...Mr.X-Bone membuat kita terpencar seperti ini karena, misi perburuan senjata" jawab Park mewakili semua orang.


"Mr.X-Bone sangat licik. Apa kalian percaya begitu saja, bahwa senjata-senjata kita ini benar bisa melindungi nyawa kita?!" teriak Kim marah. Semua mata memandang penuh tanda tanya pada Kim.


"Saat Harry membuka buku harian sang Putri, sesuatu terjadi sebelum kami sempat mengetahui posisi wilayah selanjutnya yang akan kami tuju. Langitnya. Langit yang gelap seolah malam datang dengan cepat. Lalu bayangan yang diceritakan Emi muncul menarik bayangan kaki Harry. Ha-Harry berteriak ketika ternyata bukan hanya bayangannya yang terseret!!"


"Ta-Tapi...tubuhnya juga ikut terseret!! Harry meronta dan berusaha untuk melarikan diri tapi dia tak berdaya karena...ia melawan bayangan. Aku melihat bayangan itu mengambil sesuatu dari saku Harry. Aku diam ketakutan ketika... Ketika suatu benda, bergerak melayang di depan wajah Harry"


"Aku sempat melirik ke bawah, dan aku bersaksi, bahwa bayangan itulah yang mengarahkan granat milik Harry ke depan wajahnya. Harry memohon tapi bayangan itu hanya menyeringai keji padanya lalu...entah bagaimana caranya, bayangan mampu menarik pin pengamannya lalu menjatuhkannya di hadapan Harry dan ledakkan itu terjadi" jawab Kim setengah terbata-bata karena menangis histeris.


Eve, dan Putri memeluk Kim berdampingan, mencoba memberi kekuatan pada sang korban.


"Ini buruk sekali. Mulai sekarang kita jangan berpencar kembali oke, bisa saja sesuatu yang lain masih mengincar salah satu dari kita untuk dibunuh dengan senjata yang korban miliki di saat itu juga!!" seru El mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa kau yakin sekali jika sesuatu yang lain adalah bayangan itu? Bagaimana jika Pria, yang tadi pagi bertemu dengan kita semua? Atau bagaimana, jika sesuatu yang lain justru hadir di sekitar kita, menyamar menjadi...Reporter...atau...Kameramen, misalnya?" tandas Daksa disambut dengan diamnya semua orang. Mereka sibuk memutar otak masing-masing memikirkan banyak kemungkinan.


"Jangan memperkeruh keadaan Daksa. Yang perlu kita lakukan adalah pergi ke tujuan kita selanjutnya. Kenapa tidak kita kerjakan sekarang? Jangan membuang banyak waktu" protes Wang mulai gerah pada tiap kejadian yang serba mengejutkan.


"Wang, kau lihat Kim bukan? Dia masih syok, cobalah mengerti kondisinya. Tunggu dia siap untuk melanjutkan misinya" kini Bian yang protes keras.


"Aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah nyawaku dan nyawa rekanku oke, aku dan Park duluan. Oh, satu hal lagi guys..., pastikan disaat kalian membuang waktu, nyawa rekanmu tidak berada di ujung tanduk dan mati konyol seperti Harry" kata Wang seolah mengejek.

__ADS_1


"Jaga sikapmu man!!" Val mulai naik pitam beranjak dari duduknya mengepalkan kedua tangannya siap menonjok habis wajah Wang Xiaohui.


"Stooooop!!" teriak Eve mengalihkan perhatian semua orang.


"Ini yang diinginkan sesuatu yang lain. Kita dibuat terpencar, saling bersitegang, bahkan saling membunuh satu sama lain. Bukankah itu hal yang memudahkan pekerjaannya? APA ITU YANG KALIAN INGINKAN?!" Teriak Eve sangat lantang pada akhir kalimat.


"Lalu apa yang akan kita semua lakukan Nona bijaksana?!" cibir Wang sinis.


"Kita lakukan perjalanan bersama"


"Bagaimana jika tujuan kita ternyata berbeda? Itu tidak mungkin dilakukan bukan?" kata Bian angkat bicara.


"Ayolah...kita di sini sama-sama masih ingin hidup. Jadi terbukalah satu sama lain. Katakan saja, di mana kita semua harus melangkah setelah ini. Bereskan?" pinta Haruko setengah memohon. Semua orang setuju lalu membuka buku harian sang Putri Mr.X-Bone serempak. Tak ada suara hanya reaksi ambigu terpampang jelas di tiap wajah di sana.


"Dia tidak membiarkan kita selalu bersama rupanya. Ck" suara Helga kini baru terdengar kembali.


"Tidak ada jalan lain ya...?" gumam Kim sendu. Ia benar-benar ketakutan harus bekerja sendirian apa lagi timnya telah mati. Dan lagi, ia harus membuat liputan sendiri, di medan berbahaya, itu sangatlah berat bagi Kim.


"Maafkan kami Kim, tapi..., di buku ini kita semua memang harus berpencar. Jika peraturannya kita langgar, bisa jadi permainannya juga berubah" kata Alie merasa sangat tidak enak hati. Jika Alie yang mengalami, harus sendirian dalam melakukan tugas karena rekannya mati, pasti akan terasa sangat menakutkan.


Berjalan sendirian di tempat asing setelah melihat rekannya sendiri meregang nyawa di hadapannya.


"Ayo, waktu terus berjalan. Semoga kau selalu dilindungi Tuhan" ujar Berte mengingatkan.


"Kau, harus kuat Kim, jika kau bisa keluar dari sini, kau bisa menuntut keadilan untuk Harry" kata Dimi menepuk pundak Kim. Wanita bernama Kim tersenyum meski air matanya tak mau berhenti menitik. Kim mengangguk dan semua orang mulai berpencar. Eve dan Dimi merasa berat meninggalkan Kim sendirian tapi mereka tak punya pilihan lain.


"Evelina Dushenka, berjanjilah satu hal oke,"


"Apa?"


"Jadilah tegar dan seribu kali lipat lebih kuat dari sekarang, jika aku mati duluan" kalimat Dimi membuat Eve menghentikan langkahnya.


"Apa kau selemah itu, sampai dengan mudah mati? Kau ini Dimitri Afanas " kekeh Eve di sela hentakan kakinya yang kian gontai.


Di daerah berbeda, Adel dan Ferghus sedang merayakan kesuksesannya dengan minum secangkir coklat hangat, dan makan malam romantis di ruangan kerja mereka.


Kring!!


Kring!!


Bunyi telepon kantor berdering membuat tawa renyah mereka terhenti seketika. Ferghus yang berjarak dekat dengan telepon segera menjawab panggilan masuk.


"Hello, majalah Wonders Of The World... Ferghus Cloy di sini, ada yang bisa saya bantu?" jawab Ferghus. Laki-laki itu mendengarkan dengan seksama, raut wajahnya menegang seketika sambil menatap Adel tanpa kata.


"Kami akan kesana segera" kata Ferghus lalu menutup telepon. Pria itu berjalan dengan cepat ke arah Adel. Ia menatap sangat serius.


" kau tahu R-Nav TV?" kata Ferghus membuat Adel mendengarkan dengan antusias.


"Stasiun TV terbesar di dunia. Kenapa orang R-Nav TV menghubungi kita?"


"Mereka mengatakan, sedang sangat membutuhkan bantuan kita. Karena katanya tidak ingin berurusan dengan Polisi lalu memilih menghubungi kita"


"Kau tahu bantuan apa yang mereka inginkan?" tanya Adel hanya disambut gelengan dari Ferghus.


"Kita akan tahu, jika kita terbang kesana" kata Ferghus menyeringai.


"Kita tidak akan sampai dititik ini tanpa bantuan Kenatt dan kawan-kawan. Aku ingin mereka disertakan dalam hal ini. Kurasa akan ada bahaya yang jauh lebih besar sedang menunggu kita nantinya. Tapi Kenatt Polisi" desis Adel di akhir kalimat.


"Lalu kenapa kalau dia Polisi? Kenatt bisa menyamar bukan? Itu terlalu mudah baginya. Lagi pula Kenatt dapat bergerak tanpa harus melibatkan Polisi. Dia punya pilihan bagus lainnya " kata Ferghus tersenyum penuh arti.


"Nanti malam, pihak R-Nav TV akan menjemput kita. Aku meminta dua heli untuk menampung Kenatt, Hisashi dan Amarru"


"Bagaimana dengan Armian, Riche dan Anastasya?"

__ADS_1


"Mereka akan membantu kita dari sini. Pihak Stasiun TV itu akan curiga jika kita membawa banyak orang. Mengerti?" kata Ferghus. Adel mengangguk setelah itu ia menghubungi Kenatt sekaligus Hisashi.


Eve terus berjalan bersama Dimi tak terasa waktu semakin terbuang sia sia. Entah kenapa, mereka hanya berjalan tanpa arah yang tepat. Peta dalam buku harian Putri Mr.X-Bone bernama Clamentine, sangatlah berbeda jauh dari medan tempat mereka berpijak kini.


Apa Clamentine telah menghilang cukup lama, hingga semua hal di pulau tak bernama menjadi serba berbeda


"Sial!! Kita harus segera mencari tempat berteduh sekarang " geram Dimi frustasi.


"Apa Kim baik-baik saja? Sebentar lagi malam. Semoga dia bisa bertahan sampai pagi" gumam Eve gurat wajahnya mulai menampakkan kekhawatiran.


"Kita harus segera mencari tempat berteduh sekarang Eve, kau dengar?" kata Dimi mengulang. Gadis itu hanya mengangguk mengekor di belakang Dimi. Mereka berjalan dan berjalan...tanpa menemukan satu pun tempat berlindung.


"Butuh bantuan?" tawar seseorang dengan seringai misterius. Eve menghentikan langkah kakinya lalu menatap Pria misterius lekat-lekat. Seperti...ia pernah memiliki hubungan dengan Pria itu di masa lalu. Tapi siapa?


"Kau siapa?" tanya Eve mencoba menjauh dari si Pria misterius tatapan matanya sangat waspada.


"Malaikat mungkin, aku berniat memberi kalian tempat berlindung. Benar?" kata Pria itu dengan ekspresi datar. Dimi yang sudah berjalan agak jauh kini mulai menyadari Eve tak lagi mengikutinya.


"Tunjukkan tempatnya" kata Eve entah kenapa ia mau mempercayai Pria asing tersebut. Dimi berjalan mendekatinya, lalu Eve menggandeng Dimi mengikuti kemana sang Pria asing pergi.


"Mau kemana kita?" tanya Dimi bingung mendapati Eve terus menggeret lengannya entah menuju kemana.


"Kau ingin tempat berlindung bukan? Dia akan menunjukkan jalan" kata Eve sambil menunjuk Pria di depannya. Dimi melihat ke depan lalu mengernyitkan kening menatap Eve. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika Eve juga berhenti bergerak. Mata Eve tertuju pada sebuah rumah mungil entah rumah siapa itu.


"Semoga tempat ini nyaman untuk kalian tinggali malam ini. Sampai jumpa lagi" kata Pria itu tanpa berbalik menatap Eve dan Dimi.


"Tunggu" kata Eve membuat Pria itu menghentikan langkahnya, sementara Dimi kembali menoleh ke arah Eve.


"Terima kasih" kata Eve tulus. Pria itu hanya melambai sambil berlalu. Dimi menarik tangan Eve masuk ke rumah kosong, ketika hujan mulai mengguyur pulau.


"Ada lentera di sini bagus, kita bisa menyalakannya sebelum malam menjelang" kata Dimi merogoh sakunya, mengambil korek api gas dan mulai menyalakan lentera.


"Seharian ini kita belum meliput apa pun. Kita harus membuatnya segera" kata Eve teringat pada tugasnya yang mulai terbengkalai akibat terlalu fokus berusaha mengamankan nyawanya.


"Tidak ada bukti yang dapat membenarkan dugaan kita Eve. Tidak ada bukti yang bisa kita rekam. Sebaiknya, kau tuliskan saja apa yang terjadi dari awal hingga saat ini dalam bentuk laporan jurnal" kata Dimi santai. Eve mengangguk lalu mengetik apa saja yang mereka alami selama ini, dengan bantuan Dimi hingga larut malam. Semilir angin membelai kelopak mata keduanya hingga tak kuasa menahan kantuk.


Eve terbangun berada di sebuah tempat yang sangat ia kenal. Rumah...bukankah itu rumahnya? Bukankah...mobil yang baru saja di parkir tepat di depan rumahnya adalah mobil yang menabraknya? Jadi...ini di dalam mimpi lagi? Pintu mobil terbuka lebar muncul Kakaknya, berlari ke arah pintu di sebelahnya lalu menggendong...Eve?? Gadis itu terkejut melihat diri sendiri di gendong masuk kedalam rumah. Eve berlari mengikuti kemana langkah sang Kakak membawanya.


Kepala Eve terbalut perban ia mengerang kesakitan di sela-sela kerumunan keluarga yang lain.


"Apa yang mereka katakan?" gumam Eve tak mendengar apa pun jelas-jelas mulut mereka mengisyaratkan sedang membicarakan sesuatu.


Tapi tiba-tiba pintu kamar Eve terbuka lebar aneh, semua orang seakan tidak menyadari hal itu terjadi. Eve menjerit kaget mendapati tubuhnya terseret keluar dari kamar!! Ia jatuh terjerembap tapi, kini ia berada di sebuah rumah yang sangat asing bagi mata Eve namun bagi hati Eve, seolah ia sangat merindukan rumah itu.


Tapi...rumah siapakah ini? Ia melihat dirinya lagi, berdiri di ruang keluarga, Eve dewasa berubah menjadi remaja, berubah kembali menjadi Eve kecil. Ya..., Eve kecil memeluk sebuah boneka menatap penuh suka cita pada dua orang dewasa yang entah sejak kapan duduk di sofa tak jauh dari tempat Eve dewasa berdiri. Seorang Wanita, memanggil Eve kecil sambil melambaikan tangan.


Eve kecil berlari kecil, dan masuk ke dalam dekapan Wanita tersebut. Ternyata, Wanita itu sedang mengajari Eve menuliskan sesuatu. Eve dewasa berusaha mendekati mereka tapi lagi-lagi tulisan itu terlihat kabur di mata Eve. Semakin Eve berusaha keras memperjelas penglihatannya, kepala Eve berdenyut pusing tiba-tiba pandangannya menggelap.


"Mom!! Dad!! NoooOoOoo!!" teriakan Eve kecil histeris sambil menggedor-gedor pintu terdengar sangat jelas...kepala Eve semakin berdenyut!! Terasa seluruh syaraf di kepala Eve menegang.


"Sakiiiit!!" teriakan Eve membuat Dimi terbangun seketika. Ia melihat Eve menggelepar-gelepar sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.


"Eve, bangun!! Sadarlah!!" pekik Dimi menepuk-nepuk kecil pipi Eve hingga Gadis itu membuka mata perlahan.


"Apa kau sakit? Masih merasa sakit?" tanya Dimi panik.


"Tidak. Aku hanya...bermimpi" kata Eve duduk tegak di samping Dimi.


"Mimpi? Kau mimpi kepalamu sakit?"


"Aku bermimpi sangat aneh akhir-akhir ini bahkan, sebelum...datang ke pulau ini. Semakin aku ingin memperjelas yang aku dengar ataupun lihat, maka kepalaku akan merasa semakin pusing" kata Eve tersengal-sengal.


"Oke, itu biasa terjadi pada seseorang yang cemas. Kau pasti sangat cemas karena di bawa kemari secara mendadak. Terlebih lagi saat ini, kita mengalami banyak masa sulit. Tenangkan dirimu, maka semuanya akan baik-baik saja" kata Dimi memegang kedua bahu Eve. Gadis itu hanya tersenyum masam ketika Dimi berusaha untuk menenangkan.

__ADS_1


Bukan...itu bukan mimpi biasa. Jika memang sekedar bunga tidur, Eve tak akan merasakan rasa sakit luar biasa pada kedua mimpinya di waktu berbeda pula.


__ADS_2