
Blup!!
Blup blugh!!
Suara obor yang mati diterpa angin yang tiba-tiba berhembus kencang.
"Ferghus Cloy!! Enyah kau dari muka bumi!!" teriakan menggelegar di sepanjang lorong.
Rummmm pletynthoo...
Ucap sang Wanita penyihir dan,
Blaaaaarrrrr blup blup!!
Suara seluruh obor kembali menyala dengan terang benderang. Ia menggeram sangat marah ketika duo calon mangsanya kini, telah menghilang tanpa jejak. Ia bertepuk tiga kali seolah bayangan itu mendapatkan perintah untuk melacak keberadaan Ferghus dan Adel.
"Kalian tidak akan ku lepaskan...tidak akan!!" marah sang penyihir lalu mengubah dirinya menjadi burung hantu putih. Ia terbang...mencari mangsa yang berhasil bersembunyi darinya. Sementara itu, sang penyihir Wanita tidak menyadari ada dua orang sedang merayap di atap tepat di atas tubuh berbulu putihnya.
Pletaaaak!!
Oh...kesialan apa lagi ini? Kalung milik Adel tiba-tiba jatuh ke bawah!! Aaaah, syukurlah...sang burung hantu tidak menyadari keberadaan kalung milik Adel. Bayangan raksasa kini membelah diri kembali menjadi dua bayangan. Salah satu bayangan kembali pada tuannya, dan menyenggol bayangan sang burung hantu putih.
Perhatian burung hantu putih itu pun kini, tertuju pada bayangan miliknya yang menunjukkan keberadaan kalung asing di atas tanah. Ketika Sang burung hantu mendongak keatas, semua obor kembali mati!! Ferghus dan Adel buru-buru merayap ke arah Hisashi, Armian, Kenatt dan Rulby. Dengan mudah mereka membuka pengekang itu meski tanpa bantuan sinar apa pun. Ferghus sudah membuat tangan kiri mereka dapat meretakkan besi apa pun yang tersentuh oleh mereka berdua.
Blarrrrr!!
Blup blup!!
Sang penyihir Wanita kembali ke wujud manusia, menatap langit-langit. Ada jejak sepatu manusia di atas sana mengarah pada...sial!! Seluruh tahanan mereka menghilang juga kali ini!!
"Kalian masih ingin bermain-main denganku rupanya. Jangan salahkan aku, jika mainku kasar nanti" geram sang Wanita penyihir.
Adel, Ferghus, Hisashi, Rulby, Kenatt, dan Amarru Akhirnya berhasil kabur berkat kemampuan Amarru yang mampu membuat lubang besar transparan sehingga mereka tak dapat terlihat oleh penyihir Wanita bahkan bayangan mereka pun tak nampak. Mereka berjalan berkelompok meneruskan perjalanan ke lorong selanjutnya mencari jalan keluar.
Syuuuuut....
Brugh!!
Tanah becek yang sangat licin membuat Rulby terpeleset keluar dari pelindung yang di buat Amarru hingga nampak lah dirinya di mata sang penyihir!! Bayangan itu kembali melesat ingin menyerang Rulby!! Tanpa dikomando, Amarru melayangkan tubuh Rulby, lalu menciptakan pelindung baru untuk Rulby. Berhasil!! Sang penyihir dan bayangannya kembali kebingungan dibuatnya.
"Apa aku dapat menciptakan sesuatu selain Golem?" bisik Ferghus pada Hisashi.
"Kekuatan kami ditujukan untuk melawan kekejian. Dalam bentuk apa pun" jawab Hisashi secepat mungkin. Maka Ferghus mulai berkonsentrasi menciptakan kubus berwarna kebiruan menyebabkan lawan tertarik pada umpan besar Ferghus.
"Apa yang kau rencanakan?" bisik Adel bingung melihat benda biru berbentuk kubus yang segera di dekati dua bayangan milik penyihir.
"Amarru...buat pelindung perorangan. Itu tidak akan menguras banyak energimu bukan?" pertanyaan Ferghus hanya dijawab Amarru dengan menggeleng dan melakukan seperti apa yang diinginkan.
"Selesai" bisik Amarru.
"Dengar...benda persegi itu, mirip seperti sebuah lentera. Tapi, lentera tersebut tidak dapat menciptakan bayangan sehingga kita tak perlu bersusah payah melawan monster bayangan. Kita hanya perlu melumpuhkan Wanita itu. Rencanaku, pastikan semua obor mati sehingga Wanita penyihir, tidak dapat menggunakan monster bayangan sebagai senjata" bisik Ferghus mengatur siasat.
"Kau ingin membuatnya tetap terlihat tanpa dia sempat melihat pergerakan kita?" tanya Kenatt menyimpulkan.
"Yup, mari kita pastikan untuk meringkus Wanita itu secepatnya" balas Ferghus sangat optimis rencananya akan berhasil. Monster bayangan mulai terlihat frustasi menggeliat-geliat seperti cacing tanah di antara sisi kubus buatan Ferghus. Benda itu tanpa bayangan...hingga membuat mereka tak mampu memakannya.
Wing!!
Bunyi benda kubus itu ketika menyala benderang.
__ADS_1
Blup blup pfffffffff....
Sang penyihir mulai merasa terancam ketika kembali semua obor padam. Tanpa di sadarinya, Adel dan Rulby berpencar membawa masing-masing satu botol air mineral untuk di siramkan pada obor. Penyihir itu kebingungan ketika...ia menjentikkan kembali jemarinya, tak ada satu pun obor yang menyala!! Benda kubus tersebut tiba-tiba mampu menggandakan diri. Kini kubus membelah menjadi dua.
Wing!!
Satu kubus lagi bersinar kembali. Benda itu terbang mengelilingi sang penyihir. Adel mengeluarkan kipasnya lalu mengarahkan pada sang Wanita penyihir tapi ia mengubah diri menjadi burung hantu.
"Kau tidak bisa lagi mengelak" geram Ferghus murka. Ia pun berlari sekencang mungkin lalu melempari burung hantu putih dengan katana miliknya. Sebuah kekuatan mampu melontarkan katana milik Ferghus, hingga gagal melukai sang penyihir jahat. Akhirnya katana itu kembali pada tuannya. Wanita penyihir kembali mengubah dirinya menjadi manusia.
"Kalian pikir aku akan sangat lemah tanpa bayanganku? Sayang sekali...kalian salah" katanya lalu menengadahkan kedua telapak tangan, menciptakan banyak jarum tajam tanpa dapat dilihat jelas oleh kelompok Ferghus. Tanpa diduga, Wanita tersebut berputar seperti pusaran angin.
Aaaaargh!!
Pekikan seluruh kelompok Ferghus berkumandang di seantero ruangan. Darah menetes di tanah karena serangan dadakan si Wanita penyihir. Pelindung yang dibuat Amarru kini raib karena sang penciptanya jatuh tumbang ke tanah.
Brugh!!
"Amarru!!" teriak semua orang.
"Khu khu khu...ah, lemah sekali, apa kejutan kalian hanya begini saja? Huh?!" kata sang Penyihir terkekeh puas dengan aksi balas dendamnya. Semua orang disana satu persatu tumbang, tak berkutik.
Wing!!!
Sang penyihir terkesiap ketika cahaya benda persegi itu semakin lama, semakin benderang membuat silau kedua matanya. Seluruh mata yang diam terkapar tak berdaya di atas tanah menyaksikan air yang membumbung tinggi keluar dari dalam benda berkilau itu hingga memercik deras ke seluruh tubuh mereka. Keajaiban kini mulai terjadi...luka sayatan di tubuh mereka kini telah lenyap.
Tanpa ragu mereka mencabut begitu saja benda tajam dari tubuh mereka meski mereka berteriak sekencang mungkin menahan rasa perih dan kembali terluka. Yah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mereka terus mencabut semua benda tajam yang menancap di beberapa bagian tubuh dan tersembuhkan tanpa ada sedikitpun bekas luka dikulit mereka.
"Rasakan balasanku!!" teriak Ferghus setelah berhasil bangkit dari duduknya. Ia memicingkan mata, ke arah dua kubus besar berkilau. Seketika air yang mengucur deras ke atas kini beriak-riak sementara dua kubus itu terus berputar super kencang kembali menyatu satu sama lain kini kubus itu kian membesar. Perlahan, tiap sudut kubus, berubah menjadi dua kaki di depan, dan dua kaki di belakang.
"Khi khi khi...apa kau ingin menggelar pertunjukkan sulap di hadapanku?" sahut sang penyihir ketika kilauan itu tak terlalu menyilaukan matanya lagi.
Krrrrrrrrrrrr
Sang penyihir langsung bersiap-siap untuk segala macam serangan dadakan yang dapat mendarat ke arahnya kapan pun saja, mendengar suara musuh bebuyutannya menggeram kencang. Ferghus Cloy menciptakan seekor naga biru terang dari lentera berbentuk persegi. Menatap lapar pada penyihir centil itu. Musuh dari burung hantu adalah...naga!! Mereka dapat memakan para burung hantu sekali telan tanpa mengunyahnya terlebih dahulu.
"Biarkan kami melanjutkan perjalanan, dan kau akan kami bebaskan!!" kata Ferghus berusaha bernegosiasi. Apa yang dipikirkan Laki-laki itu? Ingin bernegosiasi dengan penyihir burung hantu? Oh...apa dia sudah terbentur kepalanya, bernegosiasi dengan budak Iblis? Iblis mana yang suka menepati janjinya?
"Sedang apa kau?" pekik Rulby menepuk punggung Ferghus tak percaya pada pendengarannya kali ini.
"Bernegosiasi, apa lagi?" jawab Ferghus enteng.
"Tidak akan!!" teriak sang penyihir kembali mengumandang sangat jelas.
"Kau tidak akan menyesal? Nagaku sangat kelaparan...kau yakin?" tawar Ferghus. Ada segurat rasa bersalah telah membunuh si penyihir kucing tapi apa daya Ferghus? Ia hanya punya dua pilihan membunuh, atau terbunuh? Kali ini, seolah ingin menebus rasa bersalah, ia memberi pilihan bagi sang penyihir burung hantu.
"Tuanku akan senang dengan perburuanku kali ini khi khi khi" kekeh penyihir burung hantu seolah sangat yakin akan berhasil menangkap semua mangsanya.
Tak ada yang menduga sang penyihir menusukkan kuku panjangnya ke arah telapak tangannya hingga meneteskan banyak darah. Aneh, begitu darah menetes ke tanah, muncul asap seolah tanah pun terbakar oleh darahnya!! Dari asap dan gumpalan darah itu, muncullah sepuluh ular python raksasa berdesis memekakkan telinga. Ketika kesepuluh ular python mulai menggeliat-geliat menyusuri tanah menuju calon mangsa, tiba-tiba ada lingkaran api besar!!
Mengitari calon mangsa hingga ular raksasa enggan untuk meneruskan niatannya menyerang.
"Siapa yang melakukannya? Hisashi, atau Amarru?" bisik Ferghus seketika. Tapi kedua Pria itu malah menggeleng tanda memang bukan mereka yang sedang membuat api pelindung. Apa ini siasat dari para Iblis, atau siasat para penyihir? Pikir Ferghus dengan mulut menganga.
"Tenang saja. Itu aku" bisik Adel membuat semua orang menatap kearahnya.
"Apa kau memberinya kekuatan juga?” tanya Ferghus menatap sang Guru Besar.
"Bukan aku juga bukan Amarru. Kurasa kekuatan inti dari bumi telah merasuk dalam tubuh Gadis itu hingga ia mampu memiliki kekuatan tersebut" bisik Hisashi takjub sekaligus cemas.
__ADS_1
"Bukankah ini kabar baik? Tapi kenapa ekspresimu mengatakan ini bukan hal yang baik?" tanya Adel mulai was-was ayolah...ia bahkan tidak ingin memiliki kekuatan inti bumi. Dia hanya membayangkan sebuah api yang sanggup mencegah serangan ke sepuluh ular python, hanya itu.
"Ini memang menguntungkan kita sementara waktu. Tapi...akan mempersulit perjalanan kita semua. Sang Iblis membutuhkan manusia-manusia pemilik kekuatan inti bumi untuk menguasai dunia. Kuharap kau tidak menunjukkan lagi kemampuanmu" kata Hisashi tegas menatap Adel sangat serius.
"Paling tidak, dengan kau, mengeluarkan kemampuanmu, si Iblis akan mengetahui keberadaanmu, tapi tidak mengetahui dengan pasti siapa si pemilik kekuatan inti bumi" lanjut Hisashi.
"Baiklah, lagi pula aku masih ingin terus melanjutkan hidup. Tidak masalah," jawab Adel santai.
"Kekuatan inti bumi mampu membuat seorang manusia menjadi malaikat, ataupun Iblis...aku mengenal salah satu pemilik kekuatan inti bumi...dia salah satu teman seperguruan, Guru Besarku. Jika aku menyebutkan namanya, kalian akan terkejut"
"Siapa teman seperguruan guru besarmu?" tanya Adel penasaran. Bagaimanapun, ini menyangkut kehidupannya juga.
"Lee Than Ming..."
"Apa?!"
"Jika kau kuat dengan kemampuanmu yang besar dalam tubuhmu, kau akan tetap dalam jiwa kemanusiaanmu. Tapi, jika kau terlalu menuhankan kekuatanmu, maka jadilah kau Iblis...yang abadi" kata Hisashi sangat serius.
"Apa kau tidak bisa mengenyahkan saja kekuatan mengerikan ini dari tubuhku?" tanya Adel takut lalu disambut anggukan setuju oleh Ferghus.
"Tidak. Kekuatan inti bumi memilih Tuannya sendiri. Dia menyatu dengan daging dan darah pemiliknya. Karena itu, jiwa yang tamak dan egois, mampu mengubah Lee Than Ming menjadi Iblis" jawab Hisashi tak banyak menolong.
Grudug!!
Grudug!!
Grudug!!
Mereka merasakan seperti ada gempa bumi melanda lorong itu. Kobaran api tiba-tiba meredup begitu saja.
WaaaAaAAAaaaaa!!
Teriakan ketakutan, keterkejutan membahana di seantero ruangan karena tanpa di duga, tanah tempat mereka berpijak menjadi lembek seperti tanah di kebanyakan rawa-rawa. Tidak hanya itu, tanah lembek yang menjebak mereka di dalamnya, tiba-tiba menghisap mereka hingga masuk ke dalam.
Sang Ibu Rulby bergerak ke depan, akan menerima uluran tangan dari sang Suami tercinta.
Tapi seekor kupu-kupu cantik terbang melayang...mengitari dirinya.
"Ayolah...kemari honey..." rayu Edward masih mencoba mengulurkan tangannya.
Tapi sang Ibu justru sibuk menatap si kupu-kupu dan berkeliling di tempat. Ia ulurkan jari telunjuk ke arah sang kupu-kupu. Makhluk cantik itu lalu hinggap di jari telunjuk sang Ibu. Tiba-tiba sebuah sengatan membuatnya menjerit kesakitan!! Ia terkejut mendapati yang ada di jari telunjuknya adalah lebah berbentuk bulat hitam dan berbulu lebat!! Ia kibaskan tangannya lalu menjauh dari dinding balkon rumah kaca.
Tiba-tiba semua hal yang indah menjadi tak indah lagi. Dilihatnya sosok bercadar sedang merentangkan tangan ke arahnya menatap tajam kedua mata sang Ibu. Tidak...itu bukan Edward Suaminya itu...sesuatu yang lain!! Pria bercadar hitam membawa sebuah sabit besar di tangan kirinya. Wanita itu menggigil ketakutan, melangkah mundur perlahan.
"Ah, kau mengganggu kesenanganku!!" teriak sang Pria bercadar hitam, mengayunkan sabitnya kearah lebah yang menyengat Wanita itu hingga terbelah menjadi dua!! Setelah itu, sabit berhasil menebas empat pot besar tanaman yang sengaja di tata berdekatan satu sama lain.
Brak!!
Brug brug brug!!
Suara pot pecah membuat Wanita tersebut semakin ketakutan!! Ia berlari dan berlari!! Sosok Pria bercadar hitam itu terus mengejarnya hingga ia memasuki kamar anaknya Rulby. Langkah kaki sang Ibu terhenti mendapati tiba-tiba dari bibir semua orang yang terkapar di dalam kamar itu mengeluarkan banyak darah. Ia panik dan mendekati Putrinya Rulby.
Tapi ketika ia hendak menyentuh tubuh tak berdaya sang Putri, tubuh semua orang yang terkapar di lantai kamar Rulby menghilang secara ajaib.
"Keputusan yang bodoh huh?!" suara Pria bercadar hitam mengagetkan sang Wanita. Kini ia telah terjebak dengan Pria bercadar. Asap mengepul di seluruh kamar Rulby membuat Wanita itu terbatuk-batuk lalu saat asap itu menghilang, kamar Rulby tiba-tiba berubah menjadi sebuah restoran mewah.
"Honey, kenapa kau hanya berdiri di sana? Bukankah ini kesukaanmu? Makanlah bersamaku" kata Edward memanggil sang Ibu Rulby. Tidak...ini pasti jebakan bukan? Jelas-jelas ia kini telah berhalusinasi. Wanita itu tak menggubris sedikitpun tawaran Edward palsu, ia berlari dan berlari!! Ia mendapati sebuah tangga yang tak biasa.
Tangga rumah kaca tidaklah seperti ini.
__ADS_1
"Honey...kenapa kau pergi? Kita belum selesai makan!!" teriak Edward mengejar sang Ibu. Wanita itu tak peduli lagi yang penting dalam otaknya adalah melepaskan diri dari Pria yang mengaku-aku Suaminya. Ia mulai melangkah menuju tangga, tapi dia malah terperosok jatuh!! Untung satu tangannya berhasil menggapai salah satu pegangan balkon rumahnya. Apa yang harus... ia lakukan? Melompat dari balkon? Oh tidak...Rulby masih membutuhkannya.