
“Kami menemukan bukti Haruko. Bukti itu, akan membuatmu terbungkam sekarang juga!!” seru Park, sambil membuang file dan buku jurnal tepat di tengah-tengah antara dirinya dan semua orang di sana. Haruko membuka semua file, juga jurnal tersebut.
“Apa yang sedang kau rencanakan Margareth Thimoty…?!” seru Park menatap tajam ke arah Eve.
“Tunggu. Apa ada sesuatu yang tidak aku mengerti di sini? Kenapa kau memanggilnya Margareth?” potong Dimitri mendadak.
“Kenapa kau tidak menanyakan langsung padanya? Apa kau ingin menyangkal bahwa kau punya kelainan jiwa?” jawab Park sambil berjalan menuju Eve saat kalimat paling menyakitkan itu meluncur mulus, dari bibir Park Mayleen.
“Kelainan jiwa macam apa maksudmu?” tanya Dimitri sementara Eve hanya terdiam dengan tatapan penuh tanda tanya.
“kau mengenal siapa Aprille Brodie? Atau Margareth Thimoty?” tanya Park sambil menyentuh kedua bahu Eve.
“Aprille Brodie identitasku yang lama sebelum, aku bertemu dengan orang tua angkatku yang sekarang” jawab Eve membuat semua perhatian tertuju padanya.
“Tapi...siapa Margareth Thimoty? Kau yakin, tidak mengenal identitas aslimu sendiri?” kali ini Park mencengkeram erat kedua bahu Eve.
“Kau menyakitiku Park. Siapa pun Margareth tidak ada hubungannya denganku” jawab Eve menampik kedua tangan Park.
“Tapi kaulah Margareth Thimoty, Eve… Itu identitasmu sebelum menjadi seorang Aprille Brodie” kata Park Mayleen mencengkeram dagu Gadis malang tersebut, memaksanya untuk menatap kedua mata Park.
“Tidak. Aku hanya tahu dahulu namaku Aprille. Hanya itu. Aku yakin itu!!” teriak Eve menutup kedua telinganya rapat-rapat.
Manusia macam apa mereka? Bukankah kau ingin menyelamatkan hidup mereka? Manusia seperti itu kah yang sedang kau perjuangkan honey? Eve menoleh ke arah sumber suara. Tepat berada di belakang Park Mayleen.
“Karena kau, tak pernah mau menerima kenyataan bahwa kaulah yang menghabisi mereka semua!! Eve!! Lihat aku!!” teriak Park Mayleen memaksa Eve untuk tetap menatap ke arahnya.
Air mata menetes di kedua pipi Eve ia hanya sanggup menggelengkan kepala. Jika dirinya adalah Margareth, kenapa ia tak pernah mengingatnya? Seperti tiba-tiba dirinya teringat akan masa lalunya sebagai seorang Aprille Brodie.
Bolehkan aku mengambil nyawanya untukmu? kata bayangan hitam itu lirih sambil bersiul.
“Tidak. Sebelum kau, melenyapkannya maka aku yang akan melenyapkanmu terlebih dahulu!!” gertak Eve. Mendengar hal itu Park Mayleen membelalakkan mata. Ia melepaskan Eve begitu saja lalu menjauh sejengkal...demi sejengkal.
“Apa kalian sadar sekarang? Inilah karakter Eve sebenarnya. Aku mencari kalian untuk memperingatkan hal ini. Jangan pernah berada di dekatnya jika masih sayang dengan nyawa” kata Park membuat yang lainnya merapat satu sama lain. Eve melihat wajah-wajah ketakutan itu satu persatu.
Entah apa yang dipikirkan Dimitri ketika hanya dia yang tidak beringsut satu jengkal pun.
“Bukan. Bukan itu maksudku. Park...dengarkan aku. Ka-kalian harus mempercayaiku. Ini...salah paham. Sungguh” Eve berusaha menjelaskan tapi sepertinya, alasan apa pun tidak akan membuat siapa pun di sana, percaya.
Ia harus meyakinkan mereka semua bagaimanapun caranya. Harus!! Ia melangkah, mendekat ke arah Helga Winifred tapi Valdemar Conrad mengeluarkan senjata apinya dengan sigap. Ia mengarahkan tepat di kening Eve.
Cekrek!!
Klek!!
Sebuah senjata lainnya menyentuh kening Valdemar Conrad. Pria itu melirik ke arah Pria yang kini melindungi Eve dari serangan mematikannya.
“Jangan ikut campur Dimi…” peringatan keras keluar dari bibir Valdemar.
“Kau melindungi rekanmu, aku melindungi rekanku. Kita sama-sama tak ingin rekan kita mati. Dalam hal ini dimana letak kesalahanku” balas Dimitri dengan senyuman arogan khasnya.
“Masalahnya adalah...dialah akar dari semua masalah yang kita hadapi. Kau melindungi orang yang salah. Sewaktu-waktu Eve dapat membunuh salah satu dari kami semua termasuk kau, tanpa ia sadari” jawab Valdemar kembali menatap intens pada sosok Evelina Dushenka.
“Aku tadi melihat salah satu bayangan hitam. Ini bukan saatnya saling menyalahkan. Kita harus mencari cara keluar dari sini” Bianca memotong pembicaraan antara lelaki tersebut. Mendengar peringatan dari Bianca, Valdemar justru terkekeh.
“Jadi kau yang memerintahkan para Iblis untuk menyerang kami satu persatu? Katakan...siapa yang selanjutnya huh?” Lagi-lagi sebuah tuduhan kembali di lemparkan pada Eve.
“ini semua berawal dari pencarian Clamentine. Bukankah kita sendiri yang memutuskan untuk bergabung? Tidak ada campur tangan Eve saat itu kan, lalu kenapa kalian menuduh Eve membunuh rekan kita yang lain? Kematian mereka tidak ada hubungannya dengan Eve“ bela Dimitri.
__ADS_1
Armian, Riche dan Anastasya berlari menuju ke sebuah gedung perkantoran. Mereka segera mengeluarkan sarung tangan biru langit dari saku mereka masing-masing, lalu mengaktifkan magnet yang terkandung di dalam sarung tangan dan sepatu khusus mereka. Tiga buronan pembobol dokumen rahasia R-Nav TV merayap di dinding gedung, memanjat hingga ke atas menara gedung menuju ke tempat helikopter mereka menunggu.
“ Charlie apa kau sudah mendapatkan data semua Reporter dan Kameramennya?” tanya Riche ketika Helikopter mulai terbang meninggalkan gedung.
“Ya, ada sesuatu yang harus kau ketahui Riche. Bawa Armian bersamamu oke, datanglah ke tempatku segera” jawab Charlie memutus pembicaraan begitu saja.
Drrrrt
Drrrrt
Bunyi getaran ponsel milik Riche menandakan Charlie sedang memberi pesan singkat dimana lokasinya sekarang. Anastasya melirik ke arah Armian dengan senyuman penuh semangat.
Setibanya di tempat yang di tuju, Charlie membawa setumpuk buku jurnal ketika Armian, Riche dan Anastasya telah tiba. Lalu ia membawa sederet daftar nama para Reporter dan Kameramen yang disandera di pulau tak bernama. Armian dan Riche menatap dua coretan spidol berwarna merah di bawah nama seorang Reporter Wanita dan seorang Kameramen Pria.
“Apa maksudmu membawa kami kemari?” tanya Riche tak mengerti. Masalahnya, mereka kini berada di dalam rumah kosong, yang tak ditempati dalam kurun waktu cukup lama.
“Seorang Reporter memiliki masa lalu yang tidak biasa bahkan Kameramennya Bung, menurutku kau harus mengetahuinya. Kurasa pasti ada kaitannya dengan masalah ini” jawab Charlie sambil menawarkan botol air mineral.
“Apa yang kau temukan?” kini Anastasya mulai penasaran. Charlie berdehem sejenak membuka sebuah Jurnal berwarna hijau lumut.
“Ini adalah data rekap medis Terre Zoloumis dan Kevin Suneil. Gadis bernama Terre ini pernah menjadi sandera pasangan Suami Istri gila. Terre tertembak sementara Kevin mendapatkan luka cabikan di bagian kakinya.”
“Lalu apa hubungannya dengan kasus yang kita selidiki?” potong Armian mulai tak sabar.
“Bagaimana aku bisa menjelaskan pada Tuan tak sabaran sepertimu? Ayolah...dengarkan dan simak dulu” balas Charlie menepuk bahu Armian.
“Ada pertumpahan darah di sana sebelum Polisi datang. Seperti yang ku katakan, Terre sekarat karena luka tembakan begitu juga Kevin yang sekarat akibat infeksi. Peristiwa ini sempat menjadi sorotan selama tiga tahun di masanya, karena pelakunya melakukan bunuh diri saat dalam masa tahanan"
"Mayat pasangan Suami Istri tersebut dibuang ke Pulau tak bernama. Dan bagaimana jika… sebenarnya pasangan gila tersebut ternyata belum mati? Mereka hanya pura-pura mati” tambah Charlie.
“Kepolisian pasti sudah mendapatkan surat kematian mereka makanya mayat kedua pasangan itu dibuang begitu saja ke Pulau tak bernama” tukas Anastasya menganggap pemikiran Charlie tidak masuk akal.
“Maksudmu selama ini dalang pembajakan R-Nav TV adalah...pasangan gila itu?” tanya Armian menaikkan kedua alisnya disambut anggukan Charlie.
“Kau punya buktinya?”
“Kita dapat membuktikan itu nanti setibanya di Pulau tak bernama” jawab Charlie tak sabar untuk turut serta melakukan pencarian.
“Tunggu. Kau belum mengatakan bagaimana nasib Terre dan Kevin” tandas Anastasya menjentikkan jari.
“Kevin lebih beruntung. Ia di besarkan oleh Neneknya sendiri. Begitu sang Nenek mengetahui Cucunya yang hilang masih hidup. Sementara Terre setelah itu di asuh dari satu tangan, ke tangan Orang Tua Asuh yang lainnya”
“Lalu apa maksud dari kau mencoret nama kedua orang itu?” Riche tak dapat lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya.
“Aku mencari tahu keberadaan Kevin dan Terre. Hanya Kevin yang mudah ku telusuri. Sementara keberadaan Terre, tidak ada Satu pun orang yang tahu. Ada yang dengan sengaja mengubah identitasnya dan menyembunyikan keberadaannya” jawab Charlie mengangkat kedua bahunya.
“Dan soal Kevin...Neneknya mengubah Identitasnya, mengatakan Orang Tuanya telah pergi meninggalkannya sejak bayi. Dialah Kevin” tunjuk Charlie ke arah foto Kameramen tampan yang namanya telah ia coret dengan spidol merah.
“Kevin Suneil adalah...Dimitri Afanas?” ulang Armian di balas anggukan antusias dari Charlie.
“Jadi, apa ini adalah aksi balas dendam menurutmu? Jika benar…artinya pasangan gila itu memiliki rekan lebih dari satu. Sangat tidak mungkin bila hanya mereka berdua otak dalam kasus ini” Riche mulai mencoba membaca situasi.
“Ya, kita harus meringkus kejahatan besar ini. Mr. Kenatt sudah memberi tahuku sebelum keberangkatannya ke Pulau tak bernama bahwa ada seorang Putri dari Sponsor R-Nav TV menghilang di sana. Jelas ini memperkuat dugaanku bahwa mereka, Suami Istri gila itu masih hidup…” desis Charlie di akhir kalimat.
Peluh menetes deras dari dahi seorang Tamara Dushenka tangannya selalu menggapai udara ia berteriak terus menerus hingga membangunkan seisi rumah. Valdo berlari menghampiri tempat tidur sang Ibu, menepuk-nepuk kedua pipi Tamara hingga akhirnya sang Ibu membuka kedua matanya dengan sempurna. Valdo mengambil segelas air mineral, disodorkannya pada Tamara.
“Perasaanku tidak enak. Coba...coba kau hubungi Eve”
__ADS_1
“Mom...kau tahu betul Eve pergi kemana. Kita tak akan mungkin bisa menghubunginya sekarang”
“Bagaimana ini...aku lupa satu hal tentangnya. Usahaku menjadikannya anak yang normal akan sia-sia jika apa yang kutakutkan terjadi”
“Mom…. Eve sudah dewasa. Lagi pula hampir semua ingatan buruk akan masa lalunya sudah Mom hapuskan dari pikirannya bukan? Jadi...tidak ada lagi yang perlu Mom khawatirkan” tegas Valdo.
“Kau melupakan satu hal Honey… Eve pergi untuk mencari anak yang hilang karena diculik bahkan mungkin sudah mati karena dibunuh. Itu bisa mengingatkannya pada trauma masa lalunya. Ini sangat buruk...ia tak akan baik-baik saja di sana.”
“Mom. Sudah terlanjur Eve sudah berada di sana sekarang. Tidak ada yang perlu di sesali lagi. Jika terjadi sesuatu padanya, pasti pihak R-Nav TV akan menghubungi kita. Percayalah... Eve akan baik-baik saja di sana oke,” jawab Valdo mencoba menghilangkan kegelisahan sang Ibu.
“Yang aku takutkan bukan soal kepribadian gandanya...tapi pemicunya. Iblis bernama Zilky itu sangat berbahaya Valdo...aku tidak ingin Eve dikuasai olehnya lagi"
"Dan...tadi...dalam surat kabar pagi ini aku menyadari kita melakukan kesalahan dengan mengizinkannya pergi. Eve ku dalam bahaya dia mendatangi Iblis itu” kalimat terakhir sang Ibu membuat Valdo membelalakkan mata.
“Maksud Mom?”
“Mom dan Dad membuang Iblis itu ke sebuah pulau yang belum ada dalam peta mana pun. Aku hafal sekali letak geografisnya sama dengan letak tujuan Eve berada saat ini.”
“Oh tidak… ini akan sangat berbahaya untuknya. Aku akan segera menyusulnya Mom” kata Valdo beranjak dari tempat tidur sang Ibu.
“Siapa yang akan kau susul?” tiba-tiba sebuah suara yang sangat mereka kenali terdengar di ambang pintu.
“Eve...syukurlah kau baik-baik saja” sambut sang Ibu berlari kecil sambil memeluk Putrinya. Valdo pun tersenyum lega mendapati Adiknya baik-baik saja sambil ikut memeluk kedua Wanita yang ia sayangi.
Tiga bulan berlalu semenjak para Reporter dan Kameramen dipulangkan ke rumah masing-masing. Tamara sangat bersyukur tidak terjadi apa pun pada Putrinya. Tidak....dia belum benar-benar merasa Putrinya sudah pulang meski selama 3 bulan ini, dia terus dapat menatap dan memeluk Evelina nya.
Hatinya berkata ada yang ganjil dari Eve semenjak pulang dari pulau tanpa nama. Tapi...Tamara tidak mampu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Suatu malam tepat pukul 00.00 Tamara terbangun dari tidur kerongkongannya mulai kering dan gatal ia beranjak dari tempat tidur menuju dapur.
Tak sengaja ia mendengar dua orang sedang bercakap-cakap ketika ia minum sampai habis segelas air putih yang baru saja ia ambil dari dalam kulkas. Tamara tahu betul itu suara Eve sedang berbicara dengan seorang Pria. Tamara berjalan mendekati pintu kamar Eve mencoba memastikan suara itu berasal dari dalam sana. Tamara langsung membuka pintu kamar Eve tapi keheningan malam yang ia dapati disana.
Ia melihat Eve meringkuk dibalik selimut tebalnya. Ah... Tamara pasti salah mendengar...perlahan ia menarik selimut Eve hingga menutupi kedua lengan Gadis itu. Tamara hendak berbalik arah menuju pintu tapi sepasang sepatu coklat tua menarik perhatiannya. Tirai jendela Eve sedikit tersingkap, hingga sepasang sepatu itu dapat terlihat oleh Tamara.
Wanita tersebut mengepalkan tangannya lalu memutuskan untuk keluar dan menutup pintu. Ia bersandar di pintu itu, sambil menepuk lembut dadanya. Ia kembali menuju kamarnya hanya untuk melepaskan alas kakinya lalu mengendap-endap menuju pintu kamar Eve. Ia menunggu dengan sabar hingga 5 menit berlalu, ia tak dengar juga suara percakapan atau pun suara pergerakan dari dalam kamar tersebut.
Ah...ini benar-benar halusinasinya...Eve tidak pernah menyimpan sepatu Laki-laki dikamar. Akhirnya, Tamara melangkahkan kaki menuju kamar dan tidur kembali. Saat Tamara berusaha menguping kembali tadi, sebenarnya ada seseorang yang berdiri dibalik pintu itu, mengintai dari lubang kunci kamar Eve. Orang itu siap mengarahkan senapan kearah pintu.
"Dia hanya Wanita tua biasa, kurasa kau terlalu waspada" kata Eve sepelan mungkin.
"Apa kau yakin, dia tidak melihatku tadi?"
"Jangan berpikir seperti manusia ketika hanya kita yang ada di sini I.D" geram Eve sambil menyibakkan selimutnya lalu bangkit dari tidurnya.
"Bukankah kau yang terlalu sering berinteraksi dengan manusia? I.E...." sambut Dimitri Afanas sambil menggantungkan senapan ke bahu kirinya.
"Ayolah...mereka tidak terlalu buruk" decak Eve sambil bersandar di pintu lemari pakaian.
"Aku peringatkan I.E jangan terlalu dekat dengan manusia mana pun. Mereka nampak lemah tapi mereka sanggup menciptakan bahkan melenyapkan bangsa kita dalam sekejap mata. Jangan pernah lupa dengan tujuan utama Tuan kita" kata Dimitri menatap tajam ke kedua mata Eve.
"Kita masih jauh menuju ke misi itu. Bisakah kau lebih santai dan menikmati kehidupan para manusia ini?"
"Aku tidak berminat. Kita hanya tiruan mereka jadi, cukup berperan menjadi mereka ketika keluarga mereka memulai aktivitasnya. Jika kau bertindak lebih dari itu, kau akan tersiksa"
"Tersiksa? Karena apa?"
"Karena suatu saat nanti kau harus, melenyapkan mereka" kata Dimitri datar. Eve palsu terdiam sejenak lalu terkekeh mendengar kata-kata Dimitri palsu yang menampakkan sisi kemanusiaannya.
"Kita tercipta dengan ingatan bahkan emosi manusia itu sendiri. Semakin kau berusaha membuang sisi kemanusiaanmu, semakin jauh kau dapat menguasai karakter manusia yang kau tiru itu. Bukankah pemikiran seperti itulah yang akan mengungkap identitas asli kita?" jawab Eve palsu sambil berjalan mendekati Dimitri palsu.
__ADS_1
"Sebelum misi dapat dilakukan, kita harus membaur dengan musuh kita. Semakin emosi mereka terikat oleh kita...maka semakin mudah kita untuk menyingkirkan musuh. Itulah fungsi dan tujuan Tuan kita menciptakan ingatan dan emosi" bisik Eve palsu menepuk bahu kanan Dimitri palsu.