Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Satu Potong Puzzle


__ADS_3

ZZZzzzZzTTttt!!


Sengatan listrik menjalar melalui pergelangan tangan Eve hingga ke seluruh tubuhnya seiring dengan Pria asing menggenggam pergelangan tangannya secara mendadak. Karena sengatan listrik tersebut mempengaruhi otak Eve, dalam sekejap Eve ambruk jatuh ke atas permadani merah!!


Bruk!!


Seketika otak Eve berhenti bekerja. Tapi dalam hitungan dua detik otak Gadis itu pun kembali berfungsi meski ia masih kehilangan kesadarannya.


Semua gelap, dingin dan sesak...Eve ketakutan setengah mati. Tak lama kemudian...muncul satu titik kecil cahaya kemerahan berada di atas. Tepatnya di atas langit ya, Eve yakin sekali setelah matanya sanggup beradaptasi dengan kondisi pencahayaan minim tersebut.


Cahaya itu semakin terang...dan makin berkilau. Eve menutup kedua mata dengan menyilangkan kedua telapak tangan menutup kedua matanya. Cahaya itu berubah menjadi sebuah telapak tangan yang kokoh, meraih, lalu mencengkeram kuat pergelangan tangan Kiri Eve.


 


AaaaAAAAaaa!!


Pekik ketakutan Eve yang terseret menuju cahaya lebih terang.


Kyaaaaaa!!


Brukk!!


Rasa sakit menjalari seluruh pantat Eve ketika ia jatuh terduduk di sebuah tempat yang asing baginya. Anak-anak kecil duduk melingkar di sebuah danau dan Eve terjebak di antara mereka semua. Mereka membicarakan soal sepasang Suami Istri, yang kehilangan Putrinya Marioneth karena tenggelam ke dalam danau tempatnya berada sekarang.


Pasangan itu selalu menculik anak Gadis seusia Marioneth dan menganggap korbannya adalah, Marioneth. Ketika desas desus yang disampaikan salah satu murid berakhir, saat itulah waktunya mereka pulang tapi Eve tak bisa bangkit seperti anak lainnya!! Ia berusaha keras untuk bangkit tapi gagal. Eve menatap tangan dan kakinya. Bukan...ini bukan kaki dan tangannya.


Rasa kebas menyelimuti seluruh tubuhnya lalu muncul sosok Gadis kecil menembus tubuhnya, berdiri memunggungi Eve tak jauh dari tempatnya duduk. Gadis kecil, rambut coklat tua berkucir kuda. Ia menoleh ke arah Eve menatap tajam penuh tanda tanya.


Gadis kecil itu tersenyum manis pada Eve? Apa... anak itu mengetahui keberadaan Eve di sekitarnya? Eve menoleh mencari siapa orang yang telah membuat Gadis kecil tersebut mengembangkan senyuman manisnya. Hanya Eve di situ...tidak ada siapa pun di sana. Eve berjalan mendekat lalu membalas senyuman sang Gadis kecil.


"Kau melihatku?" tanya Eve yang di jawab dengan anggukan kecil. Lagi-lagi Gadis itu tersenyum pada Eve.


"Siapa namamu?"


"Marioneth Staley" jawabnya sambil menggenggam tangan Eve.


"Katakan pada Mom dan Dad bahwa aku, tidak akan tenang sebelum mereka menerima kepergianku. Aku ingin mereka menghancurkan manekin-manekin ciptaan mereka baik saat mereka hidup, maupun di saat mereka mati" mata Marioneth bersinar penuh pengharapan pada Eve.


"Kenapa kau tidak mengatakannya sendiri? Apa kau masih hidup?" tanya Eve lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil menggeleng.


"Marion...kenapa masih di sini? Kau sedang bicara pada siapa?" tanya seseorang dari belakang Marioneth. Gadis kecil itu menatap datar sang Guru lalu tersenyum canggung.


"Tempat ini sangat indah untuk berlatih akting Miss,"


"Ayo segera naik bus untung saja Mathilda, memberi tahuku kalau kau belum naik bus. Jangan ulangi lagi ingat itu!" marah sang guru. Marioneth mengikuti sang Guru lalu menoleh ke arah Eve kembali tersenyum lalu melambaikan tangan.


BoOoOoM!!


Marioneth dan sang Guru terhempas akibat ledakan bus yang cukup besar. Eve berjongkok, menutup kedua telinganya dan berteriak histeris. Marioneth berada di tepian bibir danau tergolek bersimbah darah. Ia mengerang kesakitan dan mendongak menatap garang ke arah Eve. Ia berdiri dalam keadaan wajah berdarah-darah, seragam bersimbah darah lalu berteriak nyaring.


Mereka datang!! Mereka menyiksa saya dan mengunci saya di sini selamanya!! tolong selamatkan saya!!


Jeritan histeris Marioneth membuat Eve makin tersiksa. Gendang telinganya terasa sangat sakit bagai di tusuk ribuan jarum.


“Mereka? Siapa? orang tua Anda?” Pertanyaan Eve dijawab dengan gelengan sebelum Gadis kecil tersebut sempat untuk mengucapkan apa pun, Marioneth sudah terpeleset dan jatuh ke danau. Eve berlarian dengan kaki yang masih bergetar hebat membuatnya berulang kali jatuh ke rerumputan.


Saat ia sampai ke bibir danau...Marioneth lenyap!! Seolah ia tak pernah ada. Angin kencang menderu hebat!! Air danau bergejolak, membentuk pusaran air Eve tak berdaya kini anginnya cukup besar hingga membuat tubuhnya terhempas masuk ke dalam danau, dan terhisap oleh pusaran air.


"KyaAAaaaa!!" teriak Eve panik tapi kedua tangannya di cengkeram dengan kuat.


"Eve!! Ini Dimitri!! Sadarlah" suara itu membuat Eve terdiam sejenak. Ia menatap lega pada sosok yang dikenalinya.

__ADS_1


"Aku tahu di mana Putri dari kedua bayangan hitam Suami Istri"


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Aku tadi bertemu dengannya. Dia meminta pertolongan kita"


"Dengar Eve. Apa pun yang kau yakini sebelum kau sadar, itu tidak nyata. Kau tak sadarkan diri karena jam yang kau kenakan dan mulai berhalusinasi"


"Tidak. Ini terasa sangat nyata Dimi!!" pekik Eve dengan wajah merah padam.


"Kau tidak belajar dari masa lalu? Sebelum kita dikirim ke sini, semua hal yang tergambar dalam otakmu itu, adalah karena jam sialan ini!!" teriak Dimitri sambil mengangkat pergelangan tangan Eve, tempat jam sialan itu melekat. Eve menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok Pria yang menggapai tangannya hingga ia pingsan.


"Lalu menurutmu sosok Pria yang menggapai tanganku tadi itu...sosok imajinasi?"


"Imajinasi kita"


"Ini tidak masuk di akal..."


"Tapi itulah yang terjadi saat ini. Tujuan kita sesuai dengan apa perintah dari Mr.X-Bone. Yaitu, mencari Clamentine. Bukan mencari Marioneth" balas Dimitri mengingatkan bahwa waktu mereka tidaklah banyak.


"Apa yang kalian ributkan? Kenapa tidak mencari Clamentine?" tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Mereka menoleh ke asal suara dan mendapati Eithan Wilfred sedang berlari menuju ke arah mereka.


"Eve kembali pingsan akibat tersengat jam tangan" jawab Dimitri menjelaskan.


"Apa? Kupikir itu hanya berlaku di alam bawah sadar kita. Karena... setahuku, aku selalu mengalami sengatan hanya ketika tidur itu pun saat berada di R-Nav TV" sambut Eithan Wilfred terlihat ragu.


"Ada dua kemungkinan. Pertama, jam tangan ini digunakan Mr.X-Bone bukan untuk tes kita, melainkan untuk mengendalikan kita atau yang kedua" bisik Eve pelan membuat kedua Pria di hadapannya kini menatapnya penuh ketegangan.


"Dia ingin kita menemukan Clamentine di dalam alam bawah sadar kita" lanjut Eve setelah menelan ludah.


"Keduanya buruk. Jika yang pertama, artinya kematian kita dialah yang menentukan. Sementara yang kedua, jika tebakan Eve benar... artinya kita tidak akan pernah tahu pasti kapan, kita, dalam keadaan sadar atau justru bermimpi" desis Dimitri memucat.


"Oh sial!! Jika ini benar pilihan yang kedua maka kita tidak akan bisa tahu mana kenyataan dan mana yang tidak nyata" pekik Eithan marah pada keadaan.


"Waktu kita tidak banyak. Lebih baik mencari di mana Clamentine berada" tolak Eithan.


"Kau yakin Clamentine benar nyata? Bagaimana jika ini karangan sang Mr. X-Bone. Apa kau ingin mati konyol, di permainkan oleh seorang Psikopat?!" bentak Eve.


"Tenang semua. Waktu kita semakin sempit kalau terus berdebat seperti ini. Dan satu hal yang pasti Eve. Lebih baik yang mana? Percaya dengan ucapan Mr.X-Bone atau pada ucapan Marioneth dalam mimpimu?" potong Dimitri menengahi.


"Siapa Marioneth?"


"Putri dari kedua bayangan hitam Suami Istri. Abaikan saja lagi pula Eve hanya memimpikannya" balas Dimitri sambil menatap tajam kedua mata Eve.


"Aku tidak ingin mati di sini. Ikuti aku untuk mencari Clamentine, atau bersiaplah menjadi daging bakar" kata Eithan menepuk bahu keduanya.


Sementara itu, para Agen Rahasia yang di rekrut Kenatt mulai bergerak. Riche, Armian dan Anastasya diam-diam dapat menyusup ke dalam Stasiun R-Nav TV. Mereka sibuk bersembunyi di lorong loteng yang lama tak digunakan. Riche menggunakan koneksinya untuk mengetahui tiap bagian terkecil yang terdapat di dalam Stasiun TV.


Sementara Armian adalah si Jenius tampan, yang mampu menciptakan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Dalam waktu 12 jam mereka terus berkutat dengan kode-kode angka yang memusingkan. Membobol kode rahasia Stasiun TV bergengsi tidaklah mudah. Mereka selalu menggunakan pengaman berlapis-lapis.


"Wow, seharusnya kau bekerja sama dengan Negara Bung, kau harta karun terhebat yang di miliki Boss Kenatt" puji Riche ketika ia mampu memecahkan kode berlapis.


"Sayangnya hanya Boss kita yang mampu meramalkan kecerdasanku" balas Armian pura-pura bersedih.


"Apa kau bisa mencari tahu lokasi mereka semua sekarang?" tanya Armian pada Riche yang di balas dengan sebuah getaran melalui layar laptopnya menandakan Armian telah mendapatkan pesan data dari Riche.


"Jadi, apa Mr. Jenius telah menemukan data transaksi ilegal Presiden Direktur Stasiun R-Nav TV?" kekeh Riche riang.


"Lebih dari yang kau bayangkan..." jawab Armian menoleh ke arah Riche dengan tatapan penuh misteri.


Hisashi mengerutkan keningnya begitu dalam... tubuhnya menegang ia terbatuk seketika. Bibirnya menyemburkan darah merah... kehitaman. Adel, Ferghus, Kenatt dan Amarru tak punya pilihan selain diam meski mereka panik ketika mengetahui apa yang telah terjadi pada Hisashi.

__ADS_1


Pria itu hanya menyeka darah yang menempel di kedua sudut bibirnya dengan lengan bajunya lalu berdehem kecil, mengerjapkan kedua matanya pada semua rekan seperjuangan. Hisashi kembali memejamkan mata, berkonsentrasi mencari kembali si pemilik sobekan kain.


"Hampir saja kita dapat menemukan Gadis itu. Tapi sesuatu menghalangi kita..." bisik Adel pada Ferghus yang memiliki rasa jengkel yang sama.


"Kenatt...ambil ponselmu dari saku bajuku. Ponsel itu terus bergetar" tiba-tiba Hisashi menyebut nama Kenatt. Pria itu mengangguk dan segera mengambil ponsel miliknya.


"Pria sialan itu selalu membuat kejutan tak terduga" kekeh Kenatt menarik perhatian semua orang. Kenatt melihat adanya pesan suara muncul di layar ponselnya.


Hey, tidak ada sinyal di tempat itu bukan? Lalu... bagaimana cara Armian mengirim pesan suara tersebut? Lupakan saja... yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan para Reporter dan Kameramen yang masih tersisa. Kenatt memutar pesan suara berdurasi 20 menit tersebut.


Putaran pertama, membuat dahi semua orang berkerut mereka saling menatap satu sama lain mencoba mencerna pesan apa sebenarnya yang sedang ingin Armian sampaikan. Ada banyak suara saling bertumbukan satu sama lain ini sangat membingungkan untuk mereka.


Kenatt merasa ada hal mengganjal dalam hal ini... Armian adalah Agen terbaik yang ia miliki pekerjaannya selalu rapi, dan tidak pernah sekalipun mengecewakan. Kenatt mendesah kecil lalu mencoba memutar kembali pesan suara tersebut. Hal yang sama kembali terulang apa ponselnya rusak?


"Aku menangkap ada beberapa suara yang menarik perhatianku. Sebaiknya kita fokus saja pada ke lima suara itu" tiba-tiba Kenatt mengutarakan pendapatnya.


"Hisashi...kau dengarkan suara sopran, Ferghus dengarkan suara alto, Amarru suara tenor, Adel bas dan aku bariton. Sepakat?" tanya Kenatt meminta kepastian dan di balas anggukan semua orang. Kenatt kembali mengulang pesan suara. Ini melelahkan...mereka harus berulang kali mencoba mencerna apa makna pesan suara tersebut.


"Sorry... Itu tidak ada artinya bagiku. Hanya sampah suara tak berguna. Aku yakin itu" jawab Amarru.


"Terdengar seperti...sebuah lirik lagu, kurasa..." jawab Hisashi mengangkat kedua bahunya tak yakin dengan apa yang ia dengar.


"Aku merasa ada pesan yang terpotong tadi. Ya, pesan itu mengatakan makhluk penghancur, identitas palsu...." jawab Ferghus mencoba mengingat adakah pesan lain yang tak terekam dalam otaknya? Ya, dia sangat yakin tak ada Satu pun kata yang terlewatkan olehnya.


"Menghancurkan Pemerintah, menyabotase Negara, menciptakan generasi baru. Apa maksudnya?!" pekik kecil Adel menegang.


"Negara yang mana? Kau bisa menyebutkannya lebih detail?" tanya Kenatt mulai tertarik dengan potongan Puzzle yang mulai saling terhubung.


"Kau pikir Negara mana yang paling berkuasa di Dunia Mr. Kenatt? Memang ada pihak yang bisa melakukan hal itu pada Negara itu?" jawab Adel menatap tajam.


"Pikirkan lagi kemungkinan lain Miss Adel. Kau pikir mudah, untuk menyabotase Negara Adikuasa? Kau...butuh...banyak hal, untuk mewujudkannya. Ada kalanya untuk mendapatkan sang Raja, kau harus melumpuhkan sang Panglima"


"Bagaimana jika yang ini isi pesan Armian? Artinya, mereka ingin menguasai Negara-negara terlemah di Dunia" kali ini hanya keheningan mereka diam memikirkan apa pun kemungkinan itu.


"Aku hanya mendapatkan beberapa kata yang bermakna, disela banyak kata tanpa makna. Hampho tak sepenuhnya tamat" kata Kenatt mulai mengetuk-ngetuk jemarinya di karpet merah. Mata Adel membelalak sempurna seolah ia tak percaya kasus lama yang telah ia selesaikan ternyata masih belum terselesaikan hingga ke akarnya.


"Hampho?! Organisasi penjual organ manusia? Maksudmu... masih ada anggotanya yang masih hidup?!" geram Adel dengan suara bergetar.


"Aku tidak ingin meyakininya tapi begitulah yang aku dengar barusan. Atau kau ingin diulang sekali lagi? Bagaimana jika kita semua bertukar. Untuk mengetahui kebenarannya?" Kenatt memutuskan dan di setujui bersama.


Ketika mengulang untuk kesekian kalinya, mereka bertukar berulang kali hingga kini mereka terdiam sejenak dalam ketegangan yang semakin mencekam. Rasanya ingin sekali salah satu dari mereka mengatakan bahwa apa yang mereka dengar tidaklah benar. Tapi kenyataan menyatakan kebenaran yang tak diharapkan.


"Tamat riwayat kita..." pekik Ferghus meninju udara.


"Kita pernah lolos dari Marthen Mathias. Kenapa kau merasa kali ini kita akan gagal?" Amarru mengingatkan masa kejayaan mereka.


"Kau tahukan, hanya Marthen Mathias saja, kita sudah kewalahan. Dia mampu mengendalikan makhluk apa pun di tangannya. Bagaimana jika yang kita hadapi ini selevel dengannya?"


"Jangan lupa bahwa ada tiga iblis kuat ada di sini. Di tambah kenyataan bahwa anggota organisasi Hampho juga ada disini" Ferghus menegaskan hal apa saja yang membuatnya khawatir.


"Hmm...perlu kalian garis bawahi bahwa Marthen Mathias tak sepenuhnya Iblis...ia memiliki darah manusia. Kita harus mengetahui lawan macam apa mereka terlebih dahulu sebelum menyerang mereka" Ferghus malah semakin memperkeruh ketegangan.


"Nampaknya musuh kita bukan hanya tiga Nak, masih ada musuh di luar sana yang juga ikut andil dalam kasus ini" lirih Hisashi membuka kedua matanya dengan peluh yang mengucur di atas keningnya.


"Jadi kita harus menumpas yang mana terlebih dahulu? Tenaga kita saja masih kurang ketika harus melawan ketiga Iblis sekaligus. Ini lawannya malah bertambah satu lagi" keluh Adel semakin tak percaya diri.


"Bukankah Nona keras kepala selalu menyukai tantangan? Bahkan mau bergelut dengan maut sekalipun. Oh, ayolah..., kemana rimbanya Adeline Minnaku, Mom?" goda Ferghus sambil menyenggol lengan Adel.


"Ini kasus yang jauh lebih berbahaya dari kasus sebelumnya. Kuharap kalian tidak terlalu sering menganggap remeh makhluk apa pun yang akan muncul setelah ini. Adel, sebelum dimensi ini benar-benar mampu ku hancurkan, buatlah pilihan"


"Kau ingin ikut bersama kami, atau pulang? Ku ingatkan setelah dimensi kosong dapat di hancurkan, apa pun yang ada di sekitarnya akan terperangkap ke dalam Teater kuno ini"

__ADS_1


"Mereka yang terperangkap hanya dapat keluar jika mampu melumpuhkan musuh ke empat. Tentukan pilihanmu sekarang, sebelum terlambat dan menyesalinya" Hisashi menatap tajam ke mata Adel. Gadis itu terdiam sejenak menimbang semua hal yang berkecamuk dalam benaknya.


.


__ADS_2