Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Dokumen Kejutan


__ADS_3

"Tidak ada yang sengaja membiarkanmu terbunuh. Ini semua takdirmu Aditi!! Semenjak kau menjadi manekin kau berubah menjadi seorang pendendam" tandas Daksa merasa kehilangan kembali sosok Aditi.


"Kau pikir mudah menjadi aku? Saat aku berusaha menemukanmu, justru bayangan hitam Suami Istri itu membunuhku dengan keji. Kau tidak tahukan? Bagaimana rasanya terbunuh? Apa kau masih bisa berpikir dengan jernih ketika itu pun, terjadi padamu?!" kata manekin Aditi sambil berjalan mundur menjauh dari Daksa ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Pikirkan saja bagaimana cara kita semua dapat keluar dari tempat ini. Kita bisa hidup tenang setelahnya" balas Daksa mencoba untuk menenangkan manekin Aditi yang terlihat begitu gelisah sekaligus marah pada keadaan.


"Hahaha hidup... tenang? Ya, ketenangan dituai oleh orang yang masih hidup. Lalu bagaimana denganku? Dengan Harry, dengan Darius? Ada yang memikirkan keadaan kami selanjutnya? Huh?"


"Atau kalian ingin menjadi terkenal dengan meliput kami semua ke seluruh Dunia sebagai manekin lilin hidup? Atau kalian ingin mengurung kami di suatu tempat yang sepi dan sempit?! Kalian tidak memikirkan kami!!" pekik Aditi sangat nyaring memekakkan telinga siapa pun manusia yang mendengar.


Deg!!


Mereka semua hanya terdiam mendengar kalimat terakhir Manekin Aditi. Ya, mereka hanya memikirkan keselamatan nyawa mereka, tanpa memikirkan keselamatan rekan mereka yang kini telah berubah menjadi manekin.


"Dimana manekin Wang Xiaohui? Apa kau punya jawabannya? Tiba-tiba suara Eve terdengar membuat semua perhatian tertuju padanya.


"Jika kau begitu merindukan si cerewet Wang, kenapa kau tidak meminta pasangannya untuk kembali masuk ke dalam ruang Teater dan mengecup salah satu manekin yang paling ia sukai?" jawab Manekin Aditi sambil mencari keberadaan Park Mayleen.


"Aku tahu kau...bukan...Aditi Aishwarya. Siapa pun kau, katakan saja apa tujuanmu?" kata Eve menyunggingkan senyuman sinis pada sang Manekin Aditi.


"Hey, apa kepalanya tertimpa sesuatu? Apa dia tidak ingat, aku pernah menceritakan momen dimana hanya Aditi dan Daksa yang tahu. Jika aku bukan Aditi, bagaimana aku bisa dengan mudah mengetahui masa lalu Aditi dan Daksa?" kekeh Manekin Aditi sambil melipat kedua tangannya tepat di bagian atas perutnya.


"Apa yang kau katakan? Kenapa kau memperkeruh keadaan?" bisik Dimitri tapi Eve tak mau peduli.


"Penciptamu, adalah orang-orang di masa laluku. Aku tahu bagaimana mereka luar dan dalam. Jadi katakan saja siapa kau sebenarnya?!" teriak Eve habis kesabaran.


"Kau...tahu siapa yang menciptakan semua manekin? Bagaimana bisa? Bukankah kita belum pernah ke sini sebelumnya?" tanya manekin Aditi dengan wajah yang sangat terkejut dan penuh rasa penasaran.


"Jawab saja apa yang aku tanya!!" gertak Eve.


"Siapa maksudmu? Bagaimana aku bisa mengenal, siapa saja yang menciptakan manekin-manekin lilin?" elak Aditi tak mengerti.


"Kau mengenal mereka...karena kau...ciptaan mereka. Jangan berpura-pura lagi. Apa tujuanmu dan mereka untuk mendekati kami semua ?!"


"Mereka? Aku benar-benar tidak mengerti. Daksa...apa yang terjadi padanya?" tanya manekin Aditi segera merapat di belakang Daksa.


"Sebaiknya kita cari jalan keluar secepatnya. Bukan malah saling menuduh seperti ini" kata Daksa berusaha membatasi jarak antara Manekin Aditi dengan Eve.


"Bayangan hitam Suami Istrilah pencipta para Manekin Lilin. Mereka ingin menciptakan pengganti anak mereka yang mati. Anak mereka yang telah lama mati, bahkan jauh lebih lama dari waktu kematian mereka sendiri. Marioneth..." desis Eve menatap tajam ke arah Manekin Aditi.


Tanpa di duga, Eve berlari ke arah manekin Aditi!! bahkan Daksa dan Dimitri tak kuasa untuk menahan kekuatan Eve saat ini. Eve memukul perut manekin Aditi sekuat tenaga hingga manekin tersebut terpental jauh dari tempatnya berpijak tadi.


"Aditi!!" teriak Daksa panik saat hal itu terjadi. Dimitri, Mamoru dan Valdemar berusaha menahan Eve, untuk tidak kembali menyerang manekin Aditi.


"Daksa!! Bawa pergi Aditi!! Sekarang!!" teriak Valdemar Conrad ketika melihat sang manekin telah diangkat oleh Daksa. Pria itu segera mengangguk lalu berlari membawa Aditi pergi bersamanya diikuti Bianca Concetta di belakangnya.


Daksa dan Bianca terus berlari tanpa arah. Dalam benak mereka, yang penting Aditi selamat dari kejaran Eve.


"Kau tahu di mana kita bisa bersembunyi dari Eve?" tanya Daksa pada manekin dalam gendongannya.


"Kurasa kalian tidak akan menyukainya. Tempat itu sangat tidak terawat"


"Katakan saja!!" bentak Daksa. Mendengar bentakan itu, Manekin Aditi pun memberi petunjuk. Daksa dan Bianca saling memandang satu sama lain ketika melihat tempat yang memang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Dari mana kau tahu ada tempat seperti ini di sini?" tanya Daksa sambil menurunkan Aditi dari gendongannya.


"Harry dan Darius yang pertama kali tak sengaja menemukan tempat ini" kata Aditi sambil membuka ruangan kecil tak terawat itu. Daksa dan Bian ikut memasuki tempat itu dan melihat-lihat sekitar.

__ADS_1


"Kau menemukan petunjuk keberadaan Clamentine di sini?" tanya Bianca membuat Manekin Aditi hanya menggelengkan kepala.


"Kami...tidak bisa membaca" kata Manekin Aditi menunduk lesu.


"Maksudmu?" tanya Daksa mengernyit.


"Ada tulisan yang tidak dapat terbaca oleh kami. Kami tidak paham apa maknanya" tambah Aditi sambil menunjukkan meja kerja usang di hadapan mereka.


Bianca segera berjalan menuju meja usang tersebut lalu membuka satu persatu lacinya dan menemukan kotak besar terbuat dari kaleng. Ia segera mengambil kotak kaleng, mencoba mencari tahu apa isi dari kotak tersebut. Hanya beberapa berkas arsip-arsip usang. Tiba-tiba tangannya berhenti membuka tiap lembar arsip. Bianca menatap penuh tanda tanya ke arah Daksa.


"Kau menemukan sesuatu?" tanya Daksa penasaran. Bianca hanya terdiam sejenak lalu membuka lembaran keempat yang terlewatkan olehnya. Ia menatap foto seorang anak kecil yang mengingatkannya pada seseorang. Daksa segera berjalan mendekat lalu ikut memperhatikan foto anak kecil itu.


"Siapa yang sedang kau pikirkan ketika melihat foto ini?" desis Bianca menatap penuh awas pada foto tersebut.


"Seperti..." kata Daksa menggantung.


"Eve" kata Daksa dan Bianca bersamaan. Mendengar nama Eve di sebut, manekin Aditi ikut mengamati.


"Kau yakin itu Eve kecil? Jika itu benar, kenapa fotonya bisa berada di di sini?" tanya Aditi membuat pertanyaan besar makin bertambah besar.


"Aprille Brodie. Namanya Aprille Brodie, bukan Eve" kata Daksa menggelengkan kepala setelah melihat dengan jelas ada tulisan tangan di pojok kanan foto anak kecil itu. Bianca menatap tulisan tangan yang ditunjuk oleh Daksa. Bianca pun membuka lembaran kelima dan di sana tercetak jelas foto orang yang sangat mereka kenali. Foto Eve!!


Deg!!


Jantung Bianca dan Daksa berpacu dengan cepat ketika menemukan foto Eve di balik lembar foto anak kecil bernama Aprille Brodie.


"Evelina Dushenka...jelas yang ini Eve. Tapi apa maksud dari foto ini? Ah, tulisannya benar-benar sulit di baca" kata Bianca.


Ψυχικό νοσοκομείο Stezurra


Mereka menatap tulisan tak bermakna bagi mereka itu tanpa berkedip.


"Sejak kapan kau berada di situ?" tanya Daksa langsung terlonjak berdiri menjauhi orang tersebut sambil menepuk-nepuk dada berulang kali.


"Aku penasaran ada sebuah pintu yang asing di sini. Hingga aku masuk, dan menemukan kalian yang diam mematung menatapi berkas rumah sakit jiwa itu" jawabnya enteng.


"Dimana Emi, El, Angga, dan Dante? Kenapa mereka tak bersamamu?" Bianca mulai mencari keberadaan ke empat orang itu.


"Kami semua terpisah karena bayangan hitam sialan itu. Jadi, apa boleh aku melihat file apa itu?" tanya Park Mayleen sambil mengulurkan tangan pada Bianca. Daksa mengangguk sambil menatap mantap ke arah Bianca.


"Rumah Sakit Jiwa Stezurra. Pada tanggal 16/05/1997 seorang Gadis kecil asing ditemukan dalam keadaan bersimbah darah, depresi dan ketakutan" Park Mayleen melirik ke arah Bianca lalu kembali berkonsentrasi untuk membaca kembali.


"Pada tanggal 29/07/1997 terungkap identitas Gadis kecil ini. Kantor kepolisian mengenali identitasnya. Nama Gadis itu Margareth Thimoty anak adopsi dari keluarga Thimoty. Keluarganya di temukan tewas dalam pembunuhan berantai"


"Margareth sempat di masukkan dalam sel tahanan anak, namun ia sempat kabur dengan membunuh seluruh kru anggota kepolisian di tempat" kini Park Mayleen mengernyit miris. Ia menatap lekat wajah Gadis kecil dalam foto itu tatapan tak percaya.


Wajah sepolos itu, mampu menghabisi belasan polisi? Tampak mustahil di benaknya.


"Lanjutkan" kata Daksa menepuk bahu Park Mayleen. Gadis itu mengangguk lalu kembali membaca.


"Tanggal 12/10/1997 pasien Margareth kembali datang dengan seorang Wanita yang mengaku sebagai Ibu angkatnya. Margareth Thimoty berganti nama menjadi Aprille Brodie. Mrs. Brodie mengambil alih pengobatan Aprille mulai sekarang.


"Artikel surat kabar Brinkle News mengejutkan kami. 12/10/1998 Aprille Brodie kembali memakan korban. Pasangan Suami Istri itu meninggal dengan wajah yang hancur. Ketika anggota kepolisian dan anggota kami melakukan pencarian, Aprille Brodie lenyap tanpa jejak" kata Park Mayleen menggantungkan kalimat terakhir.


"Hilang? Lalu apa hubungannya dengan Eve? Kenapa ada fotonya di file itu?" tanya Bianca tak mengerti. Park Mayleen hanya mengangkat bahunya lalu berkonsentrasi mengamati apa yang tertera di file yang melampirkan foto Eve.


"Disini dikatakan Eve memiliki ciri yang sama dengan anak bernama Aprille Brodie. Tapi kelainan mental yang dialami Eve tidak sama dengan yang dialami Aprille. Eve mengalami Skizofrenia ditandai oleh halusinasi dan delusi"

__ADS_1


"Sementara Aprille murni kepribadian ganda. Tapi...jika kita lihat garis wajah Gadis kecil ini dengan Eve... mereka tidak sepenuhnya salah, karena wajah Aprille dan Eve sangat mirip" Tambah Park Mayleen.


Bruuuk!!


Sebuah buku tua terjatuh dari dalam lemari tua akibat tak sengaja Daksa menyenggolnya. Daksa segera mengambil buku tersebut lalu ia membuka lembar demi lembar dan membelalakkan mata ketika membaca salah satu lembarnya.


"Ini jurnal milik Ibu angkat Aprille" desis Daksa dengan tangan bergetar. Tanpa permisi Park Mayleen mengambil alih buku tua tersebut lalu membacanya dengan cermat bersama Bianca.


"Laporan hipnoterapy yang dilakukan menjelaskan bahwa Aprille Brodie adalah Evelina Dushenka. laporan terakhir sebelum kematian sang Ibu angkat menjelaskan kepribadian Aprille bertambah dari tiga menjadi empat kepribadian. Dan nama dari kepribadian keempat tersebut adalah...Evelina Dushenka" Park Mayleen menjatuhkan buku jurnal tebal tersebut di atas lantai. Mereka semua jatuh terduduk lemas mengetahui informasi tak terduga.


"Kita harus menyelamatkan yang lainnya dari Gadis sakit itu!!" pekik Bianca memberanikan diri untuk berlari keluar diikuti yang lainnya.


Eve terus memberontak dari cengkeraman Dimitri dan Eithan.


"Kau membebaskan musuh dalam selimut!! Mereka berbahaya!! Lepaskan aku!!" teriak Eve dengan mata nanar.


"Eve!! Tenangkan pikiranmu yang kacau!!" bentak Dimitri makin kuat membelenggu tangan sang Gadis.


"Aku Marioneth... kami pernah bertemu di alam bawah sadarnya. Percayalah padaku, jangan mempercayai para manekin lilin buatan Mom dan Dadku. Pergi dari sini sebelum nyawa kalian menghilang" kata Eve bersungguh-sungguh lalu ia jatuh terkulai lemah.


"Eve!! Bangun!!" Dimitri mengguncang kedua lengan Eve berusaha menyadarkan kembali Gadis itu. Perlahan...kedua mata Eve terbuka lalu menatap kedua mata Dimitri dengan tatapan masih mencerna siapa orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Katakan siapa kamu? Marioneth?" Dimitri ingin memastikan siapa yang kini berada dalam dekapannya.


"Kau bertemu dengannya? Jadi kau percaya Marioneth itu ada?" tatapan mata Eve mulai berbinar ada secercah harapan di kedua bola matanya.


"Itu tidak lucu. Kenapa bermain-main di saat genting seperti ini? Kenapa kau, menyerang Aditi secara tiba-tiba? Dan menuduhnya yang tidak-tidak? Kau kekanak-kanakan" marah Dimitri sambil mengguncangkan kembali kedua lengan Eve.


"Aku? Menyerang Aditi? Untuk apa? Kalian yang menyerangku hingga pingsan duluan. Jangan mengada-ada" kekeh Eve tak percaya.


"Cukup. Bukan waktunya bermain-main. Nyawa kita, dalam bahaya. Mengenai Aditi, memang terkesan mustahil. Tapi apa kau ingat? Jika Aditi bukanlah Aditi yang kita kenal, bagaimana caranya dapat mengenali Daksa?"


"Bahkan... Daksa sendiri berani bersumpah bahwa apa yang dikatakan Aditi, manekin itu, sesuai dengan kenyataan. Aditi dan Daksa memang pernah memiliki masa lalu. Hanya mereka berdualah yang tahu kebenarannya" bisik Dimitri kesal.


"Aku memang tidak percaya bahwa ruh seseorang bisa masuk ke dalam manekin. Tapi aku tidak pernah menyerang siapa pun" jawab Eve membela diri.


"Eve tidak sadar telah melakukannya. Mungkin ini karena ia sudah terlalu lama mengalami tekanan berat. Menurutku kita tidak perlu lagi memperpanjang masalah ini oke, karena masalah kita masih banyak. Ayo kita cari rekan kita yang lain" Mamoru menengahi sambil menepuk bahu Dimitri.


Pria itu mendengus kesal karena apa yang dikatakan Mamoru Nobuo tepat sekali. Eve melirik kesal pada Dimitri ketika menyambut uluran tangan Moru.


Datanglah pada kami...atau Zilky menangkapmu...


Suara bayangan hitam Suami Istri selalu mendengungkan kalimat itu silih berganti...bersahutan sepanjang perjalanan Eve. Si cantik Evelina Dushenka awalnya mengacuhkan setiap kata dari Iblis Suami Istri. Tapi semakin Eve abaikan, maka suara itu semakin keras berdengung di kedua telinganya hingga, Eve berusaha menutup kedua telinga dengan dua tangannya.


Berharap semua akan baik-baik saja. Mamoru Nobuo menyikut perut Dimitri memberi kode tentang keganjilan kelakuan Eve. Spontan Dimitri menghentikan langkah, dan menoleh ke belakang.


Buk!!


"Aw!! Kenapa berhenti tiba-tiba?! Ini sakit" protes Eve mengusap keningnya kesakitan.


"Apa yang kau lakukan sedari tadi? Hanya kau satu-satunya orang, berjalan sambil menutup kedua telinga di sini. Kau bisa menjelaskan pada kami? Aku harap...kali ini ada alasan logis yang kudengar dari mulutmu Eve" kata Dimitri terdengar mengintimidasi.


"Kau tidak akan mempercayaiku. Kau akan menganggapku berhalusinasi lagi. Lupakan saja, dan segera cari jalan keluar" desis Eve malas berdebat kembali. Eve berjalan mendahului mereka tanpa arah. Dimitri berlari kecil lalu menggapai pergelangan tangan Eve membawanya berjalan ke kanan. Eve tidak tinggal diam...ia bersikeras untuk tetap berjalan kearah sebelumnya.


"Ikuti saja aku. Kau tidak akan mampu membimbing kami ke jalan yang benar jika isi otakmu kosong" kata Dimitri menatap lekat kedua mata Eve.


"Ku mohon...pergilah kalian...jangan sia-siakan waktu" kata Eve dengan kedua mata yang mulai memerah.

__ADS_1


"Hey, katakan apa yang terjadi? Kenapa kau bersi keras ingin kami tinggalkan? Siapa yang memaksamu mengatakan itu?" kini Dimitri memeluk Eve erat tahu sebentar lagi tangisannya akan segera pecah.


Eve menahan tangis mati-matian ketika lagi-lagi suara duo Iblis itu semakin memekakkan telinga. Bukan suara tangisan yang Dimitri dengar tapi erangan kesakitan terdengar lirih. Dimitri melepaskan pelukannya, memperhatikan raut wajah Eve yang terlihat sangat kesakitan.


__ADS_2