
"Ya, diluar kepala kami malah. Sekarang biarkan aku makan. Perutku sangat lapar nona" sembur Riche tak kuasa menahan lapar.
"Kita berada di kawasan patung katak itu ayolah!! Sadarlah kalian semua!!" seru Adel mencoba membuat mereka berpikir jernih. Maksud Adel adalah, kenapa di ruang jagal seorang Marthen Mathias alias Lee Than Ming...ada sebuah tempat semakmur dan seindah ini?
"Ayolah...apa kau kira iblis menciptakan ini semua hanya demi menyenangkan perut kita semua?! Huh!! Apa logika kalian kini telah hanyut bersama Danau berkabut? Tetaplah tenang dan jangan makan apa pun yang ada disini. Kita punya persediaan makanan sendiri walaupun tak sebanyak makanan yang kalian lihat disini" keluh Adel cemas.
Ia melepaskan tas Ranselnya yang sengaja ia pinjam dari Rulby untuk membawa bekal makanan berupa biskuit dan air mineral.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan setelah makan" kata Adel membagikan biskuit ke semua orang disana tidak lupa beserta air mineral. Mereka sangat lahap memakan biskuit hingga tak bersisa.
"Jadi maksudmu, patung Katak itu berada di sekitar sini?" tanya Anastasya was-was. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan. Baru saja Ferghus merencanakan sebuah pelarian, tapi ketika kepalanya menoleh ke belakang mencari lorong dinding bebatuan yang seharusnya tidak jauh dari mereka duduk itu, raib tak berbekas.
"Hoy, kemana perginya lorong bebatuan itu? Kenapa sekarang tak nampak?" pekik Ferghus panik.
"Well, seperti dugaanku rupanya. Kita memang sudah direncanakan untuk tidak bisa keluar dari tempat ini. So, mau tak mau kita harus tetap sesegera mungkin mencari keberadaan patung katak tersebut. Apa kalian siap?" tanya Adel di sambut dengan tatapan apa pun maumu.
Mata mereka awalnya berbinar melihat keindahan membentang luas. Keraguan untuk melangkah mendominasi. Ketakutan akan kematian mulai menguar luas.
Deg
Deg
"Pasti ada tempat dimana kita bisa keluar dari sini. Pasti" sahut Ferghus menenangkan diri. Ferghus melangkah menyusuri daerah tak bertuan tersebut diikuti kelompoknya.
Rasanya ingin memaki Adel bagaimanapun juga, jika Gadis itu tidak nekat, mereka tidak akan pernah mengalami hal aneh seperti ini bahkan hidup dengan normal. Tapi Gadis itu tak akan nekat jika Rulby tak menghubunginya. Sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan.
"Kau dengar sesuatu?"
"Ah ya, sepertinya ada orang lain selain kita disini" jawab Kenatt mempertajam pendengarannya.
"Artinya itu bukan manusia..." siul Armian yang mulai berkeringat dingin. Semakin mereka mendekat, suara itu semakin nyaring ya, mereka yakin itu suara air yang mendidih. Sambil mengendap-endap perlahan...mereka menyusup di antara pepohonan.
"Apa benar yang kulihat ini?" desis Armian tak yakin pada penglihatannya.
"Sayangnya aku pun melihat hal yang sama" Riche sangat tegang melihat pemandangan di depan sana. Bagaimana bisa terdapat lautan di dalam perut danau? Bahkan, lautan tersebut merupakan lautan larva yang ombak berasapnya bergulung-gulung begitu ganas!!
"Apa yang akan terjadi jika seseorang terjatuh di dalam sana?" bisik Rulby mengernyit ngeri.
"Miauuuuw...jika itu yang kau inginkan, apa kalian ingin mencobanya?" suara sangat cempreng di atas pohon eak mengagetkan semua orang. Mereka menatap waspada ke atas pohon eak.
Srek
Krusek krusek
Bunyi gemeresik dedaunan pohon eak memberi tahukan bahwa memang ada sesuatu di atas sana. Sebuah ekor gemuk berbulu hitam legam tertangkap mata mereka, bergoyang-goyang ke kana dan kekiri. Pantat kucing berisi menyembul menggeliat lalu melompat salto di atas pohon Eak, hingga kini wajah sangar sang kucing hitam menyapa semua tamu-tamunya.
Sekelompok manusia ltu langsung berdiri memperlihatkan seluruh sosok manusia pengintai di bawah pohon.
"Ayo kita bermain nak, khi khi khi" kikik sang kucing hitam sambil menjentikkan jari.
Thik!!
Tiba-tiba suhu udara di sana sangatlah panas...hingga memunculkan awan hitam berkilat-kilat akibat lautan lava memuai membentuk gumpalan awan panas.
"Selamat menikmati..." kata kucing hitam lalu tiba-tiba menghilang.
"Lari!!" seru Hisashi menyadari bahaya mulai mengancam. Semuanya berlari ke arah berlawanan.
__ADS_1
"Bangkitlah Amarru!!" teriak Hisashi panik hingga pendaran tanda penjuru mata angin kini mulai kembali terpampang jelas di dahi Pria bernama Amarru.
Blink!!
Wuuuuuuusssssshhhhh
Angin sedingin es menerpa tubuh mereka dari depan tapi awan panas terus bergulung-gulung melesat mendekati para manusia.
"Kalian tentukan mati karena hangus terbakar, atau mati karena beku?!" teriak Armian masih sempat bergurau di saat genting bahkan nyawanya dalam bahaya. Semua orang tak menggubris apa kata Pria tersebut mereka tetap fokus berlari dan terus berlari sekencang mungkin.
Shaaaaaaash!!
Krataaaaak kraaaaask!!
Tubuh mereka mulai terasa sangat kedinginan ketika berhasil memasuki daerah yang sangat dingin bahkan bersalju.
Brugh!!
Satu persatu dari mereka langsung tumbang jatuh berdebum di atas es menggigil kedinginan. Mereka pasrah!! Jika ini saatnya mereka mati, tidak akan ada yang dapat dilakukan lagi. Suara es di langit berbenturan dengan suhu super panas membuat salju-salju yang berjatuhan menyublim begitu saja. Bahkan...es yang menahan beban tubuh mereka kini mulai retak!!
Aku Adeline Minna bersaksi...dimana ada per tumbukan antara suhu panas dan suhu dingin. Aku terkapar tak berdaya di sana bersama Ferghus, Armian, Anastasya, Rulby, Riche, dan Kenatt. Kami kedinginan menanti ajal menjemput setidaknya, itulah yang kami rasakan. Kala itu, mataku masih mampu untuk melihat kejadian dimana hujan salju kali ini, tak berjalan dengan mulus karena tiap salju yang akan terbentuk akan langsung menyublim sebelum jatuh ke jalanan berselimut es.
Bahkan telapak tanganku yang mulai mati rasa sedikit demi sedikit, merasakan jalanan es beku tersebut mulai retak. Bunyi apa itu? Aku pun menoleh ke arah sebaliknya dan melihat sosok Hisashi dan Amarru? Mereka sedang apa? Kenapa mereka tetap berdiri di atas es? Kenapa mereka tak terpengaruh? Kenapa? Ah...semilir angin dingin ini membuatku ingin menutup mataku sebentar...saja.
Bolehkah? Apakah bilaku lakukan, aku akan dapat membuka kedua mataku ini kembali? Atau...inikah pemandangan terakhir kalinya? Semua mulai menggelap...dan hening.
Aku Hisashi Kenjiro...terpaksa melawan makhluk keji bernama Lee Than Ming, karena permintaan dari muridku Riche. Aku tak menyangka, bahwa ia adalah sosok Iblis yang kuat, memiliki anak buah para penyihir. Sialnya, salah satu penyihir menjebak kami dengan memunculkan awan panas untuk membinasakan kami semua. Tidak!! Aku tidak akan pernah menyerah untuk tetap terus mempertahankan semua orang-orang yang berada di sisiku.
Maka aku memutuskan mengizinkan Amarru asistenku yang di masa lalu kelamnya telah kuperjuangkan hidupnya, mengeluarkan kekuatan yang selama ini harus disembunyikan. Ya, aku membuat mereka semua tertidur untuk sementara agar mereka tak menyadari kebenaran tentang Amarru.
Aku Ferghus Cloy...merasa menyesal telah melibatkan Kenatt ke dalam masalah kami. Bahkan sekarang, akulah sang pecundang tidak dapat melakukan apa pun terlebih lagi, kini aku terjebak dalam pusaran hitam kelam yang menghisap tubuhku masuk ke dalam. Aneh, aku merasa aku tenggelam di dalam air laut!! Aku berkecipakan berusaha semampuku untuk timbul ke permukaan untuk sekedar bernafas tapi seluruh air laut, membuat isi perutku kembung hingga mendesak paru-paruku.
"Atshuke!! Atshuke!!" teriakan seorang Wanita yang berusaha keras meraih tubuhku dengan berlinang air mata.
"Haha!! Atshuke!!" kini aku mendengar suara seseorang berenang dengan cepat ke arahku. Seseorang mendekapku lalu berjuang membuatku tetap tersadar. Perlahan kubuka mataku dan menatap sosok Pria yang sangat tak asing bagiku hanya saja...sosoknya terlihat jauh lebih muda.
"Atshuke!! Nak, bertahanlah...tetaplah bersama Chichimu. Jangan pergi" katanya menepuk-nepuk pipiku.
Aku hanya dapat menatapnya dengan pandangan yang kian meredup. Masih kurasakan dekapan hangat Pria itu sambil terisak menangis.
Perlahan mata Ferghus terbuka lebar tubuhnya sangat kaku. Nafasnya berderu sangat kencang. Ia tiba-tiba merasakan berangsur-angsur tubuhnya terasa mulai lentur kembali.
Dengan sangat hati-hati ia duduk menatap sekeliling.
"Adel..." kata Ferghus setengah berbisik menatap Gadis yang ia cintai terkapar dengan wajah yang mulai memucat. Tatapannya beralih kearah Hisashi yang tanpa kenal lelah mendengungkan doa sekaligus mantra panjang sementara Amarru dengan raga yang berpendar cerah ia seakan menahan bongkahan es di atasnya agar tidak runtuh. Ia terus menambahkan unsur es ke langit tanpa kenal lelah. Ferghus bangkit dan berjalan ke arah Hisashi.
"Apa kau mengenal seseorang bernama Atshuke? Master Hisashi?" tanya Ferghus serius membuat konsentrasi Hisashi mulai buyar.
"Kau, tapi bagaimana kau bisa terbangun?"
"Apa maksudmu? Kenapa aku tidak boleh bangun saat ini?" tanya Ferghus menuntut jawaban.
"Aaaarrrrrgggh!!" pekik Amarru kesakitan.
"Sebaiknya kita bicarakan setelah semua ini berakhir. Kau mau menolong kami?" tanya Hisashi masih berusaha menyalurkan kekuatannya pada Amarru.
"Seperti apa?" tanya Ferghus yang tersentak kaget mendapati tangan kanan Hisashi berada di atas kepalanya, menyerukan mantra panjang. Ferghus merasakan tubuhnya sangatlah ringan lalu matanya terasa teramat berat!!
__ADS_1
"Sayangnya aku pun melihat hal yang sama" kata Riche yang spontan membuat Ferghus membuka mata.
Apa maksud dari permintaan tolong Hisashi adalah mencegah sang kucing hitam berbuat ulah? Pikir Ferghus. Sementara semua orang terpaku dengan lautan larva, Ferghus menoleh ke belakang tepatnya ke arah pohon eak tempat sang kucing hitam bersembunyi.
Di entakkannya kaki kirinya, hingga ia pun terbang melayang berkat kekuatan Hisashi yang disalurkan ke tubuh Ferghus sebelum memundurkan waktu. Mata Ferghus berkilat-kilat putih lalu dari kedua telapak tangannya, ia menyemburkan es ke tubuh kucing hitam yang bahkan tidak siap sama sekali untuk melawan, karena tertidur pulas.
"Ferghus? Apa yang kau lakukan?" tanya Adel yang bingung mengenai sejak kapan, Ferghus mengetahui ada sesuatu di atas pohon eak itu? Bahkan Pria itu menggapai kucing hitam beku yang langsung dilemparkannya ke dalam lautan Larva!! Semua orang menatap tajam ke arah Ferghus tak mampu berkata apa pun.
"Kenapa bengong? Kalian tidak ingin mencari keberadaan patung kataknya? Atau aku harus mencari benda itu sendiri?" kata Ferghus sambil berjalan mendahului semua orang. Saat semua berjalan, mengikuti langkah Ferghus, Laki-laki itu sengaja memperlambat langkah, hingga yang lain mampu menyusul ia mencari cara untuk mendekati Hisashi.
"Master... Kau mengenal Atshuke? Siapa dia?" tanya Ferghus membuat Pria yang ditanya langsung menghentikan langkah kaki sekaligus menghentikan waktu. Ia menatap lekat wajah Ferghus dengan tatapan penuh kepedihan.
"Dia adalah segalanya bagi kami. Aku dan mendiang Istriku" sahut Hisashi setelah menghela nafas panjang.
"Dimana dia sekarang?"
"Berdampingan dengan Istriku" jawab Hisashi membuat Ferghus merasa bersalah.
"Maksudmu...meninggal?" tanya Ferghus ingin memastikan yang langsung di jawab dengan sebuah anggukan.
"Lalu dari mana kau tahu tentang Atshuke?" Ferghus terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Hisashi.
"Amarru...yang mengatakannya padaku dalam perjalanan" jawab Ferghus mengarang indah. Hisashi mengangkat kedua alisnya tersenyum kecil mendadak waktu kembali berjalan.
"Baiklah jika kau tidak ingin mengatakan padaku tidak masalah. Tapi jangan berbohong nak, itu tidak baik" sambut Hisashi sambil menepuk bahu Ferghus kecil dan berjalan mendahuluinya.
"Ada sesuatu disana!! Menyembul di dalam rimbunan jerami!!" teriak Riche sambil menunjuk ke rimbunan jerami yang dibiarkan teronggok begitu saja di atas tanah.
Hisashi dan Amarru segera berjalan tergopoh-gopoh kearah jerami. Disingkapkannya perlahan jerami itu agar mereka dapat melihat benda yang tersembunyi. patung seekor kodok berwarna hijau teronggok di dalam sebuah lubang tanah besar!! Mulut kodok tersebut menganga lebar, membentuk sebuah gua dengan lidah yang menjulur panjang, sebagai pijakan bagi orang yang ingin memasuki gua.
"Apakah yang dimaksud peta itu adalah...patung ini? Lalu dimana tanda-tanda keberadaan relief penghancuran?" Armian mulai membuka suara sambil memeriksa dinding Gua berwarna hijau lumut.
"Kau pikir kita akan menemukannya dengan mata telanjang? Aku bisa langsung melihat relief itu begitu semua jerami tersingkap. Letaknya ada pada area lidah patung kodok" sambung Ferghus menatap ke bawah tepat pada lidah patung kodok.
"Kau yakin kita akan masuk ke dalam sana?" rengek Anastasya enggan.
"Apa ada pilihan lain?" Ferghus balik bertanya sambil menatap tajam ke arah Anastasya.
"Kita harus secepatnya menangkap Lee Than Ming bagaimanapun caranya" kata Kenatt menggebu-gebu. Maka, semua orang melangkahkan kakinya ke dalam mulut patung katak. Kejadian tak terduga membuat mereka kompak menjerit histeris saat lidah katak itu justru melontarkan mereka ke dalam kerongkongan patung katak.
Brug
Brug brug
Brug brug brug
Brug brug brug
"Aaaaaawwww!!" pekik semua orang merasakan sakit di sekujur tubuh mereka, mengingat mereka jatuh dari ketinggian.
"Pintunya!!" pekik Armian spontan semua orang menatap ke depan. Dihadapan mereka, terdapat seribu pintu yang sangat besar dan begitu megah dilapisi emas.
Ferghus langsung menelan ludah menyadari Glassmate menunjukkan deretan patung-patung mengerikan di balik pintu yang berjumlah kan ratusan.
Pria itu memilih segera melepaskan Glassmate atau dia akan segera muntah saat ini juga karena perutnya langsung bergejolak melihat patung-patung tersebut memiliki dua taring menyembul panjang hingga menyembul keluar dari bibir patung tak hanya itu!! Gigi dan bibir patung berwarna merah darah...licin, dan basah...penuh lendir kemerahan.
Dredeg deg
__ADS_1
"Ayo segera masuk saja, dan kita akhiri semua!!" seru Riche sambil bangkit berdiri.