
"Wanita gila dan Suaminya itu bisa saja membunuh kita kapan pun ia mau. Ayolah Terre...percaya padaku!!" kata Amanda panik.
"Aku lumpuh..."
"A apa? Tapi sebelum kau menghilang, kau sehat-sehat saja" protes Amanda.
"Aku benar-benar tidak bisa berjalan..." kata Terre panik.
Klik!!klik!!
Deg!!
Suara pintu dibuka dari luar. Membuat jantung kedua Gadis itu berdegup semakin kencang.
"Sssstttt" hanya itu yang keluar dari mulut Amanda setelah bersembunyi di bawah tempat tidur Terre, sambil memeluk boneka lilin.
Deg!!
Terre baru menyadari apa yang dipeluk oleh Amanda!! Boneka lilin yang serupa dengan wajahnya!!
"Nak, apa yang kau lakukan di bawah? Kau terjatuh lagi?" tanya Pria paruh baya itu sambil melihat ke sekeliling kamar. Astaga...satu hal yang terlupakan!! Jendela!! Jendelanya terbuka lebar!!
"Marioneth....sayang...apa kau mencoba kabur?" tanya Pria paruh baya tersebut dengan mata melotot.
"Apa?! Siapa yang kabur? Marioneth kita?" tiba-tiba Wanita paruh baya itu menyela muncul dari balik pintu.
"Ti-tidak...aku...merasa...kamar ini sangat pengap...ja-jadi...aku buka saja jendelanya" kata Terre berbohong. Gadis itu langsung dibopong oleh Pria paruh baya dan dibanting dengan kasar ke tempat tidurnya.
"Jangan berani-beraninya kau...keluar dari kamar ini!! Kau milik kami!!" teriak Pria paruh baya sambil menampar Terre keras.
"Jangan!! Kau menyakiti anak kita!!" teriak Wanita paruh baya, melindungi Terre. Dengan gusar Pria paruh baya itu keluar dari kamar.
"Maafkan Dadmu sayang...dia hanya...takut kehilanganmu" katanya sambil mengusap pipi Terre yang lebam. Terlihat Pria paruh baya datang kembali membawa beberapa potong kayu, lalu dipaku hingga jendela itu buntu. Oh...ini buruk...bagaimana bisa Amanda dan Terre keluar?!! Bagaimana caranya!!
Ada hal yang aneh disini...kenapa, Pria paruh baya itu...keluar dengan tergesa-gesa menuju gubuk tua tersebut lagi? Pertanyaan dalam hati Kevin terus berkecamuk berhubung ia membiarkan Amanda masuk ke kamar itu, tanpa pengawasannya lagi. Bagaimana caranya dia bisa terus mengawasi? Ia pun mendengar suara kunci pintu kamar itu dibuka perlahan.
Kevin panik spontan ia lebih memilih sembunyi jauh dari rumah kayu itu dan mengawasi dari jauh. Semoga, Amanda baik-baik saja batinnya. Gawat!! Jendelanya!! Kenapa Kevin seceroboh itu?! Ini akan membuat Amanda dalam bahaya. Pria paruh baya, berdiri diambang jendela mengawasi setiap pergerakan diluar sana. Kevin segera siaga begitu mendengar pintu kayu itu dibuka kembali. Pria paruh baya tersebut, berjalan dengan tergesa-gesa masuk kedalam gubuk reot.
Tak lama kemudian ia membawa beberapa potongan kayu masuk ke dalam rumah kayu.
"Jangan bilang, ia akan menutup jendelanya dengan kayu itu. Ini akan sangat berisiko bagi kami...apa yang harus kulakukan...?" bisik Kevin pada diri sendiri. Benar saja! Pria paruh baya menutup jendela dengan potongan kayu, hingga tak ada lagi celah untuk Kevin mengintip dari luar.
Kevin diam mematung menatap apa yang terjadi. Oh, ini salahnya!! Sekarang, bukan hanya Terre yang harus ia selamatkan!! Amanda juga. Ia pun memutuskan berlari menyusuri hutan hingga menemukan jalan keluar. Ia berlari menuju panti dengan nafas memburu. Kevin harus cepat sampai!! nyawa Terre dan Amanda diujung tanduk.
Sesampainya di panti, Kevin masuk ke dalam lewat jendela kamar Amanda. Ia menyusup masuk kamar Ibu panti lalu berusaha membangunkan sosok Wanita yang sebenarnya tidak dapat tidur itu. Ia hanya memejamkan mata saja dengan masih banyak pikiran di otaknya.
"Mrs. Dominic!! Tolong kami!! Kumohon, bangunlah!!" pekik Kevin panik.
"Kevin? Ada apa?" tanya Dominic setelah duduk diatas tempat tidurnya lalu menyalakan lampu disamping meja.
"Tolong kami!! Terre dan Amanda menghilang di hutan!! Tolong kami!!" pekik Kevin. Seketika Dominic merasa nafasnya terhenti. Ia tercekat, bangun dari tidurnya lalu mengambil nafas dalam-dalam. Ia nyalakan lampu kamarnya, dan tak mendapati Kevin di dalam kamarnya.
Jantungnya berdetak kencang firasat apa ini? Ia segera berlari menuju kamar Kevin tapi anak Laki-laki tersebut tak ada dikamarnya! Tempat tidurnya kosong!! Amanda. Ya!! Dalam mimpinya, Kevin bilang, Amanda ada di dalam hutan bersama Terre. Tergopoh-gopoh Dominic berlari menuju kamar Amanda. Dinyalakan lampu kamar Amanda, lagi-lagi kamar yang tak berpenghuni. Semilir angin sejuk menerpa rambut Dominic melalui jendela kamar Amanda yang terbuka.
Oh Tuhan...apa itu artinya...Amanda dan Kevin kabur?! Mereka...mencari Terre?! Buru-buru ia menuju ruang TV menggapai telepon rumah menghubungi seseorang sambil menangis histeris.
Kevin membuka matanya perlahan, dan mendapati kakinya terikat dengan posisi tubuh yang terbalik! Apa yang terjadi? Otaknya berusaha mengingat kejadian apa, yang terlewatkan olehnya sebelum ia terperangkap? Ia mulai mengingat! Ia berlari menerobos hutan ingin keluar dari sana secepatnya! Tapi naas, kakinya tertusuk benda tajam dan semuanya menjadi gelap dan senyap. Itulah kejadian terakhir kali yang ia ingat.
Rasa perih, nyeri, ngilu, menggerogoti tumit kakinya. Benda tajam tersebut ternyata sejenis pisau kail tajam yang sangat kuat. Kakinya tertusuk kail itu, hingga menancap kuat hingga menusuk ke dalam dagingnya. Darah segar membasahi kakinya.
__ADS_1
"Oh Wow, lihat apa yang kudapatkan? Buruan yang sangat mengejutkan!!" pekik Pria paruh baya berlagak terkejut. Ia menatap buas ke arah Kevin.
"Lepaskan kami. Kumohon"
"Hmm, kau mencari...Terre?" tanya Pria paruh baya sambil mengayunkan ikatan kail itu hingga tubuh Kevin terayun kencang. Ia mengerang kesakitan darahnya semakin deras mengalir.
"Sekarang dia milik kami. Dia Marioneth kami. Dan kau, karena telah lancang memata-matai keluarga kecilku!! Akan kucabut nyawamu! Hahahaha!!" tawa tak berperi kemanusiaan itu menggema di hutan.
Dikamar yang sesak itu, Terre berusaha menghindari Wanita paruh baya. Ia bersikeras ingin menyuntik lagi tubuh Terre.
"Kumohon jangan..." tangis Terre ketakutan tapi tangannya terkunci oleh Wanita paruh baya dan seketika, jarum suntik itu sudah masuk kedalam jaringan kulit Terre.
"Ini vitamin...kau akan segera sembuh dengan suntikan ini..." katanya puas setelah dapat memasukkan cairan pelumpuh ke dalam tubuh Terre. Gadis cilik itu hanya menangis sesenggukan tak berdaya. Ia mulai merasakan panas di kedua kakinya. Perhatian Terre kini tertuju pada pintu kamar yang dibuka dengan sangat kasar. Terre terkejut melihat apa yang ada di atas pundak Pria paruh baya tersebut.
Seseorang dengan luka dikakinya penuh dengan noda darah!! Siapa Pria itu?! Tanpa merasa berdosa dilemparkannya tubuh tak berdaya tersebut ke lantai hingga menimbulkan bunyi berdebum keras.
Kevin!! Batin Amanda yang membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Gadis kecil itu terpaku dengan tubuh gemetaran melihat Kevin terkapar dilantai. Amanda beringsut menjauhi boneka lilin berusaha lebih menyembunyikan keberadaannya.
"Sayang..., apa kau mengenal anak ini?" tanya Pria paruh baya pada Terre yang gemetaran ketakutan sambil menatap Kevin yang ditendang perutnya itu.
"Ti tidak. Kenapa kau menyiksanya?" tanya Terre menuntut jawaban.
"Karena dia telah lancang ingin mencurimu dari kami sayang..." kata Pria paruh baya itu menikmati jeritan kesakitan Kevin akibat nyeri teramat sangat yang ditimbulkan dari tendangan di kaki Kevin yang terluka parah.
"Jangan!! Kumohon jangan!! Kenapa kalian takut dia membawaku? Aku anak kalian bukan? Lalu kenapa kalian takut?" teriak Terre menangis histeris.
"Sayang, jangan membuat Putri kita takut padamu!" teriak Wanita itu pada Suaminya.
"Aku harus melenyapkan anak itu!" Suaminya balik membentak.
"Sisakan satu hari lagi supaya ia bisa merasakan malam terakhir kehidupannya. Anggap ini hadiah untuk Putri kita" rayu Wanita itu sambil tersenyum dengan seringai mengerikan. Wanita tersebut menggeret Suaminya keluar kamar, lalu mengunci pintu kembali.
"Amanda...berjanjilah kau segera lari dari sini setelah aku menahan mereka oke," kata Kevin parau ia lemah karena kehilangan banyak darah.
"Tidak akan. Kita harus pergi dari sini bertiga" kata Amanda sambil menahan tangis.
"Kau yang paling sehat dari kami berdua. Jika kau lari bersama kami, pelarianmu akan terhambat. Jangan membantah" kata Kevin tegas. Pandangan Kevin dan Amanda tertuju pada Terre yang mengerang kesakitan.
"Terre, apa yang terjadi?" tanya Amanda mendekat ke arah Terre yang meremas seprei kuat-kuat.
"Kakiku panas seperti terbakar dari dalam" kata Terre lemah. Ia tak kuat lagi menahan rasa sakit itu dan pingsan.
Dengan tubuh lemah, Kevin mencoba merambat menuju jendela kamar.
"Lempar pisau lipatmu Amanda" bisik Kevin menatap ke arah Amanda. Gadis kecil itu pun menurut. Ia melemparkan pisau lipat tersebut, sambil memperhatikan apa yang dilakukan Kevin. Pria paruh baya sangat ceroboh. Ia meninggalkan satu potongan kayu. Kevin segera meruncingkan kayu itu di kedua sisinya. Ini adalah senjata satu-satunya. Kevin melemparkan kembali pisau lipat itu ke arah Amanda.
"Simpan itu dan gunakan untuk membela dirimu" kata Kevin dengan nafas memburu. Amanda langsung mengambil pisau itu, kembali dimasukkan ke dalam saku celananya dan buru-buru melangkah mendekati Kevin. Suhu tubuh Kevin panas!! Jangan-jangan dia kena infeksi.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Terre ketakutan saat ia mulai mendapatkan kesadaran sepenuhnya..
"Lukanya infeksi, jadi dia sekarang demam" kata Amanda berusaha setenang mungkin.
"Kesempatan kita, hanya pada saat sarapan. Dengar...sebentar lagi fajar datang. Kau harus lari saat itu tiba" Kevin mengatakannya sebelum kehilangan kesadarannya. Fajar? Itu artinya, sebentar lagi 24 jam Terre menghilang!! Semoga Ibu panti mereka, meminta bantuan pada polisi.
Krieeeeeeeeek
Terre dan yang lainnya mendengar suara pintu rumah dibuka saking nyaringnya. Apa Suami Istri itu mau pergi ke suatu tempat? Kevin berusaha menahan sakit dikakinya tapi dia tetap memaksa kakinya untuk bergerak walau sekedar menyeret sedikit demi sedikit.
"Ini kesempatanmu kabur Amanda" kata Kevin sambil berusaha membuka pintu dengan jepit rambut Amanda.
__ADS_1
Klik Klik usaha Kevin membuahkan hasil ia membuka pintu, melihat tiap sudut rumah.
"Amanda, keluar sekarang" perintah Kevin. Amanda dengan enggan melangkahkan kakinya setelah keluar dari kolong tempat tidur. Ia pergi meninggalkan Kevin dan Terre. Saat ia bergerak menuju ruang tamu, ia melihat knop pintu rumah kayu itu diputar dari luar. Segera Amanda bersembunyi di bawah meja kuno besar milik pasangan Suami Istri gila itu.
"Sekarang jangan menahanku lagi untuk menghabisi bocah itu" peringatan itu ditujukan untuk sang Istri.
"Kau jangan melakukan itu dihadapan Marioneth kita. Dia akan semakin menjauhi kita kalau itu terjadi" nasihat sang Istri was-was.
"Kau yang menyuntikkan cairan pelumpuh ke dalam tubuhnya bukan? Kalau kau terus memberinya, dia tidak akan mampu pergi dari kita selamanya!" kata Pria paruh baya mengingatkan.
"Terserah kau saja" kata sang Istri merasa tak punya pilihan lain. Lagi-lagi Amanda harus menutup mulutnya dengan kedua tangan agar keterkejutannya, tidak menimbulkan suara. Cairan pelumpuh? Pantas saja kondisi Terre semakin buruk. Ini tidak boleh dibiarkan! Kevin tak mungkin bisa melindungi Terre.
Suntikan itu tidak boleh berlanjut jangan sampai Terre selamanya tidak dapat berjalan. Saat Suami Istri gila masuk ke dalam kamar Terre, Amanda langsung mengekori keduanya.
Amarah Pria paruh baya semakin menjadi mengetahui pintu kamar Terre dibobol dari dalam. Ia melangkah ke dalam kamar dan menatap nanar pada Terre dan Kevin.
"Berusaha kabur?" kata Pria itu mengangkat kerah baju Kevin kasar. Kevin hanya tertawa mengejek tapi tawa itu segera berubah menjadi ekspresi penuh ketegangan melihat ada Amanda berdiri tepat di belakang pasangan Suami Istri itu.
"Apa ada satu orang lagi yang menyertaimu?" pertanyaan itu membuat Amanda segera berlari entah kemana. Ketegangan Kevin menjelaskan itu lalu Pria paruh baya dengan sigap melihat ke arah belakang.
"Apa kau mulai berhalusinasi tuan? Jelas-jelas aku selalu bisa membobol jendala dan pintumu. Tapi kau, selalu kurang waspada. Bagaimana, kalau aku bisa lari dengannya? Ya, kalau kau tidak melukai kakiku, akan dengan mudah kami lari dari sini" kata Kevin berusaha memanas-manasi Pria paruh baya agar kecurigaannya akan kehadiran Amanda dapat teralihkan.
Tapi keputusannya membuat ia harus kembali merasakan sakit di rahangnya karena Pria paruh baya meninju rahangnya.
"Stop!! Jangan lakukan itu lagi!! Kumohon!!" teriak Terre histeris. Teriakannya justru membuat Pria paruh baya itu semakin menyakiti Kevin dengan menginjak bagian kaki Kevin yang terbalut jaketnya.
"Akan kubereskan dia!" teriak Pria paruh baya lantang dan mengacungkan senapannya ke kepala Kevin. Keadaan semakin mencekam, ketika sebuah pistol pun, sedang diarahkan ke kepala Pria paruh baya itu, yang berhasil membuat sang Pria paruh baya berpikir dua kali untuk menarik pelatuknya.
"Sa-sayang..., apa yang...kau lakukan?" kata Pria paruh baya tersebut, menatap Istrinya yang menodongkan pistol ke arah kepalanya.
"Kau membuat Putriku takut!!" teriak Wanita paruh baya dengan tubuh bergemetaran.
"Ia akan baik-baik saja ditempat tidurnya. Aku hanya ingin membereskan bedebah kecil ini!" bentak sang Suami.
"Dia menangis karenamu!!" kata Istrinya tak mau kalah dalam hal membentak. Tanpa mereka berdua sadari, seseorang telah menusuk leher mereka berdua dengan jarum suntik! Mereka langsung terjatuh ke lantai kayu. Dengan sigap Kevin menendang pistol yang jatuh dari tangan Wanita paruh baya hingga terlempar keluar kamar.
Sementara Kevin menyita senapan Pria paruh baya itu dan menodongkannya ke arah Suami Istri dihadapannya.
"Manda, bantu Terre keluar dari kamar ini! Cepat!!" teriak Kevin segera Amanda membantu Terre berdiri. Dan menuntunnya melewati pasangan Suami Istri itu.
"Aaa!!" teriak Terre ketika tangan sang Istri Mencengkeram kedua pergelangan kakinya. Dengan sigap, Amanda mengeluarkan pisau lipatnya dan mengayunkan ke tangan Wanita paruh baya itu.
"Aaargh!!" teriak Wanita paruh baya sontak membuat sang Suami mengamuk. Ia segera menyerang Kevin, perebutan senapan pun terjadi!! Amanda berusaha menyingkirkan Terre dari jangkauan senapan itu.
Dooooorrrrr!!
Suara menggelegar itu mengejutkan semua pihak. Yang ada di ruangan itu terkesiap seketika. Terre roboh ke lantai kayu bersimbah darah. Wanita paruh baya itu langsung merambat menuju ke arah Terre berteriak dengan histeris.
"Tidak!! Jangan tinggalkan Mom nak!!" teriak Wanita itu sambil membawa Terre ke dalam dekapannya. Saat Amanda hendak menghalau Wanita tersebut, buru-buru Wanita paruh baya mencabut jarum suntik dari lehernya, lalu mengacungkannya dihadapan Amanda. Kevin hanya diam mematung melihat kenyataan pahit itu.
"Kalian membunuh anakku sekali lagi!!" teriak Wanita itu mencengkeram erat tubuh Terre yang melemah.
Brag!!
Bragh!!
Jeglerrrr!!!
Terdengar suara hantaman di pintu rumah kayu pertanda seseorang telah mendobrak paksa pintu hingga roboh. Polisi!! Mereka langsung menyerbu kedua orang gila itu mencoba memisahkan Terre dari cengkeraman sang Wsnita gila.
__ADS_1
"Terre!!" teriakan histeris itu terdengar dari mulut Mrs. Dominic yang langsung memeluk Terre begitu Gadis itu mulai kehilangan kesadaran.