Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 10


__ADS_3

 


Ferghus Cloy, Hisashi, Amarru, Adeline Minna, dan Kenatt berjalan keluar dari ruang bawah tanah.


"Tolong siapkan Heli untuk kami sekarang" kata Ferghus pada Mr Edghar Galliel dengan mimik sangat serius.


"Kalian mau mencari mereka ke mana?" tanyanya kebingungan.


"Kami punya cara tersendiri untuk mengungkapkan keberadaan mereka. Percayakan itu pada kami. Maaf, aku akan ke toilet sebentar" jawab Kenatt sambil berbalik berjalan kearah toilet.


"Kurasa aku juga..."kata Ferghus mengikuti Kenatt.


"Akan ku urus helinya. Permisi" kata Mr.Edghar Galliel masuk kembali ke dalam kantornya.


Di toilet, Kenatt sedang menerima panggilan dari Armian.


"Hey, Mr. Kenatt...apa Anda menyadari sinyal di ponsel Anda?" tanya Armian ingin memastikan dari seberang.


"Ya, apa kau tahu, tempat itu menunjukkan daerah mana?" tanya Kenatt lalu ia berbincang singkat dengan Armian. Setelah membicarakan tempat yang di perkirakan sebagai lokasi menghilangnya para Reporter, Armian pun angkat bicara.


"Berhati-hatilah di sekitar sana Mr. Kenatt...di sana ada daya magnet yang cukup tinggi untuk menjebak pesawat atau kapal mana pun yang melewati. Itu akan mengacaukan titik ordinatnya lalu melumpuhkan kemampuan sistem navigasinya.


"Untuk apa cemas? Ada kau yang pandai menciptakan teknologi canggih bukan?" kekeh Kenatt.


"Jika kami tidak menghubungimu selama satu hari, maka artinya kami dalam bahaya. Kau mengerti apa yang harus kalian lakukan bukan?" tanya Ferghus sambil membuang puntung rokoknya ke dalam bak sampah kecil, yang sebelumnya telah ia padamkan apinya dengan mengalirkan air kran.


Adel menatap kedua sosok Pria yang keluar dari toilet dan bersenda gurau berdua menuju ke arahnya seolah mereka tak merasa menghampiri masalah besar nantinya.


"Armian mengatakan di mana lokasinya dengan baik. Semua akan pergi ke tempat yang tepat" kata Ferghus pada Adel, Hisashi dan Amarru. Mereka semua tersenyum lega sambil berjalan ke halaman R-Nav TV yang luas. 15 menit kemudian heli pribadi R-Nav TV muncul mendarat dengan mulus di halaman.


"Tuan, Nona...silakan, helikopter sudah siap" kata seorang Wanita berplakat nama Sallow. Mereka menyambutnya dengan senyuman dan sebuah anggukan. Adel, Ferghus dan Kenatt duduk di heli pertama sementara Hisashi dan Amarru berada di heli kedua.


Mereka menikmati perjalanannya hingga melihat sebuah pulau yang memang tak ada di peta mana pun.


Mungkin inilah kenapa, pulau itu diberi nama Mr.X-Bone Pulau tak bernama.


"Jadi Mr.Edghar, benarkah Mr.X-Bone adalah salah satu Sponsor terbesar dari Stasiun Televisi Anda?" tanya Adel membuka percakapan.


"Sponsor terbesar kami adalah Mr. Luke High Spencer...bukan Mr.X-Bone. Bahkan beliau masih lajang, bagaimana bisa tiba-tiba beliau memiliki anak? Tapi..."


"Ada yang belum Anda ceritakan pada kami?" Kenatt mulai mencari kebenaran.


"Ya, Mr. Luke High Spencer memang dikabarkan menghilang tapi selalu ada perwakilannya yang menjalankan bisnis dengan pihak kami"


"Mungkin keluarga besarnya yang ingin meneruskan sepak terjang beliau...?" potong Adel hingga Mr.Edghar menatapnya ragu agak lama lalu menatap ke arah kakinya sendiri.


"Itu lebih tidak masuk akal. Semua hal mengenai klien kami, tentu akan selalu kami pelajari. Mr. Luke High Spencer sebatang kara semenjak kanak-kanak. Dia hanya Pria bujang Miliuner" Mr.Edghar memperjelas.


Bzzzzzz


Bzzzzt


"Kurasa komunikasi ki-ta -akan- ter -putus. Sela-mat-bertugas" kata Mr.Edghar menyadari gangguan sinyal pada Video Call di ponsel Adel.


Bzzzzzz


Bats....


"Sedikit lagi kita mendapatkan informasi penting. Tapi tak jadi kita dapatkan karena..." Adel mulai berhenti mengomel lalu menatap pemandangan di luar sana. Langit berkabut tiba-tiba muncul...dan Pilot mulai melakukan pendaratan darurat mengingat petir yang menggelegar kencang, sekaligus kabut yang mengganggu jarak pandang.


Mau tidak mau, mereka tetap harus mendarat dari pada mengalami kecelakaan.


"Jadi, apa ini lokasi yang benar, atau kita masih jauh dari lokasi tujuan kita?" tanya Adel.


"Ponselku mati secara tiba-tiba" bisik Adel pada semua rekannya. Hisashi, Amarru dan Ferghus memeriksa ponsel masing-masing dan mengetahui ponsel mereka senasib dengan ponsel Adel.


"Masih ada harapan. Ponselmu Kenatt..." desis Adel melirik ke tas ransel milik Kenatt. Pria itu segera merogoh tas ranselnya memeriksa kondisi ponselnya.


"Armian memang keren..." decak Kenatt kagum pada ponsel miliknya.


"Tidak ada sinyal di sini itu kenapa semua ponsel kalian mendadak tak berfungsi. Tapi ponsel pintar ini, khusus diciptakan Armian untukku. Lihat. Kita masih tetap bisa menemukan lokasi mereka hanya dengan melihat satu titik ini" kata Kenatt mengoperkan ponselnya pada seluruh rekannya.


"Kau yakin, ponselmu tidak akan menyesatkan kita semua?" sambut Adel meragukan.


"Kau meragukan Polisi Nona Adeline Minna?" tantang Kenatt berbisik di telinga Adel supaya sang Pilot tak mendengarkan apa katanya.


"Oke, mari kita berangkat. Satu menit saja terbuang, bisa saja ada nyawa yang melayang saat itu juga" sambut Adel penuh semangat.


"Belum saatnya. Kau lihat ada petir menyambar di langit? Sebentar lagi hujan lebat. Kita harus menunggu sampai cuaca cerah kembali" kata Ferghus menggeleng tak setuju.


"Guys..., tidakkah kalian merasa aneh, kenapa di daerah pulau seperti ini ada dua waktu?" kata Amarru menatap langit yang sangat jauh dari pandangan mata normal hingga Amarru harus menggunakan teropong agar dapat melihat dengan jelas.


"Tampaknya kau sangat lelah" sahut Ferghus menepuk bahu Amarru.


"Kau lihat saja sendiri dengan teropong ini" jawab Amarru memberikan teropong pada Ferghus dan menunjuk ke daerah yang ia pantau tadi.


"Itu...." gumam Ferghus setelah melihatnya lalu menatap kedua manik mata Amarru ragu. Ia kembali meneropong tempat yang sama.


"Jelas itu bukan karena mendung. Tapi memang ada dua waktu di sini. Ya, aku yakin waktu normal, sekarang Siang hari tapi di sana, justru malam hari" kata Amarru.


"Jadi ada Iblis terkuat berada di sana" gumam Hisashi tersenyum sinis.


"Iblis terkuat?" kata Adel mengerutkan kening.

__ADS_1


"Tiga iblis terkuat ada di sana...itu sebabnya, dua waktu bisa berada di pulau yang serupa, tapi tak sama..." desis Hisashi menatap penuh kewaspadaan.


"Ayolah...bisa berhenti main teka-tekinya? Katakan saja dengan jelas oke," kata Kenatt mulai gerah.


"Jadi suara saat kita masih berada di Stasiun Televisi, yang mengatakan ada 3 pembunuh berdarah dingin itu...maksudnya iblis?" tanya Ferghus pada Hisashi membelalakkan mata. Hisashi hanya mengangguk mantap lalu terdiam segera.


"Guru...kurasa ini hanya ilusi" kata Amarru menatap langit. Hisashi ikut menatap langit dan mulai menutup mata diikuti oleh Amarru. Mereka berkomat kamit membaca doa-doa suci. Kilat menyambar semakin parah!! Ketika ada sebuah kilat hendak menyambar heli, kilat itu bertumbukan dengan sinar putih bersih yang memancar dari kedua manik mata Hisashi dan Amarru.


BledaaAAaaarrr !!


Suara gemuruh dan api yang bertumbukan menggelegar hingga tanah tempat mereka berpijak bergemuruh, bergetar dahsyat sampai-sampai mereka harus saling berpegangan tangan agar tidak jatuh dari helikopter.


"Hahaha ternyata aku sudah cukup tua untuk dapat berdiri kokoh dalam gempa sebesar tadi" kekeh Hisashi disambut pelototan semua orang.


"Usiamu belum mencapai 70 tahun Chichi..." balas Ferghus kesal.


"Ayo...ayo...kita harus ke sana sekarang" kata Hisashi setelah merasa keadaan mulai tenang. Sang Pilot bergegas mulai menyalakan Heli tapi Heli itu mati!!


"Biarkan Heli ini mengantar kita sampai di sini saja. Dia tak akan berfungsi jika tujuan kita hendak ke sarang para Iblis. Sebaiknya kita berjalan kaki saja" kata Hisashi keluar dari heli. Memimpin perjalanan panjang itu.


 


Kim mengerjapkan mata lalu menatap sebuah manekin tampan di dalam pelukannya.


"Apa aku sedang berhalusinasi tadi? Tidak mungkin ada manekin lilin bisa sangat hidup seperti manusia. Aku harus mencari yang lainnya sekarang" gumam Kim berdiri tapi tangan kanannya digenggam oleh benda yang kokoh nan halus. Kim menoleh dan terperanjat manekin tampan itu sedang menggenggam tangannya lalu menoleh kearah Kim dengan senyuman mempesona nya.


"Kau mau kemana?"


"Jadi...kau nyata?"


"Kau meragukanku yang mencoba kembali padamu?" kata manekin tampan itu sangat kecewa.


"Tidak. Aku hanya merasa kalau ini hanya mimpi"


"Kau tidak mau terima kalau aku ini hanya sebuah manekin? Hmm?" tanya Harry mengangkat dagu Kim.


"Aku tidak akan marah. Aku memaklumi keadaanku yang sekarang dapat membuatmu berubah terhadapku" kata Harry tersenyum lesu. Ia menundukkan kepala lalu melepaskan genggamannya dari Kim.


"Jika kau merasa lebih aman dengan mereka...pergilah"


"Aku ingin melihat keadaan yang lainnya. Kau masih mau menemuiku setelah ini bukan?" tanya Kim cemas kehilangan Harry kembali.


"Tentu Honey..." jawab Harry tersenyum simpul. Kim segera berlari keluar dari kamar ganti para pemain Teater lalu turun ke lantai satu. Wajah Kim menegang lalu matanya mulai berkaca-kaca melihat Aditi terbujur kaku di bawah tangga berkubangkan darah. Kim menahan mual mencium bau anyir darah ia segera melewati mayat Aditi dan menemukan kelompoknya kembali.


"Kim!!" pekik yang lainnya senang. Mereka saling berpelukan penuh rasa syukur.


"Harry telah kembali. Dia kembali padaku" kata Kim membuat Haruko melepaskan pelukannya.


"Apa? Kau...telah bertemu dengan Harry? Di mana?" tanya Haruko membelalakkan mata.


"Kami juga kembali. Apa kalian tidak ingin memeluk kami juga?" tiba-tiba suara yang sangat mereka kenal muncul. Dua manekin muncul di hadapan mereka.


Helga dan Haruko saling berpandangan mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Benarkah dua boneka manekin itu hidup? Kenapa seolah mereka mengenal semua orang di sini?


"Stop. Jangan bergerak. Siapa kalian?" kata Haruko waspada. Manekin Perempuan itu berkecak pinggang sementara manekin Prianya menatap Haruko penuh kekecewaan.


"Wujud kami kali ini memang jauh lebih menarik dari wujud asli kami. Tapi bukan berarti kalian akan sangat cepat melupakan keberadaan kami" keluh manekin Perempuan cemberut.


"Kau membawaku pergi ke sebuah pekan raya. Lalu, kau memberiku sebuah liontin singa penuh dengan manik-manik permata berwarna biru. Salah satu dari kalian...memintaku untuk menjalin hubungan pertunangan dengannya. Kurasa aku tidak perlu menyebutkan siapa namanya" kata manekin itu kesal.


"Kau...Aditi?!" pekik Daksa tak percaya.


"Kalau kau Aditi berarti dia...Darius?" tanya Berte antara iya dan tidak.


"Wow, tebakanmu benar Berte" sambut sang manekin Pria. Ketika Berte dan Daksa hendak menghambur pada kedua manekin itu, lagi-lagi Haruko menghalangi.


"Kalau begitu, siapa kedua manekin di belakangmu Darius?" tanya Haruko menunjuk ke arah kedua boneka manekin hidup lainnya.


"Baiklah, jika salah satunya adalah Harry, lalu siapa yang di sebelahnya?" tanya Putri melirik pada Kimmy.


"Bukan!! Aku pernah melihat manekin Harry " tandas Haruko dan Kimmy bersamaan. Manekin yang mengaku sebagai Darius dan Aditi menoleh ke belakang menatap dua manekin Pria yang sedang menatap keduanya.


"Hay, apa kabar semuanya?" sapa salah satu manekin yang senantiasa diawasi Haruko dan Kim.


"Apa kalian belum memberitahu tentang siapa kami pada mereka semua?" tanya manekin yang satunya menatap jahil pada kedua manekin Aditi dan Darius.


Entah kenapa, manekin Aditi dan Darius menatap kedua manekin asing dengan garang. Seolah mereka sedang diganggu. Manekin Darius dan Aditi mengatakan sesuatu pada dua manekin lainnya. Mereka saling memekik, saling memaki. Salah satu manekin yang menggoda Aditi dan Darius terkekeh setelah mata manekin Aditi dan Darius bersinar terang!! Seolah tak mau kalah, dua manekin lain ikut menunjukkan kilau cahaya mata mereka.


"Mereka sedang bertengkar?" tanya Putri berbisik pada Angga. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya masih serius memperhatikan tingkah laku para manekin.


"Kurasa mereka sedang berdiskusi tentang kita. Kenapa perasaanku jadi...tidak enak ya?" balas Angga sambil mengusap-usap tengkuknya.


Meskipun semua orang tidak dapat mengerti arti bahasa mereka, tapi apa pun yang mereka bahas, nadanya mengindikasikan terdapat nada permusuhan. Mereka berempat menoleh bersamaan kearah para makhluk pemilik detak jantung yang senantiasa berdetak setiap waktunya Yeah, selama mereka masih bernafas artinya mereka manusia. Tapi jika mereka mati, manekin menyebut mereka... bangkai.


Manekin Aditi dan Darius saling berpandangan lalu menatap tegas pada kedua manekin lainnya.


"Mereka saksi kunci dimana sang Putri Mr.X-Bone berada. Itu kata mereka. Tapi kami belum sepenuhnya percaya pada mereka" kata Aditi ketus.


"Sopanlah pada kami Nona..., perkenalkan semua, aku Phinnote dan dia Charles. Kami adalah teman sang Putri yang hilang" kata manekin yang mengaku sebagai Phinnote tersenyum penuh percaya diri.


"Katakan padaku, siapa nama Putri itu?" tanya Val mengerutkan kening.


"Clamentine...." desis Charles tidak senang.

__ADS_1


"Jadi, Tuan Charles, di mana sang Putri berada?" tanya Val sangat tenang meski ia sangat takut dengan sorot mata tajam milik Charles. Pria itu...tampak sangat nyata dan keji...perhatian mereka tertuju pada suara yang muncul secara tiba-tiba. Suara seorang Pria bersiul sangat nyaring.


"Itu dia...cepat sembunyi!!" pekik Aditi ketakutan lalu berlari bersama manekin lainnya.


" Hey!! Siapa maksud kalian?!" teriak Val tapi mereka sudah menghilang begitu saja.


"Luar biasa...cepat sekali mereka berlari?" kata El berdecak kagum.


"Jadi kita harus bagaimana? Ikut bersembunyi, atau tidak?" tanya Alie panik mendengar suara siulan itu semakin mendekat.


"Kita tetap disini" kata Eve tegas membuat semua orang ternganga tak percaya.


"Kau yakin? Suaranya...semakin mendekat" bisik Berte menepuk bahu Eve.


"Ya, kita tidak mungkin lagi bisa lari. Suara siulan itu, menjelaskan betapa cepatnya makhluk tersebut mendatangi kita. Jika ia mau" kata Eve dengan detak jantung tak beraturan.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Eve kenapa ia malah meminta semua orang menuruti kata-katanya untuk tetap berdiam diri saja. Padahal ia juga tak dapat mempercayai apa pun di sana. Ya, apa pun bisa terjadi, siapa pun bisa berkhianat, lalu siapa yang dapat ia percaya selain makhluk yang menolongnya barusan?


Deg!!


Suara siulan itu terhenti seketika. Semua orang memilih berkumpul tanpa sedikitpun jarak di antara mereka.


"Aku tahu itu kau. Kenapa kau tak memperkenalkan dirimu pada teman-temanku?" tawar Eve. Lagi-lagi tak ada jawaban tapi ia dapat merasakan deruan nafas seseorang yang menerpa wajahnya.


Aku...hanya...membutuhkanmu bukan mereka. Kau yang akan kupertahankan... Seseorang berbisik ditelinga Eve.


Gadis itu terkejut bukan main ia terlonjak seketika.


"Kenapa hanya aku? Kau belum menjawab" desis Eve membuat semua orang menatapnya keheranan. Bian hendak membuka suara tapi Dimi memberi isyarat untuk diam.


"Kau yang aku tunggu. Kau juga...yang mereka tunggu. Hidup butuh pengorbanan bukan? Biarkan mereka menjadi korban" kata sosok Pria yang sangat ia kenal. Ya, Pria yang menyelamatkan dirinya dan Dimi. Eve menatap sekeliling dan ia berdecak kesal melihat makhluk itu telah menghentikan waktu.


"Aku tidak ingin mereka berkorban hanya untukku. Biarkan mereka hidup!!" teriak Eve marah besar.


"Kau tidak pernah berubah...kau tetap orang yang sama rupanya" kekeh Pria itu sambil menatap nanar pada Eve. Mata keduanya bertemu dan Eve merasa tubuhnya terhisap ke dalam mata kelam sang hantu.


Eve merasa tubuhnya sangat lemas tapi sayup-sayup ia mendengar suara seseorang sedang membangunkannya.


"Honey, kau baik-baik saja? Kenapa kau tidur disini?" sapa seorang Wanita yang senyumannya seolah sangat dirindukan Eve. Gadis itu mengerjapkan mata, menegakkan tubuhnya lalu melihat sekitar. Ini...di sekolah? Dia di ruang kelas?


"Siapa Anda?"


"Hmm? Kau tak mengenaliku? Kau sudah tidur terlalu lama rupanya sampai-sampai kau, tidak mengenali Mommu sendiri," kata Wanita itu tersenyum sedih. Mata Eve membulat. Apa yang Wanita ini katakan? Jelas-jelas ia hanya punya satu Ibu. Ah, inilah mimpi...segalanya bisa terjadi bukan?


"Kau...Mom?" kata Eve bingung.


"Tapi aku hanya punya satu Mom," kata Eve bingung harus bersikap bagaimana.


"Tentu, kau hanya dilahirkan oleh seorang Wanita saja. Tapi apa kau benar-benar lupa? Panti asuhan...siapa yang mengasuhmu?" tanya Wanita tersebut sambil membelai rambut Eve. Gadis itu berusaha mengingat bahkan, ia menatap pada cermin tak jauh dari mereka berada. Wajahnya, bukanlah wajah Eve yang sekarang. Itu...wajah Eve dimasa kanak-kanak.


"Kau mengasuhku? Mom angkatku?" tanya Eve tak percaya disambut dengan anggukan antusias Wanita yang mengaku sebagai Ibu angkatnya.


"Jadi, sekarang aku siapa?" tanya Eve bingung disambut kekehan kecil Wanita cantik di hadapannya.


"A........." Wanita itu sedang membuka suara menyebut satu huruf, tapi kata-katanya tergantung begitu saja, ketika lagi-lagi Eve merasa tubuhnya terhisap ke dalam mulut sang Wanita.


Bruk!!


"Eve!!" teriak semua orang yang tiba-tiba melihat Gadis itu jatuh terkapar di lantai tak sadarkan diri. Suara siulan tersebut kembali bergaung di setiap sudut gedung Teater membuat bulu kuduk semua orang di sana meremang seketika. Anehnya, suara siulannya pergi menjauh dari jangkauan mereka.


"Eve!! Kau mendengar kami? Ayo bangun" kata Dimi mencoba membangunkan Eve tapi tepukan kedua tangan di kedua pipi Eve, sama sekali tak membuahkan hasil. Kini muncul suara kekehan Wanita dan Pria memenuhi seluruh gedung Teater.


"Maafkan aku untuk ini" desis Park, membuka botol air mineral lalu melontarkan air mineral itu tepat ke wajah Eve begitu saja. Gadis malang itu langsung terbatuk-batuk gelagapan.


"Lari!!" perintah Dimi menarik tangan Eve hingga Eve berdiri tegak. Belum sempat ia mengatur ritme nafas, ia sudah harus berlari entah kemana dilarikan oleh Dimi.


"Eve!!" teriak Emi melihat kedua bayangan menyatu lalu membesar ingin menangkap bayangan Eve!!


"Kyaaaaaa!!" teriak Eve terseret oleh bayangan maha besar hingga kaitan tangan antara dirinya dan Dimitri terlepas begitu saja. Semua orang menghambur hendak berlari kesatu titik di mana Eve adalah pusatnya tapi derap langkah mereka berakhir ketika sebuah kekuatan melontarkan mereka semua hingga terlempar membentur dinding.


Bugh!!


"Tidak!! Jangan sakiti mereka!!" pekik Eve ketakutan. Eve terus terseret menuju ruang ganti para pemain Teater. Ia terguling hingga membentur kaca besar.


Brugh!!


Kretaaaaaak!! Sial...kacanya mulai retak. Tapi retakan kaca itu tiba-tiba kembali seperti semula seolah tidak pernah terjadi benturan sedikitpun. Tubuh Eve seperti sedang ditekan lebih kuat hingga mengimpit kaca. Ia tak mampu berkutik.


Debum!!


Sebuah suara berdebam keras sebelum, bayangan yang kini mulai sedikit mengecil itu dapat menyentuh wajah Eve.


Hks...hkkk...


Lepaskan Istriku!! Amuk bayangan yang satunya.


Bugh!!


Makhluk hitam legam yang juga sebuah bayangan itu menyerang, bayangan yang menyelamatkan Eve. Merasa Eve kembali terancam, bayangan itu mengubah dirinya menjadi sosok manusia.


Lepaskan juga milikku!! Gertak Pria hantu itu menatap murka pada kedua bayangan Suami Istri.


Kau, bukan siapa-siapa untuknya!! Kami berhak atasnya!! Teriak sang bayangan Istri tak mau kalah.

__ADS_1


Tapi dia telah menjadi milikku bahkan setelah ia terlahir ke dunia...desis Pria itu dengan mata berkilat.


__ADS_2