Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Teror Mencekam


__ADS_3

Debuman suara sepatu terdengar serempak di lantai menambah ketegangan di malam ini. Mereka telah kehilangan keinginan tidur dan memilih untuk keluar dari dalam Teater. Tapi tidak dengan Dimi. Langkah kakinya tertahan seolah ingin tetap berada di dalamnya. Ia berbalik arah hanya untuk satu tujuan!! Menemukan keberadaan Eve!!


Angga dan El mengetahui Dimi memutar haluan hingga mereka juga terpaksa berputar.


"Hey!! Apa yang kalian lakukan!! Kembali!!" teriak Darius tak mengerti. Iya, salah satu dari mereka ada yang diculik, masalahnya adalah, untuk menemukan Eve, butuh strategi khusus, bagaimanapun juga, mereka akan menghadapi makhluk tak kasat mata. Ini sangat merepotkan. Darius kini tertegun dalam diam otaknya berpikir keras kenapa Dimi melakukan hal itu.


"Dimi benar Darius. Dia harus menemukan rekannya, agar dapat pulang dengan selamat dari pulau terkutuk ini. Dari awal, kita telah ditempatkan sebagai tim, sehingga jika salah satu ada yang mati, yang lainnya akan ikut mati perlahan disini" kata Kim dengan mata berkaca-kaca.


"Maksudmu?"


"Password. Apa kau belum sadar juga untuk dapat berkomunikasi dengan Mr.X-Bone atau mengirim SOS kepadanya, dibutuhkan password" jawab Kim sangat tenang.


"Kalau begitu, cukup jaga tim masing-masing saja. Untuk apa sok pahlawan begitu? Dari pada nyawa melayang percuma, jika tim kita tidak dalam bahaya, diam saja, biarkan yang dalam bahaya berjuang sendiri" kata Wang ketus.


"Kalau tidak bisa bicara yang baik-baik, sebaiknya kau diam saja Wang!!" bentak Park merasa rekannya super egois kali ini.


SsssssSsssSS


Yang tersisa hanya mampu menahan nafas seketika mendengar suara desisan ular. Tiga ular Sanca meliak liuk akan menuju kearah pintu masuk gedung Teater. Ingin sekali mereka berlari, tapi rasa takut dalam hati mereka lebih besar hingga seluruh tubuh mereka tak mampu bergeming.


SsssssSsssSS...


Desisan ular kian mendekat saja tapi tubuh mereka tetap terasa sangat kaku.


Brusssssh...


Lagi-lagi hujan mengguyur membuat mereka sadar dalam bahaya, tubuh mereka akhirnya mampu untuk bergerak dan segera menghambur berlari masuk kembali ke dalam gedung Teater dan menutupnya rapat-rapat.


"Sebaiknya kita mencari kemana Dimi, Angga dan El berada" bisik Helga pada semua orang.


"Jangan!! Disini saja. Kita tidak tahu apa yang akan menghadang kita di depan sana" kata Wang dengan wajah pucat.


"Semakin banyak jumlah kita, akan semakin menguntungkan kita semua. Jadi diam dan ikuti kami atau kau mau tetap disini sendirian, menunggu ular-ular itu berhasil masuk ke dalam, dan memakanmu bulat-bulat" kata Park memimpin pencarian keberadaan Angga, Dimi dan El.


Dua buah Helikopter mendarat dihalaman depan R-Nav TV. Muncullah seorang Wanita dan seorang Pria dari dalam heli pertama, lalu muncul 3 orang Pria dari heli kedua. Mereka semua disambut oleh seorang Wanita, lalu dipersilahkan masuk ke dalam.


Tok


Tok


Sebuah ketukan di pintu ruang kerja seorang Presiden Direktur membuat sang pemilik ruangan menghentikan kegiatannya membaca sebuah dokumen penting dari map berwarna biru muda.


"Masuk" sesuai perintah sang Presiden Direktur, seorang Wanita modis membuka pintunya dengan raut wajah serius.


"Reporter dan Kru Wonders Of The World telah tiba Mr. Edghar Galliel" katanya.


"Persilahkan mereka masuk" sambut sang Presiden Direktur mempersilahkan. Maka, masuklah Ferghus, Adel, Kenatt, Hisashi, dan Amarru.


"Perkenalkan, saya Adeline Minna, ini rekan saya Ferghus Cloy, ini kru-kru kami, Kenatt Anderson, Hisashi dan Amarru" kata Adel basa-basi memperkenalkan diri sambil menawarkan jabatan tangan.


"Saya Edghar Galliel terima kasih sudah memenuhi panggilan R-Nav TV. Ada masalah di sini. Stasiun TV kami, dibajak oleh seorang Pria bernama Mr.X-Bone ia mengatas namakan kami, untuk mengundang seluruh Reporter dunia guna meliput pulau tak bernama"


"Masalahnya adalah, sepertinya ia adalah orang berpengaruh dan sangat licin untuk dilacak. Tidak ada barang sedikitpun, petunjuk mengenai keberadaan para Reporter yang telah terpilih"


"Bagaimana dengan Reporter yang tidak terpilih? Apa kami bisa mewawancarai mereka semua?" potong Ferghus tak sabar menanti.


"Kami semua melihat, para Reporter yang tak terpilih, hanya mengatakan mereka sedang bermain game, sebagai sebuah tes dan mereka dinyatakan tidak lulus saat permainan telah selesai. Anehnya, ketika kami bertanya permainan apa yang mereka mainkan, tidak ada yang dapat menjawab seolah pikiran mereka kosong"


"Ah, ada satu orang yang sangat antusias untuk menjawab pertanyaan kami, tapi dia hanya berkata sebuah game antara hidup dan mati lalu dia berteriak kencang, menyerang Satpam kami, mengambil alih pistolnya lalu menembak dirinya tepat di pelipisnya. Beberapa staf kami sangat terguncang saat itu terjadi"


"Hanya dia yang mau menjawab?" tanya Kenatt seraya menaikkan kedua alisnya tak percaya.


"Anda yakin Mr.Edghar Galliel?" tanya Kenatt menekankan pada kalimat pertama. Mr. Edghar mengangguk penuh keyakinan.


"Kenapa Anda tidak melaporkan ini pada kepolisian? Bukankah ini sudah menjadi keahlian mereka?" tandas Kenatt menatap tajam ke arah Edghar.


"Telah berulang kali ini terjadi dan kami tidak pernah menunjukkannya pada Media demi reputasi R-NAV TV. Karena itu dulu pun kami menggunakan jasa kepolisian untuk menyelidiki kasus pembajakan dan penculikan ini tapi mereka menyerah. Lalu kami melihat kemampuan timmu Mr. Kenatt, hingga kami memutuskan untuk meminta kerja sama dengan pihak kami" kata Edghar Galliel sangat santai.


"Apa semua Reporter yang tidak terpilih sudah dipulangkan ke negaranya masing-masing?" tanya Ferghus ingin memastikan nasib para tak terpilih itu.


"Karena insiden bunuh diri, mereka terpaksa kami karantina selama dua hari ini. Mereka panik dengan otak yang kosong. Bagaimana kami bisa dengan tenang memulangkan mereka semua? Reputasi kami bisa tercoreng" balas Edghar kehilangan ketenangannya kali ini.


"Bisa kami melihat keadaan mereka? Ini demi kelancaran investigasi kami. Jika itu memungkinkan" desak Adel yang dijawab dengan anggukan Edghar. Pria itu mengantarkan mereka ke suatu tempat yang berada di ruang bawah tanah.


"Um maaf Mr.Edghar, apa Anda bisa menjelaskan, untuk apa ruang bawah tanah ini dibangun?" tanya Adel penasaran sangat jarang, ada Stasiun TV membangun ruang bawah tanah kecuali untuk lahan parkir.


"Untuk produksi film. Tapi selama dua hari ini, ruangan ini digunakan sebagai tempat karantina" Edghar menjelaskan. Seorang Dokter keluar dari ruangan tertutup di hadapan mereka, dan berjabat tangan dengan Mr.Edghar Galliel dan Kru Wonders Of The World.


"Dokter Stinkie, bisa kami bertemu dengan pasien?" tanya Kenatt tanpa basa-basi.


"Silakan" kata sang Dokter membukakan pintu untuk mereka semua.


"Dokter!!" teriakan seseorang membuat sang Dokter segera berlari masuk ke dalam diikuti kru Adel juga Mr.Edghar Galliel. Semua pasien berteriak histeris lalu terlihat lubang hidung dan telinga mereka berdarah secara serempak.


"Dokter!! Mereka histeris lagi!!" teriak salah satu Perawat dengan kepanikan luar biasa itu juga terpancar dari wajah Perawat yang lainnya meski, tanpa bicara sedikitpun. Sang Dokter meminta bantuan dari Ferghus dan Amarru memegang salah satu pasiennya agar Dokter bisa memeriksa dengan mudah. Setelah pemeriksaan, sang pasien langsung jatuh terkapar disertai dengan terkaparnya pasien-pasien lainnya.


"Apa yang sedang terjadi?" desis Adel dengan suara bergetar.


"Mereka tidak tertolong lagi" desis sang Dokter disambut ekspresi kaget luar biasa.


"Tapi...ada apa? Bagaimana itu bisa terjadi?!" pekik Kenatt tak percaya.


"Maaf, kami harus menyelidiki penyebab kematian pasien segera. Mr.Edghar...tolong bawa mereka keluar sebentar" kata sang Dokter dijawab anggukan tegas Edghar.

__ADS_1


Tik


Tak


Tik


Tak


Sudah 2 jam lebih mereka menunggu kepastian penyebab kematian dari para Reporter dan Kameramen tak terpilih tapi tak kunjung didapat. Adel sangat gelisah tapi mulai merasakan ketenangan, saat sang Dokter muncul dari balik pintu.


"Masuklah semua" kata Dokter dengan raut wajah kacau sangat kacau.


"Semua pasien, memiliki kasus yang sama. Entah kenapa bisa dengan tiba-tiba, pembuluh otak mereka pecah dalam waktu bersamaan. Ini sulit dipercaya, tapi...itulah kenyataannya" kata sang Dokter menghela nafas marah pada keadaan.


"Kenapa Anda tidak mengetahui adanya gejala? Bukankah setiap penyakit akan menampakkan gejalanya dalam beberapa waktu?!" marah Mr.Edghar murka. Bagaimana caranya ia memulangkan para Reporter dan Kameramen kepada keluarganya dalam keadaan tak bernyawa seperti ini?


"Sebelumnya hingga tadi saya tinggal, mereka tak menunjukkan gejala apa pun yang mengarah kesana. Tidak ada keluhan apa pun, dan mereka terlihat sangat sehat saat kami mengadakan pemeriksaan menyeluruh pada mereka semua" kata Dokter membela diri bahkan para Perawat pun memberikan kesaksian yang sama.


"Pembunuhan berencana...ini bukan kasus biasa. Ada pihak yang ingin mereka tak membocorkan rahasia sampai kedalam kubur" desis Hisashi membuat semua perhatian tertuju padanya.


"Itu tidak masuk akal. Mereka semua dalam pengawasan kami 24 jam. Jika ada yang memberikan sejenis racun hingga mampu membuat pembuluh otak mereka pecah, maka, pasti ada orang dalam di balik kejadian ini" kata Dokter tidak terima karena itu artinya, bisa saja ia dianggap terlibat dalam pembunuhan berencana tersebut.


"Mustahil ada yang meracuni semua orang ini Dokter. Pemeriksaan kesehatan, dijalankan tidak terlalu lama dari jam kematian mereka. Hasil tes kesehatan mereka menyatakan mereka semua dalam keadaan prima meski ini terasa aneh, karena melihat kondisi mental mereka yang kosong, jelas mengindikasikan mereka tidak dalam keadaan baik" sang Perawat angkat bicara.


"Mereka dianggap sehat, meski mental mereka dalam keadaan diluar batas wajar? Begitu?" gumam Kenatt mengusap dagunya dengan dahi berkerut.


"Bagaimana caranya kita menemukan orang-orang terpilih jika tidak ada petunjuk sedikitpun" gumam Adel tak tahu lagi harus berkata apa.


"Tunggu. Ada data, dimana seharusnya masih ada...satu lagi pasien, tapi kami tidak dapat menemukannya di mana pun" kata sang Dokter sambil berlari ke tempat semua data pasiennya tersimpan.


"Douglas Stuard. Namanya Douglas Stuard" kata Dokter penuh keyakinan.


Bip!!


Bip!! Bip!!


Bip!!


Suara sinyal dari monitor layar datar sebesar ponsel Android di dalam saku celana Kenatt menuai perhatian semua orang.


Siapa pun!! Tolong mereka!! Tiga pembunuh berdarah dingin sedang mengincar mereka semua!! Seseorang!! Dengarkan aku!! Pekikan itu membuat Ferghus dan Hisashi terperanjat. Keduanya saling berpandangan.


"Kau dengar itu? Chichi?" tanya Ferghus menatap ragu pada Hisashi.


"Kita punya petunjuk" kekeh Hisashi sambil mengerling pada Ferghus Cloy.


Mereka terus berlari dan berlari akhirnya mereka menemukan keberadaan Dimi, Angga dan El.


"Sudah tahu dimana Eve berada?" tanya Haruko cemas.


"Di dalam dan di luar sama berbahayanya bagi kita semua. Di luar ada tiga ekor ular sanca siap melahap kita semua kapan pun" bisik Wang dengan pucat.


SsssssSsssSS


Pendengaran mereka kembali menangkap suara desisan ular. Mereka menoleh ke sana ke mari mencari asal suara yang menyebar.


Dua bayangan di pojok pintu Teater saling berhadapan satu sama lain menoleh ke arah semua manusia yang berkumpul bagaikan kambing gembala.


Mereka menyeringai terbang meluncur kearah para manusia yang mulai menegang. Kurang beberapa jengkal lagi, mereka sebenarnya sudah dapat tertangkap tapi entah kenapa, dua bayangan itu tiba-tiba berhenti. Mereka saling menoleh menatap satu sama lain dan kekehan mereka menggema di seluruh ruangan.


Mereka saling mendekat...lalu menyatu!! Bianca Concetta memekik panik ketika penyatuan dua bayangan tersebut mampu memperbesar ukuran, lalu menjelma menjadi...tiga ular sanca.


Terlambat bagi mereka semua untuk menjangkau pintu keluar karena mereka harus melewati ular sanca jadi-jadian untuk bisa melarikan diri. Ketiga ular sanca melata dengan gesit mengejar semua orang hingga para manusia yang awalnya berkelompok, menjadi terpecah belah. Kimmy Pier berlari menaiki lantai 2.


Ia berlari dan bersembunyi di ruang Teater Barley. Ia bersembunyi di balik tirai merah darah panggung Teater berharap tak ada apa pun yang dapat menemukan keberadaannya. Tapi ia salah...ada sesuatu, yang bergerak di balik panggung Teater. Suara langkah kaki tak biasa berjalan semakin dekat dengan tempat Kim berada.


Tek klek....!!


Tek klek....!!


Klek!! klek...!!


Kumohon kalian jangan berhenti menghela nafas...langkah itu kini terhenti secara spontan begitu suara lain muncul juga.


Cekleeeeek


Krieeeeek....


Kim menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mulai mengering.


Blaaaam!!


Ckliiik!!


Seseorang membanting kasar pintu Teater Barley.


Tap... Tap.. Tap...


Suara kaki berlarian mencari tempat persembunyian. Itu...Darius Crawford ia terlihat kalang kabut mencari tempat persembunyian yang tepat untuknya. Saat Kim akan berteriak memanggil Darius,


Bang!!


WusssssssSSSsssss.....

__ADS_1


Suara benturan di pintu menandakan ada sesuatu yang menabrak sekaligus menembus pintu Teater Barley. Angin berhembus kuat saat sebuah bayangan datang menembus pintu.


Datanglah padaku sebelum kalian benar-benar kumusnahkan...kekeh bayangan itu sambil mendarat di karpet merah. Suara Wanita tengah baya.


Tap


Tap


Tap


Tiap langkah kaki bayangan, meninggalkan jejak hitam cap kaki layaknya jeli hitam kenyal yang lengket menjijikkan.


Retetetet....


Ah, sial!! Angin yang dihasilkan sang bayangan hitam membuat tempat persembunyian Kim tersibak dan menimbulkan suara nyaring!! Spontan bayangan hitam itu menoleh ke arah tempat persembunyian Kim. Bayangan itu melihat bayangan Kim bahkan sempat melihat kaki Kim karena tirai panggung Teater sempat tersibak dalam beberapa detik saja.


Jadi kau, disana? Yuhhuuu


Deg!!


Suara bayangan hitam semakin mendekat. Dan...


Blup!! Blar!!


Seketika penerangan obor dalam ruangan Teater Barley mati!!


Dasar tikus kecil!! Beraninya kau menghalangiku!! Geram bayangan hitam membuat Darius yang mengintip dari celah bilik lemari kayu jati menegang seketika.


Blar!! Blar!!


Cukup dengan satu jentikan jari, bayangan mampu menyalakan kembali obornya.


Dredeg!! Deg!!


Oh tidak... Jantung dua manusia terpacu sangat cepat ketika bayangan kini berada tepat di depan lemari tempat persembunyian Darius. Hingga Darius lupa, dia sedang menghadapi hantu bayangan...bukan Vampir...untuk apa dia kini menahan nafas?! Bayangan melayang diudara secepat kilat ke arah tirai panggung Teater.


WuSSsssss...


Sang bayangan menciptakan angin kencang guna menyibakkan seluruh tirai Teater hingga apa pun yang ada di baliknya mampu terlihat dengan jelas. Darius membelalakkan mata tak percaya. Ia yakin, saat...tirai pertama kali tersibak, ada dua pasang sepatu menyelinap masuk ke dalam tirai lalu...kemana orang itu pergi?!


Buk!!


Suara keras membentur sesuatu terdengar nyaring membuat perhatian si bayangan beralih ke arah Darius.


Ada lagi penyusup lain rupanya huh?! Desis sang bayangan langsung melayang menuju Darius. Punggung Pria itu membentur dinding lemari kayu jati. Tiba-tiba sebuah tangan muncul menembus hingga ke dalam lemari, mencekik leher Pria malang itu hingga seluruh tubuhnya juga wajahnya membentur pintu dalam lemari jati, akibat ditarik paksa oleh tangan gaib tersebut.


Bang!!


Benturan pertama membuat kening dan hidung Darius meneteskan darah segar...


Brugh!!


Kedua pintu lemari kayu jati mulai terbuka karena tertimpa berat badan Darius dan terdorong kuat dari dalam. Tubuh Pria itu langsung terguling keluar menimpa karpet merah. Darius terguling tertelungkup...wajahnya menyapu karpet merah yang kasar. Pria itu menggunakan kedua tangan untuk menumpu seluruh tubuhnya hingga wajahnya mendongak ke depan dengan kewaspadaan penuh.


Deg!! deg!!


Tidak ada siapa pun di depannya. Lalu siapa yang menyerangnya? Darius memilih bangkit berdiri sambil menyeka darah segar yang keluar dari kedua lubang hidungnya. Paling tidak, ia harus bersyukur karena giginya masih dibiarkan utuh.


Kau....mencariku? Tanya bayangan yang telah berada tepat di belakang bayangan Darius. Terlihat dari karpet merah, jemari bayangan itu mengelus bayangan pipi Darius anehnya, Darius dapat merasakan sederet jemari mengelus pipi kirinya.


Nafas Darius memburu ketakutan ketika ia merasakan kuku-kuku jemari sang bayangan memanjang dan menembus ke dalam kulit Darius!! Darah segar mengucur sedikit demi sedikit...seiring dengan bertambahnya dalam tusukan kuku sang bayangan hitam, maka bertambah deras pulalah darah yang merembes keluar dari pipi Pria tersebut.


Sejak awal pipi Darius terasa dielus, Pria itu ingin sekali berlari tapi kakinya tak mampu bergerak karena seolah tertahan magnet sangat kuat. Sang bayangan mencabut dengan kasar kukunya dari pipi Darius. Yang terjadi, gumpalan kecil daging, darah sekaligus sisa-sisa kulit pipi Darius masih menempel, tertusuk kelima kuku panjang sang bayangan.


Darius terjatuh di karpet merah, terkapar dengan posisi telentang. Matanya menatap horor pada apa yang ia lihat. Sang bayangan menggigit daging pipi Darius yang tertancap kuat di kelima kuku jarinya. Ia mengunyah nikmat, seolah telah beratus-ratus tahun tak pernah memakan daging. Setelah itu ia menjilat dengan rakus darah Darius di seluruh telapak tangannya.


Mata Darius yang hidup kini mulai redup. Binaran mata Pria itu mulai meredup seiring menghilangnya nyawa. Tusukan kuku sang bayangan hitam telah memutuskan syaraf-syaraf penopang kehidupan Darius.


Kim meronta ingin terlepas dari cengkeraman entah makhluk apa pun itu. Tak tahu mengapa, cengkeraman makhluk tersebut, kini melonggar dan membebaskan Kim begitu saja. Kim berlari tapi tak dapat melarikan diri. Ia hanya mampu menjaga jarak dari makhluk yang dalam seketika mampu mempesona dirinya.


"Apa maumu? Kenapa kau, membawaku kemari?" tanya Kim takut-takut. Wanita itu langsung mengkerut tak dapat berbuat apa pun, ketika makhluk itu mendekat ke arahnya. Tak ada ruangan lagi untuk ia menghindar kali ini.


"Kau tidak mengenaliku? Honey?" bisiknya sedih ditelinga Kim. Suara manekin terbuat dari lilin itu...sangat ia kenali. Itu suara...


"Harry?!" gumam Kim dengan sorot mata menuntut jawaban pasti. Manekin lilin tampan itu tersenyum simpul. Benar-benar menarik bagi Gadis mana pun.


Manekin ini, kulitnya sekenyal kulit manusia, sorotan matanya begitu hidup...tampak seperti manusia sungguhan, bahkan..., dadanya!! Terlihat naik turun seolah sedang bernafas. Tapi Kim tak dapat merasakan hembusan nafas sang manekin tampan, ketika manekin itu berbisik padanya saat itu. Entah kenapa, tangan kanannya menyentuh dada sang Manekin.


Sesuai dengan perkiraan. Seolah, manekin lilin ini memiliki paru-paru di dalam tubuh lilinnya hingga dapat bernafas. Kim mengerutkan kening, lalu menyentuh hidung sang manekin, menyentuh kedua lubang hidungnya. Tak ada tanda apa pun manekin tampan itu bernafas!!


"Aku sudah lama ingin menjumpaimu tapi aku takut, wujudku mampu membuat semua orang ketakutan" kata Harry sendu.


"Bagaimana bisa kau terperangkap dalam boneka lilin ini?"


"Bagaimana? Kau suka? Setidaknya...dia jauh lebih tampan dariku yang sesungguhnya bukan? Pertama kali aku menyadari ruhku terperangkap di sini karena Haruko. Lalu aku menyadari seseorang telah sengaja membuat boneka lilin seperti ini"


"Dia pasti pemahat profesional...karena ini tampak seperti benar-benar hidup. Bahkan aku sempat lupa jika aku telah mati" kekeh Harry membuat air mata Kim keluar. Tanpa diduga Kim mendorongnya menjauh.


"Honey...apa yang terjadi?" tanya Harry kebingungan.


"Jangan bohongi aku!! Kau, bukan Harry!! Siapa kau!!" teriak Kim menaruh kewaspadaan penuh.


"Aku melamarmu di dalam sebuah Helikopter, dan menikahimu di bawah laut" kata Harry mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Harry" kata Kim mulai percaya lalu memeluk Suaminya dengan penuh kerinduan.


__ADS_2