Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 12


__ADS_3

"Jadi kita harus melangkah kemana dulu?" tanya Adel sambil bergidik ngeri.


"Sial...apa kita nampak seperti sapi potong? Kenapa banyak benda tajam dimanapun" pekik Ferghus membuat semua mata memandang ngeri ke arah Laki-laki itu. Hisashi menempelkan jemari ke bibir seolah sedang berusaha mendengarkan sesuatu. Suasana mendadak hening, semua telinga berusaha menangkap apa pun suara yang sedang di dengar Hisashi.


SsssshhhhhhhhhhHHhhhh


Asap putih mengepul dari balik semua tangga membumbung tinggi hingga menghalangi pandangan semua orang. Mereka terbatuk-batuk karena bau asap yang sangat menyengat.


"Jangan ada yang memisahkan diri, tetap ditempat oke!!" teriak Ferghus berteriak setelah terbatuk-batuk.


"Pastikan orang-orang di sekitar kita tetap berada di posisi masing-masing. Sebaiknya kita bergandengan tangan" perintah Kenatt langsung di patuhi semua orang. Suasana kembali hening ketika ada suara lain mendekat ke arah orang-orang itu.


"Hey!! Apa kalian mendengar ada suara mainan mobil-mobilan?" tanya Anastasya berbisik.


"Ya...,suaranya mulai mendekat..." bisik seseorang di dekat Anastasya.


"Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan genggaman tangan kalian" kata Armian berusaha menelan rasa takut. Suara mainan mobil-mobilan semakin mendekat dan makin dekat...


Armian menatap tajam kearah mainan yang terus menerus mengitari kedua kakinya.


"Apa kau tidak ingin mengetahui petunjuk apa, yang ingin di beritahukan padamu?" bisik seseorang di telinganya. Armian menelan ludah berusaha setenang mungkin untuk menjawab.


"Aku tidak yakin itu petunjuk. Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan? Mereka ingin membuat kita semua terpencar" kata Armian ragu.


"Tapi aku penasaran...kenapa, ada mainan anak-anak di tempat ini? Apa kau tidak ingin menyelidikinya? Ayolah...Kenatt pasti akan menaikkan pangkatmu jika kau, dapat memecahkan misteri ini" bujuk orang itu lagi.


"Ferghus melarang kita pergi tanpa semua orang bersama kita" jawab Armian tidak setuju, membuat orang itu meremas lembut tangan Armian.


"Baiklah, itu pilihanmu. Pilihanku adalah mengikuti mainan itu" kata orang tersebut berusaha melepaskan genggaman tangan Armian.


"Hey!! Apa yang kau lakukan?! Jangan bertindak bodoh!!" teriak Armian berusaha menggapai lagi tangan Gadis itu. Ia melihat bayangan sang Gadis samar-samar. Untuk bisa dapat meraih Gadis itu lagi, ia harus melepaskan genggaman orang di sebelah kanannya.


"Hey, jangan. Armian!!" teriak Riche membuat semua orang menegang.


"Apa semua baik-baik saja Riche...?" Kenatt mulai angkat bicara ingin memastikan semua aman terkendali.


"Armian melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. Dia seperti mengejar sesuatu. Mungkin...mainan itu," jawab Riche panik.


"Si bodoh, kemana lagi dia kali ini?" geram Anastasya panik sekaligus khawatir.


"Jangan panik. Tunggu kabut asap ini menghilang baru kita bisa mencari Armian" tambah Ferghus berusaha meredam kepanikan semua orang.


"Kau tahu, tempat ini sangat berbahaya bukan?! Kau yakin kabut asap ini akan segera menghilang? Bagaimana sebelum kabut asap menghilang, nyawa Armian yang menghilang duluan?!" marah Anastasya penuh amarah.


"Tempat ini berbahaya. Kau tidak bisa membahayakan rekanmu yang lainnya untuk menyelamatkan Armian" kata Kenatt meremas pergelangan tangan Anastasya.


"Tapi..." kata Anastasya terbata.


"Armian bukan orang yang bertindak secara gegabah. Dia penuh perhitungan. Kau, seperti baru saja mengenal anak itu Anastasya" kata Kenatt mengingatkan kembali siapa Armian.


"Lihat. Kabutnya mulai menipis kita harus segera menemukan orang itu" kata Riche menyudahi pertengkaran antara Kenatt dan Anastasya. Semua orang baru menyadari setelah Riche mengatakan kabutnya telah menipis. Mereka dapat bernafas lega saat semua kabut mulai menghilang.


"Kita akan melangkah kemana? Riche, kau tahu kemana arah Armian pergi?” tanya Anastasya penuh harapan.


"Kabut melemahkan pandanganku. Mana aku tahu dia melangkah kemana?. Yang jelas, ia seperti sedang mengejar seorang Gadis" kata Riche lalu mulai menatap kearah Rulby, Anastasya dan Adel.


Para Laki-laki baru menyadari satu hal...bukankah kelompok mereka yang Perempuan hanya tiga orang?? Para Perempuan masih bersama mereka semua lalu, siapa yang bicara dan dikejar oleh Armian?! Mereka saling menatap satu sama lain kebingungan.


"Kau yakin, dia sedang mengejar seorang Gadis? Bukan mengejar mainannya?" Kenatt meminta Riche mengulang kalimat yang dilontarkan baru saja, siapa tahu Riche salah mengucapkan kata.


"Gadis itu berlari mengejar mobil mainan dan Armian memanggilnya supaya ia kembali pada kelompok kita" kata Riche memperjelas semua.


"Gadis? Ayolah...disini hanya ada kami bertiga. Kami masih bersama kalian bukan?" kata Anastasya menganggap Riche mulai berhalusinasi karena terlalu banyak menghirup kabut asap.

__ADS_1


"Mereka berusaha memecah belah kelompok kita, agar mudah mereka lenyapkan" Hisashi mengatakan itu dengan geram. Ferghus tercekat sementara Riche menjelaskan pada semua orang.


"Master...kenapa Anda tidak menggunakan kemampuan Anda untuk melacak Armian?" Amarru menoleh ke arah sang Guru Besar, keheranan.


"Aku tak bisa menggunakan itu disini. Ditempat yang jauh dari kata suci. Anak itulah yang dapat kita andalkan sekarang" tunjuk Hisashi pada Ferghus. Laki-laki itu mengernyit tak mengerti apa maksud dari sang Guru Besar?


"Aku? Bagaimana caranya aku dapat melacak Armian? Ayolah Kenatt...kau polisi bukan? Kau pasti tahu bagaimana cara melacak ponsel Armian dengan cepat" sambutan tak menyenangkan itu meluncur begitu saja dari bibir Ferghus.


"Kau tahu kita dimana? Kita di bawah tanah bung, tidak ada sinyal mampu menembus bangunan ini" kata Kenatt berdecak tak berdaya.


"Gunakan kemampuanmu" kata Hisashi mulai berjalan mendekati Ferghus.


"Kemampuan? Aku hanya bisa melihat apa yang akan terjadi nantinya tapi tidak untuk melacak" kata Ferghus merasa dipojokkan. Hisashi tanpa mengubah ekspresi wajah datar, mulai menatap tajam kedua mata Ferghus.


"Riche...berikan tanganmu yang telah menyentuh tangan sahabatmu Armian" kata Hisashi membuat Laki-laki itu hanya diam sambil mengulurkan tangan pada Ferghus.


"Ini hal sia-sia kenapa kau memintaku melakukan hal ini?" protes Ferghus penuh tanda tanya.


"Waktu kita terbatas. Apa kau ingin hari ini ada yang dikorbankan??" Hisashi kali ini menekan Ferghus membuat Laki-laki bernama Ferghus Cloy, tak memiliki pilihan lain.


Perlahan...ia menggenggam tangan Riche lalu memejamkan mata sejenak. Ia berkonsentrasi penuh melacak apa yang terjadi pada Armian selanjutnya.


Armian berlari mendekati bayangan dalam tebalnya kabut, setelah berhasil meloloskan diri dari genggaman tangan Riche. Ia berlari kecil untuk mengimbangi laju sang bayangan.


"Anastasya!! Dengarkan aku!! Kembali!!" teriak Armian mengira Gadis yang dikejarnya adalah Anastasya sahabat baik Armian. Jangankan, mendengarkan Armian...bayangan tersebut menoleh pun tidak!! Sejauh apa pun Armian mengejar, maka bayangan Anastasya semakin menjauh dari jangkauan Armian. Sang Armian menghentikan derap langkah kaki, menyadari Anastasya sedang menaiki sebuah tangga!!


"Ayo, ikuti aku. Kita sudah pergi sejauh ini. Kau dengar suara mainan? Suaranya di atas sana Armian" bujuk sosok bayangan Anastasya mengulurkan tangan ke arah Armian.


"Kita tidak boleh kemana-mana. Anastasya...kita harus kembali sekarang" balas Armian menggapai tangan bayangan Anastasya kemudian berbalik menuju ke tempat mereka berkumpul. Lagi-lagi Armian menghentikan langkah kaki ia merasakan sesuatu sangat berbeda ada pada Anastasya!! Tangan Anastasya kenapa sedingin es?


"Apa kau tidak ingat, kita harus melangkah kemana? Apa kita akan kembali pada kelompok kita?" tanya Gadis itu sambil memeluk Armian dari belakang.


Deg!!


Armian merasakan sesuatu sedingin es menjalar diatas pundak, menuju tepat kearah dadanya. Laki-laki itu melihat sangat jeli betapa kuku-kuku tajam milik Anastasya palsu kian memanjang, mampu mengoyak apa pun!!


Armian mengibas-ngibaskan tangan menahan rasa perih, sekaligus panas pada telapak tangannya.


Oh, ya ampun...apa yang sedang kulakukan?! Tempat ini terlalu remang dan aku menjatuhkan pemantik itu begitu saja!! Marah Armian pada diri sendiri menyadari kecerobohan yang tak ter maafkan. Armian berjongkok tangan Laki-laki malang mulai mencari-cari dimana posisi pemantik api. Ketemu!! Rasa syukur dari lubuk hati terdalam Armian tak terkira...ia pun menyalakan kembali pemantik apinya.


Deg!!


Anastasya berdiri tepat di depan wajah Armian!! Menatap Armian dengan tatapan tak dapat diartikan. Armian tidak merasakan lagi sosok Anastasya sedang menempel pada punggungnya.


"Kenapa kau memisahkan diri dari kelompok?" tanya Anastasya menatap penuh amarah di hadapan Armian.


"Armian!! Lari!! Itu bukan aku!!" teriak Anastasya satu lagi diatas anak tangga. Suara Anastasya menggema keras hingga Armian menoleh kearah anak tangga. Saat itu Armian merasa sangatlah terpojok...ia harus percaya pada sosok Anastasya yang mana? Di hadapannya, atau yang meneriakinya untuk melarikan diri? Armian mundur tiga langkah menatap awas pada sosok Anastasya.


Tap


tap


tap


Suara langkah Armian ke belakang.


Tap tap tap justru langkah mundur Armian membuat Anastasya semakin mendekat. Armian membelalakkan mata, ketika melihat semua orang melangkah dari kegelapan hingga Armian mampu untuk melihat jelas kelompoknya telah menjemput.


Armian tak peduli lagi dengan kata-kata yang keluar dari mulut dua Anastasya hingga ia justru memilih menghambur, berlari kearah Kenatt.


"Berhenti membuat keributan disini Anastasya, atau kau ingin memberi tahu posisimu pada para Iblis itu?" kata Amarru membuat Gadis itu memilih diam tanpa berkomentar sedikitpun.


"Jadi...dia benar-benar Anastasya?" bisik Armian pada rekannya Riche.

__ADS_1


"Jadi kau benar-benar berpikiran yang kau kejar itu dia?" bisik Riche tak habis pikir pada rekan seperjuangan.


"Apa? Jadi kau tahu, itu bukan Anastasya? Kenapa kau tidak mengatakan padaku " marah Armian sambil menyikut perut Riche.


"Kau sudah kuteriaki supaya kembali bodoh, tapi kau terlalu cepat menghilang di balik asap. Lagi pula, aku baru tahu kalau Anastasya masih bersama kami setelah, semua kabut asap itu menghilang" balas Riche mengusap perutnya.


"Kau tidak melihat lagi, dimana keberadaan makhluk menyerupai Anastasya?" tanya Adel mencari-cari sosok astral di seluruh penjuru ruangan. Armian menggelengkan kepala lalu menunjuk salah satu anak tangga tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Awalnya, dia bersamaku tapi karena kalian datang, termasuk kau," kata Armian menekankan kata kau pada Anastasya.


"Dia tiba-tiba berdiri disana memintaku menjauhi Anastasya asli untuk menghampirinya ke sana" tambah Armian penasaran. Ferghus dengan instingnya, mulai mengepalkan kedua tangan sambil memandang nanar ke arah tangga.


"Kau beruntung untuk tidak mengikuti makhluk itu ke atas sana Armian..." kata Ferghus datar.


"Tunggu. Memang ada apa di atas sana?" tanya Adel penasaran.


"Itu yang aku takutkan, ketika kau hendak memasuki ruangan ini kemarin. Tangga ini mengantarkan kita pergi ke tempat penuh benda tajam seperti ribuan anak panah, dan pisau penggiling daging" kata Ferghus mendesah.


"Lalu, sekarang kita akan menuju tangga yang mana?" tanya Kenatt mulai pening.


"Kenapa kita tidak kesana saja?" tanya Anastasya penasaran dengan tempat yang digambarkan oleh Ferghus.


"Pergilah sendiri jika ingin mengakhiri hidupmu. Apa kau sudah tidak waras? Kenapa pergi kesana jika, kita tahu ada pisau penggiling daging siap melayang hanya untuk mencincang tubuh kita semua?" marah Armian jengkel.


"Tapi Ferghus seolah pernah melihat benda-benda itu menyerangnya bukan? Jadi seharusnya, dia tahu dimana saja letak serangan itu muncul. Yang kita semua lakukan tinggal pergi ke arah dimana tidak akan ada serangan bermunculan" ide gila Anastasya membuat semua orang terdiam sejenak. Tak lama kemudian, Hisashi berdehem kecil meminta perhatian semua orang disana.


"Ferghus Cloy...apa kau dapat mengetahui dimana saja letak benda-benda berbahaya itu dengan tepat?" tanya Hisashi sangat serius. Ferghus menanggapi dengan raut wajah memucat. Apa maksud dari pertanyaan Pria Jepang itu?


"Apa?! Aku pikir hanya Anastasya yang mulai geser otaknya. Jadi kau, mengikuti jejaknya huh?!" protes Ferghus tak habis pikir.


"Apa kita semua yakin, bila menaiki tangga lainnya nyawa kita tetap ada pada tempatnya? Bukankah kau sendiri yang bilang, tempat ini dipenuhi benda tajam? Pikir baik-baik nak, tidak ada tempat..., yang menjamin keselamatan kita" kata Hisashi menyorot tajam kedua mata Ferghus.


"Kita punya pilihan lain jangan kalian lupa, kalau kita semua punya Escape Map, disimpan oleh Adel" kata Ferghus menunjuk ke arah Adel.


Reaksi semua orang menjadi lebih rileks. Adel kini meraba saku celana dan menemukan bungkusan peta di dalamnya. Kenatt segera mengambil senter dari dalam tas ransel Anastasya yang ia bawa kemana-mana. Kenatt dan Adel berusaha mencerna apa arti dari simbol yang di gambarkan peta tersebut.


"Kurasa ini peta, tidak ditujukan untuk menunjukkan tempat ini. Tapi...tempat lain, di dalam sana" kata Ferghus mulai kehilangan semangat. Adel mengernyit sejenak, lalu melirik sekali lagi ke arah peta.


"Ferghus...aku merasa, peta ini meminta kita mencari lokasi dimana ada sebuah dinding yang berreliefkan banyak mumi. Dan... perjalanan kita yang sesungguhnya, baru akan dimulai ditempat itu" kata Adel menatap tak percaya pada sang Ferghus. Laki-laki bernama Ferghus segera mengambil alih peta, menatap penuh tanda tanya sementara Amarru dan Hisashi ikut melirik ke peta.


"Kau pasti bisa mengetahui tempat itu dengan cepat jangan khawatir" bisik Hisashi sambil menepuk pundak Ferghus.


Puk


Puk


Tepukan pertama, Ferghus menoleh kearah Hisashi hingga kedua mata mereka bertemu lalu, tepukan kedua, ada sebuah kekuatan entah dari mana asalnya, memerintahkan Ferghus meletakkan jari telunjuknya di atas gambar dinding berreliefkan mumi.


Ssssauisssseeeee....


Bisikan gaib muncul membuat bulu kuduk meremang...bisikan itulah yang didengungkan sang Ferghus saat telunjuknya telah melekat pada peta. Di dalam benak Ferghus tergambar jelas dinding berreliefkan mumi menunggu seseorang datang membangkitkan mereka!!


Gambaran mulai menjauh dari dinding relief mumi menuju pada sebuah tempat megah...seperti sebuah monumen dengan ribuan patung berbentuk sosok prajurit raksasa, menggenggam gada besar nan kokoh. Pandangan Ferghus berubah lagi, kearah seribu pintu!! Mendadak keseribu pintu terbuka perlahan...


Krieeeeeeeeek


Ferghus mengernyit, mengerang frustasi!! Ia berteriak kesakitan!! Kedua telinga Ferghus terasa sakit bukan main suara satu pintu saja membuat kepala pusing sementara kali ini, ke seribu pintu berderit nyaring memekakkan telinga. Laki-laki itu tak tahan hingga ia hampir roboh!!


Hisashi dan Amarru menggunakan tenaga dalam, demi meningkatkan kekuatan tubuh Ferghus. Hisashi dan Amarru mengepalkan tangan kanan mereka lalu memukulkan tangan ke arah dada dan punggung Ferghus secara bersamaan.


Pandangan Ferghus awalnya menggelap, kini ia mampu melihat kembali keseribu pintu yang kini terbuka sangat lebar. Penglihatan Ferghus beralih di luar seribu pintu ia mulai menyadari satu hal. Semua tangga, akan bermuara menuju seribu pintu. Tapi setiap anak tangga, memiliki tantangan dan bahayanya masing-masing.


Hueeeeek!!

__ADS_1


Ferghus mengerjapkan mata lalu memuntahkan air berwarna hitam kelam seperti oli. tanda ia mulai sepenuhnya kembali.


"Apa kau sudah tahu, anak tangga mana yang bisa mengantarkan kita kesana?" tanya Hisashi sangat penasaran.


__ADS_2