
Genre Horor time...yuhhuuuh Author bakalan hanya fokus menamatkan Red Water Park yah, dan genre fantasi bakal slow up date.
daftar karya Author horor time:
1)Red Water Park
2)Jangan Lupa Tidur
daftar Genre fantasi slow up date:
1)The Magic Of Snow
2)Rain Bow Of Destiny
Fantasi romance tamat:
Aitai
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adel mengangguk setuju ini demi kariernya.
"Jadi, apa yang dikatakan Rudolf padamu di belakang kami?" tiba-tiba Ferghus mempertanyakan sesuatu yang hampir terlupakan oleh Gadis bersangkutan.
"Aku tidak tahu, ini apa, tapi dia memberiku potongan peta yang lainnya" jawab Adel merogoh saku bajunya lalu menyodorkan kepada Kenatt. Pria itu langsung membuka ponsel, lalu membuka menu galeri.
"Jadi itu sobekan peta yang Polisi temukan?" tanya Adel mengintip dari jok belakang.
"Yup. Warna kertas peta ini sama persis dengan yang digambar ini. Kau bisa lihat ini?" kata Kenatt menoleh ke arah Adel.
"Tunggu. Tulisan itu...apa maksudnya?” tunjuk Adel pada sebuah tulisan dalam sobekan peta yang ia berikan pada Kenatt.
Kesempatan, berada dalam dasar yang dingin, tenang, dan damai. Tak mudah dijangkau, tak akan terpikirkan oleh siapa pun...
"Rudolf mendapat bagian peta berisi teka-teki? Itu peta sungguhan, atau kita sedang dipermainkan Tuan Rudolf Ponix yang terhormat huh?!" pekik Ferghus sambil memukul kemudi mobil.
"Meskipun ini terlihat seperti omong kosong belaka, tapi kita patut menyimpan benda ini baik-baik. Siapa tahu, Rudolf kali ini tidak berencana mempermainkan kita semua" jawab Adel meminta kembali sobekan peta pemberian Rudolf dan memasukkan kembali kedalam kantung.
"Sebenarnya, bagaimana bentuk asli dari peta tersebut? Bagaimana kita bisa tahu ini jebakan, atau peta sungguhan?" keluh Ferghus menggaruk hidungnya pelan.
"Semoga Riche mampu membongkar rahasia kedua orang itu. Jelas, ada sesuatu yang tidak beres ada pada Tuan Rudolf" kata Kenatt menghela nafas panjang lalu bersandar di jok tempatnya duduk.
Ciiiiiiiiiit
Mobil yang mereka tumpangi berdecit keras ketika Ferghus merem mendadak.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Adel kaget sambil menepuk-nepuk dada.
Brugh!!
Brugh!! Brugh!!
Blaaaaar!!
Adel dan Kenatt sama-sama kaget namun tidak dengan Ferghus yang kelihatan jauh lebih tenang.
"Jadi bakatmu itu masih ada sampai sekarang?! Astaga!!" pekik Kenatt meninju kuat lengan Ferghus.
"Broo...aku menyelamatkan nyawamu!! bukannya berterima kasih, kau malah meninju lenganku" protes Ferghus tak terima sementara Adel hanya bisa diam mencoba mengatur denyut jantungnya agar berdetak teratur.
"Oh sorry...aku syok berat broo. Lihat saja disana. Pepohonan yang tumbang itu, menjatuhi tiang listriknya dan...Blaaar!! Meledak!! Aku hanya membayangkan jika kau..., tidak berhenti saat itu juga, mungkin kita akan menjadi manusia panggang" sambung Kenatt.
"Tunggu dulu. Bakat apa maksudmu?” tanya Adel bingung.
"Dia belum tahu?" tanya Kenatt menghakimi Ferghus yang hanya menyeringai lebar.
__ADS_1
"Kau pikir aku segila itu memberi tahunya? Dia bisa tak mau lagi berurusan denganku jika tahu segalanya tentangku" bisik Ferghus pada Kenatt.
"Ah, dia punya bakat selain apa pun yang ia katakan itu menjadi kenyataan, dia juga...punya kemampuan membaca masa depan" kata Kenatt dengan enteng.
"Apa kalian sedang mengerjaiku? Hmm?" balas Adel mengangkat kedua alisnya. Pasti ini hanya gurauan...yang seperti itu, hanya ada dalam film-film horor tidak untuk dunia nyata seperti dunia yang ia pijaki semenjak terlahir ke dunia.
"Kau meragukanku?" tanya Ferghus dengan tatapan terluka.
"Tentu, mau ku tes?"
"Kalau itu bisa membuatmu percaya pada kami," balas Ferghus ketika mengetahui Adel sedang menantang dirinya saat ini.
"Bagaimana masa depanku?" tanya Adel enteng sambil memainkan kuku.
"Hanya itu? Kau akan segera menikahiku sayang," goda Ferghus yang sontak membuat Kenatt terbahak-bahak dibuatnya.
"Bukan itu bodoh, maksudku, bagaimana masa depan karierku setelah ini? Apa aku akan naik jabatan?" tanya Adel memutar kedua bola mata dengan ekspresi jengah.
"Pastikan dulu, kita masih hidup saat keluar dari rumah kaca itu. Karena, bahaya sudah mengincar kita semenjak masuk ke dalamnya" kata Ferghus mendadak sangat serius.
Adel, Ferghus dan Kenatt bergegas masuk ke dalam rumah Kenatt saat seorang Gadis muda membukakan pintu untuknya.
"Riche sudah menunggumu Kak" sambut Gadis muda itu. Kenatt hanya mengangguk, lalu mengisyaratkan sang Adik untuk naik ke lantai atas segera.
Setelah sang Adik naik ke atas, Kenatt mengisyaratkan Adel dan Ferghus untuk mengikuti kemana langkah kakinya pergi. Mereka tiba di sebuah ruangan kecil, tampaknya merupakan ruangan kerja milik Kenatt. Saat mereka masuk, pria itu langsung mengunci pintu dan menggeser rak bukunya yang terlihat begitu berat.
Adel menatap ke bawah, ternyata ada pintu rahasia berada di bawah rak buku tersebut. Saat Kenatt menekankan buku-buku jari kakinya di papan sensor, yang berada di pintu rahasia tersebut, yang terjadi berikutnya adalah...pintu itu segera bergerak naik keatas membuat tubuh Kenatt ikut terangkat keatas.
Adel melotot melihat beberapa tumpukan besi di samping pintu tempat Kenatt berdiri, yang berjajar rapi dari atas sampai ke bawah bergerak membentuk sebuah tangga mungil yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja.
"Perhatikan, dan ikuti gerakanku" kata Kenatt memberi pengarahan saat ia menjejakkan kaki kanan dua kali, lalu kaki kiri sekali, ke atas papan sensor di bawah kakinya. Tiba-tiba di bagian tengah papan sensor tersebut, terbelah menjadi dua. Tanpa Ragu saat kakinya mulai tergeser, Kenatt meloncat lalu meluncur masuk kedalam.
"Itu hal yang mudah. Kau mau duluan atau aku duluan?" tawar Ferghus tergiur untuk segera mencoba.
"Kau duluan" kata Adel ragu-ragu. Ferghus tak mau mengulur waktu hingga ia bergegas menaiki tangga di ikuti oleh Adel di belakangnya. Keduanya melakukan hal yang sama, Adel melompat dan...
Wow...Adel jatuh di sebuah papan seluncur yang sangat empuk...hingga pantatnya tak merasakan sakit saat terbentur di atasnya. Ia meluncur berputar ke kanan dan kekiri lalu sampai juga ke bagian dasar.
"Well, bagaimana? Kalian menikmatinya?" tanya Kenatt menyambut kedatangan tamunya.
"Keren... Ini idemu?" jawab Ferghus menikmati.
"Bukan. Ini semua berkat Anastasya. Dia perancang ruang bawah tanah ini di dalam rumahku. Kenalkan, ini Riche, Anastasya, dan itu Armian. Mereka bekerja di bawah pengawasanku" kata Kenatt memperkenalkan anak buahnya.
"Mereka yang membutuhkan jasa kita?" tanya Riche melirik kearah Adel, terpukau dengan kecantikan Wanita itu.
"Ya, mereka ingin tahu kebenaran rahasia dibalik rumah kaca yang legendaris itu" kata Kenatt sok misterius.
"Ini pasti akan menjadi petualangan yang seru" pekik Anastasya sambil mengulurkan tangan pada Ferghus dan Adel bergantian.
"Jadi Riche, apa yang kau dapatkan dari penyelidikanmu hari ini?" tanya Kenatt menangkupkan kedua tangan kearah dadanya.
"Anak buahku menyelidiki keberadaan sanak saudara Marthen Mathias dan..." kalimat Riche terpotong ketika Pria itu menyentuhkan tangannya ke depan. Sebuah layar transparan, muncul di hadapan Pria tersebut, cahayanya berpendar menarik perhatian Adel dan Ferghus.
"Hal yang mengejutkan adalah, ternyata...semua sanak saudara yang muncul dalam sebuah liputan berita di zamannya itu adalah..." katanya lagi sambil memilah-milah folder mana saja, yang akan ia tunjukkan pada Kenatt.
"Pekerja gelap perusahaan ilegal Rathampholian" tambah Riche menunjukkan beberapa profil orang-orang yang mengaku sanak saudara seorang Marthen Mathias.
Kenatt mengernyitkan dahi terpukau pada hasil kerja anak buahnya yang tak terduga itu. Riche memperbesar foto profil seorang Pria berkepala botak, dengan tato tak biasa, jelas terpampang di dahinya tato berbentuk ukiran berbentuk arah penjuru mata angin. Wajahnya terlihat jelas bahwa beliau adalah warga asing.
"Namanya adalah Lee Than Ming. Dia dikenal sebagai salah satu anggota sindikat perdagangan organ tubuh manusia ilegal Hampho tapi hingga saat ini, belum ada hukum yang dapat menjeratnya karena kurangnya bukti otentik, bahkan beliau nyaris dinyatakan bersih" kata Riche, mengubah tampilan ke slide berikutnya.
"Beliau bekerja sama dengan Perdana Menteri Druff Demilgathon di tahun 1987, dalam menjalankan bisnis imigrasi. Dan nama perusahaan imigrasi itu adalah Rathampholian" penjelasan Riche kembali terpotong saat mengubah slide lainnya.
"Agar tidak dicurigai oleh badan hukum, Lee Than Ming, di bantu Perdana Menteri Druff Demilgathon mengubah Kewarga Negaraan, sekaligus berganti nama menjadi... Marthen...Mathias..." kata Riche menekankan nama samaran Lee Than Ming.
__ADS_1
Penjelasan demi penjelasan membuat Adel dan Ferghus mulai meraba-raba dengan siapa mereka akan berurusan. Ya, mereka berhadapan dengan pendiri sindikat perdagangan organ manusia, berskala internasional!! Yang membuat mereka bergidik adalah, di masa kejayaan mereka, tidak ada yang tahu kebusukan mereka. Semua bisnis imigrasi mereka, terlihat tanpa cacat dan sangat menjanjikan.
Tapi dibalik itu semua, Marthen Mathias dan sindikatnya diam-diam beraksi. Modus operandi organisasi Hampho ini, bisa dibilang cukup keji. Mereka akan memburu para imigran gelap, yang berusaha menyeberangi perbatasan menuju Samudera Hindia atas nama Rathampholian.
Kemudian, pihak Rathampholian menyerahkan kepada pihak sindikat Hampho untuk dibunuh, sekaligus diambil organ tubuhnya, untuk diperjual belikan.
"Oooookeeee, Adeline Minna...kau yakin, akan melanjutkan penyelidikan rumah itu?" tanya Ferghus melirik ke arah Gadis yang sedari tadi mendengarkan penuh penghayatan.
"Langkahku sudah sampai disini. Aku hanya akan membuang waktuku saja, jika mengakhirinya sekarang" kata Adel penuh semangat.
"Kau tidak ngeri? Elzaedar ABD 156 adalah bekas rumah ketua sindikat Hampho" kata Ferghus mengingatkan.
"Apa kau takut? Hello, ini tahun berapa? Hampho berdiri di tahun 1987 bahkan Marthen Mathias menghilang bak ditelan bumi. Toh, kita menyelidiki rumahnya, bukan menyelidiki keberadaan sindikat Hampho" berondong Adel tanpa ampun.
"Ya, sampai sekarang, Marthen Mathias menghilang tanpa jejak semenjak rumahnya akan di hancurkan oleh pemerintah, bahkan...rencananya jika tertangkap, pemerintah akan menjatuhi hukuman mati baginya" sambung Riche membenarkan.
"Dihancurkan? Lalu kenapa rumah itu masih berdiri sampai sekarang? Kenapa pemerintah hanya diam saja?” pertanyaan Kenatt meluncur begitu saja.
"Pernah empat kali, pemerintah mendatangkan orang-orang yang akan meratakan rumah itu. Tapi untuk keempat kalinya juga, rumah itu gagal di ratakan karena selain alat berat mereka tidak dapat berfungsi secara mendadak, ada banyak kecelakaan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya" sahut Riche menjelaskan.
"Hukuman mati...artinya, Marthen Mathias dapat terbukti melakukan perdagangan ilegal itu?!" pekik Adel memuji keberhasilan kepolisian dalam mengungkap kejahatan seorang Marthen Mathias di tahun itu.
"Bukan. Dia dijatuhi hukuman mati karena tertangkap tangan mengedarkan obat-obatan terlarang sebagai bisnis sampingan. Kepolisian berusaha keras meringkusnya di tempat, tapi Marthen Mathias kebal terhadap senjata api maupun senjata tajam. Hingga ia dapat melarikan diri dan menghilang dengan mudah" sambung Riche prihatin.
"Bagaimana dengan Menteri itu?"
"Dia hidup dengan damai, tanpa kendala berkat Marthen Mathias yang licin bagai belut. Tapi rumornya mengatakan, hasil bisnis terlarangnya dengan Marthen Mathias digunakan untuk mendominasi kekuatan angkatan bersenjata Negara kita" jawab Riche dengan enteng.
"Bagaimana dengan Rudolf Ponix?" imbuh Ferghus penasaran. Riche langsung mencari data yang di dapatkan langsung dari lapangan.
"Dia adalah salah satu agen sindikat Hampho...tapi...seperti Marthen Mathias, dia tak tersentuh hukum" kata Riche seakan sedang bergumam.
"Menarik. Jadi, apa maksud dari seorang Rudolf Ponix memberikan robekan peta legendaris rumah kaca tersebut pada Adel?" sambung Kenatt, membuat seluruh orang yang ada di dalam markas bawah tanah Kenatt menatap ke arah Adel seketika.
"Di sobekan itu...terdapat tulisan tak mudah dijangkau bukan? Apa artinya, semua jaringan sindikat Hampho berada di rumah kaca itu? Merancang aksi mereka dengan modus yang baru?" tiba-tiba saja pemikiran itu muncul di otak Ferghus.
"Oh wow, masalah baru akan datang, jika itu benar terjadi. Apa ini berkaitan dengan pintu rahasia yang kita temukan?" tanya Adel berusaha meraba arah pemikiran rekan seperjuangannya.
"Kurasa demikian..." Ferghus membenarkan.
"Sebenarnya, apa yang membuatmu panik Ferghus? Padahal kita sama sekali belum masuk" kata Adel mengungkit kembali kejadian dimana Ferghus panik setengah mati.
"Jika kita masuk, kau adalah orang pertama, yang akan dikorbankan" jawab Ferghus sangat serius.
"Jadi di dalam sana ada hal yang membahayakan nyawa seseorang? Begitu?" tandas Kenatt mengernyitkan dahi.
"Yup. Ada banyak benda tajam disana. Bahkan banyak tangga bergerak. Kita tidak pernah tahu, kapan kita diserang setelahnya" Ferghus menghela nafas dengan berat.
"Kenapa kita tidak menggunakan UAV? Dengan itu, kita hanya perlu duduk manis di balik lemari tanpa repot-repot mengantarkan nyawa" kata Kenatt mengusulkan penggunaan Unmanned Aerial Vehicle , sebuah pesawat helikopter mini tanpa awak yang biasa digunakan sebagai alat mata-mata militer.
"Usul yang bagus broo, tapi kita harus punya rencana B untuk kemungkinan terburuk, ada hal yang membuatnya tak berfungsi di dalam sana" sambung Ferghus menganggukkan kepala berulang kali.
"Armian, bagaimana dengan pesananku tadi?" tanya Kenatt menepuk bahu Pria bernama Armian.
"Mari ikuti saya" kata Armian nampaknya Pria tersebut sangat irit dalam berbicara. Ia berjalan membawa Kenatt, Ferghus dan Adel ke sebuah ruangan yang berdindingkan besi!! Armian berjalan menyusuri lemari besi yang satu, ke lemari besi yang lainnya, hingga tiba pada lemari besi ke 5.
Ia membuka pintu lemari tersebut dengan kekuatan penuh, hingga seluruh otot kedua lengan, leher dan rahangnya menonjol keluar.
"Rencana B, kita harus menggunakan kostum ini saat masuk" kata Armian.
"Hahah hey broo, kita mau ke bawah tanah, bukan pergi keluar angkasa" protes Ferghus geli sambil terkekeh. Adel langsung menyikut rusuk Ferghus agar diam.
"Hati-hati bicara pada agenku broo, aku bisa memerintah mereka menendangmu keluar angkasa tanpa pakaian astronot sekalipun" geram Kenatt merasa agennya telah di pandang sebelah mata oleh saudaranya sendiri!!
"Ups, sorry...lalu apa fungsinya Tuan Armian?" tanya Ferghus sambil menatap kostum yang mirip dengan kostum Astronot bedanya, ada pada bahan dari kostum itu sendiri.
__ADS_1
Armian terkekeh melihat reaksi Ferghus yang tidak dapat berkutik ketika berhadapan langsung dengan Adel. Pria itu langsung menyingkirkan benda yang sedari tadi jadi bahan olokan Ferghus. Tangannya menggapai peti besi yang besar, lalu menarik benda itu kearahnya. Perlahan peti itu dibuka setelah semua orang telah mengelilingi peti tersebut.