
"Kau benar. Hisashi...tidak ada jalan lain selain, melawan maut..." balas Ferghus, berekspresi super misterius.
"Apa artinya kita memang harus menaiki tangga-tangga itu?" tanya Adel membuat yang lainnya terkesiap sadar kemana arah pembicaraan ini.
"Katakan. Apa kau takut dan ingin mundur?? Ini sudah terlambat untuk melarikan diri. Kita tidak akan bisa keluar semudah saat kita memasuki tempat ini" kata Ferghus sambil menyeka semua peluh yang membanjiri wajahnya.
"Maksudmu?"
"Ini ruang khusus jagal. Setiap manusia yang datang kemari, akan dikorbankan. Kalian tahu bukan? Lee Than Ming alias...Marthen Mathias menjual organ tubuh manusia" desis Ferghus membuat semua orang bergidik ngeri.
"Waktu kita terbatas jangan sia-siakan kesempatan lagi. Kita harus menyelesaikan semua secepatnya" kata Hisashi memperingatkan. Ferghus memimpin di depan menaiki tangga setelah semua naik keatas tangga, sebelum ia memainkan tuas kontrol tangga, ia menghela nafas panjang.
"jangan ada yang maju sebelum aku yang melangkah" kata Ferghus mengarahkan tuas ke kanan.
"Apa alasanmu mengajak kami ke sebelah sini?" tanya Anastasya sambil menoleh ke kanan dan kekiri.
"Hanya insting"
"Apa?! Kau!! Bagaimana bisa kau mempertaruhkan nyawa semua orang disini hanya melalui instingmu saja?!" pekik Adel gusar.
"Atau kau ingin berjalan kearah lainnya? Memang kau tahu, kita benar-benar aman pergi ke tempat lain?" tantang Ferghus membuat wajah murka Adel menegang seketika.
Gadis itu lupa, bahwa disini semua orang hanya dapat mengandalkan seorang Ferghus Cloy yang menurut Kenatt, memiliki kemampuan mengetahui kejadian apa pun sebelum benar-benar terjadi.
"Hisashi!! Hentikan waktunya setelah tangga ini menyatu pada ruangan lainnya!!" seru Ferghus yang langsung dijawab anggukan sang Guru Besar Hisashi.
Ceklik
Klik
Bunyi tangga menyatu satu sama lain. Hisashi segera menghentikan waktu!! Begitu Pria itu terkejut mendapatkan sambutan hangat dari benda bundar sebesar hula hop yang seluruh bagiannya dipenuhi api menyala besar!!
Jika Hisashi tidak bersiap-siap semenjak Ferghus memberi peringatan, ia akan segera melangkahkan kaki ke depan lalu terbakar karena menabrak benda bulat berapi tersebut.
Waktu kini telah terhenti Ferghus memerintahkan Hisashi untuk mengayunkan benda itu tepat ke arah lukisan yang terpajang di salah satu dinding. Hisashi menggunakan kekuatan anginnya mampu melontarkan benda itu tepat kearah lukisan. Waktu kini mulai berjalan kembali.
Anastasya dan lainnya terkejut sekaligus takjub melihat benda yang hampir membakar Guru Besar Hisashi kini telah terlontar menuju ke lukisan di dinding. Lukisan itu terbakar hingga hangus.
"Ijinkan aku berjalan memimpin" kata Ferghus pada Hisashi memohon ijin. Sang Guru Besar melangkah naik ke atas lantai, dan mempersilahkan Ferghus berjalan memimpin.
Mereka melangkah melewati lukisan yang terbakar tadi. Ya Ampun...ternyata Ferghus meminta Hisashi membakar lukisannya karena selongsong pelontar peluru raksasa sedang mengintai mereka semua!!
Jika lukisan itu tak di bakar, maka selongsong peluru itu tak akan meleleh dan menutupi jalan keluar ribuan amunisi siap ditembakkan pada semua orang yang melalui tempat ini.
"Wow, ternyata di balik lukisan ada benda semengerikan ini ya," gumam Anastasya kagum pada kemampuan Ferghus sekaligus Hisashi.
"Riche...saatnya membagikan senjata pada mereka semua" kata Kenatt memberi perintah.
"Senjata? Hello bung, kita berhadapan dengan seorang manusia setengah iblis" kata Rulby tak percaya.
Jika semua senjata itu berguna, maka polisi dari dulu sudah menangkap Lee Than Ming dengan sangat mudah tapi buktinya? Sampai sekarang, orang bernama Lee Than Ming alias Marthen Mathias masih bisa leluasa bersembunyi bahkan melakukan pembunuhan tanpa di ketahui siapa pun!!
"Dia kini sepenuhnya menjadi iblis nak, dia tak memiliki sedikitpun sisi manusia sama sekali. Karena itu, kita harus segera mengakhiri aksi biadabnya" sambut Hisashi meralat kata-kata Rulby yang mulai di translet Riche.
"Jadi, apa jaminan senjata-senjata ini bisa kita manfaatkan disini?" tanya Rulby menerima senjata yang telah di bagikan rata oleh Riche.
"Apa kalian sedang meragukan kemampuan Armian? Dia membuat senjata-senjata itu dengan susah payah. Hargailah" kata Kenatt geram bagaimana tidak? Para Gadis memang sumber suara paling nyaring di dunia tapi setidaknya Kenatt harus bersyukur tanpa para Gadis, dunia akan terasa sangat sepi.
"Tenang saja. Semua senjata sudah di rendam dengan air suci paling tidak, itu bisa berdampak buruk bagi makhluk sialan itu meski tidak mampu membunuhnya" jawab Armian setelah berdehem meminta perhatian semua orang.
"Kau...memberiku kipas? Oh ya ampuuun" protes Adel kesal kenapa hanya dia yang membawa senjata begini?
"Itu Tessen Nona...kau bisa mencabik tubuh siapa pun dengan hanya melemparkannya. Ku rasa kau, akan segera menikmatinya nanti. Percayalah" kata Armian dengan senyum penuh misteri sambil melanjutkan perjalanan mereka semua.
"Oh, dan satu lagi. Saat benda itu terlempar, ia akan kembali pada tuannya. Jangan sampai senjata makan tuan ya," goda Armian membuat mata Adel melotot tak percaya. Melihat Armian menakut-nakuti Adel, Ferghus langsung mengunci kepala Armian dengan ketiaknya. Armian langsung meninju kecil bahu Ferghus setelah melalui pergulatan kecil-kecilan.
Sret.....
__ADS_1
Kressss...
Langkah Armian terhenti merasakan ada kejanggalan di tempatnya berpijak.
"Tunggu!! Apa kalian tidak merasa aneh dengan adanya dedaunan di lantai ini?" tanya Armian menunjuk ke arah dedaunan yang membentuk garis memanjang di sepanjang jalan seperti tanaman yang sengaja ditata serapi mungkin. Riche menoleh ke arah Armian dan melirik ke arah patung besar tak jauh dari tempat Armian berdiri.
"apa dalam peta, ada patung berbentuk seperti itu?" tanya Riche melirik kearah Ferghus lalu melangkah mendekati dedaunan yang di temukan Armian.
Ferghus segera membuka kembali Escape Map dan memang dirinya melihat ada sebuah simbol merah darah yang melingkari gambar patung tersebut, di bagian bagan keterangan. Adel dan Ferghus saling memandang satu sama lain berusaha memecahkan kode lingkaran merah pada gambar patung.
Riche dengan kedua tangannya mencoba menyingkap dedaunan yang mencurigakan tersebut. Riche segera melompat menjauhi dedaunan tadi dan berlari ke arah Armian yang berdiri tepat di atas dedaunan tersebut.
"Stoooop!!" teriak Riche saat Armian hendak menyentuh patung itu dan berhasil meraih Pria itu hingga mereka jatuh bergulingan hingga mengenai kedua kaki Amarru dan Hisashi.
SroaaaaaaAaarth!!
Suara memekakkan telinga tersebut menjelaskan bahwa, Armian telah menekan salah satu bagian tubuh patung tanpa sengaja. Semua orang disana terkesiap melihat apa yang terjadi jika Armian dan Riche masih berada di atas dedaunan itu, yang ternyata di bawah dedaunan tersebut, ada banyak lubang kecil memanjang di sepanjang sisi patung seram itu.
Bagian paling mencekamnya adalah...ada banyak tombak tajam meskipun ramping, telah siap keluar dari dalam lubang-lubang tersebut!! Dan karena Armian tadi menyentuh salah satu bagian tubuh patungnya, maka tombak-tombak itu mencuat keluar, hingga menancap pada bagian langit-langit ruangan itu.
"Broooo..., kau lihat itu?" tanya Armian menegang pada Riche sementara yang di tanya hanya mengangguk dan menelan ludah.
"Ku rasa kau menyelamatkanku. Syukurlah aku tidak menjadi daging tusuk di atas sana" tambah Armian menepuk-nepuk pipinya seolah ingin bangun dari mimpi buruknya.
"Apa kau tidak mengetahui hal ini akan terjadi?" tanya Adel menatap tajam Ferghus.
"Tentu saja aku tahu"
"Lalu kenapa kau membiarkan kami hampir mati di tengah-tengah daun itu hah?!" pekik Armian langsung berdiri dan mencengkeram kerah baju Ferghus.
"Karena aku tahu, Riche akan menyelamatkan nyawamu" kata Ferghus menatap tajam kearah Armian lalu melepaskan diri dari cengkeraman Armian.
"Sudah ku katakan jangan melangkah dan menyentuh apa pun disini sebelum aku mengatakan itu aman bukan?" kata Ferghus dengan seringai jahil.
"Hey Broo, kau hanya bilang jangan melangkah!! Bukan jangan menyentuh!!" protes Armian menahan kesal.
"Tapi baru saja ku katakan bukan? Kita akan terus berdebat disini sampai malam, atau segera mengakhiri petualangan maut ini huh?” balas Ferghus sangat santai lalu kembali melangkah di ikuti semua orang.
Tepat di bagian lorong ketiga, terdapat persimpangan yang membuat langkah Ferghus Cloy tertahan. Ia seperti enggan memilih lalu menatap kearah Armian.
"Bisakah kau menggunakan Kocerjett mu untuk melintasi setiap persimpangannya tanpa ada yang menaikinya?" tanya Ferghus harap-harap cemas.
"Tidak. Harus ada yang menaiki untuk mengendalikannya" kata Armian sambil mengerutkan kening.
"Apa mudah mengendalikannya?"
"Ah ya, kita cukup berdiri di atasnya, lalu memerintah kemanapun yang kita inginkan" jawab Armian masih menatap heran pada Ferghus.
"Boleh aku meminjamnya? Aku tidak ingin berspekulasi jika menyangkut persimpangan ini" Ferghus menjawab sangat serius hingga Armian mau tidak mau meminjamkan Kocerjett kesayangannya itu.
"Jika dalam 20 menit kalian tidak melihatku, sebaiknya kalian tinggalkan aku" kata Ferghus lalu mengoperasikan Kocerjett. Laki-laki itu melayang terbang menggunakan Kocerjett dan Glassmate ke arah persimpangan kanan. Ia terbang tak terlalu tinggi juga tak terlalu rendah.
Kabut asap kembali menguar di ruangan itu!!
"Glassmate!! Observasi!!" perintah Ferghus setelah mengerem laju Kocerjett. Glassmate memperlihatkan di balik kabut asap tersebut, ada banyak bola-bola berduri, bergelantungan di sepanjang rantai yang banyak menutupi jalan.
Karena angin berderu kencang, maka ratusan rantai itu berayun-ayun dengan sangat kencang. Tanpa pikir panjang, Ferghus memilih pergi ke persimpangan sebelah kiri. Kocerjett yang di kemudikan Ferghus mengalami hambatan untuk melaju karena adanya angin sangat besar!!
"Glassmate!! Observasi!!" perintah Ferghus kembali. Glassmate bekerja dengan baik mampu menembus deruan angin kencang. Sebuah benda padat terbuat dari tanah? Ya, mata Ferghus tidak salah lihat!! Matanya telah dilindungi oleh Glassmate itu benar-benar, benda raksasa terbuat dari tanah padat sengaja dibuat menyerupai tubuh manusia.
"Oh tidak...apa ini semacam game?" gumam Ferghus mengingat permainan game sewaktu remaja.
Wing!!
Suara apa itu? Ferghus langsung waspada, menatap ke depan!! Sial!! Mata benda raksasa itu kini, bersinar berwarna kemerahan.
"Kau, benar-benar golem rupanya huh," kata Ferghus pasrah pada kenyataan tapi ia segera memerintah Kocerjett berbalik.
__ADS_1
"Kecepatan turbo!!" teriak Ferghus panik seketika keluarlah api dari ekor Kocerjett.
Wuzzzzz
Kyaaaaaa!! Teriakan Ferghus terdengar sampai ke tempat kelompoknya berdiam karena terjatuh akibat kecepatan dahsyat Kocerjett. Semua orang hanya diam, dan waspada. Tangan mereka melekat kuat pada senjata, bersiaga penuh.
Wuppppps!!
Wingggggggg!!
Syukurlah...tangan kanan Ferghus sempat menggapai Kocerjett. Kini tangan kirinya pun juga berhasil menggapai Kocerjett.
Bang!!
Bang!!
Bang!!
Golem berlari menghampiri Ferghus dengan kekuatan mistis sang Golem mampu melontarkan Ferghus sekaligus Kocerjett dengan tenaga angin yang begitu besar!!
BuuUuuuUuUUUUm!!
Tidak ada ledakan api hanya ledakan gas, di akibatkan angin yang berhembus kencang kearah Kocerjett Ferghus. Laki-laki itu terlontar sangat jauh hingga menuju ke tengah persimpangan, membuat seluruh kelompoknya terkesiap melihat Ferghus yang jatuh dari langit-langit berdebum keras terguling-guling dilantai.
"Ferghus!!" teriak Adel panik segera berlari ke arah Ferghus.
"Stooop!! Kembali!!" bentak Ferghus dengan tatapan nanar. Adel tak pernah melihat Ferghus seperti ini sebelumnya. Laki-laki itu menatap ke arah persimpangan yang baru saja di masukinya. Ia segera berlari sambil mengangkut Kocerjett meraih tangan Gadis itu menuju kembali ke kelompoknya.
"Apa yang terjadi?" tanya Kenatt panik begitu melihat penampilan Ferghus yang acak-acakan.
"Lorong kanan dari arah kalian, ada jebakan berupa rantai-rantai panjang berhiaskan bola-bola berduri beruntun. Dan...yang sebelah kiri ada benda, ku perkirakan semacam Golem, yang siap meremukkan tubuh kita kapan saja" kata Ferghus terengah-engah.
"Aku angkat tangan untuk lorong di depan kalian itu. Tenagaku terkuras untuk yang satu itu". Kata Ferghus mengangkat kedua tangannya.
"Aku pemilik benda itu jadi aku yang akan mencari tahu" kata Armian mengulurkan kedua tangannya meminta Kocerjett sekaligus Glassmate. Pria itu mengernyit prihatin atas kondisi Kocerjett kesayangannya. Bagian belakang Kocerjett hangus terbakar sementara bagian tengahnya retak melebar.
"Syukurlah kau masih menyisakan yang ini untukku" kata Armian kesal sambil mengacungkan Glassmate di depan wajah Ferghus.
"Ayolah...itu kecelakaan" kata Ferghus merasa bersalah. Armian tak menggubris pembelaan diri Ferghus ia malah menyingkirkan tubuh Ferghus di hadapannya karena menghalangi jarak pandang Armian.
"Sial. Di hadapan kita ada pusaran angin yang sangat besar. Kurasa...siapa pun yang masuk ke dalamnya akan langsung tamat riwayatnya" pekik Armian langsung melepas Glassmate lalu memegang kedua matanya.
Arrrrgh!!
Ia menjerit kesakitan melihat keadaan Armian, Anastasya langsung menarik kedua tangan Armian hingga semua orang mampu melihat kedua mata Armian mengeluarkan air mata darah.
Tes..
Tes...
Tes tes...
Riche terperanjat mendapati sesuatu menetesi bahu kirinya dari atap!! Pria itu menoleh menatap kearah bahu kiri,
Euuuuh!!
Pekik Armian melihat ada lendir berwarna hijau sangat lengket mengenai bahu kirinya. Semua mata memandang keatas, melihat makhluk mirip cecak tapi bertanduk di bagian moncongnya, bahkan memiliki gigi-gigi runcing berjumlah banyak!! Sedang menatap lapar semuanya. Riche menghindar dan melangkah mundur, sebelum cairan hijau itu, kembali meluncur ke arahnya.
Adel menatap lantai dimana mereka pernah berjalan kearah sana dengan jantung yang berdegup kencang.
"Riche!! Buka bajumu!!" teriak Adel panik. Pria itu mengerang kesakitan pada bagian bahu sebelah kiri.
"A-apa maksudmu? akh!!" tanya Riche sambil memekik kesakitan.
"Jangan sentuh!!" teriak Adel ketika Riche akan menyentuh bahu kiri yang di selubungi lendir hijau nan bau menjijikkan.
"Ikuti kata-kataku!! Buka bajumu!!" bentak Adel. Riche tak mampu lagi menahan rasa sakit pada bahu kirinya langsung membuka bajunya.
__ADS_1
"Auuuuuch!!" pekiknya ketika baju pada bahu kiri Riche terasa lengket.
Ferghus dan Adel saling berpandangan saling mengangguk, dan memberi kode pada Anastasya untuk segera mengeluarkan botol alkoholnya. Sementara Adel mengorbankan sapu tangan pink kesayangannya untuk membungkam mulut Riche. Pria itu melotot kearah Adel ingin protes kenapa mulutnya di sumpali sapu tangan?! Ferghus segera meraih baju Riche yang lengket itu dan menarik sekencang-kencangnya.