
"Secangkir coffe Latte hangat,"
"Kenapa tidak kau tawari aku sebuah tawaran yang lebih menarik? Seperti kencan?" goda Ferghus.
"Lakukan dalam mimpimu" balas Adel sambil berjalan memasuki pintu yang kini terbuka ke dalam. Sebuah tangga terbuat dari besi, dengan dua buah sisi, tempat mereka dapat berpegangan kuat menyambut kedatangan mereka.
"Ferghus, kita butuh penerangan disini" kata Adel melirik kearah Ferghus.
"Ah, gunakan saja lampu emergency di bawah tempat tidurku. Semoga itu masih berfungsi" kata Rulby pada Ferghus. Pria itu hanya mengangguk, menaiki tangga tiga langkah keluar dari lemari, meringkuk mencari keberadaan lampu emergency milik Rulby.
Tangannya menemukan sebuah kardus tanggung lalu ditarik kearahnya. Ferghus langsung mengambil lampu itu dari dalam kardus dan buru-buru masuk kembali ke dalam lemari tak lupa menyalakan lampu tersebut sebelum terjebak dalam kegelapan.
"Kita mulai berpetualang Mom??" seringai jahil Ferghus sangat membuat Adel ingin menimpuk wajah tampan Pria itu dengan sepatunya saat ini. Adel hanya menghela nafas gusar lalu melanjutkan menuruni tangga.
"Tampaknya kita menuju ruang bawah tanah" gumam Ferghus bergema ke seluruh ruangan sambil melongok ke dasar. Perjalanan panjang rupanya.
Drrrrt...
Drttttt....
Krieeeeeeeeeeek....
"Woaaaaaah !!"
Oh tidak!! Tangga yang mereka tapaki berderit nyaring lalu bergerak dengan sendirinya kesisi ruangan lain, bergeser ke kiri, membuat ketiganya mempererat pegangan di bagian kedua sisi pegangan tangga tersebut.
Derrrrt
Derrrt
Krieeeettttt
Ceklik
Klik
Gerakan tangga itu mulai berhenti tapi masih menimbulkan gemuruh detak jantung mereka berdetak sangat kuat...Ferghus menepuk kepalanya, lalu tertawa menertawakan sesuatu yang tak dimengerti oleh Adel, maupun Rulby.
"Jadi apa tadi menurutmu sebuah lelucon? Kita bisa saja jatuh menggelinding, atau lebih parah lagi terjun bebas ke bawah!!" amuk Adel menghakimi Ferghus yang masih sempat-sempatnya menertawakan hal yang tak terduga.
"Santai Mom..., kau lihatlah sendiri apa yang tak sengaja ku sentuh ini..." jawab Ferghus ketika melepaskan pegangan tangan kirinya dari benda, yang juga terbuat dari besi, yang berfungsi sebagai tuas?? Jadi...tuas itulah, yang mengendalikan laju pergerakan tangga di bawah kaki mereka ini?!
"Kau menemukan lagi kejutan untuk kami bung, apa tanganmu itu tangan ajaib? hmm?" puji Rulby dengan raut wajah takjub.
"Oh, ini anugerah yang tidak dapat ku tolak nona," kelakar Ferghus tidak penting.
"Jadi..., Ferghus, bisa kita konsentrasi pada tuas itu saja sekarang?" tanya Adel yang memperhatikan dengan seksama tuas tersebut.
"Dari bentuk tuas ini, menunjukkan tangga yang kita pijaki ini, bisa pergi kearah mana saja yang kita kehendaki. Lihatlah ini" kata Ferghus menunjukkan pada gundukan besi berbentuk bulat di bawah tuas tersebut.
"Jadi kita bisa berputar mengelilingi ruangan ini. Dada rasa begitu"
"Mengelilingi? Aku punya firasat buruk tentang itu"
"Apa?" tanya Ferghus dan Adel bersamaan.
"Ayolah, tangga ini tidak akan dibuat dapat berputar, jika tidak untuk memudahkan sang pemilik rumah sebelumnya, mendapatkan akses keluar masuk bukan? Apa kalian tidak berpikir? Bahwa, akan ada lorong-lorong rahasia di bawah sana? Minimal...ruang rahasia?" tambah Rulby menatap serius pada kedua tamunya itu.
"Jadi...apa yang akan kita lakukan sekarang? Turun di sudut kiri ini atau sudut kanan?" tanya Adel dengan rasa penasaran yang tinggi. Sangat tinggi malah...
"Kenapa kita tidak mencoba garis lurus saja?" kata Rulby ragu-ragu.
"Aku belum siap merasakan kembali tangga ini bergerak sekali lagi dalam waktu dekat ini. Kumohon..." mohon Adel masih menepuk-nepuk dadanya.
"Well, bisa kita menuruni tangga ini? Sekarang?" tanya Ferghus tak sabar lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan menuruni tangga dan sampai pada permukaan tangga yang datar. Mereka tertegun tak percaya.
"Masih ada tangga lagi? Tapi kenapa tangganya menuju keatas? Kupikir...kita akan tiba di dasar ruang bawah tanah" umpat Ferghus kesal.
"Tidak ada jalan lain bukan? Kita harus melakukan penyelidikan sampai tuntas" kata Adel sambil berjalan menaiki tangga diikuti oleh Rulby dan Ferghus. Sampai di ujung tangga, mereka berjalan perlahan menuju ke tengah-tengah permukaan tangga datar kembali.
Gretek...
Greteeek...
__ADS_1
Greeeeeet...
Mereka mempertajam penglihatan dan pendengaran mereka, mencari arah suara tersebut...
Saaaaath!!
Saaaat saaaaaat!!!
Saaaat saaaat saaaat!!!!
Banyak sekali serbuan panah dari kiri dan kanan!! Mereka berteriak mencoba mencari jalan untuk melarikan diri!!
Agh!!
Hgggh!!
Hgggggh!!
Ketiganya diam mematung tak berkutik, memberanikan diri membuka kedua mata masing-masing, memperhatikan reaksi dan kondisi satu sama lain.
Bruuuuugh!!
Adel!! Wanita itu berdebum jatuh, sambil menyentuh ribuan panah yang menancap di perutnya!! Ujung runcing busur panah itu menembus tubuh Adel hingga Ferghus dan Rulby menatap ngeri peristiwa itu. Ya, ribuan!! Ribuan anak panah bersarang di perut, dada, bahkan...ada yang menembus ke kepalanya!!
Genangan darah mengucur deras...bagaikan air lautan yang membasahi bibir pantai.
"Stop!!" bentak Ferghus ketika melihat Adel melangkah memasuki ruang rahasia itu. Matanya penuh rasa ketakutan yang mencekam!! Tangannya yang masih menggenggam ornamen naga itu pun gemetaran seketika mendapatkan gambaran mengerikan.
"Kenapa? Kita harus kesana, untuk menyelesaikan misi kita" protes Adel.
"Aku bilang stop!! Kita sudahi saja penyelidikan hari ini. Besok...bisa kita lanjutkan" kata Ferghus dengan nafas terengah-engah bahkan lututnya yang gemetaran, tak mampu lagi menopang beban tubuhnya hingga ia jatuh terduduk di lantai, bersandarkan pintu lemari kaca Rulby.
"Hey, apa kau sakit?" tanya Adel yang langsung berjongkok di samping Ferghus, memeriksa suhu tubuh Pria itu dengan meletakkan punggung tangannya ke kening Ferghus.
"Kalau aku sakit, bisakah ini kita hentikan sekarang?" kata Ferghus tiba-tiba menggapai tangan Adel yang berada di keningnya, lalu meletakkan di atas dadanya. Adel dapat merasakan degupan jantung Ferghus yang berdetak melebihi batas normal. Jika ini diteruskan, Pria itu bisa terkena serangan jantung.
"Baiklah...kita lanjutkan besok, boleh?” tanya Adel meminta izin pada Rulby.
Adel berinisiatif untuk membawa Ferghus masuk ke dalam mobilnya berhubung Pria itu dalam kondisi buruk saat ini. Adeline Minna, tidak akan membiarkan seorang Ferghus Cloy celaka, sebelum semua urusan mereka berdua terselesaikan. Adel sama sekali tidak ingin menggunakan mobil milik Ferghus yah, kau tahulah bau asap rokok terlalu pekat di dalam sana. Mana ada seorang Wanita pembenci asap rokok sudi memasuki mobil itu meski semenit pun.
"Apa kau ingin pulang sekarang?" tanya Adel melirik kearah Ferghus yang hanya diam melamun.
Dalam lamunan Ferghus, Pria itu mengenang masa-masa SMA nya. Di sela lalu lalang arus anak-anak ke pintu keluar kelas, Ferghus muda menarik tangan seseorang.
"Kamu ingin pulang lewat jalan mana?” pertanyaan Ferghus membuat orang yang ditanya mengerutkan kening.
"Seperti biasa menuju jalan yang sama, seperti sebelumnya"
"Gunakan jalan pintas Alex,"
"Kenapa? Ada jalur cepat dan mudah menuju rumahku. Lalu kenapa aku harus beralih ke jalan pintas yang justru memakan waktu banyak untuk kutempuh?" protes Alex.
"Nanti kau celaka. Jangan lewat sana mengerti," jawab Ferghus penuh misteri sambil menepuk-nepuk bahu Alex. Keesokan hari, seluruh kelas dikejutkan dengan kedatangan Alex yang menggunakan dua tongkat kruk berjalan melewati setiap meja, dan duduk di mejanya.
"Apa kau kemarin menyumpahiku agar aku celaka saat aku benar-benar melewati jalan itu?" bisik Alex kesal.
"Aku justru sedang melindungimu. Jika aku berniat mencelakaimu, untuk apa aku memperingatkanmu kemarin?" balas Ferghus tidak terima atas tuduhan Alex yang tak berdasar. Lalu seseorang menepuk bahu Alex.
"Apa yang terjadi? Kenapa kakimu?" tanya Gadis yang duduk di belakang meja Alex.
"Kemarin aku berjalan pulang ke rumah tiba-tiba seseorang dengan motornya datang melaju sangat cepat dari arah belakang menyerempetku hingga aku terguling di aspal dan mengalami patah tulang kaki seperti ini"
"Kau tahu, kau harus berhati-hati pada Ferghus...apa yang dia katakan akan jadi nyata. Ini karena dia kemarin menyumpahiku celaka" balas Alex berbisik dengan suara yang agak keras agar Ferghus pun mendengar. Maka dalam sehari, Ferghus yang awalnya sosok paling disukai di kelas, kini berubah menjadi sosok yang paling, dijauhi. Ini semua, karena hasutan Alex.
Awalnya Ferghus merasa sedih tapi, suatu hari...sang Ibu mengatakan sesuatu pada Ferghus yang membuat dirinya menjadi kembali percaya diri.
"Ingatlah baik-baik pesan Mom sayang, baik ketika Mom ada maupun tiada, kau harus menjaga lisanmu. Kau adalah orang yang disukai Tuhan...sehingga Tuhan memberimu kelebihan yaitu, apa pun yang kau katakan, akan terjadi. Maka mulai saat ini ingatlah baik-baik nak, katakan saja semua hal yang baik-baik" kata Mom Ferghus mengusap lembut rambut anak semata wayangnya itu.
Adel menatap Ferghus sekali lagi melihat Pria di sampingnya sibuk memikirkan entah apa pun itu. Adel menggoyangkan telapak tangannya tepat di depan mata Ferghus hingga lamunan Pria itu memudar.
"Oh, apa?" tanya Ferghus gugup.
"Aku bertanya, apa kau ingin pulang? Beristirahat?" tawar Adel sekali lagi.
__ADS_1
"Sumpah. Aku ingin mengakhiri semuanya. Kau yakin tetap ingin melanjutkan misi?" kata Ferghus kali ini dengan ekspresi kacau. Entah dia sedang bingung, ketakutan, tertawa, marah ataupun menangis.
Seketika mobil yang mereka naiki berdecit keras lalu berkelok tajam membuat Ferghus harus berpegangan pada pegangan tangan di atas kaca mobil.
"Ferghus Cloy, sebenarnya apa yang terjadi? Katakan padaku SEKARANG" kini Adel mulai menuntut penjelasan yang bila pun ada, akan sangat sulit untuk dinalar olehnya.
"Aku merasa kita semua akan mati di dalam sana jika salah sedikit saja, dalam melangkah"
"Apa? Kau berkata seolah kau sudah tahu apa saja yang ada di dalam lemari itu"
"Ya, ini kedengarannya gila tapi aku sangat yakin setelah melihat apa yang terjadi padamu di dalam sana tadi!!" pekik Ferghus mendengus kesal.
"Ayolah...kau butuh istirahat. Akan ku antar kau pulang sekarang".
"Tidak. Kita pergi saja ke kantor Polisi. Disana ada saudaraku dia bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan informasi tentang siapa penjual rumah itu dengan mudah" kata Ferghus sambil menyandarkan kepala.
"Apa?! Kau sadar? Kau butuh istirahat. Sadarlah betapa labilnya kondisi psikismu saat ini. Sebentar bilang ingin segera mengakhiri, sebentar kemudian kau bicara seolah masih ingin melanjutkannya" protes Adel.
"Aku ingin meyakinkan padamu ada banyak keganjilan dirumah itu. Seharusnya kau merasakan, rumah itu bukan tempat untuk dihuni manusia"
"Berhentilah bicara hal yang tidak masuk akal Ferghus, pastikan kau tidak akan membuat masalah lagi kali ini" kata Adel memperingatkan.
Mereka kini telah tiba di sebuah gerai besar utama provider kartu Merpati, bersama saudara Ferghus yang seorang kepala kepolisian. Mereka berjalan penuh percaya diri masuk ke dalam gerai.
"Permisi. Saya dari kepolisian Royeen, ini surat perintah langsung untuk menyelidiki CDR (Call Data Record) dari sim card ini. Harap kerja samanya. Pemiliknya bernama Edward Corner. Kami sedang mencari lokasi keberadaan seseorang yang menjual rumah kepadanya" kata Kabareskrim Komisaris Jendral Polisi Kenatt Anderson Cloy.
Orang yang menerima surat perintah langsung mengangguk dan mempersilahkan Kenatt dan kedua orang yang mengekorinya tidak lain adalah Adel dan Ferghus, masuk ke sebuah ruangan.
Orang itu memperkenalkan Kenatt dengan seorang Wanita berusia sekitar 29 tahun berpenampilan modis yang kemudian mempersilahkan ketiganya duduk. Wanita itu segera melakukan tugasnya dengan baik, melacak semua panggilan masuk ataupun panggilan keluar.
"Berhasil. Namanya Rudolf Ponix. Berikut rekaman pembicaraan yang berhasil kami rekam" kata Wanita itu, memperdengarkan bukti percakapan antara Edward Corner dengan Rudolf Ponix.
Baru saja rekaman itu berjalan, sebelum mereka sempat mendengar, lampu mendadak padam!!
semua orang di dalam ruangan itu saling berbisik satu sama lain. Wanita dihadapan Kenatt pun akhirnya berdehem agar semua perhatian tertuju pada dirinya.
"Ehm. Maaf atas gangguan ini, jangan khawatir, ini tidak akan lama" kata Wanita yang di papan namanya bertuliskan Angel Hofler lalu, seperti kata Angel...lampu kembali menyala.
"Baiklah, mari kita selesaikan hal yang telah tertunda Tuan, Nyonya" kata Angel Hofler memulai kembali menyalakan hasil pencariannya.
Adel dan Ferghus berjalan penuh kelegaan di ikuti oleh Kenatt di belakang mereka menuju basement. Bagaimanapun, misteri siapa sang pemilik rumah terdahulu sudah terjawab dialah, Rudolf Ponix. Jika Pria tersebut tidak mengakui, mereka punya bukti rekaman pembicaraan dirinya dengan mendiang Ayah Rulby.
"Akan kuatur jadwal pertemuan dengan Rudolf Ponex sementara ini, kita jangan kembali ke rumah itu dulu oke," kata Ferghus sambil menutup pintu mobil di ikuti yang lainnya.
BRAGH!!
Pembicaraan antara Ferghus dan Adel seketika terhenti sementara Kenatt hanya diam terpaku di jok paling belakang sendirian.
Tin!
Tin!!
Tin!!!
Suara klakson mobil di sekeliling mereka berbunyi sangat nyaring bahkan ritting mobil-mobil itu pun berkedap-kedip seolah ada orang di dalamnya.
"Jadi katakan padaku sebenarnya, kita berurusan dengan apa sekarang?” tanya Kenatt saat mobil yang mereka naiki mulai bergoyang hingga Adel dan Ferghus terbentur-bentur kaca mobil.
"Pasti kau tidak akan menyukainya jika aku mengatakan dengan jujur. Tapi kau bisa tahu kebenarannya sekarang" kata Ferghus.
Cklik!!
Klik!!!
"Oh nooooooo" gumam Adel yang langsung mendapat perhatian Ferghus dan Kenatt begitu melihat kunci mobil yang ia tempelkan tiba-tiba berputar sendiri. Ketiganya saling memandang satu sama lain berharap salah satu dari mereka mengatakan apa yang mereka lihat tidaklah nyata.
Adel terkejut mendapati pedal rem seolah ada yang menginjak jelas bukan dirinya. Tapi.., bukankah dia yang ada di kursi kemudi?! Tidak hanya itu, tuas transmisi ada yang menggeser ke D!!
"Aaaaaaaaan!" sontak Ferghus, Adel dan Kenatt berteriak ketakutan mendapati serangan dadakan tersebut. Mata mereka melotot begitu melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Mobil yang mereka tumpangi berjalan keluar dari wilayah Gerai provider Merpati melaju dengan kecepatan tinggi lalu mengarah ke tempat dimana sebuah danau berada.
"Buka dan lompat!! Makhluk ini ingin menenggelamkan kita hingga karam bersama mobilku!!" teriak Adel panik. Berulang kali mereka mencoba untuk membuka pintu tapi susah!!
"Buka jendelanya!!" teriak Ferghus mengomando tetap saja hal itu tak bisa dilakukan!! Mereka berteriak-teriak ketakutan ketika mobil itu mulai masuk ke dalam danau. Perlahan tapi pasti, air danau itu telah masuk kedalam mobil sedikit demi sedikit.
__ADS_1