
"Anda bilang, Jacob ingin menghidupkan kembali Marioneth bukan? Karena itu dia menciptakan banyak manekin hingga sekarang? Tapi...kenapa Jacob justru menghidupkan Harry bukan Putrinya? Kalau ini adalah salah satu percobaan Jacob, lebih baik dia Mencobanya langsung pada manekin lilin Putrinya bukan?" tambah Haruko penasaran. Hisashi menghela nafas panjang nampaknya ia tidak ingin terlalu banyak bicara.
Hisashi kini duduk bersila, memejamkan mata sambil berkomat kamit. Muncullah rasa kantuk yang teramat sangat membuat Eve, Haruko dan Dimitri serempak terlelap. Hisashi mengajak mereka pergi ke alam bawah sadarnya. Eve terdiam melihat ruangan luas dengan dominasi warna kelabu. Ketiganya tersadar dijari mereka tersemat benang berwarna merah.
Carilah kunang-kunang lalu ikuti kemana mereka pergi
Dimitri ingin mengatakan sesuatu tapi, bibirnya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Bagaimana ini? Mereka harus berpencar atau pergi bersama? Haruko menepuk bahu Dimitri lalu menyikut lengan Eve. Sambil Haruko, mengetuk dua kali pada jam di pergelangan tangan mereka. Berhenti! Jamnya berhenti berdetak.
Eve berjalan mendahului Dimi dan Haruko mereka harus segera menemukan kunang-kunang agar mereka dapat segera terbebas dari cengkeraman tiga iblis sialan tersebut. Ketiganya sepakat untuk berpencar dan bertemu lagi dititik awal mereka berpisah. Eve menghela nafas panjang lalu dihembuskan kembali. Pasti ada suatu titik, dimana kunang-kunang bersembunyi. Tiba-tiba ruangan kelabu berubah menjadi sebuah taman yang cantik.
Dimi dan Haruko awalnya memilih duduk karena putus asa namun berkat pemandangan indah ini, mereka jadi bersemangat kembali. Tapi tidak dengan Eve...antara bingung, cemas dan takut berbaur menjadi satu. Eve melihat Mr dan Mrs. Brodie menatapnya damai...tubuh mereka lambat laun menghilang dan berubah menjadi sepasang kunang-kunang. Ketiganya saling menatap dan mengangguk tanda sepakat mereka akan mengikuti kemana kunang-kunang pergi.
Semakin mereka jauh berjalan, maka makin sempitlah tempat yang mereka tuju. Langkah mereka terhenti saat kunang-kunang terbang melayang melewati sebuah tali yang membentang panjang... sebagai fasilitas satu-satunya jembatan penghubung entah kemana. Haruko sempat mundur tiga langkah menyadari kemungkinan 99% akan terjadi kecelakaan saat mereka menyeberang. Dimitri berjongkok lalu menyentuh tali itu lalu menatap horor pada Eve dan Haruko.
Dimitri menunjuk kearah tali tersebut lalu menarik beberapa helai rambut Haruko yang panjang. Para Gadis mengamati tali dan mengakui Dimitri benar...itu bukanlah seutas tali tapi, sehelai rambut!! bagaimana mereka dapat menyeberang? Tak ada satu pun alat yang bisa mereka gunakan untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Sejenak mereka ragu...tapi jalan yang mereka pernah lalui perlahan menghilang!! Mereka panik bukan main Haruko berinisiatif berjalan terlebih dahulu baru berjalan 10 langkah ia sudah jatuh ke jurang seketika. Sementara Eve dan Dimi malah berhasil menyeberang. Eve menggenggam erat tangan Dimitri sebelum melanjutkan perjalanan.
Dimitri mencoba membimbing Eve untuk segera kembali memulai perjalanan tapi...mereka terkejut kembali tanah tempat mereka berpijak terasa seperti sedang bergerak dan mulai bergeser!! Tautan tangan keduanya pun terlepas. Merasa ada kesempatan ketika tidak terasa lagi adanya pergerakan tanah, Eve dan Dimi berlari mendekat kurang lebih...satu jengkal saja, mereka sudah dapat meraih tangan satu sama lain.
Namun, sebelum itu terjadi, sebuah dinding transparan layaknya kaca memisahkan mereka. Mereka berusaha memukul dinding transparan itu sekuat tenaga tapi sia-sia. Suara burung gagak beterbangan dilangit tepat diatas mereka berdiri. Eve dan Dimi melihat ke depan mendapati sebuah rumah kayu yang sangat akrab dimata mereka. Jika mereka tak bergerak, apakah jalan itu juga akan menghilang?
Sama seperti sebelumnya? Mereka saling menyembunyikan kenyataan bahwa ada cerita kelam dalam rumah kayu tersebut. Juga saling berpura-pura tidak takut akan hal itu. Eve berlari menuju rumah kayu diiringi oleh Dimi yang berlari dibalik dinding kaca transparan. Mereka berlomba mencapai pintu tapi, mereka tiba-tiba menghentikan hentakan kaki sebagai gantinya, sepatu mereka bergesekan di tanah sebelum benar-banar berhenti.
Krieeeeek....
Pintu itu terbuka dari dalam!! Pikiran ingin segera keluar dari tempat itu sangatlah kuat. Tapi kaki mereka malah melangkah masuk tanpa ragu.
"Seharusnya kalian tidak kembali masuk kemari” seorang Gadis kecil gemetaran meminta mereka segera lari dari sana.
"Tolong jangan pedulikan aku... " suaranya juga bergetar ketika mereka mendengar seorang Wanita memanggil nama Marioneth.
"Tidak. Amanda...kita harus pergi bersama" isak Eve panik.
"Kevin...bawa Terre pergi. Kumohon!!" teriak Amanda. Eve menatap anak Laki-laki disampingnya. Anak Laki-laki yang kakinya terluka parah.
"Amanda!!" teriak Eve mencoba menyusul Amanda yang lari masuk jauh lebih dalam lagi.
"Tidak banyak waktu lagi. Terre sadar!!" bentak Kevin menggeret Eve lari keluar dari rumah kayu.
"Kembalikan Putri kami!!" teriak seorang Pria. Mereka mendengar derap langkah kaki berlari mengikuti kemana mereka pergi. Mereka tersandung sebatang kayu yang amat panjang!! Eve dan Kevin jatuh bergulingan di tanah. Pria paruh baya itu semakin mendekat lalu mengayunkan sabit kearah kaki Kevin yang sudah berdarah-darah sebelumnya.
AaaaaAaargh!!
Teriak Kevin ketakutan sekaligus kesakitan luar biasa tapi ia tetap masih berusaha membentengi Eve dari sang Pria keji itu, dengan tubuhnya. Kevin dan Eve saling diam membeku mereka kini berhadapan, saling memandang satu sama lain. Wajah penuh keterkejutan kini mendominasi.
Kevin kecil berubah dewasa menjadi Dimitri dimata Eve sementara Terre kecil, berubah dewasa menjadi Eve dimata Dimitri. Sebuah kekuatan besar menarik mereka ke udara secara tiba-tiba.
Eve dan Dimi akhirnya terbangun mereka melemparkan pandangan saling menyelidiki satu sama lain.
"Ke-Kevin Suneil...itu kau, Dimitri Afanas?"
"Evelina Dushenka... Terre Zoloumis? Kita...ternyata saling terhubung dimasa lalu?" Tanya Dimi luar biasa terkejut. Mendengar Eve dan Dimi mulai saling mengenali, Hisashi menatap lega pada keduanya.
__ADS_1
"Kau agak keterlaluan kali ini Hisashi. Dimi benar-banar merasa kesakitan" tegur Haruko memicingkan mata.
"Aku tidak melakukan apa pun kecuali menjadi media bagi mereka. sebagian kecil manusia, menginginkan masa lalu mereka tak pernah mereka ingat sampai akhir hayat. Maka harus ada orang yang membantu mereka mengingat bahkan menerima sekelam apa pun..., masa lalu mereka" jawaban Hisashi memancing Dimitri mencengkeram erat bajunya.
"Jika kau ingin lepas dari para iblis maka cobalah membantu Eve memecahkan masalahnya. Dia perlu lebih mengenal dirinya dimasa lalu."
"Iblis itu mengincar Evelina Dushenka kenapa harus mengorek identitas dan kejadian dimasa lalu?! Kau membangkitkan ingatan Kevin Suneil, yang tidak ada hubungannya dengan apa yang kita alami sekarang!!"
"Tidak akan ada masa kini tanpa...masa lalu. Semua saling terkait. Kau pikir kenapa kalian bertemu kembali setelah sekian lama? Itu, yang dinamakan ikatan takdir. Eve harus bisa menjawab pertanyaan ini, kenapa Iblis memperebutkannya? Kenapa hanya dia yang harus dibiarkan hidup" Kalimat terakhir Hisashi membuat Dimitri berpikir lalu melepaskan cengkeramannya dari Hisashi.
"Selama ini aku kesulitan untuk bertemu denganmu. Tapi kau dengan mudah memanggilku" gumam Hisashi mengangkat kedua alisnya sambil mengamati ekspresi Eve.
"Itu karena Mom mengajariku mantra darimu."
"Mantra itu hanya berfungsi untuk membuka ruang dimensi ini dari dalam sehingga aku dan rekanku bisa melihat wujud kalian. Bukan ditujukan untuk memanggil "kekeh Hisashi membuat Eve mendengus frustasi.
"Aku tidak pernah memiliki sihir apa pun. Tidak ada yang mengajariku ilmu sihir jika kau masih menganggapku sebagai Peri"
"Iblis punya banyak tingkatan sihir. Bahkan Iblis keempat, memiliki ilmu sihir terkuat. jangan membuang tenaga hanya untuk berpikir mereka sedang berburu penyihir" jawab Hisashi sinis.
"Hal spesial apa...yang kau miliki Eve?" Haruko bergumam dengan otak yang mulai tumpul.
"Bagaimana jika...mereka mengincar kemampuan khusus yang dapat menandingi sihir tertinggi?" ide itu muncul begitu saja dikepala Dimitri.
"Mustahil. Manusia semungil Eve lebih berbahaya dari sihir para Iblis yang hidup ribuan tahun lamanya? Ya ampun, dari mana kemampuan itu berasal?" sahut Haruko terkekeh sambil mencari hal tak biasa ditubuh Eve.
Tapi kenapa bagiku justru masuk akal? Gadis ini akan sangat berbahaya jika benar memiliki hal khusus. Terlebih lagi...aku melihat dia mengidap gangguan mental cukup serius. Seseorang berusaha menutupi hal ini dalam waktu cukup lama. Maafkan aku yang harus membuat penyakitmu kambuh lagi. Eve...beri aku petunjuk tentang kemampuanmu ini. Nyawa kami ditanganmu. Hisashi hanya mampu membatin sambil terus menatap Eve.
"Apa yang lebih maha dahsyat dari sebuah sihir terkuat?" gumam Hisashi.
"Eve...sebagai Terre kita pernah menjumpai manekin Marioneth bukan?" pertanyaan Dimitri ditanggapi Eve dengan sebuah anggukan.
"Ya, boneka manekin biasa tidak dapat bergerak juga bicara. Pasangan gila itu hanya memasang sebuah rekaman suara di dalam tubuh manekin" tambah Eve.
"Itu menjelaskan, bahwa...yang dapat memberi jiwa pada para manekin lilin bukanlah mereka. Maksudmu begitu? Jadi mereka bersekongkol dengan Iblis sebelum bunuh diri?" Haruko mulai tertarik.
"Bersekutu...ah, disini ada tiga Iblis bukan? Itu pasti makhluk yang kau sebut Zilky” tambah Haruko.
"Bukan” Hisashi dan Eve menjawab secara bersamaan.
"Jelas bukan dia. Melihat hubungan mereka tidak akur..., kemungkinan kecil mereka pernah bersekutu” tambah Eve bergidik ngeri.
"Ada banyak hal sulit untuk dipercaya. Seperti hubungan manusia. Musuh bisa jadi teman sebaliknya, teman juga bisa tiba-tiba menjadi musuh” desis Dimitri.
"Terlalu dini untuk menyimpulkan dugaan semacam itu Dimitri. Bahkan, yang terkuat belum datang untuk menyambut penyusup sepertiku" bisik Hisashi membuat mereka bertiga lemas.
"Itulah kenapa kita harus cepat menemukan apa yang mereka inginkan dari Eve” tambah Hisashi senyum tanpa dosa.
Harry cukup lama memandang para manusia seperti dirinya kini. Aditi mengibaskan tangan ke udara, membuat para manusia termasuk Harry berjatuhan dilantai. Mereka terlelap. Sementara Darius berjongkok menatap kosong pada Harry Normand.
"Aku pikir ini adalah sihir yang diciptakan Tuan kita. Tapi lihatlah Harry sekarang. wajahnya benar-benar sama dengan Harry manusia sungguhan. Tidakkah kau berpikir Harry manekin memanglah Harry?" Darius menatap tajam Aditi.
"Kau pikir Tuan kita memang mengambil jiwa Harry yang telah mati dan mengurungnya kedalam manekin lilin? Jadi ini bukan sihir biasa? Entah kenapa aku merasa bukan diriku yang dulu."
__ADS_1
"Kau tidak bisa membaca kemungkinan bagaimana jika kita pun begitu? Ada kesempatan kita dapat hidup kembali sebagai manusia" Darius mengguncangkan kedua bahu Aditi. manekin cantik itu tidak bereaksi sedikitpun.
"Mungkin Harry dari awal diciptakan untuk kembali menjadi manusia tapi tidak dengan kita. Tuan kita pasti sudah memperkirakan ini. Kejadian manusia bernama Hisashi itu muncul ke dunia kita, juga pasti sudah diantisipasi oleh mereka” jawab Aditi menerka sesuatu yang tak pasti. Darius melepaskan genggamannya pada kedua bahu Aditi. Mata Darius mengarah ke segala arah tak fokus.
"Bagaimana jika dari awal, manekin lilin tidak pernah diciptakan untuk berubah menjadi manusia? Tapi entah apa yang dilakukan Harry justru membuatnya berubah menjadi manusia" Sambung Darius menatap penuh tuntutan pada Aditi.
"Bagaimana jika...bahkan Tuan kita tidak tahu segalanya tentang apa pun yang terjadi pada hasil ciptaannya? Kalau ini benar, maka Harry dan kita semua dalam masalah” tambah Darius.
"Kau ingin berpihak pada siapa? Tuan kita atau manusia?".
"Aku mulai meragukan Tuan kita."
"Ah, mari kita perjelas saja. Kau memihak manekin atau manusia?" geram Aditi merasa menjadi seorang pengkhianat karena mengakui dan mengiyakan keraguannya terhadap sang Tuan sekaligus pencipta kaumnya.
"Manusia yang mana? Aku perlu tahu siapa yang sedang kau pikirkan? Eve dan teman-temannya? Atau... Harry" Darius membalas Aditi dengan senyuman paling sinis.
"Harry pengecualian untuk kita Darius..."
"Apa itu masuk akal? Kenapa Harry masuk ke dalam daftar pengecualian? Dia sekarang manusia, makhluk yang akan lenyap dari muka bumi ini. Bukankah ini kesepakatan kita dengan Tuan?" Darius menyeringai dengan sorot mata mengejek.
"Apa yang kau pikirkan?" desis Aditi tajam.
"Ini bukan tentang apa yang aku pikirkan Aditi. Tapi apa yang ingin aku lakukan secepatnya" jawab Darius sangat menekan Aditi kali ini.
"Kau harus menentukan berada dipihak siapa. Karena mungkin, kita akan segera berada di dalam kapal yang berbeda” tambah Darius menatap kearah Harry.
"Jangan berbelit-belit Darius...katakan saja kau ingin memihak siapa?"
"Manusia."
"Bagaimana bisa pikiranmu kearah sana? Kau pikir mereka akan menerimamu? Setelah apa yang kau lakukan?"
"Setidaknya, manusia disini tidak pernah menyakiti kita lebih dahulu. Kita yang menyerang mereka dengan brutal. Jadi, jika ada penolakan dari pihak mereka, aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap dipihak manusia apa pun yang terjadi"
"Darius!! Apa kau tidak tahu cara Berterima kasih?!"
"Aku akan melakukannya jika Tuan, memperlakukan kita semua dengan manusiawi Aditi. Apa kau pernah diperlakukan dengan baik oleh salah satu dari mereka?! Kita tidak dianggap anak-anak mereka seperti apa yang mereka selalu ucapkan berulang kali. Kita diperlakukan seperti peliharaan mereka"
"...." Aditi hanya diam dan berpikir.
"Untuk mendapatkan kesetiaan tidaklah cukup hanya dengan menghidupkan kita" tangan Darius mengepal lalu meninju dinding.
"Kau merencanakan pemberontakan?" ucapan Aditi ini membuat Darius terkekeh kecil.
"Aku tahu kau, tidak akan setuju dengan rencanaku ini. Karena itulah, mulai sekarang kau boleh meninggalkanku dan Harry."
"Kau memberi tahu rencana besar pada musuhmu? Kau pikir Harry mau mengikuti rencanamu?" Aditi mulai berkecak pinggang menantang. Keduanya menegang seketika, ketika sebuah tangan mengunci leher Darius. Aditi tidak tahu harus berbuat apa sekarang melihat ada manekin asing lainnya.
"Apa kau, sudah yakin benar-banar dipihak manusia?” gertak manekin lilin tersebut pada Darius.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kau?"tanya Aditi was-was.
"Kenapa aku harus membongkar identitasku pada kalian? Apa ada untungnya untukku?!" bentak manekin lilin tanpa nama.
__ADS_1
"Dengar. Aku senior kalian. Apa pun yang akanku katakan, pada seluruh manekin disini, mereka hanya akan mendengar dan mematuhiku. Jadi pikirkan saja, kalian berpihak padaku” tambahnya.