
ahay.....Author menunggu
kalian menekan favorit, like, dan komennya dooong. 😍
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kita akan tamat..." kata Ferghus ketika air telah setinggi dagunya. Adel terus berusaha membuka pintu mobilnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Braaaak!!
Adel akhirnya mampu membuka pintu mobil tersebut, bersama dengan rembesan air danau yang mengalir deras keluar dari mobil. Ketiganya tercekat diam mematung menatap ke sekeliling mereka. Apa?! Mereka masih berada di basement?! Tapi...mereka masih dalam keadaan benar-benar basah kuyup!!
Air danau itu pun, nyata membuat becek jalan di bawah mobil mereka!! Ini tidak masuk diakal...bagaimana caranya, sebuah mobil kering di bagian luar seolah tak terjadi apa pun, tapi bagian dalamnya basah kuyup!! Termasuk jok mobil Adel. Wanita itu keluar dari mobil di ikuti oleh Ferghus dan Kenatt memeriksa kondisi luar mobil Adel. Kering, tanpa jejak pernah ada air, membasahi mobil itu.
"Hey Mom!! Atap mobilmu!!" teriak Ferghus membuat Adel dan Kenatt memperhatikan atap mobil. Bekas banyak telapak tangan tercetak jelas di atap mobil Adel, bukan bekas telapak tangan biasa yang ada disana. Itu seperti...cetakan tangan yang menonjol kedalam!!
"Kalian berurusan dengan hal ini, mulai dari kapan?" tanya Kenatt menyorot tajam mata Ferghus.
"Sebenarnya...baru hari ini tapi serangannya beruntun" jawab Ferghus mengacak-acak rambutnya.
"Karena aku juga ikut dilibatkan dalam teror ini, maka aku juga harus tahu rumah mana yang sedang kalian cari tahu pemilik sebelumnya itu?" tuntut Kenatt mengernyitkan dahi.
"Elzaedar ABD 156" jawab Adel sangat serius.
"Apa?! Oh sial!! Ada banyak korban yang tidak diketahui pelaku pembunuhannya oke, bahkan beberapa ada yang hilang tanpa bekas!! Apa kalian setamak itu, hingga rela menggadaikan nyawa kalian untuk sekedar mendapatkan jawaban dari misteri rumah itu?!" amuk Kenatt.
"Tapi kita sudah terlanjur terlibat Tuan Kenatt..." geram Adel marah dipersalahkan.
"Hentikan sekarang!! Dan kau!! Kenapa kau tidak memberi tahu nona ini tentang bahayanya berada di dalam rumah itu?!" tunjuk Kenatt meledak-ledak seketika.
"Tolong jangan salahkan dia. Kami adalah rekan kerja oke, apa pun yang saya kerjakan, juga akan menjadi pekerjaannya" tambah Adel menampik telunjuk Kenatt yang mengacung tepat di depan hidung rekan kerjanya.
"Saya akan tetap melanjutkannya Tuan Kenatt. Ini berhubungan dengan karier saya. Dan jika Tuan Ferghus yang terhormat tidak ingin melanjutkan lagi, saya tidak akan memaksa" jawaban Adel sangat ketus. Ferghus langsung menarik lengan Kenatt lalu membawanya ke sisi lain agar Wanita itu tak menguping pembicaraan pribadi mereka.
"Ayolah...kau sering mendengar tentang Wanita yang ku sukai bukan? Itu dia broo...jadi bersikaplah baik dengannya"
"Apa kau sudah tidak waras? Kau tahu apa yang kau lakukan? Wanita itu bisa menyeretmu dalam masalah bahkan bisa jadi, dia juga yang akan mengantarkan kematianmu"
"Karena itu bantulah aku. Kumohon"
"KERAS KEPALA!!" pekik Kenatt tak berdaya.
"Oke. Aku mendapat sedikit bocoran tentang peta rumah itu berkat Paman kita yang menangani kasus menghilangnya penghuni lama. Peta lama tersebut, ternyata menyimpan banyak jebakan mematikan. Butuh waktu bertahun-tahun tahun untuk menerjemahkan satu simbolnya saja" kata Kenatt membuat Ferghus membelalakkan mata.
"Kalian mendapatkan peta? Bagaimana bisa?"
"Faktor keberuntungan mungkin,"
"Artinya...kita bisa cepat mendapatkan jawaban" kata Ferghus sangat lega.
__ADS_1
"Kau jangan senang dulu. Kami hanya mendapatkan satu sobekan kecil dari peta rumah ini. Dan tidak ada yang tahu...dimana sisanya"
Banyak hal telah terjadi, bahkan ketika penyelidikan baru akan dimulai bahkan teror makin gencar, ketika Adel dan Ferghus berusaha juga menyelidiki siapa si penjual rumah sesungguhnya. Dengan didampingi Kenatt, mereka melaju kearah kompleks perumahan mewah Las Savaros blok OG 99 tempat Rudolf Ponix bermukim.
Mobil Kenatt berhenti tepat di depan gerbang super besar berwarna coklat kayu, terbuat dari kayu jati unggulan yang ternyata, di beli Rudolf langsung dari Indonesia. Seorang penjaga keamanan membuka sedikit gerbang indah itu lalu muncul di hadapan ketiganya. Tanpa basa basi Kenatt menunjukkan lencananya kepada pihak keamanan rumah Rudolf.
"Saya Kenatt dan ini salah satu teman dari pemilik rumah Elzaedar ABD 156. Saya mendapat info bahwa, pemilik rumah inilah yang telah menjual rumah tersebut. Bisa saya bertemu langsung dengan beliau? Tuan Rudolf Ponix?"
"Apa sudah ada janji sebelumnya?"
"Ada banyak kasus yang ditangani langsung oleh pihak kepolisian di rumah itu. Bahkan, sudah ada surat larangan penjualan lahan rumah tersebut berhubungan dengan kasus di rumah itu. Anda ingin ini kami perkarakan atau, mempertemukan kami dengan pemilik rumah ini?" desak Kenatt memanfaatkan jabatannya.
Sang penjaga keamanan itu langsung undur diri untuk memberi tahukan kedatangan ke-tiganya pada sang tuan rumah. Tak lama kemudian pintu gerbang dibuka lebar. Ferghus memilih jadi pihak yang memasukkan mobil dan parkir di halaman luas rumah Rudolf Ponix sementara, Kenatt dan Adel berjalan menuju ruang tamu.
"Ada yang bisa saya bantu, Komisaris Jendral Polisi Kenatt Anderson Cloy?” tanya seorang Pria yang kelihatannya peranakan antara Inggris dan jepang itu. Meskipun info yang dimiliki mereka Rudolf Ponix, berusia sekitar 59 tahun tapi penampilan, dan perawakannya justru menceritakan usianya baru sekitar 49 tahun. Terlalu muda untuk usianya yang menginjak 59 tahun.
"Anda sudah diberi peringatan bukan, untuk tidak menjual rumah itu? Kenapa Anda jual?" tanya Kenatt berusaha memancing Rudolf untuk memberi informasi yang ingin di koreknya jauh lebih dalam.
"Wow, Anda benar-benar menyelidiki saya rupanya hanya untuk masalah penjualan rumah? Sangat sulit untuk di percaya. Jadi apa yang kalian inginkan dariku anak muda..." kata Rudolf Ponix mencuramkan alisnya dengan tatapan penuh selidik.
"Maaf. Anda menjadi pemilik rumah itu sejak kapan?" potong Adel membuat semua pandangan tertuju padanya.
"Sejak bulan September 2006 lalu. Aku membelinya dari sanak saudara Marthen Mathias".
"Apa? Setelah ada dua kejadian di alami dua keluarga sebelumnya, Kau masih mau memperjual belikan rumah itu?" pekik Kenatt tak percaya.
"Lalu, apa alasanmu untuk penjualan rumah yang terakhir? Kau menjual ke pada Edward Corner"
"Aku ingin membagi warisanku pada anak-anakku sebelum aku mati. Apa hubungannya dengan ini semua? Aku berhak menjual tanahku pada siapa pun persetan dengan surat larangan penjualan tersebut"
"Kau menantang aparat kepolisian? Kau menantangku?" Kenatt menatap tajam Rudolf mengintimidasi penuh.
"Ah ya, bagaimana dengan pembelinya sendiri? Transaksi baru terjadi, bila ada penjual dan pembelinya bukan? Aku pun bisa menyeret keluarga Edward Corner, kedalam masalah ini. Dia tahu, ada beberapa keluarga yang mati di dalam sana tapi dia tetap ingin membelinya. Aku tidak menutup-nutupi kejadian naas dalam rumah itu" ancam Rudolf.
"Apa Anda tahu, sejarah dibangunnya rumah penuh kaca itu Tuan?" Adel buru-buru mengalihkan topik, agar situasinya tak semakin memanas.
"Setahuku, Marthen Mathias yang membangun rumah ini. Kenapa tidak kalian tanyakan langsung sejarah rumah itu pada sanak saudaranya? Yah, akan sangat sulit. Seperti apa kata media ataupun surat kabar di tahun itu, keluarga inti Marthen Mathias telah menghilang tanpa jejak. Yah, semoga kalian beruntung" jawab Rudolf dengan senyuman misteri. Adel menangkap ada sesuatu yang telah disembunyikan oleh seorang Rudolf Ponix. Sementara Ferghus terus mengamati, ia pun mulai berpikir.
Lalu siapa yang membangun ruang bawah tanah? Memasang jebakan, yang bisa menewaskan siapa pun disana?
"Tuan Rudolf, apa Anda pernah menemukan keganjilan di dalam rumah itu? Seperti...ada ruangan yang sama sekali belum pernah terjamah siapa pun?" tanya Ferghus membuat Rudolf terdiam sejenak menatap Ferghus dengan raut wajah tegang.
Tapi ketegangan itu tak lama terlihat, nampaknya Tuan Rudolf tipikal manusia yang bisa mengontrol emosi. Jika orang dihadapannya bukanlah orang yang cermat dan tanggap dalam menangkap ekspresi seseorang, maka mereka tidak akan menyadari ketegangan Rudolf sedikitpun.
"Seperti ruang rahasia? Ya ampun rumah itu untuk hunian bung, bukan untuk markas gembong penjahat" jawab Rudolf enteng.
"Lalu untuk apa ada sebuah peta di dalam rumah itu Tuan?" tandas Kenatt.
"Apa? Peta? Apa kalian semudah itu percaya? Jika itu peta asli ayolah...cerdaslah sedikit, untuk apa peta itu disobek jika itu sebuah peta asli?" olok Rudolf terkekeh geli.
__ADS_1
"Anda sedang menyembunyikan sesuatu dari kami rupanya. Saya bahkan tidak mengatakan bahwa peta itu dalam keadaan sobek. Lalu, dari mana Anda tahu jika peta itu terpotong dalam bagian-bagian kecil?"
"Pihak kepolisian tidak pernah membeberkan pada siapa pun tentang peta itu ke publik. Jadi, Anda tidak mungkin tidak mengetahui adanya peta tersebut bukan? Seperti apa kata Anda, saya sedang berusaha secerdas, mungkin" tangkis Kenatt membuat Rudolf Ponix berhenti terkekeh seketika.
Rudolf kini masuk ke dalam perangkap baru. Pria berperawakan tegap menjulang tinggi, menatap datar semua tamu yang datang tak diundang di dalam rumahnya.
"Dengar. Aku pun juga merasa aneh kenapa orang-orang itu bisa mati ataupun menghilang tanpa jejak. Yang aku tahu, karena mereka semua sangat tertarik dengan peta abal-abal. Mereka yakin akan mendapatkan harta karun di dalam rumah yang mereka huni. Sialnya, peta itu membawa bencana bagi mereka hingga ada yang raib tanpa jejak, ataupun mati konyol" sahut Rudolf Ponix dengan nada mirip seekor ular mendesis keras.
"Maksudmu, Steven Chorlend dan Yorgie Zervanno mengikuti arahan dari peta itu dan berakhir tragis?" tanya Kenatt mengerutkan kening. Rudolf akan angkat bicara tapi sudah didahului oleh Adel.
"Tuan, bagaimana dengan Marthen Mathias itu sendiri? Kenapa dia juga ikut menghilang? Bukankah dia adalah pendiri rumah kaca itu, menurut Anda? Apa penyebab beliau menghilang secara misterius?" berondong Adel membuat Pria berusia 59 tahun itu melongo.
"Oh, ya ampun. Pertanyaanmu membuatku sakit kepala nak," desis Rudolf Ponix sambil mengibaskan tangan untuk mengusir suhu panas di tubuhnya. Ferghus mengernyitkan kening bagaimana beliau bisa kepanasan, saat AC sedingin ruang tamunya itu menyala? Dan berfungsi dengan baik?
"Intinya adalah, pertama, jika seluruh penghuni memang bermasalah ketika mengikuti arahan dari peta palsu versi Anda itu, maka bukankah ini janggal? Bagaimana bisa, seorang Marthen Mathias turut menjadi korban disini? Bukankah beliau yang membangun rumah itu? Itu artinya dia tahu benar seluk beluk rumahnya bukan?"
" Jadi..., dia yang paling tahu, dimana letak emas yang ia sembunyikan jika itu benar ada emas di dalam rumah itu. Tapi, kemungkinan ke dua, jika ada jebakan mematikan? Maka benar kata Anda, Marthen Mathias menghilang, mati konyol karena perangkap yang ia buat sendiri. Dan ini akan terdengar semakin janggal bukan? Orang yang...merancang jebakan, seharusnya tahu, dimana lokasi jebakan tersebut." serang Ferghus memperhatikan setiap gerak gerik dari sang empunya rumah yang makin terlihat gelisah.
"Mana aku tahu kebenarannya bagian yang pertama atau kedua? Aku sama bingungnya dengan kalian semua. Yang harus digaris bawahi disini, saya hanya pihak kedua yang menjual rumah itu. Saya tak tahu menahu asal mula rumah ini dibangun. Tapi sanak saudaranya, mengatakan, padaku bahwa, Marthen Mathiaslah sang pendiri rumah kaca itu. Maaf, saya harus keluar ada kepentingan diluar. Tapi, jika kalian butuh informasi dariku lagi, kita bisa atur jadwalnya" kata Rudolf Ponix bangkit dari duduknya.
Adel pertama kali yang berdiri dan menjabat tangan Pria itu diikuti Ferghus dan Kenatt yang langsung mohon diri. Saat Adel, Ferghus dan Kenatt berjalan kearah halaman rumah tempat mobil Kenatt parkir, Rudolf Ponix berteriak meminta Adel datang menemuinya kembali tapi melarang Kenatt ataupun Ferghus mengikuti langkah Gadis itu.
Keduanya hanya saling memandang penuh tanda tanya tapi mereka menunggu Adel penuh kesabaran berhubung Rudolf Ponix adalah salah satu penjual rumah kaca tersebut.
"Ada yang ingin Anda sampaikan Tuan?" tanya Adel antusias.
"Aku menemukan selembar sobekan peta palsu lainnya, tapi entahlah...ini bisa membantu kalian atau tidak. Aku sulit untuk menebak apa maksud dari teka-teki di balik sobekan peta ini" kata Rudolf membuka penutup jam tangannya, menakjubkan...penutup jam tangan itu adalah penunjuk waktu itu sendiri.
Tapi rupanya saat dibuka, ada tempat khusus untuk menyimpan sesuatu yang sekecil penghapus. Terlihat di dalam jam itu, ada robekan selembar kertas yang langsung diberikan pada Adel. Gadis itu berterima kasih karena bantuan Rudolf ini sangat berarti tak lupa ia memperhatikan sobekan peta tersebut.
Dimana ternyata, itu adalah kata petunjuk berharga!! Adel kembali memohon diri, menghampiri Ferghus sekaligus Kenatt lalu masuk kedalam mobil. Kini Ferghus lah yang mengambil alih kemudi, sementara Kenatt sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Riche...aku butuh bantuanmu. Tolong selidiki latar belakang dan segala hal mengenai Rudolf Ponix dan...coba kau cek, latar belakang Marthen Mathias sekaligus sanak saudaranya" perintah Kenatt penuh wibawa. Saat ia memutuskan sambungan, Pria itu baru sadar ada empat pasang mata yang sibuk menatap dirinya.
"Riche, adalah salah satu dari mantan napiku, yang aku beri lapangan pekerjaan, menjadi agen rahasia pribadiku. Otak dan tangannya sangat berharga untuk hanya melakukan pekerjaan kotor"
"Sehingga aku dengan senang hati memperkerjakannya. Disaat kepolisian sulit menembus pertahanan musuh, dialah senjata terbaikku" cerita Kenatt panjang lebar penuh kebanggaan. Dan hanya disambut Adel dan Ferghus dengan kalimat paling irit.
"Oh," jawab mereka sambil mengangguk tanda mengerti.
"Tampaknya kita butuh Riche untuk aksi-aksi kita selanjutnya bung," sambut Ferghus sambil melirik kearah Adel.
"Tentu saja. Aku memerintahkannya datang ke rumahku. Oh, Nona..."
"Adel" jawab Adel sambil mengulas senyuman bersahabat.
"Yup, Nona Adel, kurasa...kita harus merundingkan ini seharian, jadi...apa Anda tidak keberatan bermalam sementara bersama kami di kediamanku?" kata Kenatt sambil menatap kedua mata Adel yang mulai menampakkan sorotan keraguan.
"Di kediamanku ada adik dan dua asisten rumah tanggaku, mereka Perempuan semua, jika itu yang ingin Anda ketahui" kata Kenatt memperjelas bahwa Adel tidak akan terperangkap ke dalam sarang penyamun.
__ADS_1