
Arrrgh!! Berat...sungguh berat kepala Terre saat ini. Matanya masih sangat berat untuk dibuka sepenuhnya. Badannya sangat lemah untuk digerakkan. Tapi ia mendengar pasangan Suami Istri itu membuka pintu kamar, menggotongnya keatas tempat tidur.
"Kau lihat? Tuhan sudah memberi kita Putri yang cantik. Dia Marioneth kita sayang..."
"Marioneth sudah tiada. Bagaimana jika anak ini ada yang mencari?" sang Suami berkomentar membuat si Istri menghela nafas dalam.
"Dia hanya salah satu anak panti sayang. Tapi sekarang, ia akan menjadi Marioneth kita. Oh, betapa sangat mirip mereka berdua"
"Ya, seperti sepasang anak kembar identik"
"Aku menyayangimu Marioneth...terima kasih kau telah kembali pada Mommu" kata sang Istri. Terre merasakan seseorang memeluknya dengan hangat. Terre juga dapat merasakan sesuatu menusuk lengannya. Seperti sebuah...jarum suntik.
Hari sudah larut malam, Terre masih juga belum pulang ke panti. Tak biasanya anak itu menghilang tanpa kabar. Dominic mulai khawatir apa lagi salah satu anak pantinya bilang, Terre hanya pergi untuk membelikan beberapa buku tulis, tapi sampai sekarang, anak itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Polisi? Ah, polisi sungguh tak dapat diharapkan saat ini karena Terre belum menghilang selama 24 jam. Tapi...tidak akan ada yang tahu bukan, kejadian apa yang akan terjadi padanya, sebelum 24 jam itu datang?
"Mrs. Dominic..." kata seorang Pria paruh baya mendekatinya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Bagaimana? Apa kau mendapatkan jejak Terre?" tanya Dominic penuh harapan tapi segera sirna saat Pria paruh baya tersebut menggeleng sambil membuka topi untuk menyeka peluh yang membanjiri pelipisnya.
"Anak itu seperti menghilang tanpa jejak. Apa Anda yakin? Terre tidak bermain ke rumah teman sekolahnya?"
"Hugho...aku sudah menghubungi semua teman sekolahnya hasilnya selalu nihil..." kata Dominic dengan langkah gontai. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri bila terjadi sesuatu pada Terre.
Pembicaraan antara Dominic dan Hugho tidak sengaja didengar oleh Amanda. Mata Gadis kecil itu kemerahan karena menangis seharian mengetahui Terre telah menghilang ditelan bumi. Hutan!! Ya, bukankah Terre harus melewati hutan untuk bisa pergi ke toko di kota?
Apa dia sedang tersesat di sana dan kehilangan arah? Amanda ingin tahu. Maka, disaat semua penghuni panti terlelap dalam tidur, Amanda memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Terre melalui jendela kamarnya.
"Manda, apa yang kau lakukan?" tanya seseorang berbisik padanya membuat Amanda terperanjat dan membalikkan tubuhnya ke belakang mencari tahu siapa pemilik suara itu.
"Kevin, kau membuat jantungku hampir copot!!" pekik Amanda menepuk-nepuk dadanya.
"Salahmu. Kenapa kau mengendap-endap dikamarmu sendiri seperti seorang pencuri" kata Kevin menangkupkan kedua tangannya ke dada sambil menatap Amanda penuh rasa curiga.
"Sssst...,kau bisa membangunkan semua penghuni panti ini. Oke, akan kuberi tahu kau, kalau aku, akan mencari Terre sekarang" bisik Amanda meminta Kevin mengecilkan suaranya.
"What!!" pekik Kevin yang segera dibekap mulutnya dengan tangan kanan Amanda.
"Tapi ini sudah larut malam Manda, tidak bisakah kau menunggu sampai matahari terbit saja??" protes Kevin yang berusaha menjauhkan dirinya dari jangkauan tangan Amanda.
"Tidak. Terre bisa saja dalam bahaya. Lebih cepat Terre ditemukan, lebih baik bukan? Ah, sudahlah. Kau diam saja disini, dan aku akan pergi" kata Amanda tetap melompat dari jendela kamarnya.
Sial!! Kenapa ia malam ini harus melihat tingkah gila Amanda? Sebagai anak Laki-laki tertua di panti, ia merasa menjadi seorang pecundang bila membiarkan seorang Gadis muda, kelayapan sendirian dimalam hari. Terpaksa ia harus ikut melompat dan mengikuti kemana langkah Amanda membawanya.
Kevin segera menahan langkah Amanda yang mulai mendekati hutan.
"Apa kau gila? Untuk apa malam-malam kau masuk kesana? Bagaimana jika banyak hewan buas di dalam sana?!" Kevin memperingatkan.
"Bukankah Terre tidak juga ditemukan? Tentu saja mereka belum sama sekali mencarinya di dalam sana. Aku ingin memeriksa hutan itu Kevin"
"Tapi ini terlalu berisiko. Bagaimana kalau nyawa kita sampai terancam di dalam sana?"
"Kau bisa membawa ini. Aku bawa satu lagi. Ambillah" kata Amanda memberikan sebuah pisau lipat ke telapak tangan Kevin. Gadis ini terlalu nekat pikirnya.
Mereka pergi untuk mencari Terre bukan ingin berburu!! Tapi Kevin tak bisa menang melawan keras kepala anak itu. Akhirnya mau tidak mau ia ikut terseret masuk ke dalam hutan belantara. Berbekal dua center di tangan, keduanya berjalan dengan langkah yang berisik karena selalu menginjak dedaunan kering berserakan di tanah.
Berulang kali Kevin menyorot ke arah satu pohon ke pohon lainnya memastikan tidak ada hewan buas, kelaparan sedang mengintai mereka.
"Apa kau lihat disebelah sana? Bukankah itu cahaya lampu bohlam?" tanya Amanda pada Kevin menatap lekat ke sebuah rumah kayu tua.
"Aku tidak pernah tahu akan ada manusia yang tinggal ditempat seseram ini" balas Kevin keheranan.
__ADS_1
"Jangan-jangan ada penjaga hutan, yang...tinggal di sana. Haruskah kita bertanya saja apakah Terre kemari atau tidak?" tanya Amanda membuat Kevin meragu. Ya, bisa saja mereka penjaga hutan.
Tapi bagaimana jika mereka penebang hutan liar? Lalu karena Kevin dan Amanda bisa menjadi saksi kejahatan mereka, dengan senang hati mereka akan melenyapkan nyawa Kevin dan Amanda.
"Itu bisa menjadi ide yang buruk bocah"
"Memang kenapa? Kita hanya kesana menanyakan anak hilang bukan?"
"Bagaimana jika mereka penebang pohon liar? Nyawa kita jadi taruhannya" kata Kevin menekankan kata nyawa pada Amanda. Gadis kecil itu langsung bergidik ngeri.
"Sebaiknya kita kesana, tanpa sepengetahuan mereka. Kita cukup melihat apakah Terre ada di sekitar sana atau tidak oke" kata Kevin serius. Amanda hanya mengangguk patuh lalu perlahan tapi pasti mereka mengendap mendekati target.
Brush!!
"Auch!!" teriak Amanda membuat Kevin terperanjat menatap Amanda seketika. Ada apa dengan Gadis itu? Kenapa dia hanya diam membeku?
Ketegangan itu terjadi karena...tanpa sengaja, Amanda menginjak salah satu bagian dari ban sepeda Terre! Amanda melotot sambil menunjuk ke arah sepeda yang tak sengaja ia injak tertimbun jerami diatasnya.
"Terre. Sepedanya disini" bisik Amanda pada Kevin. Pekikan Amanda barusan, membuat sang empunya rumah kayu itu membuka pintu rumahnya menimbulkan suara gesekan kayu yang sangat nyaring.
Krieeeeek.....
Kevin yang menyadari keadaan bisa saja sangat berbahaya saat mereka ketahuan berada di sekitar sini mencari Terre, langsung menarik tangan Amanda untuk bersembunyi. Mereka memilih persembunyian dibalik gubuk reot tua disamping pohon eak.
Langkah Pria paruh baya membawa sebuah senapan yang melingkar dilehernya itu terhenti tepat dimana, sepeda Terre ditemukan. Ia mencari-cari sesuatu tapi tak ada yang mencurigakan.
"Kurasa Marioneth kita lapar sayang!! Bawakan daging rusa yang gemuk!!" teriak seorang Wanita paruh baya yang melongok keluar menatap kearah Suaminya berada.
"Akan aku usahakan!! Masuklah!!" teriak Pria paruh baya tersebut. Ia melangkah menuju ke arah gubuk reot itu. Entah karena insting atau apa pun itu, sang Pria paruh baya seolah tertarik menuju ke arah gubuk reot. Melihat Pria paruh baya semakin mendekat ke arah mereka berdua, akhirnya mereka melangkah mundur...terus mundur...semakin mundur.
Tapi keputusan keduanya mundur, membuat mereka berdua terpeleset jatuh kebawah tanah yang curam.
"Ah, ini dia..." kata Pria paruh baya itu setelah membuka gubuk tua dan mengambil senapan baru, yang sengaja ia sembunyikan di dalam tumpukan jerami. Ia berjalan keluar gubuk sambil bersiul riang.
"Amanda, apa kau baik-baik saja?" bisik Kevin sambil menutupi hidungnya.
"Aku tak tahan dengan bau anyir ini Kevin. Tempat apa ini sebenarnya?" tanya Amanda mual karena tak tahan dengan bau anyir dan bau busuk yang menguar bersamaan. Kevin menepuk dahinya mengingat ia tadi membawa sebuah korek api yang ternyata dapat berguna juga saat genting seperti ini. Ia merogoh saku celananya lalu mencoba menyalakan.
Cressssssshhh...
Bunyi api yang dihasilkan saat korek api itu dinyalakan. Amanda hanya terpaku syok melihat pemandangan tak biasa disana. Tulang belulang, juga kerangka manusia bertebaran di mana-mana bahkan ada yang dibiarkan saling bertumpuk!! Apa ini? Kuburan massal? Apa mereka korban dari kejahatan Pria dan Wanita paruh baya itu?
Ya Tuhan...bagaimana nasib Terre sekarang? Masihkah ia hidup? Atau dia sudah mati dibantai? Amanda berdiri dengan tubuh bergemetaran hebat. Sementara Kevin nyaris jatuh tersungkur karena tersandung dengan salah satu tulang belulang itu.
"Kita harus keluar dari sini. Ayo!!" seru Kevin membimbing Amanda yang mulai limbung untuk berjalan mencari jalan keluar. Mereka terus berjalan menyusuri lorong demi lorong. Melangkah setapak demi setapak melompati ranjau tulang belulang yang berserakan tersebut.
Mereka terus mencari jalan keluar tapi setiap lorong yang mereka telusuri, nyaris terlihat sama saja. Jalan buntu!! Tamat riwayat mereka!! Sekarang mereka tinggal menunggu waktu ditemukan dan mati dibunuh, atau tetap di sini sampai mati kelaparan.
Oh, seharusnya mereka tak keluar rumah sendirian...tapi jika mereka tidak senekat hari ini, maka tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa ada dua orang gila diatas sana, sedang menyandra teman sepanti mereka! Bodohnya, cukup tahu saja tidak akan ada seorang pun, yang bisa menolong disini. Harus ada yang selamat bukan?
Tidak....tidak...mereka harus bertahan demi Terre!! Ya, mereka tertidur karena kelelahan.
Suara siulan burung terdengar nyaring sangat merdu. Mereka bernyanyi, saling bersahutan. Kedua mata Terre terbuka perlahan. Dimana dirinya? Sedang apa dia di sini? Dan...satu hal lagi, siapa dirinya? Kenapa ia tak sedikitpun mampu mengingat masa lalunya?
"Sayang, kau sudah bangun...?" tanya seorang Wanita paruh baya masuk kedalam kamar, sambil membawa sebuah ember yang terbuat dari kayu.
"Kau, siapa?"
"Aku? Oh Marioneth, apa kau bercanda? Kau tak mengingatku sayang?" tanya Wanita itu lembut dan membelai rambutnya penuh kasih. Gadis kecil itu hanya menggeleng kebingungan. Berulang kali ia melihat keseluruh penjuru ruangan mencoba mengingat sekecil apa pun memorinya di dalam kamar ini.
"Jangan dipaksakan...waktu itu, kau berenang di danau, dan kepalamu terbentur bebatuan. Tak apa, aku akan membantumu mengingat sesuatu sayang" kata Wanita tersebut, sambil memeras sehelai handuk putih, dan menyeka wajah Terre.
__ADS_1
"Siapa aku?"
"Marioneth. Tentu saja" balas Wanita itu masih sibuk memandikan Gadis kecil itu.
"Dan siapa kau?"
"Tentu saja Mommu sayang..." katanya datar.
"Aku bisa mandi sendiri. Aku tidak sakit...biarkan aku mandi sendiri kumohon. Dimana kamar mandinya Mom?" kata Terre menolak perlakuan khusus dari Wanita yang mengaku aku Ibunya.
"Kau sakit sayang, kakimu lumpuh" katanya masih asik menyeka punggung Terre. Lumpuh? Dirinya? Tapi kenapa? Tak terima dirinya dikatakan lumpuh, Terre pun berusaha untuk bangkit tapi ia jatuh tersungkur dilantai kayu, merasakan kedua kakinya yang berat untuk digerakkan.
Tidak!! Lumpuh?! Ini seperti sebuah akhir dari hidupnya! Ia menangis sambil memukuli kedua kakinya yang tak berguna lagi. Bahkan rasa sakit pun ia tak merasakannya!!
Seberkas cahaya matahari menyilaukan mata Amanda. Cahaya? Itu artinya...ada jalan keluar bukan? Buru-buru Amanda membangunkan Kevin yang tertidur disampingnya.
"Kevin!! Aku melihat cahaya diujung lorong sana!! Ada jalan keluar untuk kita!!" pekik Amanda berusaha membangunkan Kevin.
"Bagus. Ayo kita keluar sekarang dan menyusun strategi untuk menyelamatkan Terre kita" kata Kevin penuh semangat setelah melihat jalan keluar di depan mata.
Mereka berjalan perlahan tapi pantas saja dari semalam mereka merasa, tidak ada jalan keluar. Tentu saja. Dipojok ujung lorong itu, ada satu lorong mirip sebuah terowongan kecil yang hanya bisa dilalui satu orang saja dengan cara merayap tentunya. Mereka berdua memantapkan diri melewatinya.
Pertama, Kevin dulu yang masuk untuk melihat apa ada suatu jebakan berbahaya di dalam sana.
"Manda, semua aman!! Kecuali sarang laba-labanya" bisik Kevin sambil terus merangkak disusul Amanda dibelakangnya.
Mereka mempercepat laju tangan dan kaki merayap bak cecak didinding. Tiba-tiba gerakan Kevin terhenti. Nafasnya menderu kencang seolah ada bahaya mengancamnya. Amanda ingin menanyakan apa yang terjadi di depan sana? Tapi...ia tahu, jika ia berisik, duo orang gila itu dengan mudah menemukan keduanya. Kevin menegang!! Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Pria paruh baya tersebut mengarahkan senapan ke arah lubang tempat Kevin dan Amanda berada.
Apa dia sudah tahu keberadaan mereka? Apa ini akhir dari hidup mereka? Hampir saja Kevin lupa cara bernafas!!
"Sayang!! Tolong aku!! Marioneth kita terjatuh!!" teriak Wanita paruh baya itu sangat panik.
Sementara Pria paruh baya, sudah akan mengintip celah senapan untuk melihat buruannya, tapi karena teriakan Istrinya, ia langsung berlari ke dalam rumah kayu. Kevin kembali bernafas lega saat melihat pintu rumah kayu itu terbanting hingga tertutup penuh. Dengan cekatan, ia bergerak merangkak keluar dari celah menyesakkan itu.
Kevin segera membantu Amanda keluar dari lubang.
"Kau dengar? Dari semalam, Wanita itu selalu menyebutkan nama Marioneth. Tapi kita tak menemukan Terre sama sekali" kata Amanda setengah berbisik.
"Jangan-jangan ia disekap di dalam rumah. Kita harus menyelidiki seluruh isi rumah kayu itu" kata Kevin sambil memberi kode, agar Amanda mengikuti langkahnya.
Keduanya mengendap merayap dari dinding kayu satu, ke sisi dinding kayu lainnya! Sebuah jendela terbuka lebar membuat mereka merasa memiliki kesempatan untuk melongok kedalam. Betapa terkejutnya mereka, melihat sosok Terre yang berantakan dengan rok terusan sedang menangis histeris dalam pelukan Wanita paruh baya.
"Kau akan baik-baik saja sayang, selama ada kami" kata Wanita tersebut mengecup kepala Terre.
"Marioneth...jangan tinggalkan kami lagi" kata Wanita itu sendu. Perlahan mereka membiarkan Terre tenang lalu meninggalkannya sendirian diatas tempat tidurnya. Tapi mereka menutup jendela kamar Terre terlebih dahulu.
Kevin menguping dan mendengar suara pintu ditutup dan dikunci dari luar. Buru-buru ia mengeluarkan pisau lipat untuk membobol kunci jendela kamar yang ditempati Terre. Berhasil!! Mereka lega dengan mudah dapat membobol jendela itu.
"Manda, kau masuklah ajak Terre keluar. Aku disini, berjaga-jaga"
"Oke," balas Amanda sambil melompat masuk ke dalam. Amanda melangkah menuju tempat tidur Terre tapi ia terantuk meja hingga spontan ia bersimpuh kesakitan.
Bola matanya tertuju pada sesuatu di bawah tempat tidur Terre. Ia menatap heran kenapa ada Gadis lain bersembunyi di bawah tempat tidur Terre? Akhirnya ia mencolek Gadis kecil di bawah kolong tempat tidur Terre. Yang dicolek diam saja terpaksa Amanda nekat menarik tubuh Gadis kecil itu keluar dari kolong.
Tangannya bergetar hebat, ia menelan ludah berulang kali. Apa-apaan ini? Boneka lilin? Sangat mirip dengan Terre!! Seperti saudara kembar!! Apa yang terjadi? Buru-buru Amanda berdiri lalu duduk disamping Terre yang kebingungan.
"Kau...siapa?"
"Terre, kamu bicara apa sih? Baru hilang sehari saja sudah sepikun ini" kata Amanda sambil mencubit pipi Terre.
"Terre? Siapa? Aku Marioneth" katanya pelan tak fokus. Tidak...ada apa dengan teman sepantinya inI?
__ADS_1
"Kau, Terre. Mereka membohongimu. Ayo ikut aku sekarang" kata Amanda sambil menggeret tangan Terre tapi mengejutkan!! Terre terjatuh dari tempat tidurnya.