
"Adeline Minna" kata Adel menawarkan diri untuk berjabat tangan.
"Ah, aku... Rulby..." balasnya ramah tak seperti yang terdengar via telepon. Adel menyikut rusuk Ferghus ketika Pria itu hanya diam mematung menatap anak Gadis orang tanpa berkedip sedikitpun. Wanita itu memberi kode agar ia cepat memperkenalkan diri.
"Ehmmm, perkenalkan, saya Ferghus Cloy" kata Ferghus meraih tangan Rulby lalu mengecup punggung tangannya. Alhasil, sebuah penolakan terjadi...Gadis itu menarik tangannya dari jangkauan Pria dihadapannya, lalu menyembunyikan tangan ke belakang.
"Well, bisa kita mulai sekarang nona?” tanya Adel berusaha mencairkan suasana.
Apa yang dilakukan si Pria bodoh itu? Tidak semua Wanita ingin diperlakukannya begitu!! Pekik kata hati Adel kesal.
"Ah, ya...masuklah silakan" kata Rulby berusaha sesopan mungkin. Adel dan Ferghus berjalan berdampingan lalu duduk diatas sofa berbeludru putih berbintik-bintik kecil kecokelatan. Adel bersiap mengeluarkan ponsel untuk merekam pembicaraan antara dirinya dan Rulby.
"Jadi, yang tinggal dirumah ini hanya Anda dan Mom Anda?"
"Ya, sebenarnya...kami akan tinggal dengan Kakak, Dad, dan Bibiku...tapi karena sebuah kecelakaan membuat mereka tidak dapat menikmati bagaimana rasanya tinggal dirumah ini"
"Apa Anda mengenal baik pemilik rumah sebelumnya nona?"
"Tidak. Dad saat itu sedang mencari-cari rumah yang dijual dan...kebetulan ia menemukan rumah ini, sekaligus menemui pemiliknya"
"Apa kalian punya nomornya yang bisa kami hubungi?"
"Sebentar" kata Rulby beranjak masuk kedalam rumah. Adel menatap Ferghus yang berjalan kesana kesini mengamati seluruh penjuru ruang tamu.
Ckleeeek!!
Suara blitz camera digital milik Ferghus menarik perhatian Adel. Wanita itu melirik tajam kearah rekan kerjanya.
Klap!!
Klap!!
Kilauan Blitz terpantul dari sebuah cermin, nampak menarik perhatian Adel. Ketika cahaya blitz milik Ferghus berkerlip dua kali, pantulan dicermin hanya sekali. Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah kaca memantulkan sesuai dengan apa yang dipantulkannya?!
"Ferghus kemarilah" panggil Adel pada Ferghus yang langsung dituruti Pria itu.
"Perlihatkan gambar apa saja yang kau potret kali ini" kata Adel dengan rasa ingin tahunya yang besar. Ferghus memperlihatkan setiap gambar yang diabadikannya.
"Berhenti. Ulangi dari dua gambar sebelumnya" kata Adel dengan pekikan nyaring membuat Pria di sampingnya mengernyitkan dahi. Ferghus memperlihatkan gambar yang diinginkan Adel. Mata keduanya membelalak tajam tak percaya pada apa yang mereka lihat.
"Zoom" perintah Adel ingin memastikan penglihatannya tidak salah. Ferghus menzoom sesuai keinginan Adel.
Gambar dimana sebuah kaca jendela memantulkan bayangan Ferghus yang asyik memfoto sebuah objek yang ada di bawah, tepat di depan kaca jendela setinggi ukuran manusia. Keganjilan itu terlihat ketika apa yang dipantulkan kaca jendela, tidak sama dengan apa yang ada di depannya!!
Ferghus jelas-jelas menunduk berkonsentrasi penuh pada objek di bawah tapi pantulannya!! Pantulan Ferghus menggambarkan bahwa Pria itu sedang menatap dirinya sendiri, menyeringai sinis, memperhatikan Ferghus yang sedang asyik mengabadikan gambar.
"Jangan pandangi aku seperti itu Mom!! Dada belum sempat mengeditnya sama sekali. Aku berani bersumpah" kata Ferghus yang merasa di sorot sebuah tatapan penuh selidik oleh mata cantik Adel.
Suara bergemerincing dari lonceng-lonceng kecil yang bergelantungan bebas di seluruh bagian helaian-helaian benang woll berwarna warni yang sengaja di pasang sebagai hiasan di setiap pintu rumah itu, menambah kesan horor.
"Aku hanya punya ini berhubung saat kecelakaan, ponsel Dadku hancur, jadi...aku hanya punya sim card ini, semoga ini dapat membantu kalian" kata Rulby menyodorkan sim card pada Adel. Wanita yang disodori sim card itu menoleh kearah Rulby dengan wajah yang bingung.
"Ah, ya. Semoga sim card ini juga tidak rusak" jawab Adel memeriksa setiap sisinya apa ada yang tergores atau tidak.
"Aku rasa ini masih bisa berfungsi. Maaf, nama Dadmu?"
"Edward Corner" jawab Rulby santai sambil menyodorkan dua cangkir berisi coklat hangat. Melihat ada minuman dihadapannya, Ferghus Cloy langsung meneguk coklat hangat itu sampai ludes.
"Dan...Rulby, bisakah kami mengamati semua tempat di rumah ini?"
"Itulah tujuan kalian ku undang kemari. Silakan" jawab Rulby dengan senyuman kecil. Entah kenapa justru ketegangan itu muncul disaat mereka diperbolehkan melihat-lihat setiap tempat yang ada di sekitar rumah penuh kaca ini.
Adel akhirnya mengambil secangkir coklat hangat dihadapannya dan meminumnya tiga teguk saja lalu meletakkan kembali ke nampan kecil di atas meja ruang tamu Rulby. Dihelanya nafas dalam-dalam, lalu melangkah mulai dari ruang keluarga tempat Rulby dan Ibunya menonton TV.
Adel terus melangkah, sementara Ferghus berhenti melangkah lalu memotret ruang keluarga itu. Sesuatu hal yang terasa sangat hangat terasa di sekujur tubuh Adel...ia dapat memastikan, tempat itu berasal dari salah satu ruangan yang belum ia masuki. Adel melangkah mendeteksi suhu dan berhenti di depan sebuah pintu.
"Ruangan apa ini?" tanya Adel menoleh pada Rulby penasaran.
"Itu dulunya kamarku" jawab Rulby dengan wajah yang memucat. Wanita tersebut langsung menyentuh knop pintu dan seseorang berbisik di telinganya.
__ADS_1
Shinimashita....
Ada seseorang yang berbisik di telinga kirinya. Samar, tapi berulang kali. Mendadak angin bertiup entah berasal dari mana, membuat rambut Adel yang menutupi telinganya tersingkap hingga ia dapat mendengar sangat jelas kalimat yang terus diulang.
"Apa kau bilang?" tanya Adel menoleh ke sebelah kiri tapi, Wanita itu tersadar, bahwa Rulby berada di sisi sebelah kanan!!
"Bilang apa? Apa maksud Anda?" tanya Rulby kebingungan. Pertanyaan Rulby membuat Ferghus memperhatikan keduanya. Pria itu segera berjalan perlahan menuju kearah Adel dan Rulby.
"Kau baru saja membisikkan sesuatu padaku, bahasa yang asing bagiku" kata Adel menatap tak percaya pada Rulby.
"Tapi dia sama sekali tidak mengatakan apa pun padamu. Dari tadi dia diam disini, sambil memperhatikan aku memotret" bela Ferghus.
"Jelas sekali ada yang berbisik padaku"
"Tapi saya tidak mengatakan apa pun. Sungguh" kata Rulby membenarkan apa kata Ferghus baru saja.
"Memang kau mendengar apa?" tanya Ferghus keheranan.
"Shinimashita" kata Adel menatap ke arah Rulby dan Ferghus.
"Apa kita akan terus berdebat dengan hal yang tidak penting ini, atau masuk kedalam sekarang?" tanya Ferghus mengingatkan tujuan awal mereka kesana.
Adel hanya mengangkat kedua bahu lalu membuka knop pintunya. Ferghus masuk duluan lalu diikuti oleh Adel dari belakang sementara Rulby diam mematung. Tapi sedetik kemudian Rulby melangkah masuk ke dalam bekas kamarnya itu.
"Apa itu pintu kamar mandi?" tanya Ferghus menoleh ke arah Rulby.
"Ya,"
"Boleh aku masuk?"
"Tentu, anggap saja rumah sendiri" balas Rulby sambil tersenyum kecil pada Ferghus. Pria itu berjalan kearah pintu kamar mandi dan membukanya.
Krieeeet....
Suara pintu kamar mandi berderit dibuka lebar.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Adel menepuk bahu Gadis tak jauh darinya itu, hingga ia terlonjak mundur.
"Tidak...aku hanya teringat ketika aku pernah terpeleset disana. Aku merasa tidak enak berada disini terlalu lama, bisa kita keluar?" tanya Rulby mempersilahkan keduanya keluar dari kamar mandi dan langsung menutup pintu kamar mandi itu rapat-rapat bahkan ia mengunci dari luar. Adel merasa ada yang sedang Rulby sembunyikan.
Braaaagh!!
Suara Adel jatuh terjerembap ke atas lantai kamar Rulby.
"Auuuch!!" pekik Adel sambil mengusap-usap keningnya yang mulai memar. Hening sekali kamar ini? Bahkan Adel tidak menemukan keberadaan Rulby dan Ferghus? Loh, dimana mereka?
"Ferghus?! Rulby?!" panggil Adel, berusaha berdiri tapi ia merasakan ada seseorang yang mencengkeram pergelangan kakinya. Perlahan, takut-takut Adel menoleh ke bawah kakinya. Sebuah tangan kurus, putih pucat, kukunya panjang dan sangat tajam!! Tengah mencengkeram kuat pergelangan kaki Adel hingga meneteskan darah...
"Pergi atau mati!!" teriak hantu Wanita sipit berambut panjang itu sambil menarik Adel ke bawah tempat tidur Rulby. Sontak Wanita yang ditarik, memberontak menendang-nendang tangan pucat itu berusaha melepaskan diri. Adel berteriak panik sambil terus berusaha lepas dari cengkeraman Wanita hantu tersebut!!
Berjuang melepaskan diri dari cengkeraman hantu itu sudah membuat energinya terkuras banyak setelah berhasil terlepas, Adel berlari menuju pintu kamar.
"Ferghus!! Tolong!!" teriak Adel berlari menuju ke ambang pintu.
Braaaaaaaak...
Ceklek...
Klik...
Klik...
Pintu itu tertutup dengan sendirinya, bahkan mengunci seolah terkunci, dari dalam secara otomatis!! Adel mencoba berulang kali untuk membuka pintu karena gagal, ia menggedor-gedor pintu berharap, ada seseorang yang mendengar keributan yang ia sengaja buat.
Grep!!
Brugh!!
Sebuah tangan menggeret kerah bajunya hingga ia tercekik dan jatuh terjerembap lagi ke lantai. Adel menatap dari ujung kaki hingga ke ujung kepala sang hantu, yang sedari tadi berusaha menyerangnya. Mata putih tanpa manik mata satu pun, sedang menatapnya tajam. Tertawa terpingkal-pingkal sambil menggeret kedua kaki Adel menuju pintu kamar mandi!!
__ADS_1
Adel memberontak dengan kedua tangannya berusaha menggapai benda apa pun untuk menahan tubuhnya tapi semua itu sia-sia. Brak!! Pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya padahal Adel tahu persis pintu itu...telah dikunci Rulby bahkan kuncinya ada pada Gadis itu.
Jadi bagaimana bisa pintu itu terbuka dengan mudahnya?! Setelah pintu kamar mandi terbuka, hantu itu tetap terus menyeretnya tanpa henti. Dihempaskan tubuh Adel tepat ditengah-tengah deretan cermin. Baru Adel sadari, ada yang janggal disana...sobekan-sobekan kertas koran?
Kenapa ada sobekan kertas koran dikamar mandi? Adel melihat ke sekeliling kamar mandi. Kemana hantu itu bersembunyi? Adel merasa mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri dari kamar mandi. Ia segera berdiri, lalu berlari ke arah pintu kamar mandi.
Braaaaagh!!
Sial!! Dia terkunci kembali di kamar mandi super luas tersebut!! Apa-apaan ini? Adel mundur merasa harus menjauhkan diri dari cermin ia merasa dalam bahaya jika mendekati cermin. Diputuskannya untuk mundur mendekati bak mandi ia berdiri membelakangi bak kamar mandi.
Keputusan yang bodoh!! Dia kehilangan kewaspadaannya!! Air bak itu berbuih-buih seketika mengeluarkan suara...
Bluup.....
Blup blup....
Blup blup....
Adel langsung berbalik mendapati siraman air yang tiba-tiba menyembur ke seluruh wajahnya, membuat Adel gelagapan sehingga tanpa sengaja, Adel terpeleset saking licinnya, hingga tubuh Adel bergeser dengan sendirinya mendekati kaca!!
Grep !!
Kehhhk....
Hkkkks....
Khhhhks...
Dua buah tangan pucat berkuku panjang...keluar dari cermin dan mencekiknya tanpa ampun!!
Adel berteriak keras saat membuka matanya hingga membuat Ferghus harus menahan kedua tangan Adel untuk menyelamatkan Rulby dari serangan mendadak Adel yang membabi buta.
"Adel, ini kami. Tenang!!" bentak Ferghus menatap tajam Adel. Wanita itu menatap ke sekeliling ruangan. Ya, ini dikamar Rulby!! Apa tadi hanya sebuah mimpi?? Gila!! Ini sangat gila!! Mimpi itu terasa sangat nyata. Cekikan si hantu masih jelas terasa menyakitkan di leher Adel.
Klap !!
Klap !!
Terdengar suara blitz kamera milik Ferghus yang sedari tadi bergelantung di leher Ferghus!! Mata Adel terasa sangat silau, suara dan kilatan blitz sangat mengganggu pandangan Wanita tersebut. Ia melindungi kedua matanya, dengan bantal milik Rulby.
"Adel...kau baik-baik saja??" tanya Ferghus mulai merasa aneh dengan tingkah Adel, yang seolah matanya silau karena sesuatu. Perlahan ia menurunkan bantal dari wajahnya lalu menatap keheranan pada lemari kaca di kamar Rulby. Adel langsung berdiri mengusap kaca di lemari itu, dan membuka lemari tersebut!!
Krieeeet....
Krak...
Krak...
Suara dari lemari tua mewah milik sang empunya kamar. Masih tergantung beberapa baju disana, tapi...ada sesuatu yang janggal pada bagian dinding lemari itu. Maka disingkapkannya pakaian milik Rulby kesisi kanan dan kiri hingga terlihat dengan jelas kejanggalan di lemari tersebut.
"Ferghus, apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Adel sambil menunjukkan apa yang telah ia temukan. Setelah Adel bergeser ke kiri, Ferghus segera masuk ke dalam lemari itu, dan menyentuh setiap garis lurus di dinding lemari itu dengan telunjuknya.
"Pintu?" gumam Ferghus melirik kearah Adel.
"Apa kau pernah masuk kedalam sini?” tanya Adel pada Rulby, setelah menganggukkan kepala kearah Ferghus.
"Aku tidak pernah berpikir akan ada pintu di dalam lemari pakaianku. Itu tidak masuk akal" jawab Rulby mengangkat kedua bahu.
"Jadi, tugas kita adalah...mencari cara untuk bisa membuka pintu ini. Pasti ada yang bisa membuat pintu ini terbuka bukan?" kata Adel memeriksa setiap jengkal yang ada di tiap dinding lemari.
Ferghus memilih mundur dan mempersilahkan Rulby ikut mencari sementara ia, sibuk memperhatikan bagian luar lemari pakaian Rulby. Sesuatu yang sangat menarik perhatiannya adalah...hiasan yang ada pada tiap pintu kacanya. Ferghus tergelitik untuk menyentuh tiap hiasan ornamen berbentuk kepala naga yang menganga lebar mempertontonkan taring-taring tajamnya.
Ferghus menyentuhnya, mengamati dengan seksama. Ia tekan kepala naga, tak terjadi sesuatu. Ia tari ke depan ataupun ke belakang taring naga itu, tetap tak ada hasilnya. Ah, ini hanya ornamen biasa. Ia bergeser namun lengan jaketnya tersangkut pada ornamen kepala naga. Ada sesuatu yang berubah ketika itu tak sengaja dilakukannya!!
Taring naga itu miring ke kanan!! Ferghus mengerutkan kening sejenak memperhatikan perubahan itu.
"Apa kau menemukan sesuatu? Petunjuk mungkin?" tanya Adel setelah menyerah meraba-raba tiap dinding lemari pakaian Rulby yang super besar itu. Ferghus melirik ke arah Wanita tersebut lalu memutar ke kanan kepala naga tapi sulit dilakukan. Lalu ia coba memutar kekiri. Ferghus bersiul takjub, mendapati dirinya telah mendapatkan jalan untuk membuka pintu rahasia itu!!
"Apa aku akan mendapatkan hadiah untuk penemuan ini?" tanya Ferghus menyenggol lengan Adel.
__ADS_1