Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 22


__ADS_3

"Pikirkan apa yang bisa membuat seseorang benar-benar yakin bahwa kita sedang berusaha berkomunikasi dengan mereka?" Amarru mengatakan hal itu sambil menatap timnya satu persatu.


"Bisakah kita meninggalkan suatu tanda yang menunjukkan keberadaan kita? Jika Hisashi menunjukkan wujud kita dan dimaknai sebuah mimpi yang nyata, lalu muncul sebuah tanda sesuai dengan apa yang disampaikan Hisashi saat momen pertemuan itu, pasti perlahan mereka akan berpikir itu bukanlah sekedar mimpi" tanya Ferghus yang hanya disambut keheningan sejenak.


Mereka terdiam bukan karena tenggelam dalam pemikiran masing-masing tapi karena gelapnya malam mulai mencekam. Refleks Ferghus mencari pemantik api ia sempat melihat posisi salah satu obor di pojok ruangan. Baru saja Pria itu akan menyalakan pemantik api, tiba-tiba suara angin semilir terdengar membuat bulu kuduk para pendatang baru itu meremang seketika.


Blaaaar!!


Blup!! Blup!!


Blaaaar!!


Mereka terlonjak ke belakang saat seluruh obor di ruangan itu menyala secara otomatis.


"Sambutan macam apa ini huh? Hey Hisashi, apa para korban yang menyalakan obornya?" protes Kenatt pada apa pun yang menyalakan obor sambil berusaha setenang mungkin dengan bertanya pada Hisashi.


"Tidak ada tanda keberadaan manusia selain kita disini, jadi itu tidak mungkin mereka. Pasti itu para iblis yang mulai beraksi menunjukkan eksistensi mereka" bisik Hisashi sangat tenang dari pada yang lainnya.


"Ini membuatku frustasi...benar-benar frustasi. Bagaimana cara kita bisa membedakan itu pergerakan dari manusia atau bukan? Lagi pula kau sendiri yang bilang para korban tidak diizinkan untuk terlihat oleh kitakan?" desis Kenatt sambil mengacak-acak rambutnya. Mendengar itu Hisashi terdiam sejenak seolah sedang diingatkan bahwa ia belum memberi mantra perisai kepada seluruh timnya.


Buat perisai untuk melindungi alam dan makhluk hidup. Hilangkan tabir untuk bertahan hidup... Kata Hisashi lantang sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Terlihat sebuah perisai berbentuk seperti gelembung sabun melapisi satu persatu timnya. Hisashi mulai meletakkan telapak tangannya tepat diatas ubun-ubun Adel tapi sebelum sempat mengucap mantra selanjutnya Amarru langsung menampik tangan Hisashi dari Adel.


"Saya rasa Anda harus berhenti sekarang. Saya bisa melanjutkannya" tegas Amarru.


"Amarru tenagamu jauh lebih dibutuhkan disaat kita akan mengeluarkan para sandera dari tempat ini. Ingat iblisnya lebih dari satu. Simpan seluruh tenagamu" jawab Hisashi menepuk bahu Amarru.


"Chichi...cukup. Gelang ini, dibuat dengan campuran darah Chichi jadi tolong jangan gunakan nyawa Chichi untuk menemukan para korban" mohon Ferghus. Hisashi berdecak kesal karena semua orang pada akhirnya berusaha membuat jarak dengannya setelah Ferghus mengucapkan hal tersebut.


"Yeah, baiklah memang Pria tua ini mulai tidak dibutuhkan lagi. Lakukan apa pun maumu Amarru" desis Hisashi kesal.


"Chichi...." Ferghus menatap frustasi pada Ayah angkatnya itu karena ia tidak tahu bahwa tindakannya membuat sang Ayah angkat justru merajuk sekarang. Seolah tak peduli pada Hisashi yang mulai bersikap kekanak-kanakan, Amarru memulai melafalkan mantra ke ubun-ubun seluruh anggota timnya.


Tapi pada tiba saatnya Amarru berada dihadapan Hisashi, ia mulai merasa tidak enak hati. Hisashi mengangkat tangannya dihadapan Amarru lalu berpaling darinya. Ferghus melangkah kearah Amarru hingga mereka saling berbisik satu sama lain. Ferghus mulai menganggukkan kepala dan berjalan mendekati Hisashi.


Tanpa meminta ijin terlebih dahulu Ferghus langsung saja menutup kedua mata Hisashi dengan kedua telapak tangannya tak mau membuang-buang waktu Ferghus melafalkan mantra yang diajarkan Amarru padanya tadi. Setelah mantra selesai dilafalkan Ferghus melepaskan tangannya dari mata Hisashi.


Terlihat sorot mata terkejut, kesal dan marah bercampur menjadi satu bahkan sampai sekarang Hisashi masih terdiam.


"Beraninya kau!! Aku lebih tua darimu!! Anak ini!!" geram Hisashi tapi ia malah semakin kesal karena Ferghus justru memeluknya lalu menepuk punggungnya beberapa kali.


"Bagus Chichi. Marahi aku setiap saat jadi tidak akan ada kesempatan bagimu berpikir untuk segera mati" sahut Ferghus setelah melepaskan pelukannya dari Hisashi.


"Huuufst....di dalam sini ada bagian dari tubuh anak kandung Chichi, yang masih hidup. Dia akan menghajarku habis-habisan jika sampai aku membiarkanmu bermain-main dengan nyawamu" tambah Ferghus menepuk-nepuk dadanya. Hisashi berdehem kecil lalu berjalan menuju kemanapun sesuai instingnya.


"Mulai sekarang kalian bisa melihat para korban tapi kalian belum bisa menyentuh bahkan, berkomunikasi dengan mereka" kata Hisashi masih melangkah mengitari lantai dasar Teater. Tiba-tiba puluhan anak panah hitam kelam meluncur menyerbu tubuh Hisashi.


Semua orang langsung diam mematung ketika anak panah itu, berjatuhan keatas permadani merah setelah sempat menubruk perisai pelindung Hisashi.


"Musuh kita jauh lebih banyak dari perkiraan" gumam Hisashi membuat Ferghus dan yang lainnya membelalakkan mata.


Selamat datang musuh lama...berapa lama kita tak berjumpa? Terdengar gema suara seorang Pria paruh baya memekakkan telinga.


Apa dia memang suka mencampuri urusan kita? Gema suara seorang Wanita paruh baya kini terdengar lebih mengancam. Terlihat dua pusaran angin yang mulai berubah menjadi dua awan kelabu kecil, semakin lama semakin menggelap dan berubah menjadi sosok dua ular berbisa yang sangat besar.


Kurasa dia sudah tidak mengenali kita sayang, jawab ular jantan itu sambil berdesis sinis.


"Bagaimana aku bisa melupakan sepasang Suami Istri yang berkomplot untuk menculik anakku dan mulai menjadi sangat terkenal setelah insiden yang melibatkan anggota Panti Asuhan Meggy Wezt. Bukankah kalian sangat menikmati kehidupan kalian saat itu?" jawab Hisashi sinis.


Ah, bukan salah kami jika anakmu berhasil lepas dari cengkeraman kami bung, kekeh ular jantan itu dengan mata merah berkilat-kilat.


Bukankah dia sendiri yang menyerahkan diri kepada Marthen Mathias? Sungguh menggelikan cemooh ular betina, membuat Hisashi mengepalkan tangannya murka.


"Aku lupa Iblis tidak punya otak, bagaimana mereka bisa berpikir?" kekeh Hisashi sambil membusungkan dadanya.


"Putraku sedang berjuang menyelamatkan teman Perempuannya dari cengkeraman kalian waktu itu. Dia hanya kurang beruntung karena gagal menyelamatkan temannya, keluar dari kandang ular lalu masuk ke kandang macan"

__ADS_1


"Apa kalian berhasil menghidupkan kembali Putri tercinta kalian? Ayo tunjukkan maha karya kalian. Marioneth!! Kau disini nak?!" potong Hisashi meletakkan tangan kirinya disamping telinga, membuat sepasang ular itu langsung menyemburkan bisanya kearah Hisashi.


"Melihat reaksi kalian nampaknya usaha kalian gagal. Apa kita harus merayakannya? Hmm ?" tambah Hisashi tanpa kenal rasa takut.


Dulu kami gagal karenamu...sekarang kau tak akan kami ijinkan untuk melakukannya lagi kekeh ular betina itu girang. Hisashi tak mempertimbangkan apa akibat dari hasil pembicaraan itu. Seluruh obor yang menerangi lantai dasar padam dalam sekali hembusan angin.


WuuuuUuuUUsh......


Blup!! Blup!!


Tak ada suara apa pun disana, para manusia pendatang baru itu diam tanpa kata menebak-nebak apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Dua cahaya merah kecil terlihat di pojokkan ruangan, sangat jauh dari jangkauan Hisashi dan timnya. Muncul titik cahaya merah lainnya yang mulai serempak diaktifkan.


Teranglah jiwa yang hidup


Sebaliknya


Kunci jiwa mati dalam cahayamu!


Hisashi tak mau tinggal diam ia segera membaca mantra. Seperti ketika seekor kucing dapat melihat meski di dalam ruangan yang gelap...begitu pula Hisashi dan timnya. Jantung mereka berpacu kencang mendapati diri mereka kini tengah dikepung puluhan manekin hidup !!


Senang melihatmu dapat menyaksikan maha karya kami Hisashi kekeh ular jantan itu melengkungkan tubuh ke bawah dengan nada bicara menyombong.


"Benarkah itu manekin Ferghus? Atau matakukah yang bermasalah?" tanya Adel menyikut lengan Ferghus. Pria itu tertegun sesaat lalu melirik kearah Adel.


"Jika mata mereka tidak bercahaya, sulit bagi kita untuk mengetahui bahwa mereka bukan bagian dari spesies kita" bisik Ferghus kepada Adel.


"Bagaimana mereka bisa menciptakan manekin sesempurna itu? Benar-benar nampak seperti manusia" Kenatt berdecak kagum.


"Jangan pernah menatap manekin yang belum diaktifkan!! Aku peringatkan!!" teriak Hisashi dan Amarru bersamaan. Tapi Ferghus, Kenatt dan Adel malah kebingungan dengan instruksi tersebut.


"Apa?! Manekin yang tidak diaktifkan itu yang matanya tidak mengeluarkan cahaya merah?!" tanya Kenatt mencoba memperjelas instruksi.


"Yang tidak bergerak!! Perhatikan dada mereka yang aktif!! Mereka terlihat seperti bernafas bukan?! Lebih baik kita melawan mereka sesedikit mungkin lalu kabur dan menghindarkan pandangan dari manekin lilin yang tidak terlihat bernafas" jawab Amarru.


"Mengerti" jawab ketiganya serempak. Melihat para manekin hidup itu terus berusaha mengepung mereka, Hisashi hanya menyapukan pandangannya ke arah ciptaan dua Iblis gila itu.


"Apa?" sahut seluruh timnya menatap pasrah pada sosok para manekin hidup.


Crash!!


Auuuuch!!


Suara pekikan mereka terdengar. Mereka memekik sambil mengibaskan jari tangan kanan mereka. Ferghus dan Adel menatap lekat jari manis mereka. Hey....apa tadi yang menembus jari manis mereka hingga darah segar keluar dari jari mereka seperti ini?!


Darah itu membeku tak lagi menetes.


Kepingan darah dijari manis mereka kini berubah menjadi semakin lonjong... dan bertambah panjang. Kecuali Hisashi dan Amarru, mereka semua diam terpaku menatap apa yang terjadi dengan darah mereka masing-masing. Mata mereka membulat lebar saat darah mereka telah berubah menjadi sebuah pedang yang melekat dijari.


Pedang berpendar merah darah terasa agak berat anehnya, mereka mampu menggenggam pedang itu tanpa kendala.


"Gunakan pedang itu untuk menebas kepala para manekin. Ingat baik-baik...pastikan kalian memenggal kepala mereka hingga putus karena daya hidup mereka ada pada tengkuk mereka" desis Hisashi.


"Bisakah ini menembus tubuh manekin lilin?" gumam Kenatt mendekatkan pedang kearah wajahnya.


"Jangan pernah lengah anak-anak...bahkan senjatamu mampu membunuh tuannya sendiri" desis Hisashi bersiap menghalau serangan para manekin lilin yang mulai menyerbu mendekati mereka.


Hisashi berputar mendekat dan mengarahkan pedangnya kearah leher Adel. Gadis itu menahan nafas seketika saat pedang Hisashi memotong dua telapak tangan milik manekin lilin, yang hampir berhasil mencekik Adel.


"Bagaimana bisa aku membawa seorang Gadis kemari yang bahkan tidak tahu, bagaimana cara mengayunkan pedang dengan benar" geram Hisashi mengutuk diri sendiri. Gadis tersebut memekik tertahan ketika melihat Hisashi dengan sengaja mencengkeram erat bagian pedang Adel yang tajam hingga terlihat darah Hisashi mengalir melumuri pedang milik Adel.


"Hisashi...apa yang kau lakukan?" ratap Adel syok.


"Mulai sekarang pedangmu akan melindungimu. Bahkan ia punya keinginan dan pemikirannya sendiri. Belajarlah memahami pedangmu" jawab Hisashi dengan ekspresi sangat serius. Adel merasakan hawa panas tepat di bagian paling ujung pedangnya!! lalu menjalar hingga ke telapak tangan ia terkejut, karena kini warna pedangnya makin terang dari sebelumnya.


Adel mulai berteriak kesakitan membuat konsentrasi anggota lain buyar mencari arah suara.

__ADS_1


"Perhatikan musuh!! Apa yang kalian lihat?!" gertak Hisashi mencoba mengalihkan perhatian semua orang kembali ke peperangan.


Adel berusaha menghindari serangan sebisa mungkin, sambil berusaha menahan rasa sakit hingga menjalar, ke seluruh tubuh. Sebuah tendangan meluncur kearah Adel tapi Gadis itu terkejut bukan main saat pedang ditangannya bergerak sendiri menebas lutut buatan sang manekin.


Ya ampun...kau pemilik pedang terburuk yang pernah ada di dunia Nona.


"Siapa? Siapa yang berbicara denganku?" desis Adel gagap.


"Chichi...apa dia mulai berhalusinasi?" tanya Ferghus sambil merapatkan punggungnya ke punggung Hisashi setelah berhasil menangkis serangan manekin yang akan menyerang Hisashi dari belakang.


"Pedangnya berusaha berkomunikasi dengan Adel. Jangan khawatir mereka akan menjadi tim yang saling melengkapi" jawab Hisashi sambil terus mengayunkan pedangnya tanpa ampun.


WuuuuUuuUUsh


Tiba-tiba ada angin kencang datang menggulung seluruh manekin lilin tanpa sisa. Amarru terseret angin ke belakang lalu kehilangan keseimbangan ia jatuh berjongkok dengan mengandalkan tumpuan pada satu tangan. Semua orang mengedarkan pandangan was-was keseluruh penjuru.


Hisashi berusaha berkonsentrasi penuh mendengarkan banyak suara ditelinganya.


Selamatkan Putri kami...


"Siapa Putri kalian?"


Aprille Brodie....jangan buang waktu kalian disini. Kami akan membantumu bertemu dengannya sebelum kekuatan penuh kami menghilang.


"Kenatt...apa ada Reporter bernama Aprille Brodie disini?" tanya Hisashi melirik pada Kenatt.


"Tidak ada. Laporan terakhir yang aku dapatkan...tidak ada orang yang bernama Aprille Brodie. Kenapa?"


"Aku tidak mendeteksi kebohongan dalam suara mereka...apa ada hal yang belum kita ketahui?" desis Hisashi. Ia merasakan sensasi hawa yang hangat dan semakin terasa hangat di sekitarnya.


Haruko mengangkat tangan memberi kode pada kelompoknya untuk berhenti sejenak. Hawa yang belum pernah mereka rasakan kini terasa semakin hangat.


"Eve, Dimi...bisa kita beristirahat sebentar?"


"Yeah, tidak masalah lagi pula kita hanya berputar-putar saja dari tadi. Kurasa" jawab Dimitri langsung duduk meluruskan kedua kakinya yang mulai pegal-pegal.


"Tidak biasanya hawa di Teater ini menghangat seperti ini" gumam Eve dibalas anggukan mengiyakan dari Haruko dan Dimitri. Mereka sama-sama mengakui baru kali ini saja, mereka merasakan kenyamanan berada di dalam Teater tua itu.


Eve mengerjapkan mata sejenak lalu ia menatap lurus kearah dua sosok, berjarak tiga jengkal dari tempatnya merebahkan diri.


"Kau...yang ada di dalam mimpiku" gumam Eve sambil berdiri perlahan. Mereka mengangguk dan tersenyum. Mr. Brodie merentangkan kedua tangannya lalu berjongkok menatap rindu pada Eve. Mrs. Brodie ikut berjongkok disamping Suaminya.


Eve segera berlari menghambur kearah mereka dan menyambut pelukan hangat itu.


"Putri kecilku..." kata Mr. Brodie dalam pelukan Eve kecil dan Mrs. Brodie.


"Putri kecil?" gumam Eve melepaskan diri dari dekapan Mr dan Mrs. Brodie. Gadis itu menoleh kearah awal ia berdiri...Eve terdiam sejenak menatap dirinya sendiri sedang terbaring disisi Dimi dan Haruko yang juga terlelap. Eve memeriksa kedua telapak tangan. Kenapa? Apa dia bermimpi lagi? Ukuran tangan Eve sekecil tangan anak-anak.


Gadis itu kembali menatap penuh tanda tanya pada pasangan muda dihadapannya sekarang.


"Ya Aprille...kau Putri kecil kami. Bisakah kau mengingat kami nak?" tanya Mrs. Brodie lembut.


"Mom...Dad...apa kalian datang menjemputku?"


"Ingat apa kata Dad diakhir pertemuan kita?" tanya Mr. Brodie setegas mungkin.


"Kau harus bisa melawan Zilky sendirian sayang, jangan menyerah...kau sudah berjanji" tambah Mr. Brodie menggapai kedua tangan mungil Eve.


"Kali ini kau tidak sendiri. Ada seseorang yang kami percaya bisa menolongmu. Dia akan meninggalkan jejak untukmu" sambung Mrs. Brodie penuh keyakinan.


"Kenapa dia tidak menemuiku? Kenapa hanya memberi petunjuk?"


"Zilky dan dua iblis lainnya memblokir pandangan mata siapa pun yang terperangkap di dalam sini. Mereka berhasil masuk, tapi tidak bisa menemukan kalian" jawab Mrs. Brodie membelai rambut Eve.


"Dia pernah menemuimu honey...tapi tidak lama setelah itu, iblis melempar mereka kembali ke dimensi manusia. Ingat baik-baik. Namanya Hisashi...dia sosok manusia nyata sepertimu. Pergilah menemui dia saat Hisashi memanggilmu" kata Mr. Brodie mencengkeram erat kedua bahu Eve. Berangsur-angsur udara kembali mendingin dan semakin dingin.

__ADS_1


"Ingat mantra ini baik-baik. Ucapkan mantra ini ketika kau bangun maka, kau akan terhubung dengannya" buru-buru Mr. Brodie membisikkan sebuah mantra ke telinga Eve sebelum sebuah gempa besar terjadi membuat lantai tempat Eve berpijak longsor menguburnya kedalam tanah.


__ADS_2