Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 10


__ADS_3

Nyawa sebuah Novel itu, ada pada keaktifan pembacanya. Nyok komen like vote biar lanjut. Masih kurang? baca juga Red Water Park


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Waktu kita tidak banyak. Bergeraklah sebelum matahari terbenam" kata Riche menerjemahkan kembali. Ferghus segera berdiri melangkah menuju kamar Rulby di ikuti oleh yang lainnya. Saat mereka sudah berada di depan cermin lemari Rulby, ada rasa takut tersemat dalam dada. Bagaimana jika ada kejadian lebih parah dari yang tadi ?!


Bang !!


Bang bang !!


Hanya Hisashi yang tak terperanjat saat mendengar suara dobrakkan dari dalam lemari. Detak jantung semua orang disana berpadu menjadi satu saling berlomba, saling berpacu.


"Bukalah" perintah Hisashi pada Riche untuk membuka pintu lemari.


"Apa kami akan aman? Bagaimana jika...yang di dalam berhasil keluar?" tanya Riche cemas pada Guru Besarnya. Sang Guru Besar memberi isyarat pada sang Asisten.


Beliau langsung duduk di depan cermin lalu sang asisten menyiapkan beberapa lilin besar yang melingkari sang Guru Besar. Asisten bernama Amarru itu menangkupkan kedua telapak tangan lalu menggosok berulang kali ia bergerak ke kanan, maka siku tangan kanannya ikut bergeser ke kanan, lalu bergerak kekiri, maka siku kirinya Ikut bergeser ke kiri.


Perlahan ia membuka kedua telapak tangannya dan...angin mulai berhembus dari telapak tangan Amarru menyapu seluruh lilin.


Blarrrrr!!


Semua mata melihat lilin itu tiba-tiba menyala dalam sekejap!! Ferghus bersiul takjub, tapi malah dihadiahi sikutan Adel ketika lirikan Amarru, begitu tajam menatap ke arah Ferghus nampaknya sang asisten merasa terganggu.


Tanpa menunggu lama-lama, Hisashi bersiap untuk mengucapkan doa-doa. Sambil berkomat-kamit Hisashi menyentuh kobaran api pada lilin dengan telunjuknya. Saat telunjuk Hisashi menjauh dari api, muncullah suara teriakan Pria dewasa yang mengerang kesakitan. Adel terkesiap melihat pemandangan di hadapan mata itu. Hisashi nampak mengangkat jari telunjuk ke atas, menjauhi api sesaat, nampak normal tapi, saat ia menatap kearah kaca, terlihat Hisashi!!


Pria bernama Hisashi itu, mencengkeram erat leher seseorang di dalam cermin. Semua mata membelalak lebar entah ini wajar atau tidak. Hati mereka bersorak kegirangan melihat makhluk penyerang Armian tadi, diserang balik oleh Hisashi. Tapi ada secuil rasa takut, jika makhluk itu mampu melawan sang Guru Besar, pasti mereka semualah yang akan menjadi sasaran empuk kemarahannya. Makhluk itu melawan menampakkan duri-duri dari dalam tubuhnya seperti seekor landak.


Duri-duri tersebut mampu melukai tangan Hisashi hingga mengucurkan darah. Amarru tak mau tinggal diam dia membaca mantra untuk memperkuat mantra Hisashi. Amarru mengangkat satu kakinya hingga melayang ke belakang di udara, telapak tangan Amarru awalnya saling menangkup di depan dada, kini seperti sedang menari direntangkannya kedua tangan seolah terbang...dibentuknya setiap jemari bagaikan paruh unggas.


Amarru bergerak seakan mematuk kedua bahu Hisashi tapi sebenarnya, itu adalah tehnik menyalurkan energi positif ke dalam tubuh sang Guru Besar. Hisashi tersenyum penuh kemenangan ketika tangan yang mencengkeram kuat hingga berdarah-darah itu tak sia-sia.


Pengorbanan Hisashi, membuat darah sang Guru Besar tersebut berubah menjadi kobaran api yang sangat besar, hingga menghanguskan makhluk itu. Di kaca, makhluk tersebut terkapar tak berdaya di lantai. Tapi hanya sebuah abu membentuk tubuh manusialah yang ada di samping Hisashi.


Krieeeeek....


Oh tidak...Rulby dan Adel jelas sangat mengenal makhluk apa yang ada di balik pintu kamar mandi!!


"Rumah ini menyimpan banyak penghuni rupanya" gumam Hisashi tersenyum sinis.


Makhluk itu mulai melata melewati dinding kamar Rulby, lalu secepat kilat naik ke langit-langit kamar Rulby, berhenti tepat di atas sang Guru Besar Hisashi duduk!! Pelototan mata seluruh orang disana membuat suasana semakin mencekam.


Bagaimana tidak? Rambut panjang makhluk itu tergerai panjang hingga menjuntai ke lantai melingkupi seluruh tubuh Hisashi!! Rambut lurus hitam pekat tersebut segera mengikat kuat tubuh sang Guru Besar.


Amarru mengentakkan tanah meliuk ke kanan, dan kekiri berputar sekali dan melontarkan pedang api dari telapak tangannya ke arah rambut yang menjuntai panjang sang makhluk tersebut, yang mulai menumbuhkan kesepuluh kukunya agar makin memanjang dan siap menghunuskan ke arah Hisashi!!


Usaha melukai Hisashi untuk sementara dapat digagalkan oleh Amarru karena tebasan pedang terbuat dari api itu dapat menebas geraian rambut yang mengikat erat tubuh Hisashi sekaligus, memotong kesepuluh kuku panjang sang makhluk jahat.


Khi khi khi....


Tawa makhluk itu melengking mengintimidasi seluruh manusia di dalam kamar. Makhluk itu langsung melompat ke atas tempat tidur Rulby. Tangannya diangkat keatas sambil meregangkan telapak tangan. Rambut yang tadinya membelit tubuh Hisashi, merambat ke lantai menghampiri sang empunya.


Angin datang entah dari mana, menerbangkan rambut panjang tersebut, membuat bentuk melingkar seperti gundukan bola berwarna hitam ketika telah tiba di tangan sang empunya, bola rambut tersebut berubah menjadi sebuah kipas berwarna hitam kelam, berkilat.


Seperti di tarik sebuah magnet, kuku-kuku panjang berserakan tersebut berkumpul menjadi satu, berubah menjadi perisai nan tajam, yang langsung menuju ke arah sang empunya.


"Kalian lihat? Mereka yang berada di luar lemari ini adalah para penjaga istana sang Iblis..." kata Hisashi lantang. Begitu diterjemahkan Riche, mereka semua langsung bergidik ngeri. Penjaganya saja, sangat kuat bagaimana dengan yang ada di dalam sana? Seperti apa makhluk di dalamnya?


Wing!!!

__ADS_1


Bunyi kipas yang di lemparkan begitu saja oleh sang Makhluk itu ke udara, maka benda tersebut berputar-putar bagai baling-baling yang siap menebas siapa pun.


Zrassssshhhh!!


Kipas seperti baling-baling mengelilingi lampu gantung yang berada tepat di antara Adel dan Rulby. Entah kapan kedua Gadis itu terpisah dari kelompok. Perasaan Ferghus mendadak tidak enak menatap baling-baling itu mengelilingi lampu gantung.


Deg!!


Armian hanya diam tertegun tanpa kata.


"Observasi" katanya dengan nada bergetar hebat. Glassmate menunaikan tugasnya. Benda canggih itu segera mengobservasi perisai tajam, dan menemui kejanggalan. Sebelum ini, tidak ada benda apa pun yang mampu menghalangi pandangan siapa pun yang menggunakan Glassmate.


"Observasi B" katanya kembali sambil mengepalkan kedua tangannya. Observasi B yang di lakukan oleh Glassmate kembali tak membuahkan hasil.


Hisashi membuka kedua mata, sementara bibirnya masih saja merapalkan mantra-mantra. Ketika telinga Hisashi menangkap pekik rintihan dari seseorang ia hanya tersenyum sinis. Tanpa dikomando, Hisashi menyentuhkan ujung jari kelingking ke atas lilin yang mengobarkan api...saat diangkat, tanpa mengeluh beliau meniup jari kelingking yang mulai mengelupas kulitnya itu.


Kulit mati terkelupas dengan mudah terbang...melayang...menuju tempat Armian berdiri dalam kekalutan. Kulit mati itu menempel di atas sepatu Armian tanpa Pria itu sadari. Sang Armian terkejut bukan main saat Kocerjett yang ia tumpangi bergerak sendiri, mengiris perisai dengan ganas.


Aaaaaarggggggh!!


Pekikan kesakitan dan penuh keputus asaan itu mulai memekakkan telinga siapa pun yang mendengarkan. Lautan darah mengucur bak air bah tumpah ruah dari dalam sana. Kocerjett menghentikan aksi, ketika suara nyaring berikutnya terdengar.


Krrrrratak...


Krataaaaaaak...


Brugh...


Brugh...


Yeah..., perisai itu akhirnya roboh juga tanpa di duga Armian. Pria itu membelalakkan mata, ketika melihat seluruh tubuh Rulby dipenuhi sayatan serpihan kaca yang menancap dalam!! Gadis itu roboh seketika dengan luka di sekujur tubuh.


"Adel??" kata sang Guru Besar memejamkan kedua matanya.


Khi khi khi....


Mendengar tawa mengejek dari sang arwah keji, Hisashi segera membuka kedua mata. Merah darah...ya, kedua bola mata sang Guru Besar berubah semerah darah. Wajahnya memerah seperti tomat, memandang nanar sang arwah yang sibuk mengerling padanya. Siapa sangka ada arwah centil begini huh?! Tiba-tiba dari arah belakang, Ferghus berlari tanpa terkendali!! Kaki kirinya menyepak ke udara, hingga kaki lainnya berdecit terseret di lantai.


Bahkan!! Si kaki kiri menyerang kepala sang Guru Besar Hisashi tapi sebelum Serangan itu benar-benar mengenai kepala Hisashi, Amarru beraksi!! Kaki kanannya menyepak lantai kamar Rulby, lalu disilangkannya dengan kaki kiri. Tangannya mengambang di udara, membentuk gelombang-gelombang udara, menciptakan tali berwarna merah pada kedua telapak tangannya. Tali merah, di tangan Amarru, adalah perlambang dari syaraf kaki Ferghus.


Pria itu terpaksa berusaha mengendalikan Ferghus, melawan sang arwah jahat yang sudah terlebih dahulu mengendalikan tubuh Ferghus. Arwah jahat memerintah kaki kiri Ferghus menendang kepala Hisashi tapi Amarru selaku kaki kanan, mengunci si kaki kiri hingga tubuh Ferghus berdebum di atas lantai.


Auch!! Pekik Ferghus yang merasa sedang dipermainkan tapi ia tak mampu sedikitpun untuk memberontak. Hisashi yang menyadari Ferghus telah di kunci Amarru, langsung mengambil pisau belati dari dalam jubah berwarna kuning muda besarnya!!


Arrrrgh!!


"Kau!!" pekik Ferghus dan meneriakkan kata kau sambil menunjuk ke arah Hisashi yang dengan sengaja menyayat kecil paha Ferghus hingga meneteskan darah segar.


Ferghus yang kalap, menatap kedua mata merah darah milik Hisashi dan...,kepala Ferghus terasa sangat pening bahkan berputar-putar. Ferghus mulai tak sadarkan diri!! Hisashi menggores sedikit jempol tangan kanan hingga mengeluarkan darah dan mengoleskannya pada luka di paha Ferghus yang juga berdarah. Dengan jempol yang sama, Hisashi menempelkan jempol itu ke arah kening Ferghus, lalu kembali membaca mantra...


Remang-remang...dimana ini? Tempat apa ini? Disini sangat pengap, dingin dan berkabut. Ini bukan di tempat terbuka seperti padang rumput ataupun hutan. Ya, ini hanya berada di dalam lorong tak berujung.


Ferghus Cloy...waktumu tak banyak nak, segera carilah Adel dan bawa dia kembali atau dia tak akan pernah dapat kembali berkumpul dengan kita disini lagi.


"Hisashi?" gumam Ferghus mulai menyadari serangan Hisashi bukan untuk melukainya melainkan mengirimnya ke tempat mengerikan ini. Adel...ia harus menemukan Adel secepat mungkin. Tanda merah di kening Ferghus, kini berfungsi sebagai pelita bagi Pria itu untuk melihat apa pun yang ada dihadapan Ferghus.


Drap!!


Drap!!!

__ADS_1


Drap!!!


Derap langkah kaki Ferghus terdengar nyaring di sepanjang lorong namun perhatian Ferghus mulai teralihkan begitu saja dengan adanya banyak sekali gambar timbul di dinding selayaknya gambar relief pada umumnya. Perasaan Ferghus mengatakan ini bukan sekedar Relief biasa!! Karena relief biasa, bentuknya tidak sebesar ukuran manusia, terlebih lagi...relief itu berbentuk mumi.


Kretek krek!!


Krek!!


Krerek krek!!


Krek!!


Mata Ferghus terbelalak takjub sekaligus tegang. Terpukau, sekaligus mendadak takut nyawanya melayang. Pasalnya, relief-relief itu kini...bergerak...menggeliat...berusaha keluar dari dalam dinding lorong.


Setelah Hisashi membaca mantra, ia menyapukan darahnya di kening Ferghus hingga ke ubun-ubun Pria tersebut. Hisashi membaca mantra lain, berusaha menuntun Ferghus tapi mata merah darah Hisashi kembali ke warna normalnya seketika!!


"Master Shi!!" seru Amarru menyadari bahwa Hisashi telah kehilangan kendalinya atas Ferghus.


Krrrrrooooh!!


Suara berisik kembali datang berasal dari sang Arwah jahat. Tiba-tiba Hisashi terpukul mundur dalam keadaan kedua kaki bersila. Pukulan telak dadakan mengenai perut sang Guru Besar, hingga bibirnya memuntahkan darah segar.


"Ferghus dan Adel dalam bahaya..." desis Hisashi membuat Riche yang masih terbelenggu rambut, membelalakkan mata syok.


"Apa katanya?" tanya Kenatt was-was melihat perubahan raut wajah Riche seketika.


"Adel dan Ferghus!! Nyawa mereka terancam!!" pekik Riche membuat Kenatt ikut menegang hebat.


Melayang...mengambang...kedua hal itulah yang dirasakan olehku. Suara air mengalir begitu terdengar jelas di kedua telingaku ini. Apa aku kembali masuk ke dalam kamar mandi? Apa makhluk jahat itu berhasil membawaku ke dalam kamar mandi penuh kaca itu lagi?! Perlahan kubuka kedua mataku.


Ck....kabut?! Dimana lagi ini huh?! Aku pun berusaha keras mengingat kejadian terakhir dirumah Rulby. Perisai dari kuku si arwah jahat tiba-tiba berubah menjadi kaca yang mengelilingi diriku dan Rulby.


Lalu...sesuatu dari luar entah apa pun itu, berpijar layaknya percikan api di hadapanku!! Kaca yang mengelilingi kami bergemeretak kuat, retak. Lalu kaca yang berada di belakangku...seolah berusaha menyedotku masuk ke dalam dan semuanya menjadi gelap.


"Rulby!!" pekikku langsung terduduk dari tidurku. Tempat yang kutiduri tersebut tiba-tiba bergoyang hebat!! Kecepakan air diakibatkan benda yang aku naiki ini, memberitahuku bahwa sekarang, aku berada di tengah-tengah danau hijau menggunakan sebuah perahu sampan. Oh ya ampun...ini pasti, kerjaan si jahat itu!!


Bagaimana aku bisa mencapai ke daratan? Aku tidak menemukan satu pun dayung di perahu sampan. Tiba-tiba perahu sampan itu bergoyang kembali spontan aku menggenggam erat perahu itu untuk menyeimbangkan tubuh.


Jelas di dalam air hijau lumut tersebut aku melihat ada benda mengambang berwarna hitam seperti minyak yang tertumpah di dalam air tapi jelas itu bukan minyak. Tiba-tiba benda itu menempel kuat di perahu sampan tepat di bawah perahu


yang kunaiki!!


Kyaaaaaaa!!


Pekikku panik, begitu tersadar benda yang menempel di perahu tersebut mengendalikan perahu sampan hingga melaju kencang!!


Hisashi menatap lekat mata Amarru seolah berusaha untuk berkomunikasi dengan sang asisten. Amarru mengangguk perlahan ia langsung berlari kearah sang Guru Besar.


Makhluk jahat itu mengibaskan kembali kipas hingga sempat menggores sedikit lengan sang Amarru. Sang Guru besar merapalkan mantra-mantra...matanya kembali berwarna merah darah...waktu kini telah terhenti untuk sementara. Amarru melirik kearah kipas yang masih menempel pada kulit lengannya. Ia langsung menjauhi kipas itu lalu menciptakan sebuah api dari telapak tangan kemudian dengan super duper puas, dihanguskannya kipas yang terbuat dari rambut milik arwah keji itu.


Amarru tak merasa perlu melihat kipas itu lenyap terhanguskan api...ia justru tetap melangkahkan kaki menuju sang Guru Besar yang berusaha untuk berdiri tegak. Saat mereka berhadapan, kedua mata Amarru ikut menjadi berwarna semerah darah. Ia bersimpuh memberi penghormatan pada sang Guru Besar.


"Amarru...dengan ini, segelmu aku buka" kata Hisashi dengan sangat lantang. Mata Amarru yang menatap ke punggung kaki Hisashi kini menatap ke atas hingga mata keduanya saling bertemu kembali.


Matanya!! Mata Amarru semerah darah tersebut tiba-tiba berubah menjadi warna pelangi!! Ia menyeringai bahagia. Akhirnya!! Selama ini Amarru harus menahan diri mengingat sang Guru Besar telah menyegel kekuatannya.


Sssssshhhhhhh....


Amarru segera bangkit sambil melebarkan kuda-kudanya. Lalu muncul asap hitam kelam dari balik punggungnya. Muncul sebuah tata penjuru mata angin di keningnya!! Amarru terbang...melayang di udara...lalu kesepuluh jemari Amarru tertuju ke bawah, hingga apa pun yang ada di bawahnya, menjadi retak seketika!!

__ADS_1


__ADS_2