Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 13


__ADS_3

"Aku menemukan pintu yang lain. Ini pintu serupa, tapi tak sama. Yang hanya bisa terbuka, saat bulan purnama mulai menampakkan wujudnya di langit gelap"


"Oke, tapi bagaimana kau bisa mengetahui keberadaan pintu ini? Lalu dari mana kau tahu pintu ini hanya dapat di buka saat bulan purnama saja?"


"Saat aku memulai hidupku di dalam benda mati ini" jawab Darius sambil membuka kedua telapak tangannya lalu menatap lekat-lekat telapak tangannya sendiri. Darius menghela nafas dalam-dalam lalu mengacak-acak rambutnya kasar.


Sesuatu mengejutkan tiba-tiba terjadi lantai gedung Teater berguncang sangat hebat hingga mereka berdua terlontar menjauh dari pintu.


"Apa yang terjadi?" tanya Berte masih berjuang untuk kembali berdiri tegap. Darius menggapai apa pun untuk bisa bertahan tanpa harus terdorong lebih jauh lagi. Dengan sigap Pria itu menggapai tangan Berte, lalu mencengkeram erat bahu Berte berusaha berjalan menuju pintu.


Seketika Berte merasa dirinya tak seharusnya berada di luar gedung Teater tanpa semua teman seperjuangannya. Ia menghentikan langkah, tak peduli perjuangan Darius menuju pintu.


"Kenapa kau malah menghalangiku keluar?!" pekik Darius panik.


"Apa kau tega membiarkan mereka semua terjebak di dalam sana? Sementara kita selamat sambil melihat detik-detik kematian mereka?"


"Apa yang kau pikirkan?! Gedung ini akan runtuh!! Hanya saksi mata yang bisa menguak kejadian ini di depan dunia. Kau ingin kematian semua rekan kita tak ada yang mengetahui?!" bentak Darius mulai frustasi.


"Baiklah...lakukan apa maumu, matilah bersama mereka. Tapi aku masih ingin hidup" tegas Darius melepaskan genggamannya pada bahu Berte. Gadis itu panik, lalu menggenggam erat bahu Darius.


"Maafkan aku" katanya dengan nada suara bergetar. Ia tidak ingin mati secepat itu. Maka Darius dan Berte berjuang bersama untuk melewati pintu. Ketika mereka berhasil keluar, Berte hanya diam mematung, air matanya berlinang di kedua pipinya. Ia menatap syok melihat gedung Teater kuno itu runtuh dalam sekejap mata.


"Kau melakukan hal yang benar Berte. Berhenti menangis, dan siapkan dirimu untuk melakukan perjalanan panjang. Kita akan pulang" kata Darius mencoba menenangkan Berte.


"Kau yakin ingin pulang? Dengan wujud seperti itu?" kata Berte mengingatkan wujud baru Darius.


"Kata Harry dan Aditi, aku bisa kembali dalam wujud manusia saat keluar dari pulau tak bernama ini. Meski itu artinya, keluargaku tak akan mengenaliku lagi, dan menjadi orang asing bagi mereka" jawab Darius sedih.


"Benarkah? Seandainya mereka semua selamat" gumam Berte sambil menundukkan kepala.


"Jangan buang-buang waktu lagi!! Sebelum Suami Istri gila itu datang kembali, kita harus berada dalam jarak yang jauh dari mereka" kata Darius dengan raut wajah panik. Berte berlari bersama Pria manekin itu menjauh dari tempat awal bencana di mulai.


BUM!!


"Mau kemana kawan? Kenapa kalian berniat pergi sendiri tanpa kami?!" kekeh Harry sambil mendongak menatap Darius dan Berte dengan garang.


"Syukurlah kau bisa selamat dari reruntuhan itu Harry. Apa...masih ada yang selamat selain dirimu?" pekik Berte girang melihat masih ada yang selamat.


"Kalian tidak boleh pergi...kalian harus bersama kami selamanya..." desis Harry memberi sensasi bulu kuduk meremang pada Berte.


"Apa kau gila?! Kita adalah rekan!! Kita seharusnya saling menolong untuk keluar dari pulau ini!!" gertak Darius memperingatkan.


"Saling menolong?! Mengorbankan semua temanmu demi mempertahankan kehidupan kalian itu disebut menolong?!" geram Harry murka. Ia meninju bahu kanan Darius, tapi Pria itu mampu menangkis serangan Harry.


Darius berhasil mematahkan lengan kiri Harry, tapi dengan sigap Harry mampu menendang kaki kiri Darius, hingga patah dan Pria manekin malang itu jatuh terkapar di atas pasir!!


"Hentikan!! Jangan saling menyerang!! Kumohon!!" teriakan Berte tak dipedulikan. Harry menekan perut Darius dengan satu kakinya lalu menyerang kepala Darius dengan tangan yang masih utuh. Berte panik ia menendang pinggang Harry hingga Pria manekin itu terjungkal ke samping Darius.


Berte berusaha membangkitkan Darius dengan sekuat tenaga. Aneh, bukankah manekin seharusnya ringan? Tapi kenapa beratnya sama dengan berat manusia biasa? Berte menggelengkan kepala memilih untuk mengalihkan perhatiannya pada keselamatan dirinya dan Darius.

__ADS_1


Harry yang terjungkal ke samping menggeram murka...matanya mulai menyala merah darah.


"Darius...apa yang terjadi pada Harry? Kenapa matanya berubah semerah darah?!" desis Berte panik.


"Setiap kami merasakan bahaya, mata kami akan semerah itu. Ia akan mengamuk! sebaiknya kau berlarilah menjauh dari kami" desis Darius sangat serius.


"Tidak. A-aku-takut sendirian"


"Ada Kim di sekitar sini. Aku dapat merasakannya. Cepat lari cari di mana dia berada!!" bentak Darius. Berte langsung berlari mendengar bentakan dari Darius.


"Berte!!" teriak Harry menggema membuat Berte semakin mempercepat larinya meski pasir yang membentang di sepanjang jalan sudah pasti memperlambat usahanya untuk melarikan diri. Harry mengepalkan telapak tangan lalu memukulkan ke udara yang langsung menuju ke arah sosok Berte.


Darius juga segera mengambil dua kepalan pasir tak jauh dari tempatnya berpijak lalu menaburkannya sedikit demi sedikit ke udara. Angin kencang berhembus...membawa butiran-butiran pasir dari tangan Darius menuju ke arah Berte. Kobaran api besar dari tangan Harry pun menyusul menuju ke arah Berte Gadis itu mati-matian berlari menjauh tapi ia malah terjungkal ke atas pasir!!


Mata Berte membulat melihat kobaran api besar kini berada kurang dua jengkal dari tempatnya terjatuh. Tapi sebuah keajaiban tercipta!! Butiran-butiran pasir itu seolah memiliki daya magnet yang cukup dahsyat, hingga pasir yang ada tepat di bawahnya mampu terangkat dan menjadi sebuah benteng kokoh dari berton-ton pasir.


Lari!! Kumohon larilah!!


Berte menengok ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara yang sama sekali tak ia kenali. Tapi teriakan Wanita itu sangat menakutkan dan mencekam. Mendapat instruksi untuk melarikan diri Berte tak menyia-nyiakan kesempatan tapi terlambat!!


Angin kencang menciptakan badai pasir yang begitu dahsyat!! Mengaburkan pandangan Berte. Berulang kali matanya kemasukan butiran debu hingga langkah kakinya lagi-lagi tertahan begitu saja. Nafasnya tercekat berulang kali ia berusaha bernafas, namun badai pasir itu tanpa ampun menebarkan pasir ke udara hingga terhirup oleh Berte, memenuhi paru-paru Berte.


Gadis itu mulai kehabisan oksigen akibat nafasnya yang tersengal-sengal.


Seusai pertunjukkan keajaiban mengubah pasir menjadi sebuah benteng kokoh, Harry mulai terkekeh puas sambil menatap Darius.


"Masih mau bermain-main?" kekeh Harry sambil menutup kedua matanya, menggumamkan sebuah mantra kuno, dan tangan Harry yang putus terbang melayang, terpasang kembali ke asalnya.


Setelah proses penyatuan bagian tubuh selesai, mereka menggenggam pasir di kedua tangan mereka masing-masing. Harry melempar seluruh pasir ke udara lalu, membentangkan kedua telapak tangan ke depan maka, terciptalah angin puyuh dari kedua telapak tangannya yang diarahkan langsung ke benteng kokoh tersebut.


Tidak hanya itu!! Darius justru memukulkan genggaman pasir di kedua telapak tangannya hingga menyatu. Serpihan yang berguguran dari celah telapak tangan Darius, tersapu angin puyuh. Darius pun mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu membentangkan tangan ke kanan dan ke kiri setelah itu ia mengatupkan kedua telapak tangannya tepat di depan dada.


Telapak tangan Darius kini dibuka, kemudian diarahkan tepat ke benteng kokoh hingga menciptakan pusara angin berbentuk seperti gasingan yang meluluh lantahkan benteng pasir!!


"Jangan mempercepat proses kematiannya...biarkan aku menikmati kematiannya secara perlahan...tapi pasti..." desis Darius menghentikan mantra Harry yang akan mencoba mengubur Berte hidup-hidup, ke dalam pasir. Harry menghentikan mantra maka badai pasir pun menghilang begitu saja. Harry dan Darius berjalan mendekati Berte. Nafas Berte tersengal-sengal.


Ketika Darius dan Harry sampai, wajah Berte mulai membiru.


"Selamat bergabung dengan yang lainnya Berte..." kata Darius membuat mimik wajah sedih berlebihan sambil mengecup dahi Berte. Ketika kecupan di dahi dilakukan, wajah Berte menjadi keunguan...kedua mata Berte bertemu dengan mata indah Darius.


Asap mengepul dari hidung dan telinga Berte terserap ke dalam kerongkongan Darius...dalam sekejap binaran mata Berte meredup, bersamaan dengan jiwanya yang melayang.


"Kau sebut itu akting? Hentikan saja akting burukmu karena kita harus beralih ke target selanjutnya" kata Harry menendang pantat Darius yang berjongkok di depan jazad Berte. Darius mendengus kesal lalu mengibaskan salah satu tangannya ke udara, dan fatamorgana runtuhnya gedung Teater Kuno mulai terpecah begitu saja.


Kenyataannya, gedung Teater kuno masih berdiri dengan kokoh di sana. Bahkan, jazad Berte pun ikut menghilang begitu saja, ketika kedua manekin berwajah sempurna tersebut masuk kembali ke dalam gedung Teater.


Adeline Minna terjebak di dalam semak-semak belukar...sementara yang lainnya sudah semakin menjauh darinya.


"Ferghus!! Hisashi!! Berhenti!!" teriak Adel membuat langkah semua orang terhenti dan berbalik ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf...aku tersangkut sesuatu" kata Adel sambil melirik ke arah kakinya. Ferghus bergegas berjalan menuju ke arah Adel dan berusaha membebaskan kaki Adel yang tersangkut.


"Kurasa ini sobekan baju atau apa pun itu, milik salah satu korban" kata Ferghus mengibaskan sobekan kain ke udara hingga semua orang dapat melihat dengan jelas.


"Kurasa ini bisa menjadi sebuah petunjuk..." Hisashi terkekeh lega. Ia berjalan mendekat ke arah Ferghus dan Adel. Saat ia mengambil robekan kain, tiba-tiba sesuatu yang sangat berat menimpa tengkuk sang Guru Besar. Ia jatuh terduduk di atas pasir tapi ketika orang-orang berinisiatif menolong, Hisashi malah mengangkat tangannya.


"Kalian...keluarlah dari semak-semak itu" kata Hisashi pada Ferghus dan Adel. Mereka mengangguk dan keluar dari semak-semak. Hisashi bersila lalu membaca doa-doa sambil mengambil korek api gas dari tangan Ferghus, lalu membakar sobekan kain. Di letakkannya sobekan kain yang tengah terbakar di atas telapak tangan kirinya hingga menjadi abu...


SraaaAAaaKkk!!


SruuuuKkkkk!!


Adel dan kawan-kawan menahan nafas melihat aksi Hisashi, makin lama... makin luar biasa menegangkan!! Ketika suara dari arah semak-semak di hadapan Hisashi terdengar sangat jelas. Mereka semua mundur perlahan tapi enggan berlari meninggalkan Hisashi sendirian. Pria itu menoleh ke arah semua orang dan tersenyum simpul seolah tidak ada masalah sama sekali.


Krusek Kretaaaaaak!!


Tak tak!!


KretaAAkkkK!!


Hisashi menoleh ke depan memperhatikan tiap ranting-ranting pepohonan yang berada di balik semak-semak belukar...


"Kau...menakuti teman-temanku. Rubah dirimu ke bentuk yang wajar" desis Hisashi memerintah pada apa pun di hadapannya sekarang. Potongan ranting tersebut berasap secara mendadak!!


Kemudian terbakar begitu saja hingga, kobaran api menutupi pandangan mereka semua. Kilauan api kini memudar...dan lenyap...berubah menjadi makhluk mungil berbulu tebal, setebal bulu domba. Makhluk itu menjulurkan lidah dan terengah-engah. Semua mata berbinar takjub melihat seekor anjing kecil berlarian kecil mendekat ke pangkuan Hisashi.


"Jangan bersikap seperti anjing sungguhan...kau sangat menikmati perubahan wujudmu ya?" kekeh Hisashi menatap geli melihat si mungil merasa senang bergulingan di pangkuan Hisashi.


"Jadi, bisa sekarang kau tunjukkan, di mana pemilikmu berada?" tanya Hisashi menatap tajam ke dalam manik mata si kecil yang menggemaskan.


Guk!! Guk!!


Jawab makhluk jadi-jadian itu sambil berlari ke arah yang di tuju Hisashi dan kawan-kawan. Jika jarak antara si kecil dengan kawanan Hisashi cukup jauh, entah kenapa si kecil selalu berputar-putar di tempat yang sama, seolah ingin menangkap ekornya sendiri.


Di bagian dalam Teater Riwangga Angger Pati mulai panik ketika merasakan suhu dahi Reswani Putri Syailendra mulai dingin apa lagi banyak keringat di sana.


Pria itu menyadari satu hal...meski ia berusaha sekeras apa pun untuk menghentikan pendarahan yang dialami Putri, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa, Putri telah kehilangan banyak darah oleh karena itu, sebelum dahinya mulai banyak berkeringat Putri mengalami mual, lemas, mata berkunang-kunang, pucat dan dingin terlebih dahulu.


Keadaannya semakin memburuk ketika denyut nadi Putri menjadi cepat dan lemah lebih dari 100 per menit. Pernafasan Gadis tersebut cepat tapi dangkal. Masa kritisnya telah tiba!! Karena Putri akhirnya pingsan.


“Putri. Buka matamu!! Ini bukan saatnya tidur nyenyak!! Bukankah kau ingin pulang bersamaku?! Ayo berusahalah bangun!!” teriak Angga menepuk lebih keras karena Putri sama sekali tak merespons rangsangan yang dilakukan Angga. Bahkan Helga mencubit keras lengan Putri namun Gadis itu tak bergeming sedikitpun.


“Angga...dia sudah tiada. Kau harus kuat menghadapi kenyataan ini. Putri menginginkan kita semua selamat” kata Helga Winifred menepuk bahu Angga yang sedang berduka.


“Tidak!! Dia masih hidup!! Dia harus tetap hidup!! Masih ada yang ingin dicapainya.” pekik Angga terus berusaha membangunkan Putri namun sia-sia. Dengan jemari bergetar….mata yang berlinang air mata...Angga memberanikan diri meletakkan satu jarinya di bawah ke dua lubang hidung Putri. Tak ada lagi hembusan nafas.


Angga beralih pada nadi di tangan kanan Putri, tak ada lagi denyut nadi yang dapat dirasakan Angga. Pria tersebut berdiri secara tiba-tiba lalu berlari ke arah dinding dan membentur-benturkan tangan kanannya yang mengepal sangat kuat.


“Hentikan. Angga!!” bentak Eldert Diederick berusaha menjauhkan Pria itu dari dinding. Dengan sigap, Park Mayleen yang bertugas membawa obat-obatan terbatas, segera mengobati luka di tangan Angga.

__ADS_1


“Yang merasa kehilangan, bukan hanya dirimu saja. Sebelum Putri meninggalkan kita semua, ada lima orang yang telah mendahuluinya. Aku tahu ini berat, tapi kau harus bisa berpikir jernih. Jangan sampai karena duka mendalammu itu berlarut-larut, membuat korban semakin bertambah” kata Daksa Mahesvara mengalungkan tangan kirinya ke leher Angga.


__ADS_2