Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 18


__ADS_3

"Hati-hati sepertinya dia menyemburkan air keras pada Golem mu. Lihat makhluk ciptaanmu itu? Kini dia akan jalan dengan kaki pincang" bisik Kenatt sangat serius.


"Itu akan sangat mematikan bila terkena tubuh manusia" bisik Ferghus mulai menyadari dirinyalah yang kini jadi incaran pertama sang penyihir.


Mendadak sang penyihir menengadahkan tangan kanannya maka muncullah sapu terbang khas penyihir di atas telapak tangannya. Agar teman-temannya tidak ikut menjadi korban, Ferghus memilih untuk meluncur turun dengan sangat mulus ke permukaan tanah.


Sang penyihir berlari mengejar Ferghus lalu melemparkan sapu ke udara hingga ajaib!! Sapu itu melayang sendiri di udara. Sapu itu menyamakan tinggi dengan, sang tuan untuk memudahkan tuannya melompat ke arah sapu terbang.


Hup!!


Teriak sang penyihir melompat ke atas sapu terbang melesat menghindari Ferghus Cloy. Laki-laki itu menghentikan langkahnya lalu melirik ke arah Hisashi dan Amarru. Kedua Pria tersebut mengangguk seolah memberi jawaban atas pertanyaan Ferghus yang tak terucapkan. Ferghus berkonsentrasi menciptakan enam golem dalam sekejap.


Ia segera melompat ke salah satu golem ciptaannya lalu mengejar kemana sang penyihir terbang. Karena satu-satunya media komunikasi Hisashi dengan yang lainnya kehabisan daya, maka Hisashi dan Amarru melayangkan tubuh ke tiga rekannya tanpa permisi menuju ke atas Golem nya masing-masing.


Wing!!


Bunyi kelima Golem tanda telah diaktifkan. Lima golem melesat terbang mengejar Golem yang dinaiki Ferghus.


Saaaaaaaat


Saaaat saaaat saaaat


Bagus...penyihir menyebalkan itu ternyata menggiring mereka semua menuju ke arah jebakan entah untuk keberapa kalinya!! Puluhan anak panah melesat sangat cepat, ketika mereka memasuki wilayah jebakan. Anak panah menuju ke arah lengan dan kepala Hisashi dalam jumlah banyak ketika Pria itu menyadari ada serangan dadakan, ia langsung menoleh kearah anak-anak panah yang melesat mendekat ke arahnya dan ke arah semua orang.


Cukup dengan menatap semua anak panah dihadapannya, Hisashi mampu mematahkan seluruh anak panah, hingga jatuh berkelotakan di atas tanah. Amarru menyadari ada beberapa anak panah mengarah ke arah tubuhnya depan, kanan dan kiri!! Ia banting tubuhnya ke belakang, hingga anak-anak panah itu saling menabrak, lalu terdengar suara patahannya hingga menjatuhi dada Amarru. Pria itu langsung mengibaskan tangan guna menyingkirkan patahan-patahan anak panah untung saja, bagian runcing anak panah tersebut, sudah bengkok hingga tumpul.


Adel menegang ketika ada anak panah melesat dari arah atas kepala, ada juga yang melesat ke arah wajahnya bahkan perutnya!! Maka, dikeluarkannya kipas buatan Armian untuk menangkis semua anak panah yang menyerangnya. Kipas itu digunakannya untuk tameng di atas kepalanya berhasil!! Anak panah di atas kepalanya terpental jauh sementara, untuk anak panah yang mengarah ke wajah dan perutnya, Adel kibas dari arah bawah ke atas hingga beberapa anak panah ter patahkan oleh kipas tersebut.


Kenatt dan Rulby sangat panik, ketika banyak anak panah yang menjadikan pantat dan kaki mereka sebagai sasaran empuk keduanya berteriak lalu mencoba melarikan diri dengan golem, tapi sia-sia...anak panah itu terus mengejar.


Baaaaats!!


Bats bats!!


Tiba-tiba muncul sebuah kipas terbang milik Adel langsung menebas seluruh anak panahnya. Ketika kipas telah kembali pada tuannya, terdengar teriakan Ferghus!!


Ferghus Cloy mengejar sang Penyihir tanpa rasa takut. Penyihir tersebut mengeluarkan cairan keras ke arah Ferghus. Ia berusaha menghindar, tapi cairan itu mengenai golem nya hingga besi milik Ferghus perlahan-lahan meleleh.


Pria itu segera berdiri di atas golem dan melompat ke arah sang penyihir tapi si penyihir mengeluarkan cairan itu kembali hingga Ferghus tak dapat mengelak untuk kedua kalinya. Beruntung, Ferghus dadanya terbentur oleh batuan karang yang menjorok di hadapan Ferghus. Sehingga batu karang itulah yang terkena cairan sang penyihir setelah Ferghus terbentur. Laki-laki itu jatuh, terjun bebas ke bawah, untungnya ada golem milik Adel yang langsung berhasil menggapai tubuh Ferghus.


Masalah baru mulai muncul...golem itu kecil, hanya sanggup menanggung satu orang bukan dua!! Maka olenglah golem tersebut hingga terbanting ke atas tanah. Adel dan Ferghus terbanting bersama golem ke tanah, baru terpental hingga berguling-guling.


"Apa kalian baik-baik saja?!" tanya Kenatt khawatir.


"Ferghus terluka!! Kalian fokuslah menangkap orang jahat itu!! Kami menunggu disini saja!!" teriak Adel lalu melambaikan satu tangan ke arah Kenatt. Mereka semua mengangguk dan melakukan pengejaran kembali.


"Ferghus...Ferghus bangun!! Apa kau mendengarkanku?!" pekik Adel mendapati Laki-laki dihadapannya tergolek tak sadarkan diri. Dahi Ferghus mengeluarkan darah segar membuat kepanikan Adel semakin besar.


Brugh!!


Sebuah tas ransel terjun dari atas. Gadis itu mendongak keatas mendapati sosok Rulby di atas sana bersama golem nya.


"Di dalam ada obat-obatan!! Maafkan aku baru ingat kalau aku yang bawa!!" teriak Rulby yang kemudian melesat kembali mengejar penyihir jahat.


Ferghus membuka mata perlahan ia terkejut melihat dirinya berada di sebuah ruang rawat inap seseorang.


"Dokter...apa benar-benar tidak ada harapan lagi?" tanya Hisashi muda beruraian air mata sambil memeluk seorang Wanita.

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan. Anak Anda sudah tidak tertolong lagi" kata-kata dokter membuat sosok Wanita dalam pelukan Hisashi meraung-raung meneriakkan nama Putra Hisashi dengan pilu.


"Tapi dokter...dari mana kami mendapatkan donor itu dalam waktu dua jam saja? Itu mustahil!! Ku mohon lakukan apa pun untuk menyelamatkan Putra saya" terdengar ada keributan lain di luar ruangan Hisashi.


Pria itu menoleh kearah pintu ruang rawat anaknya lalu melangkah keluar mencari tahu si pembuat keributan. Ferghus yang mengikuti kemana Hisashi muda melangkah, langsung menghentikan langkahnya seketika. Apa yang ia lihat itu? Bukankah...itu Ayah dan Ibunya? Dan...yang sedang terbaring lemah itu...bukankah dirinya? Jadi...Putra Hisashi seumuran dengan Ferghus?


"Donor? Donor apa?" tanya Hisashi muda menatap ke arah Ferghus kecil.


"Jantung. Putra kami...butuh jantung baru untuk dapat bertahan hidup. Tapi...kami kesulitan mendapatkan donor" kata Ayah Hisashi lemah lalu kembali ke ruangan rawat Putranya tak jauh dari Putra Hisashi muda dirawat. Pria itu pun juga kembali pada Istrinya.


"Menurut saya, ini akan sangat menyiksa Putra Anda jika terus dilanjutkan. Bagaimanapun, Putra Anda hidup hanya bergantung pada alat kami tapi mau sampai kapan? Saya sarankan, untuk mengikhlaskannya saja" kata dokter sangat hati-hati dalam berbicara. Ya, harapan hidup Putranya memang semakin hari semakin menipis ia tidak mati, tapi juga tidak hidup...


"Kau ingin kami sendiri yang mengakhiri hidup Putra kami!!" teriak Wanita yang pastinya adalah Istri dari Hisashi.


"Fukhio!! Diam!!" bentak Hisashi kalut lelah dengan semua tekanan dalam beberapa hari ini.


"Kurasa, dokter benar. Atshuke telah lama menderita. Apa kau tega terus menerus melihat penderitaan Putra kita sendiri? Lihat dia!! Dia tidak hidup, juga tidak mati. Harapan hidupnya menipis!! Biarkan dia tenang dalam damai. Biarkan dia mengakhiri penderitaannya"


"Fukhio...3 tahun. Ya, 3 tahun, kita berharap dia bangun dan memeluk kita, tapi harapan kita malah menyiksanya. Kumohon lepaskan siksaan itu dari Putra kita" tangis Hisashi sambil bersimpuh di hadapan sang Ibu yang melahirkan Putranya. Wanita bernama Fukhio jatuh terduduk menangisi nasib buruknya. Ia tak dapat berkata-kata lagi.


"Kami...se-tu setuju...pengangkatan alat penopang hidup Putra ka-mi..." katanya terbata-bata. Air mata Fukhio mengalir deras mengetahui sebentar lagi, Atshuke meninggalkan dunia dengan tenang.


"Donorkan jantung Putra kami pada Putra orang yang dirawat di kamar no. 206" keputusan Hisashi mengagetkan Fukhio. Dokter meminta mereka mendiskusikannya sekali lagi, melihat sang Ibu tidak setuju dan memberikan sebuah formulir pernyataan kesediaan mendonorkan jantung. Saat dokter pergi, Fukhio menampar pipi Hisashi hingga memerah.


"Apa ini? Kau mengakhiri hidup Putramu, dan memberikan jantung Putramu pada Putra orang lain?! Apa kau gila?! Dia sudah lama menderita kau, yang mengatakan itu padaku baru saja bukan? Dan apa ini arti dari mengakhiri penderitaan Atshuke, dengan membelah dadanya dengan pisau, lalu memberikan jantungnya pada mereka?!" geram Fukhio marah besar.


"Kau ingin kita melihat Atshuke tetap hidup bukan? Ya, itu satu-satunya cara...kita bisa melihat Atshuke hidup, lewat anak itu. Jantung Putra kita akan tetap hidup, berdetak dalam tubuh anak itu...kita akan melihat Putra kita beranjak dewasa Fukhio" kata Hisashi antara tersenyum dan menangis. Antara sedih, maupun bahagia. Mendengar kata-kata Hisashi, Fukhio kembali berpikir dan menandatangani formulir persetujuan donor jantung.


Hisashi dan istrinya menjumpai kedua orang tua Ferghus, dan membicarakan sesuatu. Hisashi dan Istrinya, tidak mau menerima sepeser pun bayaran sebagai gantinya, Hisashi hanya meminta, keluarga Ferghus memperbolehkan Hisashi dan Istri selalu menemui Ferghus kapan pun mereka menginginkan. Keluarga Ferghus menyanggupi mereka saling berpelukan satu sama lain merayakan kehidupan baru bagi Ferghus maupun, Atshuke.


Ferghus merasakan nyeri di keningnya. Dibuka perlahan kedua matanya, dan menemukan wajah Adel tepat di atas wajahnya.


"O oke..., apa kau mendengarku, Ferghus?" kata Adel gagap mulai ketakutan. Apa ada masalah pada otak Ferghus? Apa yang sedang Laki-laki itu pikirkan?


Kepanikan Adel mencapai puncaknya ketika Ferghus terbatuk-batuk dan mulai tak sadarkan diri kembali.


"Ferghus!! Bangun!! Kau masih harus membantuku untuk naik jabatan bodoh!!" pekik Adel asal bicara. Biasanya Ferghus langsung menimpalinya tapi kini tidak lagi.


Dimana lagi ini? Ferghus hanya mengernyitkan kening mendapati dirinya berada di koridor rumah sakit yang sangat berbeda.


Gledek...


Gledek gledek....


Suara roda tempat tidur pasien rawat inap di dorong menuju ke koridor tempat Ferghus berdiri. Ketika melewati Ferghus, Laki-laki itu terkesiap melihat siapa yang ada di atas tempat tidur itu. Awalnya, seluruh bagian tubuh jazad pasien ditutup rapat tapi...hembusan angin, membuat bagian wajahnya tersingkap.


"Atshuke?" gumam Ferghus menatap tak berdaya jazad dihadapannya.


Grep!!


Tangan jazad Atshuke menggenggam erat pergelangan tangan Laki-laki yang mulai merinding ketakutan.


"Tolong aku..." kata Atshuke lirih dengan wajah dan bibir pucat. Jantung Ferghus berdetak sangat cepat melihat sorot mata Atshuke yang sangat sendu.


Waktu kini telah kembali berjalan setelah Atshuke melepaskan pergelangan tangan Ferghus. Jazad itu kembali terdiam dan kaku. Apa ada urusan yang belum selesai? Kenapa ruh Atshuke masih terperangkap di dunia? Apa maksud dari permintaan tolong Atshuke? Kaki Ferghus melangkah, terus mengikuti kemana jazad Atshuke dibawa.


Ah, berpikir apa Ferghus ini? Kemana lagi jazad pasien akan diletakkan jika bukan di kamar mayat huh?! Ia menepuk keningnya menyadari para perawat, masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan ruang mayat. Bagaimana ini? Haruskah ia masuk? Bagaimana jika...semua mayat disana tiba-tiba bangkit dan meminta tolong padanya? Rasa takut, melawan rasa penasaran.

__ADS_1


Deg!!


Dredeg deg!!


Jantung Ferghus kembali berpacu ketika para perawat mulai keluar dari ruangan dan menutup ruangan itu rapat-rapat. Ferghus buru-buru masuk kedalam, menembus pintu ruang mayat dan memperhatikan ke sekeliling ruangan. Banyak nomor di lemari pendingin itu aaargh!! Pekik Ferghus menyesal kenapa tidak dari awal, dirinya memasuki ruangan ini.


Bip!!


Bip bip!!


Suara ponsel? Mana ada jazad orang meninggal membawa sebuah ponsel?! Pikir Ferghus mengernyitkan kening lalu memasang telinga lebar-lebar.


Sreeeet....


Mayat yang awalnya diam terpaku ditutupi kain putih itu tiba-tiba terduduk di atas tempat tidur. Mayat itu merogoh saku celananya mencari-cari sesuatu di saku celananya sambil mengumpat kesal.


"Kau ingin membuat misi kita ketahuan dengan cepat?? Bisakah kau menungguku menghubungimu duluan?!" marah sang mayat jadi-jadian. Ferghus kini mulai tenang dan menepuk-nepuk dadanya.


"Aku sudah berhasil menyusup. Ada mayat bocah kecil yang baru saja mati hari ini. Cepatlah datang" bisik orang itu dengan sangat gugup.


Orang berbadan pendek, gempal dan berambut ikal turun dari tempat tidur membuka satu persatu lemari tempat penyimpanan mayat. Mata Ferghus membelalak lebar ketika melihat tempat tidur yang Pria itu tiduri tadi, bergoyang-goyang sendiri. Aneh, Pria tersebut tidak merasa takut sama sekali. Ia hanya berbalik menatap apa yang terjadi dengan sebuah kekehan kecil.


Selimut yang tadinya hanya terbentang di atas tempat tidur, kini menyembul keatas, seolah ada seseorang yang bersembunyi di dalam selimut itu!! Benar saja...memang ada seseorang yang berada di balik selimut itu!! Pria lain muncul menggunakan jaket Hijau lumut, dan celana jeans biru tua, menyibakkan selimut itu lalu segera turun dari tempat tidur menghampiri Pria, yang telah mendahuluinya datang.


Ferghus berusaha melihat wajahnya tapi...ia menggunakan cadar!!


"Ayo kita lakukan sekarang juga" kata Pria bercadar hitam pada Pria gempal tersebut. Pria bercadar berkomat kamit mengucap mantra...muncullah sebuah kabut hitam diudara.


"Masih ada banyak waktu. Ayo kita cari dimana anak itu berada" kata Pria bercadar ikut membuka satu persatu lemari pendingin di bagian ruangan lainnya.


"Math!! Aku menemukannya!!" pekikan Pria gempal membuat Ferghus langsung mendekat ke arah lemari penyimpanan mayat bernomorkan 949. Nafas Pria itu tertahan seketika mendapati bocah yang di maksud Pria gempal, adalah...Atshuke, anak Hisashi yang baru saja selesai melakukan operasi pengambilan jantung . Pria bercadar berlari kecil mendekat dan melongok ke dalam lemari pendingin.


"Bagus...karena baru saja di masukkan ke dalam, seluruh organ tubuhnya masih bisa kita manfaatkan... Kecuali jantungnya. Sayang sekali" kata Pria bercadar dengan tawa yang menggelegar.


"Ayo kita lakukan sekarang Tuan...jangan biarkan ribuan dollar melayang begitu saja...khi khi khi...." kata sang Pria gempal yang tamak. Pria bercadar menengadahkan tangan kiri hingga sebuah kotak persegi terbuat dari besi muncul diatasnya.


Saat kotak itu muncul, Pria gempal mengambil alih kotak tersebut tanpa adanya protes dari sang Pria bercadar malah, muncul kotak persegi lain yang jauh lebih besar di atas tangan kirinya. Setelah meletakkan kotak persegi pertama di bawah tempat tidur pasien rumah sakit, ia pun berlari kecil sekali lagi untuk membawa kotak besi yang jauh lebih besar lagi.


"Letakkan mayat anak ini di atas ranjang itu" perintah Pria bercadar pada Pria gempal yang patuh melaksanakan perintah. Setelah Atshuke dibaringkan, mereka membongkar kotak kecil mengeluarkan peralatan bedah dari dalamnya. Tak lupa, sang Pria gempal mengambil sesuatu dari dalam kotak besi yang lebih besar. Toples steril!!


Astaga...jadi...Atshuke adalah salah satu korban perdagangan organ tubuh manusia ilegal? Apakah ini masih ada hubungan dengan sindikat Hampho? Tapi...bukankah Hampho jaringan dari perusahaan imigrasi Rathampholian? Untuk apa mereka mengincar anak-anak?


Bukankah...seharusnya mereka memilih imigran gelap sebagai korban? Rasanya Ferghus ingin membalikkan pandangan ke lain arah...tapi seperti tak dapat digerakkan, ia terpaksa melihat setiap detail apa yang diperbuat orang-orang keji itu, menyayat, dan memotong.


Ferghus Cloy menarik nafas membabi buta begitu kembali membuka matanya.


"Apa yang kau rasakan? Apa yang terjadi? Ferghus...kau mendengarku?!" Adel mencoba mencari tahu keadaan Ferghus. Laki-laki itu melotot dan mengeluarkan suara aneh.


"Hoek!! Uwwwwekk!! Hah hah hah" hanya itu jawaban Ferghus pada Adel. Begitu selesai memuntahkan seluruh isi perutnya, Ferghus kembali tumbang lemas.


"Dimana...Hisashi?" tanya Ferghus lemah.


"Mengejar sang penyihir" jawab Adel.


Deg!!


Dredeg deg!!

__ADS_1


"Hisashi..." desis Ferghus lalu bangkit dari tidurnya.


__ADS_2