
Pendapat makhluk tak kasat mata tidak dapat melukai manusia tak sepenuhnya salah. Tapi juga tak sepenuhnya benar. Jika ia dapat menguasai alam bawah sadarmu, maka pikiranmu akan dikendalikan olehnya. Mereka dapat melukaimu melalui pikiranmu...
Mom memperhatikanku yang sedari tadi melamun sambil sesekali melihat kearah depan memastikan ia melaju ke jalan yang tepat atau sekedar memastikan tidak akan ada yang tertabrak mobilnya. Mom menyalakan radio selalu mendengarkan saluran musik yang itu-itu saja.
"Sedang memikirkan sesuatu?" tanya Mom disela aku menikmati sebuah lagu berjudul Ayunkan Hatiku.
"Mmm apa Mom sudah mengenal salah satu dari sekian banyak tetangga kita?" aku mulai mengorek informasi dari Mom.
"Belum. Kita masih dalam suasana berkabung saat menempati rumah kita. Tapi...itu ide bagus sayang, apa kau mau menemani Mom, berkunjung ke salah satu tetangga kita?" tanya Mom sangat bersemangat.
Bagus!! Dengan begitu, aku akan tahu, dia berbohong atau tidak yes...mobil Mom parkir langsung ke dalam garasi sementara aku sudah turun terlebih dahulu membawa beberapa barang belanjaan kami. Kuambil kunci rumahku dan berusaha membukanya, tapi aku baru sadar satu hal. Pintunya tidak terkunci! Jelas tadi Mom, mengunci pintu ini sebelum pergi.
Saat Mom membawa sisa barang belanjaan menuju ke arahku, aku langsung menahannya di sampingku.
"Mom, ada yang membuka pintunya"
"Ya, orang itu kamu kan?" tanya Mom enteng. Aku langsung menggeleng.
"Sebelum kita datang, pintunya sudah tidak terkunci. Kurasa ada pencuri masuk ke rumah kita" bisikku was-was.
"Mana ada pencuri masuk rumah orang tanpa merusak jendela, atau pintu Rulby? Lihat...pintunya baik-baik saja" kata Mom sambil menggelengkan kepala.
"Kalau kau tidak percaya, Mom akan masuk ke dalam sendiri kau tetap disini oke," kata Mom lalu menerobos pintu, masuk ke dalam rumah sebelum aku sempat melarangnya.
Angin berhembus dari belakang tubuhku sangat kencang. Aku pun langsung berbalik ke belakang setelah anginnya berhenti. Aku menatap satu sosok Perempuan sedang bergelantungan di atas pohon. Apa yang dia lakukan dengan posisi terbalik seperti itu? Siapa dia? Diakah yang sengaja membuka pintu rumah kami? Aku melangkah mendekati Perempuan itu.
Saat ia melihat aku mulai mendekatinya, dia langsung bisa mengubah posisi dari bergelantungan menjadi duduk di hadapanku. Ia menyeringai garang seperti tidak suka. Ralat!! Sangat tidak suka terhadap keberadaanku dirumah ini.
"Siapa kau? Apa kau tinggal di sekitar sini?" tanyaku penuh tanda tanya. Ia mengangguk lalu menunjuk ke sebuah jendela rumahku. Aku terkesiap ketika jendela yang di maksudnya adalah jendela kamarku!!
Jendela yang ia tunjuk tiba-tiba retak dan pecah berkeping-keping. Aku menoleh kearahnya dengan tatapan bagaimana kau bisa melakukannya? Perempuan itu hanya menyeringai dan menghilang begitu saja. Menghilang...jadi tadi bukan manusia!
"Hey, Rulby, apa kau baik-baik saja?" tanya Mom di belakangku menepuk bahuku. Aku melirik kearah jendelaku yang pecah. Apa?! Kacanya baik-baik saja? Seharusnya setelah aku berjalan-jalan seperti ini, keadaanku semakin membaik tapi halusinasiku semakin parah saja.
"Ah ya, bagaimana? Ada yang mencurigakan di dalam? Atau ada yang hilang?" tanyaku tanpa henti. Mom hanya menggelengkan kepala.
"Jawaban semua dari pertanyaanmu tidak. Semua nampak normal. Mungkin Mom hanya lupa mengunci saja" kata Mom memberi kode padaku untuk ikut masuk. Ya, acara favoritku adalah, memasak bersama dengan Mom, itu yang selalu kutunggu-tunggu.
Mom yang memasak, aku yang memotong semua sayuran, memastikan semua bumbu telah siap digunakan. Bunyi ponsel Mom mengharuskannya keluar dari dapur untuk menerima panggilan. Aku tetap berkonsentrasi penuh memotong wortel, kentang dan lainnya. Suara Bugh, terdengar sangat keras menandakan sesuatu telah menubruk jendela dapurku. Aku terkesiap kaget mendengar suara debuman itu tepat di depanku. Apa itu tadi?
Aku melihat darah berwarna hitam kelam melumuri kaca jendela dapur.
"Apa kau sudah selesai ?" tanya Mom padaku yang sedari tadi melihatku terbengong-bengong.
"Ah, iya" kataku sambil menyerahkan semua sayurnya ke tangan Mom. Kulirik lagi jendela, darah hitam pekat itu sudah tidak ada lagi disana tanpa adanya bekas sedikitpun.
"Mom perhatikan sejak kau tinggal disini, kau sering sekali melamun sayang, itu kebiasaan buruk" tegur Mom kesal.
"Itu...karena aku belum terbiasa saja dengan lingkungan di sekitar sini. Kumohon...beri aku waktu beradaptasi" kataku memberi alasan masuk akal padahal yang terjadi padaku, malah tak masuk diakal.
Aku pun keluar dari dapur, menuju halaman depan rumahku, memeriksa sekitar area jendela dapur. Mataku melotot, aku jatuh terduduk, ketakutan. Apa lagi ini? Ternyata bukan sesuatu yang menubruk keras jendela dapur, lebih tepatnya, ada sesuatu jatuh menggelinding dari genting rumahku, menimpa jendela dapurku, dan berakhir di tanaman liar di bawah jendela dapur.
Aku melihat...kepala kambing!! Siapa yang menakut-nakutiku dengan cara murahan seperti ini huh?
"Rulby, kau tidak apa-apa?" tanya Mom yang berlarian kearahku sambil membantuku berdiri.
__ADS_1
"Mom, lihat itu!!" seruku menunjuk kearah kepala kambing tanpa berani menatapnya langsung.
"Hanya ada tanaman dan semak, jadi apa yang menakutimu?" tanya Mom kebingungan.
"Mom, lihat baik-baik disitu, ada kepala kambing tergeletak disana" kataku panik. Bagaimana bisa Mom tidak melihat benda sebesar itu dihadapannya? Mom menatapku kesal seolah aku sedang mengerjainya. Kenapa? Kenapa hanya aku yang dapat melihat?
"Ayolah Mom... Itu bukan benda sekecil semut yang tidak dapat dilihat tanpa kaca pembesar" kataku gemas.
"Berhenti membicarakan hal yang tidak-tidak Rulby!! Mom sudah lelah dengan sikap anehmu akhir-akhir ini. Bisakah kita hidup dengan normal huh?!" teriak Mom kesal. Ku beranikan diri mencari kepala kambing itu ya ampun..., memang tidak ada apa pun disana.
"Aku juga tidak ingin melihat hal yang tidak kuinginkan Mom" kataku serak ingin menangis ini pertama kali Mom meneriakiku sedemikian keras. Aku berlari masuk kedalam rumah, menghambur kedalam kamarku. Disini aku bisa menumpahkan segala isi hatiku. Sudah cukup!! Aku tidak ingin berkhayal, ataupun berhalusinasi.
Tok tok
Suara ketukan di pintu kamarku membuat kepalaku refleks menoleh kearah suara. Mom, disana ada Mom yang saat ini sungguh tidak ingin kulihat wajahnya.
"Maafkan Mom sayang. Ini diluar kendali Mom. Akhir-akhir ini...banyak sekali tekanan yang Mom alami. Seharusnya Mom tidak melampiaskannya padamu" kata Mom dengan wajah sendu. Aku pun mulai melunak ya, kami berdua mengalami tekanan itu bahkan untuk beberapa minggu ini aku tidak ingin berangkat sekolah tapi Mom tetap memilih bekerja.
Seharusnya aku tidak membebani Mom dengan tingkahku selama ini tapi sungguh, aku juga tidak menginginkan itu terjadi tapi kejadian demi kejadian aneh pada akhirnya sanggup membuatku meledak juga.
"Maafkan aku juga. Aku tidak akan mengulanginya lagi" kataku lirih sambil memeluk Mom.
"Ayo kemeja makan, sebentar lagi masakan kita akan matang. Setelah itu kita berkenalan dengan penghuni rumah sebelah" kata Mom lembut. Aku pun mengangguk, lalu mengikuti Mom kemeja makan tapi akhirnya aku juga turun tangan membawakan lauk-pauk yang ada di dapur untuk diletakkan diatas meja makan.
"Ya ampun..." keluh Mom kesal.
"Ada masalah?" tanyaku penasaran melihat Mom berdiri diatas rice cooker mengamati apa yang ada di dalamnya. Kosong? Aku pun memeriksa tempat penyimpanan beras tapi disana juga kosong.
"Mom sudah memesan berasnya tadi pagi tapi Mom tidak ingat kalau berasnya sampai sekarang...belum dikirim kesini" kata Mom menggelengkan kepala.
Ding
Suara bel rumah kami berbunyi ah, siapa yang datang ? Apa si pengantar beras ? Aku pun keluar rumah tapi tak mendapati seorang pun diluar sana. Apa disini ada anak kecil usil? Aku pun membanting pintu rumah lalu beranjak pergi. Belum sempat aku keluar dari ruang tamu,
Ding
Dooong
Aku pun menoleh dan disana, aku mendapati seseorang dengan sekarung goni berdiri di depan pintu rumahku. Aku berjalan mendekat, dan membukakan pintu untuknya.
"Rumah keluarga Corner?"
"Ah ya," jawabku santai.
"Maaf nona, ini kiriman beras yang kalian pesan" aku pun menerima karung goni itu dan membiarkannya pergi. Karena berat, kuseret saja karung goni itu menuju dapur.
"Sudah datang?" kata Mom ingin memastikan. Aku hanya mengangguk sambil menyeret karung goni berat itu ke dapur. Saat aku memasukkan beras kedalam tempat penyimpanan beras, aku terkejut. Ku jatuhkan karung beras itu ke lantai, hingga isinya ada yang tumpah berceceran di lantai.
"Mom!!" teriakku ketakutan. Mom tergopoh-gopoh berlari menghampiriku. Saat Mom mendekat, kutunjuk beras yang berceceran itu. Apa?? Ada ulat kecil ribuan telah bercampur menjadi satu dengan berasnya!!
"Ini keterlaluan!!" geram Mom keluar dari dapur, menuju ruang TV dan menyambar telepon rumah segera menghubungi pihak swalayan. Mom terdengar memaki, mengumpat kemudian diam tanpa kata. Beliau hanya duduk seolah sedang berusaha mencerna apa yang dia dengar.
"Mom, ada apa?" tanyaku bingung melihat Mom juga memasang wajah kebingungan.
"Kata pemilik swalayan, mereka sama sekali belum mengirim beras apa pun kemari karena persediaan mereka ternyata habis terjual. Bahkan katanya, baru saja ia ingin menelepon Mom, ingin membatalkan pelayanan pengiriman beras hari ini" kata Mom.
__ADS_1
"Jadi, kenapa ada yang mengirimkan kita sekarung beras berisi penuh ulat? Bukankah kita baru saja pindah? Tidak mungkin secepat itu kita punya musuh" kataku tertegun. Siapa? Siapa yang berani mengerjai kami berdua? Lalu, apa keuntungan dia dengan meneror kami begini?
"Kita harus bereskan semua itu oke, lalu kita beli di mini market di persimpangan jalan sana saja" kata Mom linglung. Aku hanya mengangguk membawakan sebuah serok dan sapu membersihkan kekacauan di dapur. Kami membuang beras menjijikkan itu, dan pergi ke mini market terdekat lalu kembali ke rumah.
"Rulby...apa kau benar-benar sudah memasukkan beras itu ke sampah besar?" tanya Mom horor ketika kami mendapati sekarung karung beras kembali tergolek di dekat tempat penyimpanan beras. Jelas saja aku mengangguk penuh keyakinan aku masih muda, aku belum sepikun itu Hello...
"Kurasa kau benar sebelum kita pulang tadi ada orang yang masuk ke dalam sini Rulby. Kalau tidak, mana mungkin karung beras itu pindah sendiri kemari" kata Mom dengan marah.
Mata kami saling menatap satu sama lain mencari penjelasan normal di sana tapi diantara kami berdua, tidak menemukan apa pun yang terasa masuk akal.
"Tapi bukankah Mom sendiri yang bilang padaku kalau tidak ada siapa pun penyusup bersembunyi di dalam rumah?" kataku menekankan bahwa cepat sekali Mom mengubah pemikirannya.
"Kita fokus pada karung beras ini saja oke, mau kita buang kemana lagi supaya karung sialan ini tak kembali lagi?" kataku frustasi.
"Ayo ikut Mom" katanya lalu membantuku mengangkut karung beras tersebut keluar.
"hey, kalian mau kemana?" tanya seseorang saat kami akan memasukkan karung beras itu ke dalam bagasi mobil.
"Hey, Loy, ada sesuatu yang aneh hari ini. Kami dikirimi karung beras ini oleh seseorang tapi...masalahnya ada pada, apa yang ada didalamnya" jawabku membuat Loyfrender mengangkat kedua alisnya.
"Apa aku boleh melihat?"
"Tentu saja" jawab Mom dan aku bersamaan tapi kami langsung berlari menjauhi karung yang sudah kami ikat dengan rafia rapat-rapat. Loy menatap kami waspada ia membuka karung beras itu sangat hati-hati kemudian memeriksa apa yang ada di dalamnya. Ya, ekspresi terkejut, jijik yang sama pada saat kami pertama kali melihat.
"Apa kalian sudah mencari rumah yang baru?"
"Apa? Kenapa? Ini rumah hasil kerja keras Suamiku tidak akan kami jual sampai kapan pun!" kata Mom marah.
"Maaf tapi apa Putri Anda belum mengatakan sesuatu?" tanya Loy sambil melirikku kesal.
"Apa yang Mom belum tahu sayang?” tanya Mom menatapku tajam.
"Rumah ini...beberapa kali berganti pemilik dan yang tinggal di rumah ini dulunya menghilang entah kemana" jawabku sesingkat mungkin.
"Apa kau warga sini?" tanya Mom pada Loy sangat serius.
"Ya. Kita bisa ke rumahku, jika kalian ingin membuktikan kebenarannya. Banyak berita tentang rumah ini yang aku kliping" kata Loy.
"Tunggu. Bagaimana dengan karung beras ini?"
"Momku bisa membantu. Bawa saja karung itu ke rumahku" jawab Loy datar. Kami hanya menurut membawa karung yang berat itu ke rumahnya. Benar saja rumah Loy menjelaskan bahwa kami benar-benar bertetangga.
Loy mempersilahkan kami duduk di ruang tamu sementara dia mencari keberadaan orang tuanya.
"Mom, ini Gadis yang kuceritakan tinggal di rumah sebelah. Seperti biasa bukan, yang tinggal disana akan diteror dan sebelum mereka menghilang seperti yang lainnya aku harap mereka masih bisa ditolong" kata Loy pada Ibunya. Sang Ibu menatap tajam kearah karung beras disamping Ibuku.
"Anda karyawan yang sukses rupanya" kata Ibu Loy tersenyum kecil pada Ibuku. Jelas dia kebingungan apa hubungannya? Ya, memang selama 3 bulan ini, karier ibuku semakin meroket. Nampak wajah kebingungan tersebut berubah kembali menjadi wajah datar.
"Ada yang mengirim teluh kepada Anda dan keluarga Anda nyonya. Jelas sekali itu ditujukan pada Anda karena Anda menyaingi seseorang" kata sang Ibu Loy seolah dirinya adalah seorang cenayang.
"Ini tidak masuk diakal. Ayo kita pulang" kata Mom menggapai lenganku akan beranjak pergi.
"Sebaiknya Anda melihat dan membaca kliping saya dulu nyonya" kata Loy yang baru saja datang kemudian menyodorkan beberapa album yang di dalamnya terdapat potongan-potongan kecil berita koran seluruhnya, mengenai Elzaedar Abd 156. Tidak...ternyata apa yang dikatakan Loy itu benar.
1987 keluarga Marthen Mathias, menghilang setelah 4 bulan tinggal disana. 2005 keluarga Damian Dertroy...sebelum peristiwa kebakaran yang menewaskan sang kepala keluarga, 3 bulan kemudian keluarganya juga menghilang.
__ADS_1
2015 keluarga Steven Chorlend mengalami luka bakar karena gas LPG di rumahnya meledak, kedua orang tuanya meninggal dunia seketika ditempat sementara anak-anaknya diasuh oleh Paman dan Bibinya.
2016 keluarga Yorgie Zervanno seluruh anggota keluarganya menghilang dengan misterius setelah 2 minggu tidak terlihat oleh warga sekitar perumahan. Kami hanya saling pandang tanpa kata bingung harus bagaimana?