
"Eve. Kau dengar aku? Katakan mana yang sakit?" tanya Dimitri sementara Eve hanya menggeleng lalu berteriak sejadi-jadinya.
"Tidak..." Valdemar Conrad berjalan mundur tiga langkah membuat orang di sekitarnya menoleh kearahnya.
"Apa...Eve selanjutnya?" lanjut Val. Moru menatap lekat Pria itu sejenak.
"Selanjutnya apa?" tanya Moru mengernyit bingung.
"Bukankah setiap kita terlambat dalam memecahkan masalah ada saja yang dikorbankan? Mungkin..."
"Hentikan ucapanmu sekarang!!" teriak Dimitri menatap garang pada Valdemar. Kepanikan semakin memuncak ketika Eve memukuli kedua telinganya sendiri. Melihat hal itu terjadi, Moru dan Dimitri langsung berusaha menahan kedua tangan Eve.
"Ini sakit, ku mohon lepaskan!! Aku tidak tahan mendengar mereka!! LepaaAAAaaaSsss!!" pekikan Eve nyaring menggema di seantero ruangan. Moru dan Dimitri saling menatap tak mengerti.
"Mereka? Siapa mereka? Bisa kau memberi tahu kami?" tanya Moru. Mendadak Eve tak berkutik lagi. Ia terkulai lemas tanpa ekspresi sedikitpun.
"Eve...hey, Eve..." panggil Dimitri sambil menepuk kedua pipi Eve. Tidak ada respons sama sekali meskipun mata Eve terbuka lebar.
"Apa kau melihatnya tersengat listrik tadi?" tanya Moru setengah bergumam pada Dimitri. Pria itu menggelengkan kepala sambil memikirkan penyebab Eve mengalami hal tersebut.
"Dia mengalami guncangan jiwa yang hebat. Tidak ada hubungannya dengan sengatan listrik" kata seseorang dari arah tak terduga. Manekin Harry Normand tiba-tiba muncul di antara Eithan Wilfred dan Hannalie Jemma.
"guncangan jiwa? Tapi...saat aku menanyakan apa yang terjadi padanya, dia tidak mengucapkan apa pun. Dia hanya...meminta kami semua pergi meninggalkannya" kata Dimitri berharap apa yang dikatakan Harry sama sekali tidak benar.
"Tunggu. Menjauh dari teman-temanku!!" teriak Haruko Izanami mengacungkan senjata miliknya.
"Apa salahku? Kenapa kau melakukan ini? Oh ayolah..." kata Harry lelah.
"Dimana Kim? Kenapa kau, tidak bersamanya sekarang?" tanya Haruko tetap waspada.
"Kim? Aku menemukan seseorang, yang dapat mengeluarkan Kim dan calon anakku dari tempat sialan ini. Tiga hari lagi kita akan mendapatkan pertolongan" kata Harry sangat meyakinkan.
"Lalu kenapa kau kembali kemari? Kenapa kau tidak pergi saja bersama Kim ?"
"Apa kau gila? Jika itu kulakukan, apa kata Dunia? Aku hanya akan dianggap sebagai makhluk aneh" kata Harry antara sedih dan kesal. Sorotan mata Eve kini tertuju pada si empunya suara. Eve menatap penuh kemarahan. Ia bangkit tanpa menekuk kedua lututnya. Ia berlari kencang menyerang Harry.
Bag!! Buagh!!
Dush!!
Pertarungan kini tak terelakkan lagi. Entah sejak kapan Eve dan Harry pandai bela diri. Eve menyerang sesuatu di tengkuk Harry. Tapi Pria manekin itu sanggup mengelak dengan gesit.
"Kau...terlalu arogan Nona muda..." kekeh Harry menjambak rambut Eve sekuat tenaga.
"Cepat atau lambat akan ku lenyapkan kalian semua!!" erang Eve yang menahan rasa sakit.
"Tak semudah itu... kau harus berhadapan dengan kedua orang tuamu dulu. Apa kau siap? Huh?" bisik Harry di telinga Eve.
"Akan sangat mudah bila Eve bersamaku Bung, apa kau tahu, kenapa tiga Iblis selalu mengincar Eve?" kekeh Eve kecil.
"Mari kita lihat siapa yang akan menang Nona" senyuman keji mulai terlihat di kedua sudut bibir manekin Harry. Pria manekin, tak lagi menjambak rambut Eve ini mempermudah Eve untuk meringkus manekin Harry. Ketika Eve berhasil merobohkan manekin Harry ke lantai kayu, ia bersiap untuk menyerang tengkuk sang manekin tampan tapi Moru, Eithan dan Dimitri menahan serangan Eve, menguncinya hingga tak mampu berkutik lagi.
"Biar ku lenyapkan mereka!! Kalian tidak tahu mereka bersekongkol untuk melenyapkan kalian!! LepaaAAAaaaSsss!!" teriak Eve dengan suara yang berbeda.
"Siapa kau? Marioneth? Clamentine?" tanya Valdemar Conrad di hadapan Eve. Gadis itu terkekeh lantang hingga bulu kuduk mereka pun meremang seketika.
"Manusia-manusia bodoh!! Kalian mudah sekali terperdaya" kata Eve dengan sorotan mata menghakimi. Tak lama kemudian sorotan mata itu berubah berkaca-kaca lalu ia menangis ketakutan.
"lepaskan aku, aku mau pulang..." rengek Eve suaranya kembali berubah menjadi suara seorang anak Laki-laki.
"Oh Tuhan... Siapa lagi ini?" keluh Eithan menghapus peluh di dahinya.
"Paman..., aku tidak mau di sini. Aku mau pulang. Aku takut...aku takut..." rengeknya sambil memohon dengan sangat.
"Katakan dulu siapa namamu ?" tanya Dimitri waspada bisa saja sewaktu-waktu Eve kembali berulah.
"Daniel"
"Oke Daniel, apa kau penghuni Teater Tua ini?" tanya Haruko Izanami penasaran.
"Ini bukan rumah Daniel. Aku tersesat...tersesat...Aprille tahu aku tidur cukup lama...Aprille tahu" gumam Eve sambil menekuk kedua lututnya dengan tubuh gemetaran.
__ADS_1
"Apa kau bisa kembali ke dunia nyata? Kau Eve. Kau Evelina Dushenka!! Kau bukan Marioneth yang datang dalam mimpimu, kau juga bukan Daniel. Bangun dan lihat kenyataan!!" teriak Valdemar habis kesabaran.
Plak!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eve. Seketika Eve terlonjak dan diam mematung.
"Val!! Apa yang kau lakukan?! Kau memperkeruh keadaan!!" pekik Haruko membelalakkan mata. Eve yang diam menunduk kini menengadah menatap nanar wajah Valdemar.
"Apa salahku? Kenapa kau menamparku?!" marah Eve.
"Eve...kau kembali? Benarkah ini kamu?!" pekik Haruko antara percaya dan tidak.
"Kenapa akhir-akhir ini kalian suka sekali menyakitiku?" Eve mulai berontak melepaskan diri dari kungkungan.
"Tenangkan dirimu oke, kita bisa bicara baik-baik..." jawab Dimitri berusaha meredakan emosi Eve.
"Untuk apa bicara baik-baik jika kalian melakukan kekerasan terhadapku!!" teriak Eve geram. Bagaimana tidak? Ia berusaha melindungi semua orang yang masih hidup...tapi apa balasan mereka?
Sudah tidak mau mengikuti keinginannya untuk meninggalkan pulau tak bernama, memukul tengkuknya hingga ia pingsan, begitu sadar ia dituding menyerang manekin Aditi, sekarang apa lagi? Kenapa tiba-tiba ia ditampar?!
"Cukup!! Kami tidak akan keras padamu jika kau, tidak berusaha melukai Aditi dan Harry!! Ada masalah apa dalam otakmu Eve?!" teriak Valdemar Conrad mengamuk. Bagaimana tidak? Sudah bertingkah seperti orang gila, bahkan Eve pun sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya. Bersikap bak manusia tanpa dosa.
"Pertama kau menyalahkanku karena menyerang Aditi" Eve menuding Dimitri.
"Kedua kau!! Menyalahkanku karena menyerang Harry" kini Eve menuding Valdemar.
"Aku, tidak pernah, berusaha menyakiti siapa pun. Kalianlah yang menyerangku. Memukul tengkukku hingga aku pingsan, mengekangku dan menamparku sesuka hati kalian!!"
"Jika kau tidak menyerang Aditi dan Harry, kami tidak akan keras padamu. Bisa kau jelaskan kenapa sekarang sudut bibirmu berdarah? Keningmu memar, dan kakimu pasti sekarang sangat linu" jawab Moru setenang mungkin. Eve terdiam sejenak menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya, lalu memekik sakit ketika tangannya menyentuh kening.
"Aku dan yang lainnya melihat dengan kedua mata kami sendiri. Evelina Dushenka menyerang Aditi dan Harry. Menurutmu siapa yang pantas dipercaya? Empat orang saksi? Atau seorang pelaku yang lupa telah melakukan kekerasan fisik terhadap korbannya?" tambah Mamoru melipat kedua tangan di perutnya.
"Tapi aku benar tidak melakukannya. Jika benar aku melakukan penyerangan tanpa sadar, seharusnya kalian meninggalkanku saja sendiri di sini" jawab Eve kecewa ia kembali berjalan hendak menjauh.
"Kami tahu kau sangat tertekan akhir-akhir ini. Berusahalah agar pikiranmu tidak kosong itu saja" Dimitri lagi-lagi menahan Eve.
"Tinggalkan aku sendiri. Aku tidak pernah tahu kapan aku akan kehilangan kesadaranku lalu berusaha menyerang kalian lagi"
"Tidak semudah itu Dimi...bagaimana jika aku tiba-tiba membunuhmu tanpa sadar? Ini terdengar gila. Tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi"
"Yang kau serang hanya manekin bukan manusia. Kau menganggap manekin Aditi dan Harry adalah musuh. Apa kau tahu kenapa kau memusuhi mereka?" pertanyaan Dimitri seperti sebuah teka-teki yang sulit untuk Eve jawab. Gadis itu menggeleng perlahan.
"Yang aku tahu, ketiga bayangan hitam menginginkanku" bisik Eve di telinga Dimitri.
"Alasannya?"
"Aku tidak diberi tahu alasannya. Yang ku tahu mereka memperebutkanku"
"Tapi pasti ada alasannya. Sesuatu, dalam dirimu, yang menarik perhatian mereka semua. Lupakan. Terlepas dari itu semua kita punya kuncinya. Kita semua pasti bisa keluar dari sini" Dimitri sangat yakin mengatakan kalimat terakhirnya.
"Caranya?"
"Teruslah bersamaku apa pun yang terjadi" jawab Dimitri berusaha semampunya agar Eve tak lagi berusaha menghilang kembali.
Aditi berlari berusaha mengimbangi Daksa. Ia menggapai tangan Daksa lalu menariknya ke samping. Sebuah pendaran berwarna jingga menyelimuti Bianca Concetta. Gadis itu terus berlari meninggalkan Aditi dan Daksa tanpa sadar.
"Apa yang kau lakukan? Jangan biarkan Bian sendirian. Itu sangat berbahaya" protes Daksa kesal.
"Maaf...aku hanya merasa sesuatu telah terjadi pada tubuh Manekinku ini" sahut Aditi sambil mengangkat telapak kaki kirinya. Benar saja... sebuah pecahan kaca telah menyusup masuk ke dalam telapak kaki Manekin cantik itu. Goresannya terlihat sepanjang jemari kaki hingga tumitnya.
"Apa itu sakit?" tanya Daksa disambut anggukan kecil Aditi.
"Akan ku keluarkan itu"
"Ja-jangan. Pasti akan terasa sangat sakit. Kau juga bisa terluka Daksa. Kau ingat, sekarang aku ini manekin. Akan sangat sulit mengambil pecahan kaca dari telapak kakiku" lirih Aditi menggelengkan kepala.
"Aku pernah meninggalkanmu saat kau sekarat. Biarkan aku menebusnya sekarang" Daksa bersungguh-sungguh ketika mengucapkannya. Aditi tersenyum kecil lalu menatap lekat mata Daksa.
"Kalau begitu, kau lihat bunga-bunga cantik di atas sana?" Aditi mengarahkan pandangan Daksa ke atas langit-langit gedung Teater. Memperlihatkan kumpulan bunga mawar tak bertangkai, yang dikumpulkan di dalam sebuah jaring.
"Bawakan semua bunga itu untukku. Baru nanti kau boleh mencabut pecahan kaca ini dari kakiku" tambah Aditi manja. Daksa mengangguk lalu mencari cara bagaimana bisa menghancurkan jaring itu hingga semua mawar berjatuhan di lantai.
__ADS_1
Daksa melirik ke kiri di sana ia melihat sebuah tiang bendera yang mulai berkarat. Tanpa berpikir panjang, daksa mengambil tiang itu, lalu mencoba menyodok jaring berisikan ribuan kelopak bunga mawar berulang kali.
Brugh!!
Brugh!!
Kraaaaaak!!
Brugh!!
Krieeeeeeeeek!!
Kretaaaaaak TaaaaK tak!!
BoOoOoM!!
Bang!!
Daksa mengejang seketika saat bunga mawar itu berubah menjadi atap gedung Teater yang rubuh menjatuhi tubuhnya seketika.
"Bukankah kau sendiri yang menginginkannya? Kau bilang, ingin menebusnya kan? Honey..." kekeh Manekin Aditi puas.
manekin cantik justru mengentakkan kaki ke lantai membuat pecahan kaca di telapak kakinya semakin masuk ke dalam. Ia pun berlari ke arah kemana Bianca Concetta pergi. Bekas tusukan benda tajam tersebut, kini telah menghilang tanpa bekas. Bianca berhenti berlari ketika ia melihat ada sekelebatan bayangan hitam tak jauh dari tempat Bian berdiri sekarang.
“Apa yang kalian lakukan berdiam diri berdua di sini? Ingat Bianca, nyawamu dalam bahaya” kata seseorang tepat di sisi timur. Bianca menatap Gadis bernama Helga Winifred bersama dengan semua rekan seperjuangan yang masih hidup. Gadis itu menoleh ke belakang dan hanya mendapati manekin Aditi seorang bersamanya.
“Aditi...kemana Daksa?!” tanya Bianca panik.
“Tadi dia berlari di belakangku. Tidak!! ja-jangan-jangan...Daksa…” kata manekin Aditi menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Sejak kapan dia terpisah dari kita semua? Aditi!! Jawab aku!!” kata Bianca mengguncangkan tubuh sang manekin.
“A-aku tidak tahu sejak kapan. Aku...hanya tahu beberapa menit yang lalu, Daksa berlari tepat di belakangku. Kita harus mencarinya. Bianca...tolong aku untuk menemukannya” jawab Aditi dengan Ekspresi kalut. Aktingnya sungguh luar biasa sangat alami.
“sebaiknya kita fokus mencari Clamentine tidak ada waktu mencarinya sekarang” timpal Dante Benvenuto cepat.
“Kenapa? Apa kau takut menjadi korban selanjutnya? Huh?! Ini tentang Daksa!! Aku tidak menginginkan kematiannya” protes Aditi merasa ini tidak adil.
“Memperkecil angka kematian lebih penting dari pada menambahnya” tegas Dante.
“Jadi kalian tega, membiarkan Daksa mati perlahan sendirian di suatu tempat? Oke!! Lakukan sesuka hati kalian. Setidaknya, meskipun kini aku manekin lilin, tapi masih punya sisi kemanusiaan. Rasa takut akan kematian kalianlah yang mengubah kalian semua, layaknya monster!!” tuding manekin Aditi ke arah semua orang. Sang manekin cantik berbalik memunggungi semua orang berjalan cepat meninggalkan para manusia.
“Tunggu” suara Haruko menarik perhatian Aditi. manekin cantik tersebut hanya menghentikan langkahnya menunggu Haruko mengatakan kalimat selanjutnya.
“Kurasa kedua manekin lilin ini sedang mengajak kita bermain-main. Sadarkah kalian akan hal ini?! Kita percayakan Kimmy Pier ke tangan manekin Harry. Saat dia kembali, Kim tidak bersamanya. Lihat dia” tunjuk Haruko di akhir kalimat ke arah Sang manekin Aditi.
“Bahkan manekin Aditi yang di selamatkan Daksa Mahesvara juga tiba, tanpanya. Bukankah aneh, ia tak mampu menyelamatkan Daksa? Semakin aneh pula ketika ia berkata tak tahu kemana Daksa berada padahal, dia sendiri yakin, Daksa berlari di belakangnya” sambung Haruko dengan memicingkan kedua mata.
“Apa yang ingin kau buktikan sebenarnya Nona Haruko Izanami?” potong Manekin Harry melangkah mendekati Manekin Aditi.
“Aku berpikir kalian adalah otak dari kematian teman-temanku”
“Apa keuntungan bagi kami membunuh Kim dan Daksa? Bukankah harus ada alasan bagi seseorang melakukan sebuah pembunuhan? Apa yang kau pikirkan soal itu kali ini?” tantang manekin Harry.
“Dengan menganggap Aditi sengaja membunuhnya sama saja kau menganggapku ikut terlibat dalam hal ini. Karena aku bersama keduanya, saat Daksa menghilang tadi” sahut Bianca membuat perhatian Haruko tertuju padanya sekarang.
“Maaf Bian. Aku tidak bermaksud untuk menuduhmu. Tapi apa kata Eve terasa sangat masuk akal sekarang”
“Eve dalam pengaruh jam sialan itu oke, siapa pun bisa ia tuduh sesuai dengan apa yang diyakini otaknya” Bianca mulai kesal sendiri.
“Kau memakai, aku memakai, semuanya memakai. Tapi kenapa hanya Eve yang terganggu pikirannya? Bagiku ini bukan sekedar karena pengaruh jam ini” kata Haruko tegas sambil mengacungkan jam yang melekat di pergelangan tangannya.
“Kurasa Aditi dan Harry benar Haruko” kata Park Mayleen memotong pembicaraan.
“Aditi dan Harry sudah mati Park…” sanggah Haruko.
“Mereka hidup dalam manekin lilin. Kenapa kau tidak mau menerima kenyataannya saja?” Park Mayleen bersi keras.
“Kenapa tidak kau ceritakan saja apa yang kita temukan tadi Park? Jika aku yang bercerita mereka pasti menganggapku mengada-ada” desak Aditi bersemangat.
“Ada apa huh? Jelas sekali ini pasti karanganmu yang sengaja kau jejalkan ke dalam pikiran Park bukan? Ayolah Park...kau yakin bisa mempercayai makhluk seperti dirinya?” singgung Haruko berkecak pinggang.
__ADS_1