
Moru dan Haruko berjalan berdampingan sambil menatap waspada pada apa pun yang ada di sekitar mereka, bahkan mulai waspada pada bayangan mereka sendiri.
"Moru...kau yakin ini jalan sesuai dengan petanya? Aku rasa...kita mulai tersesat..." rengek Haruko mulai merapat pada Moru.
"Haru!! Jauh-jauh!!" pekik Moru membuat Gadis itu berlari ke sembarang arah lalu menatap waspada pada apa pun itu. Tidak ada bahaya apa pun, yang dapat membahayakan nyawa mereka lalu kenapa? Kenapa Moru panik dan menyuruhnya menjauh?!
"Kau membuatku jantungan bodoh!!" pekik Haruko menepuk-nepuk dadanya. Senam jantung dibuat Moru.
"Sepertinya kita harus jaga jarak. Kita tidak pernah tahu bayangan siapa yang akan jadi korban selanjutnya bukan?" kata Moru menyeringai kuda pada Haruko.
"Tidak masalah, jika sesuatu yang lain itu mengarahkan serangannya padamu, artinya..., aku tak akan bisa membantumu dengan cepat" kata Haruko sesantai mungkin. Pria berjarak jauh darinya tiba-tiba mendekat ke arah Haruko.
"Hey, kenapa ini? Bukankah kau yang memintaku menjaga jarak? Lalu kenapa sekarang kau, malah menghapus jarak di antara kita?" Gadis itu mulai tersenyum jahil siapa suruh menjaga jarak di saat segenting ini pikirnya.
"Ini peta palsu. Tak ada Satu pun jalan yang benar dalam peta ini. Kau lihat?!" kata Moru menyentil peta dalam buku harian Clamentine sebal.
"Seharusnya di bagian sebelah sini ada jalan kecil bukan? Jalan setapak. Tapi sekarang di sini buntu" tambah Moru mengamati seluruh penjuru tempat mereka berdiri.
BreeeeeeSSSsssss
Hujan mengguyur pulau, sementara mereka diam mematung kebingungan harus berteduh di mana?
SsssssSsssSS.....
Suara nyaring itu terdengar tidak hanya ada satu, tapi tiga. Moru mulai semakin merapat pada Haruko. Begitu ada ular sanca berjalan dengan gesit berjumlah tiga ekor sedang mengarah ke tempat mereka, keduanya segera berlari ke sembarang arah.
Moru berlari dan terus berlari hingga menghilang dibalik kabut. Sementara Haruko terus berlari dan terperosok di dalam pasir.
Entah berapa lama Haruko pingsan, tapi yang jelas, tempat ini hampir seluruhnya tergenang oleh air. Haruko ingin menyelamatkan diri melompat keluar, tapi ia tahu, itu tidak akan mudah karena tak ada apa pun untuk berpijak. Dia hanya akan membahayakan kepalanya jika memaksakan diri untuk merangkak naik ke atas.
Klap!!
Klaaap!!
Tempat itu sangat gelap jika kau, ingin tahu. Dari mana asal cahaya kalau begitu? Haruko menggunakan lampu layar laptopnya sebagai alat penerangan tapi sesuatu membuat cahaya terpantul dan menyilaukan mata Haruko.
Gadis nekat berjalan sendirian mengikuti arah benda yang mampu memantulkan cahaya dari laptop yang ia pegang. Cermin? Haruko menyentuhkan telapak tangan untuk menyentuh tiap permukaan cermin. Haruko merasakan ada sebuah rongga berbentuk bulatan sebesar donat lalu jemarinya mulai meraba apa yang ada di dalam rongga cermin ia merasa ada...sebuah tuas kecil.
Sekecil tusuk gigi. Haruko mulai ragu bagaimana jika ini jebakan? Bagaimana jika ada sesuatu setelah ia menarik tuas mungil tersebut? Tidak...apa pun yang terjadi, Haruko tidak ingin terperangkap sampai mati di pulau tak bernama. Haruko membulatkan tekat menarik tuas dan cermin tersebut membuka layaknya sebuah pintu.
Meski jantung Haruko terus berpacu, ia ternyata tak mau menyerah sampai disitu. Gadis bernama Haruko Izanami melangkah penuh percaya diri dan menemukan sebuah peti yang panjang...dan besar. Peti mati. Satu hal terbersit dalam benak Haruko.
Ya ampun...apa dia terjebak di dalam kuburan? Haruskah sebuah kuburan memiliki pintu rahasia? Untuk apa? Pasti, ada harta karun mungkin? Biasanya, di buku dongeng yang pernah Ibu Haruko ceritakan saat usianya menginjak 10 tahun, banyak orang mati, yang di pendam bersama harta karun miliknya.
Ia beranikan untuk membuka peti tersebut. Benarkah ini peti dengan mayat dipenuhi emas? Tapi..., kenapa petinya mudah sekali untuk di buka? Bukankah harus ada sesuatu yang dapat mempersulit seseorang untuk mencuri? Sudahlah, lupakan itu dan lihat saja dulu. Haruko membuka peti, lebar-lebar...matanya berbinar-binar terpukau pada sesuatu yang ada di dalam peti misterius.
Ya, sebuah manekin terbuat dari lilinkah? Patung sangat sempurna...mirip sekali seperti manusia asli. Haruko terpesona pada pahatan sempurna di bagian wajah sang manekin. Entah kenapa, sesuatu mendorong Haruko untuk...jauh lebih mendekat. Manekin super tampan itu seolah menyihirnya hingga ia benar-benar mendekat.
Haruko mendekatkan wajahnya ke wajah sang manekin, lalu mengecup dahi manekin tersebut. Haruko memekik tertahan ketika tangan manekin menariknya hingga seluruh tubuh Haruko masuk ke dalam peti, dan secara tiba-tiba, pintu petinya tertutup!!
Dang!!
Dang!!
Dang!!
Suara hentakan dari dalam peti mati nyaring terdengar, tapi suaranya kini semakin melemah...semakin mengecil...dan menghilang begitu saja.
Suara kaki berkecibakan berlarian di antara derasnya hujan panik, takut, dan masih ingin hidup semua bercampur baur menjadi satu. Moru kebingungan dia harus bersembunyi di mana? Harus melarikan diri di mana? Moru memutar otak sambil terus memasang telinga lebar-lebar. Suara itu...masihkah ada ular yang mengejarnya sampai ke sini?
Ah, syukurlah...nampaknya ular-ular itu kehilangan jejaknya.
"Haruko, ya ampun...apa dia memisahkan diri tadi? Haruko!! Kau dengar aku?!" tak ada jawaban siapa pun.
Sangat hening dan dingin hingga Moru menggigil giginya bergemeretak. Sebuah bayangan hitam sedang mengawasi dari balik pohon kelapa, tanpa sepengetahuan Moru. Hawa dingin di sekitar Moru mendadak menjadi hangat tapi justru rasa tersebut, mendorong bulu kuduk Moru meremang...ia bergidik sendirian lalu berpikir sejenak. Haruskah ia lari ke tempat tujuannya, atau ia harus berlari ke arah Haruko menghilang?
"Moru!!" seseorang berteriak di balik pohon kelapa. Tak terlihat jelas, siapa yang ada di sana hanya bayangannya saja yang Moru dapat lihat.
"Moru!! Kenapa kau meninggalkan aku?!" teriak Haruko yang terengah-engah.
"Haru, kau kah itu? Aku...sangat panik tadi, maafkan aku" kata Moru bersungguh-sungguh ia melangkahkan kaki ke arah Haruko.
"Kau jahat!! Kau tinggalkan aku sendirian di sini!!" teriak Haruko tiba-tiba bayangan Haruko membesar!! Moru segera tersadar dari apa sebenarnya yang telah terjadi.
__ADS_1
Bayangan itu, berusaha menipu Moru, dengan menyamar menjadi bayangan Haruko. Pria tersebut berbalik arah langsung berusaha melarikan diri. Angin berhembus kencang seketika menerpa wajah Moru, beserta serpihan-serpihan pasir. Angin tersebut makin membesar menahan laju Moru.
Pria itu menegang ketika melihat bayangan hitam akan menggapai bayangannya!! Moru semakin berusaha keras menggapai pohon kelapa tepat di hadapannya!! Bayangan mendekat, Moru kesulitan menggapai pohon. Lebih dekat lagi sang bayangan hampir menyentuh bayangan Moru.
Grepp!!
Moru merasakan bajunya sedang ditarik dengan kuat oleh bayangan. Mata Moru fokus pada bayangan lalu mengarahkan bayangan tubuhnya menendang perut sang bayangan. Angin terhenti, cengkeraman terlepaskan, ketika erangan kesakitan terdengar Moru lebih memilih untuk tetap berlari melanjutkan pelariannya.
Moru berhenti sejenak mengatur ritme detak jantung sekaligus nafasnya. Hujan sudah beberapa menit yang lalu berhenti, cahaya matahari di siang hari kini nampak jelas...tunggu. Bangunan!! Sebuah bangunan kuno terlihat di depan mata Moru.
Di sana telah berdiri...Berte, Darius, Alie, Eithan, Emi ,El dan kawan-kawan. Lebih mengejutkan lagi di sana, Haruko sedang menatap tajam dirinya menahan marah. Saat Haruko berjalan kearah Moru, Pria itu lagi-lagi menjaga jarak.
"Kau Haruko asli?" tanya Moru ketakutan sambil terus mengawasi bayangan Haruko.
"Kau pikir ada berapa Haruko di tempat ini?! Tega sekali, meninggalkan temanmu sendirian di tempat asing seperti itu!!" bentak Haruko seolah sedang terisi daya penuh.
"Maafkan aku untuk itu. Haruko...kita sama-sama panik tadi bukan? Kupikir kita berlari ke arah yang sama. Tapi ternyata kau menghilang" kata Moru sangat merasa tak enak hati.
"Kalian sempat terpisah? Memang ada kejadian apa?" Darius nampak tertarik mendengarkan kisah mereka berdua.
"Jangan buang-buang waktu untuk mendengarkan hal tak berguna. Ayo masuk ke dalam gedung tua ini. Kita bisa saja mendapatkan petunjuk keberadaan Clamentine. Dan siapa tahu kita dapat menemukan kerangkanya mungkin...," kata Wang asal bicara membuat semua mata menatap sinis ke arah Pria ketus itu.
"Apa?! Memang ada, orang masih bisa bertahan hidup sampai setua Pria yang kita temui pertama kali di pulau?" tambah Wang acuh.
"Ingat. Kau tidak sedang berada di Negaramu!! Ini di pulau tak bernama kau paham artinya apa?! Jangan bicara macam-macam di pulau ini jika kau tak ingin terkena murka dari pemilik pulau ini!!" bentak Angga membuat Wang diam tak berkutik.
"Kau berhutang menceritakan apa yang kau alami nanti" kata Angga menatap tajam kearah Haruko yang langsung mengangguk setuju. Semua orang memasuki bangunan tua. Sebuah bangunan megah, di masanya...gedung Teater yang tak lapuk di makan waktu.
"Podium dan panggung yang sangat besar...ku dengar, di masanya, pertunjukkan Teater hanya bisa dinikmati oleh para kaum bangsawan" kata Bian terkagum-kagum.
"Jadi hanya orang kaya yang mampu membangun tempat semewah ini?" tanya Daksa mengernyit ingin tahu.
"Kurasa pendirinya adalah orang berpengaruh" Bian menyetujui pertanyaan Daksa yang tanpa sengaja sekaligus menjadi sebuah kesimpulan.
"Ini tidak masuk akal. Kenapa mereka mau mendirikan gedung Teater di pulau yang bahkan belum di ketahui oleh dunia? Orang itu pasti gila" kata Angga tak habis pikir dengan kesimpulan dua orang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Jadi masuk akal, jika Teater ini...tidak dibangun dengan tujuan komersial. Kau tahu, terkadang, orang kaya butuh sesuatu yang...lain dari pada yang lain. Bagaimana jika, dia mengontrak semua pemain Teater di sebuah kota, lalu membuat mereka semua bersedia menetap di sini?" jawab Bian berseri-seri mengucapkan kemungkinan lebih gila lagi.
"Untuk apa?" kata Angga dan Putri bersamaan.
"Seluruh orang di kota, diajak kemari menggunakan armada kapal. Kau tahukan, semacam...wisata dan hiburan komersial, itu sangat sempurna untuk meraup banyak pundi-pundi uang" tambah Bian berangan-angan.
Wisata dan tempat hiburan dalam satu wilayah, menjadi daya tarik untuk semua orang di dunia memang apa kata-kata Bian sangat masuk akal. Apa lagi di tempat yang jarang ditapaki sembarang orang.
"Jika wisata dan hiburan komersial merupakan alasan tepat, maka seharusnya tempat ini sudah di kenal dunia sejak awal berdirinya. Tapi tidakkan? Sampai sekarang, tempat ini masih sama. Tersembunyi" kata Dimi memperhatikan lebih detail setiap sisi podium tempat biasanya orang-orang duduk menonton para pemain opera.
"Pasti ada alasan kenapa hal itu tidak pernah terjadi. Tugas kita menyelidiki ini semua" kata Eve menganggukkan kepala.
"Kita tidak bisa hanya diam saja setelah sampai di sini. Lebih baik kita berpencar, lalu meliput tempat ini. Aku yakin akan ada petunjuk di mana Clamentine berada. Pasti dia pernah menapakkan kakinya di sini" kata Alie berkobar-kobar. Kali ini tidak ada orang yang tidak setuju. Mereka masing-masing berpencar bersama rekannya masing-masing.
Eve dan Dimi memutuskan untuk naik ke lantai dua karena Teater klasik yang mereka pijaki memiliki 3 lantai. Langkah kaki mereka terdengar sangat jelas di telinga mereka. Ini luar biasa....bagaimana mereka di masa itu, memiliki ide menjadikan satu lantai dengan dua panggung teater sekaligus?
Luar biasa...bangunan ini benar-benar dirancang kedap suara hingga suara di panggung sebelah, tidak akan mengganggu aktivitas panggung lainnya.
"Clamentine...seorang Putri dari salah satu Sponsor terbesar dari R-Nav TV, menghilang di dalam Pulau tak bernama. Pulau terisolasi, hanya orang-orang terpilihlah yang sanggup menapakkan kaki di sini, di pulau tak bernama. Pertama kali kami datang, kejutan pertama dimulai"
"Di mana salah seorang Reporter kami, di kubur hidup-hidup di dalam pasir, keesokan harinya, muncul Pria berkisar umur 50 tahunan, memperingatkan bahaya akan kematian pada kami. Beberapa jam dia meninggalkan kami, salah seorang kameramen kami, meninggal akibat sebuah ledakan granat. Semua karena sesuatu yang lain, yang berdampingan dengan kami"
"Meski kami tidak mengetahui identitas sesuatu yang lain tersebut, kami memperkirakan bahwa, sesuatu yang lain adalah...sebuah bayangan hitam. Kini kami berada di sebuah situs Teater tua, hendak mencari jejak Clamentine...Putri dari Mr.X-Bone. Saya, Evelina Dushenka, Ornext TV, melaporkan" kata Eve mengakhiri, karena melihat ada sesuatu yang bergerak di salah satu koridor, menuju ruang Teater kedua di lantai yang sama.
Mata Eve terus mengikuti arah pergerakan entah apa pun itu dan berlari kecil mengikuti. Dimi mendesah tak percaya betapa besar rasa keingin tahuan Eve hingga berani mengejar apa pun itu.
"Eve!! Berhenti!!" panggil Dimi mencengkeram pergelangan tangan Eve.
"Apa?!" tanya Eve dengan nada meninggi mengingat rasa kesal akibat Dimi menghentikan langkah kakinya hingga sesuatu itu kini telah benar-benar menghilang dari pandangan.
"Kita harus fokus...jangan biarkan apa pun yang kau lihat tadi, menghalangi pencarian Putri Mr.X-Bone yang hilang" Dimi mengingatkan.
"Bagaimana jika yang aku lihat itu bisa menunjukkan sebuah bukti keberadaan Clamentine? Kenapa kau, tidak memikirkan itu sebelum mencegahku?!" protes Eve gusar.
"Kita belum mengenal seluk beluk Teater ini oke, jangan sampai sesuatu menimpa kita karena kecerobohanmu. Kau ingat, bagaimana kematian Harry yang tak dapat diduga?"
"Ku rasa, aku tak perlu mengulang kembali kisah itu karena kita semua telah menyaksikan apa yang terjadi pada Harry" kini Dimi meminta pengertian dari seorang Evelina Dushenka.
__ADS_1
"Maaf...aku...melakukannya secara spontan" lirih Eve. Pria di hadapannya hanya tersenyum simpul lalu menyodorkan laptop milik Eve yang dititipkan pada Dimi karena akan meliput.
Eve segera mengambil laptop dari tangan Dimi tapi hampir saja laptop itu terjatuh ke lantai karena bunyi tanda Video Call masuk. Eve melirik takut-takut kearah Dimi sementara Pria itu memberi kode agar Eve menerima panggilan Video Call dari Mr.X-Bone dengan sikap sangat tenang.
"Kau...yakin?"
"Sangat" balas Dimi mantap sambil mengangkat dagu ke atas sebagai tanda Eve harus segera menjawab.
Hey, aku turut prihatin atas meninggalnya Mr. Harry Normand sungguh. Clamentine ku berada dalam bahaya yang sama. Kalian tahu bukan? Apa kalian siap dengan misi selanjutnya?
"Clamentine sudah lama menghilang jauh sebelum kami datang kemari bukan? Kau membohongi kami semua Mr.X-Bone," kata Dimi dengan sorot mata tajam.
Apa kalian tidak memeriksa ataupun membaca seluruh buku harian Putriku Clamentine? Sebenarnya apa yang kalian lakukan selama ini?! Ini bukan liburan!! Kalian sangat mengecewakan.
"...." Eve dan Dimi diam seribu bahasa. Kali ini Dimi merogoh saku bajunya lalu membuka lembar pertama dari buku harian Clamentine.
"2017...itu...sekarang" gumam Dimi mencoba mencocokkan apa kata pak Tua yang mereka temui di awal kedatangan mereka semua ke pulau, dengan kata Mr.X-Bone yang berseberangan.
Jadi kenapa kalian mempertanyakan kembali sesuatu, yang sudah jelas? Untuk apa aku meminta kalian semua mencari Clamentine ku jika dia sudah menghilang sejak lama?
"Seseorang telah memberitahu kami bahwa Clamentine telah lama meninggal. Itu saja" jawab Eve membuat Mr.X-Bone mengerutkan kening.
Tidak ada siapa pun di pulau itu selain kalian. Jadi kalian sudah bertemu dengan sesuatu yang lain rupanya. Menakjubkan...dia telah mengambil Putriku dariku!! Temukan Clamentine ku segera!! Kata Mr.X-Bone berapi-api lalu menghilang begitu saja.
Eve masih belum percaya Mr.X-Bone tidak menggunakan GPRS apa pun dalam menghubungi semua orang ia masih, berusaha mencari tahu, apakah ada aplikasi Khusus hingga jaringan GPRS dapat di sembunyikan serapi itu. Tapi usahanya tetap sia-sia. Setiap Eve akan melakukan pencarian tidak ada hasilnya. Karena Google tidak menanggapi.
"Kau masih berpikir dia menggunakan trik, semacam sulap? Begitu?" kekeh Dimitri menatap geli pada wajah Eve yang mulai frustasi berat.
"Kadang, sesuatu tidak dapat dijelaskan dengan logika maupun ilmu pengetahuan. Hal itulah kini yang terjadi. Menyerahlah untuk buang-buang waktu" tambah Dimi masih terkekeh.
"Contohnya, kau tahukan, benda ini kita gunakan selama seharian tapi laptop ini seolah...tak membutuhkan pengisian daya" tambah Dimitri. Gadis itu mulai paham...tapi ia masih tak menyerah maka ia mematikan laptop, lalu membuka bagian battrey.
"Aku pikir...laptop ini menggunakan tenaga surya untuk dapat terus beroperasi" kata Eve merasa di permainkan sekarang. Kini ia menutupkan kembali battrey ke tempatnya.
"Lihat? Bahkan, jika benar untuk mengisi daya dibutuhkan sinar matahari, seharusnya battrey laptopmu berkurang bukan? Lihat? Tidak berkurang Satu pun..." kata Dimi mengangkat kedua bahunya.
"Jika Mr.X-Bone memiliki kekuatan super, kenapa dia tidak datang ke sini saja untuk melawan sesuatu yang lain dan merebut kembali Putrinya Clamentine? Kenapa harus kita?" kata Eve pelan. Otak dua orang itu seolah sedang mendidih memikirkan makhluk apa Mr.X-Bone itu sebenarnya?
"Oh wow, sempurna...kenapa kau tidak menanyakan langsung saja ke orangnya tadi?" jawab Dimi mengangkat kedua alis.
"Otakku buntu oke, baru sekarang terpikirkan olehku. Dia pasti, punya suatu rencana dibalik perekrutan kita, selain rencana mendapatkan Putrinya kembali" kata Eve ragu.
"Bagaimana sebagai ganti Putrinya, ternyata sang sesuatu yang lain menginginkan pengganti? Apa itu artinya kita dikorbankan untuk menjadi persembahan?" tiba-tiba Kim muncul membawa kamera dan laptop di masing-masing tangannya.
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Eve ngeri membayangkan jika itulah yang sedang terjadi.
"Mr.X-Bone hanya memberikan buku harian Clamentine. Dia tidak menunjukkan foto atau benda apa pun agar kita dapat mengenali Clamentine. Kau pikir kenapa? Itu untuk mempersulit kita dalam pencarian. Seperti Mr.X-Bone, tidak bersungguh-sungguh mencari Clamentine" kata Kim dengan mata membulat.
"Maksudmu, Clamentine sesungguhnya tidak pernah ada?" tanya Dimi di sambut anggukan Kim.
"Di mana yang lainnya?" tanya Eve memotong pembicaraan.
"Berpencar, meliput dimanapun" kata Kim lelah.
"Kau sudah meliput sesuatu?"
"Ya," balas Kim sambil tersenyum hambar. Ada yang kurang...dia membutuhkan Harry...mereka langsung terdiam mendengar suara berlarian dari bawah menuju ke arah mereka.
"Hey, hari menjelang malam. Sebaiknya kita semua berkumpul di bawah. Supaya jika terjadi sesuatu, kita bisa langsung berlari keluar dari sini" kata Val memperingatkan.
"Yang lain ada di atas sana. Akanku panggil mereka turun" kata Dimi mengingatkan.
"Kurasa tidak perlu. Mereka sudah kemari" bisik Kim kecil.
"Kalian sudah puas meliput?" tanya Dimi pada Daksa dan Aditi.
"Ada hal yang aneh...apa kalian merasakannya juga? Tentang...rentang waktu di pulau ini. Kurasa...malam di pulau ini, jauh lebih panjang dari pagi, siang dan sorenya" kata Aditi mencari persetujuan dari semua orang di sana.
"Kita bicarakan saja di bawah" kata Kim dengan suara gemetar lalu menggandeng Eve turun ke lantai dasar. Semua orang berjalan mengikuti mereka serempak. Ketika semua orang telah berkumpul di lantai bawah, mendadak Kim menjadi sangat pendiam.
"Apa tidak sebaiknya kita kembali ke tenda kita saja? Besok kita bisa kembali kesini" kata Park sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Itu membuang waktu Park, kau tahukan, waktu disini sangatlah tidak bersahabat" kata Kim membuka suara.
__ADS_1
"Tapi...aku sungguh merasa lebih aman berada di tenda kita" kata Park sambil mengelus-ngelus tengkuknya.
"Ah, Haruko, Moru, kalian ceritakan saja pengalaman kalian selama terpisah tadi" kata Putri mencoba mengalihkan perhatian Park dan semua orang yang mulai merasakan gelisah luar biasa.