
Kami tak bisa bernafas di dalam sini. Semakin kami bergerak, akan semakin tenggelam tapi jika kami tak bergerak seinchi pun, maka sulur-sulur tanaman dari dalam tanah akan tetap berusaha menenggelamkan kami. Inikah akhir dari hidup kami? Dingin, becek, pekat, menjijikkan beberapa kata itu sempat tersemat dalam otak ini. Saat sulur-sulur tanaman ingin menyentuhku, aku bergerak semampuku hingga mata ini, tak sanggup lagi melihat apa pun.
Tes ...
Tes tes ...
Tes...
Tes tes...
Telingaku mendengarkan suara air menitik jelas... sangat jelas. Aku merasa...seluruh bagian tubuhku teramat sangat lemas bahkan, mataku terasa sangatlah berat untuk dibuka. Dalam keadaan mata tertutup kucoba memanggil Ferghus Cloy entah kenapa nama yang muncul dikepalaku hanyalah namanya. Mulutku mampu terbuka, tapi sangat sulit untuk mengucapkan sepatah kata pun. Sialnya, tubuhku pun tak mampu untuk bergerak.
WuuuuussssssSsssss
Semilir angin membuat tubuhku yang basah, gemetaran kedinginan. Aku mulai dapat membuka kedua mataku perlahan meski penuh perjuangan. Kedipan pertama, belum terbuka sempurna. Kedipan kedua, aku hanya dapat melihat sesuatu seperti kain berwarna putih kecokelatan tepat di depan mataku. Kedipan ketiga, mataku mulai beradaptasi dengan cahaya remang disini. Kedipan keempat, aku mulai sadar jika...kain putih kecokelatan itu adalah baju milik Ferghus.
"Ferghus..." panggilku tak ada respons.
"Ferghus, apa kau mendengarku?" panggilku lagi dan kali ini, Ferghus mengerutkan keningnya.
"Bangun. Ayo kita lihat dimana kita sekarang berada" kataku masih berusaha membangunkan sang pangeran tidur.
"Apa kita sudah mati?" gumam Ferghus berusaha membuka kedua matanya. Aku tahu, dia pasti merasakan hal yang sama denganku tadi. Spontan kucubit saja pipinya hingga Ferghus memekik kesakitan. Dengan begitu, kini Ferghus benar-benar membuka matanya lebar-lebar.
"Dimana yang lainnya?" bisik Ferghus seolah Tidak ingin seseorang menguping pembicaraan kami. Aku hanya menunjuk ke arah belakang tubuhnya dan Ferghus dapat menemukan Hisashi, Amarru, Rulby dan Kenatt disana.
"Aku merasakan ada sesuatu yang besar sedang menanti kita nanti. Jadi ayo bangunkan semua orang itu, sebelum hal buruk terjadi pada mereka" kataku lalu berjuang untuk berdiri tegak.
Ini sangat susah dilakukan gumpalan tanah lembek masih ada yang melekat di bagian tubuh tertentu kami khususnya di bawah alas kaki sepatu kami. Aku melangkah mendekati Rulby menepuk kedua pipinya berharap Gadis itu tidak kenapa-kenapa.
"Rulby bangunlah waktu kita tidak banyak" kataku sementara tangan Rulby merespons dengan menggerakkan jemarinya di atas tanah. Bagus!! Aku pun beralih pada Kenatt dan akhirnya semua mulai terbangun.
"Dimana kita? Tanahnya? Sulur-sulur itu?!" pekik Rulby panik menoleh ke kanan dan kekiri.
"Tenang. Kita semua aman dari itu semua sekarang ayo kita lanjutkan pencarian Marthen Mathias" kataku mengingatkan tujuan awal kami semua masuk ke dalam rumah terkutuk ini.
Ferghus dan kawan-kawan berjalan menyusuri tempat remang-remang menuju ke tempat yang lebih terang. Perjalanan mereka ke tempat tersebut di sambut oleh pahatan-pahatan Relief mumi yang terpahat indah, namun mistis di permukaan dinding-dindingnya.
"Ini bukan hal yang bagus" gumam Ferghus mengingat pengalaman dirinya di kejar-kejar mumi saat melakukan upaya pencarian Adel yang menghilang secara tiba-tiba.
"Hati-hati mumi itu bukan sembarangan Relief. Mereka semua hidup" desis Ferghus keringat dingin mengucur dari dahinya.
"Apa kau tahu jalan lain untuk tidak melalui mumi-mumi itu?" tanya Ferghus melirik pada Hisashi. Pria berdarah Jepang itu hanya menggeleng dalam kebisuannya.
"Jangan bercanda. Kau, yang menuntunku mencari Adel hingga berada di tempat ini. Lalu kenapa kau tidak bisa mencari jalan keluar dari sini?!" marah Ferghus merasa sedang di permainkan.
"Karena waktu itu, ragaku dan Amarru tidak berada di sini. Jadi dengan mudah aku membawa kalian kembali pada kami. Tapi ini kasus yang berbeda. Raga kita semua berada di tempat ini. Tidak ada jalan lain lagi selain melewati relief muminya" jawab Hisashi yang mulai jengah terus dituntut Ferghus.
"Ooooke, lalu apa yang bisa kami semua lakukan untuk dapat melawan mereka yang berjumlah lebih banyak? Yah, anggap saja sedia payung sebelum hujan" sambung Rulby yang panik. Dia harus tetap hidup demi sang Ibu. Tanpa kata, tanpa suara Hisashi dan Amarru kini bergerak mengambil sesuatu dari balik jubah kuningnya. Sebuah kertas kuning tempel? Apa mereka sedang bercanda dengan semua orang yang tengah panik di ruangan itu?
"Nyawa kami terancam bung, lalu sekarang kau meminta kami menorehkan sesuatu yang tak penting disini?" protes Kenatt sambil menunjukkan kertas tempel kuning itu di depan wajah Amarru.
"Kau ingin kami menuliskan pesan terakhir untuk keluarga kami?!" tebak Rulby dengan wajah panik.
"Apa kalian sudah puas bertanya? Bolehkah aku menjawab sekarang?" protes Amarru menahan amarah. Semua orang serempak menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Kalian gambar saja semua senjata yang ingin kalian miliki untuk melawan mereka. Pastikan benar-benar berguna untuk kalian. Ingat!! Masing-masing hanya memiliki 3 lembar kertas. Artinya kalian hanya akan punya 3 kesempatan menciptakan senjata" Amarru memperingatkan.
"Kau melupakan pena atau pencilnya. Bagaimana caranya kami menggambar jika tidak ada alat untuk menggambar?" kata Rulby merasa heran.
"Benda itu hanya akan benar-benar muncul, bila kalian menorehkan darah kalian di atas kertas kuning itu" kata Hisashi tenang.
"Omong kosong. Bisakah kita melakukan hal-hal yang masuk akal saja?" kata Kenatt mulai merasa akan kehilangan akal.
"Selama kita masuk ke dalam rumah ini, memang ada, hal yang menurutmu masuk akal?" jawab Adel berdecak kesal.
"Sebaiknya kau, ikuti saja kata Hisashi dan Amarru jika kau sayang pada nyawamu Kenatt..." gertak Ferghus. Pembicaraan mereka terputus ketika mereka mendengar suara sesuatu yang keras bergerak perlahan. Mata mereka menatap tajam pada relief mumi yang kini tangannya telah menjulur keluar.
"Pertarungan akan dimulai" suara Hisashi menggema. Sang Guru Besar Hisashi menggigit jari, menorehkan darahnya ke kertas berwarna kuning lalu menggambar sesuatu di sana. Kertas kuning tersebut berpendar, sangat terang lalu di lemparkan begitu saja di atas tanah. Dari kertas tersebut muncullah puluhan pepohonan kayu yang sangat rimbun, menutupi bagian kanan dan kiri dinding berreliefkan mumi.
"Ikuti aku!!" seru Hisashi berlari ke arah tengah-tengah jalan di ikuti kawanannya.
KraAak!!
Kraaaaakh!!
Suara debuman para mumi di tanah sekaligus bunyi mereka membabat semua tanaman dengan brutal, yang menghalangi jalan mereka menuju mangsa. Ya ampun...meskipun mereka dalam bentuk patung Relief, tubuh mereka yang berat tidak menghambat langkah super duper cepatnya!! Adel dan Ferghus melihat salah satu mumi mampu menebang pepohonan hingga jatuh ke arah mereka.
Ferghus langsung menendang pantat Adel hingga Gadis itu terdorong menjauhi arah jatuhnya pohon sementara Ferghus jatuh telentang!! Kurang 3 cm lagi, hidung Ferghus dan tubuhnya mungkin akan remuk redam. Tapi sebuah pusaran angin kecil mampu menahan pohon itu agar tetap melayang. Ferghus segera beringsut menghindari bahaya tanpa diperintah.
Ferghus berlari ke arah Adel yang melindunginya.
"Terima kasih" kata Ferghus mengacak-acak rambut Adel. Gadis itu memekik penuh amarah karena kini rambutnya berantakan karena seorang Ferghus.
"Bagaimana kau bisa melanggar janjimu nona?!" bentak Hisashi sambil terus berlari mengimbangi derap langkah kaki Adel, menyadari Adel menggunakan kemampuannya lagi!!
"Bersiaplah Marthen Mathias menyambut kedatanganmu" kata Hisashi penuh rasa kecewa.
Tapi pertengkaran mereka, harus segera di hentikan karena para mumi berhasil melepaskan diri dari kepungan pepohonan. Rulby menusuk jarinya dengan peniti yang sengaja ia masukkan ke dalam saku celana. Dengan cepat ia menorehkan sesuatu di kertas kuningnya lalu melemparkan ke belakang hingga jatuh ke tanah. Tiba-tiba ada air beriak-riak keluar dari dalam kertas. Mereka terus berlari hingga jauh dari jarak semua mumi.
Mereka mulai kelelahan berhenti sejenak menatap ke arah belakang. Para mumi terlihat tenggelam ke dalam danau buatan Rulby.
"Kami berhutang nyawa padamu kali ini" kata Adel menepuk pundak Rulby. Lalu semua orang melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Bledaaaaar!!
Semua orang kaget melihat serangan petir menyambar di hadapan mereka untung Hisashi segera menciptakan perisai. Mata mereka menatap ke atas langit-langit. Sebuah karang? Ya..., di atas sebuah karang, ada seseorang di atas sana.
"Sang Iblis datang..." desis Hisashi menggertakkan gigi.
"Siapa maksudmu?" tanya semua orang serempak kecuali Amarru.
"Lee Than Ming..." jawab Hisashi kembali mendesis merasa terancam.
Seakan terhipnotis...para Gadis menatap sosok tampan nan gagah di atas batu karang, penuh dengan hasrat. Menyadari hasrat terpendam dalam diri kedua Gadis di sekitarnya, Hisashi segera mengambil dua batu kecil untuk menyentil tonjolan di leher kedua Gadis itu hingga mereka seolah tersedak oleh sesuatu.
Ah, nampaknya usaha Hisashi menyadarkan mereka membuahkan hasil.
"Aku tahu iblis itu tampan, tapi jangan lupa yang ia inginkan adalah organ-organ dalam tubuh kalian, untuk diperjual belikan. Atau kalian akan dengan senang hati menyerahkannya?" sindir Hisashi frontal, membuat pipi Adel dan Rulby merona seketika.
"Hisashi Satoru...lama tak jumpa. Kau datang membawa orang yang kunantikan sejak lama rupanya..." oh ya ampun...bahkan, suara sang Lee Than Ming terdengar sangat seksi di telinga para Gadis.
__ADS_1
Peringatan Hisashi pada mereka, Justru membuat mereka menggerutu, mengutuki diri sendiri. Kenapa? Bukankah rencana awal mereka menangkap Marthen Mathias alias Lee Than Ming, lalu kenapa mereka malah terpesona sekarang oleh sang iblis tampan? Ayolah...mereka tak pernah menyangka akan menghadapi orang setampan itu.
Dalam benak mereka, ia akan menghadapi Pria setara dengan Hisashi. Yah meskipun Hisashi masih tergolong Pria tampan di usianya. Mereka semua terkejut sekaligus waspada saat Lee menghilang begitu saja dari radar mereka!!
"Siapa diantara orang-orang yang kau bawa, yang memiliki kekuatan inti bumi?" tiba-tiba Lee Than Ming muncul di hadapan mereka. Semua orang jadi bersiaga memasang kuda-kuda untuk melawan sang Iblis.
"Jadi kalian tidak ingin mengatakan siapa orangnya?" tambah Lee Than Ming lalu menghilang kembali.
Ia muncul mendadak, mengarahkan tongkat kayu tepat ke titik kepala Sang Guru Besar. Tongkat kayu terhalangi oleh lengan tangan kiri Hisashi yang merespons bahaya secara spontan. Telapak tangan kanan Hisashi di rentangkan lebar-lebar muncullah tongkat kayu yang langsung di genggamnya kuat-kuat.
Hisashi ingin menusuk pinggang si iblis tampan, tapi sang iblis mampu menangkap dan mencengkeram kuat tongkat kayu Hisashi. Lee mengarahkan kaki kirinya untuk menendang kaki kanan Hisashi namun sebuah kekuatan melontarkan tubuh mereka berlainan arah!!
Hisashi meremas tongkat kayunya marah terhadap aksi Adel yang berusaha menyelamatkannya.
"Hmmm, terima kasih kau, telah memakan umpanku honey" kata Lee Than Ming terkekeh penuh kemenangan saat menatap kedua mata Adel.
Ya ampun...jadi...itu hanya umpan, untuk mengetahui siapa pemilik kekuatan inti bumi?! Tapi...jika Adel diam saja, Hisashi pasti akan terluka parah. Lee Than Ming berlari ke arah Adel tentu saja Amarru dan Ferghus yang berjarak lebih dekat dengan Adel tidak membiarkan Lee menjadikannya korban selanjutnya maka, mereka berlari serempak menghadang sang Iblis.
Adel terdorong ke belakang sangat jauh dari Lee, akibat Amarru dan Ferghus sama-sama menggunakan kekuatannya untuk menjauhkan Adel dari sang Iblis.
"Menyingkirlah!! Kemampuan kalian jauh di bawahku. Apa kalian tidak sayang pada nyawa kalian?!" ancam Lee.
"Dia tidak akan kemana-mana. Jangan pernah menyentuhnya seujung kukupun Lee Than Ming!!" gertak Ferghus seolah ingin mengatakan aku tak takut padamu sedikitpun.
"Adeline Minna...Lee Than Ming memanggilmu. Datanglah untukku..." kata Lee hingga dapat semua orang rasakan hawa dingin kian menusuk tiap sendi para manusia. Saat itu, Adel menatap sosok Lee dengan penuh hasrat. Ia tersenyum dan melangkah maju, terjerat sihir sekaligus ketampanan sang Iblis.
"Adel!! Hentikan!! Menjauh!!" perintah Ferghus sama sekali tak di gubris Adel sedikitpun.
"Kubilang berhenti!!" teriak Ferghus membuat cuaca yang dingin lebih terasa membekukan saat angin kencang, melanda dan mengarah pada Adel. Gadis itu terdorong ke belakang, kemudian jatuh terjerembap di tanah. Kekuatan Lee Than Ming memang sangatlah kuat...hingga Gadis bernama Adel, tidak juga tersadar dari pengaruh Lee. Adel malah memukul kuat-kuat tanah dengan kedua tangannya.
Maka muncullah gempa yang dahsyat menggetarkan apa pun yang ada disana.
"Armian!! Kau urus Adel, biarkan Lee berhadapan denganku!" perintah Hisashi sambil berlari dan melompat ke arah Lee. Sang iblis tak mau tinggal diam ia berputar bagai sebuah bor menembus padatnya tanah.
Getaran di tanah kini mulai berhenti. Adel menyibakkan rambutnya ke atas lalu mendongak ke atas menatap kedua mata Ferghus. Saat Amarru hendak memblokir jalan Adel dengan memberinya pagar api melingkar, Gadis itu cukup menjentikkan jarinya, lalu api tersebut berubah menjadi bongkahan es tajam tak beraturan. Adel terbang...melayang kearah Ferghus Cloy.
Amarru mengentakkan kaki di atas tanah lalu terbang hingga mampu menggapai lengan Adel. Merasa langkahnya terhambat, Adel memperbesar partikel-partikel aliran listrik dalam tubuhnya, hingga Amarru memekik kesakitan lalu jatuh tersungkur di atas tanah dalam keadaan pingsan seketika. Adel koprol ke depan di udara lalu melompat seolah sedang menendang udara hingga berhasil menimpa Ferghus yang entah kenapa tak bergeming sedikitpun sedari tadi.
Brugh!!
Tubuh Adel menimpa Ferghus Cloy. Laki-laki itu merasakan rasa sakit menjalari seluruh tubuhnya.
"Bunuh mereka semua, dan jadilah pengikutku" kata Lee tiba-tiba muncul dari dalam tanah, tepat di belakang Gadis itu.
Ferghus mencoba mencerna sebuah kerlingan yang di lakukan oleh Adel di hadapannya tadi. Apa itu sebuah kode? Belum sempat ia mencerna seluruh kode Adel, Gadis itu sudah bangkit berdiri sementara Ferghus ada di antara kedua kakinya. Tak berapa lama kemudian, kedua tangan Ferghus di angkatnya!! Ferghus merasakan ada kekuatan besar menyelimuti kedua tangan Adel.
Tanpa dikomando, Adel mendorong Ferghus hingga menerobos kedua kaki Adel menuju ke arah Lee yang terkejut mendapat sepakan dua kaki Ferghus secara mendadak. Lee terlontar ke belakang, terseret di tanah sepanjang 2 km. Ferghus bangkit dari tidurnya, lalu berdecih kesal sambil menyorot marah pada Adel.
"Aktingmu kali ini keterlaluan Mom, Amarru pingsan dan luka dalam karenamu" kata Ferghus sambil bersiap dengan kuda-kudanya, bila sewaktu-waktu Lee Than Ming bangkit lalu menyerang mereka berdua.
"Sejak awal, kalian tidak mendengarkan. Bukankah Lee mencari manusia dengan kekuatan inti bumi? Dia untuk hari ini, tidak akan melukaiku tapi justru kalianlah yang akan dikulitinya" kata Adel membuat Laki-laki itu menghentikan pose siaganya. Ferghus menatap bingung pada Gadis di hadapannya.
"Maksudmu, kau sudah tahu itu dari awal?" tanya Ferghus mulai geram karena pertanyaannya hanya dijawab dengan anggukan kecil.
"Lalu kenapa kau malah menyerang kami?"
__ADS_1