Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Hadirnya Tim Penolong


__ADS_3

"Pernah kau berpikir ini I.E? Saat tujuan itu tercapai, seperti apakah kita akhirnya nanti?" desis Dimitri tegas.


"Bukankah itu sudah pasti? Kenapa kau mempertanyakan hal yang sudah pasti? Kita ada karena misi dan kita tiada, karena misi telah selesai" jawab Eve palsu santai.


"Manusia benar-benar menakutkan. Bukankah mereka yang paling layak disebut monster ketimbang kita? Setidaknya kita tidak pernah saling menyerang. Tapi lihatlah mereka. Ada banyak manusia yang berusaha saling melenyapkan satu sama lain" desis Dimitri muak.


"Kau terlalu banyak bicara bung, jangan lupakan hari ini kita harus melakukan sesuatu" sambung Eve palsu membuka baju tidurnya dalam sekejap mereka memperlihatkan seragam khusus dibalik baju tidur.


Eve palsu membuka lebar-lebar telapak tangannya lalu menggumamkan beberapa digit kode dengan ajaib telapak tangannya bersinar terang. Ia menekuk jari kelingkingnya dua kali lalu muncul warna terang lainnya di telapak tangannya itu. Dimitri dan Eve palsu saling memandang dan tersenyum penuh arti.


Mereka berlari kecil membuka pintu balkon kamar lalu melompati balkon tersebut hingga mendarat tepat diatas aspal. Saat mereka berlari dan berubah menjadi titik kecil dari kejauhan...diatas genting kamar Eve dua sosok manusia sedang sibuk mengintai.


"Perasaanku tidak enak jika kita semua tinggalkan kota ini" bisik Armian ragu.


"Kita memang ditugaskan untuk tidak meninggalkan kota ini. Tapi nyawa Kenatt dan yang lainnya dalam bahaya disana" decak Riche sambil mengawasi sekitar.


"Ahhh...bagaimana ini?!" umpat Riche gusar.


"Tak ada pilihan lain. Kita harus selesaikan urusan yang ini setelah wilayah ini aman, kita baru menuju pulau itu" gumam Armian seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.


"Apa kau gila?! Setelah kota ini aman belum tentu kita punya banyak waktu untuk menyelamatkan Boss kita. Bagaimana jika kita gagal menyelamatkan mereka karena sibuk disini?"


"Apa kau punya ide lain Riche? Kota ini juga diambang kehancuran. Di pulau itu mereka masih memiliki Hisashi dan Amarru. Mereka lebih berkompeten dalam menghadapi makhluk gaib dari pada kita. Keberadaan kita jauh lebih bermanfaat di kota ini. Sekarang" Armian sangat menekankan kata terakhir. Riche menatap tidak terima bercampur kesal pada rekannya tapi Armian memang benar...mereka lebih dibutuhkan di kota saat ini.


Ketegangan di ruangan ini semakin mencekam kedua Pria itu, masih saja keras kepala saling mengacungkan senjata. Valdemar terus menatap Eve dengan tatapan membunuh bagaimana bisa Dimitri melepaskan bidikannya dikepala Pria tersebut, jika itu yang terjadi.


"Dimi....turunkan senjatamu" kata Eve terdengar tanpa keraguan namun penuh ketakutan.


"Mari kita lihat apa Tuan Valdemar Conrad yang terhormat juga mau melakukan hal yang sama. Turunkan senjatamu kita bisa bicarakan ini baik-baik" jawab Dimitri justru menekankan senjatanya, ke kepala Valdemar.


"Jauhkan kakimu dari jangkauan Helga dulu. Evelina Dushenka..." tegas Valdemar menatap intens pada Eve tanpa berniat melepaskan pandangan barang sedetik pun. Eve menurut dia mundur empat langkah.


"Mari kita perjelas saja. Tidak ada niatanku sedikitpun, untuk membantai kalian satu persatu. Ini diluar kemampuan dan keinginanku" Eve berusaha keras untuk menekan rasa takutnya.


"Tapi aku sadar, kalian berhak untuk mencurigaiku karena barang temuan itu. Jadi...jika masih ada sedikit saja, kalian percaya padaku maka tetaplah disisiku. Tapi jika kalian lebih memilih untuk...berhenti mempercayaiku, mari kita berpisah disini" tak terasa air matanya menitik. Rasanya...sangat menyakitkan disaat seharusnya mereka saling mendukung, saling melindungi justru hal mengerikan inilah yang terjadi.


Eve menghela nafas pasrah ketika semua orang mulai menentukan pilihannya. Hannalie Jemma, Eithan Wilfred, Emiel Huibert, Eldert Diederick, Park Mayleen, Riwangga Angger Pati, Bianca Concetta, Dante Benvenuto, Mamoru Nobuo, dan Helga Winifred memilih berada di belakang Valdemar Conrad.


"Kalian...kenapa? Masih..." suara Eve tercekat menahan perasaan yang campur aduk menatap tak percaya pada Dimitri Afanas dan Haruko Izanami.


"Apa yang kau lakukan di sana Haruko?! Kemarilah kau cari mati huh?!" teriak Mamoru Nobuo menatap horor pada rekannya.


"Alasanku tetap bersama Eve adalah. Aku lebih percaya pada manusia dari pada manekin di belakang kalian itu" jawab Haruko enteng.


"Mari kita lihat pilihan mana yang salah dan mana yang benar. Mulai sekarang, kita berada di jalur yang berseberangan" sambung Dimitri tersenyum sinis pada Valdemar.


"Hmm...terlalu percaya diri untuk orang yang hanya berjumlah sedikit. Kau terlalu arogan. Kurasa" kata Valdemar memasukkan senjatanya kembali ke saku celananya.


"Pikirkan baik-baik Haruko. Mereka selalu mengincar Eve setiap saat. Berusaha berada di sekitarnya itu, menempatkan posisimu dalam ancaman" pekik Mamoru mencoba mengubah keputusan Haruko.


"Justru yang terlihat ragu itu kamu Moru. Aku dapat mengerti posisimu saat ini. Seharusnya rekan berada dalam kapal yang sama. Apa lagi, kita hanya bisa bertahan hidup jika rekan kita masih hidup"


"Karena itu dia harus berada dalam jangkauan kita tiap saat. Yeah, anggap saja aku memberimu pilihan. Silakan bergabung dengan rekanmu jika memang itu yang kamu inginkan. Itu saja" desis Aditi, disambut dengan Valdemar yang memberi kode pada kelompoknya untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


Mamoru sejenak dalam kebimbangan kakinya sulit melangkah untuk memutuskan harus mengikuti siapa. Matanya tertuju pada Haruko, menatap rekannya putus asa. Haruko hanya mengangguk seolah ingin berkata tentukan jalanmu sendiri Moru. Maka Moru berbalik dan berlari mengikuti rombongan Valdemar.


"Dimi...tetaplah bersama mereka. Benar kata mereka bersamaku tidak akan menjamin keamanan kalian" mohon Eve sambil menyeka air mata.


"Membiarkan makhluk itu dengan mudah menangkapmu? Aku tidak sekejam itu Eve. Bagaimanapun salah satu dari kita tidak boleh mati agar kita bisa keluar dari tempat ini"


"Jika peraturannya tidak mengharuskan kita untuk tetap saling menjaga untuk bertahan hidup, sedari tadi aku akan membiarkanmu mati ditangan Val. Bukan berarti aku memihakmu jika kau berpikir begitu, kau salah" jawab Dimitri enteng sambil memasukkan kembali senjatanya ke saku celananya.


"Eve. Kami sepertimu. Memutuskan jalan hidup kami sesuai dengan keinginan kami sendiri. Tidak perlu merasa keberadaanmu membebani kami. Jika kau memang memikirkan itu" tambah Haruko menatap tajam Eve.


"Aku memikirkan bagaimana cara membuat kalian semua tetap hidup. Makhluk itu terus berbisik padaku hanya akan membiarkanku hidup dan membunuh semua orang yang menyertaiku. Jadi...akan lebih baik jika dari awal kalian satu tim dengan Val" gumam Eve pasrah.


"Itu kuncinya. Mereka tidak akan membunuh Haru maupun aku jika kau tidak mengizinkan mereka"


"Tidak sesederhana itu Dimi...aku tidak berkuasa atas mereka. Tapi mereka dapat mengusaiku dengan mudah. Satu-satunya alasanku masih dapat lolos dari mereka hanya karena mereka saling memperebutkanku" desis Eve muak saat mengingat apa yang baru saja menimpanya.


"Pasti ada sesuatu dalam dirimu yang mereka inginkan. Kau sudah tahu jawabannya?" tanya Haruko mulai tertarik. Tapi Eve malah menggeleng lemah.


"Masalah utama kita adalah Mr.X-Bone. Jika kita tidak terlibat dengannya, maka kita juga tidak akan pernah terlibat dengan makhluk bayangan itu" desis Dimi mengepalkan tangan lalu meninju udara.


"Empat kesempatan hidup. Apa kalian tidak merasa bersamaku adalah hal yang sia-sia? Dengan memilih bersamaku kalian akan semakin jauh dari kemungkinan dapat mempertahankan hidup. Bagaimana kita bisa memecahkan teka-teki ini jika makhluk tak kasat mata terus saja mengusik kita? Kenapa kalian tidak berpikir panjang?!" teriak Eve histeris.


"Berpikirlah jernih Eve. Kau pikir dengan ikut rombongan mereka, kami akan lolos dari serangan bayangan hitam? Tidak. Itu tidak menjamin. Kenyataannya bersamamu atau tidak, kami tetap akan jadi target serangan mereka" kata Haru mengguncangkan kedua bahu Gadis yang hampir kehilangan akal tersebut.


"Aku sepaham dengan Haru. Pertama, aku semakin yakin bahwa Clamentine tidak pernah ada. Mr.X-Bone memang merancang kematian kita semua ditempat ini. Kedua, semua petunjuk diciptakan hanya untuk satu tujuan"


"Membuat kita semua dalam keadaan kebingungan dan merasakan keputusasaan. Disitu, Mr.X-Bone mendapatkan kesenangan tersendiri melihat penderitaan kita yang akan mati perlahan disini"


"Ketiga, tujuan Mr.X-Bon adalah memberi makanan bagi makhluk-makhluk itu dengan memberi persembahan berupa manusia ditempat ini" kata Dimi menebak-nebak.


"Teori ketigamu tidak bisa diterima Dimi...." desis Eve membuat Haru dan Dimi menatapnya penuh tanda tanya.


"Jika tujuannya persembahan...maka tidak akan ada pengecualian. Untuk apa mereka menyisakan satu manusia? Kenapa makhluk itu hanya menginginkan aku untuk tetap hidup disini?" Eve melanjutkan.


"Kenapa kau tidak mencari tahu jawabannya? Ayo kita bergegas mencari jawaban dari teka-teki Mr. X-Bone. Dari pada kita tetap diam lebih baik berusaha bukan? Siapa tahu teori Dimi memang salah" jawab Haru sambil mengawasi sekitar. Eve dan Dimi mengangguk setuju untuk melanjutkan pencarian keberadaan Clamentine.


Mereka berjalan mencari petunjuk apa pun yang menyangkut Clamentine. Mereka memutuskan untuk keluar dari gedung Teater. Tapi hal aneh terjadi, mereka tidak menemukan satu pun pintu keluar!!


"Apa yang terjadi? Jelas-jelas pintu akses keluar masuk ada disini letaknya" gumam Haruko meyakinkan diri.


"Artinya kita tidak diizinkan keluar" kata Eve dengan wajah memucat.


"Mr.X-Bone membolehkan kita keluar mencari Putrinya" protes Haruko.


"Maksudku makhluk yang tinggal disini. Tidak mengizinkan kita keluar. Tempat ini sepenuhnya dikendalikan mereka bukan Mr.X-Bone. Tapi kita semua, tetap Mr.X-Bone yang mengendalikan" gumam Eve jatuh terduduk diatas permadani merah.


"Apa yang lain menyadari itu?" tanya Dimi dalam keheningan.


"Belum..." jawab Eve mengacak-acak rambutnya. Mereka terkejut merasakan guncangan gempa mendadak.


Hisashi menatap penuh pertimbangan kearah Adeline Minna. Hatinya tidak tega ketika harus melibatkan seorang Wanita di dalam pertempuran yang besar nantinya. Matanya melirik kearah Ferghus Cloy.


"Apa kau tak ingin mengubah keputusanmu Adel?"

__ADS_1


"Kalau kau menanyakan ini hanya karena aku satu-satunya Wanita di dalam kelompok ini, aku sangat tersinggung" jawab Adel masam. Hisashi hanya mampu menghela nafas panjang dan mulai berpikir untuk menyerah dalam membujuk Gadis keras kepala itu.


Ia mencari sesuatu dibalik jubah panjangnya lalu mengeluarkan beberapa gelang yang terbuat dari serpihan kayu. Satu orang, wajib mengenakan satu gelang terlihat Hisashi sedang membagikan keseluruh anggotanya. Ia memejamkan mata sejenak mengucapkan sebuah doa-doa saat ia membuka matanya, ia mengucapkan sesuatu.


"Ingatlah baik-baik...gelang ini adalah penghubung antara dunia ini dengan dunia lain. Perhatikan warnanya dengan seksama. Jika warnanya berubah menjadi hitam pekat, artinya kalian harus bisa segera keluar dari dalam sana"


"Namun jika warnanya berubah semerah darah, artinya nyawa kalian akan melayang dalam waktu yang sudah ditentukan gelang tersebut. Batasannya adalah, jangan sampai gelang itu terputus dan lepas dari pergelangan tangan kalian saat gelangnya mulai berwarna semerah darah" kata Hisashi menatap tajam ke semua rekannya lalu menoleh kearah gedung Teater.


Ferghus tiba-tiba mengepalkan kedua tangannya ia menyorot kedua mata Hisashi tanpa jeda.


"Masih ada cara lain untuk dapat masuk kedalam Chichi. Kenapa?! Kenapa kau harus mempertaruhkan hidupmu demi membuat benda ini Chichi?! Kenapa?!" teriak Ferghus membuat yang lainnya diam terpaku berusaha mencerna kata-kata Ferghus.


"Kau pikir nyawa orang-orang yang ada di dalam sana masih bisa menunggu lebih lama lagi? Lebih baik konsentrasi saja. Akan kubuka pintu dimensinya" jawab Hisashi mengabaikan. Ferghus mencengkeram erat kedua bahu Hisashi, menatapnya lebih tajam dari sebelumnya.


"Berjanjilah sebelum kita lakukan itu. Tetap bersamaku, jangan pernah berpikir akan pergi dariku" kata Ferghus panik matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa berjanji hasilnya hanya akan bisa kita ketahui di akhir pertarungan nanti. Lagi pula Putraku sudah pernah meninggalkanku sendiri didunia ini" jawab Hisashi menghela nafas panjang.


"Sampai kau mati akan kucari kau sampai ke neraka sekalipun. Akan kupastikan kau akan kembali" geram Ferghus kesal.


"Tidak ada yang bisa mengubah takdir. Ikuti saja kemana takdir membawa kita" gumam Hisashi setelah itu memulai ritual. Mantra di lafalkan...angin kencang menerpa Hisashi dan timnya, lalu secara tiba-tiba, muncul lingkaran besar berputar dan berpendar menjadikan Hisashi dan timnya sebagai pusatnya.


Mereka merasakan guncangan hebat di tanah tempat mereka bepijak. Keseimbangan mereka mulai goyah hingga terpaksa berjongkok dan menumpukan beban tubuhnya dengan kedua telapak tangan mereka. Guncangan itu telah hilang tapi mereka sadar jika sekarang mereka tidak lagi diluar gedung Teater melainkan didalamnya.


"Mereka tidak mengizinkan kita terlihat oleh para korban begitu pun dengan kita...." bisik Hisashi geram.


"Hisashi...hari mulai gelap" peringat Adel cemas.


"Hanya satu yang bisa kita lakukan sekarang. Menunggu sang pemilik kain robek tadi tertidur dan aku akan berusaha masuk kedalam mimpinya. Semoga dia menganggap ini bukan khayalan tapi petunjuk dari kita" bisik Hisashi sambil mengawasi keseluruh penjuru ruangan.


"Chichi...tidak ada cara lain agar kita bisa melihat mereka? Begitu pun sebaliknya?" bisik Ferghus yang mulai merasa tidak nyaman berada di dalam sana. Hisashi menggelengkan kepala dan dengan hati-hati ingin mengatakan sesuatu.


"Jika si pemilik robekan kain masih hidup di dalam sini, cepat atau lambat kita bisa berkomunikasi dengannya. Masalahnya, dia harus percaya bahwa aku sosok yang nyata"


"Jika tidak?"


"Ketiga makhluk tak kasat mata itu punya kesempatan untuk menutup pintu dimensi selamanya dan itu artinya mereka punya kesempatan besar untuk menjadikan kita, korban selanjutnya" geram Hisashi harus mengakui kenyataan jika usaha mereka gagal.


"Apa masalah orang itu? Kenapa dia tidak bisa membedakan antara petunjuk dengan mimpi?" potong Kenatt penuh tanda tanya.


"Normalnya petunjuk yang diberikan seseorang sepertiku kepada orang awam, akan dimaknai sebagai mimpi yang terasa sangat nyata. Tapi aku baru sadar, bahwa ini adalah kasus yang langka" kalimat terakhir Hisashi menarik perhatian semua timnya.


"Kasus langka?" Adel mengangkat kedua alisnya sambil menatap Hisashi menuntut jawaban.


"Usaha kita yang gagal belum lama ini. Ingat? Dimana kita sempat berhasil masuk dan menemui korban?"


"Ya, dan kita hanya bisa bersama mereka tidak lebih dari 5 menit" Adel mulai mencoba meraba isi kepala Hisashi.


"Aku sempat berkomunikasi dengan pemilik robekan kain ini. Ketika aku menyentuh pergelangan tangannya, aku merasakan ada energi tidak biasa menolak keberadaan kita disana bahkan kita terlempar kembali ke dimensi kita karenanya" Hisashi menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kembali ketika ingin, menambahkan informasi lain yang ia dapatkan dari peristiwa itu.


"Sesuatu yang membuat mereka syok berat terjadi pada mereka sebelum berada di pulau ini dan traumanya terus berlanjut sampai mereka dikirim kemari. Tapi aku tidak bisa mencari tahu...apa penyebabnya"


"Yang jelas, syok dan trauma itu berkaitan dengan sistem syaraf yang mengendalikan otak mereka hingga efeknya, membuat mereka kesulitan membedakan suatu peristiwa itu mimpi atau nyata" Hisashi berusaha menjelaskan serinci mungkin.

__ADS_1


.


__ADS_2