
Sejenak Haruko terdiam menatap kedua telapak tangannya yang sedari tadi mengepal kuat. Seakan ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ada hal lain mengganjal bibirnya untuk mengungkapkan apa pun itu. Moru menggapai kedua tangan Haruko, lalu menepuknya lembut berulang kali.
"Kau butuh waktu untuk mengatakannya bukan? Kalau begitu jangan bicara. Tapi jika itu menyangkut nyawa kami semua, kumohon jangan menyembunyikan apa pun itu" kata Moru serius mengunci pandangan mata Haruko.
"Tapi..., bagaimana jika kalian semua tak mau mempercayaiku dan menganggapku gila. Aku...takut kalian mulai menjauhiku dan membiarkanku tetap di sini tanpa kalian semua" kata Haruko berkaca-kaca.
"Di sini, kita harus tetap kerja sama. Satu, sama lain. Tidak akan ada siapa pun, yang meninggalkan siapa" kata Moru sambil menatap semua orang meminta dukungan. Tak ada suara, tapi anggukan penuh keyakinan dilakukan semua orang di sana.
"Saat...aku terpisah dari Moru" kata Haruko sambil menarik nafas dalam, mencoba menguatkan hati untuk apa pun reaksi yang akan ia tuai dari semua orang.
"Aku terperosok ke dalam lubang pasir karena hujan deras. Begitu aku terbangun dari pingsan, aku...menemukan sesuatu. Peti mati. Aku merasa, seseorang memanggil-manggil namaku karena itu...kubuka peti, tanpa rintangan" kata Haruko.
Deg!!
Cerita Haruko terhenti karena malam telah tiba, tak ada sedikitpun cahaya di sana.
Blaaaar!!
Blarrr!!
Blarr!!
Mereka masih terdiam kaku ketika semua obor di tiap pojokkan ruangan gedung Teater menyala dengan sendirinya. Mencoba menetralisir kekagetan, kepanikan yang berbaur menjadi satu, mata mereka melalang buana mencari-cari sosok bayangan suatu yang lain di sana.
"Fyuuuh...kupikir, tidak akan ada bahaya malam ini" kata Dante agak lega mengetahui semua baik-baik saja.
"Dari mana kau tahu? Siapa tahu, ini hanya awal dari teror" bisik Helga merasa keamanannya terancam.
"Selama tidak ada serangan, kita tetap disini oke, siapa tahu ini pancingan supaya rasa keingin tahuan kita meningkat, lalu kita berpencar kembali. Pikirkan keadaan Kim saat ini. Dia sendirian" kata Emi mencegah siapa pun berpencar meninggalkan kelompok.
"Haruko, lanjutkan" pinta Putri meski ia juga panik tapi ia berusaha terlihat setenang mungkin.
"Ya, aku membuka peti dan melihat sebuah manekin terbuat dari lilin. Entah kenapa, aku ingin sekali mendekat ke arah manekin itu hingga aku tertangkap oleh si manekin, dan...terperangkap di dalam peti bersama manekin tersebut" kata Haruko mulai menerawang mengingat masa-masa mendebarkan.
Haruko terperangkap di dalam peti, berusaha keluar dari peti tapi entah bagaimana cara sang manekin merubah posisi Haruko hingga berada di bawah sang manekin.
"Haruko!! Tenanglah!! Ini aku!!" teriak sang manekin hidup.
"Siapa kau?" kata Haruko mulai ketakutan.
"Harry Normand. Jiwaku terperangkap di sini karena ada ganjalan dalam hidupku. Bantu aku. Kim, telah mengandung anakku lindungi dia bagaimanapun caranya. Aku, akan membantu kalian semua keluar dari pulau ini" kata Manekin tampan, masih memegang erat kedua bahu Haruko.
"Ba-bagaimana bisa manekin hidup?"
"Kau mengecup keningku bukan? Saat itu Ruhku mengikutimu, yang berada tak jauh dari manekin ini. Saat kau mengecup manekin. Jiwaku terperangkap seketika ke dalam sini. Aku pun tak mengerti kenapa" kata Manekin tampan sendu.
Plaaak!!
Haruko terkejut bukan main ketika belum selesai ia menceritakan pengalamannya, ia sudah dihadiahi sebuah tamparan dari Kim.
"Kau!! Tega sekali mengarang cerita tentang Harry!!" teriak Kim emosi. Ia sangat terpukul mengetahui Harry mati tidak tenang begitu.
"Kim!! Tenang!! Jika itu bukan Harry, pasti itu adalah sesuatu yang lain. Jadi jangan saling menyerang!!" teriak El mencoba memisahkan Kim dari Haruko yang mulai menangis kecil.
"Tidak...itu benar Harry. Hanya Harry yang tahu aku sedang mengandung El, hanya Harry. Hanya Suamiku yang tahu diantara semua orang di sini" kata Kim menangis sejadi-jadinya.
"Apa? Jadi...dia benar Harry?" tanya Haruko tak percaya. Kali ini Kim menjambak rambut Haruko kesal.
"Aww!!" pekik Haruko meringis kesakitan.
"Itu karena kau, sembarangan mencium Suami orang" kata Kim lalu melepaskan Haruko yang mulai tak terima.
"Bagaimana aku tahu itu Harry?! Yang aku tahu, hanya aku, telah menemukan manekin tertampan di dunia" protes Haruko mengusap kepalanya. Kim terkekeh penuh kemenangan.
"Jadi, apa yang kalian rencanakan bersama?"
"Harry ingin mengetahui di mana dan siapa, sang sesuatu yang lain itu sebenarnya"
"Caranya?"
"Entahlah, energiku benar-benar habis hingga, aku tertidur kelelahan. Begitu aku bangun, manekin itu menghilang begitu saja" balas Haruko sambil mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan Kim.
"Tunggu. Apa kau, saat keluar dari tempat itu, menemuiku? Bersandar di dekat pohon kelapa?" tanya Moru menegang mengingat pengalaman menyeramkan yang ia alami sendiri.
"Kita baru bertemu lagi setelah sampai di tempat ini" kata Haruko membulatkan matanya.
"Itulah...kupikir, bayangan hitam hanya sebuah bayangan hitam. Tapi ternyata, ia bisa menirukan bayangan tubuh siapa pun. Bayangan hitam itu, menirumu Haruko. Meniru bayanganmu, menirukan sosok tubuhmu. Awalnya aku ingin mendekatimu yang bersandar di pohon kelapa, tapi kau berteriak, dan aku memilih tetap di tempat sambil memperhatikan bayanganmu"
"Ketika...kau berteriak histeris, bayanganmu berubah menjadi bayangan hitam yang kian lama, kian membesar!! Bahkan aku mencari sosok tubuhmu di balik pohon kelapa, tapi sosokmu telah menghilang. Hanya ada bayangan hitam yang mencoba menyerangku dengan menangkap bayanganku"
__ADS_1
"Lalu bagaimana caramu bisa selamat dari bayangan hitam?" tanya Kim penasaran bahkan Suaminya yang malang harus meninggalkan dunia dengan cepat.
"Anggap saja faktor keberuntungan. Karena tiba-tiba matahari kembali bersinar" kata Moru menyeringai lebar.
"Kenapa kalian bisa terpencar? Apa bayangan itu mengejar kalian dari awal?" tanya Berte was-was.
"Sanca!!" kini Haruko dan Moru berkata bersamaan.
"Sanca? Maksudmu...ular sanca sungguhan?" Aditi memekik dan bergidik.
"Ular sanca sepanjang 2 meter. Ular yang besar, dan...berjumlah 3 ekor. Mereka mengejar kami berdua" kata Moru dengan cepat.
"Jika itu ular sungguhan, kita bisa mengusir mereka kalau muncul di hadapan kita lagi. Tapi bagaimana jika itu adalah sesuatu yang lain, seperti yang di katakan Reporter tua itu?!" kata Aditi mendekap tubuhnya sendiri.
"Itu akan sangat menyusahkan. Bayangan hitam, menyamar menjadi Haruko saja, sudah menakutkan. Apa lagi jika bayangan hitam itu menyamar menjadi 3 ekor ular sanca" kata Moru bergidik.
"Apa kalian tidak tertarik mencari keberadaan Harry?" lirih Kim sambil menerawang ke langit-langit gedung Teater.
"Aku sangat mengerti Kim, tapi tugas kita yang utama mencari Clamentine. Lagi pula, Harry pasti akan muncul dihadapkanmu jika ia menginginkan itu. Maksudku, mungkin Harry...belum siap menampakkan wujud manekinnya di hadapanmu. Cobalah beri dia waktu untuk mempersiapkan diri atas apa pun reaksimu nanti" kata Haruko mencoba memberi pengertian atas keadaan Harry. Mendengar ucapan Haruko, Kimmy Pier hanya dapat mengangguk lemah.
"Kita tidak punya petunjuk yang mengarahkan ke tempat Clamentine berada" kata Darius mulai hampir putus asa.
"Kita belum memeriksa seluruh tempat ini secara menyeluruh. Karena kendala waktu. Besok pagi, kita akan mulai mencari jadi, bagaimana jika kita tidur saja sekarang?" kata Eithan merasa terlalu lelah.
"Eithan, kau yakin kita dapat beristirahat tanpa harus khawatir nyawa kita dalam bahaya?" kata Alie menyikut lengan Eithan yang hampir saja terlelap.
"Aku sudah tidak tahan lagi. Kau tahukan, malam kemarin, aku sama sekali tak bisa tenang hingga tidur pun sulit. Jadi biarkan aku tidur sebentar" protes Eithan tetap dalam keadaan memejamkan mata.
"Jangan khawatir akan ada pembagian kelompok. Dengar. Kelompok pertama, berjaga-jaga dan sisanya boleh tidur. Akan ada sistem gilir ku rasa cukup adil bukan?" Emi yang segera disetujui semua orang. Mengingat malam di pulau ini sangat panjang, maka kenyataan yang ada, tidak ada namanya sistem gilir karena sekarang, mereka semua telah terlelap.
Bayangan hitam kelam mendekat kearah para manusia yang terlelap. Tapi suara siulan panjang menarik perhatian sang bayangan hitam. Ia menghentikan langkah, lalu memeriksa keluar gedung Teater mencari asal suara siulan tersebut.
Eve merasakan tubuhnya sangat ringan, dan...sesuatu yang hangat berhembus tepat di wajahnya. Perlahan Gadis itu membuka mata lalu mencari asal hawa hangat yang membuatnya terbangun seketika. Eve menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi ia tak menemukan apa pun.
Semua orang tengah terlelap Eve mengetahui itu, tapi ia mulai mendengar suara pintu Teater berderit terbuka. Secepatnya Eve menoleh ke arah asal suara benar saja...pintunya terbuka!! Eve berusaha membangunkan Dimi tapi Pria itu rasanya bukan tidur, tapi seakan pingsan hingga ia tak dapat membuka kedua matanya meski Eve telah menepuk kedua pipinya agak keras.
"Baiklah..., tidak ada jalan lain. Aku harus berani. Kim saja bisa melawan ketakutannya sendirian berjalan di tempat asing. Masa aku kalah, dengannya" bisik Eve pada diri sendiri. Eve berlari kecil menuju pintu Teater yang terbuka lalu keluar menuju koridor Teater yang sepi dan temaram.
Tap
Tap
Tap
Krieeeek!!
Suara nyaring kembali terdengar, tertangkap suara pintu dimana Teater kosong, terletak di sebelah Teater tempat kelompok Eve tertidur terlihat ada yang membuka. Eve menelan ludah sepanjang jalan saat langkah kakinya mulai berhenti tepat di depan pintu Teater Scarla. Eve membuka pintu, dan melihat sesuatu terjadi di dalam panggung Teater.
Itu seperti...gambaran di masa lalu bukan penampakan ya, Eve sangat yakin. Eve kali ini tampak percaya diri duduk di ruang podium tempat para penonton Teater menonton sebuah Opera. Bagaikan terhipnotis...ia melihat gambaran masa lalu tanpa berkedip.
Helga bergerak-gerak resah dengan peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya. Ketegangan dan ketakutan luar biasa menghantui mimpinya. Helga membuka kedua mata lalu terduduk diam dengan sorotan mata kosong. Angin tiba-tiba berhembus kencang membuat rambut Helga seketika menutupi wajah cantiknya.
Jangan mengambil milikku....Kekehan kecil terdengar di balik rambut Helga...ia mendengar jelas...bisikan itu.
Hmmmm!! Jiwanya milikku selamanya...jawaban itu jelas sekali berasal dari Helga tapi, suaranya sungguh berbeda. Suara seorang Pria dewasa.
Tidak!! Dia milik kami!! Teriakan histeris dari seorang Wanita dan seorang Pria bersamaan. Ya, teriakan yang hanya dapat di dengar Helga Winifred.
Huahahahahaha!!
Tawa menggelegar Helga atau apa pun yang merasukinya kini terdengar menggema di seluruh penjuru Teater. Jika ini tawa manusia, suara sekencang apa pun tidak akan terdengar ingat...bukankah sudah dijelaskan dari awal? Bahwa...tiap ruang Teater kedap suara?
Tapi suara tawa itu mampu menembus dinding kedap suara sekalipun. Helga tertawa terbahak-bahak tubuhnya melayang terbang ke udara lalu berubah menjadi gumpalan awan putih keabu-abuan melayang menuju ke depan pintu Teater Scarla. Helga membuka satu telapak tangannya lebar-lebar kearah pintu maka, pintu pun...berderit, terbuka lebar.
Mata Helga berbinar ketika melihat ada Eve sedang duduk di podium Teater sedang menatap bahagia pada sesuatu hal. Mata Helga semula penuh binaran itu menjadi menggelap penuh emosi melihat apa yang tengah Eve lihat, juga dilihat olehnya. Helga membuka mulutnya lebar-lebar lalu muncullah awan putih keabu-abuan keluar dari rongga mulutnya dan bruk!! Helga jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
Awan itu memasuki ruangan Teater Scarla, bersama dengan jatuhnya tubuh Helga di lantai, saat itu juga pintu Teater Scarla tertutup tiba-tiba. Gumpalan awan itu kini berada di atas kepala Eve lalu bergeser ke sebelah kiri Eve, menjelma menjadi Pria yang menunjukkan tempat berlindung pada Eve dan Dimi dulu.
"Aku merindukanmu setelah sekian lama..." kata Pria itu lalu melirik sinis kearah panggung Teater kedua tangannya menutup kedua mata Eve. Dalam sekejap, kesadaran Eve mulai kembali ia merasakan seseorang telah menutupi kedua matanya.
"Dimi, kaukah itu?" lirih Eve was-was.
Deg!!
Seseorang yang menutup kedua mata Eve segera melepaskan tangannya tapi Eve tak melihat siapa pun di samping kanan, samping kiri, bahkan belakang!! Bulu kuduk Gadis itu meremang. Suara orang sedang menggelar drama Teater terdengar. Sebuah nyanyian klasik sangat merdu, indah namun menakutkan mengalun memanjakan telinga Eve.
Putri mengerjapkan mata lalu menyadari Eve dan Helga menghilang padahal ia sangat yakin, Eve dan Helga tidur mengapit dirinya. Putri segera duduk sambil mengusap kedua mata memastikan apa yang ia lihat benar adanya. Ya, kedua Gadis itu menghilang!! Apa mereka sedang ke toilet? Putri langsung berdiri berjalan kearah Angga.
"Ga, bangun!!" panggil Putri menepuk-nepuk lengan Angga.
__ADS_1
"Hmm" jawab Angga sekenanya tapi enggan membuka mata.
"Ck ayo, Eve dan Helga menghilang bangun...!!" pekik Putri menjewer telinga Angga hingga Pria itu mengerang marah terbangunkan seketika.
"Ayolah...ini masih malam..." protes Angga kesal.
"Jadi tidurmu lebih penting dari keselamatan Helga dan Eve?!" marah Putri sambil melotot.
"Apa?! Kau yakin mereka menghilang? Siapa tahu mereka berdua sedang mencari toilet?" pekik Angga setengah sadar.
"Bagaimana jika mereka tidak pernah kembali? Ayo bangunkan semua orang dan mencari mereka berdua" kata Putri memperingatkan. Maka Angga membangunkan para Pria dan Putri membangunkan para Wanita.
Braaaagh!!
Semua orang mendengar suara sebuah pintu tertutup sangat kencang.
"Itu berasal dari arah lorong koridor Teater Scarla!!" pekik Park sangat yakin pada pendengarannya lalu berlari kearah Teater Scarla di ikuti yang lainnya.
"Helga!!" pekik Val panik melihat rekannya terkapar lunglai di atas lantai. Ia berlari mencoba menyadarkan Helga.
"Helga bangun!! Helga kau dengar aku?! Helga" panggil Val menepuk pipi Helga hingga Gadis bernama Helga tersadar.
"Apa yang kau lakukan di depan pintu Teater ini?" tanya Val heran.
"Mimpi. Aku bermimpi...melihat...Eve di dalam sana bersama sesuatu yang tidak terlihat" lirih Helga. Gadis itu kebingungan kenapa ia terbangun dalam keadaan sangat letih?
"Sial!!" pekik Dimi lalu mencoba membuka pintu Teater tapi pintu itu seolah terkunci dari dalam.
"Kau harus mendobraknya sebelum Eve berakhir seperti Harry" kata Wang menyarankan sesuatu yang nantinya sanggup menyulutkan api permusuhan antara dia, Dimi dan Kim.
"Paling tidak kau tutup mulutmu saja, dan membantuku mendobrak pintu ini oke," jawab Dimi mencoba menahan amarah.
Bragh!! Bragh!!
Bahkan sebelum pintu itu mereka dobrak, sebuah kekuatan besar mencoba mendobrak pintu dari dalam. Spontan mereka semua bergerak mundur menjauhi pintu Teater Scarla.
Braaaagh!!
Kali ini dobrakkan lebih kencang membuat sebuah cetakan berwujud manusia yang membentur keras dari dalam pintu.
Braaaagh!!
WuuuuusssssHhhhh!!
Gebrakan terakhir ini, membuat cetakan tubuh manusia tersebut menjadi lubang tembus hingga semua orang di luar Teater Scarla mampu melihat apa yang ada di balik pintu. Sebuah angin besar dan gumpalan awan putih keabu-abuan muncul dari dalam lubang cetakan tubuh manusia.
Awan itu pergi begitu saja tanpa pikir panjang, Dimi mencoba memasukkan tangannya kedalam lubang mencari-cari knop pintu untuk membuka pintu dari dalam. Sebuah tangan meraih tangannya!!
"Dimi!!" teriak Eve panik. Dimi yang awalnya berteriak ketakutan mengira sesuatu yang lain telah menangkap tangannya mulai tenang.
"Buka pintunya Eve sekarang" perintah Dimi yang dipatuhi Eve.
"Tolong!! Ini susah sekali dibuka!! Kuncinya tidak dalam keadaan dikunci!! Tapi seolah terkunci seharusnya....kyaaaaaa!!" pekik ketakutan Eve terdengar memekakkan telinga Dimi dan lainnya. Bayangan hitam itu terlihat sangat besar, mampu menarik kedua kaki Eve hingga ia jatuh ke lantai lalu ditarik tanpa ampun menjauh dari pintu.
"Eve!!" teriak Dimi. Ia kini mencoba mendobrak sekeras mungkin demi keselamatan rekannya.
Bragh!!
Benturan keras membuat pintu itu akhirnya terbuka. Tunggu. Ini aneh sekali, kenapa pintunya mudah sekali di buka kali ini? Tapi pertanyaan itu sebaiknya dibahas nanti saja karena sekarang, hal yang paling penting adalah keselamatan Eve.
Dimi dan lainnya menghambur ke dalam dan tidak menemukan keberadaan Eve di mana pun juga. Hanya terlihat beberapa boneka manekin lilin sama persis seperti yang pernah di ceritakan Haru.
"Luar biasa...ini benar-benar sama seperti manusia asli" decak kagum Wang menuai sorotan mata tajam semua orang. Apa otaknya sudah tidak berfungsi dengan baik? Bukannya mencari Eve, dia malah mengagumi manekin-manekin lilin.
"Jauhkan Wang dari manekin lilin itu!! Semua!! Jangan tatap wajah manekin atau kalian akan terjerat padanya!!" pekik Haru menutup wajahnya dengan kedua tangan tubuhnya gemetaran ketakutan.
Dante membelalakkan mata begitu melihat tingkah Wang penuh hasrat ingin mengecup kening manekin lilin di hadapannya. Spontan Dante dan Dimi menarik tubuh Wang menjauh dari manekin lilin. Pria itu mengamuk ketika dijauhkan dari sang manekin layaknya dia telah di jauhkan dengan paksa dari kekasihnya.
"Kumohon...kita harus pergi dari sini!!" rengek Haru disela Wang meronta marah. Semua orang kecuali Wang setuju menggeret Wang keluar dari Teater itu. Begitu Wang diseret Dimi dan Dante melalui pintu Teater Scarla, rontaan Wang tak terdengar lagi, Pria itu hanya bertengger di bahu keduanya dengan tubuh lemas.
"Hei!! Wang!! Apa kau baik-baik saja?!" tanya Park panik melihat rekannya melemah begitu. Wang hanya menganggukkan kepala sambil mendongak menatap Park antara ragu dan ingin bicara.
"Ma-manekin itu...mereka...memanggilku. Ta-tapi...perhatianku hanya tertuju pada manekin di hadapanku" kata Wang masih lemas.
"Itu yang kurasakan juga terhadap manekin yang ada di dalam peti mati" bisik Haruko lirih.
"Kita harus tetap waspada oke, Haru pernah bilang, kalau sebuah manekin hidup, karena sebuah kecupan darinya bukan? Dan kita belum mengetahui, ada berapa banyak manekin di seluruh gedung Teater ini. Dan berapa banyak manekin yang hidup di pulau ini" kata El panjang lebar membuat semua orang diam mematung. Diam dalam kebekuan malam...
"Stop mengira-ngira. Hal yang paling penting, menyelamatkan nyawa Eve!!" pekik Kim menekankan apa yang harus dijadikan prioritas utama.
__ADS_1
"Cari Clamentine...atau kalian semua mati. Korbankan satu, cari Clamentine, dan kalian semua selamat" semua orang diam saling memandang satu sama lain. Tidak ada seorang pun yang mengatakan hal itu mereka sadar betul itu. Dari mana asal suara itu? Mata Berte terbelalak lebar mendapati apa yang dia lihat di balik tubuh Dimi, Dante, dan Wang!! Bayangan hitam!!
"Guys....Run!!" teriak Berte berbalik arah lalu berlari tunggang langgang diikuti oleh semua orang. Tawa menggelegar memekakkan telinga semua orang.