Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 9


__ADS_3

Aditi Aishwarya memilih berlari ke lantai dua, menuju Ruang Teater Sunpiere letaknya berlawanan dengan Teater Barley. Sesuatu sepertinya sedang mengejarnya!!


Blam!!


Pintu Teater Sunpiere tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Jelas Aditi panik lalu mencoba membuka pintunya. Tapi pintu itu seolah terkunci dari luar.


Bang!! Bang!!


Sesuatu membentur dengan keras pintu Teater Sunpiere sehingga Aditi langsung berlari mundur. Apakah ia harus keluar? Atau dia harus bertahan di dalam sini?


Bang !! Bang !!


"Aditi!! Ini aku!! Tolong bukakan pintu!! Kumohon dia semakin mendekat!!" teriak seseorang yang sangat Aditi kenal. Itu suara rekannya, sang Kameramen Daksa Mahesvara...


"Dak-Daksa!! Kaukah itu?!" pekik Aditi panik lalu mendekat kembali ke pintu.


"Ya!! Tolong bukakan pintu!!" balas Daksa menggedor-gedor pintu kali ini. Aditi berjuang dengan sekuat tenaga untuk membuka pintu tapi tenaganya tak cukup kuat untuk membuka pintu itu.


"Pintunya susah dibuka!! Ada seseorang yang mengunci pintu ini dari luar!!" teriak Aditi makin panik.


Bang!! Bang!!


Aditi kembali menjauhi pintu bersiap-siap melihat sosok rekannya mendobrak pintu.


Bang!! Bang!!


"Apa pun yang terjadi jangan buka pintunya. Mengerti?!" teriak Daksa dari luar menghentikan usahanya mendobrak pintu.


“Aditi!! Kau dengar aku?!” suara Daksa terdengar melengking membuat Aditi memahami situasi mengerikan menjebak rekannya. Aditi hanya bisa menangisi keadaan.


“Maafkan aku. Dia terlalu kuat...”kata Daksa terdengar putus asa.


Aaaaaarrrrgh!!


Pekikan ketakutan sekaligus kesakitan terdengar jelas di telinga Aditi. Gadis itu memilih berlari menjauhi pintu dengan deraian air mata. Tunangannya dibantai, tapi ia tak dapat berbuat apa pun!!


Krieeeeek....


Deg!!


Terpaksa Aditi tak lagi larut dalam tangis karena kini bahaya juga sedang mengintainya... Pintu Teater Sunpiere terbuka dengan sendirinya. Rasa takut mencekam mulai menghinggapi Aditi dari ujung rambut, hingga ujung kaki. Gadis itu melihat ada noda darah melumuri pintu Teater, sekaligus, terdapat genangan darah yang cukup banyak terdapat di karpet merah, tepat di depan pintu.


"Daksa...Daksa..." gumam Aditi sambil berjingkat menuju ambang pintu. Ia melihat ke kiri dan ke kanan tidak ada siapa pun di sana.


Blup!! Blup!!


KyaaaaAAAAaaaaa!! Pekik ketakutan Aditi menggema seketika melihat obor yang menyinari Teater Sunpiere mati bersamaan. Gadis itu memilih keluar dari ruang Teater Sunpiere sambil berlari tunggang langgang.


Blup!! Blup!!


Entah kenapa, obor tiba-tiba mati di seluruh lorong yang akan dilewati Aditi, hingga Gadis tersebut berhenti berlari. Dia tetap harus melangkah bukan? Dia tetap harus bertahan hidup!! Jika dia terus di sini hanya karena tak ada cahaya, itu cari mati namanya. Aditi bahkan takut untuk menyalakan layar Laptopnya karena itu justru akan memberitahukan keberadaannya pada musuh.


Brugh!!


Deg!!


Keningnya menubruk sesuatu yang keras!! Bukan...itu jelas, bukan sebuah dinding beton ataupun kayu.


SyuuuuuuSsssh.....


Bulu kuduk Aditi langsung meremang, ketika ia merasakan...nafas seseorang berhembus langsung ke wajahnya. Ia buru-buru mundur, lalu berjalan cepat menyerong untuk menghindari tubrukan ditempat yang sama.


Bats!!


Kresssaas....


KyaAAaaaa!!


Pekik Aditi merasakan helaian rambut kanannya ditarik lalu terpotong begitu saja!! Ia kini berlari ke segala arah...


Brugh...


Brugh....


Brugh...


BaaaaAaang!!


Suara bergedebukan itu berlangsung cukup lama, hingga ketika terdengar suara benturan...


Blaaaarrrrr!!


Seluruh obor di lorong tingkat dua menyala...apinya menari-nari seolah sedang merayakan sebuah kemenangan...begitu sisi tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua terlihat...., ternyata ada genangan darah yang membasahi seluruh tubuh Aditi yang terbujur lemas...setelah jatuh dari atas tangga, dan membentur dinding.


Aditi menatap langit-langit tanpa pergerakan sama sekali. Yang ia rasakan, seluruh tubuhnya mati rasa. Matanya sayu memandang bayangan Pria paruh baya di atas langit-langit. Nafas Aditi menderu kencang!! Ingin ia berteriak sekencang mungkin dan berlari!! Tapi ia tak dapat bergerak sedikitpun!!


Bugh!!


Bayangan hitam yang kini merubah dirinya ke dalam sosok hitam legam manusia itu meluncur ke bawah menimpa tubuh Aditi hingga meregang nyawa dan mati seketika.


Plok!


Plok!


Plok!


Bayangan hitam yang berada di atas tubuh Aditi mendongak, menoleh ke arah suara tepukan tangan itu, lalu menyeringai lebar...kini bayangan hitam lainnya menyodorkan tangannya pada bayangan itu lalu disambut dengan suka cita, hingga ia berdiri dengan kokoh.


Puas bersenang-senang?


Dia juga mudah tertipu. membosankan!! Kata sang bayangan bersuara Pria. Tiba-tiba bayangan yang satunya menegang!!


Jangan buang-buang waktu lagi. Dia adalah sumber kehidupan kita dan Putri kita kata bayangan hitam bersuara Wanita.


Tidak sekarang...jawab bayangan hitam bersuara Pria terkekeh. Kedua bayangan hitam mulai menghilang dalam bentuk asap yang mengepul entah kemana tujuan mereka selanjutnya.


Bianca Concetta menutup mulutnya rapat-rapat di balik panggung Sunpiere. Air matanya berlinang ketika seseorang telah kembali menjadi korban. Teriakan Aditi menjelaskan telah terjadi sesuatu padanya saat ia beranjak keluar dari ruang Teater Sunpiere.


Karena rasa takut luar biasa, ketika ia melihat Aditi memasuki ruangan, dan mendengar suara teriakan dan suara dobrakkan pintu dari Daksa, Bian menjadi lumpuh mendadak!! Ia tak dapat bicara bahkan berteriak sekalipun. Kakinya dan seluruh tubuhnya menjadi lemas bagai tak bertulang.

__ADS_1


Ia melirik ke arah seorang Pria yang terkapar tak sadarkan diri tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Bahkan Pria itu sudah berada di sana, sejak Bian baru saja bersembunyi di balik panggung Teater. Bian hanya bisa menangis, panik, sekaligus takut.


Jika Daksa asli telah diburu oleh sang bayangan hitam, hingga Aditi berlari keluar untuk menyelamatkan Pria itu, lalu...siapa Pria yang terkapar tak sadarkan diri tak jauh darinya? Wajah, postur tubuh, gaya rambutnya, semua menjelaskan bahwa sosok Pria itu adalah Daksa.


Seseorang!! Tolong!! Tunjukkan padaku Daksa yang asli!! Tolong!! Pekik kata hati Bian. Perlahan, sosok Pria mirip Daksa menggeliat lalu mengerang sambil mengusap-usap tengkuknya. Pria itu menatapnya kebingungan.


"Bian..., kau baik-baik saja? Kenapa kau ketakutan begini? Apa ada bayangan hitam di sekitar kita?" bisik Daksa beringsut mendekati Bian yang justru semakin menangis, dan menatapnya horor.


"Kau...takut padaku? Tapi apa yang kulakukan padamu?!" kata Daksa kebingungan.


"Aku, berlari kemari, dan mendengar suara sesuatu berlarian di koridor. Karena itu, aku berniat bersembunyi disini. Tapi lenganku menyenggol sesuatu, dan sebuah benda yang sangat keras menimpa tengkukku. Hanya...itu...yang aku ingat" kata Daksa menjelaskan. Bian mulai terlihat tenang ketika Daksa menyentuh telapak tangannya. Tangan Daksa hangat!! Artinya dia manusia. Dia Daksa yang asli!!


Nafas Bian yang tak beraturan mulai stabil, bahkan tubuhnya mulai kembali melentur dan dapat gerakkan kembali.


"Ku pikir aku bersama hantu yang menyamar menjadi dirimu Daksa..." Desis Bian sangat lega.


"Apa maksudmu?" tanya Daksa mengernyit bingung. Bian menggapai kedua bahu Daksa dengan wajah sedih.


"Daksa...aku melihat, Aditi tadi kemari"


"Aditi? Sembunyi di mana dia?" tanya Daksa berusaha mencari sosok Aditi di sekitarnya. Ketika Daksa ingin berdiri untuk mencari Aditi, Bian justru menekan kedua bahu Daksa supaya tetap duduk.


"Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu" kali ini raut wajah Bian menegang.


"Aditi berlari kemari, setelah aku bersembunyi darinya di sini, karena aku mengira yang datang sesuatu yang lain. Tapi ternyata itu dia. Begitu Aditi datang, pintunya tertutup dan terkunci dengan sendirinya"


"Aku pun panik, aku berjalan ingin menghampirinya, tapi...kakiku tersandung kakimu. Saat aku berusaha membangunkanmu, sesuatu terjadi. Seseorang berusaha mendobrak pintu itu. Kau tahu siapa yang berusaha mendobrak pintu?"


"......."


"Itu kau..."


"Bagaimana bisa? Bahkan aku sudah datang lebih dulu dari kalian berdua?!" desis Daksa merasa dipermainkan Bian.


"Aku serius. Itu kenapa, saat kau sadar aku sangat ketakutan. Terlebih lagi, kau berada sedekat ini denganku"


"Lalu apa yang dilakukan Daksa palsu itu? Apa yang terjadi pada Aditi?!"


"Daksa palsu berusaha mendobrak pintu tapi gagal. Ia sukses membuat kami beranggapan, dia adalah kau. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya, aku hanya bisa melihat Aditi dipermainkan emosinya oleh Daksa palsu. Hingga Daksa palsu berteriak, dan semuanya menjadi hening"


"Pintu awalnya terkunci dari luar anehnya, pintu itu terbuka lebar dengan sendirinya. Setelah itu, Aditi mencarimu keluar. Aku tidak bisa mendekatinya bahkan berteriak untuk menghentikannya karena tiba-tiba tubuhku lumpuh total"


"Aku akan mencarinya" kata Daksa berdiri tapi tangan Bian menahannya.


"Terjadi sesuatu pada Aditi" kata Bian berkaca-kaca. Daksa berjongkok menatap tajam kearah Bian.


"Kau tahu, apa yang terjadi padanya?" pertanyaan Daksa disambut gelengan kepala Bian.


"Aku hanya mendengar Aditi berteriak. Itu saja"


"Artinya masih ada harapan hidup. Aku tidak bisa kehilangannya" kata Daksa kembali berdiri menggapai tangan Bian.


"Sampai kapan kau bersembunyi? Sebentar lagi matahari terbit. Kau masih mau tetap di sini, atau pergi bersamaku?" tawar Daksa sambil tersenyum dipaksakan.


"Dari mana kau tahu matahari akan terbit? Kita di dalam gedung Teater"


"Udaranya...aku mencium bau udara pagi..." katanya mengarang indah. Bian tak punya pilihan. Meski berkelompok tidak dapat menjamin nyawa masih ada di dalam tubuhnya, setidaknya...ada teman itu saja cukup baginya.


Bukankah ini lorong rahasia berlantai kayu di lantai tiga? Lorong kecil yang gelap?! Ugh!! Kenapa sekarang tempat ini sangat terang?


Bugh!!


Awww!!


"Kau sudah bangun, Nona Evelina Dushenka?" sapa sesuatu yang tak nampak.


"Mau apa kau membawaku kemari?!" teriak Eve tapi sesuatu tak nampak itu mampu membungkam mulut Eve dengan cepat.


"Sssst!! Kau ingin mereka yang mendapatkanmu? Kau akan selalu diliputi kegelapan yang akan memenjarakanmu seumur hidupmu, jika itu terjadi...diamlah, dan jadi Gadis yang manis..." kata sesuatu tak nampak lalu dibalas dengan kedipan mata Eve sebanyak dua kali sebagai tanda persetujuan.


"Kau bisa menyelamatkan kami semua? Kau bisa membantu kami keluar dari sini?" bisik Eve.


"Tidak...aku hanya ingin menyelamatkanmu saja...bukan yang lainnya"


"Tapi kenapa?"


"Kau...telah lama melupakanku...aku sangat merindukanmu..." seseorang terdengar berbisik di telinganya bersamaan dengan itu, hembusan udara menyapu rambut Eve di sekitar telinganya. Gadis itu kian pucat...ia hanya sanggup menelan ludah.


Bang!!


Bang!!


Suara lantai kayu tempat Eve terbaring membuat jantung Eve berdegup kencang. Gadis bernama Eve segera membalikan badan meski tahu betapa sempit tempat persembunyiannya, hingga terlihat dalam posisi tiarap mengawasi asal suara berisik tersebut. Matanya membelalak lebar menyadari nyawanya sedang terancam!! Sebuah tongkat besi yang sangat tajam pada ujungnya, mampu menembus dinding lantai lorong kayu tempat Eve terbaring.


Bang!!


Bang!!


Benda mematikan itu kini semakin dekat!! Eve gemetaran ketakutan...ia ingin merangkak ke belakang, sebelum benda itu benar-benar menjadikannya daging tusuk, tapi hantu Pria tak terlihat itu menghalanginya!!


Kalian senang sekali mencari masalah rupanya...Hmmmm


“Siapa maksudmu?”


Dua Iblis yang merindukanmu...desis makhluk tak terlihat itu penuh amarah.


Bang!!


Benda tajam itu kini menusuk lantai kayu tembus tepat di bawah leher Eve!! Mata Gadis itu langsung melebar, tapi sebelum benar-benar menggores apa lagi menusuk leher Eve, sesuatu menariknya ke belakang seketika!!


Bruk!!


Auch!!


Pekik Eve sambil mengelus-elus pantatnya yang sakit. Sesuatu menarik tangan kirinya, hingga Eve dapat berdiri tegap.


"Jadi seperti ini, cara mereka menyatakan rindu? Huh?!" protes Eve yang disambut dengan tangan kirinya yang ditarik begitu saja tanpa peringatan sedikitpun.


"Kau mau membawaku ke mana?"

__ADS_1


"Ke tempat yang aman" kata suara tersebut tetap membawa Eve berlari. Eve melihat punggung tangan besar sedang menggenggam telapak tangannya, lalu lengan tangan mulai terlihat, kaki dan seluruh tubuhnya kini dapat Eve lihat sangat jelas.


Blup!! Blup!!


Semua obor telah mati!! Langkah kaki Eve mulai tertahan.


Diam dan jangan berteriak bisik makhluk di samping Eve disambut anggukan kepala Eve. Ya ampun..., ternyata selama ini, yang menolong Dimi dan dirinya bukanlah manusia tapi...hantu Pria itu. Eve menghela nafas panjang lalu tertahan seketika, ketika hantu tersebut mengangkat tubuhnya lalu membawanya pergi entah kemana.


Bruk!!


Sebuah tubrukan terjadi!!


Blarrr!! Blarr!!


Obor kembali menyala, mata Eve tertuju pada seseorang yang juga mengerang kesakitan akibat tubrukan itu.


"Eve?!" pekik Alberteen Bernia, Hannalie Jemma dan Eithan Wilfred bersamaan. Eve hanya diam tak berkutik, lalu mencari-cari sesuatu di sekitarnya.


"Ada seseorang bersamamu sebelum kami tiba tadi?" tanya Eithan mengerutkan kening sambil ikut mencari sosok yang dicari Eve.


Trap


Tap Tap


"Eve!!" teriak seseorang yang sangat ia kenali. Gadis itu menoleh setelah berdiri dan...


Bugh!!


"Auch!!" pekik Eve ketika keningnya tak sengaja terantuk kening orang itu.


"Ups, sorry. A-aku terlalu senang melihatmu kembali. Kau masih hidup" katanya sambil memeluk erat Eve.


"Oke..., ku ingatkan kalian ini bukan drama roman...nyawa kita dalam bahaya sekarang. Bisa kalian lanjutkan setelah kita semua keluar dari pulau ini saja??" geram Berte ketakutan.


"Ini sekedar...rasa syukurku saja" kata Dimi menyeringai tak enak hati.


"Ayo kita turun ke bawah..." Alie merasa bulu kuduknya mulai meremang kembali.


"Tidak...kurasa ada yang masih tertinggal. Ayo kita berpencar mencari mereka ke ruang Teater" kata Eve cemas.


"Baiklah...tapi kita harus cepat!!" kata Alie sambil menggamit tangan Berte dan Eithan menuju ruang Teater Paulo. Eve mulai berbalik arah, pergi ke Teater Alexander bersama Dimi.


Berte, Alie dan Eithan mendekati pintu Teater Paulo. Ragu-ragu Berte membuka pintu itu dan terbelalak kaget. Emiel Huibert, Eldert Diederick, Park Mayleen dan Wang Xiaohui telah mengecup kening keempat boneka manekin dari lilin. Saat mereka semua telah tersadar, mereka justru kebingungan kenapa mereka berada di dekat manekin.


"Benar-benar sesuai dengan apa kata Haruko..." gumam Eithan yang juga mulai terhipnotis dengan manekin cantik di dekat pojok pintu ruang Teater Paulo. Sebelum ia sempat mengecup boneka manekin tersebut, tubuhnya telah ditarik dengan paksa oleh Alie dibantu Berte dan kawan-kawan. Mereka semua bergegas keluar dari ruangan itu.


Braaaak!!


Bluk!! Bluk!!


Suara pintu di tutup kasar lalu semua obor di dalam Teater Paulo otomatis padam!! Hanya ada beberapa cahaya di dalam sana...cahaya itu, berasal dari...mata, keempat manekin yang telah dikecup oleh para manusia bodoh itu!!


Pintu Teater Alexander dibuka Dimi mereka merasa ada hal yang janggal di situ.


Hmph!! Hmmmmph!!


Sesuatu bergerak-gerak di dalam tirai merah yang teronggok begitu saja di tengah-tengah panggung Teater.


"Apa itu manusia?" kata Dimi sambil melirik ke arah Eve.


"Kita tidak akan tahu tanpa memeriksa langsung bukan?" kata Eve sambil berlari ke arah gulungan tirai.


"Helga!!" pekik Eve lalu berusaha membebaskan Helga, menyobek tirai yang telah melekat seperti lem dengan sebuah pisau lipat milik Dimi. Alangkah terkejutnya mereka, ketika mendapati yang terperangkap di dalam tirai bukan hanya Helga Winifred, tapi...Valdemar Conrad, Haruko Izanami, Mamoru Nobuo, Dante Benvenuto, Reswani Putri Syailendra dan Riwangga Angger Pati.


"Terima kasih...jika lebih lama lagi di dalam sini, kami pasti akan mati kehabisan oksigen" kata Angga sambil menghela nafas panjang.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Ayo kita pergi sekarang!!" teriak Putri melihat sesuatu bergerak menggeliat-geliat di balik tirai yang membungkusnya tadi.


Semua orang mengikuti arah sudut pandang Putri. Awalnya, tirai merah darah hanya berupa tumpukan tirai tapi, kemudian tirainya bergerak, seiring dengan pergerakan, tirainya semakin mengembang, makin membesar...seolah ada seseorang di dalamnya.


Bayangan hitam!! Ia menggeliat perlahan keluar dari dalam tirai, menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang tajam dan menguning bagaikan telah lama berkarat!! Semua orang menghambur menuju pintu Teater Alexander kecuali Eve dan Haruko. Tubuh mereka berdua gemetaran, keringat dingin membasahi pelipis mereka.


Bayangan hitam mulai berjalan menuju ke arah bayangan Eve dan Haruko. Mendadak dengan kompak, Dimi dan Moru menghentikan langkah lari mereka. Membiarkan kawanan mereka pergi begitu saja, tak menyadari mereka juga telah menghilang.


"Eve!!"


"Haru!!" keduanya menyebut nama rekan masing-masing sambil berbalik arah dan berlari masuk kembali ke dalam Teater Alexander. Saat bayangan hitam akan menggapai bayangan Eve dan Haruko, dua bayangan manusia lain mengacau!! Tubuh Eve dan Haruko kini ditarik Dimi dan Moru secepatnya, menjauh dari sang bayangan hitam.


"Jadi kalian ingin ku bantai duluan? Xixixixi" kata sang bayangan hitam penuh semangat.


"Kelemahannya ada pada bayangannya di lantai. Kita cukup menyerang titik lemahnya saja" bisik Moru mengingat kejadian di waktu lalu saat menghadapi sang bayangan hitam Pria.


"Apa kau yakin?"


"Sangat" kata Moru mengangguk sangat percaya diri. Bayangan hitam menyeret bayangan Dimi seketika Pria itu jatuh tertelungkup di atas karpet merah, tertarik lebih mendekat pada sang bayangan hitam.


"Dimi!!" teriakan histeris Eve dan Haruko. Moru tak tinggal diam dia mengambil pisau lipat yang tergolek di atas karpet merah tak jauh dari tempatnya berdiri. Moru menggoreskan pisau lipat di atas karpet merah, tepat saat tangan bayangan hitam itu, mencekik bayangan Dimi.


Aaaaaaargh!!


Darah hitam merembes dari balik karpet merah yang terobek oleh pisau lipat itu!! Seolah bayangan sang bayangan hitam Perempuan di karpet merah tersebut mengalami luka yang cukup serius. Usaha Moru membuahkan hasil Dimi dapat ia tarik mundur mendekat pada para Gadis yang mulai ketakutan.


"Xixixixi kalian terhibur dengan pertunjukkanku? Hmm?" kekeh bayangan hitam bersuara Perempuan. Spontan Dimi menggeret tangan Haruko, dan Moru menggeret tangan Eve mereka lari tunggang langgang tanpa sadar telah salah pasangan. Begitu mereka melihat kelompok lain sudah ada di ambang tangga, Moru langsung memberi peringatan.


"Lari!! Musuh di belakang!!" teriak Moru hingga semua orang pun menuruni tangga dan tiba di lantai dua. Langkah mereka terhenti, ketika tepat di persimpangan tangga, muncul Bian dan Daksa berjalan berdampingan.


"Syukurlah kalian berdua juga selamat. Hey, di mana Kim dan Aditi?" kata Putri keheranan.


"Soal Aditi, pasti terjadi sesuatu padanya. Dia keluar mencari keberadaanku dan menghilang begitu saja. Masalah Kim...sedari tadi kami belum melihatnya sama sekali" terang Daksa sambil mengacak-acak rambutnya.


"Ayo kita cari mereka berdua sekarang. Apa kau telah mencari di seluruh lantai dua ini?" tanya Dante panik.


"Kami belum memeriksa ruang Teater yang di sebelah sana" jawab Bian menunjuk ke koridor sisi kiri. Mereka langsung membagi kelompok mencari Kim dan Aditi. Belum juga Daksa sempat membuka pintu ruang Teater tempat Darius dibantai, sudah ada teriakan nyaring di tangga penghubung antara lantai satu dan lantai dua.


Darius dan sisanya langsung berlari kearah tangga dan melihat kelompok lain menatap horor terhadap sebuah obyek di bawah tangga. Daksa membuka jalan memaksa semua orang yang menghalangi pandangannya agar menyingkir. Lutut Daksa seketika menjadi lemah...ia jatuh bersimpuh tepat di atas anak tangga.


"Aditi!!" teriakan Daksa sangat menyiksa semua orang di sana.


"Daksa. Bagaimanapun juga, kita semua harus kuat. Jangan lupa masih ada satu lagi orang yang mungkin masih hidup" kata Val menepuk bahu kanan Daksa.

__ADS_1


"Kim!! Ya kita harus menyelamatkan Kim" sambut Haru menyemangati semua orang.


__ADS_2