Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 4


__ADS_3

Aaaaaa!!!


Teriakan Rulby terdengar sampai ke kamar sang Ibu. Panik!! Ia langsung berlari menuju kamar Rulby tapi permadani di bawah kakinya bergeser hingga sang Ibu terpeleset jatuh.


"Auch!!" rintih sang Ibu merasakan pinggang yang terbentur keras ke lantai.


PRIANG!!


Suara kaca yang pecah itu berasal dari kamar Rulby!! Tak peduli lagi dengan pinggang sakit, sang Ibu berusaha mati-matian untuk bangkit lalu berlari sekencang mungkin kearah pintu kamar Rulby. Ia buka pintu kamar itu, dan melihat Loy sedang berdiri di ambang kaca jendela Rulby mengetahui kedatangannya, Loy memberi kode untuk diam tanpa kata.


Loy mengacungkan telunjuk ke mulutnya sambil menatap tegas pada sang Ibu Rulby. Ibu Gadis itu menatap sosok Rulby yang sedang berjongkok bersiap untuk menyerang siapa pun yang mengganggu.


Kkkkrrrk


Krrrrrrk


Suara itu keluar dari mulut Rulby. Gadis tersebut menatap kearah Loy dan sang Ibu dengan cara ganjil. Loy menatap tegang mata Rulby yang terpejam tertutupi selaput yang biasanya hanya dimiliki seekor ikan. Rulby masih berjongkok meletakkan kedua punggung tangan ke arah kedua mata berselaputnya.


Mata?! Dua mata ya, satu mata di telapak tangan kanan, satu lagi mata di telapak tangan kiri. Apa yang terjadi pada Rulby?! Rulby kini telah di rasuki makhluk abstrak, berusaha melihat siapa mangsa paling lezat diantara kedua manusia tak jauh darinya?


Kekekekekekkkk!!


Ah, makhluk itu terkekeh melihat sang Ibu. Loy menyadari satu hal, perhatian makhluk yang merasuki Rulby tertuju langsung pada sang Ibu itu artinya...si Ibu dalam bahaya. Rulby melompat dari tempat tidur keatas lantai menatap lapar pada mangsa, air liur kehijauan mengalir dari sela-sela bibir mungil Rulby. Loy tegang menghadapi makhluk semacam ini ia berusaha berpikir keras sebelum semua terlambat!!


Ah ya, makhluk itu hanya bisa melihat dengan kedua telapak tangan Rulby bukan? Padahal kedua mata Rulby sebenarnya normal. Jadi bagaimana bila...pandangannya dialihkan? Atau ditutup? Ini sangat sulit berhubung terdapat kuku panjang, nan tajam pada jemari lentik Rulby.


Makhluk tersebut kembali melompat kearah sang Ibu spontan Loy nekat menarik makhluk itu ke belakang seolah ia sanggup membanting makhluk itu ke lantai tapi usaha Loy sia-sia sekuat tenaga ia ingin menggeret tubuh Rulby ke belakang, tidak ada hasilnya karena tubuh Gadis itu kini, sangatlah kokoh juga begitu berat. Loy justru, yang kini terlempar membentur dinding kamar Rulby.


"Pergi!! Lari!!" teriak Loy pada sang Ibu Rulby. Mendengar instruksi dadakan Loy jelas membuat Wanita itu panik. Lari? Kemana ia akan berlari? Tapi ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan!! Ia berlari dan berlari diikuti oleh sang makhluk yang bersemayam ke dalam tubuh Rulby.


Otak Wanita itu berputar cepat memikirkan sebuah tempat di samping rumahnya, mini home teater!! Ya, Itu tempat paling aman sekarang. Begitu sampai di mini home teater, makhluk itu berdiri diam mematung. Tubuhnya berasap menapaki halaman mini home teater yang terpisah dari rumah mereka namun bersebelahan.


"Mom!!" teriak Rulby dengan tubuh berasap. Sang Ibu menghentikan lari diambang pintu mini home teater. Sang Ibu melihat Rulby muntah, tubuhnya sangatlah terlihat lemas.


"Mom!! Aku sakit...bantu aku...ayo kita pulang...Mom..." rengek Rulby mengulurkan tangan. Sang Ibu melangkah tapi kembali terhenti ketika mendengar teriakan Loy.


"Jangan bergerak!! Dia hanya ingin supaya kau keluar dari sana agar ia mudah memangsamu setelah menjauh dari mini home teater!! Masuklah kedalam!! Rulby yang asli pasti akan bisa memasuki mini home teater!!" teriak Loy menyadari adanya mantra pelindung di dalam sana.


"Ada apa ini?" tanya seorang tukang kebun yang memang telah di perkerjakan untuk mengelola halaman rumah mereka.


"Anak saya dirasuki makhluk jahat"


"Tunggu sebentar" kata sang tukang kebun masuk kedalam mini home teater. Tak lama kemudian sang tukang kebun membawa satu botol air mineral dibukanya tutup air mineral itu lalu mengucapkan doa dan ditiupkan ke dalam air putih. Tukang kebun melangkah mendekati Rulby sambil membaca doa-doa.


Krrrrrrrrk


Krrrrkkk


Geram Rulby menatap marah pada sang tukang kebun.


"Tuan Loy, boleh saya minta tolong memegangi tangan Nona Rulby" pinta sang tukang kebun menatap Loy penuh keyakinan.


"Aku sudah mencoba menahannya tapi dia sangat kuat"


"Itu karena dia di dalam rumah terkutuk itu. Sekarang dia jauh lebih lemah. Tolong kerja samanya" jawab sang tukang kebun mencoba meyakinkan. Loy berlari menggamit kedua lengan Rulby kuat-kuat. Tanpa menunggu lama, disiramkannya air mineral yang sudah di doakan itu ke atas kepalanya.


Aaaarrrrgh


Krrrrrrk

__ADS_1


Krrrrrrrks


Pekik makhluk itu kesakitan Rulby menggelepar-gelepar di atas tanah. Sang tukang kebun itu pun mengucapkan ayat-ayat suci. Seketika, mata Rulby kembali normal. Juga tidak ada lagi mata di kedua telapak tangannya.


"Apa kau bisa membantuku mengusir semua makhluk di dalam rumahku?"


"Tidak...rumah itu seperti penjara bagi mereka. Jika kita usir ke tempat lain, mereka justru akan membahayakan orang lain. Kalianlah yang harus pindah supaya mereka tetap tersegel disana. Cukup hanya satu saja yang keluar lepas dari segel dan menyerang Anda",kata tukang kebun memperingatkan.


MISTERI ELZAEDAR ABD 156


Aku adalah seorang reporter sebuah majalah Wonders Of The World khusus divisi misteri, horor, supernatural and bla bla blah...kamu tahulah ya, jadi...tak perlu bercerita panjang lebar karena yah, aku tahu kau tak suka hal bertele-tele. Seseorang menghubungiku, meminta tolong untuk memecahkan sebuah misteri di dalam rumahnya yang di penuhi dengan kaca.


Entah apa yang terjadi di dalam sana hingga semua orang yang pernah tinggal tidak selamat kecuali si penelepon gelapku ini. Awalnya aku sama sekali tak berminat karena aku pikir, ini hanyalah telepon dari orang sakit jiwa tapi sesuatu membuatku mempertimbangkannya kembali. Aku berselancar di dunia maya malam itu, meski perutku sudah melilit minta makan.


Ku ketik Elzaedar abd 156 mataku tertuju pada beberapa artikel surat kabar mengenai banyaknya kejadian mengerikan dirumah itu dari tahun ke tahun. Ada yang mati karena ledakan gas, ada yang menghilang bagai ditelan bumi, ada yang mati menerjang kaca jendela kamar lalu melompat bebas dan berakhir meregang nyawa.


Aku bergidik sekaligus merinding firasatku, majalah ini akan sangat booming jika aku dengan serius menekuni. Aku pencet tuts telepon kantor untuk menghubungi rekan seperjuangan Ferghus Cloy...


"Huuu yeah Mom.... Kau memanggil Dada...?" entah kenapa dia selalu mengatakan Dada sebagai kalimat pengganti Dady dan menyebutku Mom memang kapan aku melahirkannya huh?!


"Berhenti menonton film porno dan selalu menyebut kata Dada menjijikkan itu bung, aku punya kabar bagus aku harap kau, segera datang ke kantor"


"Kau mengganggu kesenanganku" desis Ferghus dengan nada arogannya.


"Jadi kau tak butuh lagi kucuran dollar sayang?" bujukku kesal.


"Aku kesana sekarang" mendadak Pria itu menjadi super semangat. Kurang dari satu jam, aku menunggunya, lalu melihat Ferghus Cloy berlari kecil membuka pintu dan segera duduk di hadapanku.


"Ku harap kau mendatangkan uang sebanyak mungkin Adeline Minna ..." kata Pria itu menatapku super tajam. Hal yang paling ia benci adalah diperintahkan bekerja di luar jam kantor karena itu artinya, ia sedang ingin bersenang-senang dengan dunia yang hanya bisa dipahaminya sendiri.


Aku hanya memberi kode diam mencoba menghubungi sang penelepon gelap pemilik rumah Elzaedar abd 156 dalam mode loudspeaker.


"Oh, umm, aku Adeline Minna reporter majalah...."


" Wonders Of The World" potong dari seberang.


"Ah ya, begitulah. Bisakah saya bicara dengan pemilik rumahnya langsung?”


"Mom sakit semenjak pergi dari rumah peninggalan Dadku. Kau bisa bicara denganku saja" sahutnya sedih.


"Saya turut prihatin untuk itu. Saya bicara dengan Nona siapa?"


"Rulby Corner. Panggil saja Rulby"


"Jadi, fenomena apa saja yang telah Anda dan Mom Anda hadapi di dalam rumah tersebut?" tanyaku lembut.


"Aku meminta tolong pada kalian untuk menyelidiki rumahku dan membantuku merebut rumahku kembali dari tangan makhluk jahat itu bukan untuk menumpang tenar Nona" jawab Rulby dingin mendengar pertanyaan tak penting dari seberang.


"Tapi kami butuh informasi dari Anda dan keluarga Anda tentang rumah itu, untuk mempermudah investigasi kami" jawabku bersikeras.


"Datanglah ke Elzaedar besok pagi, jam 08.00 akan lebih memuaskan jika Anda mewawancarai saya sambil melakukan penyelidikan langsung" jawab Rulby lalu memutuskan sambungan telepon begitu saja. Ferghus Cloy berdehem sambil menatap mataku super tajam sekali lagi.


"Jadi informasi apa yang akan aku dapatkan hari ini selain mendengarkan kau menelepon Rulby Corner?"


"Sebenarnya ini ide gila tapi patut diperhitungkan. Kemarilah aku punya kejutan menarik untukmu" jawabku sambil memberi ruang bagi Ferghus untuk melihat hasil penelusuran Google ku malam ini. Ferghus Cloy ternganga membaca semua artikel surat kabar, menatapku sambil berkedip berulang kali tak percaya.


"Apa kamu yakin, kita akan meliput rumah ini?!" pekik Ferghus dengan wajah pucat pasi menatapku panik, yang membalasnya dengan anggukan penuh keyakinan.


"Kau boleh mengajakku ke tempat angker mana pun, asal jangan kesana" tolak Ferghus mengambil sapu tangan dari dalam saku celana lalu menyeka keringat dingin di pelipisnya.

__ADS_1


"Seorang petualang sepertimu merengek seperti bayi di hadapanku hanya karena rumah itu?!" pekikku keheranan.


"Please...Ayahku seorang Polisi yang menyelidiki hilangnya para penghuni rumah itu. Dan kenyataan yang ada adalah, mereka benar-benar lenyap!! Kau tahu artinya apa?! Nyawa kita jadi taruhannya saat kita mulai memutuskan untuk menyelidiki rumah laknat itu!!" bentakan Ferghus menggema di ruangan kerja kami.


"Jika kita berhasil menyelidiki rumah itu, majalah kita akan menjadi majalah paling dicari!! Ribuan bahkan ratusan juta dollar bisa kita raup dalam hitungan detik. Oh, ayolah...kumohon bantu aku" jawabku memelas dengan sangat. Ini adalah soal karierku, bahkan penghasilanku bagaimanapun caranya, aku bertekad untuk meliput rumah itu.


Memangnya rumah itu seseram apa hingga seorang Ferghus yang garang bersikap layaknya seekor anak anjing?


"Oke, lupakan soal itu, kerjakan hal paling kau sukai, kita bekerja sendiri-sendiri mulai sekarang" kataku sambil berkemas pulang.


"Wanita keras kepala"


"Apa pun itu, aku akan tetap kesana titik" jawabku menyambar tas jinjingku, berjalan melewatinya lalu beranjak jalan kearah pintu.


"Oke...., besok jam 08.00 " kata Ferghus sambil mengacak-acak rambut frustasi.


"Apa?"


"Kita bertemu disana besok jam 08.00 apa kau puas sekarang?" jawab Ferghus lantang. Ah ya, teramat sangat puas dan itulah mauku.


Mendengar alunan musik sambil mengemudi adalah hal yang paling disukai oleh Ferghus Cloy terlebih lagi jika ada sepuntung rokok menemani perjalanan ah ya, tidak lupa kopi sebagai pelengkap penderita. Ferghus berdecih begitu melihat banyaknya pasangan muda mudi berjalan bergandengan tangan, ditengah jalan tanpa peduli sekitarnya.


Akhir minggu menyebalkan!! Batin Ferghus mengumpat kenapa Gadis muda itu harus memintanya datang sepagi ini? Ferghus menggeram kesal melihat beberapa pasangan muda mudi berjalan lambat di depan moncong mobil kesayangannya itu. Hello..., jatuh cinta memang hal terkonyol di dunia bukan? Sejak kapan jalanan umum jadi jalan milik nenek moyangnya begini?


Apakah sebuta itu yang namanya cinta? Apa kata telenovela yang pernah ia dengar, dari hasil ia tak sengaja menguping suara televisi tetangga samping rumahnya? Dunia....dunia mi... Ah, dunia milik berdua. Bagaimana bisa? Ribuan bahkan triliunan manusia di muka bumi ini tidak terlihat oleh mereka?


Tanpa harus menunggu suasana hati semakin panas, ia memencet klakson sekeras dan sepanjang mungkin supaya mereka merasa, selain berdua, ada orang lain lagi yang nampaknya mereka lihat sebagai seekor nyamuk nguing nguing, meminta sedikit jalan untuk lewat atau akan Ferghus sedot darah mereka sampai habis!!


Pikirnya membayangkan seorang Ferghus Cloy adalah seekor nyamuk. Muda mudi itu melolong tak suka kebersamaan mereka di ganggu gugat begitu saja oleh sang pengemudi mobil. Saat itu, kegilaan Ferghus Cloy mulai muncul. Ia tersenyum sinis lalu...


Brum....


Brummmm....


Sontak para muda mudi itu panik lalu menyingkir dari hadapan mobil Ferghus. Tanpa dikomando, Ferghus langsung melaju kencang tak peduli lagi lolongan tidak penting dari bibir mereka.


Terdengar suara berdecit dari belakang mobil milik Adeline Minna. Wanita itu langsung keluar dari dalam mobil lalu membanting keras karena kesal.


"Kenapa kau datang lama sekali? Untung Gadis itu tidak berencana pergi kemana-mana hari ini" protes Adel sambil melotot kearah Ferghus.


"Aku tidak mengira kau sudah sangat merindukanku secepat itu Mom...,Ayolah...aku hanya terlambat setengah jam" kata Ferghus sesantai mungkin.


"Stop!! Kita tidak punya banyak waktu untuk meributkan hal tidak penting disini. Rulby Corner, prioritas utama kita" bentak Adel kesal.


"Ayo kita temui tambang emas kita..." sambut Ferghus sambil berjalan mendahului Adel.


Ting


Tong


Ting


Tong


Suara bel rumah mewah penuh kaca itu mengumandang diudara. Sebenarnya, sejak Adel melangkah menuju kolam renang, ada hal yang mengganjal di hatinya tentang rumah yang akan dikunjungi itu. Ferghus terus memencet bel tanpa putus asa. Ya, sudah kepalang basah sebelum ini Ferghus mengharamkan kedua kakinya menginjak rumah ini tapi lihat hari ini?


Bahkan ia sekarang tidak hanya akan menginjakkan kaki di tanah rumah terkutuk itu malah ia akan masuk ke dalam!!


Krieeeeet

__ADS_1


Suara pintu kaca itu di buka dari dalam, dan menampilkan seorang Gadis cantik berambut pirang, bermata lentik, tidak lupa dengan senyuman indah merekah ketika menyambut mereka berdua.


__ADS_2