Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Muslihat 2


__ADS_3

***Kemana tempat manusia pergi setelah meninggalkan dunia fana ini? Mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Lalu mereka harus mendapatkan balasan atas perbuatan mereka di dunia. Dan ganjaran dari amal perbuatan mereka hanya ada dua pilihan. Surga atau Neraka.


Bagi yang baik amal perbuatan mereka, Surga. Bagi yang buruk amal perbuatan mereka Neraka. Dan tahukah dimana manekin berada? Hanya Neraka. Tempat terburuk, dari yang terburuk. Karena manekin adalah ciptaan bangsa Iblis, tentu mereka akan dikembalikan berdasarkan siapa penciptanya***. Jawab Balghaby dengan suara berat.


“Apakah kalian masih ingin menjadi manekin yang abadi? Benarkah kalian abadi? Jika itu benar, maka api yang membara itu tidak sanggup memusnahkan kaum kalian dalam sekejap” Hisashi mencoba mendramatisir suasana agar pesan Eve dapat tersampaikan kepada seluruh manekin lilin di sana.


“Bagaimana jika setelah menjadi manusia kami tetap dimasukkan kedalam Neraka? Bukankah itu perbuatan yang sia-sia?!” manekin lain melontarkan pertanyaan menyudutkan. Hisashi terdiam sejenak sambil memutar otak.


“Bukankah dengan menjadi Manekin tidak ada pilihan selain ke Neraka? Jika kalian termasuk bangsa yang berpikir tentunya menjadi Manusia adalah bagian perjuangan. Masuk ke Neraka sangatlah mudah seperti kentut"


"Tapi untuk masuk ke Surga, kau harus berjuang menjadi Manusia yang terbaik. Memang tidak mudah..., tapi kesempatan pasti terbuka lebar bagi yang mau menjalaninya tanpa prasangka buruk melainkan dengan tujuan murni ingin kembali kepada Sang Pencipta sesungguhnya.” Komentar Hisashi membuat Eve takjub karena mampu memenangkan hati para manekin.


Terdengar suara manekin saling berbisik satu sama lain tapi Hisashi, tidak mengizinkan hal itu berlangsung lama. Mereka akan dengan cepat berubah pikiran nantinya. Hisashi berdehem meminta perhatian kembali dan dengan mudah ia mendapatkan perhatian penuh.


“Kalian pasti mengenal mereka bertiga” kata Hisashi sambil memberi kode Aditi, Harry dan Darius untuk menunjukkan batang hidung mereka.


“Bukankah mereka tadinya adalah manekin seperti kalian? Kemurahan hati Balghaby sangatlah luas. Tapi kemurkaan Balghaby akan menghancurkan” tegas Hisashi membuat suasana menegang.


“Awalnya mereka meragu seperti kalian tapi Balghaby, menepati setiap janjinya kepada mereka. Wahai manusia, yang awal penciptaannya dari Manekin lilin. Apakah kalian bertiga merasakan penyesalan telah berubah menjadi Manusia sesungguhnya?” Hisashi mulai memancing rasa penasaran koloni Manekin.


“Tidak. Aku bersaksi, jadi jauh lebih tenang menjadi seperti ini. Aku...,takut ketika terlihat oleh manusia, mereka jangan-jangan akan melenyapkan ku tanpa sisa. Karena itu, aku sempat memihak kelompok yang menginginkan dunia menjadi negara boneka. Dengan begitu, tidak akan ada yang menentang keberadaan manekin"


"Tapi, Balghaby menunjukkan jalan kepadaku agar diterima oleh dunia manusia. Yaitu dengan menjadi manusia itu sendiri. Tuan kita dan temannya sengaja menyesatkan kita semua agar melenyapkan seluruh manusia hanya untuk membangkitkan Marioneth.” Jawab Harry lantang.


“Tapi tidak hanya itu tujuan mereka. Para Iblis bersatu, demi mendapatkan tujuan mereka masing-masing dengan memanfaatkan kepercayaan kita terhadap mereka. Padahal tak ada satu pun, dari mereka memikirkan tentang kita!!” seru Aditi percaya diri.


“Apa kalian pikir setelah mendapatkan keinginan mereka, maka mereka akan segera mengabulkan apa pun keinginan kita?! Tidak!! Mereka akan menganggap kita barang tiada guna lagi. Lalu apa manfaat keberadaan kita untuk mereka?! Maka mereka akan melenyapkan kita seperti rongsokan.” Tambah Darius seperti menyiram bensin kedalam kobaran api.


“Bukankah ini terlalu dini membuat mereka semua menjadi Manusia? Diluar sana ada Android yang bisa menghancurkan seluruh Manusia di muka bumi ini” tegur Anastasya memperingatkan Hisashi dan Eve. Eve dan Hisashi saling memandang dengan wajah memucat.


Apakah mereka masih bisa menggunakan cara licik seperti mereka mempengaruhi Manekin disini? Mereka tidak pernah tahu siapa pencipta para Android itu!!


“Katakan. Siapa saja yang mengetahui soal robot Android selain kau?”


“Semuanya. Semua orang yang kau panggil bersama denganku hari ini. Riche, Armian dan Charlie.”


“Kalian mengetahui informasi apa saja tentang Android ini?” bisik Eve sambil menciptakan beberapa Sharp GF-525 Boombox stereo, dibuat melingkari dirinya dan Anastasya.


“Tunggu. Apa yang akan kau lakukan dengan benda sebanyak itu?” Anastasya mengerutkan kening bingung. Eve hanya memberi kode tunggu sebentar. Terlihat Eve sedang berkonsentrasi menatap seluruh radio yang melingkar mengelilinginya.


“Menyala” perintah Eve pada seluruh radio. Benar saja, seluruh radio terlihat serempak mengaktifkan tombol On. Anastasya mendengus sambil tertawa sinis.


“Ku pikir, seluruh benda tua itu sudah rusak. Aku tidak mendengar apa pun,” sela Anastasya. Eve menggeleng dan kembali memberi kode untuk melihat sekeliling. Anastasya melihat...para manekin menutupi telinganya seolah sedang sangat tersiksa, mendengar suara yang keras. Mereka kabur, pergi entah kemana.


“Sekarang kita aman berbicara santai disini. Zack juga tidak akan sudi kemari selama keributan dari benda-benda ini masih bersama kita” Eve tersenyum lega.


“Apa...hanya mereka yang mendengar suara seluruh radio ini?”


“Ya, hanya manusia saja yang tidak bisa mendengar. Jadi, apa informasinya?” tanya Eve membuat perhatian seluruh manusia tertuju pada keduanya.


“Kalian harus segera keluar dari tempat ini agar dapat melindungi keluarga kalian masing-masing.” Anastasya mengucapkan dengan tak enak hati.


“Keluarga kami dalam bahaya? Bahaya seperti apa? Katakan dengan sejelas mungkin” Dimitri mulai meng khawatirkan sang Nenek.


“Mereka...menyamar sebagai kalian, dan menyelinap masuk ke dalam keluarga kalian tanpa menimbulkan kecurigaan. Eve..., jangan sampai kau kalah dengan Iblis itu karena kaulah kuncinya. Sekali kau jadi budak mereka, kau akan dijadikan batu loncatan untuk menghancurkan dunia” tambah Anastasya menggenggam erat kedua tangan Eve.


“Hisashi....” lirih Eve meminta pertolongan.


“Kita tidak bisa keluar sebelum dapat menyingkirkan satu iblis lagi di dalam sini. Bahkan kemampuanmu pun, tidak bisa menembus segel dari dalam” jawab Hisashi pasrah.

__ADS_1


“Dimana iblis bernama Zack itu Eve? Sejak tadi aku tidak melihatnya padahal dia suka sekali menempel padamu” geram Dimitri menatap Eve penuh amarah.


“Sebaiknya kita jangan menghadapi Zilky dulu saat ini. Bagaimana pun juga kita manusia bukan mesin. Selama ini kita kesulitan untuk tidur. Jadi manfaatkan untuk hari ini saja menghimpun tenaga” jawab Eve sambil mengusap lembut bahu Dimitri.


“Bagus. Ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Setiap kali kita tidur bukan karena kelelahan tapi karena ulah para iblis sialan itu!! Dan mereka..., selalu saja menghadiahi kita mimpi buruk” sambung Bianca sangat kesal. Meski sekarang ini siang hari, entah kenapa mereka luar biasa kelelahan.


Pada akhirnya mereka duduk melingkar sambil meletakkan radio di masing-masing sudut.


“Kau yakin ini aman? Tidak akan mati disaat kita sedang enak-enaknya tidurkan?” tanya Eldert was-was.


“Kau bisa mengandalkanku” jawab Eve tersenyum manis.


“Ngomong-ngomong, bisa ceritakan masa lalu kalian? Kenapa kalian bisa terlibat dengan Jacob dan Marsha?” tiba-tiba Haruko bertanya hal paling sensitif diantara Eve dan Dimi. Eve menatap lekat wajah Dimi yang mulai memucat.


“Untuk itu kau, harus mendapatkan izin dari Dimitri. Jika dia memilih untuk menyimpan rapat masa lalunya, jangan memaksa” jawab Eve tegas. Semua pandangan terarah pada Dimitri seorang. Membuat Pria itu kesulitan untuk berkata tidak. Tanpa kata, Dimi hanya mengangguk.Dan inilah kisah masa lalu Eve dan Dimi, sebagai Terre Zoloumis dan Kevin Suneil.


Liburan musim semi, di tahun 1999 semua anak panti asuhan Meggy Wezt menghabiskan waktu bersama seharian, dengan berjalan-jalan keliling kota. Mereka menemukan danau yang indah, bermata air sehijau zamrud. Diputuskanlah untuk sementara waktu, mereka beristirahat dahulu ditempat sejuk ini, sambil saling bercerita tentang banyak hal.


Hingga tiba-tiba muncul ide dari salah satu anak asuh, untuk menceritakan kisah tentang sepasang Suami Istri paruh baya, yang konon katanya, pasangan itu telah kehilangan Putri tercintanya Marioneth. Putri semata wayang yang terjun bebas tenggelam di dalam danau bermata air hijau.


Ketika 40 hari setelah pemakaman Marioneth dilangsungkan, pasangan ini tak kuasa menahan rasa rindu terhadap Putri mereka. Maka dengan sisa uang tabungan pensiunan mereka, dibuatlah sebuah boneka lilin Marioneth. Boneka ini sangatlah mirip dengan aslinya. Dadanya dapat naik turun seolah dapat bernafas. Matanya berbinar, seolah mata sungguhan.


Kulitnya sangat halus tak akan ada yang tahu Marioneth hanyalah boneka, jika mereka tak memperhatikan dengan seksama. Barang siapa yang tanpa sengaja menemukan pasangan Suami Istri ini, jika dia anak Perempuan seusia Marioneth, maka anak perempuan itu akan diminta tolong untuk menjadi teman bermain Marioneth tapi entah kenapa tak ada yang tahu nasib selanjutnya dari anak Perempuan itu.


Dan, karena hari mulai semakin gelap, maka mereka pun memutuskan pergi meninggalkan danau itu. Pagi menjelang suara riuh ramai anak-anak panti itu menggema keseluruh penjuru panti asuhan.


"Terre, apa kau bisa membantuku? Aku ingin membeli beberapa buku tulis tapi perutku, selalu melilit dan bolak balik ke toilet. Tolong aku..." mohon Amanda dengan raut wajah memelas.


"Berapa buku yang kau butuhkan?"


"Cukup 4 buku tulis dan ini uangnya. Kau yang terbaik" kata Amanda girang tiba-tiba terdengar suara perutnya yang berbunyi keras. Terre hanya menahan tawa saat Amanda terbirit-birit masuk ke toilet kembali.


Terre pergi menuju toko buku terdekat dengan sepeda pink miliknya. Tanpa ia duga, ada beberapa butir buah apel menggelinding di depannya. Dari pada Terre jatuh karena sepedanya tersandung apel, maka ia lebih memilih untuk tidak melajukan lagi sepedanya.


"Terima kasih" kata Ibu itu tersenyum riang. Terre hanya mengangguk dan bersiap menaiki sepedanya.


"Bisa kita makan siang bersama? Sebagai...rasa terima kasihku padamu nak," tanya Ibu itu menawarkan penuh harapan. Terre tak enak menolak dan pada akhirnya ia tak jadi pergi membeli buku.


"Apa rumah Anda jauh?"


"Rumah kami ada ditengah hutan sana" kata Ibu itu menunjuk ke dalam hutan. Terre mulai ragu mengiyakan ajakan ibu tersebut.


"Ah, ya, kau pasti punya kesibukan lain ya, tidak apa, pergilah" kata Ibu itu penuh rasa kecewa.


"Saya akan berkunjung sebentar saja" katanya memutuskan menerima tawaran si Ibu merasa iba. Akhirnya, mereka berjalan menyusuri rerimbunan hutan. Semakin dalam dan makin dalam.


Krieeeek....


Pintu tua rumah kayu Wanita paruh baya itu terdengar sangat memekakkan telinga. Terre menelan ludah. Keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya.


"Ah, apa kau takut? Ya, beginilah keadaan rumah kayu tua nak, tapi kalau kau mau, kau ingin pulang? Akan ku antarkan kembali sekarang" kata ibu itu kembali sambil menatap sayu ke arah Terre yang gemetar ketakutan.


"Tidak. Saya hanya merasa asing dengan suasana di sini" jawab Terre berusaha sesopan mungkin.


"Masuklah..." ajak Wanita paruh baya itu sambil menyalakan lampu bohlam berwarna kuning.


"Ah, sayang, apa kau membawa seseorang kemari?" tanya seorang Pria paruh baya muncul dari dalam menatap hangat wajah Terre.


"Namanya..."kata Wanita tersebut sambil melirik kearah Gadis kecil itu.

__ADS_1


"Terre..." jawab sang Gadis Kecil itu sambil membalas senyuman hangat si Pria paruh baya.


"Hari ini, akan ada yang menemani makan siang kita...setelah sekian...., lama Putri kita tak bisa makan bersama kita lagi..." kata Wanita paruh baya bahagia. Dan, di meja mungil pasangan paruh baya inilah, Terre makan bersama. Semuanya terasa hangat bagai kehangatan keluarga yang selama ini dirindukan Terre.


"Memang, Putri Anda sekarang dimana? Kenapa...dia tidak bisa makan bersama kalian disini?" tanya Terre.


"Dia sakit nak...selama ini, dia hanya menghabiskan hidup...ditempat tidur. Dia lumpuh sayang...maka dari itu, anak kami menarik diri dari pergaulan" kata Pria paruh baya sendu.


"Oh, maaf bukan maksud sa..."


"Sssst, tidak apa-apa. Kau bisa menjadi temannya kalau kau mau..."


"Ah, dengan senang hati” kata Terre lalu dia diajak pergi ke kamar Putri mereka.


Tok


Tok


Tok


"Marioneth...nak, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu..." kata sang Wanita paruh baya lirih sambil mengetuk pintu kamar mungil itu.


Deg!!


Wa-Wanita itu memanggil nama anaknya siapa? Ma-Marioneth?! ketakutan Terre makin menjadi ketika Wanita dan Pria paruh baya tersebut membuka pintu kamar, dan menggiringnya masuk ke kamar anaknya.


"Sayang, bicaralah dengan teman barumu..." kata Wanita itu girang lalu meninggalkan Terre sendirian di kamar itu.


Ceklek....


Suara pintu ditutup, semakin memicu detak jantungnya. Jangan-jangan dia dijebak!!


"Kau siapa?" tanya seseorang dari balik tirai tempat tidur pink tua yang tertutup rapat. Dapat Terre lihat, ada bayangan anak Perempuan seusianya di dalam.


"Terre...apa kau Marioneth?" tanya Terre sekedarnya supaya pembicaraan di siang hari ini tak kaku.


"Kau tinggal dimana?" tanya anak itu lagi.


"Panti asuhan dekat sini"


"Apa kau suka kamar ini?"


"Ya, kamar yang indah"


"Aku ingin-ingin-ingin" Gadis itu terus mengulang kata ingin berulang kali membuat Terre merasa curiga. Terre membuka tirai tempat tidur tua itu dan...ia melihat...seorang Gadis yang serupa dengannya. Terre melihat ada Tape recorder di samping Gadis itu mengulang kata ingin. Terre menggelengkan kepala lalu mematikan Tape itu.


"Kupikir, kau sedang berbicara padaku. Kenapa kau malah menyalakan tape ini sementara ada orang yang bisa berbicara denganmu langsung!" protes Terre pada Gadis seusianya yang terbaring ditempat tidur.


Kenapa dia tidak menjawab? dia terlihat baik-baik saja, tapi kenapa Gadis ini tak mengedipkan matanya sedikitpun? Dia hanya bernafas, dan menatap langit-langit kamar. Terre berusaha mengajaknya mengobrol tapi tak ada respons.


Maka ia menepuk keras Gadis itu. Auch!! Sa- sakit...Gadis itu sangat keras. Terbuat dari apa dia? Yang memukul merintih kesakitan, tapi dia hanya diam tak berekspresi sedikitpun!


Terre merasakan sebuah benjolan berbentuk persegi, tepat di bagian dada Marioneth dan alangkah terkejutnya Terre, melihat bahwa Marioneth yang terbaring di atas tempat tidur ini, hanyalah boneka manekin lilin, yang di bagian dadanya ditanam tape recorder.


Deg!!


"Ada sepasang Suami Istri, yang kehilangan anak Gadisnya yang melompat dan tenggelam di dalam danau" kalimat Zaden terus terngiang ditelinga Terre. Gadis kecil tersebut mulai ketakutan maka ia berusaha keluar dari kamar itu melalui pintu tidak-tidak. Pintunya terkunci!!


"Paman, Bibi, apa kalian mendengarkanku? A-aku- sudah selesai bermain...aku ingin pulang tolong buka pintunya...kumohon..."ratapnya takut-takut.

__ADS_1


"Tidak sayang, kami selama ini menunggumu. Kau Marioneth kami...akan selalu begitu..." kata Ibu paruh baya itu sambil terkekeh bahagia.


"A-aku Terre bukan Marioneth!! Kami hanya mirip!! Tolong lepaskan aku!!" teriak Terre panik. Seketika sesuatu menjatuhi kepala Terre dari langit-langit kamar itu. Benda bundar, mengeluarkan banyak asap sewangi bunga mawar. Seketika Gadis itu pingsan.


__ADS_2