
"Pertama, teror dari rekan kerja Anda terlebih dahulu yang harus disingkirkan" kata Ibu Loy dengan lembut. Ia cukup menyentuh karung beras, lalu berkomat kamit entah apa yang ia katakan.
"Loy, pergi ke halaman rumah keluarga ini, dan gali lubang untuk mengubur karung beras ini" kata sang Ibu tanpa membantah Loy pun menurut saja.
"Apa yang harus kami lakukan pada rumah kami tanpa harus angkat kaki dari sana?" tanya Ibuku memelas.
"Tidak ada. Kalian tetap harus pergi. Rumah itu tidak untuk dihuni. Rumah itu adalah perangkap, bagi jiwa yang hidup untuk dipersembahkan pada jiwa yang telah tiada" kata Ibu Loy lirih.
"Mengertilah Nyonya...rumah itu hasil kerja keras Suami saya yang baru saja meninggal. Tolong bantu kami mempertahankan rumah itu" kata Ibuku memohon dengan sangat. Wanita cantik tersebut hanya mendesah dan menggeleng.
"Untuk hal semacam itu, saya tidak mampu menolong nyonya. Kekuatan di dalam rumah tersebut terlalu besar bagi saya. Lebih baik, kalian keluar dari rumah itu secepatnya. Dan satu lagi. Usahakan, setiap matahari mulai terbenam, seluruh kaca dan jendela harus ditutup" kata ibu Loy.
Deg!!
Apa yang dikatakannya? Kaca dan jendela harus di tutup? Mustahil...dikamarku, terdapat langit-langit terbuat dari kaca yang dapat dibuka maupun ditutup bagaimana aku bisa menutup kaca sebesar sekaligus setinggi itu?! Dan lagi, kamar mandiku!!
Terlalu banyak cermin disana ya, cermin bagai dinding mengelilingi orang yang ada di dalamnya. Bagaimana caranya aku menutup itu semua? Tiba-tiba suara benda jatuh dari atap rumah Loy menyita perhatian kami. Saat kami semua keluar dari rumah itu, lagi-lagi aku melihat ada kepala kambing.
"Bisa kau katakan apa yang kau lihat?” tanya Ibu Loy padaku.
"Kepala. Kepala kambing" kataku gemetaran.
"Apa itu juga terjadi saat kau berada di dalam rumahmu?" tanyanya lalu ku balas dengan anggukan.
"Nyonya, ketika Anda kelak akan menikahkan anak Perempuan Anda, siapkan seekor kambing yang memiliki tanduk mirip seperti tanduk banteng sebagai tolak bala" kata Wanita itu. Ibuku hanya mengangguk bingung.
Bagaimana bisa anaknya berulang kali melihat sementara dirinya sendiri tak bisa melihat kepala si kambing?
Rulby dan Ibu hanya diam tanpa kata ketika mendengar kenyataan pahit tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan rumah warisan Dad. Kami berjalan gontai memasuki rumah kami.
"Kau ingin kembali ke rumah lama sayang?"
"Dimanapun kita tinggal itu tidak masalah Mom, yang penting kita tinggal dengan aman dan tenang di dalamnya" jawab Rulby sambil membaringkan diri keatas sofa ruang keluarga.
"Mom sangat menyukai rumah ini sayang. Ini satu-satunya rumah yang Dadmu beli dengan jerih payahnya selama bertahun-tahun. Dia memilih rumah ini sendiri" kenang sang Ibu sambil menitikkan air mata.
"Mom, pergilah bekerja besok. Semoga itu bisa menghibur hati Mom"
"Kau juga akan pergi sekolah?"
"Aku...masih butuh waktu sedikit lagi. Tapi besok aku pasti sekolah. Aku janji" jawab Rulby tak yakin tapi ia sadar, hidup harus terus berjalan jadi dia harus memaksakan diri sendiri untuk melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Tak terasa ternyata mereka sangat lama berada di rumah keluarga Loy hingga saat mereka pulang, matahari mulai terbenam.
"Kacanya!!" seru Rulby dan Ibu bersamaan. Mereka segera berlari dan mengambil dua kardus berisi koran.
Ah, setidaknya, jika telah habis kain penutup, maka...koran pun jadi. Rulby berpikir keras, kaca kamar mandi memang bisa di tutup dengan koran tapi...bagaimana dengan langit-langit kaca itu? Selama dua jam Ibu dan Rulby saling membantu untuk menutup semua benda yang berkaca bahkan mereka lupa makan.
Setelah menonton film komedi, mereka memutuskan untuk tidur. Rulby enggan kembali ke kamarnya. Ia memutuskan pergi ke kamar Kakaknya.
Krieeeeet....
Pintu terbuka perlahan Rulby merayap ke arah dinding mencari-cari letak sakelar lampu dan menyalakannya. Kamar sang Kakak sangatlah luas membuat Rulby hanya diam terbengong-bengong diambang pintu.
Sangat lelah...tubuh Rulby sangat ingin direbahkan walau untuk sesaat ia melangkah menuju tempat tidur antik yang super besar dengan tirai beludru pink yang sangat manis menutupi seluruh tempat tidur sang Kakak. Perlahan...disibakkannya tirai pink dengan kedua tangannya.
Deg!!
Jantungnya berpacu sangat kencang, tubuhnya terasa sangat lemah, kakinya terasa sangat kaku, bulu kuduknya meremang, matanya menatap takut-takut sosok yang ada di balik tirai tersebut. Keringat dingin mengucur deras di pelipis Rulby. Makhluk besar, tinggi, gondrong, berwarna biru laut sedang berbaring di ranjang super besar itu.
Tubuhnya gempal bahkan tidak ada sedikitpun celah tempat tidur tersisa karena tertutup tubuh makhluk itu. Matanya merah darah, menusuk mata Rulby. Raut wajahnya seolah sedang sangat terganggu dengan kehadiran Rulby disana.
Brakkkk!!
Pintu kamar Kakak Rulby terbanting menutup. Spontan Gadis itu berlari menuju ke arah pintu, mencoba membuka pintu kamar yang telah menutup rapat. Makhluk tersebut duduk diatas ranjang menyeringai puas melihat ketakutan sang Gadis muda.
"Mom!! Tolong!!" teriak Rulby menggedor-gedor pintu panik terlebih lagi saat ia mengetahui makhluk itu kini berdiri, berjalan berdebam debum menghampiri Rulby. Untuk terakhir kali, Rulby mencoba membuka knop pintu.
Krieeeeek
Yes!! Pintu terbuka Rulby pun segera berlari ke arah kamarnya ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, mencoba menghela nafas dalam-dalam. Ia memaki diri sendiri kenapa harus pergi kesana?
Klontang!!
Deg!!
Oh, apa pun itu..., suaranya sangat jelas berasal dari kamar mandi!! Jangan...., jangan penasaran Rulby...makhluk tak kasat mata menyukai manusia dengan rasa ingin tahu yang sangat besar...jangan lakukan itu!! Rulby melangkah menuju kamar mandi dan membuka pintu ia mendapati shower menjuntai ke bawah lantai kamar mandinya.
__ADS_1
"Aku menggantungnya tadi" gumam Rulby. Ia memaksa kakinya, untuk berjalan masuk kamar mandi hanya ingin mengembalikan shower ke tempat semula.
Sreeeek!!
Saat Rulby berhasil mengembalikan shower ke tempatnya, tiba-tiba ada suara robekan kertas. Rulby menoleh.
Sreeeeeek!!
Suara robekan kertas semakin keras matanya menatap koran yang menempel rapi, di semua dinding kaca kamar mandi Rulby kini tersobek oleh sesuatu yang tajam. Sangat....tajam. Oh tidak...apakah itu kuku yang sangat panjang??
Sreeeeeek!!
Kreeeek!!
Patah!! Kuku tajam yang merobek kertas koran dari balik kaca itu...patah!! Darah mengucur deras disana, merembes membasahi setiap sobekan koran. Darah itu menggenang hingga menyentuh telapak kaki Rulby. Mata Gadis muda tersebut menatap jijik darah yang menyentuh ujung jari kakinya perlahan, tapi pasti Rulby melirik kearah kaca yang mengelilingi dirinya itu. Terlihat jemari lentik sedang menulis sesuatu di kaca...
shinimashita!!!
Jemari lentik nan putih pucat itu menuliskan huruf shinimashita dengan darah... yang mengucur deras. Deru nafas Rulby kian memburu bagaimana tidak? Tulisan itu terus meneteskan darah tanpa henti!! Anehnya, tulisan itu tidak pudar.
Bragh!! Bragh!!
Suara kepala membentur-benturkan kepala dari dalam kaca... Kepala itu mendongak menampakkan bagian kulit wajah putih pucat. Rulby mencoba memfokuskan kedua matanya pada benda bergerak di celah-celah tulisan shinimashita. Benda itu berkedip-kedip dengan sinar merah darah di bagian tengah. Itu...bukankah sebuah mata, lengkap dengan bola mata berwarna merah!!
Kyaaaaaa!!
Teriak Rulby berlari kearah pintu kamar mandi. Tiba-tiba suara bergemuruh terdengar apa itu gempa?! Getaran lantai kamar mandi membuat air di dalam bak kamar mandi Rulby bergolak keluar dari dalam bak itu, mengguyur wajah Rulby. Gadis muda itu berjuang mati-matian untuk bertahan ia tersedak air yang tak sengaja masuk ke dalam hidung dan tertelan di mulutnya!!
Ia masih mencoba berlari keluar dari kamar mandi, tapi hasilnya ia selalu terpelanting ke belakang lagi. Seluruh tubuhnya basah kuyup dengan percampuran antara darah dan air karena ia selalu terjungkal jatuh ke lantai.
Auw!! Kenapa makhluk seperti mereka suka sekali menyiksa orang?! Kata hati Rulby kesal saat mendapati dirinya baru saja terbangun dari pingsannya. Perlahan ia menoleh ke kanan dan kekiri bagus...tidak ada apa-apa aman!! Rulby segera bangkit melupakan luka dan memar di tubuhnya ia langsung berlari keluar dari kamar mandi.
Di tutupnya pintu kamar mandi sambil memegang dada memeriksa denyut jantungnya yang berangsur-angsur berdetak normal.
"Mom!!" Rulby teringat dengan Ibunya ia langsung berlari keluar kamar menuju kamar Ibunya. Setelah ia memeriksa keadaan sang Ibu, ia pun menghela nafas lega.
Syukurlah...Ibunya tidak mengalami gangguan malah Rulby melihat betapa lelapnya sang Ibu tertidur. Ya, pasti beliau sangatlah kelelahan menghadapi hari berat dari waktu ke waktu. Rulby memutuskan untuk kembali ke kamarnya sesampainya di ruang keluarga, Rulby menatap sosok sang Ibu, sedang duduk di sofa membelakangi Rulby sedang menonton TV dengan saluran statis...
"Mom?" gumam Rulby lirih memastikan dirinya tak sedang berhalusinasi. Rulby mengusap mata lalu menatap kearah TV ekspresinya hanya bingung sekaligus bengong. TV di hadapannya kini tidak dalam keadaan menyala TV itu mati dan...tidak ada lagi sosok Ibunya di atas sofa tak jauh darinya berdiri.
Perlahan berjalan tertatih masuk ke kamar, Rulby enggan mematikan lampu kamar jadi ia putuskan untuk tidur dalam keadaan lampu menyala. Rulby merebahkan tubuh telentang sambil menutup kedua mata dengan tangan kiri ah, menyebalkan!! Kenapa sulit sekali tidur?! Padahal tubuh Rulby menuntut untuk segera tidur.
Ah Loy!! Rulby teringat pada Laki-laki tetangga itu secepat mungkin Rulby meraih ponsel di meja kecil tepat di samping tempat tidur.
Rrrrrrrrrrr.......
Rrrrrrrr......
Semoga saja Loy belum tidur...biarlah ia dimarahi nanti karena menelepon selarut ini tapi ia harus menyelidiki apa arti pesan dari hantu di kamar mandinya.
"Hallo...kau tahu ini jam berapa?" protes Loy malas-malas.
"Um maaf untuk itu. Tapi aku butuh informasi darimu sekarang. Kumohon..."
"Rulby?!" pekik Loy yang langsung terduduk di atas tempat tidurnya menyadari sang penelepon adalah tetangganya.
"Aku mendapatkan sebuah pesan dari sosok hantu di kamar mandiku. Dia menuliskan sesuatu di kaca"
"Dimana letak kamarmu?"
"Sebelah ruang keluarga persis"
"Apa itu kamar dimana kamar mandi yang di dalamnya dikelilingi cermin?"
"Kau tahu itu?"
"Kamar itu sangat terkenal di wilayah ini berkat, kamar mandi yang ada di dalamnya. Jadi..., apa yang dia tuliskan?"
"Aku tidak tahu artinya, tapi siapa tahu kau memahami kalimat ini Shinimashita"
"Setahuku itu bahasa jepang. Coba akan ku translet dulu" jawab Loy yang langsung berdiri menyambar laptop Apple miliknya lalu segera mencari situs kamus translator.
"Coba katakan lagi dengan mengeja katanya satu persatu" tambah Loy. Mendengar itu entah kenapa sulit bagi Rulby menghela nafas padahal ia sangat membutuhkan oksigen sekarang juga. Ia berjuang menghela nafas lalu mengeja kalimat itu.
S
H
__ADS_1
I
N
I
M
A
S
H
I
T
A
Loy mengetik dengan hati-hati lalu menekan enter. Mata Loy membulat terkejut.
"Kau yakin dia menuliskan kalimat itu Rulby?!" pekik Loy panik sambil mengacak-acak rambut.
"Ya, aku sangat menghafal tiap hurufnya"
"Mulai sekarang kau, harus berhati-hati oke, jauhi cermin"
"Memang apa artinya?"
"Entah ini ada hubungannya dengan cermin atau tidak, tapi arti dari tulisan itu adalah mati"
Deg!!
"Ka-kau yakin? Apa kau tak salah ketik?!" kata Rulby dengan suara bergetar ia meringkuk di atas tempat tidurnya ketakutan sambil menatap ke atas atap kaca.
"Memang itulah artinya. Well, kapan kalian akan pindah?" tanya Loy menekankan kalimat pindah itu sekali lagi. Tangan Rulby gemetaran lalu berusaha menjawab.
"Apa artinya itu aku, akan bisa melihat dunia lagi besok? Atau ini malam terakhirku?" tanya Rulby lirih. Loy langsung merinding mendengar pertanyaan sederhana tapi begitu mendalam artinya.
"Pastikan saja kau jauhi semua benda yang memantulkan bayangan apa pun maka kau dan Mommu akan hidup sampai matahari terbit percaya padaku" kata Loy tak tahu lagi harus berkata apa.
"Rulby, kau dengar aku? Hello..."
Tut..
Tut...
Tut....
Sambungan celullar terputus seketika. Loy mengumpat dan melemparkan ponselnya keatas tempat tidurnya. Rulby memutus sambungan celullar membiarkan ponsel itu terlepas dari genggaman tangannya jatuh ke atas tempat tidur.
Lelah...sangat lelah...ia tak sanggup lagi memikirkan apa pun hingga ia tertidur pulas tak merasakan lagi ponselnya bergetar berulang kali ya, panggilan dari Loy yang panik begitu Rulby memutuskan sambungan telepon mengira terjadi sesuatu padanya.
Tik tak tik tak...
Bang!!
Bang!!
Rulby tersentak dari tidurnya disingkirkan rambut panjangnya yang menutupi telinga. Ia berkonsentrasi penuh...dimana suara itu berasal? Ia menatap lurus, kearah pintu kamar tak ada apa pun yang mencurigakan. Ditolehkannya kepala ke kanan dan kekiri, tak ada apa pun, bahkan pintu kamar mandi baik-baik saja.
Bang bang!!
Bang!!
Rulby segera mendongak keatas matanya melotot, tubuhnya terasa berat tak bisa lari!! Ia susah bergerak.
Sreeeeeek
Astaga!! Langit-langit kaca itu dapat dengan mudah dibuka makhluk itu!! Kepalanya begitu besar hingga yang terperosok terlebih dahulu adalah, kaki dan tangannya!! Kau tahu?
Tangannya ada 4 di kanan dua dan di kiri dua. Tangan paling kecil adalah yang menempel seperti tumbuh dari dalam. Kau mau lebih spesifik lagi?! Ah, entahlah...sangat susah dijelaskan. Kakinya!! tepatnya, kedua kakinya memiliki selaput lendir seperti selaput pada katak.
Makhluk itu bergoyang-goyang beringas mencoba menyelamatkan kepalanya yang teramat besar. Tangannya, berusaha membuka lebih lebar lagi langit-langit kacanya. Berhasil!! Ia meluncur ke bawah, tangannya menggapai kearah Rulby.
Aaaaaaaaa!!!!!!
__ADS_1