
Kimmy Pier dan manekin Harry Normand berjalan menyusuri koridor, dan berhenti tepat di depan pintu ruang Teater Barley. Sedari awal mereka berjalan, Kim mulai merasakan ketegangan memuncak.
"Harry...kau...yakin ingin memasuki ruangan ini? Kau tahukan, sebagian rekan kita diserang di tempat ini? Kumohon ayo kita pergi sekarang. Sebelum dua bayangan hitam itu muncul dan menyerang kita juga" rengek Kim sambil menggenggam tangan Harry.
"Ada aku di sini. Mereka pasti sedang sibuk dengan orang-orang itu. Pasti tidak ada waktu untuk menyerang kita di sini. Percayalah" bisik Harry sambil memeluk Kim lembut.
"Apa ada sesuatu, di dalam? Yang bisa...mengeluarkan kita dari sini?"
"Ya, tentu saja. Aku sudah mengamati ruangan ini sejak pertama kali kita masuk ke dalam gedung Teater ini. Kau siap masuk?"
"Kau sama sekali belum pernah masuk ke sini Harry...kau mati duluan sebelum sempat menginjakkan kaki di tempat ini. Apa kau bercanda?" bisik Kim menatap tajam ke arah Harry.
"Tapi aku menginjakkan kakiku di sini semenjak ruhku ada di dalam manekin ini” dengus Harry sambil memutar kedua bola matanya. Pintu Teater Barley dengan mudah di buka bau anyir darah menguak menyambut masuknya Kim ke dalam ruang Teater. Kim menatap takut-takut ke tempat jazad Darius Crawford seharusnya terbaring.
Tapi seperti ia tak menemukan jazad Aditi Aishwarya, mereka pun tak menemukan jazad Darius Crawford.
"Belum ada yang sempat mengurus mayat mereka Harry. Lalu siapa yang memindahkan mayat mereka?" pekik Kim mulai merasakan tubuhnya yang mulai gemetaran ketakutan.
"Banyak hal yang tidak mungkin, bisa terjadi di sini. Untuk apa kau memikirkan itu? Sekarang, saatnya bersantai" balas Harry sangat tenang.
"Bersantai? Bagaimana bisa? Nyawa kami dalam bahaya sekarang" marah Kim tak habis pikir dengan apa yang baru saja diutarakan Harry.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan sekarang..." desis Harry menggapai kedua tangan Kim, menyejajarkan pandangan kedua mata mereka.
"Lihatlah aku...kau, aman...bersamaku Kim..." kata Harry mengunci pandangan Kim dengan kedua matanya. Harry menjentikkan jemari tangannya ke udara, lalu secara menakjubkan, Kim mendengar suara alunan musik dari piano tua yang mulai berkarat.
"Apa kau, yang...melakukannya?" tanya Kim antara percaya dan tidak percaya. Harry hanya membalas dengan sebuah senyuman, lalu mengajak Kim berdansa bersamanya.
"Kau tidak penasaran, kemana jazad kalian menghilang? Bukankah jika jazad Aditi dan Darius menghilang, itu artinya jazadmu juga hilang?" tanya Kim menatap kedua mata Harry yang sama sekali tak terlihat cemas.
"Tubuhku telah hancur...apa yang kuharapkan dari seonggok daging tak berguna? Bahkan jika mau sekalipun, apa kemauanku bisa menghidupkanku kembali sebagai manusia? Aku sangat menyukai...tubuhku yang ini. Bukankah aku jauh lebih mempesona dengan wujud seperti ini? Nyonya Normand?" goda Harry menyatukan kedua kening mereka.
Disaat bersamaan, muncul banyak kupu-kupu dari balik jas Harry...tapi tatapan Harry, mampu menenangkan Kim, rasa takut kini berubah menjadi rasa takjub karena semua kupu-kupu itu kini telah hinggap membalut seluruh tubuh Kim, dua detik kemudian, semua kupu-kupu tersebut melebur menjadi satu dengan baju Kim, hingga baju Kim berubah menjadi gaun pesta cantik berwarna pink muda.
"Kau...sangat cantik dengan gaun itu...honey" kata Harry dengan senyuman penuh misteri. Kim tersenyum dengan kedua pipi yang merona. Hey, sejak kapan Harrynya menjadi semanis ini?? Pikir Kim.
Tapi tatapan, dan kelembutan Harry mampu membuat Kim menepis semua hal yang mengganjal dalam hatinya. Harry membuat Kim terus berputar, mengelilingi panggung Teather. Ia merasakan sesuatu yang telah lama hilang kini kembali lagi.
Sesuatu yang menggelitik di dalam perutnya, tidak membuatnya kehilangan keinginan untuk terus berdansa dengan belahan jiwanya. Ketika mereka menari...bayangan Harry sedang mendekap pinggang Kim erat seolah takut akan kehilangan Kim selamanya.
Tapi tangan itu beralih ke arah perut Kim, menekan perut itu perlahan...tapi pasti...hingga bayangan tangan Harry terlihat menembus ke dalam perut Kim!! Kim dan Harry terus menari dalam suka cita yang abadi...Harry menahan beban tubuh Kim...hingga rambut Wanita itu menjuntai panjang ke karpet merah, lagi-lagi bayangan yang tertangkap di karpet merah adalah tangan Harry keluar dari dalam perut Kim, sambil menggenggam janin yang telah lama dinantikan Kimmy Pier dan Harry Normand.
Seolah mati rasa, Kim dibius dengan fatamorgana lautan cinta kasih antara dirinya dan Harry...mereka terus menari dengan wajah penuh keceriaan. Tapi tidak dengan bayangan Harry...bayangan itu sibuk melahap bayangan janin Kim, sementara manekin Harry dan Kim terus berputar menguasai panggung Teater.
Seketika Kim merasakan tenaganya benar-benar terkuras habis hingga ia limbung hampir jatuh ke belakang, tapi dengan sigap manekin Harry menggapai Kim. Mata mereka kembali saling beradu..., dan sebuah asap putih keabu-abuan keluar dari kedua hidung Kim, yang masuk ke dalam rongga mulut manekin Harry.
__ADS_1
Kim menatap penuh cinta pada manekin Harry sebelum matanya yang bersinar kini mulai meredup, dan tak terlihat lagi tanda-tanda kehidupan.
"Matilah dengan suka cita...honey..." kekeh manekin Harry yang melepaskan begitu saja jazad Kim dari dekapannya.
Kau...terlalu lama membereskannya N121... Waktu kita tidak banyak. Tujuan kita Evelina Dushenka. Kau, kuberi kehidupan hanya demi misi ini. Apa kau...lupa?! Desis suara bayangan Wanita paruh baya yang kesal.
"Kau menghidupkanku dengan janji membangun sebuah negara boneka!! Kau, lupa dengan perjanjian kita, atau kau berusaha membodohiku?!" marah manekin Harry sambil menggeram. Amukan Harry, membuat manekin itu terlempar ke belakang, hingga bagian bahunya terkena api, membuat lengannya mulai melepuh!!
Arrgh!!
Memohonlah...dan jadi boneka yang manis...N121...
"Tidak untuk pengkhianat!!"
Arrrgh!! Pekik kesakitan Manekin Harry membuat kulit buatan sang manekin melepuh semakin meluas seketika. Ini tidak bagus...ia tidak bisa lenyap dengan cara seperti ini!!Tidak akan!!
"Aku mohon...akan kudapatkan dia untukmu. Yang Mulia...." rintih manekin Harry menatap penuh ketidak berdayaan pada sang penciptanya. Lalu muncullah bayangan hitam kedua, ia berada di belakang manekin Harry.
Sekali lagi kau mencoba menusuk kami dari belakang, maka kau akan raib selamanya...kini terdengar desis dari bayangan hitam di belakang Harry. Suara seorang Pria paruh baya. Bayangan Suami mulai menyapukan tangannya pada lengan Harry yang kini mulai terlihat tanpa cacat.
Eve merasakan dirinya sedang berada di suatu tempat. Di depan rumah besar, yang menakutkan. Seorang Pria tampan berjongkok di hadapan Eve sambil membelai kepala Eve penuh kasih sayang. Beliau hanya tersenyum dalam damai.
"Sayang, berjanjilah untuk terus jadi anak yang baik. Jangan nakal ketika kami tak dapat lagi menjagamu" kata seorang Pria tampan sambil mengangkat jari kelingkingnya. Eve tak mendengar kalimat selanjutnya karena tiba-tiba telinganya berdenging.
Entah kenapa, Eve menangis tidak rela ia tak tahu kenapa, tapi seolah kata hatinya sebentar lagi, ia akan ditinggalkan selamanya oleh Pria dan Wanita itu. Mendadak keduanya menghilang entah kemana rasa takut ditinggal sendiri pun mulai menjalar dari ujung kaki ke ujung tengkuknya. Ia berlarian ke sana dan ke sini mencari dua sosok menenangkan jiwa Eve tapi Gadis itu jatuh terjerembap, lalu menatap kubangan air di depan matanya.
Bukankah...ini Eve dimasa kecil? Siapa Wanita dan Pria itu sebenarnya? Ia merasa sama sekali tak mengenali mereka..., tapi kenapa tatapan mereka sangat meneduhkan hati Eve? Kenapa tiap kata perpisahan yang mereka katakan ingin sekali tak pernah Eve dengar? Air mata Eve menitik...kini ia merasa sebatang kara.
Eve merasakan sesuatu telah menyeka air matanya. Eve berusaha membuka mata, berjuang untuk sadarkan diri sepenuhnya.
"Selamat datang kembali" sapa seorang Pria hantu begitu melihat Eve membuka matanya. Eve mengerjapkan kedua mata, berusaha mengingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.
"Kau berusaha mengingat sesuatu? Apa kau berhasil?" tanya sang Pria hantu mengerutkan keningnya mencari tahu. Eve menggelengkan kepala dengan tatapan kosong. Perlahan, Eve menatap mata sang hantu Pria lalu ikut mengerutkan keningnya.
"Kenapa aku di sini? Kau...siapa?" tanya Eve buru-buru menjauhkan diri dari jangkauan Pria hantu.
"Kau harus tetap terus bersembunyi sebelum mereka menemukanmu. Aku di sini, untuk menyelamatkanmu dari mereka"
"Siapa mereka?"
"Pasangan Suami Istri gila. Apa pun yang terjadi, jangan percaya apa kata mereka. Cukup percayalah padaku"
"Kau juga asing bagiku. Atas dasar apa aku patut mempercayaimu, dibandingkan mereka?" tanya Eve waspada. Gadis itu terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya melayang terbang, menuju ke arah Pria hantu. Pria hantu itu meniup wajahnya, hingga sekelebatan ingatan bermunculan dikepalanya.
"Kyaaaaaa!!" teriak Eve setelah melihat kronologi kejadian kematian Harry, Darius, Aditi dan Kim memenuhi kepalanya.
__ADS_1
"Kau aman bersamaku. Tetaplah bersamaku agar aku dapat melindungimu". Kata hantu Pria memeluk erat Eve yang mulai gemetaran ketakutan.
Siapa yang dimaksud orang ini? Pasangan Suami Istri gila? Apa mereka pasangan yang ada dalam mimpiku tadi? Tapi...mereka tidak terlihat ingin melukaiku. Kata hati Eve yang berusaha keras melepaskan diri dari pelukan sang hantu Pria.
"Bukan mereka..." desis sang hantu Pria membuat Eve terkesiap kaget, mengetahui Pria hantu tersebut, mampu membaca pikiran Eve.
"Apa? Mereka? Siapa?" tanya Eve kebingungan.
"Dua Suami Istri gila yang ku maksud, bukanlah mereka yang ada di dalam mimpimu" kata Pria hantu menegaskan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau, bersikeras memperebutkanku dengan mereka? Dan siapa kau?"
"Kami merasa kau, adalah bagian dari kami. Selama kau, tidak berpihak pada salah satu pihak, peperangan ini akan terus berlangsung" kata sang Pria hantu memperingatkan. Apa bedanya memihak dengan tidak memihak? Kedua hal itu sama-sama menimbulkan perselisihan diantara mereka bertiga.
Alberteen Bernia awalnya bersama dengan kelompoknya tapi matanya mulai mengabur, perih dan terus berair hingga harus diam berdiri sejenak, mengusap-usap kedua matanya. Setelah dirasa matanya cukup membaik, ia mencoba membuka kedua matanya, tapi...semua rekannya telah menghilang entah ke mana.
Sayup-sayup Alberteen Bernia mendengar suara siulan nyaring dari arah entah dari mana asalnya. Kekehan Suami Istri bayangan membuat Berte berlari, berpacu dengan waktu. Hentakan kaki demi hentakan kaki Berte, tidak secepat suara bayangan Suami Istri itu melesat cepat menyelimuti setiap ruangan di mana pun Berte berlari.
Ia memang tak punya peluang untuk selamat kali ini, tapi tekad kuat Berte, mampu mengalahkan rasa takutnya yang sangat besar. Sebuah tangan besar membekap bibir Berte, lalu menariknya ke sebuah ruangan kecil, tersembunyi. Berte gemetaran ketakutan, berusaha untuk melepaskan diri tapi!! Cengkeraman tangan di rahang Berte malah semakin kuat.
Jantung Gadis itu berdegup sangat kencang begitu suara kekehan Suami Istri bayangan semakin dekat...dan makin dekat saja. Tidak ada angin, tapi hawa di sekitar tempat dua bayangan itu lewati mendadak berubah menjadi sedingin di dalam lemari pendingin.
Berte pasrah...ia ketakutan dalam keadaan menggigil hebat bahkan jika pun ia mampu melepaskan diri dari cengkeraman apa pun itu, ia tak akan kuat berlari!! Saking dinginnya udara saat
itu.
"Kau hampir saja membuat kita ketahuan. Setidaknya kau pikir dua kali sebelum ingin lari dariku" keluh manekin di belakang punggungnya. Berte langsung berbalik dan menatap lekat kedua mata sang manekin.
"Dari mana kau tahu aku ada di sini?"
"Hmm? Kau pikir aku punya benda seperti alat pelacak keberadaan seseorang? Ayolah..., semua orang bisa saja tidak sengaja bertemu di tempat tak terduga. Jadi...saat melihat kau dalam bahaya tentu saja aku langsung menolongmu. Ah, atau kau berharap aku tidak pernah datang untuk menolong?"
"Syukurlah kau datang tepat waktu. Aku tidak tahu lagi jika kau terlambat, mungkin aku akan pulang tinggal nama. Terima kasih" sambut Berte tersenyum lega.
"kita harus segera keluar dari tempat terkutuk ini. Jangan sampai kau bernasib sama dengan semua manusia itu. Untung saja kau terpisah dari mereka" kata Darius menggandeng Berte lalu menariknya keluar dari tempat sempit itu.
"Apa? Memang apa yang terjadi pada mereka semua? Darius!! Katakan sesuatu!!" pekik Berte membuat Darius harus kembali membungkam mulut Berte.
"Kau...tidak akan mendapat jawabannya selama kita belum aman. Jadi berhenti berteriak. Atau kau memang sengaja, agar semua orang yang pernah kemari tidak akan keluar dari tempat ini selamanya? Karena mati konyol di sini?!" geram Darius pelan tepat di telinga Berte.
Darius kembali menarik kasar Berte menuju ke suatu tempat. Seperti bukan Darius, karena Darius adalah Pria yang lembut dengan siapapun di hadapannya. Tapi...mungkin karena dalam keadaan genting, dan lagi, Berte membuat ulah, jadi Darius mulai kehilangan kesabaran. Berte mencoba berbaik sangka kepada rekan kerjanya. Darius membuka pintu masuk gedung Teater membuat Berte mulai mengernyit kebingungan.
Bagaimana mungkin?
"Hey, apa kau menemukan pintu keluar dari gedung Teater yang lain? Tapi...setahuku hanya ada dua pintu keluar dan masuk di sini. Aku yakin sekali ini pintu pertama kali kita memasuki tempat ini. Tidak bisa dipercaya...pintu yang sama, menuju tempat berbeda?!" kata Berte meminta penjelasan logis dari semua yang ia lihat. Darius menatapnya tanpa kata lalu menggenggam kedua tangan Berte lembut.
__ADS_1