
"Aprille!!" teriak Mrs. Brodie lalu berlari ke arah Gadis itu tapi sebuah kekuatan membuatnya susah untuk dijangkau sang Ibu.
Teriakan Ibu angkat Aprille tak membuat makhluk bayangan hitam tersebut menghentikan aksi kejinya. Mrs. Brodie segera berlari ke arah Aprille yang terus menerus menggapai-gapai udara sebelum Wanita itu berhasil menggapai kedua kaki Aprille, bayangan itu merentangkan satu tangannya, membuka lebar telapak tangannya dan....
BUMMMM
Mrs. Brodie dilempar membentur lemari hingga terseret ke dinding. Sementara Gadis kecil itu dilempar ke atas tempat tidur. Muncul makhluk besar berjubah hitam melayang terbang menuju ke arah Mrs. Brodie.
"Mom!!" teriak Aprille histeris. Meski lehernya masih terasa sakit, Gadis kecil ini tetap berusaha lari secepat mungkin untuk melindungi Ibu angkatnya.
Ia tak memikirkan apa pun akibat perbuatannya yang jelas ia hanya ingin melindungi orang yang ia sayangi bagaimanapun caranya!! Ia berlari menembus ruh bayangan hitam, menyambar tubuh sang Ibu yang lemah lalu dipeluknya erat. Keluarga Brodie, merupakan keluarga pertama yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. Haruskah kebahagiaan ini direnggut? Kebahagiaan yang baru...saja dimiliki seorang Aprille.
"Zilky lebih menyayangimu. Zilky menyingkirkan semua yang menyiksa Aprille. Kenapa kau sekarang mengkhianati Zilky!!" teriak Zack penuh emosi layaknya bocah Laki-laki sedang merajuk.
"Kau memanfaatkanku!! Mereka yang menyayangiku!! Jangan sentuh mereka!!" teriak Aprille. Bayangan hitam bernama Zack menggeram tak dapat menahan amarah diangkatnya tubuh Aprille, tanpa harus menyentuhnya hanya dengan sebuah sorotan mata.
Aaaaaaargh!!
Teriak Aprille tiba-tiba luka goresan di pipinya tercipta membuat darah mengucur perlahan bersama deraian air mata.
"Aprille!!" teriak seseorang di balik pintu. Mr. Brodie menerobos masuk menggapai tubuh kecil Aprille yang melayang ke dalam pelukannya. Ia berlari menuju Istrinya.
"Amanda!! Bangun, Amanda!!" panggil sang Suami menepuk kedua pipi Mrs. Brodie setelah menurunkan Aprille.
"Keluarga kecil yang bahagia...sangat manis" Zack terkekeh mengejek. Tanpa harus menunggu adegan dramatis itu semakin berlarut-larut, Zack dalam dua detik mampu berada di hadapan Mr. Brodie, mengunci tubuh Suami Istri itu hingga tak mampu bergerak sedikitpun, membuat mereka berdua melayang seolah tubuh mereka seringan kapas yang terbang tertiup angin.
Kemudian melempar mereka ke tengah-tengah kamar. Aprille berteriak semakin histeris Gadis kecil tersebut berusaha lari ke arah kedua orang tua angkatnya tapi sebuah kekuatan membuat kakinya terasa sangat berat hingga ia jatuh terjerembap di atas lantai kamar.
"Jangan!! Zilky kumohon jangan ambil mereka dariku!!" tangis Aprille ketakutan. Zack hanya menyunggingkan senyuman bengis lalu menatap lampu kristal gantung tepat diatas kepala kedua orang tua angkat Aprille.
"Kau yang menyakitiku Zilky!! Kau yang membuatku menderita!! Kalau kau memang pelindungku, kenapa tidak kau lenyapkan saja dirimu sendiri, agar aku aman darimu?!" teriak Aprille sengit. Tidak!! Ia tidak akan rela sampai kapan pun inilah keluarga impiannya. Dia bahagia bersama keluarga Brodie tidak ada yang boleh melenyapkan kedua orang tuanya!!
"Kau, ingin melenyapkanku?!" suara Zack semakin berat, penuh kemurkaan. Dilemparnya tubuh mungil Aprille hingga keluar dari kamarnya sendiri. Dan, pintu kamar tiba-tiba menutup dengan sendirinya.
"Tidak!!" teriak Aprille berusaha membuka pintu kamarnya sendiri. Pintu itu terkunci rapat berulang kali Aprille berusaha membuka tapi tak mampu. Gadis kecil malang itu begitu syok mendapati dirinya sekali lagi tak dapat menolong orang tua angkatnya ia pun jatuh pingsan seketika.
Eve masih berada di dalam kamar, ketika Aprille menggedor-gedor pintu hingga tak ada lagi suara dari seberang pintu sana. Eve menatap ketakutan dengan tubuh gemetaran ia kini menjadi saksi dimana Mr dan Mrs. Brodie dalam keadaan setengah sadar diangkat dan di letakkan tepat di bawah lampu gantung kristal.
Eve menangis tanpa suara ketika makhluk keji itu menciptakan api untuk memutuskan gantungan lampu kristal hingga benar-benar putus, dan jatuh menimpa pasangan malang. Eve langsung jatuh terduduk di atas lantai menatap nanar sosok bayangan hitam besar tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bayangan hitam mengecil dan terus mengecil hingga, berada dalam ukuran manusia. Makhluk itu menjelma menjadi...sosok Pria hantu atau sebut saja Iblis ketiga!! Kejutan demi kejutan datang bertubi-tubi pada Eve hingga dada Gadis tersebut kian terasa sangat sesak sulit untuk bernafas. Eve pun terkapar tak sadarkan diri seketika.
Kenangan dimana Aprille begitu menderita ketika memiliki keluarga angkat sebelum bersama keluar Brodie, lalu bertemu dengan Zack yang langsung mengakhiri hidup orang-orang keji itu.
Gambaran ketika Aprille mendekam dalam penjara anak sementara, karena diduga memiliki kepribadian ganda, gambaran ketika ia memohon pada Zilky atau Zack agar tak membunuh tapi sama sekali tak dihiraukan, gambaran ketika keluarga Brodie muncul dan membuatnya menjadi sangat bahagia karena saat itu impiannya memiliki keluarga bahagia telah tercapai.
Hingga gambaran Zilky memporak-porandakan keluarga bahagia Aprille tanpa belas kasihan.
AaaaAAAAaaa !!
Teriakan pilu keluar dari bibir Eve yang sedikit demi sedikit mulai sadarkan diri.
"Hey, apa yang terjadi? Katakan. Eve...kau mendengarku? Katakan sesuatu" panggil Dimitri yang terperanjat kaget melihat reaksi histeris Eve ketika membuka kedua matanya. Tatapan mata Eve menyorot kedua bola mata Dimitri menyiratkan ketidak berdayaan Gadis itu kini.
"Minumlah...tenangkan dirimu" Helga Winifred menyodorkan sebotol air mineral untuk Eve. Bahkan Gadis itu berulang kali terbatuk-batuk saat mencoba menelan air ke dalam kerongkongannya. Bukan...bukan air mineral yang sangat Eve butuhkan tapi sebuah perlindungan. Eve hanya meminum hingga empat tegukan lalu menyodorkan kembali botol air mineral pada Helga.
"Apa yang dilakukan bayangan hitam itu padamu?!" pekik Haruko sambil mengobati luka di kening Eve. Saat perban telah selesai di pasang, Gadis itu masih saja menangis dan gemetaran hebat.
__ADS_1
"Dengar. Kau aman bersama kami oke, kuatkan dirimu. Bisa kau ceritakan apa yang terjadi denganmu? Kenapa kepalamu sampai terluka?" tanya El mencoba mencairkan suasana sekaligus menggali informasi.
"Aku mengenali salah satu dari ke tiga bayangan hitam itu" kata Eve gemetaran.
"Bagaimana bisa kau mengenalnya? Di mana kau mengenalnya? apakah salah satu dari bayangan Suami Istri?!" Daksa mulai melontarkan banyak pertanyaan karena rasa keingin tahuannya meningkat kini.
Setidaknya, jika ia harus mati dia tahu penyebab kematiannya. Eve menggeleng sejenak tapi siulan panjang...membuat Eve enggan untuk melanjutkan pembicaraan. Gadis itu lebih memilih berdiri secara tiba-tiba dan menggeret tangan Dimitri menjauh dari suara siulan tersebut. Semua rekannya terpaksa berlari mengekor di belakang mereka.
Tiba-tiba muncul sebuah bayangan hitam melesat terbang tepat di atas kepala Eve tapi dengan sigap semuanya segera tiarap dengan kedua telapak tangan menyentuh permadani merah.
Klik!!
BIP!! BIP!!
Bunyi Klik dan Bip terdengar serempak mata semua orang menatap ke arah pergelangan tangan mereka masing-masing. Mata mereka membulat terkejut bukan main. Bukankah benda itu menghilang saat mereka menginjakkan kaki di Pulau tak bernama untuk pertama kali?
Ya, mereka tak pernah menyadari jika mereka berada di Pulau terkutuk selama satu tahun. Kenapa benda itu bisa kembali terpasang di pergelangan tangan mereka semua?!
"Firasatku tidak baik soal jam ini..." desis Wang melirik ke kanan dan ke kiri bahkan mendongak ke atas melihat apakah musuh masih terbang melayang di sekitar mereka.
"Apa pun itu. Satu, dua, tiga, lari!!" teriak Riwangga di akhir kalimat membuat semua rekannya mengikuti aba-abanya berlari tunggang langgang entah ke arah mana. Satu hal yang mereka lupakan.
Ketika mereka berlari, mereka saling ingin menyelamatkan nyawa masing-masing sehingga bukannya terus berlari dalam satu kelompok, mereka justru malah berpencar.
Bip!! Bip!!
Bip Bip!!
Derap langkah kaki Eve dan Dimi terhenti ketika mendengar kembali bunyi Bip berulang kali.
Terlihat tulisan bergerak pada layar jam tangan Eve dan Dimi. Deg!! Apa maksud dari kata empat kesempatan hidup? Permainan apa lagi yang Mr.X-Bone lakukan kali ini? Bukankah seharusnya mereka hanya punya tugas tunggal? Yaitu mencari Putri Mr.X-Bone?
Lalu apa yang sedang terjadi sekarang?! Keluarlah cahaya biru berbinar di layar jam tangan mereka hingga pendaran cahaya itu berubah, menjadi sebuah hologram. Mr.X-Bone yang misterius sedang bertengger di tepian kolam renang sambil menatap tajam ke arah mereka semua.
Waktu bersenang-senang kalian sudah berakhir kawan...ini kesempatan terakhir kalian untuk menemukan Putriku Clamentine. Ingat...hanya ada empat...ke-sem-pa-tan untuk hidup.
"Ini tidak adil!! Kau meminta pertolongan kami dan kami sudah cukup lama mencarinya. Jika kami tidak bisa menemukannya itu bukan kesalahan kami!!"
"Lalu apa-apaan ini? Kau memberi target empat hari pencarian? Mempertaruhkan nyawa kami untuk sesuatu yang tidak jelas keberadaannya? Putrimu sudah lama mati!! Itu sebabnya kami tak menemukan fosilnya sekalipun selama ini!!" umpat Wang di tempat berbeda. Park makin senam jantung mendengar rekannya asal bicara.
ZraAAaaasSssHhhh!!
Park Mayleen hanya diam mematung ketika ia melihat Wang Xiaohui tersengat arus listrik, lalu tumbang dengan tubuhnya yang gosong.
WAH, AKU TURUT BERDUKA CITA ATAS KEMATIAN WANG XIAOHUI. LAKUKAN APA PERINTAHKU, ATAU BERSIAPLAH MATI SEKARANG JUGA.
"Tapi kami telah mencari Clamentine di setiap sudut gedung Teater ini dan hasilnya nihil. Apa kau sedang mempermainkan kami semua? Jangan bilang tujuan Anda selama ini memang tidak akan membiarkan kami hidup!” jawab Eithan Wilfred di tempat berbeda.
APA OTAK KALIAN TUMPUL?! AKU BILANG, CLAMENTINE...MENGHILANG DI PULAU TAK BERNAMA!! AKU TIDAK PERNAH BILANG, PUTRIKU TERJEBAK DI DALAM GEDUNG TEATER ITU!! KALIAN BISA MEMPERLUAS JANGKAUAN PENCARIAN KALIAN JIKA MEMANG KALIAN BERNIAT MEMBANTUKU!!
Entah kenapa teriakan Mr.X-Bone mampu mengubah atmosfer Teater yang sejuk menjadi dingin mencekam.
"Apa itu tidak keterlaluan Mr.X-Bone? Terlepas dari pencarian Putri Anda, seharusnya Anda paham betul rintangan apa saja yang akan kami lalui bukan? Jika Anda mengatakan tidak, jelas sekali Anda pembohong besar" kata Dimitri dengan sangat tenang.
APA YANG INGIN KAU KATAKAN?
"Menghapuskan batasan waktu konyol tersebut, Mr.X-Bone. Mengingat ada tiga Iblis yang harus kami hadapi bukankah itu waktu yang terlalu singkat?" tambah Dimitri menahan emosi.
__ADS_1
EMPAT KESEMPATAN TIDAK DAPAT DI HAPUSKAN. AKU SUDAH MEMBUAT PROGRAM YANG TIDAK AKAN DAPAT DI ATUR ULANG KEMBALI. OH, ADA BAGIAN YANG AKAN SANGAT KALIAN SUKAI KALI INI....kekeh Mr.X-Bone misterius.
JAM YANG ADA DI PERGELANGAN TANGAN KALIAN...AKAN SEGERA MELEDAK BILA KE EMPAT KESEMPATAN TERBUANG SIA-SIA.
"Sejak awal Anda memang ingin melenyapkan kami semua bukan? Coba aku tebak, Clamentine tidak pernah ada!!" amuk Val di tempat yang lain.
AKU HANYA INGIN PUTRIKU KEMBALI. TAPI KALIAN MENGHABISKAN KESABARANKU DENGAN MEMBUANG-BUANG WAKTUKU. KURASA EMPAT KESEMPATAN MERUPAKAN HUKUMAN PALING TEPAT UNTUK PARA PEMALAS SEPERTI KALIAN. SIAP ATAU TIDAK, AKU YANG MENENTUKAN SIAPA YANG AKAN MATI DULUAN
PSSSSsst!!
Psssssttttt!!
Puffffffft!!
Hologram menghilang begitu saja dalam sekejap mata.
Bipppp Bip biiip!!
Biiip!! biiip!!
Semua orang mulai enggan menatap layar jam masing-masing. Satu hal paling memuakkan dalam hidup mereka adalah, tidak adanya pilihan!! Mereka melirik ke arah layar jam dan mendesah frustasi.
Level 1
Mencari Jejak Clamentine
Tak lama kemudian otak mereka memindai seolah mereka mengetahui wujud dari seorang Clamentine. Ingatan buatan yang sangat mengerikan. Mereka yakin itu bukanlah ingatan mereka, tapi otak mereka memaksa untuk percaya bahwa mereka pernah mengalami kejadian tersebut.
Dimana seorang Gadis muda berusia 17 tahun membantai satu persatu para Gadis seusianya di dalam sebuah kapal Feri. Kapal yang pernah mereka semua jumpai ketika tiba di Pulau tak bernama. Bulu kuduk mereka mulai meremang dari ujung kaki ke ujung rambut menyadari Clamentine adalah pembunuh berdarah dingin.
Dimitri dan Eve saling berpandangan menyadari apa yang akan mereka hadapi. Mereka mencoba melarikan diri artinya cari mati. Tapi mengikuti empat kesempatan hidup sama dengan mendatangi kematian itu sendiri.
"Ini akan menjadi masalah terbesar untuk kita semua. Hari masih gelap tapi permainannya sudah dimulai” desis Dimitri mengacak-acak rambutnya.
"Dimi dengar. Permainan ini bisa kita manfaatkan bukan? Kita akan pergi ke luar. Dan kau tahu, artinya kita bisa keluar dari pulau ini secara diam-diam"
"Dengan apa kita akan melarikan diri? Berenang? Kau lupa, jika dua lumba-lumba tidak datang menyelamatkan kita dulu, nyawa kita tidak akan tertolong. Kita mati tenggelam. Ah, bahkan itu lebih baik dari pada mati terbunuh di tempat ini" jawab Dimitri kesal tidak mampu berbuat apa pun.
BoOoOoM!!
JeduMmM!!
Eve dan Dimi menatap waspada ke arah suara ledakkan apa pun itu. Kilatan biru kemerahan terus menerus berpendar di udara seperti ada peperangan tak kasat mata sedang terjadi. Tiba-tiba muncul lubang spiral hitam keabuan berputar dengan cepat di langit-langit gedung Teater tidak hanya itu...angin berhembus kencang hingga Eve hampir terseret masuk ke dalam lubang spiral tapi Dimitri, menahan lengan tangan Eve sementara tangan yang lainnya menggapai sebuah patung kuda bersayap untuk pertahanan.
Tak lama kemudian, suara benda keras berjatuhan dari dalam pusaran lubang spiral setelah suara debuman itu menghilang, anginnyapun menghilang.
"Bagaimana bisa mereka sampai di sini dengan cara seperti ini?" tanya Dimitri melihat ke arah ke lima manusia yang terkapar tak berdaya di permadani merah.
"Tunggu. Apa mereka masih hidup? Sebaiknya kita cek keadaan mereka" jawab Eve berjalan mendekati ke lima orang tak dikenal diikuti oleh Dimitri.
"Syukurlah mereka masih hidup" desis Eve lega.
"Kita tidak tahu mereka musuh atau teman, Eve. Sebaiknya kita tinggalkan mereka" Dimitri mengingatkan. Tapi mata Eve tertuju pada salah satu sosok Pria tak jauh darinya. Bukannya menjauh, Eve malah mendekat ke arah Pria tersebut.
"Hey!! Apa yang kau lakukan!!" pekik Dimi was-was. Eve tak memperdulikan peringatan Dimi. Ia sibuk menatap telapak tangan Pria itu.
"Apa kau salah satu Reporter yang di tugaskan melakukan pencarian terhadap Clamentine?" Eve terlonjak ketika tiba-tiba tangan Pria itu mencengkeram kuat lengan tangannya.
__ADS_1