Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Jangan Lupa Tidur 2


__ADS_3

Novel ini sengaja Author tambahkan sekuel karena, ternyata masih ada yang menganggap novel ini tidak layak dibaca. Buktinya miskin komentar, like, bahkan favorit. Maka izinkan Author ini berjuang mendapatkan perhatianmu. Are u ready?😘


Nb: Alurnya mundur. Ini kisah sebelum adanya tragedi berdarah di sebuah Theater di Pulau tak bernama.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Close Your Mirror


Air mataku mengalir di kedua pipiku. Ya, kecelakaan maut itu, membuatku kehilangan Dad, Kakak, dan Bibiku. Mereka adalah kesayanganku. Kematian mereka sangat memukulku dan Mom tentunya. Hari ini, proses pemakaman telah usai rasanya enggan untuk beranjak dari sana.


Orang-orang yang dengan senantiasa berada di sampingku direnggut begitu saja. Tak akan ada tawa, canda, pertengkaran, tangis antara kami...pasti akan sangat kurindukan suatu hari nanti.


"Rulby...sebentar lagi gelap ayo pulang" kata Mom dengan wajah sembab.


"Mom, apa kita harus kesana sekarang?"


"Ini impian Dadmu sayang. Kita harus menghargai jerih payahnya. Rumah itu, dibangun dengan kasih sayangnya. Lagi pula..., seluruh barang kita sudah ada disanakan" kata Mom. Ya, sebelum kejadian naas itu terjadi...satu hari sebelumnya, kami memang telah memindahkan barang-barang kami seperlunya ke rumah baru kami.


Niatannya, hari ini, kami akan menempati rumah itu tapi kecelakaan membuat Dad tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya bersama keluarga. Aku pun hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil sewaan. Perjalanan panjang dan melelahkan membuatku tertidur entah berapa lama.


"Rulby...bangun kita sudah sampai" suara lembut Mom membangunkanku. Rumah mewah yang indah tapi entah kenapa aku enggan untuk menempatinya. Pemilik rumah sebelumnya adalah pengoleksi cermin. Dari cermin antik, sampai cermin berbentuk unik. Entah apa yang dipikirkan Dad kenapa ia mau membeli rumah penuh dengan cermin di berbagai sudut rumah.


Aku turun dari mobil, dan berjalan melewati halaman rumah kami disambut dengan kolam renang yang cukup luas. Kami berjalan makin kedalam, dan sampailah kami di pintu kaca. Mom mengambil kunci pintu rumah dari dalam tas jinjingnya lalu membuka lebar.


"Selamat datang dirumah baru kita" kata Mom melirik kearahku. Aku pun hanya tersenyum hambar. Kami berjalan masuk kedalam sementara Mom mengunci pintunya, aku mulai berjalan menyusuri ruang keluarga. Apa-apaan ini? Kenapa cerminnya bertambah? Kenapa ada kaca di samping TV tepatnya di kedua sisi TV!!


"Mom! Apa kau tahu soal ini?" panggilku. Mom yang mendengar panggilanku mendekat dan memperhatikan kedua cermin yang kutunjukkan padanya.


"Tidak. Kapan kaca ini ada di sini?" Mom justru balik bertanya. Suara ponselnya terdengar berdering. Mom memberiku kode untuk membahasnya nanti. Maka kuputuskan masuk ke dalam kamarku. Hanya itulah yang dapat aku pikirkan kali ini saking rasa kantukku ini begitu tak tertahankan lagi.


Kubuka knop pintu kamarku melongok ke dalam.


Kucari-cari sakelar untuk menyalakan lampu. Satu kata. Kamar yang luas, sangat luas untuk digunakan sendirian tapi, hanya kamar ini yang paling kecil ukurannya dibanding dengan kamar yang lainnya. Bulu kudukku meremang ketika aku merasakan ada sesuatu di belakang yang sedang mengintaiku. Kubalikkan badanku, dan aku hanya menemukan kaca di belakang.


Aaargh serasa dikepung oleh kaca maupun cermin. Kututup kaca jendela kamarku dengan Gorden berwarna coklat tanah. Lagi-lagi aku merasa sedang diawasi dari belakangku. Lemari!! Ada sebuah lemari antik besar, dan di bagian kedua pintunya terpasang cermin besar.


Aku menatap lekat lemari itu. Tidak! Tepatnya menatap, kearah cermin. Mataku terlalu silau dengan pantulan cermin itu aku merasa... sangat tidak nyaman. Kututup kedua mataku dengan kedua tanganku saking silaunya. Kurasakan hawa dingin menusuk pipiku.


"Rulby, kau sedang apa?" tanya seseorang yang suaranya sangat kukenal.


"Rulby, apa kau menemukan jepit rambutku?" suara lain kudengar juga aku juga sangat mengenalnya.


"Rulby, kenapa disini dingin sekali?! Bisakah kau meminjamiku selimut?" lagi-lagi suara berbeda terdengar aku memang tahu, suara siapa itu! Aku gemetaran ketakutan. Takut tak bisa melihat, sekaligus takut tak dapat berlari kabur karena mataku, kini terpejam.


Tidak...tidak. Dad, Kakak dan Bibi sudah disurga. Mereka tidak mungkin ada didunia ini lagi. Rulby ini halusinasimu ayo buka matamu! Buka! Saat kubuka mata, aku terlonjak dan jatuh ke lantai.


"Hey, apa yang terjadi? Kenapa kau setakut ini sayang?" tanya Mom yang mengagetkanku.


"Mom...bisakah ketuk pintu dulu?!" pekikku kesal. Tapi rasa takutku tadi mulai berkurang. Ku peluk tubuh dingin Mom.


Terima kasih...kau datang tepat waktu Mom...batinku bersyukur. Ada yang aneh, ini ganjil. Kenapa...aku tak melihat bayangan Mom yang sedang ku peluk di dalam cermin itu? Dan...tubuhnya dingin seperti es!! Kulepaskan pelukanku, tapi Mom memelukku dengan kuat sangat kuat, hingga susah bagiku untuk sekedar bernafas.

__ADS_1


"Mom...s-sa-kit..." rintihku.


"Peluk Mom lebih lama lagi nak," kata Mom membelai rambutku dengan tangannya yang sebelah. Sesak nafas, susah bergerak. Kenapa Mom lakukan ini padaku? Kenapa bayangannya tidak ada dicermin itu?!


Krieeeet


"Rulby!!" teriak Mom yang membuka pintu kamarku dan menatapku panik. Apa? Kalau itu Mom, yang memelukku tadi siapa? Aku jatuh terkapar dilantai lemas seketika. Dapat kudengar Mom menjerit panik, mengangkat tubuhku, lalu memelukku. Ya, ini pelukan Mom pelukan yang hangat...


Tik


Tak


Tik


Tak


Bunyi detak jam, terdengar jelas di telingaku membawa kesadaranku pulih seutuhnya. Kupandangi langit-langit kamarku. Yah, karena langit-langitku terbuat dari kaca khusus, yang bisa dibuka maupun ditutup, maka aku dapat melihat dengan jelas indahnya rembulan dan bintang dilangit kelam.


Mataku mengerjap mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Mom, dimana dia? Ku tolehkan wajahku kesamping, dan melihat sosok Mom yang duduk disamping tempat tidurku dengan sebuah kursi kayu, tertidur pulas di sampingku. Benarkah dia Momku? Kusentuh pipinya yang dingin karena diterpa hawa sejuk AC.


Ah, harusnya kuperiksa saja hidungnya kalau dia bernafas, itu artinya...Mom sungguhan bukan? Ya, kulakukan itu dan aku teramat sangat lega mengetahui yang ada di sampingku ini Momku sungguhan.


"Kau sudah siuman?" suara serak itu menyita perhatianku.


"Mom, tidurlah, aku tidak apa-apa" jawabku tenang.


"Kenapa bisa kau sesak nafas seperti tadi dan menatap ke cermin ketakutan begitu?" tanya Mom penuh selidik tentunya, jelas Mom akan bertanya demikian tidak ada riwayat asma di keluarga kami.


"Aku...merasa sangat terpukau dengan lemarinya" kataku asal itu malah membuat Momku mengerjap tak percaya dengan ekspresi melongo.


"Ya, apa lagi? Ayolah, Mom kelihatan sangat lelah. Pergilah tidur" kataku lemah. Mom tersenyum lega lalu mengecup keningku ini hal teraneh dalam hidupku. Biasanya, di lingkunganku, kecupan di dahi itu hanya untuk anak kecil paling besar juga 10 tahun dan kau tahu berapa usiaku?


Hello...., 20 tahun cukup tua diperlakukan seperti itu. Tapi bagi Momku, aku masih putri kecilnya. Kulihat Mom menutup pintu kamarku dan disinilah aku sekarang, sendiri. Kuedarkan pandangan keseluruh penjuru kamar. Uuuh, kenapa muncul rasa ingin buang air kecil? Maka terpaksa, aku berjalan menuju kamar mandi dalam.


Pemilik rumah sebelumnya memang aneh. Sangat aneh. Bagaimana bisa ia membuat kamar mandi jauh lebih luas dari kamarnya sendiri huh? Ini sangat luas. Kuusap mataku berkali-kali, tapi apa yang kulihat tetaplah demikian. Awal aku mengunjungi rumah ini, kamar mandi dikamarku dindingnya terbuat dari bata seluruhnya.


Tapi yang kulihat kali ini, kenapa...dindingnya terbuat dari kaca? Hufst...., apa aku salah kamar? Tidak ah, ini kamar ketiga dan aku kemarin memilih kamar ketiga juga. Sudahlah, aku masuk ke bilik khusus closet dan kututup dengan tirai kamar mandi berwarna pink muda berbentuk dedaunan. Saat kumulai lega, dan selesai membersihkan diri aku pun berniat memencet tombol untuk mengguyur.


Setelah kuguyur, aku menangkap sebuah bayangan berkelebat diluar bilik toiletku. Aku melihatnya dengan samar karena terhalangi tirai kamar mandi. Kuhela nafas dalam, lalu kubuka dengan cepat tirai itu.


"Mom? Kaukah itu?" ah, bodohnya aku!! Mom diluar sana mana mungkin bisa kedalam sini tanpa membuka pintu kamar mandiku terlebih dahulukan? Apa pun itu, kuputuskan untuk mengabaikan anggap saja, karena aku baru bangun tidur, aku masih terpengaruh dengan alam bawah sadarku. Aku pun keluar dari kamar mandi dan kututup pintunya.


Bresssssssh


Sssssshhhhhhhhhh


Langkah kakiku terhenti menuju tempat tidurku. Apa lagi ini? Jelas-jelas aku tidak menyalakan shower aku tidak pernah mandi malam selarut ini. Aku beranikan diri untuk membuka kembali pintu kamar mandi. Suara Shower menyala jelas terdengar deras mengguyur lantai kamar mandi. Tak ada siapa pun, baiklah...aku akan mematikan itu dan segera tidur. Maka kumatikan shower itu lalu aku berbalik.


"Kyaaaa!!" pekikku kaget.


Bresssssssshhhh

__ADS_1


Ssssssshhhhhhhhh


Air shower membasahi tubuhku seketika membuatku basah kuyup. Aku kedinginan, kaget, sekaligus panik. Apa-apaan ini? Kami masih baru menempati rumah ini, dan...sudah ada kerusakan?! Aaargh menyebalkan sekali. Aku pun keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian tidurku. Eh, kenapa hening?


Aku tidak mendengar suara setetespun air di kamar mandi. Aku kembali menuju kamar mandiku dan...benar saja, tidak menyala! Showernya tak menyala! Kubanting pintu kamar mandi super kesal. Aku beranjak berjalan kearah baju basahku untuk memasukkannya ke keranjang baju kotorku.


Tapi setelah aku menggenggam baju basahku, aku...tidak merasakan dingin di telapak tanganku, juga tidak ada air menetes dari baju tidurku itu, bahkan...sekedar terasa lembab pun tidak. Kuacak-acak rambutku gusar. Apa aku benar-benar sedang dalam keadaan tidak stabil karena kematian ketiga keluarga kesayanganku hingga aku terus menerus berhalusinasi?!


Tidak...aku tidak ingin depresi bahkan menjadi gila karenanya. Tidak tidak...aku tak mau menceritakan hal ini pada siapa pun bahkan pada Mom, bisa-bisa aku akan dibawanya ke psikiater. Mungkin...jika aku tidur, aku tidak akan lagi mengalami halusinasi. Maka aku cepat-cepat pergi ke tempat tidurku merebahkan diri, telentang ya..., tidur telentang adalah posisi favoritku. Kupejamkan mataku perlahan sambil menghitung berapa banyak domba melompat.


Mataku yang terpejam merasakan diterpa sinar hangat. Saat aku duduk, ternyata sinar itu berasal dari sinar matahari. Fyuuuh, syukurlah malam yang panjang dapat aku lalui. Segera aku membuka lemariku dan mengambil baju renang. Akan sangat menyenangkan berenang di pagi hari.


Aku pun keluar dari kamar dan segera melompat menceburkan diri kedalam kolam yang segar sekali airnya. Saat aku berenang dengan gaya dada, aku melihat ada sesuatu berwarna hitam teronggok begitu saja disudut halaman depan rumahku yang dihimpit pepohonan rindang. Kuputuskan untuk keluar dari kolam, dan menghampiri benda hitam kelam itu.


Ada sebuah gembok menyegel benda tersebut. Apa aku mendapatkan harta karun? Aku pun akhirnya memeriksa apakah ada kuncinya di sekitar situ. Tapi aku tak menemukan apa pun. Tunggu dulu!! Aku pernah melihat kunci sekecil itu tergantung di gantungan kunci rumah! Aku pun membawa benda itu bersamaku, lalu membawanya masuk ke kamar tidak lupa membawa gantungan kunci rumah.


Benar saja, aku akhirnya dapat membuka kotak hitam itu. Tapi aku tidak mengerti satu hal, kenapa isinya hanya sebuah peta, dan beberapa lukisan? Ah, pantas saja ini tergeletak begitu saja diluar sana, isi di dalam kotak hitam kelam itu tidak penting. Apa-apaan ini? Masa hanya berisi beberapa lukisan juga peta? Memang ini peta harta karun? Bisa jadikan?


Orang seaneh dan sekaya Paman pemilik rumah sebelumnya pasti punya banyak rahasia bukan? Penasaran...akhirnya aku mengamati setiap lukisannya. Lukisan pertama, adalah mawar merah berduri yang durinya menusuk kepala tengkorak manusia. Wow, ini sebuah teka-teki atau hanya sekedar ide gila?!


Jika ini teka-teki, apa maksud dalam lukisan itu? Pesan apa yang ingin disampaikan? Lukisan kedua terlihat berbelit-belit. Apa maksudnya? Adakah dari kalian yang tahu, apa maksud dari lukisan kedua? Dalam lukisan kedua, ada sebuah kotak, yang mengelilingi seorang Gadis oh ya, kakinya juga berpijak pada sebuah kotak di bawah kotak tempat Gadis itu berpijak, ada api berkobar yang menjilat-jilat.


Sementara diatas kepalanya, ada sebuah tangan yang menembus kotak diatas kepalanya. Aneh, kalau tangan itu seseorang yang hendak menolongnya, kenapa Gadis itu tak mencoba untuk...menggapai tangan tersebut? Ia malah meletakkan kedua tangannya ke belakang. Di kanannya ada cahaya, tapi di kirinya hanya warna pastel hitam kelam. Sebenarnya masih ada lagi lukisan lain, tapi aku enggan melihatnya.


Aku duduk dan melirik kearah peta. Kuambil peta itu, mencoba mencerna segala isi di dalamnya. Kenapa tidak ada petunjuk arah? Bukankah semua peta punya itu? Aaaargh!! Ini memusingkan kumasukkan kembali saja semua benda tak berharga itu ke dalam kotak hitam kelam.


Tok


Tok


Mom mengetuk pintu kamarku yang terbuka dari luar. Ia menatapku heran juga melirik kearah kotak hitam kelam.


"Kau dapatkan dari mana benda itu?” tanya Mom merasa anaknya tak pernah memiliki benda itu sebelumnya.


"Aku hanya menemukannya di halaman depan. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. O ya, ada apa?"


"Mom rasa kita butuh belanja bahan makanan untuk sebulan. Apa kau mau ikut?" tawar Mom. Dari pada aku hanya diam saja di rumah, sekaligus mengenang malam penuh halusinasi itu menghirup udara luar akan membuatku segar kembali syukur kalau otakku ini normal kembali.


Sesampainya di super market, kami berpencar mencari barang kebutuhan. Kami tidak lupa, membagi tugas. Yah, aku mencari barang seperti sabun cuci, sabun mandi, dan lain-lain. Langkahku terhenti ketika aku merasakan tanganku digenggam seseorang dari arah belakangku. Ku tolehkan kepala ke belakang, dan mendapati seorang Laki-laki bermata hijau zamrud sedang mengamati kedua manik mataku.


Aku tak mengenalnya, sungguh, tapi aku hanya diam menunggu dirinya mengucapkan sesuatu.


"Apa kau yang tinggal dirumah penuh kaca itu? Elzaedar Abd 156?" raut wajahnya sangat serius saat menanyakan hal ini. Ku kerutkan keningku, lalu menatapnya penuh tanda tanya.


"Oh, aku Loyfrender. Panggil saja Loy, dan kau?" oh, jadi ini hanya perkenalan biasa bukan menyangkut hal yang penting ya, pikirku sambil berjabat tangan dengan Loy.


"Aku Rulby. Rulby Corner" sahutku berusaha memperkenalkan diri dengan nada bersahabat.


"Sebaiknya kalian pindah rumah. Jangan terlalu lama di sana. Pemilik sebelumnya berkali-kali menjual rumah itu tapi akhirnya, setelah pemilik baru menghilang entah kemana, pemilik lama membeli rumah itu kembali. Dan itu selalu terjadi bertahun-tahun lamanya" kata Loy memperingatkan. Dia memperingatkanku saja, mengancamku, atau menakut-nakutiku?


"Tunggu. Kenapa kau, tahu betul tentang riwayat rumah yang kutinggali sekarang?" aku bertanya seperti ini. Juga supaya aku tahu dia ini menakuti hanya supaya aku kembali menjual rumah baruku itu, atau memang apa yang diceritakannya nyata.

__ADS_1


"Aku tetanggamu tinggal tepat di sebelah kiri rumahmu. Rumor soal banyak keluarga hilang di sana sudah sangat heboh tersebar di seantero kompleks perumahan kita" kata Loy hati-hati.


"Waktuku sudah tidak banyak lagi. Sorry, aku harus segera ke suatu tempat. Senang berkenalan denganmu Rulby" kata Loy sambil melirik ke jam tangannya lalu berlari keluar supermarket.


__ADS_2