
"Arrrgh!!" pekik Ferghus berjalan sempoyongan sambil memegang keningnya yang ternyata telah dilapisi perban tebal.
"Kau masih belum stabil!! Istirahatlah!!" pekik Adel ngeri sambil memegang kedua bahu Ferghus.
"Biarkan aku menemui Hisashi..." erang Ferghus lirih memaksakan diri untuk bangkit. Dengan sisa kekuatan, Ferghus menciptakan golem besi sekali lagi kini jauh lebih besar. Adel dan Ferghus kali ini menaiki golem berdua. Golem Ferghus terbang melesat mencari keberadaan Hisashi dan yang lainnya.
Aaaaaaa!!!!
Golem Ferghus langsung berhenti masih melayang di udara.
"Kau...dengar suara anak Laki-laki kecil? Adel?" bisik Ferghus melirik ke arah Adel.
Deg!!
Dimana Gadis itu? Kenapa Adel tiba-tiba menghilang begitu saja?
Aaaaaaa!!
Teriakan itu lagi!! Ferghus langsung terbang melayang kearah suara tersebut menuju ke lorong bagian kiri.
"Atshuke?"
"Tolong Chichi!! Jaga Chichi!!" teriak Atshuke berulang kali sambil menunjuk ke depan. Ferghus menegang ketika sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Ferghus? Apa kau baik-baik saja? Ferghus!!" kata Adel berusaha memecahkan lamunan Ferghus.
"Aku tahu dimana mereka..." desis Ferghus sambil mengemudikan golem ke arah lorong yang di tunjuk oleh Atshuke.
"Dari mana kau tahu mereka benar-benar berada di sana?" tanya Adel penasaran.
"Aku merasakan keberadaan orang itu"
"Siapa?"
"Hisashi..."
"Bagaimana bisa?" tanya Adel dan tiba-tiba golem kembali terhenti dan menemukan beberapa orang di depan mereka, terlihat Hisashi sedang terperangkap di pojokkan dinding dengan dua busur anak panah menancap tak jauh dari kedua sisi bahu, Hisashi mencengkeram kuat lengan baju Pria itu.
Tak hanya itu!! Rulby dan Kenatt mengalami hal serupa. Dimana Amarru?? Kemana dia pergi?
"Jangan mendekat" kata Hisashi lemah.
"Kenapa?"
"Mereka ada di sekitar sini. Pergilah ke tempat tujuan kita. Relief patung mumi"
"Tidak tanpa yang lainnya" kata Ferghus berkobar-kobar.
"Jangan berani mati, sebelum kita selesaikan utang penjelasanmu padaku!!" teriak Ferghus membuat Pria bernama Hisashi hanya tersenyum kecut.
"Oh, mengharukan sekali. Kurasa kau harus segera menghentikan sandiwara ini dan melawanku bung," sahut seseorang dari balik dinding yang menahan tubuh Pria botak itu.
Grataaaak!!
Graaaaaaak!!
Tiba-tiba Hisashi terangkat bersama dinding yang menahan tubuhnya dan terlihatlah seorang Wanita dengan gaun ala Cleopatra berdiri di balik dinding bergerak tersebut. Mata Ferghus menyorot Wanita itu tajam...penuh dendam.
"Bebaskan orang-orangku!!" teriak Ferghus emosional membuat Adel bergidik seolah tak mengenali lagi Laki-laki di sampingnya itu.
"Hmmm? Membebaskan siapa maksudmu? Mereka yang telah tertangkap, adalah persembahan untuk Tuanku..." kata Wanita itu memandang sinis Ferghus Cloy.
"Apa kau suka dengan ucapan selamat datang kami?" tambahnya lalu berjalan berlenggak-lenggok berlebihan hingga Ferghus berdecih merendahkan.
Gadis yang berdiri di samping Ferghus memekik kaget sambil menggenggam tangan Ferghus erat menatap bukan pada Wanita di hadapan mereka, tapi menatap pada...bayangan sang Wanita penyihir tersebut. Ferghus mengikuti sudut pandang Adel dan menemukan memang ada kejanggalan di sana. Awalnya, bayangan itu seperti bayangan biasa, tapi...tanpa di duga bayangan itu membesar...hingga hanya berjarak 4 cm dari bayangan Adel dan Ferghus.
Bayangan besar itu membelah diri menjadi dua!!
"Jangan biarkan bayangannya memakan bayanganmu!! Atau kalian, akan mati terhisap olehnya!!" teriak Amarru membuat Ferghus dan Adel panik seketika.
"Lari!!" teriak Ferghus berlari menggandeng Adel menuju Golem besinya. Ia menerbangkan sang golem menjauh dari bayangan sang penyihir.
"Menarik...aku semakin gemas ingin memberi makan bayanganku sekarang juga..." kata Wanita itu dengan riang.
__ADS_1
Di tempat yang lain, seseorang mengetuk pintu kamar.
Tok
Tok
Tok
Seorang Wanita yang duduk di kursi goyang berselimutkan jaket milik mendiang Suaminya menoleh ke arah pintu.
"Masuklah..." kata Wanita itu masih sibuk menggoyangkan kursi itu dengan bermalas-malasan. Pintu dibuka perlahan oleh seorang Suster yang muncul bersama dengan sebuah nampan di tangan kanannya.
"Waktunya minum obat Nyonya..." kata Suster itu ramah. Seperti biasa, Wanita itu mengambil obatnya, memasukkan ke dalam mulut lalu meneguk segelas air putih.
"Ini sudah hampir malam Nyonya...Anda bisa masuk angin nanti. Ayo, kembali ke tempat tidur" perintah halus sang Suster sambil menuntun pasien yang sudah 2 tahun ia rawat. Ia membawa Wanita itu ke tempat tidur dan menyelimutinya. Dinyalakannya TV di Channel olah raga lalu ia pamit untuk keluar kamar. Wanita itu tersenyum lalu mengangguk pasrah.
Ceklek
Suara pintu ditutup memberi celah, Wanita tersebut untuk membuang 3 butir obat dari dalam mulutnya ke tangan kirinya. Ia langsung berjalan ke toilet yang memang tersedia di dalam kamarnya lalu membuangnya ke dalam toilet mengguyurnya tanpa ada jejak.
"Kau membuatku setiap hari jauh dari Putriku. Setiap Putriku datang, kau selalu berkata aku tidur karena pengaruh obat, lalu pada akhirnya dia tak jadi menemuiku. Aku rindu Putriku. Ah, Rulby pasti dikamarnya" katanya dengan riang. Perlahan ia membuka pintu kamar memastikan si Suster tidak ada di ruang keluarga. Dengan nafas lega, Wanita itu melangkah menuju kamar Rulby.
"Rulby!! Dimana kau nak? Rulby?" panggil Wanita itu penasaran kemana dia pergi. Awalnya ia ingin mencari kembali Rulby ke ruangan lainnya, tapi ia menangkap layar laptop Putrinya berkedap-kedip.
"Oh, kehabisan daya,” katanya sambil menggelengkan kepala hendak mengisi daya laptop itu kembali. Saat daya telah di isi, mata ibu Rulby menangkap ada sebuah email dari seseorang. Ia membuka email tersebut dan terbelalak.
Kepada:
Heppy Pulpy@Gmex.com
Dengan ini kami majalah Wonders Of The World mengirim tim kami Adeline Minna, untuk sesi wawancara dengan Miss Rulby Corner selaku nara sumber dari Elzaedar ABD 156 Jumat 16 Maret 2016. Terima kasih atas partisipasinya,
Ketua Divisi Misteri
Darell Stuard
Ia langsung berlari ke arah ruang tamu tapi sesuatu di dapur membuat perhatiannya teralihkan. Maka ia melangkah dengan cepat ke dalam dapur. Tepat di pintu lemari pendingin ia dapat melihat magnet berbentuk strowberry menahan sebuah kertas berwarna pink muda. Itu...tulisan Rulby nya.
Suster Clarissa...
Maaf...mungkin aku tidak akan pulang selama beberapa hari. Tolong pastikan, segalanya tentang Mom, dapat kau atasi dengan baik.
Rulby
"Bahkan suster itu pun tidak memberi tahuku bahwa Putriku telah pergi selama 5 hari?! Ini keterlaluan!! Aku harus segera menjemput Rulby" gumam sang Ibu panik. Ia segera berlari keruang tamu menuju ke perumahan Elzaedar dan menapaki kembali halaman rumah terkutuk, Elzaedar ABD 156.
Sang ibu melihat ada dua mobil parkir di halaman rumahnya pasti itu reporter dari majalah misteri pikirnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa reporter itu tidak membiarkan Putriku pulang dulu setidaknya, untuk memberi kabar Momnya. Akan ku tuntut majalah itu" gumamnya geram.
Krieeeeek
Pintu rumah megah penuh kaca itu berbunyi seperti biasanya. Aneh, kenapa tidak ada sedikitpun tanda-tanda kehidupan di dalam rumah ini? Jelas-jelas, ada dua mobil terparkir di halaman rumahnya. Kemana semua orang pergi?
"Rulby!! Ini Mom!!" teriak sang Ibu berharap ada jawaban tapi harapannya kandas begitu saja. Sepi...seolah tak berpenghuni. Ia melangkah, menuju kamar Putrinya.
"Kamarnya tidak tertutup. Apa mereka di dalam sana?" gumam sang Ibu berlari menuju kamar sang Putri.
"Rulby!!" teriak sang Ibu syok, panik dan ketakutan. Ia mendapati Putrinya, dan ke delapan orang asing baginya, tergeletak tepat di depan lemari kaca.
"Rulby!! Apa yang terjadi? Ada apa denganmu nak?!" teriak sang Ibu memeluk histeris. Ia berusaha memeriksa suhu tubuh semua orang tak sadarkan diri disana.
Normal!! Bahkan semuanya masih bernafas!! Lalu...kenapa semua orang bergeletakan tak merespons apa pun rangsangan dari luar? Ada apa?! Sang Ibu melihat ke seluruh penjuru kamar Putrinya. Apa ada perang besar di kamar ini? Kamar Rulby sangat kacau bagai kapal pecah.
Tidak...dia harus berbuat sesuatu tapi harus bagaimana? Ia menggeledah tas Rulby dan menemukan ponsel milik anak Gadisnya. Ia akan menelepon rumah sakit untuk memeriksakan keadaan seluruh orang disana.
Tok
Tok tok
__ADS_1
Sang Ibu menghentikan kegiatan memencet tuts ponsel sang Putri lalu menoleh ke arah suara ketukan di pintu kamar Rulby.
"Honey...kau tak merindukanku?" tanya sosok yang paling dirindukannya bahkan membuatnya hampir gila karena merasa sangat kehilangan. Sang Ibu, berlari menghambur kearah sosok itu dan memeluknya penuh kerinduan.
"Kau...kemana saja? Kenapa baru muncul sekarang?" tanya sang Ibu, akal sehatnya mulai kembali tak berjalan dengan normal.
"Aku? Tentu saja aku pergi bekerja untuk kalian. Aku sangat merindukanmu honey..." kata sosok itu mengecup kepala sang Ibu. Ketika sosok itu akan melepaskan pelukannya, sang Ibu menahannya seketika.
"Jangan pergi lagi. Kumohon...Edward..." bisik sang Ibu mengeratkan pelukannya.
"Tidak. Aku tak akan meninggalkanmu lagi selamanya...kau percaya padaku? Hmm?" kata sosok Edward Corner mengulas senyum simpul mencoba meyakinkan sang Istri.
"Apa kau melihat Rulby? Putri kita? Lihatlah...dia hanya terdiam di lantai" rengek sang Ibu menunjuk sang Putri tercinta.
"Aku harus bagaimana untuk dapat membangunkannya kembali?" tanyanya lagi.
"Kau terlalu mencemaskannya honey, dia tidak apa-apa. Kau lihat? Dia hanya tertidur kelelahan bersama teman-temannya. Terkadang itu dapat terjadi ketika kita benar-benar di ambang batas kemampuan kita. Pasti mereka sibuk mengerjakan sesuatu hingga sampai seperti itu. Tenanglah"
"Benarkah?"
"Ya, mau kutunjukkan sesuatu? Kau pasti akan bahagia karenanya. Mau ikut denganku, untuk melihat hadiah spesial untukmu, honey...?"
"Hadiah? Kau...sudah lama tak memberiku hadiah sejak kau pergi meninggalkan kami" protes sang Istri. Sosok Edward hanya terkekeh geli melihat mimik Istrinya.
"Sudah kukatakan, kau tak akan ku tinggalkan lagi selamanya. Jadi, kau mau pergi bersamaku? Ke tempat hadiah spesial itu berada?"
"Tapi...bagaimana jika Rulby bangun dan mencariku nanti? Bisakah kita menunggu sampai ia bangun dahulu? Pasti dia sangat bahagia ketika melihat Dadnya masih hidup” protes sang Ibu. Sosok itu hanya terdiam sejenak dengan sorot mata tajam.
"Ini kejutan hanya untukmu. Putri kita akan mendapatkan kejutannya sendiri. Jadi jangan khawatirkan dia. Ikutlah denganku atau kau, ingin aku pergi lagi?" kata sosok Edward mengintimidasi.
"Tidak!! Jangan!!" pekik sang Ibu memeluk erat kembali sosok Edward.
"Jadi kau mau ikut?" tanya sosok Edward mengulurkan telapak tangannya dan sang Ibu menggenggam tangan itu dengan suka cita. Mereka berjalan meninggalkan Rulby dan kawan-kawannya keluar dari kamar menuju ke suatu tempat.
Sangat indah...cantik sekali. Pikir sang ibu mendapati sebuah ruangan yang sangat luas dihiasi banyak lilin dan bunga-bunga. Bahkan lampu-lampu berkerlap-kerlip menyambut kedatangan mereka.
"Kau suka tempat ini?" tanya sosok Edward memeluk sang Ibu dari belakang.
"Ya, sangat manis...terima kasih" sambut sang Ibu. Tiba-tiba sosok Edward berlari menaiki sebuah panggung megah dipenuhi bunga-bunga membentuk nama sang Ibu. Kembali Pria itu mengulurkan tangan pada sang Ibu.
Sang ibu bukanlah berada di tempat yang ia bayangkan. Ia hanya diam berdiri sambil tersenyum penuh haru, di atas balkon bekas ruang olah raga. Ia tersenyum pada udara, pada sesuatu yang tak terlihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri. Kembali pada Ferghus dan kawan-kawan. Ferghus memutar Golem besi yang ia naiki bersama Adel.
Bragh!!
"Kyaaaa!!" teriak Adel ketika tiba-tiba Golem terlempar dan membentur dinding. Adel terperosok hampir jatuh tapi ia berhasil menggapai bagian telinga Golem. Mata Ferghus menangkap, salah satu bayangan Wanita penyihir di atas tanah, memanjang menuju bayangan Adel. Ferghus segera mengulurkan tangannya kearah Gadis itu.
Begitu Adel meraih tangan Ferghus, Laki-laki itu segera menarik Adel menjauhkan bayangan Adel dari sang bayangan.
"Khi khi khi...kau suka pemanasannya? Aku mulai bosan bermain-main dengan kalian. Lawan aku, atau mati..." seketika, setelah penyihir Wanita mengatakan hal itu, tiba-tiba dua bayangannya menyatu, menjadi jauh lebih besar....semakin besar...hingga menyamai besarnya Golem ciptaan Ferghus.
"Pegangan yang kuat" bisik Ferghus pada Adel lalu mengarahkan Golem kembali berbalik arah, untuk menyelamatkan diri.
Pssssss sriiiiiing!!
Mata mereka menuju pada arah suara. Ya, suara itu...tak jauh dari Golem yang mereka naiki bersama.
"Bayangan itu bisa...menggerogoti besi ini sampai habis!! Kau punya rencana lain?!" tanya Adel diam-diam berdoa dalam hati, semoga ada harapan untuk selamat ketika dilihatnya, bayangan itu memakan bayangan Golem sementara Golem itu, semakin lama, semakin terkikis.
Ferghus mendadak merasakan bagaimana rasanya otak seorang Ferghus Cloy tumpul seketika. Apa? Benda apa, yang dapat mengalahkan sebuah bayangan? Ayolah Ferghus..., berpikirlah dengan cepat batin Ferghus sebelum ia dan Adel menjadi korban.
Ilusi...bagai angin tanpa terlihat. Ilusi bagai mentari yang menyinari malam. Yang kelam...dingin dan senyap. Senandung Rulby nyaring. Mata Adel dan Ferghus kini tertuju pada Rulby yang terikat kuat. Mata Rulby mendadak putih semuanya apa...Kakaknyalah yang bernyanyi?
"Petunjuk yang bagus!!" pekik Ferghus membuat Adel mengernyit meminta sebuah penjelasan tapi sebelum penjelasan itu di utarakan, kejutan baru dimulai. Entah kapan bayangan itu berhasil memakan tangan, kepala dan kaki Golem!! Ferghus memberanikan diri melompat setelah menggapai lengan Adel.
Bruggggh!!
Dwaaaaaas.....
Blaaaam!!
Suara bergedebug terdengar akibat Ferghus nekat melompat di atas tanah hingga keduanya berguling-guling tak karuan tak lama kemudian, suara tubuh Golem menubruk dinding dan jatuh ke tanah, mereka menatap ngeri seluruh besi ciptaannya habis dimakan sang bayangan raksasa. Bayangan itu kini mengalihkan pandangan kearah Ferghus juga Adel.
Bayangan raksasa merambat cepat di tanah menuju kearah kedua orang tersebut. Ferghus menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Kedua telapak tangan Ferghus masih terbuka lebar tapi ketika sang bayangan raksasa tinggal berjarak 2 jengkal dari jarak Ferghus dan Adel, kedua telapak tangan Ferghus mengepal sangat kuat. Seketika seluruh obor yang ada di sepanjang sudut ruangan tiba-tiba mati!!
__ADS_1